Langsung ke konten utama

Ayah-Ibu, Maaf




 Tahukah Ayah-Ibu setiap perjalanan pulang ke rumah aku selalu menangis? Aku selalu menghapus air mataku di depan rumah sebelum membuka pintu. Bukan karena aku sudah merindukan kalian di rumah tapi karena aku tak pernah paham apa yang diajarkan Bu guru di sekolah. Aku selalu menjadi bahan olokan anak satu kelas. Mereka mengataiku bodoh karena nilaiku selalu di bawah mereka. Mereka sebagian tak mau berteman denganku karena mereka takut menjadi sepertiku.
Ayah-Ibu, aku selalu dapat tempat duduk yang paling belakang jika di kelas . Setiap hari aku di beri bangku paling belakang itupun di bagian sudut. Teman-teman bilang setiap bangku sudah ada yang menduduki. Aku tak mendapat bangku karena aku murid baru. Mereka juga bilang masih untung aku punya bangku di sudut pojok paling belakang daripada tak dapat sama sekali. 
Tahukah Ayah-Ibu, setiap kali Bu guru menerangkan sesuatu pada awalnya aku paham dan hari itu juga aku mengerti tetapi setiap kali aku disuruh mengerjakan soal entah mengapa tulisan-tulisan itu menjadi sulit kumengerti.  Pertanyaan-pertanyaan yang mudah untuk teman-temanku tak bisa kunyatakan dengan suara ringan. Begitu berat rasanya aku mengatakan itu mudah. Aku hanya bisa mengulas senyum sesaat lalu tertunduk ketika mereka ingin tahu jawabanku karena tak ada yang bisa kukatakan lagi selain kata susah.
Alhasil ketika kertas ulangan dibagi nilai yang aku dapat selalu jatuh. Misalnya saja hari itu saat satu per satu anak di panggil berdasarkan urutan terbaik sampai yang paling jelek, akulah yang terakhir mendapat kertas ulangan. Tahukah Ayah-Ibu betapa sulitnya menyentuh angka 5. Nilai matematikaku di kertas itu tertulis kursi terbalik. Ibu guru hanya menatapku lesu.
Ibu bagaimana caraku agar bisa mendapatkan nilai yang bagus? Padahal Ibu selalu mengajariku di rumah saat aku belajar dan saat mengerjakan pekerjaan rumah. Ibu bahkan capek-capek mencarikanku soal-soal untuk kukerjakan. Ibu pernah berkata jawabanku benar saat mengoreksi dan ketika salah ibu memberitahukanku jawaban yang benar. Ibu selalu berkata aku pintar tapi tahukah Ibu anakmu ini bodoh.  
Tak ada yang memujiku seperti Ibu. Ibu begitu sabar menghadapiku. Aku menyayangi Ibu.
Ayah bagaimana bisa aku bisa menunjukkan pada Ayah kalau aku ini pintar? Sementara Ayah selalu memegang kertas ulanganku dengan nilai-nilai yang memprihatinkan. Ayah bilang aku harus berusaha keras. Ayah bilang nilai itu bisa lebih ditingkatkan kalau aku belajar dengan Ibu. Ayah bilang tak menyesal mempunyai anak sepertiku. Ayah bilang suatu saat aku pasti bisa mendapatkan nilai yang bagus dan mengalahkan teman-temanku.
Ayah, tak ada yang memberiku motivasi seperti Ayah. Ayah begitu menyayangiku dan tak pernah lelah menanti nilai yang baik dariku. Aku juga menyayangi Ayah.
Ayah-Ibu maafkan aku. Aku tak bisa menjadi anak yang sesuai dengan harapan kalian. 

 
Solo, 18 Oktober 2011

Komentar

  1. Itulah ayah ibu, critanya bagus, menyentuh. Orang tua selalu menginginkan anak-anaknya jauh lebih baek daripada mereka :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda di sini