Selasa, 18 Oktober 2011

Ayah-Ibu, Maaf




 Tahukah Ayah-Ibu setiap perjalanan pulang ke rumah aku selalu menangis? Aku selalu menghapus air mataku di depan rumah sebelum membuka pintu. Bukan karena aku sudah merindukan kalian di rumah tapi karena aku tak pernah paham apa yang diajarkan Bu guru di sekolah. Aku selalu menjadi bahan olokan anak satu kelas. Mereka mengataiku bodoh karena nilaiku selalu di bawah mereka. Mereka sebagian tak mau berteman denganku karena mereka takut menjadi sepertiku.
Ayah-Ibu, aku selalu dapat tempat duduk yang paling belakang jika di kelas . Setiap hari aku di beri bangku paling belakang itupun di bagian sudut. Teman-teman bilang setiap bangku sudah ada yang menduduki. Aku tak mendapat bangku karena aku murid baru. Mereka juga bilang masih untung aku punya bangku di sudut pojok paling belakang daripada tak dapat sama sekali. 
Tahukah Ayah-Ibu, setiap kali Bu guru menerangkan sesuatu pada awalnya aku paham dan hari itu juga aku mengerti tetapi setiap kali aku disuruh mengerjakan soal entah mengapa tulisan-tulisan itu menjadi sulit kumengerti.  Pertanyaan-pertanyaan yang mudah untuk teman-temanku tak bisa kunyatakan dengan suara ringan. Begitu berat rasanya aku mengatakan itu mudah. Aku hanya bisa mengulas senyum sesaat lalu tertunduk ketika mereka ingin tahu jawabanku karena tak ada yang bisa kukatakan lagi selain kata susah.
Alhasil ketika kertas ulangan dibagi nilai yang aku dapat selalu jatuh. Misalnya saja hari itu saat satu per satu anak di panggil berdasarkan urutan terbaik sampai yang paling jelek, akulah yang terakhir mendapat kertas ulangan. Tahukah Ayah-Ibu betapa sulitnya menyentuh angka 5. Nilai matematikaku di kertas itu tertulis kursi terbalik. Ibu guru hanya menatapku lesu.
Ibu bagaimana caraku agar bisa mendapatkan nilai yang bagus? Padahal Ibu selalu mengajariku di rumah saat aku belajar dan saat mengerjakan pekerjaan rumah. Ibu bahkan capek-capek mencarikanku soal-soal untuk kukerjakan. Ibu pernah berkata jawabanku benar saat mengoreksi dan ketika salah ibu memberitahukanku jawaban yang benar. Ibu selalu berkata aku pintar tapi tahukah Ibu anakmu ini bodoh.  
Tak ada yang memujiku seperti Ibu. Ibu begitu sabar menghadapiku. Aku menyayangi Ibu.
Ayah bagaimana bisa aku bisa menunjukkan pada Ayah kalau aku ini pintar? Sementara Ayah selalu memegang kertas ulanganku dengan nilai-nilai yang memprihatinkan. Ayah bilang aku harus berusaha keras. Ayah bilang nilai itu bisa lebih ditingkatkan kalau aku belajar dengan Ibu. Ayah bilang tak menyesal mempunyai anak sepertiku. Ayah bilang suatu saat aku pasti bisa mendapatkan nilai yang bagus dan mengalahkan teman-temanku.
Ayah, tak ada yang memberiku motivasi seperti Ayah. Ayah begitu menyayangiku dan tak pernah lelah menanti nilai yang baik dariku. Aku juga menyayangi Ayah.
Ayah-Ibu maafkan aku. Aku tak bisa menjadi anak yang sesuai dengan harapan kalian. 

 
Solo, 18 Oktober 2011

Minggu, 02 Oktober 2011

Selamat Ulang Tahun Adik Kecilku



Malam ini sesunyi malam-malam sebelumnya adik tapi ini adalah malam special karena aku mengenang hari  lahir sekaligus kepergianmu setelah 14 tahun berlalu.   

Selamat Ulang Tahun adikku sayang.. Jadilah anak yang baik agar bisa membahagiakan orang tua kita.. 


Aku tahu Tuhan takkan mengembalikanmu. Aku juga tahu seberapapun keinginanku agar kau kembali tak akan terwujud tapi keinginanku untuk tetap menjadi kakakmu akan selalu ada. 

Hari ini entah mereka ingat atau tidak tapi aku berjanji akan selalu mengingatnya walau aku tak bisa singgah ke rumahmu. Jadi kau jangan bersedih. Saat lilin kecil padam dan cahaya perlahan meredup kau harus tetap bersinar terang. Semoga kau bertemu kakakmu di sana meskipun aku juga tak tahu wajah kakakmu tapi pasti kalian bertemu di sana. Kau ikut pergi bersamanya. Semoga ia menjagamu di sana sama seperti kakak menjagaku di sini. 

Langit malam ini begitu cerah. Semoga sama dengan keadaanmu di sana.
Tuhan jagalah dia dan kakaknya di sana. Jagalah kedua adikku yang tak sempat kulihat itu. Semoga keduanya tenang di sana. 
Amin

Kegagalan Mengajariku Arti Kebahagiaan

Aku mendarat di depan rumah berpagar abu-abu. Aku turun dari mobil dan menatap rumah itu. Tanganku ditarik dan dia melangkah lebih du...