Langsung ke konten utama

Saat Kau Pergi



“Kita sudahi sampai di sini,” katamu dengan ketus. 

Aku menelan ludahku. Kupikir kau suka denganku dan tak akan membiarkanku pergi. Tampaknya kau tak sepemikiran denganku.

“Lusa aku akan pergi bersamanya ke Medan. Ibu bilang ia akan memperkenalkanku dengan keluarganya,” lanjutmu.

Pergi adalah keputusanmu. Itulah kata-kata yang kutangkap dari pembicaraanmu. Kita selesai dan kau akan pergi melanjutkan hidupmu bersama pria pilihan Ibumu.

“Apa kau keberatan?” tanyamu seraya menyeruput minuman di depanmu.

“Tidak,” jawabku begitu yakin. Tentu saja tidak keberatan karena sesungguhnya lebih dari sekedar keberatan. Sudah dua tahun kita berhasil bertahan dan semuanya berakhir hanya karena kau berpindah ke lain hati. Kau telah menempatkan hati pada pria pilihan Ibumu dengan keputusan yang begitu cepat. Baru seminggu yang lalu Ibumu mendesak untuk memilihku atau memilihnya dan hari ini kau sudah menjawabnya tanpa membuatku ikut campur dalam keputusanmu.

“Baguslah. Mulai hari ini kita bukan siapa-siapa lagi. Jangan hubungi nomorku dan jangan pernah mengingatku,” ujarmu begitu menusuk, tapi paras cantikmu membuatku menerimanya dengan lapang. Aku tahu ini adalah pilihan yang sangat sulit dalam hidupmu dan kau sudah menentukannya meskipun sebenarnya sulit kuterima.

“Hari ini aku bayar minuman ini,” ujarnya sambil memegang gelas minumannya.

Kau meninggalkanku ke meja kasir. Aku masih duduk dan memainkan cangkir minumanku.  Kau berlalu sangat cepat setelah membayar. Bahkan dihari terakhir, kau tidak mengizinkanku membayar minumanku sendiri. Kau masih seperti yang dulu meskipun hari ini ketus padaku.

Tiba-tiba aku teringat kata-kata ibumu bahwa tentu kau akan memilihnya yang jelas matang baik secara pribadi maupun financial dibandingkan denganku yang tak memiliki sesuatu yang bisa diharapkan. Kau lebih sering menasehatiku, membimbingku, memperhatikanku. Padahal kau sendiri yang bilang ingin diperlakukan seperti apa yang kau perbuat padaku. Sayangnya itu sangat berat untuk kulakukan, bahkan untuk menjalani hidupku sendiri saja aku sudah kerepotan. Kau sudah memiliki pekerjaan, memiliki keluarga yang memberikan kasih sayang secara lahir dan batin sedangkan aku pekerjaan saja tak punya, entah dari mana aku berasal pun juga tak  tahu. Sungguh pria malang ini ternyata adalah aku dan pria beruntung itu adalah dia. 

Memang kau bisa mengerti keadaanku, tapi ternyata tidak untuk orang tuamu terutama ibumu. Sekarang aku baru sadar mencintai itu tidak cukup hanya dua orang yang saling mencintai tetapi keluarga juga turut menentukan.

Aku iri pada pria pilihanmu. Kudengar ia lulus sarjana dengan nilai fantastis dan itulah salah satu yang dibangga-banggakan ibumu. Ia jauh lebih tampan, lebih menjamin hidupmu kelak, dan aku yakin dialah orang yang bisa membuatmu bahagia seperti harapan ibumu. Semoga saja pilihanmu di masa depan tak pernah salah.

Sepertinya aku memang sudah harus pergi dari hidupnya, hidupku yang dulu dan tempat ini. Seperti caramu berlalu beberapa menit yang lalu yaitu tanpa menengok ke belakang.

“Maaf, minuman Anda belum dibayar.” Seorang pelayan menahanku di depan pintu keluar.

“Lho? Bukannya sudah dibayar oleh wanita tadi,” tukasku.

“Iya memang wanita tadi sudah membayar minumannya, tapi hanya untuk minuman yang ia minum,” jelas pelayan itu membuatku malu. “Silahkan ikut saya ke meja kasir!”

“.....” Uangku, uangku. Tidakkkkkk.

“Kenapa, Mas?”

“Begini, uang saya tidak cukup,” ujarku sambil garuk-garuk kepala. “Bagaimana kalau saya bayar setengahnya dulu, setengahnya lagi diganti dengan nge-date.”

“Maksudnya saya sama Mas gitu?” tanya petugas kasir.

“Iya, siapa lagi kalau bukan kamu?”

PLAKKK..
***




Komentar

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda di sini