Langsung ke konten utama

Etika Penelitian dalam Komunitas Bahasa Isyarat



Kode etik ada bagi kebanyakan asosiasi profesional yang anggotanya melakukan penelitian pada, untuk atau dengan komunitas bahasa isyarat. Bagaimanapun, kode etik ini bisu sehubungan dengan kebutuhan untuk membentuk etika penelitian dari sisi budaya, sebuah permasalahan dari kepentingan khusus komunitas bahasa isyarat. Para ilmuwan yang menulis dari perspektif feminis, pengguna asli, dan para pembela hak asasi manusia telah sama-sama menunjukkan ketidak puasan yang serupa terhadap kekurangan mereka akan representasi dalam perbincangan tentang etika penelitian. Para anggota dari komunitas bahasa isyarat dan pembela mereka dapat mempelajari dari pihak-pihak lain yang juga turut andil dalam perjuangan ini dan memberi kontribusi cukup banyak untuk topik ini. Kami mengajukan perkembangan bagi ketentuan komunitas bahasa isyarat (SLCTR) sebagai media untuk melakukan penelitian oleh, untuk, dan  dengan komunitas bahasa isyarat. (ABSTRAK PUBLIKASI)

Teks Penuh
Hak cipta  American Annals of  Deaf Winter 2009
Orang-orang tuna rungu mencerminkan perbedaan dalam keberagaman yang ditemui dalam populasi pada umumnya, dengan lapisan tambahan berupa kompleksitas yang berhubungan dengan level dan tipe ketulian, keadaan pendengaran orang tua, akses dan kemampuan untuk menggunakan alat bantu, penggunaan bahasa berdasarkan isyarat/ atau suara, dan penggunaan bahasa isyarat yang bisa dipahami secara visual. Kompleksias tersebut menyebabkab tantangan yang cukup sulit untuk menjalakan etika penelitian karena permasalahan tentang kekuatan yang melingkupi warisan budaya dan linguisik pada komunitas tuna rungu. Ladd (2003, melalui media cetak) mengajukan penerapan model teori poskolonial dan linguistik budaya sebagai cara untuk memahami dan menunjukkan aspek yang rumit dari komunitas tuna rungu (D/ deaf) ini dalam penelitian yang bertanggung jawab secara etis. 1 Lebih jauh lagi, dia berspekulasi bahwa model etika penelitian dalam komunitas Tuna Rungu  diuamakan kepada komunitas Bahasa Isyarat karena hal tersebut merepresentasikan sebuah “Budaya Kohektifis dimana para partisipan terikat satu sama lain melalui tradisi budaya, keyakinan, aksi dan tanggung jawab yang serupa, – baik secara perseorangan maupun berkelompok.”2 Tujuan dari artikel ini sdalah untuk mengeksplorasi makna dari etika penelitian dibawah payung budaya Komunitas Bahasa Isyarat melalui pemeriksaan secara kritis dari sisi ilmu pengetahuan berhubungan dengan refesensi istilah dari transformasi sosial, keadilan dan pengguna asli untuk penelitian dalam komunitas mereka.
Pentingnya dari etika penelitian didukung oleh baik oleh perintah yang resmi atau secara moral. Pertimbangan eis merupakan bagian integral dari perencanaan penelitian, penerapan dan penggunaan. Di Amerika Serikat, petunjuk etika untuk penelitian berdasarkan kepada pinsip-prinsip dari Komisi Nasional untuk  Perlindungan Manusia sebagai Subyek dalam Penelitian  Biomedis dan Perilaku (1978), yang diletakkan dalam proses penelaahan kembali dari Institutional Review Boards dan lebih jauh dilambangkan dalam Amandemen Buckley (yang juga dikenal sebagai Aksi Hak Edukasi dan Privasi Keluarga pada 1974), Aksi Hatch, dan Aksi Penelitian Nasional (Mertens 2005)
Di Amerika Serikat, etika penelitian yang mengikut sertakan partisipan manusia didasarkan pada prinsip-prinsip yang diberlakukan sebagai pembenaran terhadap banyak instruksi dan evaluasi etis dari tindakan manusia: rasa hormat, kemurahan hati, dan keadilan. Laporan Belmont (1979) memberikan definisi atas konsep tersebut sebagai berikut: Rasa hormat mengacu pada memperlakukan orang sebagai pribadi yang mandiri dan memberikan perlindungan bagi mereka yang memiliki kekurangan dalam kemandiriannya. (Kitchener and Kitchener, 2009).  Termasuk mengamankan keadaan partisipan dengan tidak membahayakan mereka, dan memaksimalkan keuntungan yang mungkin terjadi, dan meminimalkan kerugian yang mungkin terjadi. Keadilan tidak berfokus kepada hubungan indvidual antara peneliti dan partisipan namun pada distribusi media dan pelayanan dalam seting penelitian. Dengan kata lain, sebuah kelompok tidak boleh disendirikan untuk partisipasi berlebihan dalam penelitian, begitu pula kelompok lain tidak boleh dijadikan pengecualian dalam peluang tersebut. Diskusi lebih lanjut dalam komunitas penelitian sosial elah menuai beberapa argumen yang melebarkan makna dari ketentuan ini (Mertens dan Ginsberg,2009), seperti yang sudah diperlihatkan dalam kode etik yang didiskusikan pada bagian selanjutnya.
Kebanyakan asosiasi profesional seperti Asosiasi Psikologis Amerika (APA)   dan Lembaga Anak Luar Biasa (CEC) memiliki kode etik yang memusatkan masalah kultural kepada istilah yang luas tetapi tidak menitik beratkan kepada masalah kultural yang spesifik dalam penelitian komunitas Bahasa Isyarat. Pemberian kode tersebut dimaksudkan untuk sebuah kemampuan penerapan yang luas, penekanan diciptakan ketika hal tersebut diaplikasikan dalam konteks kultural yang spesifik. Contohnya, kode etik CEC menyebutkan bahwa para ahli pendidikan luar biasa diperlukan untuk melindungi hak-hak dan kesejahteraan para partisipan, menterjemahkan dan menerbitkan hasil penelitian dengan ketepatan dan pengetahuan tingkat tinggi, mendukung adanya pembatalan dari penggunaan sebuah prosedur penelitian yang mungkin akan berujung pada konsekuensi yang tidak diinginkan untuk partisipan, dan melatih kewaspadaan untuk mencegah penerapan yang salah maupun penyalah gunaan usaha penelitian. (Mertens dan McLaughlin, 2004). Bagaimanapun juga, kode etik CEC tidak disuarakan sehubungan dengan kebutuhan untuk membentuk etika penelitian dari sisi kultural, yang merupakan sebuah masalah tentang  kepentingan khusus dari komunitas Bahasa Isyarat.
Sebagai tambahan, prinsip-prinsip umum, petunjuk, dan kode-kode ini tidak menitik beratkan secara terang-terangan kebutuhan bagi para peneliti untuk membangun kepercayaan dengan para partisipan dalam komunitas dan untuk meyakinkan bahwa partisipan memandang penelitian sebagai suatu hal yang bernilai kolaboratif dan kultural. Secara historis, kurangnya kesadaran dari berbagai aspek kultural dari komunitas Tuna Rungu menggiring kepada sebuah penelitian yang pada saat ini bisa dianggap pelecehan secara etika. Sebagai contohnya, Psikologi Tuna Rungu (Myklebust 1964) menegaskan bahwa, ketika dibandingkan dengan orang-orang yang dapat mendengar , para Tuna Rungu lebih tidak dewasa; telah meningkatkan masalah emosional; lebih tidak sempurna, lebih naif, dan lebih primitif; memiliki koordinasi fisik yang rendah; menunjukkan tanda-tanda keterbelakangan dalam bahasa; hanya mampu menyelesaikan sebuah tugas yang jelas; dan skizofrenik, tidak stabil, suka berkelahi, ingin dikagumi, kurang manusiawi, menarik diri, terkucil, paranoid, menderita gangguan perasaan, curiga, gila, tidak mandiri, autis, dan tertekan. Ia juga menegaskan bahwa pria tuna rungu cenderung feminin dan perempuan tuna rungu cenderung masculine (ibid.). Buku Myklebust, yang digunakan sebagai bacaan standard pelatihan bagi para guru murid tuna rungu sejak pertengahan 1960an hingga 1980an (Maher 1996), lebih banyak ditulis bagi murid-murid patologi ilmu bahasa pendengaran, dan psikologi; buku tersebut juga disediakan sebagai bacaan referensi  bagi orang-orang yang “memiliki perhatian terhadap berbagai pengaruh dari kehilangan panca indera” (Review of Publications 1965). Peneliti Tuna Rungu Humphries dan Padden (dalam Maher 1996) mengomentari, “wewenang Myklebust cukup untuk membangun maksud dari pemikiran yang resmi Untuk generasi selanjutnya sebuah pengaruh kuat dalam memutuskan bagaimana anak-anak Tuna Rungu Amerika akan diajar, Psikologi Tuna Rungu Helmer Myklebust meletakkan standard.” (23). Ini merupakan contoh tentang bagaimana wacana hegemoni pada ranah akademis bisa menjadi kuat dan berbahaya bagi mereka yang secara tradisional tidak diwakili.
Karya tulis para ilmuwan dari sudut pandang feminis, penutur asli, dan pembela hak asasi manusia telah seringkali menunjukkan ketidak puasan akan kode etik yang berdasarkan pada bidang tersebut dikarenakan oleh kurangnya “suara.”3 yakni, kurangnya perwakilan atau perantara, dalam pembicaraan pada etika penelitian (Cram, Ormond, dan Carter 2004; Chilisa 2005; Osborne dan Mc Phee 2000). Sebuah bentuk literatur yang menjanjikan itu menyediakan asupan bagi pemikiran tentang bagaimana menunjukkan aspek ketidak adilan sosial ini. Para anggota dari Komunitas Bahasa Isyarat dan pembela mereka  dapat belajar dari lainnya yang telah turut berjuang, dan juga memberikan kontribusi untuk topik ini.
Pollard (1992, 1994,1996, 2002) telah mengemukakan banyak masalah etika yang berhubungan dengan seluk beluk penelitian dalam komunitas Bahasa Isyarat. Karyanya menimbulkan pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana penelitian dapat mewakili komunitas ini sehubungan dengan ketertarikan, nilai-nilai dan prioritas mereka. Pada umumnya, kesamaan diantara, begiu pula pengertian dari, pendekatan metodologis yang berbeda, sbuah populasi yang beragam, mencuatkan trend sosial, dan perkembangan baru pada berbagai bidang (Ginsber dan Mertens, 2009). Pollar (2002) menegaskan bahwa komunitas Bahasa Isyarat belum membangun organisasi apapun untuk menelaah penelitian secara spesifik tentang diri mereka sendiri. Terlebih lagi, kebutuhan untuk mengembangkan petunjuk etika bagi penelitian ilmu sosial dalam komunitas Bahasa Isyarat didukung oleh banyak perubahan terkini dari komunitas ilmu sosial secara lebih luas.
Untuk meraih tujuan kami dalam mengeksplorasi kerangka etika bagi para peneliti pada komunitas Bahasa Isyarat, kami memberikan konteks filosofis sebagai pertimbangan kode etis macam apa yang akan terlihat, memeriksa secara paralel dengan pergerakan transformasi lainnya, dan menawarkan sebuah proses dan beberapa prinsip untuk menuntun komunitas Bahasa Isyarat dalam perkembangan petunjuk penelitian mereka sendiri.

Kerangka Pemikiran Filosofis
Sebuah paradigma menyediakan perangkat untuk mengidentifikasi asumsi filosofis yang spesifik yang menjabarkan pandangan umumnya. Taksonomi elemen Guba dan Lincoln (2005) terhadap paradigma penelitian dimodifikasi oleh Mertens (2005; 2009) untuk memperoleh keyakinan dasar sepadan dengan oenelitian yang dilaksanan dengan tujuan berupa transformasi sosial. Guba dan Lincoln menjelaskan empat sistem keyakinan dasar yang menjelaskan sebuah pendirian paradigmatis: ontologi yang merupakan asumsi yang berhubungan dengan sifat dasar kenyataan; epistemologi yang merupakan asumsi tentang sifat dasar pengetahuan dan hubungan antara yang tahu dan yang akan diketahui; asumsi metodologis yang menyediakan sebuah landasan bagi pilihan-pilihan metodologi; dan asumsi aksiologis yang ditandai dengan keyakinan tentang apa yang etis.
Paradigma transformatif, dengan asumsi filosofisnya yang mengiringi, memberikan sebuah cara untuk memeriksa keyakinan terselubung yang menjelaskan peran dari peneliti sebagai seseorang yang bekerja dalam kerjasama dengan orang lain atau perubahan sosial dan dengan itulah menantang status quo. Paradigma transformatif (Mertens2005,2007,2009; Mertens, Harris dan Holmes, 2009) adalah sebuah kerangka pemikiran dari sistem keyakinan yang secara langsung mengaitkan anggota-anggota dari kelompok sosial yang beragam secara kultural sementara memusatkan pada meningkatnya keadilan sosial. Karena mereka mengakar dalam kepentingan hak asasi manusia, implikasi etis bagi penelitian dihasilkan dari pengikut sertaan secara sadar tentang jangkauan luas dari orang-orang yang secara umum tidak diikutsertakan dalam masyarakat pada umumnya. Implikasi etis tersebut berjuang mengembangkan makna dari konsep etika tradisional sehingga mereka merefleksikan lebih langsung lagi pertimbangan etis dalam komunitas yang kompleks secara kultural. Dalam artikel ini kami juga memeriksa masalah kekuatan dalam penyimpulan fokus penelitian, perencanaan, implementasi, dan kegunaan dari pendirian transformasi yang berdasar pada asumsi aksiologis yang berhubungan dengan penghormatan terhadap komunitas yang dipojokkan maupun kesadaran dari ketertarikan anggota-anggota komunitas.
Seperti yang ditunjukkan tabel I, empat keyakinan dasar melandasi asusmsi filosofis yang mengkaraktersisasi paradigma transformasi. Asumsi aksiologis mempertanyakan apa yang dianggap perilaku etis atau bermoral? Seperti yang telah diindikasikan oleh pengantar dari artikel ini, tiga prinsip-prinsip dasar, melandasi etika-etika yang berhubungan dengan pengaturan dalam penelitian: penghormatan, kemurahan hati dan keadilan. Asumsi aksiologis transformatif menantang definisi tradisional dari konsep-konsep berikut dengan dasar bahwa mereka gagal menjadi responsif terhadap mereka yang bukan bagian dari pembentukan definisi ketika Belmont Report dipublikasikan. Sebagai contoh, dalam koneks penerapan yang spesifik dalam penelitian dengan Tuna Rungu, penghormatan didefinisikan berhubungan dengan norma kultural dari interaksi dalam komunitas Bahasa Isyarat dan di seluruh dunia Tuna Rungu. Kemurahan hati didefinisikan berhubungan dengan promosi hak asasi manusia dan keadilan sosial yang meningkat. Sebuah hubungan eksplisit dibuat diantara proses dan hasil dari penelitian dan kelanjutan dari kepentingan keadilan sosial.
Konsep validitas dalam penelitian sosial menyatakan bahwa seseorang dapat membuat penegasan yang mendapatkan dukungan dalam studi penelitian dan oleh sebab itu memasuki arena aksiologis sebagai dimensi kritis dalam pencapaian praktek etis penelitian. Untuk membangun validitas dari penelitian ilmu pengetahuan sosial  melalui lensa budaya, peneliti harus menunjukkan keberagaman kultural dengan mengembangkan sebuah pemahaman akurat tentang komunitas melalui interaksi yang bermakna dan penuh penghargaan dengan anggota komunitas tersebut. Para peneliti menanamkan bias terhadap validitas yang terancam pada grup yang beragam secara kultural, yang di sisi lain kesadaran budayanya tinggi. (Kirkhart 2005). Sebuah dimensi penting dari validitas penelitian mengikutsertakan apresiasi dan pemahaman peneliti akan budaya. Pada 1995, Kirkhart(ibid.) memperkenalkan istilah validitas multikultural untuk merujuk kepada “otentisitas akan pemahaman melalui konteks kultural yang berjumlah banyak dan saling memotong.” (22).
Asumsi ontologis mepertanyakan, apakah sifat dasar kenyataan? Dalam konteks penelitian, peneliti mengidentifikasi variabel tertentu dan mengukur aspek mereka dengan maksud mencari kebenaran atau apa yang disadari sebagai kenyataan dalam beberapa level kemungkinan yang sudah ditentukan. Sebuah lensa transformatif mengubah fokus dari relativisme kultural dan menjawab persepsi tentang apa yang nyata dipengaruhi oleh struktur kekuatan masyarakat yang memberi hak versi tertentu lebih dari yang lain. Ketika mendengar bahwa para peneliti yang tidak kenal dengan budaya Tuna Rungu memiliki kekuatan untuk menentukan kenyataan bagi Tuna Rungu, beberapa bentuk “kenyataan” lazim yang muncul termasuk berikut:
  • Tes yang dikembangkan untuk populasi pada umumnya dapat digunakan pada Tuna Rungu
  • Hasil penelitian berdasarkan pada sample dari Tuna Rungu diberlakukan untuk keseluruhan komunitas Tuna Rungu
  • Penerjemah yang dipakai dalam pertemuan tim penelitian atau pengumpulan data berkemampuan seimbang dalam perencanaan budaya dan bahasa
  • Mendengarkan tingkat lanjut peneliti dan tahun pengalaman penelitian cukup untuk melaksanakan penelitian yang valid pada komunitas Bahasa Isyarat.
Ketika Tuna Rungu berada dalam posisi mengekspresikan kenyataan seperti yang mereka terima, asumsi dan keyakinan yang keliru tersebut ditantang.
Epistemologi dari paradigma penelitian transformatif menjelaskan sifat dasar dari ilmu pengetahuan dan menggiring untuk mempertanyakan tentang hubungan anara para peneliti denga partisipan yang pengalamannya dipelajari oleh para peneliti. Epistemologi transformatif dikarakterisasi melalui kolaborasi jarak dekat antara peneliti dengan anggota komunitas, entah yang disebut terakhir adalah partisipan atau wakil peneliti. 4 Tujuan, rancangan, implementasi, dan penggunaan penelitian dikembangkan dan diikutsertakan dengan sensitivitas dan kesadaran kultural yang layak. Para peneliti membutuhkan kolaborasi dengan tuan rumah dari komunitas (tidak perlu pemimpinnya, namun orang-orang biasa saja). Hubungan ini interaktif dan menguatkan. Keikut sertaan dari anggota komunitas Bahasa Isyarat menggiring pada perubahan yang dikesampingkan secara spesifik pada masalah tentang kepentingannya bagi mereka. Sebagai contoh, penelitian pada akses pengadilan atas klien yang Tuna Rungu dan memiliki kesulitan dalam hal pendengaran telah diangkat sesuai permintaan dari pengacara Tuna Rungu yang melayani klien Tuna Rungu yang telah mengalami diskriminasi pada sisem peradilan (Mertens 2000). Yayasan W.K. Kellog mendanai sebuah studi yang mengikutsertakan dewan penasiha dari pengacara Tuna rungu dan Hakin, begitu pula dengan penerjemah sidang dengar dan pendidik hukum. Sebagai hasilnya, Tuna Rungu diundang untuk berbagi pengalaman mereka dalam persidangan melalui grup fokus dan partisipasi dalam pelatihan hakim pada keseluruh lima puluh negara bagian,juga dalam tim perencanaan untuk peningkatan akses terhadap sistem persidangan.
Asumsi metodologis merujuk kepada basis filosofis dari pemilihan metode mana yang layak untuk penyelidikan sistematis. Penelitian pada paradigma transformatif merupakan sebuah tempat praktik untuk bermacam pemaknaan. Asumsi ini tidak memiliki tatanan metode atau praktik spesifiknya sendiri. Tipe penelitian ini menarik beberapa teori, pendekatan, metode dan teknik. Metode-metode kuantitatif, kualitatif, ataupun campuran dapat digunakan; bagaimanapun, Keikut sertaan dimensi metode kualitatif penting untuk membangun sebuah dialog antara peneliti dan anggota komunias. Tatanan metode campuran dapat dipertimbangkan untuk menunjukkan kebutuhan informasi komunitas. Bagaimanapun, keputusan metodologis dibuat dengan penuh kesadaran akan faktor kontekstual dan historis, khususnya ketika berhubungan dengan diskriminasi atau penindasan. Dengan itu, bentukan kerjasama dengan peneliti dan komunitas Bahasa Isyarat merupakan sebuah langkah penting dalam mengajukan pertanyaan –pertanyaan metodologis dalam penelitian.
Asumsi metodologis atas paradigma transformasi menyediakan petunjuk dalam pemilihan pendekatan penelitian. Metodologi-metodologi yang sejalan dengan asumsi paradigma transformatif ditunjukkan dengan kelanjutan dalam aksi partisipasi penelitian (PAR)(Brydon-Miller 1997; Reason dan Bradbury 2001), juga dengan perubahan pada Institut Kesehatan Nasional (2007) dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (2006) yang mempromosikan penelitian partispasi berdasar komunitas (CBPR). Para peneliti lintas budaya seperti Trimble (seperti dikutip dari Pollard 1992) dan Matsumoto (1996) mendahului oerubahan-perubahan dalam metodologi ini dan sehingga menyediakan kontribusi yang bernilai pada pertumbuhan kesadaran akan kebutuhan untuk secara sadar mempertimbangkan keikutsertaan budaya dan komunitas dalam metode penelitian.


Petunjuk Penelitian yang Layak Secara Kultural
Para ilmuwan dalam komunitas ilmu pengetahuan yang lebih luas telah mulai mengeksplorasi praktek etika yang seiring dengan paradigma transformatif. Munculnya penelitian yang “peka secara budaya” mendekati “etnisitas yang dikenali maupun posisi budaya sebagai sentral proses penelitian” (Tillman 2002, 1123). Banyak argumen pada etika penelitian yang peka secara kultural  untuk komunitas-komunitas khusus telah dibuat, contohnya, untuk Maori (Cram, Ormond, dan Carter2004), komunitas African Botswana Community(Chilisa 2005), penduduk asli Kanada (Mi’kmaq College Institute 2006), Australasians(Astralasian Evaluation Society, Inc. 2006), komunitas-komunitas pengguna asli (Osborne dan McPhee 20000), dan orang-orang Navajo(brugge dan Missaghian 2003). Suara-suara yang bermunculan ini menyediakan justifikasi paralel maupun sebuah model untuk para peneliti dalam komunitas Bahasa Isyarat untuk bergabung dalam pemeriksaan ulang atas prinsip-prinsip dan praktik etika dalam penelitian.
Jika para peneliti dalam komunitas Bahasa Isyarat meminjam dari diskusi tersebut, banyak pertanyaan seperti yang berikut ini bermunculan: Apa petunjuk penelitian yang secara kultural paling layak untuk kelompok-kelompok ini? Apa yang kita masukkan dalam petunjuk untuk mengindikasikan penghormatan dan menunjukkan kepekaan terhadap budaya mereka? Bagaimana kita menekankan pentingnya petunjuk penelitian yang layak secara kultural dalam populasi ini? Bagaimana bisa para peneliti yang menjalankan studi pada komunitas yang kompleks secara kultural menyatukan suara angota mereka ketika menghadapi masalah etis dan metodologis?
Martens (2005) mencatat bahwa kompetensi kultural merupakan konsep integral bagi mereka yang bekerja dalam asumsi filosofis atas paradigma transformatif. Kompetensi secara kultural merupatan disposisi kultural yang berhubungan dengan kemampuan para peneliti untuk mewakili secara akurat kenyataan dalam komunitas yang kompleks secara kultural. Symonette (2004) membuat implikasi eksplisit bahwa para peneliti yang kompeten secara kultural harus memahami diri mereka sendiri dalam hubungannya dengan komunitas yang dipertanyakan. Kompetensi kultural bukan merupakan keadaan yang statis. Justru, merupakan sebuah perjalanan di mana sang peneliti mengembangkan pemahaman yang meningkat dari akses diferensial untuk membangkikan dan memberikah hak melalui refleksi diri dan interaksi dengan anggota-anggota komunitas (ibid.; Sue dan Sue 2003). Kompetensi kultural dalam penelitian dapat didefinisikan secara luas sebagai mode penyidikan sistematis, responsif yang sadar, paham dan apresiatif secara aktif dari konteks kultural di mana penelitian diselenggarakan; hal ini merangkai dan mengartikulaasi epistemologi dari usaha penelitian, memanfaatkan metodologi yang layak secara kultural dan kontekstual, dan menggunakan cara yang dapat mengangkat komunitas dan mudah dipahami untuk sampai pada hasilnya dan penggunaan lebih lanjut dari temuan-temuan (SenGupta, Hopson, dan Thompson-Robinso 2004). Keuntungan dari kompetensi kultural dan pendekatan penelitian yang responsif secara kultural mengikutsertakan (namun tidak terbatas pada) kemampuan untuk mentransformasi intervensi sehingga komunitas menganggapnya sah (Guzman 2003). Asosiasi Psikologi Amerika (2002) menyarankan bahwa peneliti menempatkan disi sebagai perantara dai perubahan yang pro-sosial untuk melawan rasisme, prasangka, bias, dan penekanan dalam bentuk apapun. Dan pada akhisnya, para peneliti yang kompeten secara kultural berusaha membangun hubungan meskipun ada perbedaan, meraih kepercayaan dari anggota komunitas, dan berefleksi dan menyadari bias mereka sendiri (Edno, Joh, dan Yu 2003).
Paradigma transformasi penyediakan sebuah kerangka pemikiran yang berguna untuk menekankan peranan yang dimainkan para peneliti ketika berhubungan dengan masalah-masalah yang berhubungan dengan penindasan, diskriminasi, dan perbedaan kekuatan. Paradigma transformasi meletakkan kepentingan utama pada dinamika ketidak setaraan kekuatan yang telah menjadi warisan bagi banyak anggota komunias Bahasa Isyarat bergantung pada versi kenyataan siapa yang diberi hak. Asumsi epistemologis  transformatif membangkikan pertanyaan tentang sifat dasar hubungan antara para peneliti yakni dalam hubungannya dengan siapa yang mengendalika investigasi, khususnya ketika ia dijalankan oleh tim yang terdiri dari anggota dan bukan anggota dari komunitas Bahasa Isyarat. Asumsi metodologis transformatif mendorong para peneliti yang tertarik dengan penelitian sebuah topik dalam komunitas Bahasa Isyarat untuk mengikuti petunjuk yang dikembangkan oleh komunitas itu sendiri. Asumsi aksiologis transformatif meleakkan masalah keadilan sosial dan hak asasi manusia pada garda depan pengambilan keputusan sehubungan dengan penelitian pada komunitas Bahasa Isyarat.
Ketentuan dijelaskan sebagai prinsip-prinsip dan prosedur yang perlu dipertimbangkan ketika para peneliti memutuskan untuk mempelajari komunitas Bahasa Isyarat. Ketentuan sebagai berikut diajukan untuk kegunaan dalah kelompok ini. Ketentuan tersebut tidak mendalam dan mewakili hanya permulaan dari kode etis penelitian untuk komunitas seperti itu. Kami menerima ide-ide anda dan saran-saran untuk perubahan.


Penciptaan Ketentuan-Ketentuan untuk Penelitian Akademis dan Publikasi pada Komunitas Bahasa Isyarat
Apa yang penyidik perlu ketahui untukmembuat keputusan pada situasi khusus? Kami melandaskan petunjuk ini pada Ketentuan Asli (ITR) (Osborne dan McPhee 20000). ITR memperlihatkan fakta bahwa konsep dari komunitas dan budaya adalah hal yang dinamis dan menjawab perubahan yang mungkin muncul dalam sebuah budaya setiap waktu. Penerapan dari ITR untuk masalah bagi bukan pengguna asli (contohnya komunitas Bahasa Isyarat) juga dianjurkan. (ibid.)
Ketentuan Komunitas Bahasa Isyarat (SLCTR) harus terikut sertakan dalam perspektif komunitas. Petunjuk ini juga harus mengikutkan sebuah protokol untuk penanganan   masalah yang bermunculan. Proses pengikut sertaan ini mendorong para anggota komunitas untuk membuat pendirian tentang bagaimana para peneliti boleh menginvesigasi mereka. Pertanyaan pertama untuk diungkapkan saat mengembangkan perspektif Bahasa Isyarat untuk SLCTR adalah, mengapa kita berusaha untuk mendapatkan sudut pandang komunitas Bahasa Isyarat pada penelitian yang melibatkan mereka? Kita telah mengadaptasi sebuah tatanan nilai dan prinsip utama yang telah dikembangkan oleh para pengguna asli dan mendiskusikannnya di sini. Sangat penting bahwa para peneliti berusaha untuk menentukan cara dimana komunitas Bahasa Isyarat merasakan dan memikirkan tentang dunia dan memberikan pengakuan yang layak mereka dapatkan. Orang-orang yang menggunakan bahasa isyarat merupakan populasi yang beragam, dan satu atau dua peneliti Tuna Rungu tidak dapat secara efektif mewakili sudut pandang bahasa isyatat untuk kelompok ini; dengan demikian, adalah penting untuk memiliki tatanan nilai-nilai dan prinsip dasar  yang dikuasakan komunitas.
Nilai- nilai dasar SLCTR (diadaptasi dari ITR) termasuk sebagai berikut: kelayakan dan validitas dari kultur budaya tuna rungu kontemporer; realitas hak berekspresi dari komunitas Bahasa Isyarat; penentuan nasib sendiri dan  penganganan diri; hak dari kelompok bahasa isyarat untuk bekerja dan membua keputusan dalam ketentuan kulturalnya sendiri; pengawasan komunitas Bahasa Isyarat; Pengakuan dan penerimaan akan keragaman dalam komunitas bahasa isyarat; rekonsiliasi dari ketertarikan untuk bersaing di anara orang-orang yang menggunakan bahasa isyarat; dan kelayakan dari kelompok (lihat tabel 2). Kita selanjutnya akan mendiksusikan setiap prinsip-prinsip ini dan memberika contoh-contoh yang jelas.
Prinsip 1. Otoritas dari konstruksi pengetahuan bahasa isyarat bersandar pada anggota komunitas Bahasa Isyarat.
Asumsi ontologis dari paradigma transformatif meletakkan secara ekspilisit otoritas kontruksi akan makna dan pengetahuan dalam komunitas Bahasa Isyarat di tangan para anggota komunitas. Komentar Ladd (2003) memberikan penglihatan mendalam pada hubungan antara sistem wacana dan penciptaan pengetahuan. Ia menulis bahwa sebuah sistem wacana terdiri atas sebagai berikut:
Peraturan yang tak terungkapkan akan apa atau bagaimana, kapan dan dimana sesuatu bisa atau tidak bisa di katakan. Setiap hal tersebut, karenanya, mengkonstruksi kanon “kenyataan” bahwa apapun yang diputuskan oleh partisipan merupakan “bukti yang dapat diterima,” sebuah proses bahwa dalam kasus dari wacana bergengsi tertentu, hal seperti itu ditemukan dalam universitas, pembentukan medis dan media komunikasi, dapat dipandang membahayakan ketika tidak diperiksa, untuk hal ini kemudian hadir untuk menentukan apa yang dianggap sebagai pengetahuan itu sendiri. (76)
Kehadiran dari sisem wacana yang tidak diperiksa mengindikasikan pentingnya mengakui otoritas Bahasa Isyarat untuk menentukan makna dan pengetahuan dalam populasi tersebut. Validitas yang dialogis juga merupakan cara yang efektif  untuk mendesentralisasi “kemampuan mendengarkan” dalam penelitian pada orang-orang Tuna Rungu. Konsep dari “desentralisasi” datang dari Cram, Ormond dan Carter (2004) dalam karya tulis mereka tentang penelitian pada dan dengan suku Maori. Orang-orang yang dipinggirkan, seperti orang-orang Maori dan Tuna Rungu, dengan kata lain, adalah “di desentralisasi” Suku Maori telah kehilangan tanah dan struktur keluarga mereka, hubungan mereka terganggu, dan bahasa mereka dibatasi, hal tersebut meminggirkan suku Maori dari pusatnya. Cram, Ormond dan Carter (ibid., 167) berargumen bahwa “para peneliti Suku Maori mencari dalam upaya untuk mendesentralisasikan “keberadaan sebagai kulit putih sebagai kepemilikan dari dunia selama-lamanya” (seperti yang didiskusikan oleh aktivis kulit hitam DuBois [1920], dikutip dalam Myers, 2004,8). Penelitian dengan komunitas Tuna Rungu membutuhkan desentralisasi “kemampuan mendengar”, sehingga kultur Bahasa Isyarat dan Tuna Rungu Amerika dikembalikan pada orang-orang tuna rungu. Untuk meyakinkan bahwa penelitian secara akurat mewakili orang-orang dapat diusahakan dengan mempelajari validitasnya yang meningkat; karenanya, penelitian dalam komunitas Tuna Rungu harus dilakukan oleh orang Tuna Rungu, untuk orang Tuna Rungu dan dengan orang Tuna Rungu, seperti yang diargumentasikan oleh Cram, Ormond dan Carter bahwa penelitian terhadap suku Maori harus dilakukan “oleh orang Maori, untuk orang Maori dan dengan orang Maori”. “Oleh orang Tuna Rungu, untuk orang Tuna Rungu dan dengan orang Tuna Rungu,” tidak perlu menyisihkan peneliti yang memiliki pendengaran baik, tidak pula menepiskan model kolaborasi; pada kenyataannya bagian terakhir dari fase tersebut, “dengan orang Tuna Rungu,” menekankan peran bersama bagi baik peneliti yang memiliki pendengaran baik maupun Tuna Rungu sementara juga keunggulan dari apa yang disebut sebelumnya dan peran esensial dalam proyek penelitan yang melibatkan Tuna Rungu.
Prinsip 2. Investigator harus mengakui bahwa anggota komunitas Bahasa Isyarat memiliki hak akan hal-hal yang mereka nilai benar-benar dipertimbangkan dalam semua interaksi.
Paradigma transformatif menekankan pemeriksaan kritis akan hubungan kekuasaan. Dalam penelitian akademis, pengembangan dimana ASL digunakan merupakan satu indikasi dari penggabungan nilai-nila komunitas Bahasa Isyarat dalam etika penelitian. Secara historis, ASL telah ditekan oleh orang –orang yang membela bahwa ujaran menggantikan Bahasa Isyarat (Lane, Hoflmeister, dan Bahan 1996; Lane 1999). Ladd (2003) menegaskan bahwa pada abad kedua pulh wacana penelitian yang berlaku pro-oralisme dan anti- Bahasa Isyarat. Untuk sampel mereka, para peneliti sering memilih anak-anak yang telah menjadi tuli setelah menerima bahasa Inggris dalam bentuk ujaran atau tuli sebagian yang sukses secara oral (ibid.). Studi dijalankan menurut kebijakan edukatif yang berlaku (Lane 1999). Ladd (2003) menunjukkan bahwa ada “ketidak hadiran yang hampir total dari penelitian akademis apappun dalam kehidupan kolektif Tuna Rungu atas ketemtuannya sendiri” (171; ditekankan pada versi asli). Tujuan dari SLCTR adalah memeriksa heubungan kekuasaan, mendekonstruksi penelitian hegemonis, dan membangun ulang penelitian dimana kehidupan kolektif Tuna Rungu diwakili.
Para peneliti yang berasal dari luar komunitas Bahasa Isyarat telah mencatat bahwa jurnal-jurnal sudah mulai menerima “teks yang lebih eksperimental, yang ‘kacau’ dengan bagian puitis” (Lincoln dan Denzin 2005, 1121). Sekarang lebih banyak peneliti menyiapkan secara meningkat berkas penelitian dan disertasi yang pada tingkat minimum, tulisan – bilingual yang menunjukkan kebutuhan yang lebih akan autensi berganda daripada tunggal. Sekarang tidak lagi tak terdengar, ataupun aneh, bagi para pelajar untuk  menghasilkan disertasi doktoral yang mengikutkan porsi yang beberapa anggota komisi disertasinya tidak dapat menerjemahkan” (ibid.). Perubahan menuju penggabungan dari nilai komunitas Bahasa Isyarat ini didiskusikan dalam bagian ke 5 dari disertasi Bienvenu, yang ia terbitkan sepenuhnya dalam ASL; terlebih lagi, beberapa anggota dari komite disertasinya tidak mengenal ASL (Bienvenu 2003).
Disisi lain, Gilmore dan Smith (2005) menyatakan bahwa “penelitian yang tidak menyesuaikan diri dengan genre akadimis yang berlaku masih beresiko baik itu direndahkan atau dicemarkan sebagai ‘tidak benar-benar terpelajar’ ” (78). Bagaimanapun, dengan mengambil resiko, para peneliti mengindikasikan solidaritas komunitas dengan membaurkan genre akademis dengan konvensi dari budaya yang ditargetkan. Mereka yang mengambil kesempatan seperti itu dalam penelitian yang berangkat dari standard yang sesuai dijatuhkan oleh mereka yang memiliki kekuasaan akademis pada kenyataannya mengajarkan yang lain beberapa hal. (Lincoln dan Denzin 2005). Pada kenyataannya, para peneliti memiliki banyak hal untuk dipelajari dari budaya yang diinginkan. Kerja yang bagus sudah erlihat didepan, karena kita harus “menulis ulang dan membenarkan dan seringkali merusak penelitian akademis yang sudah ada” (Gilmore dan Smith 2005, 71; penekanan pada asli). Karena itu, peran yang diemban di sini oleh SLCTR dan paradigma transformatif adalah untuk mendukung dan menganjurkan para peneliti dalam komunias Bahasa Isyarat untuk mengambil resiko, dengan itu akan membebaskan mereka dari penyesuain diri terhadap praktek hegemonis dan menciptakan penelitian yang bebas.
Prinsip 3. Investigator harus mencatat pandangan terhadap dunia dari komunitas Bahasa Isyarat pada setiap negosiasi atau ketika berhadapan dengan pengaruh pada anggota komunitas Bahasa Isyarat.
Rekanan dalam situasi penelitian juga membutuhkan pemeriksaan kritis dari hubungan kekuasaan. Ilmuwan dalam peneliian Tuna Rungu elah mendiskusikan masalah kekuasaan pada tim penelitian Tuna Rungu dan menimbulkan pertanyaan akan penghormatan dan hak isimewa (Stinson 1994; Foster 1994). Akhir-akhir ini, ilmuwan sudah mengangkat permasalahan diskriminasi yang terkadang timbul dalam sebuah rekanan. Bauman (2004) memberikan contoh dari audisme institusional dalam dinamika komunikasi baik interaksi pada ahli yang Tuna Rungu maupun yang memiliki pendengaran yang baik. Keputusan tentang pengumpulan data dan penggunaan bahasa diantara tim penelitian mewakili sebuah teka-teki kata yang khas dalam penelitian pada komunitas Bahasa Isyarat. Ketika tim penelitian terdiri dari orang Tuna Rungu yang menguasai bahasa isyarat dan orang-orang yang memiliki pendengaran yang baik yang baru saja menguasai bahasa isyarat, seorang penerjemah biasanya diminta untuk menengahi antara dua bahasa. Dengan seorang penterjemah, anggota penelitian secara otomatis menderita kerugian karena informasi disaring oleh penterjemah (yang seringkali tidak mengenal ketentuan penelitian dan proyek penelitian itu sendiri), dan jeda waktu antara informasi yang diujarkan dengan informasi yang diisyaratkan dan penterjemahan menghalangi partisipasi seimbang dari para anggota tim. Penggunaan penterjemah berpengaruh secara negatif bagi proyek, yang hanya menekankan kebutuhan untuk segera menguasai bahasa isyarat yang digunakan.
Daripada memiliki tim penelitian yang hirarkis dengan investigator utama pada bagian teratas, asisten di bagian tengah dan partisipan pada bagian bawah, proyek penelitian harusnya merupakan dialog horizontal antara tim peneliti dan partisipan. Pembentuk tim harus mengikutkan baik anggota dan bukan anggota dari budaya yang ditargetkan. Dialog antara partisipan dan mereka yang ada dalam tim membantu untuk lebih jauh mengembangkan dan memurnikan pemahaman setiap orang akan apa yang sedang erjadi. Apa yang mereka temukan selalu parsial dan sedang berlangsung; karena itulah penelitian sendiri harus merupakan dialog diantara semua yang terlibat (Cummins 2000).
Lebih banyak peneliti sekarang menyadari pentingnya suara partisipan dalam keseluruhan proyek penelitian. Pusat Penelitian Nasional terhadap Kesehatan Tuna Rungu (NCHDR) memanfaatkan pendekatan “penelitian partisipasi-komunitas” dengan bekerja sama dengan Komite Komunitas Kesehatan Tuna Rungu (DHCC), yang 51 persen dari anggotanya Tuna Rungu, untuk memberi tanggapan terhadap atanan penelitian dan proses pengumpulan data (National Center of Deaf Health Research 2006)
Silka (2005) dan rekan-rekannya telah mengembangkan sebuah model siklus penelitian yang sesuai dengan pendekatan transformatif untuk meneliti komunitas immigran yang kompleks sebagai cara untuk menunjukkan rekanan penelitian yang kompeten dan kuat secara kultural. Ketika sebuah proyek dimulai, sebuah tatanan baru dari penerapan timbul dari studi yang lebih awal hadir. Karena itu proyek yang baru bukan hanya studi sekali coba tetapi sebuah siklus dari studi berganda yang berdasar pada sebuah rekanan penelitian dengan komunitas yang dituju. Model mengindikasikan area –are dimana rekanan penelitian bisa menemui kesulitan selama siklus berlangsung (contohnya di permulaan, pertengahan, ataupun akhir). Hal tersebut juga mengilistrasikan cara dimana rekan penelitian bisa memusatkan usaha mereka, menemukan cara untuk berpindah dari satu studi ke studi selanjutnya, dan mengembangkan cara yang lebih baik.
Model penelitian kemampuan berbahasa isyarat memberikan contoh dari sebuah pendekatan yang bersifat siklus yang menyeimbangkan kontribusi dari anggota yang memiliki pendengaran baik dan Tuna Rungu, begitu pula para peneliti dan partisipan. Erting(2003) menyesali bahwa “penelitian antar bidang yang kolaboratif yang melibatkan pendidik Tuna Rungu dan memiliki pendengaran baik jarang ditemui” (456); bagaimanapun, ia mendokumentasikan pengalaman dari tim penelitian kemampuan berbahasa isyarat dan cara dimana mereka mengangkat permasalahan bahasa, kolaborasi  Tuna Rungu dan orang yang memiliki pendengaran baik, dan kolaborasi peneliti dan partisipan. Semua yang terlibat didalam proyek diharapkan untuk belajar melihat dunia melalui mata orang Tuna Rungu” (460) dengan mencoba untuk menalar suasana kultural yang tidak mereka mengerti dan pertanyakan. Proyek ini sudah menghasilkan banyak publikasi dari para peneliti Tuna Rungu dan peneliti yang  memiliki pendengaran baik, contohnya bab bilingualisme dalam keluarga Tuna Rungu oleh Erting, Thumann- Prezioso, dan Benedict (2000).
Prinsip 4. Investigator harus mengakui pengalaman, pemahaman dan cara hidup yang beragam (dalam masyarakat pengguna bahasa isyarat) yang mencerminkan budaya kontemporer pengguna bahasa isyarat dalam penerapan ketentuan komunitas Bahasa Isyarat.
Penghornaan dan pengakuan akan keberagaman adalah prinsip kunci untuk penelitian transformatif. Dalam komunitas Bahasa Isyarat, hal ini merupakan pengakuan atas keeratan yang merupakan sifat dasar komunitas ini dan implikasi atas kerahasiaan dan anonimitas dalam penelitian. Pollard (2002) berargumentasi bahwa anonimitas merupakan satu dari tiga puncak permasalahan pada penelitian terhadap komunitas Bahasa Isyarat. Pencegahan tambahan diperlukan untuk menjaga anonimitas dari partisipan  penelitian Tuna Rungu. Seumpamanya, semua partisipan harus diberitahu nama-nama peneliti, asisten peneliti dan penerjemah yang mungkin mengakses data. Dokumentasi video atas partisipan bahasa isyarat masih membuat resiko yang lebih besar karena wajah-wajah mereka terekam dalam film. Pollard menegaskan bahwa “bahkan teknik untuk menyamarkan fitur wajah tidak akan bisa menyembunyikan gaya isyarat yang dengan kurang hati-hati akan menggiring pada identifikasi partisipan” (165). Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa ASL menyampaikan informasi linguistik pada wajah yang dirasa perlu untuk mengoreksi pemahaman akan pesan tersebut. Permasalahan rpivasi seperti ini dinyatakan dalam bentuk ijin yang disampaikan yang  menggambarkan bagaimana data penelitian, termasuk rekaman video, kemungkinan akan disebarkan dan siapa yang mungkin mendapatkan akses terhadap video-video tersebut. Terserah kepada peneliti atau tim penelitian untuk menyampaikan secara jelas rencana-rencana tersebut pada para partisipan, yang kemudian memutuskan untuk membolehkan atau tidak akses terhadap informasi ini. Dewan Review Institusional (IRBS) dan khususnya IRB Gallaudent University waspada ajab data video, khususnya untuk komunitas pengguna Bahasa Isyarat.
Prinsip 5. Investigator harus meyakinkan bahwa pandangan dan persepsi dari kelompok yang merupakan referensi penting (kelompok bahasa isyarat yang anda ajak bekerja sama) tercermin dalam setiap proses validasi dan evaluasi pada tingkat dimana ketentuan-ketentuan komunitas Bahasa Isyarat sudah diikut sertakan.
Asumsi aksiologis dari paradigma transformatif menimbulkan pertanyaan tentang siapa yang memiliki otorias untuk menentukan apakah petunjuk etika diikuti selama proses penelitian. Pollard (2002) menyatakan bahwa kecurangan yang tidak disengaja seringkali timbul dalam penelitian dengan populasi bahasa isyarat dalam bentuk kurangnya akses yang seimbang terhadap informasi, komunikasi dan pengetahuan. Seumpamanya, jika informasi penelitian lebih tidak bisa diakses oleh para partisipan Tuna Rungu dibanding dengan para partisipan yang memiliki pendengaran baik, ketidak seimbangan ini dianggap sebagai sebuah bentuk kecurangan dari para peneliti. Jika metode komunikasi para peneliti dengan orang Tuna Rungu dan orang yang memiliki pendengaran yang kurang baik tidak mencukupi, ini merupakan bentuk lain dari kecurangan. Orang yang memiliki pendengaran baik dan Tuna Rungu memiliki tingkat pengetahuan yang berbeda dikarenakan oleh perbedaan dalam akses informasi, dan para peneliti yang tidak menmpertimbangkan ini dalam pengumpulan berarti turut sera dalam bentuk kecurangan lagi (ibid.)
Tim peneliti Kemampuan berbahasa Isyarat yang telag disebut sebelumnya menjelaskan secara gamblang dari permulaan proyek penelitian setiap hari, wacana tatap muka dan pertemuan tim dilakukan secara eksklusif dalam ASL dan yang tertulis dalam bahasa Inggris adalah e-mail, dokumen, jurnal, analisis data dan tulisan dan bacaan akademis. Peneliti dan guru-guru yang memiliki pendengaran baik berusaha untuk menunjukkan ide-ide kompleks dengan menggunakan ASL, sementara peneliti dan guru yang Tuna Rungu berusaha untuk mengerti isyarat dari orang-orang yang bukan merupakan pengguna asli; bagaimanapun juga komitmen yang cepat namun terjaga untuk menggunakan ASL membantu untuk menjaga “pengalaman Tuna Rungu sebagai pusat dari penyidikan” (Erting 2003, 464). Pengalaman dari seluruh partisipas dalam proyek ini merupakan hal besar dan memperkaya dibandingkan dengan proyek penelitian sebelumnya, mengindikasikan pentingnya akses bahasa bagi semua yang terlibat.
Bahkan pada penelitian kolaboratif di antara peneliti Tuna Rungu dan peneliti yang memiliki pendengaran baik, yang disebut terakhir seringkali disebut “pemimpin tim,”, “peneliti utama”, atau “koordinator penelitian”. Ketika membandingkan posisi yang dimiliki peneliti dunia pertama dan ketiga, Chilisa (2005) menemukan bahwa yang pertama seringkali berada pada posisi bergengsi dalam studi penelitian. Smith (1999) menyebutkan bahwa, dalam sebuah dokumen yang dikenal sebagai Piagam Hutan Tropis, orang-orang suku pribumi Filipina menyatakan bahwa “seluruh investigasi dalam wilayah kami… [akan] dilaksanakan dengan persetujuan kami dan dibawah kendali dan petunjuk bersama” (dikutip di Lincoln dan Denzin 2005, 1120). Terlebih lagi, Bangsa pertama dari Nova Scotia telah mendirikan Komite Etika Mi’kmaq, yang menyortir proyek penelitian untuk memastikan bahwa integritas dan pengetahuan budaya bangsa Mi’kmaq terjaga, sejalan dengan “garansi bahwa hak kepemilikan diberikan pada beragam komunitas Mi’kmaq” (Mi’kmaq College Institute 2006).
Secara historis, orang Tuna Rungu secara umum tidak memiliki kendali atas proyek penelitian disebabkan oleh perbedaan akses-bahasa antara peneliti dan komunitas Bahasa Isyarat yang diteliti. Lincoln dan Denzin (2005) menekankan  bahwa para peneliti saat ini tidak bisa begitu saja memasukkan mereka kedalam kultur target kapanpun mereka mau. Sebaiknya mereka “harus bernegosiasi untuk pengetahuan tersebut dan menghargai bentuk dimana pemiliki mungkin ingin mewakili dirinya atau diwakili” (ibid., 1120). Duchesneau and McCullough, keduanya merupakan ahli kesehatan mental Tuna Rungu mengatakan, “Tidak diragukan, salah satu dari permasalahan yang sensitif dalam komunitas Tuna Rungu saa ini adalah peran dari ahli yang memiliki pendengaran baik yang bekerja dekat dengan orang Tuna Rungu.” (2006). Peran dari peneliti yang memiliki pendengaran baik dan Tuna Rungu untuk bekerja sama dalam sebuah kolaborasi akan lebih setara melalui sebuah rekanan dimana peneliti yang memiliki pendengaran baik berbagi pengetahuan khusus tentang bidang tersebut dengan peneliti Tuna Rungu; sebaliknya, peneliti Tuna Rungu akan memberikan pengetahuan linguistik yang spesifik maupun pengetahuan kultural tentang orang Tuna Rungu kepada peneliti yang memiliki pendengaran baik (ibid.). Tanggung jawab bagi para peneliti yang memiliki pendengaran baik dan peneliti Tuna Rungu sama secara relatif karena peneliti Tuna Rungu mungkin tidak dapat mengakses pengeahuan khusus dikarenakan oleh akses terbatas pada pelatihan untuk bidang khusus. Demikian juga, ahli Tuna Rungu “mungkin tidak semudah itu berspesialisasi dalam area tersebut sederhananya karena tidak banyak peluang pekerjaan tersedia untuk bidang tersebut” (ibid. 1). Bagaimanapun, peneliti yang memiliki pendengaran baik tidak akan dapat melakukan penelitian secara efektif pada komunitas Bahasa Isyarat tanpa kemampuan dari peneliti Tuna Rungu. McCullough (2007) menyaakan, “untuk meyakinkan bahwa penelitian pada orang Tuna Rungu dilakukan dengan cara yang terbaik, peneliti yang memiliki pendengaran baik harus membuat praktek konsensus untuk berkolaborasi secara seimbang dengan peneliti Tuna Rungu dalam setiap fase dari studi mereka, dengan poin yang diberikan secara seimbang pada peneliti Tuna Rungu maupun peneliti yang memiliki pendengaran baik” (1).
Ide bahwa para peneliti etnografis memiliki “pengetahuan” dan bahwa “pengetahuan” adalah milik mereka menggiring orang untuk percaya bahwa para peneliti – bukan partisipan dari protek – mempunyai hak milik atas kepemilikan intelektual. Permasalahan ini bukan hal baru bagi para peneliti ilmu pengetahuan sosial, dan hal ini mengenai semua yang berencana mempublikasikan hasil dari penelitian mereka (Greenwood 2006). Orang pribumi mulai menegaskan kembali hak milik dari penelitian yang dilakukan dalam komunitas mereka. Mereka juga mengendalikan cara informasi tersebut disebar luaskan. Wacana penelitian hegemonis mengikutkan secara khas syarat seperti “semua properti intelektual manapun termasuk hak cipta dalam laporan akhir dan lain-lain yang lahir dari karya ini dengan persetujuan  akan menjadi milik Universitas X” (Chilisa 2005, 676). Orang pribumi dan komunitas   Tuna Rungu perlu menantang hegemoni dari penerjemahan atas hak milik data penelitian. Kebudayaan yang dijadikan target pertama-tama tidak boleh dieksploitasi untuk data, dan peneliti selanjutnya tidak mengakui hak milik dari  informasi yang mereka sudah dapatkan. Secara etis, hak milik tetap ada di tangan kebudayaan yang dijadikan target (ibid.). Pembagian otoritas dengan rekan komunitas ditanggapi secara serius bukan untuk pengetahuan itu sendiri melainkan untuk penyebarannya.
Ada beberapa pilihan untuk publikasi pembagian otoritas dalam penelitian tersebut, seperti mendaftar nama dari seluruh partisipan sebagai wakil penulis entah mereka membantu penulisan manuskrip aau tidak; pilihan lain adalah dengan menyebut diri mereka sebagai tim kolaborasi penulisan (Greenwood 2006). Metode yang dimanfaatkan untuk mencapai tujuan ini bisa beragan dari stiap universitas ke universitas lain, atau hal ini berarti memindahkan penelitian diluar akademi ke dalam arena komunitas. Membuat penelitian untuk dapat diakses bagi siapa saja yang berpartisipasi dalam penciptaannya merupakan prinsip dasar yang berhubungan dengan paradigma transformatif dan juga merupakan satu hal yang harus ditekankan dalam petunjuk penelitian pada komunitas Bahasa Isyarat. Berfikir ulang tentang hak milik penelitian dari perspektif mereka yang secara orisinil “memiliki” pengetahuan tersebut merupakan hal yang esensial.
Prinsip 6. Investigator harus bernegosiasi dalam dan diantara kelompok bahasa isyarat dengan tujuan untuk membangun proses yang layak dan menentukan kriteria untuk mendapatkan ketentuan kultural, kebutuhan sosial dan prioritas.
Sudah pernah ada perdebatan yang sangat keras tentang siapa yang akan menjalankan penelitian dalam kelompok budaya yang beragam. Apa yang akan menjadi pengaruh dari penelitian jika para peneliti dari target budaya tersebut yang memimpin proses? Bekerja dengan komunitas yang memiliki kekurangan, Oliver dan Barnes (1997) dan Shakespeare (1996) menyadari bahwa “tanpa para penderita cacat yang memimpin dan melakukan penelitian, diperdebatkan bahwa penelitian ersebut memiliki relevansi yang kecil pada kehidupan penderita cacat” (Young and Ackerman 2001, 179). Hasil kerja mereka dapat diaplikasikan pada para peneliti Tuna Rungu yang memimpin proyek penelitian dengan komunitas Bahasa Isyarat sebagai sebuah kelompok budaya karena mereka memiliki pemahaman kultural yang diperlukan dan pengetahuan tentang anggota komunitas mereka. Jika para peneliti Tuna Rungu melakukan penelitian dalam komunitas budaya mereka sendiri, hasil karya mereka memiliki pengaruh besar bagi kehidupan anggotanya. 6 Komunitas Bahasa Isyarat mendapat keuntungan dengan membangun karya dari anggota komunitas asli karena mereka berbagi kepedulian yang berhubungan dengan bahasa, budaya dan posisi yang berbeda secara historis dalam hirarki sosial. Sehingga, proses yang direkomendasikan oleh pengguna asli bisa diadaptasi untuk perkembangan SLCTR (Osborne dan Mc Phee 2000).
Ketika anggota komunitas dan/atau peneliti mengidentifikasi permasalahan dimana sudut pandang pengguna bahasa isyarat diperlukan, maka perwakilan khusus dari komunitas Bahasa Isyarat perlu disebutkan dan dilibatkan. Individu yang layak dapat diputuskan dengan menanyakan, siapa yang terpengaruh dengan permasalahan ini? Siapa bertanggung jawab? Bagaimana ini mempengaruhi kelompok lain? Siapa yang harus dilibatkan dalam proses ini? Tim peneliti dapat membawa para anggota dari komunitas Bahasa Isyarat secara bersamaan untuk menjelaskan alasan untuk keterlibatan mereka dan untuk memutuskan bersama bagaimana melanjutkannya. Anggota komunitas Bahasa Isyarat harus memegang kendali untuk menentukan permasalahan dan proses tersebut. Dengan pemanfaatan inovasi teknologi, blog, vlog,7 telepon video, dan penyeranta dapat digunakan untuk menghubungi banyak orang Tuna Rungu di seluruh penjuru Amerika Serikat dan penjuru dunia.
Metode komunikasi yang beragam tersebut dapat digunakan untuk merancang konteks dari permasalahan sesuai dengan pengaruhnya terhadap komunitas atau sesuai dengan faktor sosial politik yang penting. Informasi dapat dikumpulkan melalui berbagai dimensi berikut:
  • Elemen kultural: baik itu pengaruh dari investigasi terhadap budaya, dan sebaliknya, pengaruh dari budaya terhadap investigasi harus dipertimbangkan
  • Pengalaman: Identifikasi pengalaman masa lampau dan masa kini dari komunitas  sehubungan dengan permasalahan yang sedang dipelajari. Latar belakang historis sangat penting untuk memahami bagaimana komunitas telah terbentuk.
  • Pemahaman: Pendapat, pengetahuan, dan pemahamam komunitas terhadap permasalahan harus diikut sertakan.
  • Aspirasi: Tujuan dan hasil yang diinginkan oleh komunitas atas permasalahan yang sedang didiskusikan dan dianalisis harus di buat ekspilisit. “Hal tersebut memberikan komunitas untuk dapat mengidentifikasi secara jelas visi mereka tentang ‘apa yang mereka inginkan’ di masa depan dengan permasalahan ini” (Osborene dan McPhee 2000, 10-11) [Penekanan dari yang asli]
Perbedaan opini diangkat kepermukaan dan hal ini harus dinegosiasikan untuk menemukan kesepakatan pemahaman yang mencerminkan mayoritas; sebagai alternatif, sudut pandang yang berbeda dalam versi akhir laporan investigasi harus dihadirkan kembali. Para peneliti yang bejerja dengan anggota komunitas Bahasa Isyarat dapat mengkonstruksi sebuah gambaran yang sudah disetujui atas semua informasi untuk mewakili pandangan Tuna Rungu terhadap permasalahan yang didiskusikan. Pada tingkat ini, penting  untuk lagi-lagi berkonsultasi dengan komunitas untuk meyakinkan ketepatan kesimpulan yang ditunjukkan.
Tujuan dari diskusi ini adalah untuk menentukan bentuk tindakan seperti apa yang disarankan oleh hasil penelitian dan apa hal itu akan membantu kelompok tersebut mencapai tujuannya.


Kesimpulan
Kami yakin bahwa nilai-nilai inti, prinsip-prinsip, kerangka pemikiran, dan proses ITR dapat diadaptasi dan konsisten dengan komunitas Bahasa Isyarat. Bagaimanapun, seperti yang ditegaskan oleh ITR, sedikit orang Tuna Rungu tidak dapat berbicara untuk mewakili seluruh komunitas Bahasa Isyara. Dengan menghadirkan konsep ini disini, kami berharap untuk menerima tanggapan dai konsituen yang lebih luas. Di situs kami, pembaca dapat berbagi ide dan komentar pada SLCTR : www.slcethics.org.
Kami mengundang pemikiran anda sehubungan dengan perubahan atau ambahan dari versi adaptasi dari ITR untuk Tuna Rungu dan permasalahan lain sehubungan dengan etika riset dalam komunitas Bahasa Isyarat. Opini anda penting karena ini merupakan usaha yang ditunjukkan oleh anggota dari kelompok ini.
Diskusi bisa dilaksanakan berkenaan dengan  sifat dasar dari kewajiban peneliti untuk mengikuti petunjuk etika dari komunitas dimana mereka melakukan penelitiannya dan dalam pengembangannya dimana mereka harus diberi tahu tentang permasalahan etika oleh komunitas itu sendiri; di sisi lain, para peneliti tidak boleh berpendapat bahwa semua petunjuk etika dapat secara langsung diterapkan pada setiap individu dari komunitas. Bagaimanapun juga ini bukan hal yang sederhana, dan mereka layak untuk terus diperdebatkan.
Kapan harusnya sebuah komunitas memiliki petunjuk etikanya sendiri, dan siapa yang membuatkannya untuk kelompok tertentu? Bagaimana para peneliti melindungi komunitas tersebut saat melakukan penelitian? Pertanyaan-pertanyaan ini dimunculkan oleh Wallwork (2002) menunjukkan cara-cara dimana para peneliti dapat tetap tidak bias dan profesional, namun juga memperlakukan anggota komunitas dengan rasa hormat sambil menerjemahkan prinsip-prinsip etika. Wallwork menyimpulkan bahwa “ide rekanan dengan sukses menyarankan bahwa penelitian itu sendiri perlu dinegosiasikan dan dikonstruksi bersama-sama di antara partisipan yang saling menghargai, mempunyai kemauan untuk dirubah melalui dialog tentang bagaimana bekerja sama dalam usaha bersama” (21). Para peneliti dan anggota komunitas bekerja sama melalui kolaborasi dan dialog untuk membuat studi penelitian menjadi etis.

[Catatan pinggir ]
Kode etik hadir bagi kebanyakan asosiasi profesional yang anggoanya melakukan penelitian pada, untuk, aau dengan komunias bahasa isyarat. Bagaimanapun, kode etik ini tak disuarakan sehubungan dengan perlunya membuat kerangka  etika penelitian dari sisi kultural, sebuah permasalahan dari kepentingan khusus komunitas bahasa isyarat. Para ilmuwan yang menulis dari perspektif feminis, pengguna asli, dan para pembela hak asasi manusia telah sama-sama menunjukkan ketidak puasan yang serupa terhadap kekurangan mereka akan representasi dalam perbincangan tentang etika penelitian. Para anggota dari komunitas bahasa isyarat dan pembela mereka dapat mempelajari dari pihak-pihak lain yang juga turut andil dalam perjuangan ini dan memberi kontribusi cukup banyak untuk topik ini. Kami mengajukan perkembangan bagi ketentuan komunitas bahasa isyarat (SLCTR) sebagai media untuk melakukan penelitian oleh, untuk, dan  dengan komunitas bahasa isyarat.

[Catatan Kaki]
  1. The American Heritage Dictionary of The English Language, edisi ke 3 (1992), menjelaskan “Tuna Rungu” sebagai “berhubungan dengan Tuna Rungu atau budaya mereka” dan “tuli” sebagai “kekurangan dalam pendengaran.” Ladd (2003) mengembangkan pada terminologi Tuna Rungu, yang merujuk kepada orang yang berharap untuk tetap berpegang kepada keanggotaan dan pengalaman mereka dengan mayoritas budaya. Penulis mencoba yang terbaik untuk tetap membedakannya dengan jelas di seluruh tulisan.
  2. Komunitas Bahasa Isyarat merujuk kepada orang-orang yang memiliki pengalaman dasar dan kesetiaan terhadap bahasa isyarat, begitu pula dengan komunitas dan budaya Tuna Rungu. Bagaimanapun, semua peneliti yang tertarik untuk mempelajari komunita Bahasa Isyarat harus selalu sadar akan kompleksitas dari Tuna Rungu dan komunitas Bahasa Isyarat. Penggunaan huruf besar pada istilah Bahasa Isyarat mendandakan sebuah kelompok yang serupa dengan Amerika Afrika dan komunitas Yahudi.
  3. Ironi dari penggunaan istilah suara dalam sebuah artikel dalam penelitian pada komunitas Tuna Rungu tidak dihilangkan oleh penulis, tidak pula kami berharap itu akan diacuhkan oleh pembaca. Pembaca yang kenal dengan feminis, pribumi/asli, cacat, atau hak-hak minoritas akan mengenali metafora ini dan tidak melihat adanya ironi dari penggunaan istilah “suara”. Bagaimanapun, berkenaan dengan istilah yang lebih baik saat ini dan penggunaan yang lebih umum dari istilah suara dalam literatur ilmuwan, kami akan menggunakan “suara” untuk mewakili perspektif, nilai dan pengalaman dari komunitas Tuna Rungu dan Bahasa Isyarat.
  4. Peneliti boleh merupakan atau boleh tidak  merupakan anggota dari komunitas. Dalam paradigma transformatif, anggota dari komunitas Bahasa Isyarat memegang kekuasaan untuk membuat keputusan tentang jalannya sebuah penelitian. Jika seorang peneliti memiliki pendengaran yang baik, maka sebuah hubungan perlu dikembangkan dimana anggota tim penelitian yang Tuna Rungu dan anggota yang memiliki pendengaran yang baik dapat berkolaborasi dengan sangat baik.
  5. Matsumoto menerbitkan edisi pertama Culture and Psychology pada 1996. Ia dan L. Juang sekarang sudah menulis edisi ke-empat. (2008)
  6. Sementara sebagian orang memandang orang Tuna Rungu memiliki kecacatan, banyak anggota dari komunitas Tuna Rungu dan Bahasa Isyarat menolak label “cacat” dan lebih memilih dipandang sebagai berbeda secara kultural.
  7. Istilah aslinya adalah “video blogs”, vlogs merupakan blog dengan tambahan video. Komunitas Bahasa Isyarat telah menerima teknologi ini karena para anggotanya dapat merekam diri mereka sendiri mengisyaratkan bahasa mereka
Raychelle Harris, Heidi M Holmes, Donna M Mertens. Sign Language Studies. Washington: Winter 2009. Vol. 9, Iss. 2; pg. 104, 29 pgs

Komentar