Langsung ke konten utama

Satu Cangkir Dua Sereal


Secangkir sereal instan menemani sarapanku pagi ini. Lirih suara mp3 masuk ke gendang telingaku. Kulihat Taufan, adik pertamaku masih sibuk mengenakan kaus kakinya. Izzi, adik keduaku sibuk menghabiskan roti bakarnya. Tian, adik ketigaku sibuk berlari naik tangga sedangkan Mama sibuk mengamatiku.
“Anjel, nggak pa-pa, Mam,” kataku sambil menyeruput sisa sereal instanku di cangkir. Kulirik adikku Taufan yang cekikikan dengan tali sepatunya, adikku Izzi yang kurang kerjaan memotong-motong rotinya sampai kecil dan Tian berlari menuruni tangga dengan menggebu-gebu.
“Mam, Fan berangkat dulu,” pamitnya sambil ngeloyor pergi.
“Fan!!” teriakku memanggilnya tapi tak digubris. Kebiasaan buruk yang dipelihara sampai besar dari Taufan.
“Mam, Zi berangkat sama Fifin,” ujar Izzi sambil mencium tangan Mama. “Kak Anjel nggak usah curiga sama Zi. Fifin itu cewek bukan cowok,” pekiknya ke arahku dengan setengah melotot. Bergidik. Adikku mengerikan ternyata. Salahku juga terlalu over protek ke adikku yang satu ini, secara dia satu-satunya adik perempuan yang harus dilindungi.
Izzi pun melesat mengikuti jejak Taufan. Adikku tinggal Tian yang tersisa. Kulirik adikku itu.
“Kak, Tian nggak usah diantar jemput. Tian udah besar. Tian malu sama teman-teman. Sebaiknya Kakak di rumah aja sama mama,” ujarnya sambil mengendong tas ranselnya.
“Tapi Tian kan…,” ujarku tak berhasil menyelesaikan.
“Ya sudah tapi Tian hati-hati,” lanjut Mama.
Tian pun melesat setelah berpamitan.
Sepi. Sejak kapan adik-adikku jadi liar? Tidak seperti hari biasa.
“Jel, kamu bener nggak kenapa-kenapa?” tanya Mama membuatku semakin curiga.
“Apaan sih, Ma? Anjel baik-baik aja.”
“Syukurlah kalau kamu memang nggak kenapa-kenapa. Berarti hari ini kamu harus bertemu seseorang spesial.”
What? Seseorang lagi? Pakai spesial pula.
“Mam, Anjel nggak mau.”
“Udah, kamu pasti senang kalau ketemu yang satu ini. Jadi, simpan keras kepala kamu untuk nanti. Mam, cuma pengen lihat kamu itu bersemangat menjalani hidup.”
“Maksud, Mam?”
 “Semenjak kamu diputusin sama siapa itu... Tio, iya Tio, kamu jadi dipecat dari pekerjaan kamu,” sindir Mama setengah hangat masuk ke telingaku.
“Itu karena bosnya aja yang nggak baik hati, nggak ngasih toleransi sama orang yang patah hati.”
“Nah, itu kan juga karena si Tio itu yang mengada-ada di depan bos kamu itu. Pokoknya kamu nanti harus ketemu sama seseorang yang bernama Alta.”
Alta? What?
Itu kan si Bocil tukang iseng. Tubuh kecil yang nggak bisa diam. Selalu usil sana sini dan korban yang terspektakuler adalah aku.
“Kenapa? Mau berterima kasih sama, Mam?”
“Mam, kenapa harus si Alta sih? Mam tahu aku sama dia dari kecil nggak pernah akur. Dia selalu cari gara-gara.”
“Terus kamu pikir kalau udah besar dia masih kayak gitu? Ya udah bedalah, Jel. Kamu kan juga udah beda sekarang. Kamu sama dia sekarang tinggian dia.”
Beneran tuh? Paling masih bocil, Mam heboh deh.
“Sekarang kamu bawa sarapan ini ke kamar tamu,” seru Mama membuatku linglung.
“Emang siapa yang di kamar tamu? Ada orangnya ya? Mam nggak kasih tahu Anjel?” tanyaku.
“Kamu kan tadi malam, pulang langsung tidur. Jadi, Mam nggak berani bangunin kamu waktu Alta datang.”
What? Bocil ada di sini..
“Mam aja deh yang bawa sarapan ini. Aku nggak mau ketemu bocil,” tukasku dengan cepat.
“Bocil siapa? Kan yang di kamar tamu Alta.”
“Nggak mau, Mam. Pokoknya Anjel nggak mau.”
“Apanya yang nggak mau?” Sosok laki-laki tinggi muncul dari tangga sambil mengacak-acak rambutnya yang kusut.
Alta?  Dia tinggi banget. Bahaya nih. Danger. Awas nyangkut!
“Kenapa, Njel terpesona?”
Huwekks. Cuma bebek berenang yang bisa bilang aku terpesona.
“Eh, siapa juga yang terpesona sama kamu? Ih, kurang kerjaan aja.”
“Lho bukannya memang begitu ya. Hahaha,” ujarnya sambil menunjukkan gigi yang berbaris rapi.
Manis juga kalau ketawa. OMG ANJEL. Jangan ditatap lagi. Danger.
“Kata Tante, kamu habis dipecat dari pekerjaan kamu ya? Artinya kamu sekarang sedang butuh kerjaan kan? Aku ada tuh kalau kamu mau.”
Ih, sok tahu banget sih nih orang.
“Kenapa bengong? Pasti kamu lagi mikirin aku ya?” tebaknya.
“Ih, sok tahu banget nggak kali. Ngapain aku mikirin kamu. Nggak penting,” tukasku sinis.
“Nggak penting kok jawabnya panjang banget.”
Ih, nyebelinnya nggak hilang-hilang. Bocil nyebelin..
“Wah, kalian sudah akrab lagi ya! Tante suka lihatnya,” ujar Mama membuatku tersedak.
What? Akrab dari segi mananya? Ih, Mam nggak bisa bedain akrab sama sebel.
“Oh, iya! Ta, nanti ajak Anjel jalan-jalan ya! Soalnya Anjel kan baru aja patah hati jadi ya butuh refreshing. Kamu bisa kan ajak Anjel jalan?”
“Wah, nggak bisa Tante. Ini hari pertama saya di sini. Saya ada janji mau ketemu teman-teman.”
Aneh. Nggak biasanya. Anjel seharusnya kamu seneng dong.
“Lho, kan kamu bisa ajak Anjel. Sekalian kalau perlu dikenalin ke teman-teman kamu.”
Mam!!!! Iuuww.. Apa-apaan sih Mam?
“Mam, Alta kan nggak bisa ya udah nggak usah dipaksa. Iya kan, Cil?”
“Ya udah kalau Tante memaksa, nanti Anjel saya kenalkan sama teman-teman saya.”
Arrgghhh.. Ni anak apa sih maunya. Bocil nyebelin.
“Nah, gitu harusnya dari tadi. Tante kan jadi senang.”
What? Ini namanya konspirasi..
“Tapi Anjel kan belum bilang iya, Mam..”
Mama mengedipkan matanya dengan riang. Aku tak bisa apa-apa. Tanda palu hakim sudah dijatuhkan. Mau meja hijau, bundar, kotak keputusan Mam selalu membebaniku.
***
“Anjel! Mam, pergi dulu. Alta udah siap kamu jangan lama-lama dandannya!” seru Mam dari bawah.
Siapa juga yang mau dandan? Orang nggak niat dipaksa juga.
Kuacak-acak rambutku di depan cermin. Kupilih sebuah kaos oblong dan celana jeans. Kutatap sekali lagi diriku di cermin. Senyumku mengembang dan sirna ketika suara ketukan terdengar di pintu.
“Cupu banget. Hahaha. Anjel, dari dulu gaya lo nggak berubah ya. Lo bakal malu kalau ketemu temen-temen gue. Hahaha,” ejek Alta waktu kubukakan pintu.
“Ketawa aja terus! Siapa juga yang mau keluar sama kamu? Denger ya, Cil, kalau mau pergi, udah pergi aja. Mam juga nggak bakalan tahu kalau kamu nggak jadi keluar bareng aku.”
“Lo pikir gue apa? Cowok yang lari dari tanggung jawab? No, no, no. Gue akan jalani amanat dari nyokap lo.”
Sok banget nih anak. Arrggghh pakai carmuk di depanku. Nggak mempan.
“Idih, pakai lebai segala! Udah deh, kamu pergi sendirian aja. Aku juga udah ada janji sama orang lain,” ujarku ogah-ogahan.
“Ya udah gue tungguin.”
What? Ni anak nggak paham juga maksudku. Hello! Kayaknya butuh dijelasin deh.
“Kamu pikir kerjaanku sedikit apa? Aku harus ke sana kemari nggak cuma duduk-duduk, ketemu temen-temen kamu. Asal kamu tau, aku dari awal nggak setuju.”
“Siapa suruh keluar dari kerjaan kamu yang dulu?”
“Capek ya ngomong sama kamu!” ujarku ketus seraya mengunci pintu kamar.
“Ya udah deh kalau gitu gue bantuin, tapi lo jangan marah-marah!”
“Kamu jadi cowok bawel banget sih.”
“Ayo ikut aku!” serunya seraya menarik tanganku tanpa persetujuanku. Ia sukses membuatku mengerutu di sepanjang perjalanan.
“Mau kemana? Aku bilang aku sudah ada janji sama orang lain. Apa dari tadi kamu nggak denger?” gerutuku kesal.
“Udah, jangan kesal gitu dong! Bentar lagi juga sampai,” jawabnya santai sambil memegang kemudi. 
Aku dibawa masuk ke sebuah rumah kuno dan bertemu banyak orang. Tanpa canggung Alta memegang tanganku dengan lembut. Sesekali hatiku berkata dia telah berubah menjadi anak manis.
“Guys, ini temen baru kita. Kenalin namanya Anjel.”
“Hai, Anjel!” sapa semua orang dalam ruangan berbalut suasana Eropa. Aku berusaha melepas tangan Alta tapi tangannya tak mau lepas.
“Salam kenal semua,” sahutku sambil membungukkan badanku. Semua orang tertawa melihatku.
Sial aku dipermalukan. Pasti karena tangan bocil yang tak mau lepas.
“Apa itu cara terbaikmu untuk memberi salam? Kau pikir kau sedang berada di mana?” bisiknya lirih terdengar mengejek.
“Apa maksud kamu?” teriakku membuat orang-orang yang tertawa dan berbisik-bisik berhenti.
OMG. Aku mempermalukan diriku sendiri sekarang. Bodoh, mudah sekali aku berteriak di tempat umum seperti ini. Pasti mereka menganggapku tak tahu sopan santun.
“Maaf semua. Aku tak sengaja. Aku tak akan mengulanginya. Maaf. Maafkan aku,” pintaku sambil berputar ke segala arah.
“Apa hanya itu yang bisa kamu lakukan? Minta maaf dan berputar-putar seperti itu? Hahaha. Kau benar-benar aneh. Ikut aku!”
***
“Aku mau pulang,” ujarku kesal karena bocil memperlihatkanku mimpi yang terlupakan. Ruangan yang kulihat berisi baju-baju lengkap dengan tempat pemotretan.
“Kenapa? Lo nggak suka?”
“Apa ini juga perintah Mam? Aku bisa cari pekerjaan lain, Cil. Terima kasih.”
“Njel, ini inisiatif gue sendiri, bukan perintah Tante.”
“Oh ya? Berarti kamu melakukan kesalahan terbesarmu hari ini.”
“Maksud lo apa? Apa yang salah dengan semua ini? Apa gara-gara ini perusahaan saudara ipar sepupu bokap gue? Atau gara-gara gue bukan fotografernya? Ini kan mimpi lo dari kecil menjadi desainer meskipun cuma di redaksi majalah seperti ini.”
Aku tak menjawab. Kualihkan konsentrasiku pada ponsel di gengamanku. Mam mengirim sebuah pesan.
What? Apa-apaan si Mam ini? Aku disuruh jemput tiga adikku bersama Bocil?
“Ada apa?” tanya Alta penasaran melihat mimik mukaku yang tidak bersahabat.
“Gara-gara kamu ajak aku ke sini, aku di blacklist. Udah deh, sampai kapan pun aku nggak akan ambil kerjaan ini. Karena tadi kamu udah kenalin aku sama temen-temen kamu jadi kita udah nggak ada urusan lagi. Okey? Jadi sekarang aku pergi sendiri dan kamu jangan ikuti aku ataupun menarik tanganku.”
“Bukannya lo disuruh Tante buat jemput adik-adik lo bareng sama gue?”
Dueerr. Warning. Dari mana Bocil tahu?
“Kok kamu bisa tahu? Jangan-jangan ini juga termasuk inisiatif kamu?”
“Bukan kali ini inisiatif Tante. Suer deh!”
“Masa bodo, pokoknya aku mau jemput adik-adikku sendiri tanpa kamu. Jadi jangan macam-macam!” seruku setengah berteriak. Tanpa basa basi aku melangkah meninggalkan ruangan di mana hanya ada kami berdua.
“Tunggu!” teriaknya sambil setengah berlari mengejarku.
“Apaan lagi sih Cil? Sekali nggak tetep nggak.”
“Lo tahu rute jalan dari sini ke sekolah adik-adik lo? Ya udah kalau mau jemput sendiri. Silahkan saja tapi kalau tersesat jangan kembali ke sini dan merengek minta dikasih tahu karena gue nggak akan pernah kasih tahu.”
OMG. Ini kan daerah yang asing buatku. Bagaimana kalau aku tersesat? Bagaimana kalau Bocil beneran nggak mau ngasih tahu? Ah, pasti ini hanya sebuah gertakan!
“Aku bisa tanya orang lain kalau tersesat. Tinggal panggil Taksi bereskan.”
“Coba saja! Kalau boleh gue kasih tahu di sini nggak ada taksi, adanya angkot kalaupun mau ke kota harus oper tiga kali.”
Ih, nyebelin banget sih Bocil! Kalau tahu begitu kenapa nggak langsung tarik tanganku aja sih? Kalau aku membatalkan kata-kataku tadi sama saja menjilat ludah sendiri. Lalu mau di kemanakan harga diriku?
“Biarin, masa bodo!” ujarku ketus.
“Bye bye, hati-hati ya!” Bocil membalikkan badan, meninggalkanku dengan santainya.
Benar-benar tidak peka. Nggak mungkin kalau aku minta bantuan dia setelah aku mengatakan tidak padanya. Manusia apa bukan sih dia?
***
“Lho, kok pulang sendiri? Adik-adik kamu mana?” tanya Mam.
“Mereka udah nggak ada di sekolahnya. Lagian kan mereka pada nggak mau Anjel jemput. Mana tadi pagi Mam kelihatan setuju kalau aku nggak jemput Taufan, Izzi sama Tian. Kenapa Mam tiba-tiba berubah pikiran?” jawabku sambil berbaring di sofa empuk. Tubuhku sudah tak sanggup untuk bangkit.
“Aduh, Anjel kamu bagaimana sih? Cepat kamu cari mereka!” seru Mam terlihat panik.
What? Mam nggak tahu susah payah aku sampai rumah, sekarang mesti nyari tiga anak yang nggak tahu di mana.
“Paling mereka main Mam. Udah santai aja, kalau udah capek pasti mereka pulang sendiri.”
“Anjel, kalau kamu nggak mau nyari adik-adik kamu itu, sekarang telepon Alta biar dia yang nyari!” seru Mam seraya menjulurkan telepon ke depan mukaku.
“Mam aja deh! Aku nggak mau denger suara dia. Jangan-jangan ini konspirasi Mam sama Bocil.”
“Kamu ini bagaimana sih? Punya adik tiga-tiganya hilang masih juga berpikir seperti ini. Cepat telepon Alta, ini perintah!” seru Mam yang tak bisa dielak.
“Iya, iya,” jawabku akhirnya luluh.
“Halo,” ujarku dengan berteriak. Reaksi Mam adalah mencubitku. “Halo, Ta,” kupelankan suaraku.
“Ya, kenapa Njel?” ujar Alta dengan suara yang lembut.
DEGG. Anjel fokus!!!
“Kamu sekarang dimana? Cepat ke sini nggak pakai lama! Bye bye!” Dengan cepat aku menyelesaikan kalimatku dan menutup telepon tanpa memberi kesempatan pada Alta untuk menjawab. 
“Gimana Njel? Adik-adik kamu sama Alta nggak?” tanya Mam.
“Iya Mam, mereka sama Alta. Mam santai aja sebentar lagi mereka pulang,” ungkapku berbohong.
 Tuhan kalau kali ini aku berbohong maafkanlah. Ini darurat Tuhan. Engkau pasti mengerti.
Sesaat Mam terlihat sudah tenang. Aku bergegas ke kamar. Sebuah benda tergantung di daun pintu. Setelah kudekati ternyata sebuah jepit rambut berwarna merah yang hilang enam belas tahun silam. Kini ia tergantung di daun pintu kamarku. Aku ingat betul bagaimana jepit rambut ini jatuh ke sungai tetapi aku tak ingat jika Alta mengambilnya.
***
Suara mobil Alta terdengar dari dalam kamar. Aku bergegas turun dan menemuinya. Kudengar suara riuh sebelum sampai ruang tamu.
Tante Ola? Om Nara? What happen? Jangan bilang ini perjodohan! Akulah yang akan protes pertama kali.
“Anjel, kamu sudah besar sekarang,” sapa Tante Ola yang melihatku dari jauh. Aku hanya tersenyum dan berlalu.
Mam, Tante Ola dan Om Nara asyik ngobrol sementara aku mencari batang hidung Alta sampai ke teras. Akhirnya kutemukan di samping rumah sedang bermain kembang api bersama tiga adikku yang masih mengenakan seragam sekolah.
“Fan, Izzi, Tian kalian masuk! Ganti baju kalian sana!” teriakku yang tak peduli melihat keasyikan mereka.
“Ah, kakak nggak asyik!” keluh Tian.
“Kakak nggak bisa liat orang senang nih, payah!” keluh Izzi.
“Nggak mau,” tukas Taufan sambil menjulurkan lidahnya dan tetap bertahan.
Setelah mendekati mereka berempat kutarik tangan Alta menjauh dari adik-adikku.
“Maksud kamu apa? Kamu mau membawa pengaruh buruk sama adik-adikku? Kamu lihat, mereka jadi pemberontak semua semenjak ada kamu. Kamu bawa kemana saja mereka jam segini baru sampai rumah? Kamu tahu aku sudah sampai sekolah mereka? Tapi mereka udah nggak ada. Ini semua gara-gara kamu.” Kutumpahkan semuanya lewat kata-kata.
“Hei, lo kenapa? Bukannya tadi gue udah ngajak lo buat jemput bareng? Tapi lo tadi nolak. Jadi bukan salah gue dong,” tukasnya.
“Ih, udah aku bilang biar aku yang jemput mereka sendiri.”
“Iya, tapi memangnya lo sampai sana jam berapa tadi? Gue sampai lebih dulu daripada lo. Lagian tante juga minta tolong sama gue.”
“Tapi paling nggak kamu itu bilang kalau udah jemput mereka. Jadi aku nggak perlu capek-capek ke sana.”
“Lo tadi nggak pesan kayak gitu deh. Jadi bukan salah gue dong.”
AAAAAAAAARRRRRGGGGGGHHHHHH!! Bocil nyebelin.
“Capek ya ngomong sama kamu.”
“Anjel,” panggilnya saat aku sudah membalikkan badan. “Kenapa sih lo jutek sama gue?”
“Kamu pasti udah punya jawabannya sendiri,” ujarku tanpa menoleh. 
***
Aku berdiam diri di kamar semenjak meninggalkan Bocil. Pertanyaan Bocil menyisakan tanda tanya untukku. Ternyata aku juga tak mengerti. Meskipun dari kecil aku kesal dengan ulah Bocil tapi baru kali ini ia bertanya mengapa aku bersikap jutek padanya.
“Anjel sayang, kamu udah tidur?” Mam membuka pintu kamarku dan mengaburkan lamunanku.
“Ada apa Mam?” tanyaku balik.
“Ada beberapa hal yang mau Mama sampaikan ke kamu, tapi kamu harus janji akan baik-baik saja.”
DEGG. Kata-kata Mam membuatku takut. Dulu sewaktu umurku delapan belas tahun Mam juga seperti ini. Setelah perceraian itu Mam tak pernah melakukannya lagi, baru terulang hari ini.
Ini pasti soal perjodohan dengan Bocil. Tenang Anjel pasti kamu bisa menolaknya dan kamu pemenangannya.
“Mam, jangan bikin Anjel takut.”
“Kamu masih ingat teman kecil kamu selain Alta?” ujar Mam sambil memegang telapak tanganku.
“Siapa Mam? Ara?” tebakku.
Mam menggelengkan kepala.
“Tita?”
Masih menggelengkan kepala.
“Bara?”
Masih belum benar.
“Satya?”
Belum juga benar.
“Coba kamu ingat lagi! Masak kamu lupa sama teman kamu? Padahal dulu kamu, Alta dan dia slalu ke mana-mana bersama,” seru Mam.
“Siapa sih Mam? Anjel bener nggak inget. Memangnya dia kenapa Mam?”
“Kalau Raka kamu ingat?” tanya Mam dengan hati-hati.
Raka   : “Anjel tungguin!!”
Aku     : “Kamu sih larinya kayak kura-kura.”
Raka   : “Anjel ini jepit rambut buat kamu.”
Aku     : “Jepit rambut? Aku udah punya banyak.”
Raka   : “Anjel kamu mau coklat nggak?”
Aku     : “Nggak mau. Coklat bikin gigiku rusak.”
Raka   : “Anjel aku punya dua es krim. Satu buat aku, satu buat kamu.”
Aku     : “Aku nggak mau. Habis es krimnya cuma satu, Alta kan jadi nggak punya es krim.”
Raka   : “Anjel kalau kamu jadi desainer nanti aku yang jadi fotografernya.”
Aku     : “Nggak boleh. Biar Alta aja yang jadi fotografernya.”
Raka   : “Kenapa sih aku dijutekin terus?”
Aku     : “Karena kamu juga jutekin Alta.”
Semua kenangan semasa kecil itu kembali mengisi kepalaku. Raka si baik hati yang selalu tak ku pedulikan karena lebih memilih Alta yang usil itu. Memang sudah lama tak terdengar kabar Raka sampai aku melupakannya. Hari ini karena Mam aku jadi teringat dia lagi.
“Sudah ingat sekarang?” tanya Mam.
Aku menganggukkan kepalaku.
“Tadi Tante Ola cerita banyak tentang dia.”
“Trus dia sekarang di mana Mam? Anjel pengen ketemu nih sama dia.”
“Dia ada di depan kamu kok, Njel,” jawab Mam membuatku bingung.  
“Depan? Depan mana Mam? Ih, bercandanya Mam nggak lucu.”
“Itu yang kamu panggil Alta.”
“Mam itu kan Alta bukan Raka. Mam gimana sih? Kan Mam sendiri yang pertama kali panggil dia Alta.”
“Ini yang mau Mam jelaskan ke kamu.”
“Maksud Mam apa? Kalau itu Raka, lalu Alta kemana?”
“Seperti secangkir sereal yang kamu minum setiap pagi, kamu akan tahu itu sereal yang berbeda atau sereal favoritmu setelah meminumnya. Mam tahu pasti kamu juga merasakannya tapi kamu tak mengerti dengan apa yang terjadi. Kalau kamu mengenalinya sebagai Alta ataupun Raka hari ini, tak apa. Kelak hati kamu yang akan berbicara bukan mata kamu. Apa yang membuatmu mengatakan itu Alta perhatikanlah, apa yang membuatmu berpikir itu Raka pahamilah. Mam nggak tahu pastinya di mana, tapi jika ada Raka di situ juga ada Alta.” Mam meninggalkanku sendiri tanpa kata-kata selanjutnya.
***

Komentar

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda di sini