Langsung ke konten utama

Anon...



Hai, Anon. Apa kabarmu malam ini?

Suara petikan gitar di sampingku bermelodi indah. Perpaduan harmoni yang sempurna. Bisakah kau petikan satu lagu runtut untukku? Aku ingin mendengarnya. Bolehkah?

Ah, pasti kau tak mau. Kau saja duduk di depan sana menyaksikan pertunjukan lain, bagaimana mungkin kau tiba-tiba memainkan musikmu di sini. Camp ini terasa bagai langit dan bumi. Kau 100 meter di depanku sana dengan imajinasimu sendiri. Kau sibuk memainkan pensilmu dan entah apa yang tergores di sana. Aku hanya bisa tengadah, berharap kau berhenti sejenak dan bergabung dengan kami, tapi itu seperti barang langka.


Anon, Anon bukankah ini kesempatan kita untuk melakukan sesuatu di luar rutinitas, tapi kenapa kau masih saja melakukan rutinitasmu itu. Kemarilah Anon aku ingin mendengar suaramu. Kau belum pernah bicara di depanku. Kau hanya tersenyum ketika bersama teman-temanmu. Susah payah aku meminta izin untuk ikut camp ini, tapi tampaknya sia-sia. Bahkan menoleh ke arahku pun kau seolah tak sempat. Ah, Anon apa aku bisa di dekatmu jika kau memilih menyendiri di sana seperti itu. Jawablah Anon. Ah, kurasa percuma aku berteriak dalam batin kau takkan mendengarnya.


Aku mulai jenuh duduk di sini dan melodi indah itu pun telah usai. Acara penutupan Camp tahun ini masih satu jam ke depan. Kini mereka sudah berganti kesibukan, menjumput jagung dalam karung lalu mengupasnya.

“Yia, nganggur kan? Ikut bakar-bakar yuk!” ajak Gi.

Hanya anggukan setengah tenaga yang kutunjukkan. Kelezatan jagung bakar pun rasanya sudah tergantikan olehmu. Aroma khasnya bagiku tak menarik lagi. Berkali-kali terlihat asap mengepul, melambai kepadaku, tapi yang kumau lambaianmu dari sana. Lihatlah aku mulai gila karenamu Anon. Kubayangkan asap itu berubah menjadi wajahmu. Kau tersenyum dan melambaikan tanganmu menyuruhku ke sana. Menyuruhku melihat apa yang kau goreskan di kertasmu lalu mengomentarinya. Ah, aku ingat ini hanya asap. Coba kau lihat jagung yang terbakar ini! Hitam pekat sementara sisi lain masih kuning, tak merata. Telah kubolak-balik jagung bakar ini tapi tetap saja tak merata, yang kuning jadi hitam, yang hitam semakin menggelap. Anon, apakah cinta juga seperti itu? Semakin lama terkena api, semakin pekat, diselimuti gelap. Hilanglah logikanya, hilanglah realistisnya. Ah, semoga saja cinta itu seperti jagung rebus, merata, seimbang dan tetap berwarna.


“Yia, jagungmu gosong tuh!” tunjuk Gi.

Ku tarik jagungku dari bara api. Mengepul lagi asap itu. Pekat sempurna. Aku yakin kau tak mau memakannya Anon. Kugigit sebagian jagung itu. Pahit dan hei, Anon apakah langit menangis karena jagung bakarku gosong? Setitik air terasa jatuh di telapak tanganku. Gerimis.


Titik air semakin terlihat dalam waktu beberapa detik. Di saat yang lain sibuk membawa barang-barang miliknya ke dalam aula camp, kau masih dengan santainya duduk di sana memegang pensilmu. Saat gerimis bertambah lebat kau mulai membenahi peralatanmu sendirian. Aku yang sudah berada di luar aula berniat menuruni anak tangga dan menuju arahmu, tapi tiba-tiba seorang gadis mengambil start lebih dulu untuk membantumu. Ah, aku kehilangan kesempatan menolongmu Anon. I’m so late.


Aku terpaku, tak bisa berkata-kata. Anak tangga menjadi saksi kebekuanku. Yia kamu ‘lola’ teriak batinku. Untuk urusan cinta aku nol besar. Jika aku suka dan jantungku berdebar itu kusebut cinta. Sesimple itulah cinta di mataku. Aku tak begitu mengerti apa yang harus kulakukan dan apa yang tak boleh aku lakukan saat jatuh cinta. Bagiku, semua hal tampak butuh banyak pertimbangan. Tak usah jauh-jauh menentukan kata iya atau tidak saja aku masih butuh media konkret yang bisa membantuku, seperti suara tokek, kancing baju, kelopak bunga bahkan aku menjumput beberapa helai rambutku dan menghitungnya sampai kudapati jawabannya. Karena ini terlalu mendesak tak sempat aku melakukan ritual panjang itu. Huff...


 “Yia, tolong bawain bentar dong!” seru Gi seraya menyodorkan buku sketsamu.

Gadis itu berdiri di sampingku, melepas sepatunya yang terkena butiran hujan, sedangkan kau masih berlari menerobos hujan untuk mengambil peralatan lain yang tertinggal.

Sekilas kulihat sebagian sketsamu dan ternyata sedari tadi kau duduk hanya mengambar pepohonan. Bukankah kau bisa mengambarnya di mana saja, kapan saja? Kenapa harus malam ini? Bahkan rembulan pun tertutup mendung, tak menampakkan diri.

“Maaf merepotkan,” katamu sambil menarik buku sketsa dari tanganku. Kata pertamamu Anon, suara yang kutunggu sampai aku tak sadar kau sudah berdiri di depanku. Kau terlihat menangkis butiran-butiran hujan di rambutmu. Menepuk-nepuk bahumu. Cool. Kau melihat jarum jam di tanganmu dan Gi memotong adenganku ─ tersipu menatapmu ─ setelah membuka ponselnya.


“Yia, masuk ke dalam yuk! Puncak penutupan acara camp diajukan gara-gara hujan,” ajak Gi.

Kau tahu Anon? Jika saja aku tahu siapa namamu mungkin akan lebih enak memanggilmu tapi lihatlah sampai akhir camp ini aku masih memanggilmu Anon.

“Masuk yuk!” Aku mengajakmu masuk ke aula Camp.


Aula sesak dan riuh. Lukisan, sketsa, gerabah dan benda lainnya yang dibuat selama camp dipamerkan. Baru beberapa detik aku tak menoleh kau sudah menghilang, entah menyusup ke mana. Anon, sebenarnya aku ingin memperlihatkan mahkota dari rumput ilalang kering buatanku tapi kau sudah pergi. Aku pun tak sempat bertanya “Apakah kau mengenal Gi? Kau membuat hasil karya apa? Bolehkah aku lihat?” dan yang tak boleh terlupakan “Siapa namamu?”.  

Tiba-tiba Gi menjerit di telingaku. “Yia, lihat ada sketsa yang mirip wajahmu!”

“Mirip,” jawabku. Tak percaya pada apa yang kulihat. Wajahku serasa berpindah pada lukisan. Mahkota ilalang kering menempel di kepalaku, gelembung sabun beterbangan di belakangku tampak nyata. Wajahku tersenyum memegang sebuah pita panjang.


“Sepertinya kau punya pengagum rahasia,” goda Gi.

“Benarkah?” Aku sedikit meragukan kata-kata Gi.

“Lihat saja lukisan itu, tak mungkin ada orang yang membuatnya semirip dan sedetail ini, jika orang itu tak sedang jatuh cinta,” jelas Gi.

“Gi, nggak lucu ah!” Aku masih ragu. Sudah kubilang soal cinta aku tak tahu apa-apa dan Gi bilang aku punya pengagum rahasia. Apa itu? Apakah itu sepertiku yang mencintaimu, Anon?


“Alamsyah Nagarawan,” ujar Gi mengeja tulisan di sudut kanan bawah lukisan.

“Siapa itu?” tanyaku.

“Ooo.. Jadi ternyata dia,” lanjut Gi tak mengubris pertanyaanku.

“Kamu kenal?”

“Kamu nggak tahu?” Gi bertanya balik.

Aku mengerutkan keningku berusaha mencari tahu nama itu. Membongkar daftar nama-nama orang dalam kepalaku, memotong-motong nama itu dan menyatukannya satu per satu. Hasilnya tetap pertanyaan siapa dia. “Kalau aku tahu, rasanya nggak perlu tanya kamu,” jawabku.

“Aku pikir kalian sudah kenal. Bukankah orang tadi itu Alamsyah Nagarawan?”

Orang tadi katanya. Banyak orang yang kutemui hari ini. Kusaring dalam otakku, laki-laki. Laki-laki yang kutemui hari ini dan belum ku kenal ada belasan orang. Lalu siapa yang dimaksud Gi. Laki-laki yang kutemui bersama Gi ada lima orang lalu siapa?

“Orang yang tadi kutolong. Jadi kamu belum kenal?” lanjut Gi.

“Serius, Gi?” 

Deg.

Alamsyah Nagarawan, seorang pelukis muda handal yang sulit diketahui keberadaannya. Anon benarkah itu kamu?


Anon, meski aku tak fasih dalam percintaan tapi aku percaya cinta tak pernah salah memilih. Mungkin cinta memilihkanmu untukku dari triliyunan manusia di dunia ini dan Tuhan menjawab pertanyaan kita dengan proses setelah melakukan doa panjang ─proses ketika aku bertemu denganmu, perlahan mulai menyukaimu dan ketika jawaban pertanyaan itu hadir lewat perantara Gi.

♥♥♥



Komentar