Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari 2013

CINTA DALAM KEMASAN

Kadaluarsa tertulis dengan jelas pada bungkus kemasan yang susah payah kita desain mungil, cantik dan elegan. Rasa yang kita olah telah kadaluarsa kita tahu itu. Tentu saja dari kita berdua tak ada yang berharap terluka. Kita telah memutuskannya, membuka kemasan bersama-sama. Kita juga telah berjanji jika salah satu dari kita berani membuka kemasannya, maka tak akan ada lagi cerita di dalamnya. Aku bohong. Aku mengelak telak untuk itu. Aku ingin menyimpan rapi kemasan itu meskipun isinya telah melempem terkena angin, tapi cerita itu pernah berdiri di zamannya. Tujuh tahun yang lalu.
Aku pernah menyukaimu dulu sebelum dia menyukaimu. Dia cantik bukan main. Aku tak bohong, jika aku laki-laki mungkin ada rasa untuk memilikinya. Tidakkah kau juga akan begitu? Tak mungkin itu tak terlintas di dalam isi kepalamu. Aku yakin itu sebelum kau sadar telah bersamaku.
Setengah mati kau berusaha meyakinkanku, setengah mati pula aku mempertahankan titik muasal keraguanku. Kenapa harus bertubi-tubi ka…

Home2

Desain rumah kedua.
Karya tangan amatiranku. Semoga menginspirasi. :D Tampak Depan  = = = = = Tampak Samping 

Tak Butuh Obat

Ada asa katanya? Lalu aku pulang dengan menyematkannya di sudut kanan bahuku. Ternyata itu terakhir kalinya aku membawa keberanianku. Tak ada nyali lagi. Rongga-rongganya telah ditutup. Asap mengepul menjauh. Mereka menyatakan aku mundur. Lalu kusematkan kedua kalinya di sudut kiri bahuku. Aku pulang sia-sia. Ia telah pergi sebelum selesai ku bercerita. Aku datang kepadanya tapi dia lari. Keberanian yang dipertaruhkan telah disia-siakan. Maka aku sebut itu sia-sia. Itu luka. Luka yang ia tak mengerti dari mana asalnya. Dia hanya tahu asap mengepul itu menjauh dariku. Dia lupa jika aku berdiri jauh-jauh hari di tempatnya. Menunggunya membawa keberanian lainnya. Tapi dia datang dengan luka kau tahu. Luka yang aku sendiri tak tahu bentuknya. Hanya terasa sakit tapi tak mengerti seberapa besar bentuknya bahkan tak tahu rupanya. Mereka mengatakan aku terluka. Tapi kubilang semua baik-baik saja. Semakin lama mereka bilang semakin parah. Tapi bagaimana aku tahu separah itu jika aku tak punya…

DELIJUN

Aku pernah mendengar cerita tentang seorang perempuan yang menunggu seorang laki-laki membalas cinta sampai berpuluh-puluh tahun. Pernah pula kudengar seorang perempuan yang mencintai seorang laki-laki. Ya hanya seorang dan jika bukan laki-laki tersebut ia tidak akan menikah. Bukankah cinta itu gila?
Lalu bagaimana dengan perempuan yang berdiri di depanku itu?
Kata orang lima puluh tahun yang lalu ada beberapa anak kecil yang bermain di dekat rel kereta api pada sore hari. Pagi harinya mereka menghadang kereta api karena itu adalah satu-satunya transportasi yang terdekat dengan sekolah kala itu. Salah seorang dari anak itu bernama Delia. Nama yang cantik bukan dan ia mempunyai julukan si hitam. Kata orang memang zaman dulu perempuan berkulit gelap sering dijadikan bahan ejekan. Tak heran jika Delilah mendapatkan julukan yang tak pernah diharapkan dan entah ada apa dengannya hingga mau menerima julukan itu. Mungkin karena Janu yang memanggilnya begitu. Ia sering menimpuk Delilah saat b…

Bukan Lelaki Bayangan

Aku memang tidak mencintainya, seperti katamu. Orangyang aku cintai memang kamu, tapi izinkan aku mengemukakan alasan mengapa aku memilihnya.
Dia kharismatik, Ndra meskipun aku tidak mencintainya setidaknya orang tuaku menyetujuinya. Dia baik, Ndra. Aku kenal adiknya, kami sangat dekat dan kulihat dia sangat perhatian pada adiknya. Itu adalah salah satu yang membuatku memilihnya, dia mencintai keluarganya. Sudah dari dulu aku memiliki kepercayaan bahwa seoranglaki-laki yang memiliki adik perempuan ia akan memperlakukan perempuan dengan lebih baik daripada ia hanya memiliki seorang ibu atau memiliki kakak perempuan. Aku mencoba membuktikannya, Ndra. Cara menyayangiku seperti ia menyayangi adiknya, tidak terlalu berlebihan. Ia lelaki terhormat yang tak berani sedikit pun menyentuhku tapi perlu kau catat dia bukan gay. Dia hanya ingin menjaga pandangannya, menjaga perbuatannya dan itu sangat sulit dicari, Ndra. Lelaki di luar sana mengagung-angungkan cinta, tapi cinta mereka hanya kulit l…

Telur Tangan 4 #Campur

"Kalau berharap saja sudah cukup untuk menemui mimpi itu, maka aku tidak akan pernah menggambarnya."

Telur-telur tangan campuran :







Telur Tangan 3 #Atas

"Kalau Paris dan Milan terasa jauh, ini yang membuatnya terasa dekat."

Telur-telur tangan selanjutnya:





Hello Goodbye

Rasanya sakit ketika kita menyukai seseorang tanpa kata. Kau harus memendamnya dan ketika ia akan pergi jauh kau hanya bisa menahan rasa sakitnya sendiri. Berkali-kali aku mengerutkan keningku. Mencari jalan keluar agar Agia tetap ada di sini, tapi setiap kali aku mencobanya bagaimana pun caranya ia tetap akan pergi. Aku sedang memulainya tapi Agia telah mengakhirinya dengan topi hitam kebanggaan setiap mahasiswa. Tepat tiga setengah tahun. Itu sangat gila untukku. Dia akan segera menjadi seorang dokter muda dan aku masih saja berstatus mahasiswa akhir. “Daya kan?” “Eh, Agia? Kamu tahu namaku dari mana?” “Kamu juga tahu namaku dari mana?” tanyanya balik. Aku duduk di depan rektorat menunggu temanku. Tak kusangka aku menemukannya di sini. Dia dan kacamatanya. Ia tersenyum dan tetap tak menjawab pertanyaanku. Aku pun memberanikan diri bertanya padanya, “Ngapain di sini, Gi?” “Habis lari-lari. Capek juga ya ternyata.” “Tapi bukannya jadi sehat pak dokter?” Ia tersenyum lagi. “Aneh…

Telur Tangan 2 #Atasan

"Mencari pelarian itu banyak, salah satunya ini."

Telur-telur tangan atasan:






Telur Tangan 1 #Atas Bawah

"Kalau mimpi itu masih jauh katanya jangan menyerah. Jadi tetap berkreasi sampai mimpi itu kesampaian."

Hasil telur-telur tangan atas bawah:


2 Love

Tergeletak delapan jam sudah. Tak ada suara, tak ada kawan. Gelap. Langit-langit kamar tak bercahaya. Lampu padam dan aku hanya bisa membuka mataku tanpa bergerak. Karena nyeri akan menusuk tiap kali menggeser tubuh. Sudah nyeri, badan mulai terasa berat. Satu-satunya yang bisa kulakukan adalah terpejam menunggu pagi.
***
Langit-langit sudah kembali putih terkena pantulan sinar dari luar. Aku ingat tak menarik selimutku, tapi tiba-tiba saat mataku terbuka ia sudah membungkusku erat. Kutolehkan wajahku ke suatu sudut ruang. Ada kamu.
“Kau sudah bangun?”
Aku mengangguk.
“Ini air hangat. Minum dulu.”
Pegangan cangkir itu kau yang pegang. Kau tak memperbolehkanku menyentuhnya. Aku meneguknya perlahan, Hangat saat air itu masuk di tenggorokan.
“Kau punya teman kan. Kenapa kau tak panggil?”
“Aku tidak ingin merepotkanmu.”
“Kau sakit dan apa iya aku harus memikirkan repot atau tidak?”
Kau menarik jemari tanganku dan meletakkannya di atas tanganmu.
“Kau sudah makan? Lihat tanganmu sekecil ini. P…