Langsung ke konten utama

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesembuhan Anak Autis


Autisme adalah gangguan perkembangan kompleks yang terjadi pada aspek neurobiologis otak dan mempengaruhi proses perkembangan anak. Akibat gangguan ini sang anak tidak dapat secara otomatis belajar untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya, sehingga ia seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri.
Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan minat yang obsesif. (Baron-Cohen, 1993).
Menurut Power (1989) karakteristik anak dengan autisme adalah adanya 6 gangguan dalam bidang: interaksi sosial, komunikasi (bahasa dan bicara), perilaku-emosi, pola bermain, gangguan sensorik dan motorik, perkembangan terlambat atau tidak normal.
Jumlah anak yang terkena autis semakin meningkat pesat di berbagai belahan dunia. Di Kanada dan Jepang pertambahan ini mencapai 40 persen sejak 1980. Di California sendiri pada tahun 2002 di-simpulkan terdapat 9 kasus autis per-harinya. Di Amerika Serikat disebutkan autis terjadi pada 60.000 – 15.000 anak dibawah 15 tahun. Kepustakaan lain menyebutkan prevalensi autis 10-20 kasus dalam 10.000 orang, bahkan ada yang mengatakan 1 diantara 1000 anak. Di Inggris pada awal tahun 2002 bahkan dilaporkan angka kejadian autis meningkat sangat pesat, dicurigai 1 diantara 10 anak  menderita autisma. Di Indonesia yang berpenduduk 200 juta, hingga saat ini belum diketahui berapa persisnya jumlah penderita namun diperkirakan jumlah anak autis dapat mencapai 150 -–200 ribu orang.
Penyebab autisme sendiri masih be­lum jelas benar bagaimana terjadinya gejala (potologi) dari autisme. Beberapa petunjuk me­­­ng­­arah pada kelainan di otak kecil (cere­bellum), kelainan organik seperti pheny­hetonarin, tuberous scle­rosis, fragile x syn­drome, congenital rubella syndrome, dan ke­racunan timbal (Pb).
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kesembuhan anak autis antara lain:
1.      Berat ringannya derajat kelainan
Semakin ringan gangguan autis maka kesembuhan anak autis akan berjalan lebih cepat daripada yang menderita autis berat.

2.      Usia anak saat pertama kali ditangani
Terapi yang dimulai sedini mung­kin sebelum usia 5 tahun lebih membantu kesembuhan anak autis karena perkem­bangan paling pesat dari otak ma­nusia terjadi pada usia 2-3 tahun. Sebaliknya  penatalaksanaan terapi setelah usia 5 tahun hasilnya berjalan lebih lambat. Jika sudah terdeteksi sejak dini tentunya akan semakin cepat proses pe­nanganannya. Banyak metode dan cara untuk mendidik anak autis.

3.      Proses pendidikan dan pengajaran
Proses pendidikan dan pengajaran tersebut baik datang dari anak, orang tua, lingkungan keluarganya juga sarana prasarana dan strategi belajar.
Lingkungan keluarga yang mendukung kesembuhan anak autis akan lebih membantu keberhasilan anak autis dalam pendidikannya daripada lingkungan keluarga yang tidak menerima kehadirannya, menyembunyikan dan tidak mengakui anak autis tersebut.
Penerimaan di sini bukan hanya secara moral saja, tetapi dapat di­aplikasikan ke dalam bentuk perilaku yang memberikan pendidikan pada anak autis dengan menye­kolah­kan pada se­kolah khusus autisme atau lembaga pusat terapi anak kebutuhan khusus. Pen­didikan anak autisme tidak hanya dari sekolah atau terapi saja tetapi juga di­butuhkan peran orang tua dan anggota ke­luarga di rumah. Adapun pendidikan di ru­mah adalah menyesuaikan dengan tu­gas per­kembangan anak dan me­lanjutkan materi dari sekolah khusus autisme.
Peran orang tua dalam penyem­buhan anak penderita autisme sangatlah penting. Pertama adalah pekerjaan ru­mah, kedua generalisasi yaitu men­tranfer kegiatan yang dipelajari di sekolah ke tempat lain. Hal ini membutuhkan peran dari orang tua. Juga mengenai sosialisasi orang tua harus ikut berperan sebab waktu di sekolah hanya se­kitar 6 jam saja, sisa waktu lebih banyak di rumah karena itu kerja sama antara orang tua dan guru perlu sekali. Orang tua adalah orang yang paling kenal dengan anak, jadi guru, dokter, dan terapis harus mendengar informasi dari orang tua anak autis. Orang tua harus mempunyai pemahaman tentang anak autis. Selain harus melakukan peng­obatan secara me­dis, orang tua juga di­tun­tut bijak dan sabar me­ng­hadapi kon­disi anak.
Selain itu strategi belajar juga sangat menentukan, penggunaan sarana prasarana serta metode yang dipakai untuk menerapi anak autis. Terapis yang kreatif dan berpengalaman, metode terapi yang disertai media belajar yang mendukung, akan membantu kesembuhan anak autis lebih cepat dibandingkan dengan terapis yang ala kadarnya serta sarana dan prasarana yang seadanya. Intensitas waktu terapi anak autis juga ikut berpengaruh dalam cepat lambatnya kesembuhan. Apapun metode dan terapi yang di­pilih penanganan harus terstruk­tur, terpola, konsisten, kontinyu dan terprogram. Penanganan harus dipertimbangkan sesuai de­ngan ke­butuh­an dan usia anak.

4.      Kesehatan
Anak autis yang sakit-sakitan akan memperlambat kesembuhannya. Gizi dan nutrisi anak autis yang tercukupi mempengaruhi perkembangan fisik sekaligus kemampuan berpikir si anak. Anak autis biasanya memiliki gangguan metabolisme dan problem pencernaan.

5.      Kecerdasan
Semakin cerdas anak autis, maka semakin cepat daya penangkapan materi. Dengan demikian anak yang memiliki IQ di bawah rata-rata akan lebih lambat daripada anak autis yang memiliki IQ rata-rata maupun di atas rata-rata.


SUMBER : 
Maulana Mirza. 2007. Anak Autis: Mendidik Anak Autis dan Gangguan Mental Lain Menuju Anak Cerdas dan Sehat. Jogjakarta: Katahati.

Komentar