Rabu, 26 Juni 2013

CINTA DALAM KEMASAN


Kadaluarsa tertulis dengan jelas pada bungkus kemasan yang susah payah kita desain mungil, cantik dan elegan. Rasa yang kita olah telah kadaluarsa kita tahu itu. Tentu saja dari kita berdua tak ada yang berharap terluka. Kita telah memutuskannya, membuka kemasan bersama-sama. Kita juga telah berjanji jika salah satu dari kita berani membuka kemasannya, maka tak akan ada lagi cerita di dalamnya. Aku bohong. Aku mengelak telak untuk itu. Aku ingin menyimpan rapi kemasan itu meskipun isinya telah melempem terkena angin, tapi cerita itu pernah berdiri di zamannya. Tujuh tahun yang lalu.

Aku pernah menyukaimu dulu sebelum dia menyukaimu. Dia cantik bukan main. Aku tak bohong, jika aku laki-laki mungkin ada rasa untuk memilikinya. Tidakkah kau juga akan begitu? Tak mungkin itu tak terlintas di dalam isi kepalamu. Aku yakin itu sebelum kau sadar telah bersamaku.

Setengah mati kau berusaha meyakinkanku, setengah mati pula aku mempertahankan titik muasal keraguanku. Kenapa harus bertubi-tubi kau jelaskan jika memang tak terjadi, kenapa pula harus memohon untuk mempercayaimu pada hal yang tak pernah kupikirkan. Ingatkah kamu di dalam ceritamu selalu ada ceritanya, di dalam cerita kita selalu ada tentangnya dan di dalam ceritaku kau selalu menaruh garam di sana. Tak usah hiraukan anjing yang menggonggongi kita katamu, bukankah anjing itu sedang memberi pertanda di dalam gonggongannya?

Kau juga sudah melihat kemasan yang kita hias mulai luntur catnya semenjak dia mendatangimu untuk sebuah permintaan─meninggalkanku. Aku tahu kau menolaknya, tapi tak kau lihat betapa menyakitkannya saat kau mengulang-ulang cerita itu.

“Dia cantik ya, tapi sayang sekali aku menolaknya karena aku sudah punya kamu,” katamu pada hari ketujuh belas setelah penolakannya.

Tidakkah sebenarnya kau menginginkannya, membanding-bandingkan aku dengannya? Kau memang tertawa seolah melontarkan lelucon yang akan membuatku tertawa, tapi itu bukan lelucon. Satu titik kusadari darinya, kau mulai ragu padaku itulah alasannya kau selalu memancing namanya di dalam setiap isi cerita kita. Aku memang diam tapi diamku untuk menutupi sebuah bentuk keraguan yang makin lama makin terlihat mengganjal. Bukannya aku tak peduli kau akan bersama dia atau tidak, aku hanya ingin mengikis setiap keraguan-keraguan yang menjatuhimu. Akal sehatku mulai enggan menghadapimu. Ia sangat ingin menghindar dan tak mau melihatmu. Aku mencoba diam untuk menetralisir racun-racun yang mulai menyerang isi kepalaku dan menggoyahkanku.

Tepat satu bulan, kau bilang kau sudah tidak mengingatnya lagi padahal aku tak memintamu mengatakannya. Aku cukup ingin melihat bagaimana kau melakukannya. Itu saja. Kau mengoyangkan tubuhku, menyuruhku untuk percaya padamu, tapi aku tetap diam dan memang tak mau memberi penjelasan. Untuk apa aku memberimu penjelasan, jika pada akhirnya kau muntahkan seluruh perkataanku. 

Sampailah pada hari aku meledak di depanmu setelah sekian lama kupendam sendiri. Aku tidak ingin kau membawa namanya di setiap isi cerita kita dan kau bilang aku cemburu. Kubilang ini bukan cemburu, tapi hanya memastikan. Tidakkah wajar jika disetiap kita ragu harus memastikan dan aku ingin memastikan seberapa jauh kau dibawanya pergi. Kau ternyata sudah jauh. Kau sudah jarang memanggil namaku, menungguku di depan gedung kampusku, mengajakku ke rumah bibimu dan bahkan saat tragis terjadi kau tak mengabariku.

Aku terdiam berjam-jam mengamati bentuk-bentuk perubahanmu. Kau tak berselera saat kutanya ke mana arah kita selanjutnya. Kau memalingkan wajahmu.

“Kenapa tiba-tiba kau membicarakan ini semua?”

“Aku hanya ingin memastikan. Itu saja.”

“Kau sudah berlebihan. Untuk urusan sekecil ini kau ingin aku memikirkan resiko yang besar.”

“Maksud kamu? Kelanjutan kita adalah resiko yang besar?”

“Kau kan yang tidak mempercayaiku.”

“Tidak. Aku masih mempercayaimu.”

“Kalau kau mempercayaiku apa lagi yang ingin kau pastikan? Sudah pasti kita akan terus berjalan.”

Berjalan katamu kau lupa jalanan tek selalu lurus. Memang ada yang lurus tapi jalanan juga punya liku-liku, persimpangan, tikungan, belokan. Lalu mana yang kau jadikan jawaban? Kau anggap itu ringan, tapi bagiku itu berat. Kemasan kita sudah mulai kempes tak lagi menggembung. Aku sudah berusaha meniupnya, kau justru tak menganggapnya sebagai suatu masalah. Aku yang berlebihan atau memang kau yang tak peduli.

Tiga bulan berlalu tanpa komunikasi dan pada akhir kabar miring tentang kempesnya kemasan kita telah terdengar olehnya. Wanita itu mendatangimu lagi dan merampas kedudukanku. Dia yang lebih sering mendengarkan ceritamu. Entah apa yang membuatmu tak berpikir dua kali kau memaksaku untuk membuka kemasannya secara bersama-sama.

“Ini kan yang kamu mau? Sebuah kepastian.”

Aku terdiam dalam hati terkikis.

“Aku sudah memberimu kepastian. Apakah ini semua sudah cukup sekarang?”

Tentu itu cukup. Aku tak akan bertanya-tanya lagi. Keraguanku sudah terjawab tuntas. Kau memilih pergi semenjak hari itu.

Aku masih ingat wanita itu menunggumu di depan kantin dengan sebotol kopi kemasan. Baru aku sadari, seperti apa pun kemasan yang kita buat, tak sepenuhnya menentukan arah tujuan selanjutnya. Sudah capek-capek mendesain pada akhirnya kita sendiri yang merusaknya. Satu hal yang kita lupakan waktu itu, isi bisa saja kadaluarsa tapi jika kita ingat bagaimana proses membuatnya, kita bisa membuat isinya kembali. Biar pun kemasan kita tertulis tanggal kadaluarsanya ada satu hal yang susah untuk berubah memori yang indah-indah. Itulah alasannya aku masih menyimpan rapi kemasannya.

Tak aneh jika tiba-tiba sekarang kita adalah teman dan wanitamu itu bukan lagi saingan. Dia menjadi penasehatku sekarang dan darinya aku baru tahu kau melepasku karena tak ingin melukaiku dengan banyak kecurigaan. Wanita itu baik, cantik pula. Kupikir dia benar-benar mengejarmu dulu dan kau menolaknya, tapi ternyata itu adalah gurauan yang aku anggap serius. Semua sudah terlambat, kau sudah mengganti kemasanmu dengannya.

***

Selasa, 16 April 2013

Home2

Desain rumah kedua.
Karya tangan amatiranku. Semoga menginspirasi. :D
 
 
 Tampak Depan

 
 
 
 
=
=
=
=
=
 
 
 
Tampak Samping
 
 


Minggu, 14 April 2013

Tak Butuh Obat

Ada asa katanya?
Lalu aku pulang dengan menyematkannya di sudut kanan bahuku.
Ternyata itu terakhir kalinya aku membawa keberanianku.
Tak ada nyali lagi.
Rongga-rongganya telah ditutup.
Asap mengepul menjauh.
Mereka menyatakan aku mundur.
Lalu kusematkan kedua kalinya di sudut kiri bahuku.
Aku pulang sia-sia.
Ia telah pergi sebelum selesai ku bercerita.
Aku datang kepadanya tapi dia lari.
Keberanian yang dipertaruhkan telah disia-siakan.
Maka aku sebut itu sia-sia.
Itu luka.
Luka yang ia tak mengerti dari mana asalnya.
Dia hanya tahu asap mengepul itu menjauh dariku.
Dia lupa jika aku berdiri jauh-jauh hari di tempatnya.
Menunggunya membawa keberanian lainnya.
Tapi dia datang dengan luka kau tahu.
Luka yang aku sendiri tak tahu bentuknya.
Hanya terasa sakit tapi tak mengerti seberapa besar bentuknya bahkan tak tahu rupanya.
Mereka mengatakan aku terluka.
Tapi kubilang semua baik-baik saja.
Semakin lama mereka bilang semakin parah.
Tapi bagaimana aku tahu separah itu jika aku tak punya alat tuk mengukurnya.
Tak punya alat tuk tahu menahu bagian di dalam sana.
Aku hanya tahu debaran jantungku sangat cepat.
Dan mereka bilang luka itu bekerja dengan baik.
Aku ternganga.
Dia tahu aku ada di depannya.
Tapi dia tak membawa obatnya.
Dia berdiri.
Tapi tak membawa obatnya.
Dia pergi.
Tapi tak mengambil obatnya.
Aku hampir sekarat menunggunya.
Mengemis obat lain, meminumnya setengah-setengah.
Dan tiba saat dia muncul kembali,
obat itu diberikan pada orang yang jelas-jelas tak membutuhkannya.
Aku melempar suaraku.
Dia hanya menoleh dan bertanya, Siapa?
Aku tak butuh obat lagi.
Aku tak butuh nyali.
Tak butuh berani.
Aku hanya butuh dia pergi.
Aku ingin sembuh tanpa harus mengharap obatnya.
 
***

Kamis, 11 April 2013

DELIJUN


Aku pernah mendengar cerita tentang seorang perempuan yang menunggu seorang laki-laki membalas cinta sampai berpuluh-puluh tahun. Pernah pula kudengar seorang perempuan yang mencintai seorang laki-laki. Ya hanya seorang dan jika bukan laki-laki tersebut ia tidak akan menikah. Bukankah cinta itu gila?

Lalu bagaimana dengan perempuan yang berdiri di depanku itu?

Kata orang lima puluh tahun yang lalu ada beberapa anak kecil yang bermain di dekat rel kereta api pada sore hari. Pagi harinya mereka menghadang kereta api karena itu adalah satu-satunya transportasi yang terdekat dengan sekolah kala itu. Salah seorang dari anak itu bernama Delia. Nama yang cantik bukan dan ia mempunyai julukan si hitam. Kata orang memang zaman dulu perempuan berkulit gelap sering dijadikan bahan ejekan. Tak heran jika Delilah mendapatkan julukan yang tak pernah diharapkan dan entah ada apa dengannya hingga mau menerima julukan itu. Mungkin karena Janu yang memanggilnya begitu. Ia sering menimpuk Delilah saat berjualan kue keliling untuk membantu ekonomi keluarganya di sepanjang stasiun. Lagi-lagi Delilah menerimanya dengan lapang.

 Janu bukan tetangga Delilah dan bukan pula teman di sekolahnya. Mereka bertemu karena sering datang ke stasiun. Janu berjualan kue keliling, sedangkan Delilah setiap sore menunggu ayahnya pulang. Tak ada yang tahu ayah Delilah pergi kemana sejak pergi meninggalkan ibunya dengan kereta. Ia hanya memiliki keyakinan suatu saat nanti ayahnya akan pulang dengan kereta.

“Del, hari ini kueku sisa banyak. Mau ambil satu?”

“Tidak, Jan. Aku tak punya uang.”

“Ini gratis. Ambil saja.”

“Benar, kamu tidak akan menyesal?”

Janu mengangguk. Mereka berdua duduk di rel kereta api sambil menikmati sore dengan sepotong roti.

“Enak, kau sendiri yang membuatnya?”

“Bukan. Ibuku. Memang kue buatan ibuku yang paling enak. Kalau kami punya uang ibu akan membuka toko roti yang setiap harinya bisa menghasilkan banyak uang.”

“Apa aku boleh berkunjung di toko roti ibumu?”

“Tentu saja.”

Saat anak-anak itu asyik bercakap-cakap datanglah Rosiyah yang terlihat bahagia.

“Del, ayo pulang!” ajak Rosiyah.

Delilah menoleh. “Ada apa, Bu?”

“Bapakmu pulang. Dia mau ketemu kamu. Ayo pulang! Kamu mau di sekolahkan di kota.”

Delilah menatap Janu. Janu pun melihat Delilah dengan tatapan yang sama. Suatu kebanggaan di desa jika anaknya bisa sekolah di kota dan Delilah pun akhirnya pulang bersama ibunya. Janu duduk kembali di atas rel menikmati sisa kuenya. Wajahnya sendu. Ia ditinggal pergi teman bermainnya.

Sehari setelah itu Delilah tak pernah muncul di stasiun. Janu berjalan menelusuri rel seorang diri. Ia menenteng kue-kue yang masih sisa menuju rumah.

“Janu kok sudah pulang?” tanya ibunya.

“Janu capek, Bu. Mau istirahat dulu,” jawabnya dengan lesu.

Seorang gadis berdiri di samping Marwah, ibu Janu. Ia menatap haru. Janu yang ia kenal adalah periang dan yang di depan matanya seperti orang lain. Gadis itu berada di rumah Janu untuk belajar membuat kue dari Marwah. Pemandangan yang tidak biasa di mata gadis itu dan membuatnya berteman dengan Janu.

Sebulan, setahun hingga dua puluh tahun Janu berteman dengan gadis itu. Sampailah pada suatu titik jenuh dalam pertemanan, Janu memutuskan untuk berkeluarga bersama si gadis. Pada awalnya semua baik-baik saja hingga mereka dikaruniai anak perempuan yang cantik. Mulai muncullah prahara rumah tangga, kebutuhan ini itu yang tidak ada habis-habisnya dan ditambah kemunculan Delilah di depan Janu.

Delilah telah berubah menjadi cantik, kulitnya bersih. Kabar burung berkata ia telah sukses dan membuka sebuah toko roti yang diberi nama Januari dan membuka cabang di desa. Suatu hari ia datang ke rumah Janu dan disambut oleh si gadis. Sebersit rasa tak enak muncul di hati si gadis. Seenaknya saja perempuan itu datang ke rumah batinnya. Sesaat Janu muncul dari balik tirai pintu kamar. Wajahnya langsung berseri. Ia menyambut Delilah dengan berlebihan dan tak menghiraukan si gadis. Anaknya menangis tidak dihiraukan. Rasa berapi-api melanda hati si gadis. Pada malam hari terjadi pertempuran hebat dan diakhiri dengan perpisahan. Si gadis menangis pada malam itu di depan sang bayi, sedangkan Janu pergi dari rumah mentalak si gadis.

Lama-lama terdengar kabar bahwa Delilah akan dilamar Janu. Akhirnya si gadis datang menyaksikannya. Ia berdiri di depan rumah Delilah dengan menggendong bayinya. Entah mengapa Janu tak sedikitpun berniat membatalkan niatnya. Janu tetap melanjutkannya. Namun, si gadis melihat ada yang berbeda di balik wajah Delilah. Delilah menatap dalam-dalam bayi yang digendong si gadis lalu menolak lamaran Janu. Berita itu menyebar seantero warga. Muncul bisik-bisik tetangga bahwa Janu meninggalkan si gadis karena ingin melamar Delilah tapi akhirnya ditolak. Ada pula yang berkata Janu menceraikan si gadis karena tidak tahan dengan rasa cemburu gadis saat melihat Delilah kembali ke kehidupan Janu sampai akhirnya ia melamarnya dan berakhir ditolak. Lalu beberapa orang juga membuat versi lain Delilah datang mengganggu keluarga Janu sampai bercerai kemudian saat Janu melamar agar tak dituduh penjahat ia menolaknya. Hanya Tuhan, si gadis, Janu dan Delilah yang tahu kebenarannya.

Lalu aku mempunyai versi lain dari perempuan yang berdiri di depanku itu. Ia pernah menikah dan bercerai. Katanya cukup sekali menikah, mencintai laki-laki dan bercerai. Tidak ada lagi hal yang indah dalam hidupnya. Ia mencintai laki-laki bernama Janu dan tidak membenci perempuan yang bernama Delilah. Sedari awal perempuan itu tahu Janu tidak bisa melupakan Delilah. Ia menikahi perempuan itu dengan satu alasan karena hasil masakannya seperti ibunya. Bahkan ketika perempuan itu mengandung sebenarnya ia tak menginginkan bayi dalam kandungan si istri. Ia selalu berambisi menemukan Delilah dan menikahinya. Sampai akhirnya Delilah datang ke rumah satu bulan setelah perempuan itu melahirkan. Janu terlihat senang doanya terkabul. Pada malam harinya perempuan itu menangis dan Janu mendekatinya tapi perempuan itu meminta agar diceraikan. Janu kaget dan tidak bisa semudah itu berakhir. Ternyata meskipun berambisi menikahi Delilah, ia masih mencintai keluarga kecilnya. Perempuan itu mengancam bunuh diri jika tak diceraikan, maka malam itu juga Janu menceraikannya dengan berat hati dan meninggalkan istri dan bayinya.

Beberapa bulan setelah itu terdengar kasak-kusuk Janu akan melamar Delilah - kembang desa yang amat diagung-agungkan. Tepat hari lamaran, perempuan itu menyempatkan diri datang untuk menghormati mantan suaminya. Ia melihat mantan suaminya menatap ke arah bayi yang digendongnya tapi tetap melanjutkan acara lamaran. Melihat hal tersebut Delilah juga ikut menatap bayi itu. Ajaib tiba-tiba Delilah menolak Janu. Perempuan itu terdiam. Kemudian menyalahkan dirinya karena acara lamaran mantan suaminya gagal. Seandainya ia tidak datang mungkin Janu sudah mewujudkan mimpinya menikah dengan Delilah dan sekarang mereka hidup bahagia bersama.

Mereka sendiri-sendiri. Itu yang terjadi. Delilah menjadi perawan tua, Janu menjadi duda tua dan perempuan itu menjadi janda tua. Satu hal lagi anak itu menjadi anak dari janda tua. Anak itu tumbuh tanpa ayah. Ia membutuhkan sosok ayah tapi janda tua itu tidak memberinya seorang ayah baru. Lalu anak itu kini berdiri di depan perempuan itu.

“Ibu. Jangan bersedih!”

Aku mengusap pipi ibu.

Kupeluk tubuh ibu erat-erat. Kuperhatikan dengan saksama, rambut ibu mulai memutih seperti foto dalam bingkai yang tergantung di dinding. Foto ibu, ayah dan si bayi.

***

Rabu, 10 April 2013

Bukan Lelaki Bayangan


Aku memang tidak mencintainya, seperti katamu. Orang  yang aku cintai memang kamu, tapi izinkan aku mengemukakan alasan mengapa aku memilihnya.

Dia kharismatik, Ndra meskipun aku tidak mencintainya setidaknya orang tuaku menyetujuinya. Dia baik, Ndra. Aku kenal adiknya, kami sangat dekat dan kulihat dia sangat perhatian pada adiknya. Itu adalah salah satu yang membuatku memilihnya, dia mencintai keluarganya. Sudah dari dulu aku memiliki kepercayaan bahwa seorang  laki-laki yang memiliki adik perempuan ia akan memperlakukan perempuan dengan lebih baik daripada ia hanya memiliki seorang ibu atau memiliki kakak perempuan. Aku mencoba membuktikannya, Ndra. Cara menyayangiku seperti ia menyayangi adiknya, tidak terlalu berlebihan. Ia lelaki terhormat yang tak berani sedikit pun menyentuhku tapi perlu kau catat dia bukan gay. Dia hanya ingin menjaga pandangannya, menjaga perbuatannya dan itu sangat sulit dicari, Ndra. Lelaki di luar sana mengagung-angungkan cinta, tapi cinta mereka hanya kulit luarnya saja. Mereka begitu memuja-muja cinta dan berlebihan saat tidak mendapatkan atau saat ditinggalkan. Aku tak ingin seperti mereka, maka aku memilihnya agar aku tak berlebihan memujanya, mengharapkannya atau jika suatu saat nanti melepasnya.

Dia mendatangi rumahku, Ndra beberapa bulan yang lalu. Aku tak pernah membayangkan sosok laki-laki yang tinggi bahunya melebihi daguku, matanya tak lebih tajam dari tatapan mataku, dan memiliki lesung pipi serta lekuk manis di dagu akan datang ke rumahku. Mengetuk pintu dan berbicara pada ayahku. Aku melihat kesungguhannya dari tatapan matanya dan itu yang tak kulihat saat denganmu. Kau tak bisa memberi jawaban apa-apa padaku saat aku bertanya arah padamu, tapi dia menjawabku dengan tangkas.

Aku memang menyukaimu Ndra, tapi menurutku rasa sukaku itu terlalu berlebihan. Aku sampai tak bisa berpikir jernih. Setiap hari selalu dihantui bayang-bayangmu. Aku jadi sering salah melakukan sesuatu. Jantungku berdegup kencang, tanganku tiba-tiba gemetar hebat saat di dekatmu dan lama-lama itu menyiksaku. Aku terlihat seperti orang pesakitan, Ndra dan keinginanku yang sebenarnya adalah mencintai dengan cara normal. Aku ingin cinta yang wajar.

Kau tahu mengapa aku terlalu berlebihan mencintaimu? Ya, karena aku melakukan hal yang tidak waras. Bersamamu aku hanya ingin menemukan kebahagiaan itulah sebabnya aku membendung air di pelupuk mataku, aku rela menahan sakit sendiri, aku tak bisa berbagi hal-hal cengeng, aku ingin kau melihatku sebagai pribadi yang tegar, kuat dan tangguh, tapi entah mengapa bersamanya air bendunganku membanjir keluar saat ia mengatakan menyukaiku. Ia tidak mnyuruhku berhenti atau bahkan membentakku. Ia justru menyuruhku mengeluarkannya. Terkadang itu yang ingin aku lakukan di depanmu, Ndra, tapi entah kenapa semua jadi terasa sulit. Mungkin karena aku tahu sedari awal kau tak suka perempuan menangis di depanmu bahkan itu adalah ibumu sendiri.

Aku tak ingin membuatmu bersedih Ndra, tapi jujur dia bisa membuatku melakukan hal yang selama ini tak bisa kulakukan. Aku memilihnya.

Dia tak pernah  memperlihatkan marahnya di depanku, sebaliknya ia selalu tersenyum, begitu teduh menatapku. Saat itu aku berpikir lebih baik aku tak mencintai dia agar aku bisa terus merasakan perasaan seperti itu. Namun semakin lama pikiranku ditentang oleh perasaanku sendiri. Aku mulai menyukainya. Ia memiliki banyak kesamaan denganku bedanya ia lebih tahu segalanya daripada aku dan itu membuat topik pembicaraanku tak ada habisnya. Ia selalu berkembang dan berkembang. Aku memang tak bisa menyamainya tapi aku sedang berusaha dan dia pun menarikku agar bisa berada di sampingnya.

Banyak sekali perbedaan yang kurasakan saat dengannya. Ia tak pernah meninjukan kepalan tangannya ke bahuku, atau menoyor kepalaku seperti yang kau lakukan. Ia tak pernah menggenggam tanganku, menepuk bahuku, mengusap air mataku dan hanya dengan keberadaannya di sampingku saja aku sudah merasa nyaman. Sudah kubilang diawal ia lelaki terhormat. Ia hanya berani melempar senyumnya, menatapkan matanya saat berbicara tanda bahwa dia sedang berbicara denganku, mendengarku, menghargaiku. Ndra, ternyata sering bersamanya membuat cintaku padamu semakin menipis.

Bukannya aku selingkuh, Ndra. Kau dulu yang tak memberi kepastian. Perempuan manapun pasti butuh kepastian tentang arah tujuan selanjutnya. Kau dulu yang mengakhirinya dengan menyuruhku datang ke rumahmu. Kau menyuruhku bertanya pada orang tuamu. Bukankah itu terbalik Ndra, kau lelaki bukan wanita. Semestinya seorang  lelaki bisa mengambil keputusan sendiri barulah meminta pertimbangan tapi kau tidak. Aku keluar dari garismu Ndra, pergi meninggalkanmu, tapi aku sudah berpamitan padamu. Jadi jika suatu saat nanti kau bertanya aku sudah pernah mengatakannya jauh-jauh hari. Tepat saat aku pergi darimu, dia datang membawa harapan yang lebih nyata. Mungkin lebih baik begini, dijodohkan. Ayah tak akan sembarang pilih orang. Beliau lebih kupercayai daripada hatiku sendiri. Katanya hati tidak bisa berbohong tapi hatiku berkali-kali menipu diriku sendiri. Hati bisa bicara katanya, itu semua bohong. Rasanya aku tak mau lagi menggunakan hatiku, Ndra. Lebih baik aku menggunakan logikaku karena hati yang membuat perasaan kecewa, marah, benci, iri dan segala-galanya. Tapi Ndra kalau aku tak menggunakan hati sampai kapanpun aku tidak bisa mencintai orang lain selain kamu dan ternyata aku tetap menggunakannya. Ndra, ternyata hatiku sekali lagi mengkhianatiku. Aku jatuh cinta kepadanya.

Ndra, ayah percaya dia yang terbaik untukku. Ayah tahu tentang dia sejak tiga tahun yang lalu bahkan jauh hari sebelum aku mengenalnya. Aku baru tahu dari ayah ketika beliau bercerita. Ia anak yang menghormati kedua orang tuanya, baik hati, murah senyum dan diterima di masyarakat. Ia salah satu orang terpandang di desa. Sederhana tapi di balik itu ia memiliki kelebihan yang luar biasa. Itulah sebabnya aku menerimanya meskipun kukatakan diawal aku tidak mencintainya.

Aku pun mendapatkan jawaban cinta yang hakiki darinya. Ia mengatakan cinta yang hakiki adalah kepada Sang Pencipta yang menjadikan kita ada. Jadi, mulai saat itu aku lebih mendekatkan diri kepada-Nya, terus berdoa. Jika dia yang terbaik maka dekatkanlah dan jika tidak maka jauhkanlah. Tuhan menjawab doaku, Ndra. Semakin lama kami dekat, semakin dekat pula aku pada Tuhanku. Ia meluruskanku dengan sangat hati-hati. Ia memberiku jawaban dari setiap pertanyaan yang kuajukan. Sekilas ia terlihat seperti pendiam tapi sesungguhnya ia pandai berbicara. Catat Ndra bukan suka berbicara tapi dia lebih bisa menempatkan posisi, kapan waktunya ia berbicara dan kapan ia harus diam. Kata orang Jawa empan papan.

Ia bukan orang yang tergesa-gesa mengambil kesimpulan, ternyata ia telah lama mengamatiku Ndra. Dia sudah tahu banyak tentangku, tentangmu dan tentang kita. Begitu hati-hati caranya mendekatiku. Dia tahu aku gadis yang meletup-letup Ndra dan dia cukup sabar menerimaku. Bukankah kami cocok? Dia pemadam kebakaran terbaik, hakim garis yang adil, costumer service yang ramah dan tentu saja calon imam yang terhebat. Dia mampu memadamkan letupan-letupanku, mampu memberi tanda saat aku keluar garis, melayaniku dengan senyum tulusnya dan tentu saja sebagai calon pemimpin yang berani mengambil keputusan serta menanggung resikonya.

Bukankah dia hebat, Ndra. Lelaki bayanganku dulu adalah kamu Ndra dan ternyata lelaki yang ada di depanku bukan lelaki bayanganku. Lelaki itu jauh dari bayangan dan dia begitu sempurna - lelaki pilihan ayahku.

Kau sudah seharusnya merasakan juga kebahagiaanku di sana. Bukankah memang harus demikian? Seperti katamu dulu “bahagiaku adalah bahagiamu, bahagiamu adalah bahagiaku”. Bagaimana kabarmu sekarang, Ndra? Apa orang tuamu sudah merestui hubungan barumu? Semoga saja perempuan itu lebih beruntung daripada aku, lebih cantik, lebih berkelas, lebih terhormat dan menyandang gelar seambrek. Semoga kalian berbahagia. Titip salam untuk kedua orang tuamu.

Selasa, 19 Maret 2013

Telur Tangan 4 #Campur

"Kalau berharap saja sudah cukup untuk menemui mimpi itu, maka aku tidak akan pernah menggambarnya."

Telur-telur tangan campuran :





 
 
 


Senin, 18 Maret 2013

Telur Tangan 3 #Atas

"Kalau Paris dan Milan terasa jauh, ini yang membuatnya terasa dekat."

Telur-telur tangan selanjutnya:




 

 

Minggu, 17 Maret 2013

Hello Goodbye






Rasanya sakit ketika kita menyukai seseorang tanpa kata. Kau harus memendamnya dan ketika ia akan pergi jauh kau hanya bisa menahan rasa sakitnya sendiri.
Berkali-kali aku mengerutkan keningku. Mencari jalan keluar agar Agia tetap ada di sini, tapi setiap kali aku mencobanya bagaimana pun caranya ia tetap akan pergi. Aku sedang memulainya tapi Agia telah mengakhirinya dengan topi hitam kebanggaan setiap mahasiswa. Tepat tiga setengah tahun. Itu sangat gila untukku. Dia akan segera menjadi seorang dokter muda dan aku masih saja berstatus mahasiswa akhir.
“Daya kan?”
“Eh, Agia? Kamu tahu namaku dari mana?”
“Kamu juga tahu namaku dari mana?” tanyanya balik.
Aku duduk di depan rektorat menunggu temanku. Tak kusangka aku menemukannya di sini. Dia dan kacamatanya.
 Ia tersenyum dan tetap tak menjawab pertanyaanku.
Aku pun memberanikan diri bertanya padanya, “Ngapain di sini, Gi?”
“Habis lari-lari. Capek juga ya ternyata.”
“Tapi bukannya jadi sehat pak dokter?”
Ia tersenyum lagi. “Aneh juga lari-lari mengelilingi kampus di saat-saat terakhir seperti ini.”
Deg. Jantungku mengerut.
“Selamat ya. Kamu sudah berhasil lulus tiga setengah tahun.”
“Terima kasih. Tapi kamu tahu dari mana?”
Deg. Aku tertangkap basah.
“Emm, aku punya telinga seorang mata-mata. Jadi jika ada sedikit berita tentang teman-teman SMA dulu aku tahu.”
“Oh, ya? Terus kapan kamu menyusul?” Senyumnya melengkung.
Lidahku kelu untuk menjawabnya. Terhenti, hanya mampu menatap bola matanya, padahal mulutku sudah hampir terbuka. Menyusul katanya? Aku belum menyentuh skripsweet sama sekali. Bagaimana aku bisa menjawabnya?
“Daya, Daya, Daya.”
Aku terperanjat karena guncangan di bahuku. Bukan Agia yang memanggilku. Amanda menatapku dan menepuk bahuku. Aku tak lagi duduk di depan rektorat. Air mataku masih setengah basah menempel di pipi. Apakah aku baru saja menangis?
“Daya. Aneh deh, kenapa tiba-tiba nangis? Kita kan sedang dengerin cerita lucu,” celetuk Bibu.
Aku baru sadar tempatku saat ini. Tak hanya Amanda, ternyata Oni, Bibu dan Orrin juga ada di depanku. Mereka menatapku yang tidak segera tersenyum seperti biasanya.
“Daya?”
Mereka menatapku dengan serius.
Sekarang aku tak tahu harus senang atau sedih di hadapan mereka. Bahkan di tengah-tengah mereka aku bisa bermimpi bertemu Agia.
“Daya, kamu masih sadar kan?” celetuk Orrin.
Tiga hari yang lalu, aku baru tahu Agia sudah tak menjalin hubungan dengan seorang wanita lagi dan hari ini aku baru tahu ia telah menamatkan S1-nya.
Tuhan, makhluk ciptaan-Mu itu begitu sempurna, tapi kenapa aku tak bisa mendekatinya. Jantungku selalu mendadak berhenti, bibirku tak bisa berhenti tersenyum dan aku berubah menjadi orang bodoh. Tiga tahun terakhir aku hanya melihat punggungnya, ujung-ujung rambutnya dan frame kaca matanya dari samping. Bahkan di tahun-tahun terakhir seperti ini sangat sulit untuk bertemu dengannya dan kenyataan yang akan segera kuterima – dia pergi.
Menyesakkan. Sangat menyedihkan. Menyukainya tanpa kata rasanya sangat menyebalkan. Kau bisa mengucapkan hello padanya saat bertemu lalu mengucapkan goodbye saat pergi dan keduanya selalu dilakukan dalam hati. Di saat kau menyadari dia akan pergi, tak ada yang bisa dilakukan kecuali menangis sendiri, berteriak atas kebodohanmu sendiri. Sedari awal kau lakukan sendiri, maka saat dia akan pergi kau tetap sendiri kecuali jika kau punya nyali, sayangnya sedikitpun aku tak punya nyali untuk menemuinya.  
Ini adalah kedua kalinya aku melepas Agia. Tiga setengah tahun yang lalu aku juga melakukannya—mengucapkan selamat tinggal dalam hati dan berniat melupakannya. Tidakkah Tuhan sedang memberikan kesempatan padaku untuk mengatakannya hari ini? Aku diberi kesempatan kedua, tapi lihatlah aku mensia-siakannya lagi. Bagaimana jika Agia benar-benar pergi jauh dan aku tak bisa bertemu dengannya lagi?
Tuhan mengapa harus Agia? Kenapa aku menyukai Agia? Enam setengah tahun, Tuhan. Tidakkah itu lama? Tak pernah aku menyukai seorang laki-laki selama ini, bahkan lelaki yang hanya kukenal namanya saja. Tak pernah aku mempercayai seorang laki-laki sepertinya, padahal lelaki itu telah berganti kekasih berkali-kali. Apa ini yang namanya jatuh gila? Gila karena cinta, Tuhan?
Dan dia akan pergi.
Pergi jauh.
“Daya!!”
Sebuah percikan air mendarat di wajahku. Aku sadar datangnya air itu dari gelas yang dipegang Orrin dan jari-jari tangan Oni. Berkali-kali mereka memanggilku tapi lidahku kelu sama seperti dalam mimpi tadi – aku tak bisa menjawab.
Bola mataku menatap satu per satu wajah mereka. Perlahan air di wajahku bertambah. Mereka bergantian memelukku dan menepuk bahuku.
“Sudahlah, Day. Jangan menangis lagi,” seru Bibu.
“Kita ada di sini kalau kamu butuh teman cerita,” tambah Orrin.
“Jangan dipendam sendiri. Nanti kamu sakit,” tambah Amanda.
“Day, kamu kenapa?” tanya Oni.
Aku sedang berduka, Kawan. Mungkin aku tak bisa bertemu dengannya lagi setelah ini. Apa kalian bisa membantuku? Dia terlalu indah untuk dilepas dengan kata Goodbye. Batinku dalam hati.
***



Telur Tangan 2 #Atasan

"Mencari pelarian itu banyak, salah satunya ini."

Telur-telur tangan atasan:






 

Sabtu, 16 Maret 2013

Telur Tangan 1 #Atas Bawah

"Kalau mimpi itu masih jauh katanya jangan menyerah. Jadi tetap berkreasi sampai mimpi itu kesampaian."

Hasil telur-telur tangan atas bawah:


 
 

Jumat, 08 Maret 2013

2 Love



Tergeletak delapan jam sudah. Tak ada suara, tak ada kawan. Gelap. Langit-langit kamar tak bercahaya. Lampu padam dan aku hanya bisa membuka mataku tanpa bergerak. Karena nyeri akan menusuk tiap kali menggeser tubuh. Sudah nyeri, badan mulai terasa berat. Satu-satunya yang bisa kulakukan adalah terpejam menunggu pagi.

***

Langit-langit sudah kembali putih terkena pantulan sinar dari luar. Aku ingat tak menarik selimutku, tapi tiba-tiba saat mataku terbuka ia sudah membungkusku erat. Kutolehkan wajahku ke suatu sudut ruang. Ada kamu.

“Kau sudah bangun?”

Aku mengangguk. 

“Ini air hangat. Minum dulu.”

Pegangan cangkir itu kau yang pegang. Kau tak memperbolehkanku menyentuhnya. Aku meneguknya perlahan, Hangat saat air itu masuk di tenggorokan.

“Kau punya teman kan. Kenapa kau tak panggil?”

“Aku tidak ingin merepotkanmu.”

“Kau sakit dan apa iya aku harus memikirkan repot atau tidak?”

Kau menarik jemari tanganku dan meletakkannya di atas tanganmu.

“Kau sudah makan? Lihat tanganmu sekecil ini. Pasti kau belum makan.”

Air matamu menetes. Tak berhenti aku menatapmu sampai kau menatapku.

“Aku tak apa. Kau harusnya mengabariku. Aku khawatir.” Kau memaksakan senyuman kecil di sudut bibirmu.

“Feb, aku tahu saat ini kau sedang memikirkan orang lain. Bukan aku.”

Kau mengusap air matamu.

“Feb, temui dia. Aku pasti sembuh dengan sendirinya. Tak usah kau khawatirkan aku.”

“Bagaimana bisa aku meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini? Lihat kau saja belum makan, bibirmu masih pucat dan entah berapa jam kau bertahan seperti ini sendirian.”

“Tak apa. Aku akan baik-baik saja.” Air mataku akhirnya jatuh juga. Rasa nyeri masuk ke sela-sela ruang hampa di hatiku. Aku tidak tahan lagi. Sejujurnya aku pun harus menemuinya sebelum dia pergi.

“Kenapa kau ikut menangis?”

“Aku tak apa. Kau tadi juga bilang begitu kan?”

“Kau pasti juga memikirkannya kan, Di. Aku tahu. Itulah sebabnya kau sakit.”

“Kau bukan dokter, Feb. Kata-katamu belum tentu benar.”

“Di, kau menyukainya kan?”

“Tidak.”

“Kau bohong.”

“Feb, Billy itu teman dari kecil. Sudah dua puluh tahun lebih kami tumbuh bersama. Kalau Billy pergi aku juga pasti merasa kehilangan.”

“Jadi benar, ternyata kamu sakit karena memikirkan Billy.”

“Aku tak bilang begitu.”

“Diandra. Kamu suka Billy.” Kau menekankan kata-kata itu tepat di depan wajahku.

Air mataku menetes lagi.

“Iya mungkin aku menyukainya, mungkin pula tidak. Aku tak tahu pastinya. Ini namanya kebiasaan, rasa suka atau hanya sekedar teman pengisi kekosongan. Saat Billy bilang mau pergi aku tidak bisa berkata-kata lagi. Rasanya lebih baik aku tidak bertemu Billy.”

“Kau tidak mau mengantarnya pergi? Ini kesempatan. Belum tentu Billy akan kembali lagi ke sini.”

“Apa kau tak bisa membujuknya untuk tidak pergi dan menungguku sampai sembuh?”

“Sepertinya sulit. Bagaimana kalau kita berdua mengantarnya?”

“Lebih baik kamu sendiri saja, Feb. Aku ingin memulihkan keadaanku dulu.”

Aku membaringkan tubuhku dan menarik ujung selimut. Kau menahan tarikan selimutku.

“Jangan jadikan sakit sebagai alasan untuk tidak menemuinya, Di.”

“Tapi aku tak cukup kuat untuk bertemu dengannya, Feb.”

“Kalau aku bilang Billy lebih suka kamu apa kamu juga akan tetap di sini?”

Aku menutup telingaku tak mau mendengar nama Billy disebut.

“Diandra. Kita berteman dari SMA dan kamu tahu sendiri aku bisa membaca gerak-gerik setiap laki-laki yang menyukaimu. Billy menyukaimu, Di.”

“Kau bukan cenayang, Feb. Aku lebih tahu Billy daripada kamu. Tak mungkin dia bersamamu kalau dia menyukaiku.”

“Diandra, percayalah padaku. Temui dia. Aku rela tak ikut menemuinya jika itu yang kau mau.”

“Apa yang kamu bicarakan, Feb?”

Aku melepas kedua tangan dari daun telingaku.

“Aku rela.”

Entah kekuatan apa yang kumiliki. Aku bisa berdiri dan mondar mandir.

“Febri. Dengar baik-baik. Billy menyukaiku hanya sebatas teman. Kami pernah berjanji tak akan merusak persahabatan kami dengan cinta. Meskipun kami sama-sama menyukai, rasa itu terbatas, tidak bisa bebas. Berbeda denganmu dan dia.”

“Jadi benar ya kalian sama-sama menyukai?”

“Feb, jangan pedulikan kata-kataku tadi sekarang antarkan dia. Bukankah dia lebih membutuhkanmu daripada aku? Pergilah temui dia.”

“Terima kasih, Di. Aku akan menemuinya. Kau istirahatlah, nanti aku ke sini lagi.”

Aku mengangguk.

Sepeninggalmu aku tergeletak di tempat tidur. Bukan lagi rasa nyeri di kepala tapi kali ini panas dingin. Aku demam, menggigil dan tak ada orang. Pikiranku melayang kemana-mana. Kau bilang Billy menyukaiku tapi aku tak pernah melihat Billy menyukaiku. Oh, Tuhan benarkah aku sakit karena memikirkan Billy yang akan pergi ke luar negeri?

Lima belas tahun lebih kami menghabiskan waktu bersama. Apakah karena tidak biasa ditinggal pergi Billy aku jadi sakit? Tidak mungkin. Selama empat tahun terakhir bukankah kami sudah berjarak sejak Billy memutuskan berpacaran denganmu, Feb -- sahabatku. Kenapa pula aku harus sakit karena memikirkannya?

Pipiku terasa hangat, basah. Tak tahu apa penyebab keluarnya air itu. Mungkin karena demamku atau karena Billy. Ah, kenapa Billy lagi. Di saat sakit begini kenapa Billy malah pergi. Biasanya dia akan datang membawa stetoskop dan kotak ajaibnya. Habis-habisan dia akan memarahiku. Katanya aku keras kepala, tak mau makan inilah itulah dan itu yang membuatku merindukannya. Sekarang aku sakit dan Billy tak ada. Perpaduan yang menyakitkan.

Sesak. Mataku menjadi buram dan terpejam.

***

Suara isakan tangis terdengar cukup keras di sekitarku. Aku membuka mataku. Kulihat kau duduk di tepi tempat tidur, membelakangiku. Kulihat bahumu naik turun.

“Feb, apa kau baik-baik saja?”

“Di, kau sudah bangun?” tanyamu seraya menghapus air yang membasahi pipinya.

“Kamu kenapa? Billy sudah pergi ya?”

“Belum.”

“Kenapa? Kok bisa?”

“Keberangkatannya di cancel.”

“Lalu kenapa kamu menangis?”

Kau diam.

“Lalu dimana Billy sekarang?”

“Dia di sana,” jawabmu seraya menunjuk ke arah sudut kamarku.

Billy memegang kotak ajaibnya dan stetoskop melingkar di lehernya. Aku menelan ludahku. Apa karenaku, ia tak jadi berangkat?

“Hei, Diandra.” Billy memanggilku dan membawa kotak ajaibnya mendekatiku.

“Kenapa tak jadi berangkat?”

“Bodoh, bagaimana aku bisa berangkat kalau kamu sakit?”

“Ya, sakit kan tidak bisa diketahui datangnya lagi pula tak bisa direncanakan.”

“Merepotkan. Karena kamu sakit aku harus memeriksamu dulu sebelum berangkat.”

“Apa aku terlihat seperti butuh bantuanmu, Bill?”

“Sudah diam. Aku akan memeriksa keadaanmu sebentar.”

Aku mengamatinya tanpa berkedip. Deg. Kau menatap kami dengan nanar.

“Aku baik-baik saja kan? Sudah sana pergi. Bukankah melanjutkan studi keluar negeri itu impianmu sejak kecil? Feb, antar dia ke bandara sekarang juga.”

“Tidak, Di. Aku tidak bisa mengantarnya lagi. Dia memutuskan untuk tetap di sini.”

“Hei, kenapa bisa begitu? Bill, coba jelaskan?”

“Apa masih kurang jelas juga? Sudah kubilang karena kamu sakit aku harus memeriksamu.”

Deg. Benarkan karenaku Billy tak jadi berangkat?

“Billy, pergilah. Kejar studimu. Aku tak ingin menjadi penghalang.”

“Apa yang kamu bicarakan?” tanya Billy.

“Bukankah kau tak jadi pergi karena aku sakit?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa?”

“Karena aku, Di,” jawabmu.

Aku menatap matamu yang berkaca-kaca.

“Karena aku yang sakit, Di. Aku ingin melihat kalian bersama sebelum aku pergi.”

“Bill, apa kamu tahu ini semua?”

Billy menunduk.

“Kalau kamu sakit, Feb kenapa Billy mau ke luar negeri?”

“Aku yang memintanya ke luar negeri agar dia bisa melupakanku. Tapi ternyata aku salah. Permintaan bodohku itu ternyata justru membuat sahabatku terbaring sakit seperti ini.”

“Aku bilang sakitku bukan karena Billy, Feb.”

“Sudahlah, Di. Jangan mengelak lagi. Aku tak meminta banyak dari kalian. Agar aku tenang nanti, aku ingin kalian mengabulkan permintaanku. Jadilah sepasang kekasih dan beranjaklah ke pelaminan. Meskipun kelak aku tak bisa hadir tapi aku akan merasa sangat senang jika itu bisa terjadi.”

“Feb, jangan berbicara seolah-olah kamu mau mati.”

“Aku memang sudah sekarat, Di. Tak ada harapan.”

Kau menarik rambutnya. Tidak itu bukan rambut ternyata wig. Kau menghapus riasan di wajahmu dan menunjukkannya di depanku. Wajahmu pucat. Rambutmu sebagian sudah terlihat botak. Miris memancing air mataku keluar.

“Diandra.” Kau memegang tanganku. “Aku ingin kau menjaga Billy untukku.”

Air mataku mengalir deras. Billy menepuk bahuku dan menyandarkan kepalaku di bahunya. Kita pun akhirnya duduk bertiga di tepian ranjang dengan urutan aku, Billy dan kau. Aku masih demam tapi aku harus cepat sembuh dan menyemangatimu. Tentang permintaanmu, entahlah. Sepertinya aku masih butuh waktu.

“Kamu kebanyakan nangis, Di. Makanya jadi sakit. Ini resep obatnya.”

Secarik kertas dengan tulisan tak terbaca dijulurkan ke padaku. Aku menatap sekilas Billy. Kenapa harus seperti ini untuk memiliki Billy seutuhnya? Haruskah kuambil kesempatan ini, Tuhan? Kenapa pula harus kamu, Feb?

Kegagalan Mengajariku Arti Kebahagiaan

Aku mendarat di depan rumah berpagar abu-abu. Aku turun dari mobil dan menatap rumah itu. Tanganku ditarik dan dia melangkah lebih du...