Langsung ke konten utama

HEI GHOST!!!



Kau bilang akan datang hari ini tapi tak kulihat sosokmu di setiap sudut stasiun. Petugas pun hampir meniup peluitnya pertanda kereta segera meninggalkan stasiun. Tak ada lagi penumpang yang turun.
Aku duduk di kursi dengan lesu. Kau membohongiku sekali lagi. Aku membencimu. Kau tak pernah datang di hari ulang tahunku. Dulu kau bilang kau akan datang memberiku kejutan di hari ulang tahunku. Sampai usiaku dua puluh tahun kau masih saja berbohong.
“Berhentilah menangis, Nona!” seru seorang laki-laki sambil mengulurkan tisu padaku. Aku mendongak.
“Namaku Noah.” Ia memperkenalkan dirinya. Aku menghapus air mata yang menetes untukmu. Sempat aku beberapa detik berpikir itu dirimu tapi ternyata bukan.
“Apa hari ini kau ulang tahun, Vinsi? Selamat ulang tahun,” ujarnya sambil duduk di sampingku.
Aku berdiri. “Dari mana kau tahu namaku dan hari ulang tahunku?”
“Kau menjatuhkan tanda pengenalmu saat di loket. Ini.” Noah mengulurkan kartu identitasku seperti caramu mengulurkan tiket masuk bioskop padaku dulu. Kau jimpit dengan jari telunjuk dan jari tengahmu.
“Kenapa bengong? Ini benar milikmu kan?” tanyanya. 
“Mengapa kau baik padaku? Mengapa kau repot-repot memberiku tisu dan mengembalikan kartu identitasku?” tanyaku balik.
“Apa salah jika aku memberimu tisu? Lalu apa untungnya aku membawa kartu identitasmu? Bukankah ini manusiawi?” tanyanya membuatku sempat kehabisan kata-kata.
“Iya, tapi tidak semua orang akan melakukannya pada orang sepertiku.”
“Maksud kamu?”
“Apa kau tak melihatku seperti orang yang sedang frustasi? Apa kau tak melihatku seperti orang yang sedang penuh beban? Apa kau tak melihat seperti itu? Aku bisa saja tak terkendali dan memakimu sekalipun kau sudah berbaik hati padaku.”
Noah tertawa sambil menunduk seperti caramu saat menertawakanku. Aku pergi meninggalkannya dengan kesal.
“Vinsi.” Noah memanggilku, aku menoleh.
“Kau tak ingat meninggalkan sesuatu?” tanyanya sambil melambaikan tasku. Aku menghampiri dan mengambilnya.
“Kau tak mau mengucapkan terima kasih padaku?” tanyanya sambil berteriak. Aku pura-pura tak mendengarnya.
***
Kau tahu, aku kerja part time di sebuah persewaan kaset yang bernama Lovely Love. Orang bilang menyibukkan diri dapat menjadi alternatif untuk melupakan seseorang dan itu yang sedang aku lakukan untuk melupakanmu meskipun sebenarnya tidak berpengaruh padaku.
“Vin, kamu terlambat satu jam? Apa kamu pergi ke stasiun lagi?” tanya Sarah sambil mengemasi barang-barangnya ke dalam tas.
Sebotol air kemasan di meja kuteguk sampai habis. “Bukan urusanmu, Sa.”
“Hei, tapi itu minumanku.”
“Lain kali aku ganti,” kataku ringan seringan aku meletakkan tasku ke meja.
“Vin, bukankah sudah jelas Raga itu menjadi korban dalam kecelakan kereta tiga tahun yang lalu? He was dead.”
“Aku yakin dia masih hidup.”
“Vinsi, apa sih yang kamu harapkan dari orang yang udah mati?”
“Dia bilang akan datang di hari ulang tahunku dan kita akan bertemu di stasiun.”
“Vin, itu janji dari orang yang masih hidup. Sekarang dia udah nggak ada.”  
“Janji tetap janji, Sa. Dia harus kembali memenuhi janjinya.”
“Vin, kamu mau dia gentayangan tidak tenang di sana?”
“Itu salah dia, kenapa saat mau pergi dia bilang ingin memberiku kejutan di hari ini.”
“Vin, Raga nggak akan kembali lagi. Apa sih sulitnya untuk melepaskan orang yang udah mati?”
“Karena aku yakin dia masih hidup, Sa. Sampai kapanpun aku nggak akan melepaskannya.”
“Vin, sepertinya kamu butuh psikiater,” kata Sarah padaku.
Kamu tahu kata-kata itu sangat merendahkanku Ga. Belum cukup dia bilang kamu meninggal, dia mengataiku butuh psikiater. Aku belum gila. Kalaupun aku gila mana mungkin aku masih ingat hari ulang tahunku, tempat kerja part time-ku, namamu, janjimu.
“Yang butuh psikiater itu kamu, Sa. Aku sama sekali nggak butuh.”
“Capek ya ngomong sama kamu.”
Sarah pergi dengan penuh amarah dan aku melihat punggungnya semakin jauh. Kau lihat semua ini terjadi karena berdebat tentangmu. Seandainya kamu ada di sini tak perlu ku permasalahkan itu dengannya.
“Vinsi.”
Noah berdiri di depanku.
“Kita ketemu lagi. Dunia memang sempit ya?”
“Bagaimana kau tahu aku di sini? Kau pasti mengikutiku?” Aku sedikit menjauh darinya.
“Kurasa kita berjodoh.”
“Mana mungkin? Sebaiknya kamu pergi dari sini atau aku akan...!” Aku mengambil botol air minum kosong di depanku.
Sarah muncul dari pintu melihatku dengan tatapan aneh. Aku meletakkan kembali botol minum itu ke meja.  
“Aku kembali hanya untuk mengambil kunciku yang tertinggal,” ujarnya sambil mengambil kunci di depan Noah. Kau tahu, aku tak percaya dengan apa yang kulihat. Tangan Sarah menembus masuk ke tubuh Noah. Aku segera mengambil tasku dan menyusul Sarah.
“Sarah tunggu!” Aku berlari mengejarnya.
***
Sarah tertawa saat kuceritakan tentang Noah. Dia bilang aku hanya berimajinasi. Noah itu hanya tokoh penghibur yang kubuat bersamaan dengan rasa kecewaku padamu.
“Sarah, mengapa sekali saja kamu tak mau mempercayaiku?”
“Vin, bukannya aku tak mau percaya tapi cerita kamu itu sangat kekanak-kanakan.”
“Sa, kumohon tolong aku!”
“Sebentar aku mau tanya. Kamu tadi sudah mengunci pintu lovely love kan?”
“Kamu mengalihkan pembicaraan?”
“Bukan itu maksudku, kalau kaset-kasetnya dicuri orang kita mau kerja apa? Kita harus ganti rugi pakai apa?”
“Ya ampun, Sa. Aku lupa tapi aku takut ke sana.”
“Ya sudahlah. Kamu atasi masalah tokoh khayalanmu itu. Biar hari ini aku yang menggantikan shift-mu. Ingat hanya untuk hari ini saja.”
“Kamu memang baik, Sa.”
Aku menyeruput Cappuccino selepas Sarah pergi.
“Vinsi.”
Aku tersedak saat melihat Noah kembali muncul di hadapanku. Kamu tahu aku masih belum kehilangan kesadaranku jelas-jelas suara itu dan wajah itu milik Noah. Aku buru-buru membayar segelas Cappucino yang belum selesai kuminum dan segera pergi.
“Kenapa kamu menghindariku?” tanya Noah yang membuntutiku di belakang.
“Tuhan, katakanlah aku sedang bermimpi.”
“Kau sudah tahu kalau aku ini hantu? Apa kau takut?” tanya Noah seraya berjalan di sampingku.
Aku terperanjat. “Kau benar-benar mengagetkanku. Kalau kamu itu hantu menyingkirlah jauh-jauh dariku. Kalau kamu tokoh imajinasiku tolong pergilah.”
“Aku ini memang hantu. Aku tidak bisa pergi begitu saja. Kau harus memenuhi permintaanku, baru aku akan pergi.”
“Tidak mau. Maaf aku banyak urusan.” Aku lupa dia hantu. Saat aku ingin mendorongnya supaya minggir, aku hanya mendorong udara.
“Apa kamu tidak ingin tahu tentang Raga?”
Saat Noah menyebut namamu aku menghentikan langkahku.
“Sebenarnya apa maumu?”
“Aku cuma ingin mewakili Raga untuk memenuhi janjinya padamu.”
“Hah, kamu pikir kamu siapa?”
“Anggap saja aku Raga.”
“Mana mungkin. Tidak bisa.” Aku melangkah kembali.
Kamu tahu, dia berkata dia hantu dan aku hampir mempercayainya ketika semua orang memandangku dengan cara aneh. Dia bilang dia mewakilimu, bagaimana bisa Ga? Sungguh tak bisa kupercaya dia sangat berbeda darimu. Bukankah menepati janji tidak bisa diwakilkan?
“Bagaimana? Tetap tidak mau? Pasti kamu akan menyesal,” bujuknya sambil memegang bahuku.
“Sudah pergilah! Aku tak mau dikatakan orang gila gara-gara bicara dengan hantu sepertimu,” seruku sambil menepis tangannya. Sangat aneh ia bisa menyentuhku tapi aku tak bisa menyentuhnya.
“Kalau kuberitahu tentang keberadaan Raga, bagaimana?”
Entah mengapa setiap mendengar namamu disebut aku seakan tak bisa menolak permintaan hantu itu.
“Baiklah katakan dulu baru aku akan mengabulkan permintaanmu.”
“Tidak bisa. Aku tak akan tertipu. Hantu tidak suka dibodohi camkan itu.”
“Baiklah. Aku menyerah. Dasar hantu yang keras kepala.”
“Sampai ketemu besok pagi.”
***
Noah mengajakku menonton film yang dulu sempat kita lihat. Ia memberikanku sebuah kotak musik yang mirip dengan kotak musikku dulu. Ia mengajakku meniup terompet padahal tahun baru sudah berlalu. Ia mentraktirku makan ice cream di tempat pertama kali kita bertemu. Melewati waktu bersamanya dari pagi hingga siang mengingatkan saat-saat bersamamu.
“Apakah seperti ini pekerjaan seorang hantu? Bukankah hantu suka menakut-nakuti orang?” tanyaku sambil memakan ice cream cokelatku.
“Aku hantu yang baik,” katanya sambil berjalan cepat di depanku.
“Jadi kamu temannya Casper?”
Aku mulai menikmati pertemananku dengan Noah. Gerak-geriknya benar-benar mirip denganmu. Aku merasa kau hidup lagi.
“Mungkin. Emm, karena tugasku sudah selesai aku akan pergi. Bye bye,” ujarnya sambil berjalan cepat ke arah kolam.
“Hei, tunggu dulu! Katamu kamu akan menceritakan tentang Raga?” Aku membuang ice creamku dan mengejarnya.
Noah menghilang begitu saja. Ia terjun ke dalam kolam dekat taman. Aku ikut terjun untuk mencarinya tapi aku tak bisa menemukannya. Noah berbohong kepadaku. Ia benar-benar mirip denganmu. Aku membencinya sama seperti aku membencimu.
“Vinsi, apa yang sedang kamu lakukan?” Sarah muncul dengan seorang pria yang mirip dengan Noah.
“Noah?” Aku berjalan mendekatinya.
“Vinsi, kamu ngigau? Ini aku Sarah. Kenalkan ini Neo, seorang psikolog yang akan membantumu.”
“Dia bukan Neo, Sa. Dia ini Noah, hantu yang kuceritakan kemarin.”
“Vinsi, mana ada hantu di siang bolong kayak gini? Masih untung aku carikan kamu psikolog bukan psikiater.”
“Sa, Noah bisa muncul kapan aja. Iya kan Noah?” Aku memegang legan Noah.
“Iya saya ini Noah dan bisa muncul kapan saja.”
“Noah, tolong katakan dimana Raga sekarang? Bukankah kamu berjanji akan mengatakannya?”
“Neo, kenapa kamu bilang kalau kamu Noah?”
“Tenang saja, Sa. Ini salah satu cara untuk membantunya.”
“Noah, kenapa kamu tidak menjawabnya?”
“Nanti akan saya jawab tapi baju kamu basah dan kotor sebaiknya kita bersihkan diri kamu dulu.” Noah dan aku berjalan bersama.
***

Komentar