Kamis, 15 September 2011

Kemampuan Komunikasi Anak Tuna Rungu


Menurut Kridalaksana (2000) kemampuan komunikasi adalah kemampuan komunikator (orang yang menyampaikan informasi) untuk mempergunakan bahasa yang dapat diterima dan memadai secara umum.
 
Defenisi lain dari kemampuan komunikasi adalah kemampuan individu dalam mengolah kata-kata, berbicara secara baik dan dapat dipahami oleh lawan bicara (Evans & Russel, 1992).  Batasan lain menurut Berelson & Steiner (dalam Mulyana, 2001) mengartikan kemampuan komunikasi sebagai kemampuan mentransmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan dengan menggunakan simbol-simbol seperti perkataan, gambar, figur, grafik dan sebagainya.  Menurut Book (dalam Cangara, 2002) kemampuan komunikasi adalah proses simbolik yang menghendaki individu agar dapat mengatur  lingkungan dalam hubungan sosialnya melalui pertukaran informasi untuk mengubah sikap dan tingkah laku orang lain.

Dari berbagai definisi diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa kemampuan komunikasi adalah suatu kecakapan individu dalam mengolah kata-kata, berbicara secara baik dalam penyampaian informasi, gagasan, emosi, keterampilan dengan menggunakan simbol-simbol seperti perkataan, gambar, figur, grafik dan sebagainya sehingga dapat dipahami dengan baik oleh lawan bicaranya.
Sedangkan dalam penelitian ini memfokuskan pada tunarungu. Kemampuan komunikasi yang dimiliki oleh tunarungu terbatas dalam menyampaikan pikiran, perasaan, gagasan, kebutuhan dan kehendaknya pada orang lain seperti perkataan. Pada remaja tunarungu menggunakan komunikasi khusus yaitu menggunakan isyarat, gerak bibir, ejaan jari, mimik atau gesture, serta pemanfaatan sisa pendengaran dengan alat bantu (hearing aid).  Dapat ditarik kesimpulan bahwa kemampuan komunikasi tunarungu adalah suatu kecakapan individu dengan menggunakan isyarat, gerak bibir, ejaan jari, mimik atau gesture, serta pemanfaatan sisa pendengaran dengan alat bantu (hearing aid) dalam penyampaian informasi, gagasan, emosi, sehingga dapat dipahami dengan baik oleh lawan bicaranya.


Menurut A. Van Oden (dalam Bunawan dan Cecilia, 2000) bentuk komunikasi pada anak tunarungu tidak berbeda dengan bentuk komunikasi anak yang mendengar, yaitu dapat dibedakan antara bentuk komunikasi ekspresif dan bentuk komunikasi reseptif. Komponen komunikasi ekpresif meliputi bicara, berisyarat, berejaan jari, menulis dan memimik. Sedangkan komponen komunikasi reseptif meliputi membaca ujaran, membaca isyarat, membaca ejaan jari, membaca mimik serta pemanfaatan sisa pendengaran dengan alat bantu. Komunikasi tersebut digunakan dengan menggunakan kode yaitu cara verbal dan non verbal.

SUMBER :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda di sini

Blogroll