Sabtu, 05 November 2011

Kakak Anak Mama, Adik Anak Papa, Aku Anak Siapa?

Pagi ini meja makan terisi lengkap. Semua jenis makanan yang biasa dihidangkan saat lebaran ada. Benar-benar acara penyambutan yang spektakuler. Padahal hanya kakak yang datang bukan Pak Presiden.
“Boy, gimana dapat juara?” tanya Mama begitu melihat Kak Boy baru turun dari mobil.
Aku mengamati dengan penuh rasa iri. Mama selalu mengutamakan Kak Boy dimanapun itu. Aku benci Mama.
“Cuma dapat juara dua, Ma. Pahadal menit-menit terakhir seharusnya aku bisa mencetak satu gol lagi. Tapi payah gara-gara pelanggaran dari tim lawan waktunya jadi habis. Yah, terpaksa dapat juara dua padahal cuma selisih satu poin,” jawab Kak Boy dengan penjelasan panjang lebarnya dan membuatku menguap.
Aku pun berpikir untuk masuk ke dalam rumah karena aku tahu akan menjadi lebih panjang jika aku tetap berada di tengah-tengah mereka.  Apalagi Hera, adikku sedang asyik bermain kamera dengan Papa. Aku seperti kambing congek di padang rumput, sendirian. Mbekk..
Saat aku membalikkan badanku Mama memanggilku. Kupikir mereka akan melibatkanku dalam pembicaraan ternyata hanya sedikit.
“Tasya, tolong bantu kakakmu membawa tasnya masuk ke dalam,” seru Mama membuatku semakin kesal.
Apa-apaan ini? Sejak kapan aku diperlakukan seperti pembantu? Ini tidak adil. Mengapa bukan pak sopir saja? Mengapa harus aku dan aku, selalu aku?
“Nggak mau, Ma. Kak Boy kan bisa bawa semuanya sendiri,” tukasku sambil melipat tangan.
“Tasya.” Mama melihatku tanpa berkedip sangat lama. Aku berusaha tidak terpengaruh tapi akhirnya..
“Baiklah, sini Kak Boy tasnya,” seruku sok lembut. Kak Boy cengar-cengir merasa senang melihatku tertindas. Semua tas kakak langsung diletakkan di atas tanganku.
“Berat!!” teriakku kesal.
“Nggak pa-pa, biar sekali jalan. Jadi nggak usah bolak-balik lagi,” ujar Kak Boy seenaknya.
Aku mendengus kesal. Rasanya tanduk-tandukku siap menikam kakak.
“Eh, mau ke mana? Masih satu lagi.”
Brukkk...
***
Di meja makan semua orang terlihat senang kecuali aku. Papa dan Hera asyik melihat hasil foto di kamera. Mama dan Kak Boy masih saja asyik bicara tentang pertandingan sepak bola Kak Boy.
Aku mencoba mengusik  Mama dan Kak Boy. “Ma, tolong ambilkan nasi dong! Nggak nyampe nih.”
“Tasya kamu kan punya tangan dan kaki. Ambil sendiri dong! Kamu sudah besar, seharusnya kasih contoh yang baik buat adik kamu,” kata Mama, membuat semua orang menghentikan aktifitasnya dan memperhatikanku.
“Dasar manja!” celetuk Kak Boy.
“Biarin,” responku. Seolah kata-kata itu menjadi penutup pembicaraanku karena detik selanjutnya mereka kembali asyik dengan pembicaraan mereka masing-masing. Aku geram mengeraskan suara sendok yang menyentuh piring.
“Sssttss, kakak berisik!” Hera angkat bicara.
“Tasya, kalau makan piringnya jangan bersuara!” Papa menimpali.
Akhirnya aku menghabiskan makananku sesuai perintah Papa. Aku beranjak menuju kamar Kak Boy. Entah aku jadi penasaran mengapa Kak Boy begitu spesial untuk Mama. Dulu saat ulang tahun Kak Boy yang ke dua belas, Mama membelikan Kak Boy buku cerita yang sangat banyak. Padahal aku yang masih berusia tujuh tahun sangat membutuhkan banyak buku cerita untuk latihan membaca, tidak pernah dibelikan. Jika ingat itu aku menjadi benci Mama.
Brukk.. Buku Kak Boy tak sengaja kujatuhkan ke lantai saat berusaha menarik satu buku diantara tumpukan lainnya. Buru-buru aku pungut dan dirapikan. Sehelai kertas terselip di sebuah buku yang kupegang ternyata selembar kertas dengan tulisan pena merah di bagian kanan atas 45. Aku tertawa membacanya. Kak Boy yang sangat dibanggakan Mama, ternyata diam-diam menyimpan kertas yang tertulis nilai 45. Aku berpikir sebaiknya Mama tahu hal ini dan kertas itupun kulipat dan kusimpan.
***
Hera tengah asyik memilih baju untuk pemotretan. Aku mengamatinya dari luar pintu kamar Hera.
“Kakak, sini masuk!” seru Hera sambil melambaikan tangannya.
“Lagi ngapain sih?” tanyaku basa-basi.
“Ini sama ini bagusan yang mana?” Hera mengalihkan pembicaraan seraya memperlihatkan dress merah muda dan t-shirt ungu.
“Kalau ingin terkesan feminim pakai yang merah muda, kalau terkesan sedikit tomboy pakai t-shirt dan celana jeans. Plus pakai topi di balik.”
“Ih, kakak emang paling ngerti ya soal kayak beginian,” ujar Hera centil.
Aku menghadap terbalik saat Hera mengganti pakaiannya. Aku berpikir bagaimana cara bertanya yang sesuai agar tak menyinggung perasaannya.
“Kak, kok bengong? Aku tanya ke kakak, bagus nggak kalau aku yang pakai?” tanya Hera yang telah selesai mengepas dress merah muda.
“Bagus, warnanya sesuai sama kulit kamu. Oh ya, nanti kamu berangkatnya diantar Papa?”
“Iya, Kak.”
“Kenapa nggak sama Mama aja?”
“Yah, tahu sendiri Kak gimana Mama! Bete. Kalau mau mampir beli baju pasti ditahan, diceramahin panjang lebar. Katanya sih begini, kamu itu beli baju terus. Meskipun itu dari honor kamu tapi tetap saja namanya pemborosan. Coba seperti kakakmu itu. Diam-diam kakakmu itu selalu menabung. Seharusnya uang honor kamu ditabung juga untuk keperluan lain-lain and bla bla bla.” Mendengar kata-kata Hera rasanya aku masih belum percaya. “Capek kak dengernya. Padahal kan fashion itu emang udah jadi lahanku kecuali kalau kayak kakak.”
“Kamu bilang apa tadi?”
“Maksud aku begini kakak, Mama selalu bandingin aku sama kakak tiap kali aku beli baju. Tapi kan masalahnya kakak nggak terjun di dunia modeling. Kakak cuma di rumah aja, bantuin Mama. Kadang aku iri sama kakak, kenapa kakak bisa dekat sama Mama. Aku? Boro-boro kak, baru radius dekat aja langsung disindir-sindir sama Mama.”
“Emm, begitu.”
Aku terdiam cukup lama di kamar Hera. Bahkan saat Hera berpamitan pergi aku masih dalam posisi yang sama.
Mama pernah memujiku di hadapan Hera? Apakah ini mimpi?
***
Mama sedang memasak makan malam. Aku hanya duduk melihat Mama dan berpikir ulang. Kertas yang bertuliskan nilai 45 itu sudah ada di tanganku. Aku perlu membuka sedikit pembicaraan lalu semua akan berjalan dengan lancar.
“Ma, Kak Boy mana?” tanyaku basa basi.
“Itu di kamarnya,” jawab Mama sambil memasukkan sayuran ke dalam teflon.  
“Emm, begitu. Kenapa sih Mama seneng banget kalau Kak Boy pulang dari pertandingan sepak bola? Mama capek-capek masak banyak, padahal belum tentu Kak Boy pulang bawa berita baik.”
Mama membalikkan badannya ke arahku. Ia menatapku dengan serius.
“Apa benar Mama terlihat senang?” Mama balik bertanya.
Aku menganggukkan kepalaku. Dalam hatiku sesungguhnya sangat merasa iri tapi tak bisa kukatakan.
“Apa kalau Kak Boy tidak ada di rumah Mama sedih?”
“Tidak juga.”
“Apa Kak Boy pulang dari pertandingan pernah membawa berita buruk?”
“Nggak.”
“Lalu apa salahnya kalau Mama menyambut kakak kamu? Selama ini kakak kamu itu sudah bekerja keras untuk menunjukkan prestasinya di bidang olahraga,” jawab Mama dengan tersenyum.
Aku mengeluarkan kertas yang kulipat-lipat. “Tapi tidak untuk urusan yang satu ini.”
“Apa itu?” tanya Mama masih dalam keadaan tersenyum.
“Nilai ujian kakak yang nilainya merah,” jawabku membuat Mama menghapus senyumnya. Mata Mama berkaca-kaca. Sebelum menetes, ia membalikkan badannya.
Yes! Akhirnya Mama kecewa dengan Kak Boy.
Mama membalikkan badannya kembali. “Kamu dapat itu dari mana?”
“Tadi ambil dari kamarnya Kak Boy,” jawabku dengan blak-blakan.
“Simpan itu baik-baik jangan sampai Papamu melihatnya!” seru Mama membuatku bingung.
“Kenapa harus disimpan dan tidak boleh dilihat Papa?”
“Tasya, kalau sampai Papamu melihatnya impian kakakmu bisa hancur.”
Deg. Ada sesuatu yang terasa aneh.
“Kakak kamu ingin menjadi pemain sepak bola tapi Papa tak pernah setuju. Mama sudah berusaha keras membujuk Papa agar setuju tapi dengan satu syarat nilai kakakmu harus selalu bagus.”
“Lalu kalau aku memperlihatkan ini ke Papa...?” tanyaku menggantung.
“Apa itu?” tanya Papa dari jauh yang ternyata telah melihat kertas yang kupegang.
“Bukan apa-apa, Pa,” jawabku. Aku membalikkan badanku dan menyobek nama Kak Boy dari kertas itu.
“Coba Papa lihat!” seru Papa mendekat. Aku mengulurkan kertas itu.
“Empat puluh lima?” tanya Papa dengan ekspresi yang aneh.
Aku mengangguk dengan santai. Papa tertawa. Aku menjadi lega.
“Ini nilai kamu? Bukankah kamu sering belajar di kamar? Mungkin sedang tidak mujur.” Papa mengacak rambutku. Aku pun tersenyum. Rasanya sudah lama Papa tak tertawa di depanku, karenaku. Selalu saja kulihat karena Hera. Aku menoleh ke arah Mama, ia tersenyum padaku. Dari balik badan Papa ternyata ada Kak Boy dan Hera yang juga tersenyum padaku. Ada perasaan bahagia di hatiku. Papa dan Mama ternyata menyayangiku tapi aku tak melihatnya karena tertutup rasa iri. Seharusnya aku senang karena Hera dan Kak Boy yang iri padaku. Aku salah besar, Papa dan Mama keduanya menyayangiku lebih dari apa yang kuketahui. I love Papa, I love Mama.  
Tak lama kemudian Papa masuk ke dalam kamar dan Kak Boy menghampiriku.
“Terima kasih karena sudah berbohong,” ujar Kak Boy seraya mencubit kedua pipiku.
“Sakit, Kak!” teriakku.
Hera masih berdiri di posisi yang sama, matanya berkaca-kaca.
“Hera, kenapa berdiri di situ? Ayo sini, kita bantu Mama masak!” seruku.
“Apa dibolehin sama Mama?” tanyanya dengan ragu.
“Kenapa tidak? Kamu kan juga anak Mama,” kata Mama membuat Hera tersenyum dan berlari memeluk Mama.
***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda di sini

Blogroll