Langsung ke konten utama

KEPEPET SAKTI


                                       
Namaku Nurlela. Anak Emak satu-satunya. Aku sangat terkenal di sekolah sebagai tukang nebeng motor orang alias orang yang suka minta diboncengin. Banyak teguran dari berbagai kalangan datang silih berganti tapi sama sekali tak kugubris. Bagiku, hidup itu indah saat bisa nebeng motor orang dan tidak jalan kaki karena aku tak bisa naik motor.
“Nur, Nur! Coba kamu bisa naik motor seperti anak sebayamu, pasti Emak nggak repot bawa belanjaan begini,” keluh Emak saat menenteng belanjaan masuk ke dalam rumah.
“Apaan sih, Mak? Nur, kan emang nggak bisa naik motor. Emak kan juga nggak bisa. Ya jangan salahkan Nur dong, Mak!” tukasku sambil membantu Emak membawa belanjaan masuk ke rumah.
“Iya, justru Emak nggak bisa makanya kamu harus bisa, Nur.” Emak duduk di kursi terlihat letih. Sesekali Emak mengurut kakinya. Aku merasa tak berguna di hadapan Emak. Anak macam apa aku ini? pikirku dalam hati.
 “Kalau Emak capek, besok-besok Lela aja yang belanja. Lumayan bisa ngirit ongkos, Mak. Kan ada si Ega yang siap sedia jadi ojek gratis Lela,” tawarku pada Emak.
“Kamu itu  Nur Nur, jangan nyusahin Ega terus. Sekali-kali kamu yang bantuin dia,” protes Emak. Aku hanya bisa cengar-cengir menanggapi kata-kata Emak.
“Ega, ikhlas kok, Mak. Jadi Emak nggak usah khawatir. Santai aja kayak di pantai, Mak.” Aku mendekati Emak dan memijat bahu Emak. Sejak Babe tak ada, motor kesayangannya nganggur. Yah, mengingat aku dan Emak memang tidak tau menahu tentang motor jadilah si Ega yang selalu kuminta untuk mengurusinya. Kalau hanya untuk mencuci dan membersihkannya, mungkin aku bisa tapi untuk masalah mesin dan tetek bengeknya aku serahkan pada Ega.
 “Nur, kamu nggak boleh selamanya bergantung sama Ega atau temen-temen kamu. Kamu itu harus belajar naik motor, Nur. Biar kamu bisa mandiri. Jadi kalau ada apa-apa nggak perlu minta tolong orang lain. Emak kadang ngerasa malu sama tetangga. Tiap ke pasar selalu sendirian. Emak sering ditanya tuh sama tetangga sebelah waktu ketemu di pasar. Kok sendirian, Jeng. Lha si eneng teh kemana? Nggak nganter? Emak malu, Nur. Malu pisan.” desak Emak menggoreskan satu titik miris di benakku.
“Gimana ya, Mak? Kapan-kapan aja ya. Kayak lagunya Koes Plus itu tuh, Mak. Itu kan lagu paporitnya Emak kan.hehe…” ujarku bercanda.
“ Nur Nur, kamu  dibilangin Emak selalu begitu. Sekali-kali teh nurut atuh. Emak capek, Emak pusing. Emak mau tidur aja.” Emak melangkah meninggalkanku yang hanya bisa menatap punggung Emak sampai menghilang dibalik pintu.
***
Pagi-pagi aku sudah rapi dan wangi, semprot sana semprot sini. Tinggal menunggu jemputan Ega si baik hati yang berjanji mengantarku ke sekolah seperti biasa. Aku bergegas menunggu Ega di ujung jalan samping rumah. Semenit, dua menit, tiga menit sampai tak terasa sudah tiga puluh menit tapi Ega tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Alhasil jam tujuh telah berlalu. Kalau aku berangkat pasti kena semprot guru piket karena terlambat. Dengan berat hati aku pun pulang ke rumah.
“Lho, lho, kok cepet ? Jam segini kok udah pulang?” Emak kaget melihat anak semata wayangnya ini pulang dengan lunglai tak bersemangat.
“Ega, nggak jemput Lela, Mak,” jawabku sambil membanting tas ke kursi diikuti gerakan melepas sepatu.
 “Apa Emak bilang, kamu itu harus bisa naik motor biar nggak jadi kayak gini. Sekarang siapa yang rugi? Kamu kan, Nur. Coba bisa naik motor pasti kamu nggak harus nunggu jemputan Ega.”
“Emak dari kemarin nyuruh Lela biar bisa naik motor melulu,” gerutuku.
“Lha gimana lagi kalau kenyataannya begitu, Nur. Sekarang daripada kamu nggak ngapa-ngapain, bantuin Emak bawa ini ke warung,” seru Emak. Mataku terbelalak melihat bawaan Emak yang lumayan banyak. Mana warung Emak lumayan jauh dari rumah. Aku tak bisa membayangkan wajah letih Emak waktu bolak-balik memindahkan barang bawaan seperti ini sendiri tanpa bantuanku.  
Akhirnya aku membantu Emak setelah ganti baju. Aku yang jarang jalan jauh mulai merasa capek. Sandal jepitku putus di tengah jalan dan Emak bukannya membantu justru menertawakanku.
“Tenang, Nur! Persediaan sandal jepit di warung masih banyak,” kata Emak membuatku lega.
Raut wajah letihku mungkin tak berarti apa-apa jika dibandingkan Emak yang sudah lansia. Tapi aku mulai komat-kamit merasa tak kuat. “Emak, berhenti dulu, aku capek!” seruku.
Tapi Emak tak berhenti. Ternyata warung Emak sudah ada di depan mataku. Aku menyunggingkan senyumku. Finish. Akhirnya sampai juga setelah perjalanan yang kulewati cukup menguras energi.
“Lela, sekarang kamu balik ke rumah! Masih ada beberapa barang yang perlu di bawa ke sini,” seru Emak membuatku lemas. Senyumku ditelan oleh kenyataan. Perjuanganku ternyata belum berakhir.
Aku terkapar di tempat tidur sebentar sebelum kembali ke warung. Kakiku terasa capek tak sanggup kalau harus jalan kaki lagi. Entah mengapa motor Babe mengelitikku tapi buru-buru aku tepis. Mustahil kalau aku menaikinya.
“Kalau aku tak mencoba kapan aku akan bisa? Lela, Lela. Buatlah Emak bangga padamu. Ayolah Lela kamu pasti bisa! Naik sepeda aja kamu bisa, masak naik motor nggak bisa. Pengecut kamu Lela, anak SD aja bisa masa kamu kalah Lela.” ucapku lebih pada diriku sendiri.  
Semakin kutatap motor Babe, semakin aku ingin mendekatinya. Kunci motor di almari seakan melambai-lambai memanggil namaku. Roda motor Babe rasanya ingin mengajakku berputar-putar. Akhirnya aku tergoda, kuambil kunci itu di almari. Apapun yang akan terjadi demi Emak aku lakukan ini. Aku naikkan barang-barang pesanan Emak. Perlahan kuhidupkan mesin. Sekali, dua kali tak hidup. Setelah yang ke empat kali baru bunyi. Hatiku melonjak girang. Emak pasti suka. Akan aku tunjukkan pada dunia kalau aku bisa.
Aku mulai berjalan perlahan-lahan, motor Babe agak bergoyang-goyang. Aku jadi terbayang saat Babe mengajariku naik motor aku pernah menabrak kakek-kakek yang sedang naik sepeda. Untungnya kakek-kakek itu tidak kenapa-kenapa meskipun seminggu setelahnya ia dikabarkan meninggal. Semoga saja bukan efek dari perbuatanku.
Aku berhenti dan turun dari motor Babe.
“Be, Lela takut naik motor Babe. Motor Babe goyang-goyang sendiri sih,” ujarku pada kaca spion.
Lalu kujawab sendiri, “Lela apa sih susahnya naik motor Babe. Cuma tinggal tancap gas, jalan deh. Gitu aja kok repot!”
Tiba-tiba ada abang grobak sayur melirikku.
“Apa, Bang lihat-lihat?”
Si abang cuma geleng-geleng setelah itu berlalu. Aku duduk di atas batu sambil menghitung jumlah semut yang berjalan di tanah. Akhirnya aku dapat inspirasi meskipun agak nggak nyambung sih.
Ku nyalakan mesin motor Babe. Lalu aku melaju dengan kecepatan penuh tubuhku hampir saja terhempas tapi perlahan mulai stabil dan aku pun bisa.
“Emak aku bisa!!!” teriakku saat sudah sampai di depan warung.
Emak terharu, ia menangis. Ia mengelus bahuku. “Nur, Nur, sekarang Emak bangga. Anak Emak sudah bisa naik motor.”
Spontan aku ikut menangis, terisak cukup keras. “Emak, maafin Lela ya. Lela baru sadar kalau selama ini Emak berjuang keras memotivasi Lela supaya bisa naik motor tapi sayangnya Lela nggak peduli, Mak. Maafin Lela ya, Mak.”
Emak terbahak. Aku merasa bahagia melihat Emak tertawa. Tawa Emak adalah motivasi terbaik dalam hidupku. Pulang dari warung aku mengajak Emak berkeliling-keliling kampung, dengan bangga menunjukkan inilah Lela anak Emak, sekarang sudah bisa naik motor.
***
Setelah semalaman aku tak tidur, aku mencuci motor Babe karena mulai pagi ini aku akan berangkat dengan motor itu.
“Wow, beneran ini Nurlela?” ujar Ega mencibir saat heran melihatku mencuci motor Babe.
“Heh, kemana aja kamu kemarin? Gara-gara kamu nggak jemput, aku jadi bolos sekolah,” ujarku ketus.
“Santai, Nur! Kemarin ban motorku bocor di tengah jalan. Jadi aku tak sempat menjemputmu dan aku pikir kamu sudah berangkat duluan,” jelas Ega.
“Tunggu di sini bentar dan jangan kemana-mana! Jagain ini motor! Awas kalau sampai hilang!” seruku setengah mengancam setelah selesai memandikan motor Babe.
Beberapa saat aku muncul dengan helm dan kunci motor Babe membuat Ega tergeragap dan bengong.
 “Ga, mau berangkat nggak? Pagi-pagi udah bengong, kesambet tahu rasa kamu,” ujarku membuyarkan lamunan Ega.
“Nur, sejak kapan kamu bisa naik motor?” tanya Ega penasaran sambil memakai helmnya.
“Sejak kemarin. Gara-gara kepepet nih akhirnya aku jadi sakti,” ujarku dengan bangga. “Eh, kamu nggak mau aku boncengin?” selaku saat Ega menaiki motornya.
Oh, magic! Nur, serius kamu udah bisa? Kok, aku sangsi ya?” celetuk Ega mencibir.
“Kamu pikir cuma kamu yang bisa? Nurlela anak Emak juga bisa. Kalau nggak mau ya udah.”
“Wah, sebentar lagi julukan Miss Nebeng lenyap dari peredaran. Hihihihi,” ujar Ega hiperbol.
“Tapi ada satu hal yang perlu kamu tahu,” ujarku menggantung.
“Apa?”
“Bayarin dulu ya buat beli bensin. Bensinnya nggak cukup nih kalau sampai sekolah.” Bibir Ega mengerucut.
“Nur, Nur, kapan sih lo nggak minta gratisan,” celotehnya.
***
Sampailah motor Babe melewati gerbang dan masuk ke lingkungan sekolah. Beberapa pasang mata tertohok melihatku mengendarai motor. Beberapa lainnya mengadakan diskusi mendadak sambil bisik-bisik membentuk kerumunan. Dengan santainya kuparkir di tengah-tengah motor lainnya. Tiba-tiba Ega menjitak helmku. Pletakkk… Aku menoleh, geram.
“Anak-anak pada bicarain kamu tuh!” sahutnya.
“Biarin aja, Ga. Aku ini kan terkenal, wajar dong kalau langsung jadi bahan pembicaraan,” balasku penuh percaya diri sambil melepas helmku.
Tiba-tiba Vian, cowok terkeren di sekolah menghampiriku. “Udah bisa naik motor nih sekarang? Keren,” pujinya membuatku meleleh. Tak segan-segan ia mengangkat dua jempolnya untukku.
“Iya nih, An. Berkat situasi yang menghimpitku sekarang aku jadi bisa seperti ini. Hahaha,” ujarku bangga. Vian membalas dengan menyunggingkan senyumnya padaku. Uh, so sweet!
“Kapan-kapan aku nebeng ya,” ajaknya meninggikan anganku untuk mendapatkannya. Akhirnya setelah sekian lama mendekatinya tapi tak berhasil sekarang dia yang mendekatiku. Thank’s God!
Vian, oh Vian! Mengapa kamu begitu manis. Tanpa kamu minta aku mau jadi kekasihmu. Sekarang aja kamu udah minta nebeng, jangan-jangan besok kamu mau menembakku. Sudah pasti aku nggak bakal nolak, Vian.
Setelah membaca gerak-gerikku, Ega menepuk bahuku. “Heh!”
“Ga, Vian kemana?” tanyaku celingukan. Aku baru tahu sedari tadi aku melamun, sampai tak sadar Vian sudah berlalu dari hadapanku.
“Makanya kalau ada orang ngomong itu didengerin. Kamu sih, waktu dia pamitan malah cuma ngangguk-ngangguk doang,” jawab Ega sambil mempraktekkannya membuatku terbahak. Tapi tiba-tiba tangannya usil, menoyor kepalaku dan berlari.
 “Ega, awas ya kamu!!” Aku berlari mengejarnya.
***

Komentar