Langsung ke konten utama

KEPERGOK EMAK


“Dona, Doni!” panggil Emak dari dalam warung. Aku dan saudara kembarku Doni berlari mendekati Emak.
“Ada apa Mak? Kayaknya penting banget?”  tanya Doni sambil garuk-garuk kepala.
“Ini daftar belanjaan hari ini. Nanti kalian berdua gantiin Emak belanja ke pasar. Emak ada kondangan di RT sebelah,” seru Emak sambil menaruh secarik list belanjaan ke tanganku.
“Yah, Emak, Dona mau ambil jahitan seragam ke tetangganya Nuri,” tukasku seraya menunjuk arah rumah Nuri.
 “Doni juga nggak bisa, Mak. Doni mau main bola, Mak. Ada pertandingan lawan RW sebelah,” ujar Doni tak mau kalah denganku.
“Kalian berdua ini sama aja.”
Maaf ya Tuhan kami berdua berbohong kepada Emak. Emak pasti mengizinkan ini kalau tahu.
“Ya kan kita berdua kembar Mak. Emak kan yang melahirkan kita?” Doni masih sempat mengajak Emak bercanda.
“Ya sudah, mana daftarnya tadi biar abang kalian yang Emak suruh,” pinta Emak. Tanganku refleks menaruh kertas list belanjaan ke tangan Emak.
“Nah, gitu dong Mak. Kenapa nggak dari tadi,” celetuk Doni blak-blakan.
Seusai Emak masuk ke dalam aku dan Doni menyatukan tangan kanan dan kiri lalu senggol-senggolan kemudian lari sejauh-jauhnya.
“Don, kenapa tadi kita lupa minta duit ke Emak? Sekarang pasti Emak udah berangkat kondangan,” ujarku begitu sadar.
“Nah, itu juga yang aku pikirin dari tadi. Kalau begini caranya percuma. Tahu gitu tadi kita ambil tuh daftar belanjaan sekalian pergi ke pasar.” 
“Paling enggak kita dapat ongkos gratis buat ke pasar dan uang tambahan. Kalau begini gagal semua acara kita.”
“Emang kamu nggak punya duit sepeser pun?” tanya Doni.
Aku menggeleng.
“Kalau begini sih gagal semua. Gimana kalau sekarang kita pulang sebelum bang Roy pergi ke pasar? Kita berdua bisa gantiin bang Roy dan sekalian pinjem motornya,” usul Doni.
“Brilian Don. Setuju.”
Di tengah perjalanan pulang kulihat anak tetangga sebelah baru pulang dari pendakian. Tas ransel besar di punggungnya terlihat sangat berat. Badannya kekar tapi sayang kulitnya gelap. Biarpun begitu tetap keren.
“Dona, ayo jalan! Keburu bang Roy pergi lho!” seru Doni tak sabaran.
“Ah, kamu Don nggak bisa lihat orang seneng satu detik aja!” keluhku kesal. Akhirnya aku berjalan dengan komat kamit, sepanjang jalan menggerutu tetapi tiba-tiba Doni menyuruhku berhenti sesampainya di depan rumah.
“Dona, itu bukannya orang yang kekar tadi? Kenapa udah sampai depan rumah kita?” tanya Doni begitu penasaran. Berbeda dengan reaksi Doni, aku justru tak bisa mengekspresikan perasaanku.
“Pasti ambil jalan pintas,” tebak Doni. “Dona, ye.. melamun, woi!”
“Apaan sih, Don?”
“Aku urus bang Roy, kamu urus si kekar itu,” seru Doni membagi tugas. Great. Hari keberuntunganku tiba. Anak kuliahan, berbadan atletis meskipun tak putih tapi lumayanlah buat dijadikan gebetan di kampung.
Doni bergegas masuk rumah menahan bang Roy, sementara aku kikuk berhadapan si tubuh atletis itu.
“Cari siapa ya Bang?”
“Oh, Dona. Mau beli air mineral, Don. Ada kan?”
OMG. Kok tahu namaku? Aku jadi tersandung. DUGG.
“Kamu nggak pa-pa kan?”
“Nggak pa-pa Bang. Cuma refleks aja,” celetukku spontan.
Dona ngomong apa sih kamu? Refleks dari mananya itu namanya salting.
“Beneran ada kan air mineralnya? Kalau nggak ada aku cari ke warung lain.”
“Eits, jangan salah Bang, meskipun warung Emak saya kecil tapi dagangan komplit, lengkap-kap deh pokoknya,” ujarku hiperbol.
Saat aku mengambil air mineral dari dalam warung, bang Roy muncul bersama Doni. Bang Roy langsung sok kenal dengan si tubuh atletis yang mau beli air mineral.
“Hei, bro lama nggak ketemu! Udah ke mana aja nih?”
Bro bro bro, memangnya bang Roy tahu singkatannya? Jangan-jangan dipikirannya brownies kan enak tuh kalau dimakan.
“Ini baru turun dari Semeru,” jawab abang bro.
“Hei, mikir makan melulu,” sahut Doni memotong lamunanku.
“Kok tahu aku mikirin makanan?”
“Aku kan saudara kembarmu. Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan.”
“Kebiasaan buruk, memotong lamunan orang kok dipelihara. Udah ah Don! Air mineralnya keburu menjamur di tanganku.”
***
Perjalanan ke pasar yang cukup melelahkan. Gara-gara motor bang Roy mogok harus di dorong sampai ke pasar.
“Kenapa jadi banyak cobaan begini sih?” keluhku setelah sampai depan pasar.
“Ini gara-gara kita bohong ke Emak tadi,” sahut Doni seraya menghelakan nafas.
“Kan kalau kita nggak bohong, jadi nggak surprise,” balasku.
“Ya kalau begitu ambil aja resikonya. Demi siapa kita di sini sekarang?”
“Emak,” jawabku singkat.
“Nah, itu tahu. Udah sekarang kamu yang belanja ya. Aku nunggu di sini, jagain motor.”
“Tega banget sih Don. Pokoknya kamu ikut. Motornya nggak bakalan hilang tenang aja deh. Siapa juga yang mau motor butut kayak gitu.”
“Eits, justru motor antik kayak gini punya nilai sejarah yang tinggi kalau dibandingin nilai sejarah kamu yang ....”
Kutarik saja tangannya sebelum mengeluarkan kalimat selanjutnya. Tubuh Doni pun mau tak mau mengikuti gerak tanganku.
“Helm, Don,” teriaknya membuatku menoleh. Aku cekikikan melihat helm masih melekat di kepala Doni.
“Makanya lain kali helmnya ditaruh dulu!” seruku sok menasehati.
“Gimana mau naruh, kamu aja langsung narik tanganku,” tukasnya.
“Kamu sih maunya enak sendiri. Saudara kembar itu harus bahu membahu. Iya satu iya semua. Nggak satu, nggak semua.”
“Kamu tadi bilang iya satu, iya semua. Nggak satu, nggak semua. Terus kenapa yang menang kamu?”
“Karena lady’s first,” jawabku sambil menjulurkan lidahku.
***
“Don, sadar nggak daftar belanjaan hari ini lebih banyak dari hari biasa?” tanyaku terheran-heran.
“Mana?” Doni menarik kertas list belanjaan. SRREEK. Sobek.
“Doni!!!!” teriakku kesal. “Kalau niatnya mau liat ya jangan disobekin gini dong!”
“Cuma sobek dikit masih bisa disatuin. Nih jadikan,” ujarnya tanpa ekspresi sambil memperlihatkan kertas yang sobek masih bisa dibaca.
“Awas ya Don! Jangan main-main!” ancamku.
Slow my sister. Jadi beli kue nggak?”
“Uangnya tinggal segini Don,” jawabku sambil membentangkan selembar uang dua puluh ribu.
“Ah, segitu cukup buat beli yang kecil!” ujar Doni sok santai tapi aku tahu pasti dia sedang putar otak.
Akhirnya mau tak mau aku dan Doni pergi ke toko kue di seberang pasar berharap bisa membawa pulang kue dengan uang dua puluh ribu rupiah.
“Mbak, ada kue tar kecil?” tanya Doni ke seorang karyawan toko.
“Tinggal yang ukuran sedang, Dik. Gimana?”
“Don, ukuran sedang,” bisik Doni padaku.
“Tanya harganya dulu aja, Don,” bisikku padanya.
“Mbak, yang ukuran sedang harganya berapa ya?” tanya Doni mulai berkeringat dingin.
“Yang ini lima puluh ribu, ini empat puluh lima ribu, terus ini empat puluh ribu dan yang ini tiga puluh lima ribu. Bagaimana, Dik? Mau pilih yang mana?” jawab pelayan toko itu dengan ramah.
Mataku hanya berputar ke kiri ke kanan, kiri kanan. Sesekali aku menelan ludahku. Tak ada yang menarik perhatianku. Ini bukan soal tampilan tapi soal harga. Uang dua puluh ribu dibandingkan dengan harga kue itu.
“Don, kalau harganya segitu nggak jadi aja deh,” ujarku lirih.
“Dona, malu dong udah tanya-tanya harga tapi nggak beli,” balas Doni lirih.
“Ya tapi harganya segitu, Don. Mana mampu kita beli kue itu dengan harga dua puluh ribu?”
“Kalau begitu cari kue yang lain aja. Gimana?” tanya Doni.
“Kue yang kayak apa Don?” tanyaku balik.
“Kayak...”
Aku menelan ludahku dan menepuk bahu Doni membuatnya berhenti bicara.
“Dona, Doni!”
“Emak!!” Gantian Doni yang menelan ludah.
***

Komentar