Rabu, 09 November 2011

PENGEMBANGAN KOMPETENSI KEPRIBADIAN DAN SOSIAL


Oleh Drs.R.Indianto, M.Pd

Kata profesi indentik dengan kata keahlian, demikian juga Jarwis(1993) mengartikan seseorang yang melakukan tugas profesi juga sebagai seorang yang ahli (expert). Pada sisi lain profesi mempunyai pengertian seseorang yang menekuni pekerjaan berdasar keahlian, teknik dan prosedur berlandaskan intelektualitas. Hal demikian dapat dibaca pula pendapat Volmer dan Mills (1986), McCully (1989), mereka sama-sama mengartikan profesi sebagai spesialisasi dari jabatan intelektual yang diperoleh melalui studi dan training, bertujuan menciptakan keterampilan, pekerjaan yang bernilai tinggi, sehingga keterampilan dan pekerjaan itu diminati, disenangi orang lain dan dia dapat melakukan pekerjaan itu dengan mendapat  imbalan berupa bayaran, upah dan gaji (payment).
Berbagai pengertian profesi diatas dapat menimbulkan makna, bahwa profesi yang disandang oleh tenaga kependidikan/ guru adalah sesuatu pekerjaan yang membutuhkan pengetahuan, keterampilan, kemampuan, keahlian dan ketelatenan untuk menciptakan anak memiliki perilaku sesuai yang diharapkan.
Pengertian profesi guru di atas dilihat dari usaha keras dan keahlian yang dimilikinya, mereka wajar mendapatkan kompensasi yang adil berupa gaji dan tunjangan yang besar dan fasilitas yang memadai dibanding pegawai struktural, manakala dilihat dari berat ringan pekerjaan. Tugas guru sebagai pembimbing, pelatih, dan pengajar yang merupakan pekerjaan berat, mereka memeras otak, mental dan fisik untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Demikian juga mereka diberi kesempatan sebanyak mungkin mengembangkan diri dan jabatan, seperti mengikuti kursus, pelatihan, penataran, melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi dan biayanya dibantu oleh Negara, lalu diberi kesempatan menduduki jabatan apapun di Negara ini sesuai keahlian yang dimilikinya, dalam arti kata profesi guru sama kedudukannya dengan profesi lainnya.

A.  PROFESIONALISASI GURU
Membicarakan profesi, pengertian profesi dan problema internalnya, maka disini kita bahas konsep profesinalisasi, professional dilihat dari criteria yang dikemukakan para ahli mempermudahkan kita memahami dan mengetahui kaidah-kaidah profesi, secara konsep  profesinal memiliki aturan-aturan dan teori, teori untuk dilaksanakan dalam praktek dan unjuk kerja, tori dan prektek merupakan perpaduan yang tidak dapat dipisahkan. Keterampilan dalam pekerjaan profesi sangat didukung oleh teori yang telah dipelajarinya. Jadi, seseorang profesianal dituntut banyak belajar, membaca dan mendalami teori tentang profesi yang digelutinya. Suatu profesi bukanlah suatu yang permanen, ia akan mengalami perubahan dan mengikuti perkembangan kebutuhan manusia, karena itu penelitian terhadap suatu tugas profesi dianjurkan, di dalam keguruan dikenal dengan penelitian action research. Penggunaan metode ilmiah ini menurut Sutisna (1989:361) memperkuat unsur rasionalitas yang menggalakkan sikap kritis terhadap teori. Penerapan lapangan tidak akan memcapai hasil maksimal bila dilakukan dengan meraba-raba, mencoba-coba. Tapi suatu penerapan harus memiliki pedoman teoritis yang teruji kevalidannya. Di sinilah letak perbedaan pekerjaan professional dan non professional. Professional mengandalkan teori. praktek, dan pengalaman, sedang non-profesional hanya berdasarkan praktek dan pengalaman.
Secara konseptual, unjuk kerja guru menurut depdikbud dan Johson (1980) dalam ( Sanusi, 1991:36) mencakup 3 aspek yaitu: (a) kemampuan professional, (b) kemampuan sosial, (c) kemampuan personal (pribadi). Kemudian ketiga aspek ini dijabarkan menjadi :
a.         Kemampuan professional mencakup :
1)      Penguasaan materi pelajaran yang terdiri atas penguasaan bahan yang harus diajarkan, dan konsep-konsep dasar keilmuan dari bahan yang diajarkan itu.
2)      Penguasaan dan pengahayatan atas landasan dan wawasan kependidikan dan keguruan.
3)      Pengasaan proses proses kependidikan, keguruan dan pembelajaran siswa.
b.        Kemampuan sosial mencakup kemampuan untuk menyesuaikan diri kepada tuntutan kerja dan lingkuan sekitar pada waktu membawa tugasnya sebagai guru.
c.         Kemampuan personal (pribadi) mencakup :
1)      Penampilan sosial yang positif terhdap keseluruhan tugasnya sebagai guru, dan terhadap keseluruhan situasi pendidikan beserta unsur-unsurnya.
2)      Pemahaman, penghayatan, dan penampilan nilai-nilai yang seyogyanya dianut oleh guru.
3)      Penampilan upaya untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan teladan bagi para siswanya.

B.  SYARAT GURU PROFESIONAL
Menjadi guru bukanlah pekerjaan yang gampang, seperti yang dibayangkan sebagian orang, dengan bermodal penguasaan materi dan menyampaikannya kepada siswa sudah cukup, hal ini belumlah dapat dikategorikan sebagai guru yang memiliki pekerjaan professional, karena guru yang professional, mereka harus memiliki berbagai keterampilan, kemampuan khusus, mencintai pekerjaannya, menjaga kode etik guru, dan sebagainya.
Demikian pula dengan guru professional, dia memiliki keahlian, keterampilan dan kemampuan sebagaiman filosofi ki Hajar Dewantara : “tut wuri handayani, ing ngarso sung tuladha, ing madyo mangun karso”. Tidak cukup dengan menguasai materi pelajaran, akan tetapi mengayomi murid, menjadi contoh / teladan bagi murid serta selalu memberi dorongan murid untuk lebih baik dan maju. Guru professional selalu mengembangkan dirinya terhadap pengetahuan dan mendalami keahliannya, kemudian guru professional rajin membaca literature-literatur, dengan tidak merasa rugi membeli buku-buku yang berkaitan dengan pengetahuan yang digelutinya.
Seperti yang dikemukakan Oemar Hamalik dalam bukunya Proses Belajar Mengajar (2001:118), guru professional harus memiliki persyaratan, yang meliputi :
1.      Memiliki bakat sebagai guru
2.      Memiliki keahlian sebagai guru
3.      Memiliki keahlian yang baik dan terintregasi
4.      Memiliki mental yang sehat
5.      Berbadan sehat
6.      Memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas.
7.      Guru adalah manusia berjiwa Pancsila.
8.      Guru adalah seorang warga Negara yang baik.

C.  GURU PROFESIONAL SEBAGAI KOMUNIKATOR DAN FASILITATOR
Dilihat dari peran guru di dalam kelas, mereka berperan sebgai seorang komunikator, mengkomunikasikan materi pelajaran dalam bentuk verbal dan non verbal. Pesan yang akan disampaikan kepada komunikan berupa buku teks, catatan, lisan, cerita dan sebagainya, pesan itu dikemas sedemikian rupa sehingga mudah dipahami, dimengerti, dipelajari, dicerna, dan diaplikasi para  siswa.
Pesan dalam bentuk verbal tersebut dirancang untuk disajikan dalam beberapa kali pertemuan, dan diterapkan sesuai dengan standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, media, dan dalam alokasi waktu yang sesuai dengan beban dan muatan materi.
Komunikasi materi pelajaran tidak terbatas di dalam kelas semata tetapi dirancang untuk luar kelas, berupa tugas yang terkontrol dan terukur, baik materi teoritis dan praktis, sehingga materi pelajaran yang disajikan lebih komunikatif. Di dalam kelas guru menjelaskan, siswa bertanya menyimak, sebaliknya guru mendapat informasi dari siswa-siswanya, dan menjawab pertanyaan siswa serta mencari solusi-solusi bersama, kedua belah pihak (komunikator, komunikan) aktif dan peran yang lebih dominan terletak pada siswa/ siswa yang lebih aktif. Pada akhir dari penyajian materi, guru melakukan evaluasi untuk mengukur kemampuan siswa terhadap materi yang telah dikomunikasikan.
Komunikasi pembeljaran dan komunikasi umum memiliki perbedaan dalam aspek tujuan; komunikasi pembelajaran mempunyai tujuan yang lebih spesifik / khusus. Kekhususan inilah yang dalam proses komunikasi melahirkan istila-istilah khusus seperti : penerangan, proganda, indoktrinisasi, agitasi dan pendidikan. Komunikasi umum tujuan bersifat umum dan tidak teratur. Komunikasi pembelajaran dapat dilakukan dalam komunikasi interpersonal dan komunikasi kelompok kecil. Komunikasi interpersonal dilakukan secara berhadapan muka (face to face) dan sejumlah partisipan, tidak terdapat kesatuan pendapat para ahli tentang hal itu, yang prinsip adanya interaksi, komunikator dan komunikan dapat berpartisipasi, dpat melihat, mendengar, tertawa, meraba satu sama lain, maka disini pesan non verbal berupa perilaku mempunyai pengaruh yang amat penting, dan secara langsung dapat member umpan balik, baik sengaja/tidak. Umpan balik yang didapat dalam komunikasi interpersonal, pesanpun tidak perlu disusun secara seksama dulu. Isi komunikasi bersifat spontan, interupsi dapat dilakukan setiap saat. Jadi pesan dari materi pelajaran yang telah dirancang sedemikian rupa mendapat pengayaan secara tidak sengaja dari sifat komunikasi interpersonal, proses pembelajaran lebih rileks, nyaman, dan menyenangkan.
Komunikasi kelompok kecil berbeda dengan komunikasi interpersonal, dimana komunikasi interpersonal tidak ada kesatuan mengenai berapa jumlah individu yang ikut berpartisipasi, sedang komunikasi kelompok kecil diikuti oleh peserta 5-7 orang, komunikasi kelompok kecil secara psikologis lebih rumit, kerumitannya terletak pada hubungan komunikasi, tatkala seseorang melakukan / mengarahkan komunikasi pada lawan bicara, yang lain terabaikan. Jika komunikasi terjadi satu dengan satu orang lain berarti komunikasi tersebut menciptakan satu hubungn, sementara kelompok kecil yang terdiri dari 3 orang, maka komunikasi itu akan menciptakan 6 kemungkinan hubungan anatar individu: a-b, a-c, b-c, ab-c, ac-b, bc-a. jika ditambah 1 orang lagi, akan terdapat 25 kemungkinan hubungan seperti itu, maka komunikasi kelompok kecil dibutuhkan seorang pimpinan untuk mengatasi kebekuan, keruwetan hubungan secara psikologis untuk berkomunikasi, berarti dalam komunikasi pembelajaran, guru bertindak sebagai pimpinan yang akan mengatur arus komunikasi
Trenholm (1996:17) membedakan jenis komunikasi kedalam 5 jenis komunikasi : interpersonal, kelompok kecil, organisasi, public dan massa.
kriteria situasi
Interpersonal organisasi komunikasi massa
ßkelompok kecil Publik à
Kriteria situasi
Sedikit
Dekat
Segera
Informal
Spesifik
Tak terstruktur
ßjumlah person à
ß jarak interaksi à
ß keadaan umpan balik à
ßperan komunikator à
ß adaptasi dari tujuan à
ß tujuan à
Banyak
Jauh
Tertunda
Formal
Umum
terstruktur

Karakteristik Interaksi

Kelompok kecil memiliki sifat-sifat yang sama, sedang komunikasi massa dan public juga memiliki sifat-sifat yang sama sementara komunikasi organisasi dapat memiliki kedua sifat-sifat itu, bila komunikasi organisasi jumlah orangnya sedikit seperti komunikasi kelompok kecil ia memiliki sifat-sifat seperti komunikasi kelompok kecil dan interpersonal, dan sebaliknya bila jumlah orangnya banyak maka sifat-sifatnya sama dengan komunikasi massa dan public. Komunikasi organisasi bersifat situasional karena bergantung dengan kondisi besar kecil komunikasi organisasi itu.
Guru sebagai fasilitator memiliki peran memfasilitasi siswa–siswa untuk belajar secara maksimal dengan menggunakan berbagai strategi, metode, media dan sumber belajar. Dalam proses pembelajaran siswa sebagai titik sentral belajar, siswa yang lebih aktif mencari dan memecah permasalahan belajar, dan guru membantu kesulitan-kesulitan siswa yang mendapat kendala, kesulitan dlam memahami dan memecahkan masalah. Belajar dapat saja dilakukan di dalam dan luar kelas, belajar diluar kelas tidak kalah pentingnya dengan belajar di dalam kelas, guru dapat membaw siswa ke kebun binatang, ke hutan dalam pelajaran Biologi untuk mengetahui jenis tumbuhan, jenis binatang dan sebagainya. Demikian juga guru memberi tugas kepada siswaa belajar melalui media dan sumber belajar, mencari jawaban dari soal/ memecah permasalahan yang diberikan oleh guru dengan menggunakan buku-buku, kamus yang banyak ada di perpustakaan, serta siswa di anjurkan mendengar siaran radio dan mencatat isi berita yang dia dengarkan. Belajar yang seperti ini akan lebih bermakna bagi siswa, Ausubel (1969). Siswa dapat mengkaitkan informasi dan menghubungkan teori yang diterima di dalam kelas dengan kenyataan lapangan.
Berikut ini dapat dilihat perbedaan bentuk-bentuk belajar  menurut Ausubel (dalam Dahar, 1989:112)
BELAJAR BERMAKNA
Menjelaskan hubungan antara konsep-konsep
Pengajaran
audio-tutorial
yang baik
Penelitian ilmiah

Penyajian melalui ceramah/ buku pelajaran
Kegiatan di laboratorium sekolah
Sebagian besar penelitian rutin/ produksi intelektual
BELAJAR HAFALAN
Daftar perkalian
Menerapkan rumus-rumus untuk memecahkan masalah
Pemecahan dengan coba-coba

BELAJAR PENERIMAAN
BELAJAR
PENEMUAN
TERPIMPIN
BELAJAR
PENEMUAN
MANDIRI


D.    KRITERIA PROFESIONALITAS GURU
Menurut para ahli kata “professional” memiliki beragam definisi, definisi pertama mengatakan “professional” khusus dalam bidang olahraga dan seni, ada kata “pemain bayaran” dan ada pula “pemain amatir”. Jadi pemain bayaran digunakan untuk “professional”, orang-orang yang melakukan kegiatan ini mendapat upah/bayaran. Disamping itu juga dikenal pemain “amatir”,  yaitu orang-orang yang melakukan kegiatan ini hanya untuk kesenangan saja, bukan mencari uang.
Definisi lain, menurut sosiolog, memiliki konotasi simbolik berisi nilai. “Profesi” ialah istilah yang merupakan model bagi konsepsi pekerjaan yang diinginkan, dicita-citakan. Istilah idiologis ini dipakai sebagai kerangka acuan bagi usaha suatu pekerjaan dalam meningkatkan statussnya, ganjaran, dan kondisi pekerjaannya. Good’s Dictionary of Education mendefinisikan sebagai “suatu pekerjaan yang meminta persiapan spesialisasi yang relative lama di perguruan tinggi dan dikuasai oleh suatu kode etik yang khusus”.
Vollmer melihat dari sudut pandang sosiologi, bahwa profesi menunjukkan kepada kelompok pekerjaan dari jenis yang ideal, yang sebenarnya tidak ada dalam kenyataan tapi menyediakan suatu model status pekerjaan yang bisa diperoleh bila pekerjaan itu telah mencapai profesionalisasi yang penuh. Dengan kata lain,  istilah profesi menunjuk kepada suatu model yang abstrak dari sekelompok pekerjaan yang telah mencapai status profesi penuh, sedang istilah profesionalisasi menunjuk kepada proses dimana kelompok pekerjaan sedang mengubah sifat-sifatnya yang esensial mendekati model profesi yang sungguh.

E.     KRITERIA PROFESI
Menurut Glenn Langford, kriteria profesi mencakup; (1) upah, (2) memiliki pengetahuan dan keterampilan, (3) memiliki rasa tanggung jawab dan tujuan , (4) mengutamakan layanan, (5) memiliki kesatuan, (6) mendapat pengakuan dari orang lain atas pekerjaan yang digelutinya. Criteria ini akan menjadi pembahasan berikut ini, masing-masing criteria diatas saling terkait antara satu dengan yang lainnya, rusak/ hilang salah satu criteria maka suatu pekerjaan tidak dapat dikategorikan professional. Selanjutnya penulis mencoba mengkaitkan pekerjaan guru dengan criteria diatas, apakah sudah termasuk professional? Atau sebatas jargon? Beberapa ahli berpendapat bahwa pekerjaan guru adalah sebuah profesi, akan tetapi masih ada sebagian pakar mempertanyakan profesi guru sebagai jargon, sebab pekerjaan guru sering dilihat dari sebelah mata dan dinina-bobokan dengan pangkat guru pahlawan tanpa tanda jasa, tanpa menghiraukan problema yang dihadapi guru, yaitu meningkatkan kualitas,kesejahteraan dan diskriminasi guru.
Moore mengidentifikasikan profesi menurut ciri-ciri berikut :
1.      Seseorang professional menggunakan waktu penuh untuk menjalankan pekerjaannya.
2.      Ia terikat oleh panggilan hidup, dan dalam hal ini memperlakukan pekerjaannya sebagai seperangkat norma kepatuhan dan perilaku.
3.      Ia anggota organisasi professional yang formal.
4.      Ia menguasai pengetahuan yang berguna dan keterampilan atas dasar pelatihan spesialisasi/ pendidikan yang sangat khusus.
5.      Ia terikat dengan syarat-syarat kompetensi, kesadaran prestasi, dan pengabdian.
6.      Ia memperoleh otonomi berdasarkan spesialisasi teknis yang tinggi sekali.
Greenwood (dalam Vollmer, 1986:19) menyarankan bahwa profesi-profesi dibedakan dari non profesi karena memiliki unsur yang essensial berikut ini :
1.      Suatu dasar teori sistematis
2.      Kewenangan (authority) yang diakui oleh klien
3.      Sanksi dan pengakuan masyarakat atas kewenangan ini.
4.      Kode etik yang mengatur hubungan-hubungan dari orang-orang professional dengan klien dan teman sejawat, dan
5.      Kebudayaan profesi yang terdiri dari nilai-nilai, norma-norma dan lambang-lambang.
Komisi kebijaksanaan NEA Amerika Serikat, menyebutkan criteria profesi dalam bidang pendidikan, sebagai berikut :
1.      Profesi didasarkan atas sejumlah pengetahuan yang dikhususkan.
2.      Profesi mengejar kemajuan dalam kemampuan para anggotanya.
3.      Profesi melayani kebutuhan para anggotanya (akan kesejahteraan dan pertumbuhan professional).
4.      Profesi memiliki norma-norma etis.
5.      Profesi mempengaruhi kebijaksanaan pemerintah di bidangnya (mengenai perubahan-perubahan dalam kurikulum, struktur organisasi pendidikan, persiapan professional,
6.      Profesi memiliki solidaritas kelompok profesi.
Formulasi-formulasi tentang criteria profesi tersebut di atas, walaupun dalam kata-kata yang berbeda, pada hakekatnya memperlihatkan persamaan yang besar dalam substansinya. Kiranya pembahasan berikut ini lebih cenderung mengupas criteria Glenn Langford.
Upah dalam criteria Glenn Langford menempati urutan pertama, karena menurut penulis ia merupakan sesuatu yang paling utama, dengan upah seseorang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan kebuutuhan primer. Kebutuhan primer manusia seperti makan, minum dan perumahan terabaikan akan bisa membuat manusia tidak konsentrasi, serius dalam menunaikan pekerjaannya. Upah yang seimbang akan mampu memberi motivasi seseorang untuk bekerja maksimal, di samping itu manakala upah terabaikan dalam suatu organisasi sering terjadi gejolak dan kelesuan kerja. Seseorang bekerja dengan prestasi tinggi harus diimbangi dengan penghargaan yang tinggi pula, yaitu berupa upah yang layak. Demikian pula pekerjaan yang beresiko tinggi, diimbangi pula dengan upah yang tinggi, hal yang demikian sesuatu yang adil dalam pandangan professional.
Penggunaan istilah “professional” menunjukkan suatu pekerjaan pelayanan jasa kepada masyarakat, layanan jasa ini diberikan kepada seseorang yang membutuhkan, seperti dokter, pengacara, guru, olahragawan, apoteker, akuntan, hakim, pengarang, dsb. Penyedia jasa akan menjualkan jasa kepada masyarakat, dengan mendapat imbalan/ upah yang telah ditentukan oleh penjual jasa/ kesepakatan kedua belah pihak. Olahragawan professional menjual jasa olahraganya kepada orang dalam bentuk pertandingan antar sesame olahragawan professional, dalam olahraga dikenal olahragawan professional dan amatir, akan tetapi di dalam profesi dokter, pengacara guru dll tidak dikenal istilah amatir. Dokter menjual jasa kesehatan, pengacara menjual jasa bantuan dan perlindungan hokum, dan guru menjual jasa bimbingan, pengajaran dan latihan. Profesi seseorang akan mendapatkan upah yang didasari oleh keahlian, antara satu dokter dengan dokter yang lain manakala dokter yang lain memiliki prestasi, keahlian dan spesialisasi lebih, demikian juga guru akan mendapat imbalan berupa gaji dan tunjangan fungsional yang berbeda, sperti; dokter berpangkat guru besar akan berbeda imbalan diterimanya disbanding dengan dosen berpangkat lector.
Guru sebagai pendidik adalah tenaga professional sebagimana dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003, bab XI pasal 39 ayat 2 bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan bimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Sesungguhnya tepatlah apa yang pernah disampaikan oleh Colleti (1987:22) bahwa pekerjaan dosen, guru dan instruktur adalah pekerjaan profesi yang dilaksanakan secara professional.
Sebagaimana yang telah diutarakan di atas bahwa guru adalah tenaga professional, dengan tugas yang sangat berbeda dengan karyawan kantor. Guru bertugas mengajar, membimbing, dan melatih siswa-siswa dengan penuh perhatian khusus serta terikat dengan kode etik dan kontrak kerja. Seorang guru bertugas memberi pembelajaran terhadap siswa-siswa dengan memberi pembelajaran yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis dan dialogis. Semua pelayanan yang diberikan itu menunjukkan layanan jasa dan mereka berhak atas pekerjaan itu pembayaran berupa imbalan/ upah.

F.      MEMILIKI PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN
Besar dan kecilnya upah yang diterima oleh seorang professional sangat terkait sekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. Pekerja professional dapat saja menerima tawaran upah dengan berbagai alasan dan pertimbangan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tapi bagi tenaga professional yang memiliki pengetahuan dan keterampilan tinggi akan menawarkan jasanya dengan upah yang tinggi, semakin mahir dan terampil seseorang semakin tinggi pula tawaran upahnya, demikian pula sebaliknya tenaga professional dengan pengetahuan dan keterampilan rendah tidak  mungkin akan menjualkan jasanya dengan harga tinggi, manakala ditawarkan dengan tawaran tinggi dia akan tidak mendpat konsumen, karena itu dia harus menawarkan dengan upah yang seimbang.Pengetahuan dan keterampilan diperlukan dalam pekerjaan professional. Pekerjaan professional harus mampu melakukan sesuatu pekerjaan dengan berbagai macam kiat dan pendekatan untuk mewujudkan suatu hasil, dan pekerjaan professional selalu dibutuhkan sepankang hidup manusia, seperti tenaga pemdidikan, mengabdikan dirinya untuk mencerdaskan kehidupan manusia, manusia bertambah, berkembang dan dunia ilmu pengetahuan semakin maju, maka semakin banyak tenaga kependidikan dibutuhkan, terutama yang berkaitan dengan keahlian spesifik, tenaga professional selalu menambah pengetahuan dan keterampilan untuk mengantisipasi perubahan-perubahan, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dari suatu masa ke masa.
Pengetahuan dan keterampilan diperlukan dalam suatu profesi, oleh karena itu pengetahuan teoritis sudah dibekali semenjak dari awal jenjang pendidikan program professional, dan pelatihan keterampilan untuk menunjang pengetahun secara aplikatif. Seseorang yang masih belum memiliki pengetahuan professional, maka ia harus menambah pendidikan ke jenjang pendidikan professional, contoh : seorang guru yang sudah mengejar di lembaga pendidikan tertentu akan tetapi dia lulusan non-kependidikan, maka dia diharuskan mendapat akta IV sebagaimana Keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 034/U/ 2003, pasal 8 butir d yang berbunyi sebagai berikut :”Untuk guru SLTP adalah lulusan S1 Kependidikan / S1 non-kependidikan yang mempunyai akta IV dan apabila sangat diperlukan dapat menerina lulusan D3 kependidikan/ D3 non kependidikan, yang mempunyai akta III atau D2 atau akta II mata pelajaran / sederajat”. Demikian juga butir c berbunyi “ untuk guru SMU an guru SMK adalah lulusan S1 kependidikan / S1 non kependidikan yang mempunyai akta IV. Dengan kecakapan yang dimiliki professional masyarakat tidak akan merasa kecewa dan rugi mengeluarkan/ menghabiskan uangnya dengan imbalan jasa yang diterima. Menurut Suparman, lulusan dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan yang baik sebenarnya berkualitas. Permasalahannya kualitas mereka menurun begitu terjun ke dunia nyata pendidikan disebabkan oleh 3 permasalahan. Pertama, adalah peningkatan kualitas guru, guru perlu diberi support dan kebebasan mengembangkan pendidikan setinggi-tingginya, bahkan bagi guru sekolah dasar sekalipun. Pemerintah perlu membuka kesempatan dengan memberikan beasiswa bagi guru, selain itu penataran, seminar dan kegiatan lain guna peningkatan kualitas jangan lagi berorientasi proyek sehingga tidak bermanfaat.
Permasalahan kedua adalah peningkatan kesejahteraan sosial guru masih banyak kita menemukan gaji guru dibwah upah standar, terutama guru swasta dan guru honorer. Sementara kita mengharapkan jaminan mutu yang baik, sulit rasanya bagi guru untuk konsentrasi dengan upah yang tidak seimbang.
Permasalah ketiga adalah menghapus diskriminasi status guru yang saat ini beragam, mulai dari pegawai negeri sipil, pegawai honorer dari pusat, provinsi, kabupaten dan swasta. Bahkan masih ada guru sukarela. Mereka melakukan tugas yang sama namun imbalan dan statusnya berbeda. (Kompas, 20 November 2004).
Pengetahuan dam keterampilan bagi seorang guru suatu hal yang mutlak, guru sebagi seorang komunikator menurut David K. Berloo (1990) dalam bukunya “The Procces of Communication” harus memiliki syarat, yaitu : terampil berkomunikasi, sikap, pengetahuan dan system sosial budaya. Di samping itu guru senantiasa mengembangkan diri dengan pengetahuan yang mendukung profesionalitasnya dengan ilmu pendidikan, menguasai secara penuh materi yang diajar serta selalu mengembangkan model pembelajaran, adapun beberapa model pembelajaran:
1.      Tahap Pertama, definisi masalah dan organisasi yang meliputi 3 langkah kegiatan.
a.       Identifikasi masalah
Identifikasi masalah merupakan proses membandingkan keadaan sekarang dengan keadaan yang seharusnya. Hasilnya akan menunjukkan kesenjangan antara kedua keadaan tersebut. Kesenjangan itu disebut suatu kebutuhan. Bila kedua kesenjangan itu besar, kebutuhan itu perlu diperhatikan/ diselesaikan. Kebutuhan yang besar dan ditetapkan untuk diatasi itu disebut masalah, sedang kebutuhan yang kecil mungkin untuk sementara diabaikan. Ia merupakan kebutuhan yang dianggap tidak masalah. Hasil akhir dari identifikasi masalah adalah tujuan umum.
Berikut ini adalah 5 model yang berbeda-beda, tapi maksudnya sama. Perbandingkanlah kelima model dibawah ini :
MODEL
KEGIATAN
Teaching Research system
Michigan state university Instructional system Development model
SAFE













Project MINERVA


Banathy
Mengedentifikasi masalah instruksional
Menentukan tujuan pendidikan umum ; Perguruan tinggi, Fakultas, Jurusan, Program Studi
1.      Menilai kebutuhan
2.      Menentukan tujuan misi
3.      Menentukan persyaratan; penampilan (performance) misi
4.      Menentukan hambatan
5.      Menentukan profesi misi
6.      Melakukan analisis fungsional
7.      Melakukan analisis tugas
8.      Melakukan analisis metode dan alat.
9.      Membuat keputusan kelayakan final ( terus dan berhenti)
Mengumpulkan data pekerjaan
Maksud system.

b.      Analisis setting
Analisis setting meliputi kegiatan menentukan karakteristik siswa dan sumber belajar yang tersedia untuk digunakan dalam pemecahan masalah.
MODEL
KEGIATAN
Teaching Research system




Michigan state university Instructional system Development model

SAFE


Project MINERVA

Banathy
1.      Mengidentifikasi populasi siswa
2.      Mengumpulkan bahan pelajaran yang relevan
3.      Menganalisis contex instructional
Mengumpulkan data masukan


Mengidentifikasi strategi alternative pemecahan masalah
Mengidentifikasi keperluan trainning
1.      Menilai kompetensi masukan
2.      Tes masukan

c.       Organisasi pengelola
       Organisasi pengelola meliputi :
1.      Pendefinisian tugas dan tanggung jawab yang diperlukan;
2.      Pembentukan jaringan berkomunikasi untuk mengorganisasikan pengumpulan dan pendistribusian informasi kepada tim pengembangan
3.      Pembentukan rencana proyek dan prosedur control.
Dalam hal ini perlu dibentuk organisasi formal untuk membagi tugas dan tanggung jawab setiap tim dengan agar kegiatan pengembangan pembelajaran terhindar dari hambatan / kegagalan.
MODEL
KEGIATAN
Teaching Research system



Michigan state university Instructional system Development model
SAFE


Project MINERVA
Banathy
1.      Menentukan dan memilih staf pendukung
2.      Menentukan pengontrol, pengelolaan.
Tidak ada


Mendesain pengelolaan/ rencana pelaksanaan setiap alternatif
Tidak ada
Tidak ada
2.      Tahap kedua, analisis , dan pengembangan system
Hasil kegiatan tahap pertama, yaitu Definisi Masalah dan Organisasi memberikan arah kepada tim / pengembangan pembelajaran untuk memulai pembelajaran tahap kedua, yaitu tahap Analisis dan Pengembangan Sistem. Tahap ini meliputi 3 langkah : identifikasi tujuan, penentuan metode, dan pembuatan  prototype.
a.       Identifikasi tujuan
Tujuan merupakan sasaran yang harus dicapai oleh siswa dalam proses pembelajaran. Tujuan itu harus bermanfaat bagi siswa. Ia merupakan bentuk perilaku yang diukur. Tujuan ini diuraikan menjadi tujuan khusus daalam istilah kompetensi disebut indicator, sebagaimana dalam buku saya Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi ( 2003;128), standar kompetensi dijabarkan menjadi 3-6 kompetensi dasar, kompetensi dasar harus dijabarkan menjadi 2-5 indikator, dan indicator harus dapat melahirkan 3-5 soal. Tujuan yang sudah dirancang itu menjadi dasar untuk memilih isi pelajaran untuk disampaikan kepada siswa.
Berikut ini 5 metode dapat kita lihat. Kemudian kita bandingkan antara 1 dengan yang lain model-model tersebut.
MODEL
KEGIATAN
Teaching Research system




Michigan state university Instructional system Development model

SAFE

Project MINERVA

Banathy
1.      Mengidentifikasi tujuan perilaku ( behavior objective)
2.      Menentukan tujuan-tujuan khusus
Menentukan secara spesifik perilaku awal dan akhir

Menentukan tujuan misi

Merumuskan tujuan penampilan
Spesifikasi tujuan
Dalam model-model ini terdapat perbedaan kata tujuan, sperti :
Kata tujuan yang menunjukan perilaku (behavior objective), tujuan penampilan (performance objective). Tujuan (objective) dalam pengertian yang sama.
b.      Penentuan metode
Metode dan media pembelajaran yang akan dipergunakan guru sangat menentukan tercapainya tujuan pembelajaran. Meskipun demikian akurasi metode menentukan, tapi antara satu metode dengan lainnya memiliki kelebihan dan kelemahan, sehingga perlu kolaborasi metode dalam menyampaikan materi pelajaran kepada siswa.
Berikut ini kita dapat melihat berbagai istilah metode dan media pembelajaran yang dipergunakan ahli , bahkan ada ahli yang menggantikan kedua kata metode dan media dengan strategi pembelajaran, sbb:
MODEL
KEGIATAN
Teaching Research System








Michigan state university Instructional system Development model




SAFE







Project MINERVA


Banathy
1.      Mengidentifikasi tipe belajar
2.      Menentukan kondisi belajar
3.      Menentukan penyesuaian terhadap perbedaan individual
4.      Mengidentifikasi bentuk kegiatan pembelajaran
1.   Merencanakan strategi
2.   Mengembangkan contoh pengajaran untuk isi pelajaran tertentu
3.   Memilih bentuk informasi yang representative
4.   Menentukan alat transmisi
1.        Memilih rencana pengelolaan dan pelaksanaan yang mempunyai keefektifan biaya optimal
2.        Menganalisis alternative dari segi keefektifan dan keuntungan biaya yang paling optimal
1.      Memilih isi mata pelajaran
2.      Memilih strategi pembelajaran
1.      Menemukan tugas-tugas belajar
2.      Mengidentifikasi dan karakterisasi tugas-tugas belajar yang actual
3.      Menganalisis fungsi
4.      Menganalisis komponen
5.      Pendistribusian
6.      penjadwalan


c.       Pembuatan prototype
pembuatan prototype merupakan permulaan produksi untuk menghasilkan barang yang sesungguhnya, disamping itu; pada kesempatan ini pula dimulai pengembangan desain evaluasi untuk mengukur perilaku siswa baik sebelum maupun setelah uji coba nanti.
Kegiatan tersebut dapat dilihat dalam model berikut :
MODEL
KEGIATAN
Teaching Research system







Michigan state university Instructional system Development model






SAFE
Project MINERVA


Banathy
1.      mengembangkan prototype pembelajaran
2.      menyusun alat pengukur penampilan
3.      menyusun alat penampilan khusus
4.      review teknis dan komunikasi
1.      mengumpulkan, mendesain, memproduksi media yang telah ditentukan
2.      mengembangkan rasional untuk tes awal dan akhir
3.      mengembangkan instrument evaluasi dengan informasi tentang siswa dan media
tidak ada
1.      memproduksi bahan pembelajaran
2.      menyusun tes penampilan
tes acuan patokan
3.      Tahap Ketiga, evaluasi yang meliputi 3 langkah sebagai berikut :
Tahap akhir dari proses pembelajaran adalah evaluasi. Hasilnya akan menjadi dasar pengambilan keputusan tentang 2 hal, yaitu : seberapa baik prototype pembelajaran dalam mencapai tujuan, dan sisi mana yang masih lemah, sehingga perlu direvisi dan bagaimana merevisinya?
Tahap evaluasi meliputi 3 langkah :
a.       Uji coba prototype pembelajaran
Uji coba prototype mengambil bentuk-bentuk dibawah ini :
1)      Uji coba pengembangan untuk melihat komponen yang perlu direvisi
2)      Uji coba validasi untuk melihat sebrapa jauh siswa mencapai tujuan pembelajaran.
3)      Uji coba lapangan untuk menentukan apakah pengajar dan siswa dapat menggunakan bahan-bahan tersebut,
MODEL
KEGIATAN
Teaching Research system


Michigan state university Instructional system Development model
SAFE







Project MINERVA



Banathy
1.      Uji coba prototype
2.      Menyelenggarakan tes penampilan
Tes lapangan dengan kelompok siswa

1.      Menyusun rencana validasi/ tes lapangan (metode/ alat/media) seperti diperlukan
2.      Implementasi/ pemantau pengelolaan dan rencana pelaksanaan.
3.      Mengevaluasi penampilan
1.      Melaksanakan kegiatan pembelajaran
2.      Melaksanakan (dan menganalisis tes)
1.      Latihan system
2.      Tes sistem

b.      Analisis hasil
Analisis hasil melibatkan 3 jenis kegiatan, yaitu : pertama, tabulasi dan memproses data evaluasi. Kedua, menentukan antara metode yang digunakan, hasil yang dicapai, dan tujuan yang ingin dicapai. Ketiga, menafsirkan data. Kualitas revisi yang akan dibuat tergantung kepada interpretasi ini.
Kelima model yang dibandingkan akan tampak perbedaannya dalam table berikut :
MODEL
KEGIATAN
Teaching Research system

Michigan state university Instructional system Development model

SAFE

Project MINERVA

Banathy
1.      Menganalis hasil uji coba
2.      Menganalisi hasil tes
Tidak spesifik



Evaluasi penampilan (proses dan produk)
Mengevaluasi kegiatan pembelajaran
mengevaluasi
c.       Implementasi (Uji Coba Ulang)
Berdasarkan interpretasi data hasil uji coba revisi dilakukan dari revisi kecil sampai revisi total. Akhirnya, keputusan harus diambil untuk mengakhiri uji coba ulang dan kemudian mengimplementasikan.
Berikut ini beragam istilah yang dapat dijumpai dalam model berikut :
MODEL
KEGIATAN
Teaching Research system

Michigan state university Instructional system Development model



SAFE

Project MINERVA

Banathy
Memodifikasi system pembelajaran
1.      Mengidentifikasi letak dan mengoreksi kelemahan
2.      Mengevaluasi dan mengulang kembali untuk memperbaiki sebagaimana diperlukan.
Merevisi untuk mencapai prestasi yang diinginkan
(tertuang dalam bentuk garis umpan balik)
Mengubah untuk memperbaiki
Pengettahuan dan keterampilan dalam pengembangan model pemebelajaran dapat memacu prestasi guru dan meningkatkan kualitas pembelajaran serta prestasi siswa. Model-model ini dapat kita bandingkan antara 1 dengan yang lainnya, dan kita dapat memilih model yang sesuai dengan pembelajaran yang dilakukan.
Menurut model-model diatas para ahli berpendapat bahwa pengembangan pembelajaran tidak terdiri dari langkah-langkah yang kaku, istilah-istilah tidak perlu sama, demikian juga langkah-langkah yang ditempuh. Model yang sudah baku dalam pengembangan pembelajaran adalah : mengidentifikasi, mengembangkan, mengevaluasi, dan merevisi.
Para professional, pada umumnya mendapat imbalan dari apa yang mereka kerjakan, dan para professional berbuat, bekerja berdasarkan pengetahuan dan keterampilan khusus, dimiliki dan diperdapatkannya secara khusus. Guru sosok professional, telah membekali dirinya dengan pengetahuan dan keterampilan khusus, seperti: mendalami ilmu pendidikan, fisiologi, administrasi manajemen pendidikan, teori-teori belajar, dan ilmu lainnya secara teoritis dan praktis di lembaga pendidikan khusus, sperti : fakultas keguruan ilmu pendidikan (FKIP),Fakultas Tarbiyah, 2 fakultas ini mendidik calon tenaga professional dalam bidang keguruan. Demikian pula para professional lainnya, seperti dokter dan pengacara, sebelum terjun kedunia professional telah mendalami pengetahuan dan keterampilan di lembaga pendidikan khusus pula.
Prof. Dr Ahmad Sanusi (1991:42-43), membuat standar unjuk kerja guru dalam meningkatkan kemampuan guru sebagai tenaga professional, adalah sebagai mana table di bawah ini :
KEMAMPUAN-KEMAMPUAN PROFESIONAL GURU :
Gugus Pengetahuan dan Penguasaan Teknis dasar Profesional
Gugus Kemampuan Profesional
Jenis Kegiatan Profesional
1.      Pengetahuan tentang disiplin ilmu pengetahuan sebagai sumber bahan studi (structure, concepts, dan way of knowing)
2.      Penguasaan bidang studi sebagai objek belajar
3.      Pengetahuan tentang karakteristik/ perkembangan pelajar
4.      Pengetahuan tentang berbagai model teori belajar (umum/ khusus)
5.      Pengetahuan dan penguasaan berbagai proses belajar (umum dan khusus)
6.      Pengetahuan tentang karakteristik dan kondisi sosial, ekonomi, budaya, politik sebagai latar belakang dan konteks berlangsung proses pembelajaran.
7.      Pengetahuan tentang proses sosialisasi dan kulturasi
8.      Pengetahuan dan penghayatan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa
9.      Pengetahuan dan penguasaan berbagai media sumber belajar
10.  Pengetahuan tentang berbagai jenis informasi kependidikan dan manfaatnya.
1.      Merencakan program belajar mengajar
















2.      Melaksanakan dan memimpin proses belajar mengajar






3.      Menilai kemajuan belajar







4.      Menafsirkan dan memanfaatkan berbagai informasi hasil penilaian dan penelitian untuk memecahkan masalah professional kependidikan
1.1.     Merumuskan tujuan-tujuan instruksional
1.2.     Menguraikan deskripsi satuan bahasa
1.3.     Merancang kegiatan belajar mengajar
1.4.     Memilih media dan sumber belajar
1.5.     Menyusun instrument evaluasi/ tagihan
2.1.       Memimpin dan  membimbing proses belajar mengajar
2.2.       Mengatur dan mengubah suasana belajar mengajar
2.3.       Menetapkan dan mengubah urutan kegiatan belajar
3.1.       Memberikan skor atas hasil evaluasi
3.2.       Mentransformasikan skor menjadi nilai
3.3.       Menetapkan ranking

Standar unjuk kerja ini untuk dipedomani dan diterapkan oleh tenaga kependidikan professional, yang sering disebut dengan kompetensi guru, maksudnya kemampuan yang tidak boleh tidak dimiliki dan diterapkan oleh seorang guru, sedang menurut Depdikbud (1990) ;
a.       Penguasaan bahan pelajaran serta konsep-konsep dasar keilmuannya
b.      Pengelolaan program belajar mengajar
c.       Pengelolaan kelas
d.      Penggunaan media dan sumber belajar
e.       Penguasaan landasan-landasan kependidikan
f.       Pengelolaan interaksi belajar mengajar
g.      Penilaian prestasi siswa
h.      Pengenalan fungsi dan program bimbingan dan penyuluhan
i.        Pengenalan dan penyelenggaraan administrasi siswa
j.        Pemahaman prinsip-prinsip dan pemanfaatan hasil penelitian pendidikan untuk kepentingan peningkatan mutu pengajaran

G.    MEMILIKI RASA TANGGUNG JAWAB DAN TUJUAN
Rasa tanggung jawab menunjukkan seseorang professional dalam melakukan sesuatu, hal ini yang tidak dimiliki pekerja-pekerja di luar professional, tidak ada istilah Lempar Batu Sembunyi Tangan / tidak ada pekerjaan yang dilakukan dengan tidak bertanggung jawab, tidak bertanggung jawab atas pekerjaan adalah sesuatu kehinaan dalam diri seorang professional. Seorang professional sebelum melakukan pekerjaan akan menciptakan komitmen dan kesepakatan, apakah pekerjaan itu berdasarkan kelompok, pihak-pihak dan mitra lain dalam pekrjaan/ tugasyang dilaksanakan, sehingga kesemua pihak tidak ada merasa dirugikan dan merasa puas atas hasil yang dicapai.
 Dalam dunia pendidikan (baca Pidarta, 1990:156-171) rasa tanggung jawab yang tinggi disebut akuntabilitas, akuntabilitas dipandang sebagai alat control dalam pekerjaan pendidikan pada umumnya dan dalam perencanaan pendidikan khususnya. Selanjutnya Elliot menjelaskan:
 (1) cocok/sesuai (fitting) dengan peranan yang diharapkan oleh orang lain,
(2) menjelaskan dan mempertimbangkan kepada orang lain tentang keputusan dan tindakan yang diambil. Akuntabilitas yang dimaksud disini adalah performa yang cocok dan meminta pertimbangan/ penjelasan kepada orang lain.
Sebagai contoh, seorang guru yang mengajar merasa bertanggung jawab atas materi yang disampaikannya kepada siswa sesuai dengan kurikulum, tepat waktu masuk dan keluar kelas, meningkatkan kompetensi, kecakapan, keterampilan siswa, dan menilai hasil belajar siswanya. Demikian juga guru mengajar penuh dengan kesiapan sebelum dan sewaktu masuk kelas dengan pengetahuan, keterampilan yang akan diajarnya, tanggung jawab disini bukanlah berarti member materi seperti menyuap makanan kedalam mulut anak kecil, akan tetapi bertanggung jawab mengkondisikan belajar. Guru bertindak sebagai fasilitator, mediator, dan menciptakan murid sebagai subyek belajar dengan tidak mengabaikan kegiatan guru sebagai pembelajar, sebagaimana yang diungkapkan Gagne dan Briggs (1999);
1.      Memberikan motivasi / menarik perhatian siswa;
2.      Menjelaskan indicator/ tujuan instruksional yang harus dicapai;
3.      Mengingatkan kompetensi prasyarat;
4.      Memberikan stimulus (masalah, topic, konsep);
5.      Memberikan petunjuk belajar (cara mempelajarinya0
6.      Memunculkan penampilan, kompetensi dan keterampilan siswa.
7.      Memberikan umpan balik (feed back)
8.      Menilai penampilan dan member tagihan kepada siswa;
9.      Menyimpulkan materi yang telah disampaikan pada siswa.
Demikian juga menurut Pidarta (1990), siap yang melakukan akuntabilitas dalam pendidikan dan kepda siapakah akuntabilitas ditujukan? Yang melaksanakan akuntabilitas ditekankan kepada,(1)guru, (2)administrator (3) kelompok minoritas, (4) orangtua siswa, (5)ahli psikometri dan (6) orang-orang luar lainnya. Sedangkan akuntabilitas ditujukan menurut ranking sbb : (1) kemajuan para siswa, (2) pilihan program para siswa, (3)pemeriksaan oleh masyarakat control (4) aktivitas ekstra kurikuler (5) penyakit dan kemungkinan sakit siswa, (6) disiplin yang standard an pakaian siswa, (7) materi pelajaran (8) metode dan strategi mengajar.
Walaupun tugas dosen,dan, dan instruktur memang tidak 100% waktunya mengajar,namun pekerjaan mengajar adalah pekerjaan utama dan perlu dilaksanakan secara professional.Karena profesi inilah maka pekerjaan mengajar tidak boleh dilaksanakan dengan”setengah hati” atau “separo-separo” atau “tidak serius”.
Tujuan yang hendak dicapai seorang professional jelas dan transparan. Melakukan prosedur, mekanisme yang tepat, akurat shingga hasil suatu pekerjaan tidak dicapai dengan penuh kepuasan kedua belahpihak,kelompok/ para pemakai para pengguna jasa. Rasa tanggung jawab dan mencapai tujuan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan, seseorang bertanggung jawab atas hasil yang dicapai dan dapat memuaskan seseorang, bukanlah suatu pekerjaan professional bila tanggung jawab tidak diiringi dengan tercapai suatu tujuan/ hasil. Bertanggung jawab disini adalah sanggu melakukan pekerjaan dengan penuh resiko untuk tercapai suatu tujuan bersama serta saling menguntungkan kedua belah pihak, anggotanya dengan pihak lain yang bersangkutan, sehingga para anggota memiliki patokan tentang apa yang harus, boleh, dan tidak boleh dilakukan dalam melaksanakan tugas profesionalnya.
Kode etik harus menjabarkan secara eksplisit batas-batas wewenang dalam melaksanakan tugasnya sehingga perilakunya tidak berbaur dengan perilaku khusus yang seharusnya dilakukan oleh profesi lain, disertai dengan perilaku marjinal yangmasih layak dilakukan oleh profesi tersbut.
Kode etik guru Indonesia merupakan jiwa dari Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 serta bertanggung jawab atas terwujudnya cita-cita proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 45, maka Guru Indonesia terpanggil untuk menunaikan karyanya sebagai guru dengan pedoman sebagai berikut:
1.      Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangunan yang berPancasila
2.      Guru mempunyai kejujuran professional dalam menerapkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan anak didik masing-masing.
3.      Guru mengadakan komunikasi terutama dalam memperoleh informasi tentang anak didik, tetapi menghindarkan diri dari segala bentuk penyalahgunaan.
4.      Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan orangtua murid sebaik-baiknya demi kepentingan anak didik.
5.      Guru memelihara hubungan baik dengan masyarakat di sekiitar sekolahnya/ masyarakat yang lebih luas untuk kepentingan pendidikan.
6.      Guru secara sendiri-sendiri dan / bersama-sama befrusaha mengembangkan dan meningkatkan profesinya.
7.      Guru menciptakan dan memelihara hubungan antara sesame guru berdasarkan hubungan kerja/ didalam hubungan keseluruhan.
8.      Guru secara bersama-sama memelihara membina dan meningkatkan mutu organisasi guru professional sebagai sarana pengabdian
9.      Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan.

Disamping kode etik guru Indonesia adapula kode etik jabatan guru, yang perlu ditaati oleh setiap guru, yaitu:
a.       Guru sebagai manusia Pancasilais hendaknya senantiasa menjunjung tinggi dan mewujudkan nilai-nilai yang terkandunng dalam Pancasila
b.      Guru sebagai pendidik hendaknya bertekad untuk mencintai anak-anak dan jabatannya, serta selalu menjadikan dirinya suri tauladan bagi anak didiknya.
c.       Setiap guru berkewajiban selalu menselaraskan pengetahuan dan meningkatkan kecakapan profesinya dengan perkembangan ilmu pengetahuan terakhir.
d.      Setiap guru diharapkan selalu memperhitungkan masyarakat sekitarnya sebab pada hakikatnya pendidikan itu merupakan tugas pembangunan dan tugas kemanusiaan.
e.       Setiap guru berkewajiban meningkatkan kesehatan dan keselarasan jasmaninya sehingga berwujud penampilan pribadi yang sebaik-baiknya agar dapat melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya pula.
f.       Didalam hal berpakaian dan berhias, seorang guru hendaknya memperhatikan norma-norma, estetika, dan sopan santun.
g.      Guru hendaknya bersikap terbuka dan demokratis dalam hubungan dengan atasan dan sanggup menempatkan diri sesuai dengan hirearki kepegawaian.
h.      Jalinan hubungan antara seorang guru dengan atasannya hendaknya selalu diarahkan untuk meningkatkan mutu dan pelayanan pendidikan yang jadi tanggung jawab bersama.
i.        Setiap guru berkewajiban untuk selalu memelihara semangat korps dan meningkatkan rasa kekeluargaan dengan sesame guru dan pegawai lainnya.
j.        guru bersikap toleran dalam menyelesaikan setiap persoalam yang timbul, atas dasar musyawarah dan mufakat demi kepentingan bersama.
k.      Setiap guru dalam pergaulannya dengan murid-muridnya tidak dibenarkan mengkaitkan persoalan politik dan ideology yang dianutnya, baik langsung/ tidak.
l.        Setiap guru hendaknya mengadakan hubungan yang baik dengan instansi, organisasi/ perorangan dalam mensukseskan kerjanya.
m.    Setiap guru berkewajiban berpartisipasi secara aktif dalam melaksanakan program dan kegiatan sekolah.
n.      Setiap guru diwajibkan memakai peraturan-peraturan dan menekankan selfdiciplin serta menyesuaikan diri dengan adat istiadat setempat secara fleksibel.

KOMPETENSI SOSIAL
Kompetensi sosial meliputi: (1) memiliki empati pada orang lain, (2) memiliki toleransi pada orang lain, (3) memiliki sikap dan kepribadian yang positif serta melekat pada setiap kopetensi yang lain, dan (4) mampu bekerja sama dengan orang lain.
Menurut Gadner (1983) dalam  Sumardi (Kompas, 18 Maret 2006) kompetensi sosial itu sebagai sosial intellegence atau kecerdasan sosial. Kecerdasan sosial merupakan salah satu dari sembilan kecerdasan (logika, bahasa, musik, raga, ruang, pribadi, alam, dan kuliner) yang berhasil diidentifikasi oleh Gardner.
Semua kecerdasan itu dimiliki oleh seseorang. Hanya saja, mungkin beberapa di antaranya menonjol, sedangkan yang lain biasa atau bahkan kurang. Uniknya lagi, beberapa kecerdasan itu bekerja secara padu dan simultan ketika seseorang berpikir dan atau mengerjakan sesuatu (Amstrong, 1994).
Sehubungan dengan apa yang dikatakan oleh Amstrong itu ialah bahwa walau kita membahas dan berusaha mengembangkan kecerdasan sosial, kita tidak boleh melepaskannya dengan kecerdasan-kecerdasan yang lain. Hal ini sejalan dengan kenyataan bahwa dewasa ini banyak muncul berbagai masalah sosial kemasyarakatan yang hanya dapat dipahami dan dipecahkan melalui pendekatan holistik, pendekatan komperehensif, atau pendekatan multidisiplin.
Kecerdasan lain yang terkait erat dengan kecerdasan sosial adalah kecerdasan pribadi (personal intellegence), lebih khusus lagi kecerdasan emosi atau emotial intellegence (Goleman, 1995). Kecerdasan sosial juga berkaitan erat dengan kecerdasan keuangan (Kiyosaki, 1998). Banyak orang yang terkerdilkan kecerdasan sosialnya karena impitan kesulitan ekonomi.
Dewasa ini mulai disadari betapa pentingnya peran kecerdasan sosial dan kecerdasan emosi bagi seseorang dalam usahanya meniti karier di masyarakat, lembaga, atau perusahaan. Banyak orang sukses yang kalau kita cermati ternyata mereka memiliki kemampuan bekerja sama, berempati, dan pengendalian diri yang menonjol.
Dari uraian dan contoh-contoh di atas dapat kita singkatkan bahwa kompetensi sosial adalah kemampuan seseorang berkomunikasi, bergaul, bekerja sama, dan memberi kepada orang lain. Inilah kompetensi sosial yang harus dimiliki oleh seorang pendidik yang diamanatkan oleh UU Guru dan Dosen, yang pada gilirannya harus dapat ditularkan kepada anak-anak didiknya.
Untuk mengembangkan kompetensi sosial seseorang pendidik, kita perlu tahu target atau dimensi-dimensi kompetensi ini. Beberapa dimensi ini, misalnya, dapat kita saring dari konsep life skills (www.lifeskills4kids.com). Dari 35 life skills atau kecerdasan hidup itu, ada 15 yang dapat dimasukkan kedalam dimensi kompetensi sosial, yaitu: (1) kerja tim, (2) melihat peluang, (3) peran dalam kegiatan kelompok, (4) tanggung jawab sebagai warga, (5) kepemimpinan, (6) relawan sosial, (7) kedewasaan dalam bekreasi, (8) berbagi, (9) berempati, (10) kepedulian kepada sesama, (11) toleransi, (12) solusi konflik, (13) menerima perbedaan, (14) kerja sama, dan (15) komunikasi.
Kelima belas kecerdasan hidup ini dapat dijadikan topik silabus dalam pembelajaran dan pengembangan kompetensi sosial bagi para pendidik dan calon pendidik. Topik-topik ini dapat dikembangkan menjadi materi ajar yang dikaitkan dengan kasus-kasus yang aktual dan relevan atau kontekstual dengan kehidupan masyarakat kita.
Dari uraian tentang profesi dan kompetensi guru, menjadi jelas bahwa pekerjaan/jabatan guru adalah sebagai profesi yang layak mendapatkan penghargaan, baik finansial maupun non finansial.
         Pada Permendiknas No. 16 tahun 2007, Kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar. Kompetensi ini meliputi:
1.         Bersifat inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi, fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial  ekonomi, meliputi:
a.       Bersikap inklusif dan objektif terhadap peserta didik, teman sejawat dan lingkungan sekitar dalam melaksanakan pembelajaran;
b.      Tidak bersikap diskriminatif  terhadap peserta didik, teman sejawat, orang tua peserta didik dan lingkungan sekolah karena perbedaan agama, suku, jenis kelamin, latar belakang keluarga, dan status sosial-ekonomi.

1 komentar:

  1. Terima kasih informasinya, blognya ringan gan.. ayo galakan kepedulian masyarakat terhadap para penyandang cacat di Indonesia.

    Pernahkah anda merasa betapa kasihannya para penyandang cacat di Indonesia?.

    Bagaimana tanggapan keras anda mewujudkan Indonesia akan hak para orang cacat Disabilitas dan Pandangan Masyarakat untuk sekarang ini?

    BalasHapus

Silahkan tinggalkan komentar Anda di sini

Blogroll