Rabu, 09 November 2011

TUGAS POKOK DAN FUNGSI GURU DAN FASILITATOR PENDIDIKAN LUAR BIASA


Disampaikan oleh Drs. Abdul Salim Choiri, M.Kes pada Kegiatan Fasilitasi Teaching Clinic Pasca Sertifikasi Guru PLB Jawa Tengah di LPMP Semarang 22-25 Agustus  2011

A. Pendahuluan
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2008 Tentang Standar Kualifikasi Akademik Dan Kompetensi Guru Pendidikan Khusus, pasal 1 menyebutkan bahwa guru pendidikan khusus adalah tenaga pendidik yang memenuhi kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikasi pendidik bagi peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, sosial dan/atau potensi kecerdasan dan bakat istimewa pada satuan pendidikan khusus, satuan pendidikan umum, dan/atau satuan pendidikan kejuruan. Disebutkan pula bahwa guru pendidikan khusus adalah tenaga profesional. Pasal 2 menyakatan bahwa  Penyelenggara pendidikan khusus wajib mempekerjakan guru yang memenuhi standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru pendidikan khusus yang berlaku secara nasional.
Guru profesional adalah guru yang dalam melaksanakan tugas profesi kependidikan mampu menunjukkan keprofesionalannya yang ditandai dengan penguasaan kompetensi akademik kependidikan dan kompetensi penguasaan substansi dan/atau bidang studi sesuai bidang ilmunya (M.Furqon, 2009). Dalam rangka menyiapkan guru yang profesional Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan telah mengamanatkan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai guru. Persyaratan kualifikasi akademik seorang guru telah dibuktikan dengan telah dimilikinya ijazah minimal S-1 atau D-4. Kompetensi pokok sebagai guru adalah kompetensi paedagogik, personal, sosial dan profesional (M.Furqon. 2007). Selain itu seorang guru juga harus memiliki sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Guru mempunyai peranan dan kedudukan kunci dalam keseluruhan proses pendidikan terutama dalam pendidikan formal, bahkan dalam keseluruhan pembangunan masyarakat pada umumnya. Keberhasilan dari suatu masyarakat yang teratur tergantung kepada guru, termasuk guru pendidikan khusus. Hal ini oleh karena guru sebagai tenaga profesional merupakan profesi dalam jumlah terbanyak di Indonesia. Data Ditjen PMPTK mencatat pada tahun 2007 jumlah guru PNS sebanyak 1.497.220 (54%) dan guru swasta sebanyak 1.286.101 (46%). Kualifikasi pendidikan yang dimiliki untuk status nonPNS di bawah S1 sebanyak 749.492 (58%) dan di atas S1 sebanyak 536.609 (42%). Kualifikasi di bawah S1 untuk guru berstatus PNS sebanyak 989.983 (66%) dan di atas S1 sebanyak 507.237 (34%) (Saiful Alam, 2009)
Program sertifikasi yang dicanangkan oleh pemerintah  (Permendiknas No.18 tahun 2007) pada dasarnya merupakan sebuah program yang lebih mengarah pada upaya peningkatan hasil pembelajaran dengan mengkondisikan guru-gurunya sebagai tenaga pendidik yang berkompeten terhadap bidangnya. Kompeten dalam arti mampu melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai guru secara professional dengan langkah-langkah yang strategis. Guru yang layak bersertifikat adalah guru-guru yang mempunyai kemampuan khusus yang dapat menunjang ketuntasan  belajar anak didik. Termasuk di dalamnya anak didik berkebutuhan khusus.
Sebagaimana diketahui bahwa Pendidikan Khusus atau Pendidikan Luar Biasa mendidik peserta didik berkebutuhan khusus atau peserta didik luar biasa atau peserta didik berkelainan, yaitu peserta didik yang dalam proses pertumbuhan/perkembangannya secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan/penyimpangan (phisik, mental-intelektual, social, emosional) dibandingkan dengan peserta didik-peserta didik lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Jenis peserta didik berkebutuhan khusus meliputi (1) tunanetra/gangguan penglihatan, (2) tunarungu/gangguan pendengaran, (3) tunadaksa/ gangguan gerakan/ kelainan anggota tubuh, (4) tunagrahita/ keterbelakangan kemampuan intelektual, (5) peserta didik lamban belajar & hambatan belajar, (6) peserta didik berkesulitan belajar, (7) peserta didik berbakat (memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa), (8) tunalaras/kelainan tingkah laku dan sosial, (9) peserta didik dengan gangguan komunikasi (Abdul Salim Ch, dkk. 2009).
Pendidikan peserta didik berkebutuhan khusus pada hakekatnya berbeda dengan peserta didik normal. Karena di samping mereka memperoleh materi pokok dalam setiap mata pelajaran, mereka juga membutuhkan layanan pendidikan khusus yang berbeda dengan jenis kekhususan/kelainan lain, terutama yang berkaitan dengan “Program Khusus” untuk setiap jenis kekhususan, baik peserta didik yang sekolah di jenjang pendidikan TKLB, SDLB, SMPLB, SMALB ataupun yang ada di TK, SD, SMP dan SMA inklusif (Abdul Salim Choiri, Munawir Yusuf. 2009). 
Jenis Guru Pendidikan Khusus  meliputi: (a). Guru Kelas TKLB/RALB, (b). Guru Kelas SDLB/MILB, (c). Guru Mata Pelajaran SDLB/MILB, SMPLB/ MTsLB, SMALB/MALB, (d). Guru Pendidikan Khusus pada satuan pendidikan umum dan kejuruan (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2008).  
Seorang guru PK berdasarkan hasil pemantauan di lapangan serta hasil wawancara dengan beberapa guru dari beberapa jenjang sekolah dan jenis kekhususan, materi pembelajaran yang masih perlu ditingkatkan penguasaannya adalah (a) penguasaan karakteristik peserta didik dan kemampuan merancang, melaksanakan  dan mengevaluasi pembelajaran di sekolah khusus maupun di sekolah inklusi (b) penguasaan kompetensi profesional bagi guru anak berkebutuhan khusus, terutama yang berkaitan dengan program khusus ABK.

B. Kualifikasi Akademik Guru Pendidikan Khusus
Kualifikasi akademik guru pendidikan khusus mulai dari TKLB s.d SMALB menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2008, adalah sbb:
1. Kualifikasi Akademik Guru Kelas TKLB/RALB
a.       berpendidikan minimum D-IV atau S1  Luar Biasa/Pendidikan Khusus (PLB/PKh) yang diperoleh dari Program Studi/Jurusan PLB/PKh yang terakreditasi, atau
b.      berpendidikan D-IV atau S1 PGTK, PAUD, Psikologi, atau Kependidikan non PLB/PKh, yang diperoleh dari perguruan tinggi terakreditasi,
c.       memiliki sertifikat pendidik untuk guru pendidikan khusus yang diperoleh dari perguruan tinggi penyelenggara program pengadaan tenaga kependidikan pada perguruan tinggi terakreditasi yang ditetapkan oleh pemerintah.
2. Kualifikasi Akademik Guru Kelas SDLB/MILB
a.       berpendidikan minimum D-IV atau S1 PLB/PKh yang diperoleh dari Program Studi/Jurusan PLB/PKh yang terakreditasi, atau
b.      berpendidikan D-IV atau S1 PGSD, Psikologi, Kependidikan non PLB/PKh, yang diperoleh dari perguruan tinggi terakreditasi,
c.       memiliki sertifikat pendidik untuk guru pendidikan khusus yang diperoleh dari perguruan tinggi penyelenggara program pengadaan tenaga kependidikan pada perguruan tinggi terakreditasi yang ditetapkan oleh pemerintah.
3. Kualifikasi akademik Guru Mata Pelajaran SDLB/MILB, SMPLB/MTsLB, SMALB/MALB
a.       berpendidikan minimum D-IV atau S1 dari Program Studi/Jurusan yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan dan diperoleh dari Program Studi/Jurusan yang terakreditasi, atau
b.      berpendidikan minimum D-IV atau S1 PLB/PKh yang diperoleh dari Program Studi/Jurusan PLB/PKh terakreditasi,
c.       memiliki sertifikat pendidik untuk guru pendidikan khusus yang diperoleh dari perguruan tinggi penyelenggara program pengadaan tenaga kependidikan pada perguruan tinggi terakreditasi yang ditetapkan oleh pemerintah.
4. Kualifikasi akademik Guru Pendidikan Khusus pada Sekolah Umum dan Kejuruan
a.       berpendidikan minimum D-IV atau S1 PLB/PKh yang diperoleh dari
Jurusan/Program Studi PLB/PKh yang terakreditasi,
b.      memiliki sertifikat pendidik untuk guru pendidikan khusus yang diperoleh dari perguruan tinggi penyelenggara program pengadaan tenaga kependidikan pada perguruan tinggi terakreditasi yang ditetapkan oleh pemerintah.
5. Kualifikasi Akademik Melalui Uji Kelayakan dan Kesetaraan.
Kualifikasi akademik yang dipersyaratkan untuk dapat diangkat sebagai guru dalam bidang-bidang tertentu yang sangat diperlukan pada satuan pendidikan khusus, tetapi belum dikembangkan di perguruan tinggi, dapat diperoleh melalui uji kelayakan dan kesetaraan. Uji kelayakan dan kesetaraan bagi seseorang yang memiliki keahlian tanpa ijazah dilakukan oleh perguruan tinggi yang diberi wewenang untuk melaksanakannya.

C. Kompetensi Guru Pendidikan Khusus
Standar kompetensi guru pendidikan khusus dikembangkan secara utuh dari empat kompetensi guru, yaitu kompetensi paedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja guru pendidikan khusus.
Standar kompetensi guru pendidikan khusus mencakup kompetensi inti guru yang dikembangkan menjadi kompetensi guru kelas TKLB/RALB, guru kelas SDLB/MILB, guru mata pelajaran SDLB/MILB, SMPLB/MTsLB, SMALB/MALB, dan guru pendidikan khusus pada satuan pendidikan umum dan kejuruan.
Kompetensi inti guru pendidikan khusus menyesuaikan kompetensi inti guru sekolah umum sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007.
1. Kompetensi Pedagogik
a.       Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional dan intelektual
b.      Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik
c.       Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran/ bidang pengembangan yang diampu
d.      Menyelenggarakan pembelajaran/pengembangan yang mendidik
e.       Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan penyelenggaraan kegiatan pembelajaran/pengembangan yang mendidik
f.       Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktuali sasikan berbagai potensi yang dimiliki
g.      Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik
h.      Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar
i.        Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran
j.        Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran
2. Kompetensi Kepribadian
a.       Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia
b.      Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat
c.       Menampilkan diri sebagai pribadi yang sabar, tekun, mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa
d.      Menunjukkan etos kerja, tanggungjawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri
e.       Menjunjung tinggi kode etik profesi guru
3. Kompetensi Sosial
a.       Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi
b.      Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat
c.       Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya
d.      Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain
4. Kompetensi Profesional
a.       Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu
b.      Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran/ bidang pengembangan yang diampu
c.       Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif
d.      Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif
e.       Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomuni kasi dan mengembangkan diri

Jabaran kompetensi 4.a disajikan sebagai berikut :
1. Dasar-dasar Tulisan Braille
  1. Menguasai konsep dasar tulisan braille
  2. Menerapkan konsep dasar tulisan braille pada bidang pengembangan di TKLB/RALB, SDLB/MILB, SMPLB/MTsLB, SMALB/MALB
2. Orientasi dan Mobilitas
a.       Menguasai konsep dasar orientasi mobilitas
b.      Menguasai materi orientasi mobilitas
c.       Menguasai prinsip pelaksanaan orientasi mobilitas
d.      Menguasai teknik dan prosedur pembelajaran orientasi mobilitas sesuai dengan karakteristik anak usia dini 

3. Bina Komunikasi, Persepsi Bunyi dan Irama (BKPBI)
  1. Menguasai konsep BKPBI
  2. Menguasai materi BKPBI untuk pengembangan komunikasi dan interaksi
  3. Menguasai prinsip pelaksanaan BKPBI
  4. Menguasai teknik dan prosedur pembelajaran BKPBI
  5. Menguasai konsep, dan metode pembelajaran serta evaluasi BKPBI
4. Bina Diri
  1. Menguasai konsep dasar bina diri
  2. Menguasai prinsip pelaksanaan bina diri
  3. Menguasai materi bina diri
  4. Menguasai teknik dan prosedur pembelajaran serta evaluasi bina diri
5. Bina Gerak
a.       Menguasai konsep bina gerak
b.      Menguasai prinsip pelaksanaan bina gerak
c.       Menguasai materi bina gerak
d.      Menguasai teknik dan prosedur pembelajaran dan evaluasi bina gerak 

6. Bina Pribadi dan Sosial
a.       Menguasai konsep bina pribadi dan sosial
b.      Menguasai prinsip pelaksanaan bina pribadi dan sosial
c.       Menguasai materi bina pribadi dan sosial
d.      Menguasai teknik dan prosedur pembelajaran serta evaluasi bina pribadi dan sosial 

7. Bina Potensi Kecerdasan dan Bakat Istimewa
a.       Menguasai konsep dasar bina potensi kecerdasan dan bakat istimewa
b.      Menguasai prinsip-prinsip pelaksanaan bina potensi kecerdasan dan bakat istimewa
c.       Menguasai materi bina potensi kecerdasan dan bakat istimewa
d.      Menguasai teknik dan prosedur pembelajaran dan evaluasi bina potensi kecerdasan dan bakat istimewa


C. Tugas Pokok Guru Pendidikan Khusus
 Tugas guru pendidikan khusus secara umum sama dengan guru pada umumnya, yang membedakan adalah peserta didiknya sehingga dalam perencanaan, pelaksanaan dan penilaian tugas pokok guru PK harus disesuaikan dengan karakteristik, potensi dan kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus. Menurut Undang Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas dan Undang Undang No. 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, serta Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi Tentang Jabatan Fungsional Guru Dan Angka Kreditnya Nomor 16 Tahun 2009, Pasal 5, dijelaskan bahwa  (1) Tugas utama Guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah serta tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah. (2) Beban kerja Guru untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, dan/atau melatih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dan paling banyak 40 (empat puluh) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu pada satu atau lebih satuan pendidikan yang memiliki izin pendirian dari pemerintah atau pemerintah daerah. (3) Beban kerja Guru bimbingan dan konseling/konselor adalah mengampu bimbingan dan konseling paling sedikit 150 (seratus lima puluh) peserta didik dalam 1 (satu) tahun.

1.  Guru PK Sebagai Pendidik
Guru PK adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan dan identifikasi bagi para peserta didik berkebutuhan khusus dan lingkungannya. Oleh karena itu guru PK harus mempunyai standar kualitas pribadi tertentu, yang mencakup tanggungjawab, wibawa, mandiri dan disiplin.
Guru PK harus memahami nilai-nilai, norma moral dan sosial, serta berusaha berperilaku dan berbuat sesuai dengan nilai dan norma tersebut. (Bobbi DePorter. 2000). Guru PK juga harus bertanggung jawab terhadap tindakannya dalam proses pembelajaran ABK di sekolah. Sebagai pendidik guru PK harus berani mengambil keputusan secara mandiri berkaitan dengan pembelajaran dan pembentukan kompetensi, serta bertindak sesuai dengan kondisi peserta didik berkebutuhan khusus dan lingkungan.

2.   Guru PK Sebagai Pengajar
Di dalam tugasnya, guru PK membantu peserta didik ABK yang sedang berkembang untuk mempelajari sesuatu yang belum diketahuinya, membentuk kompetensi dan memahami materi standar yang dipelajari. Guru PK sebagai pengajar, harus terus mengikuti perkembangan teknologi, sehingga apa yang disampaikan kepada peserta didik ABK merupakan hal-hal yang uptodate dan tidak ketinggalan jaman. Kegiatan guru PK sebagai pengajar kegiatannya adalah menyusun rencana pembelajaran, melaksanakan pembelajaran yang bermutu, menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran, menyusun dan melaksanakan program perbaikan dan pengayaan terhadap peserta didik. (Edward Sallis. 2010).
Perkembangan teknologi mengubah peran guru dari pengajar yang bertugas menyampaikan materi pembelajaran menjadi fasilitator yang bertugas memberikan kemudahan belajar. Hal itu dimungkinkan karena perkembangan teknologi menimbulkan banyak buku dengan harga relatif murah dan peserta didik dapat belajar melalui internet dengan tanpa batasan waktu dan ruang, belajar melalui televisi, radio dan surat kabar yang ada setiap saat.
Derasnya arus informasi, serta cepatnya perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan telah memunculkan pertanyaan terhadap tugas guru sebagai pengajar. Masihkah guru PK diperlukan mengajar di depan kelas seorang diri?, menginformasikan, menerangkan dan menjelaskan?. William Athur Ward, (dalam M.Furqon. 2009) menjelaskan bahwa :
Guru yang biasa, berbicara
Guru yang bagus, menerangkan
Guru yang hebat, mendemonstrasikan
Guru yang agung, memberi inspirasi
Implikasinya, seorang guru PK dalam mengajarkan materi ajar tidak  harus berbicara sepanjang jam pelajaran, melainkan perlu menerapkan berbagai strategi dan mengubah peran dirinya menjadi seorang fasilitator bagi peserta didiknya.
Guru sebagai pengajar bahkan sebaiknya juga ”mengajar yang mendidik”, artinya guru bukan hanya mampu merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran, tetapi juga mampu mengembangkan pembelajaran dengan melandasi dan menanamkan nilai-nilai pendidikan (M.Furqon, 2009).

3.   Guru PK Sebagai Pembimbing
Guru PK sebagai pembimbing dapat diibaratkan sebagai pembimbing perjalanan yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya yang bertanggungjawab. Sebagai pembimbing, guru harus merumuskan tujuan secara jelas, menetapkan waktu perjalanan, menetapkan jalan yang harus ditempuh, menggunakan petunjuk perjalanan serta menilai kelancarannya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik.
Kegiatan guru PK sebagai pembimbing diantaranya adalah kegiatan guru dalam menyusun rencana bimbingan, melaksanakan bimbingan, meng­evaluasi proses dan hasil bimbingan, serta melakukan perbaikan tindak lanjut bimbingan dengan memanfaatkan hasil evaluasi.

4. Guru PK Sebagai Pengarah
Guru PK adalah seorang pengarah bagi peserta didik, bahkan bagi orang tua. Sebagai pengarah guru harus mampu mengarahkan peserta didik ABK dalam memecahkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi, mengarahkan peserta didik ABK dalam mengambil suatu keputusan dan menemukan jati dirinya.
Guru PK juga dituntut untuk mengarahkan peserta didik ABK dalam mengembangkan potensi dirinya, sehingga peserta didik dapat membangun karakter yang baik bagi dirinya dalam menghadapi kehidupan nyata di masyarakat.

5. Guru PK Sebagai Pelatih
Proses pendidikan dan pembelajaran ABK memerlukan latihan ketrampilan, baik intelektual maupun motorik, sehingga menuntut guru untuk bertindak sebagai pelatih, yang bertugas melatih peserta didik ABK dalam pembentukan kompetensi dasar sesuai dengan potensi masing-masing peserta didik.
Pelatihan yang dilakukan, di samping harus memperhatikan kompetensi dasar dan materi standar, juga harus mampu memperhatikan perbedaan individual peserta didik dan lingkungannya. Untuk itu guru PK harus banyak tahu, meskipun tidak mencakup semua hal dan tidak setiap hal secara sempurna, karena hal itu tidaklah mungkin.

6.  Guru PK Sebagai Penilai
Penilaian atau evalusi merupakan aspek pembelajaran yang paling kompleks, karena melibatkan banyak latar belakang dan hubungan, serta variabel lain yang mempunyai arti apabila berhubungan dengan konteks yang hampir tidak mungkin dapat dipisahkan dengan setiap segi penilaian. Tidak ada pembelajaran tanpa penilaian, karena penilaian merupakan proses menetapkan kualitas hasil belajar, atau proses untuk menentukan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran peserta didik.
Sebagai suatu proses, penilaian dilaksanakan dengan prinsip-prinsip dan dengan teknik yang sesuai, mungkin tes atau non tes. Teknik apapun yang dipilih, penilaian harus dilakukan dengan prosedur yang jelas, yang meliputi tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan dan tindak lanjut.
Mengingat kompleksnya proses penilaian, maka guru perlu memiliki pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang memadai. Guru harus memahami teknik evaluasi, baik tes maupun non tes yang meliputi jenis masing-masing teknik, karakteristik, prosedur pengembangan, serta cara menentukan baik atau tidaknya instrumen penilaian.
 
7. Guru PK sebagai perencana, pelaksana dan penilaian program pelayanan pendidikan khusus.
Yang membedakan tugas pokok dan fungsi guru PK dengan guru pada umumnya adalah bahwa guru PK di samping mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik berkebutuhan khusus, juga dalam hal program pelayanan pendidikan khusus, atau program khusus. perencana, pelaksana dan penilaian program
Artinya seorang guru PK juga diharuskan untuk mampu :
1)      Merencanakan, melaksanakan dan menilai program orientasi mobilitas dan huruf braille
2)      Merencanakan, melaksanakan dan menilai program  Bina Persepsi bunyi dan irama serta SIBI
3)      Merencanakan, melaksanakan dan menilai program pembelajaran binadiri.
4)      Merencanakan, melaksanakan dan menilai program Bina Diri dan Bina Gerak
5)      Merencanakan, melaksanakan dan menilai program Bina Pribadi dan Sosial .
Ke depan, program khusus untuk ABK mungkin tidak hanya terbatas seperti di atas, karena berdasarkan kajian beberapa ahli, tentang hambatan dan kebutuhan ABK (Abdul Salim Choiri, 2011) adalah sbb:

Macam Hambatan Dan Kebutuhan Abk

No
Jenis ABK
Hambatan
Kebutuhan
1.
Anak tunanetra
(1)      Hambatan perkembangan mental
(2)      Hambatan pendidikan
(3)      Hambatan mobilitas
(4)      Hambatan motorik
(5)      Hambatan koordinasi gerak
(6)      Hambatan dalam kehidupan sosial
(7)      Hambatan dalam ADL
(8)      Hambatan vokasional
(Turnbull, 2004)
(1) Bimb.Sosial Psikologis
(2) Bimb. Orientasi mobilitas
(3) Bimb. Baca tulis braille
(4) Bimbingan ADL
(5) Bimb. vokasional


2.
Anak tunarungu dan tuna wicara
(1)          Gangguan persepsual
(2)          Gangguan komunikasi
(3)          Gangguan sosial
(4)          Gangguan emosi
(5)          Masalah pendidikan
(6)          Masalah vokasional (Bootthroyd, 1982; Heward & Orlansky, 1988)
(7)          Kemiskinan bahasa (Uden, 1977)
(1)        Bimb. Sosial psikologis
(2)        Bimb. Komunikasi
(3)        Bimb. wicara
(4)        Bimb. Vokasional


3.
Anak tuna grahita
(1)           hambatan perilaku adaptif / rendahnya kemandirian dan tanggung jawab sosial
(2)           Hambatan dalam penyelesaian tugas karena kemampuan intelektual di bawah rata–rata  secara signifikan
(3)           Hambatan dalam ADL
(Turnbull, 2004)
(1)          Bimb. ADL
(2)          Bimb. vokasional

4.
Anak tunadaksa
(1)       Kelainan fungsi mobilitas.
(2)       Hambatan dalam melakukan aktivitas hidup sehari-hari.
(3)       Kelainan fungsi sosial psikologis.
(4) Hambatan dalam aspek ekonomis produktif (Hallahan, 1988)
(1) Bimbingan psikologis
(2) Bimbingan ADL
(3) Bimbingan gerak mobilitas
(4) Bimbingan Vokasional
5.
Anak tunalaras;
(1)        Kekacauan tingkah laku,
(2)        Kecemasan dan menarik diri
(3)        Mudah terangsang emosinya/emosional/ mudah marah
(4)        Agresif, merusak, mengganggu
(5)        Sering bertindak melanggar norma social/norma susila/hukum.
(Debora J. Bell. Sharon L. Foster. Eric J. Mash. 2005)
(1) Bimb. Sosial
(2) Bimb.  psikologis
6.
Anak berkesulitan belajar;
(1)        Kesulitan belajar prakademik
(2)        Kesulitan belajar akademik
(Fujishima.T.1992; Polloway, 1993)

(1)        Bimb. Modifikasi perilaku belajar
(2)        Pembelajaran remedial

7.
Anak lamban belajar;
Kesulitan belajar pada semua mata pelajaran
Pembelajaran remedial
8.
Anak autis;
(1) gangguan interaksi sosial,
(2) gangguan komunikasi,
(3) perilaku terbatas dengan pola minat dan aktivitas berulang
(Batshaw M, 2000)
(1) Bimb. Sosial dan tingkahlaku
(2) Bimb. Komunikasi verbal dan non verbal
(3) Terapi psychopharmakologis
9.
Anak yang memiliki gangguan motorik;
(1)       Hambatan mobilisasi.
(2)       Hambatan komunikasi.
(3)       Hambatan fungsi mental.
(4)       Hambatan dalam ADL.
(5)       Hambatan sosialisasi.
(6)       Hambatan dalam pendidikan.
(7)       Hambatan produktifitas.
(Viola E. Cardwell. Tt; David Werner. 2002)
(1) Bimbingan psikologis
(2) Bimbingan ADL
(3) Bimbingan gerak mobilitas
(4) Bimbingan Vokasional
10
Cerdas Istimewa dan Bakat Istimewa
(1)       Underachievement
(Belinda Williams, 2003)

(1) Kurikulum diferensiasi, (Joyce V. T Baska, 2006)
(2) Modifikasi  pembelajaran (Jill Hearne, 2008)

D. Kesimpulan
Dari uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa tugas guru PK adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik berkebutuhan khusus pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah serta tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah. Di samping itu guru PK juga harus menguasai program khusus ABK. Beban kerja Guru untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, dan/atau melatih sebagaimana dimaksud  (1) paling sedikit 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dan paling banyak 40 (empat puluh) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu pada satu atau lebih satuan pendidikan yang memiliki izin pendirian dari pemerintah atau pemerintah daerah. 


DAFTAR PUSTAKA
Abdul Salim Choiri. 2011. Telaah Program  Khusus Dalam  Kurikulum Pendidikan  Luar Biasa. Makalah. Disampaikan Pada Kegiatan Kajian Standar Isi Dan Kurikulum Satuan Pendidikan Dan Mata Pelajaran Di Hotel Horison Bandung 18-21 Mei 2011
_______________, Munawir Yusuf. 2009. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Secara Inklusif. Surakarta: Yuma Pustaka.
_____________________________,Subagyo.2009.Pendidikan Kompensa_ toris Anak Berkebutuhan Khusus. Surakarta: Yuma Presindo.
Batshaw, M. 2000. When your child has a disability: The complete sourcebook of daily and medical care (rev. ed.). Baltimore: Paul Brookes.
Baedowi. 2007. Manajemen Sumberdaya Manusia. Semarang: Pelita Insani.

Belinda Williams. 2003. Closing the Achievement Gap: A Vision for Changing Beliefs & Practices. Alexandria: ASCD

Boobi DePottder, Mark Reardon, Sarah Singer Nourie. 2000. Quantum Teaching. Bandung: Kaifa.
David Werner. 2002. Anak-Anak Desa Yang Menyandang Cacat. Malang: Bakti Luhur.
Debora J. Bell. Sharon L. Foster. Eric J. Mash. 2005. Handbook of Behavioral and Emotional Problems. Kluwer Academic / Plenum Publishers. New York, Boston, Dordrecht, London, Moscow
Edward Sallis. 2010. Total Quality Management in Education.IRCiSoD
Fujishima.T. 1992. Handbook Of Care And Training For Developmental Disabilities. Tokyo: Japan League For The Mentally Retarded
Hallahan Danil P Kauffman James M. 1988. Exceptional Children, Introduction to Special Education. New Jersey: Prentice Hall International, Inc.
Joyce VanTassel-Baska. 2006. Comprehensive Curriculum for Gifted Learners, College of William and Mary . Publisher:  Merrill
Jill Hearne, 2008. Students Accelerated in Learning: A Gifted & Talented Model. Department of Instruction and advised
Muhammad Furqon Hidayatulloh, 2009. Guru Sejati: Membangun  Insan Berkarakter Kuat dan Cerdas. Surakarta: Yuma Pustaka.
___________________________. 2007. Mengantar Calon Pendidik Berka­rakter di Masa Depan. Surakarta: Sebelas Maret University Press.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2008 Tentang Standar Kualifikasi Akademik Dan Kompetensi Guru Pendidikan Khusus  
Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009Tentang Jabatan Fungsional Guru Dan Angka Kreditnya
Saiful Alam. 2009. Prof. Dr.Baedowi,Msi Dirjen PMPTK Depdiknas, Pergumulan dalam Meningkatkan mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (2007-2009). Jakarta: CV.Mahamedia Cipta Caraka.
Turnbull, Shank, & Smith. 2004. Exceptional Lives: Special Education In Today's Schools Publish Readings
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Uden, Van .1977, A World of Language for Deaf Children; Basic Principles A Maternal Reflective Method, Amsterdam & Lisse, Holland: Swetz & Zeitlinger
Viola E. Cardwell. T.t. Cerebral Palcy: Advances in Understanding and Care. New York: Association for the aid of Crippled.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda di sini

Blogroll