Langsung ke konten utama

Believe and Not

Girl  : “Buat apa, aku mencintai lagi?” 
Boy : “Ya buat melanjutkan hidup kamu. Kamu butuh seseorang di sisi kamu sampai tua nanti.” 
Girl  : “Aku nggak harus mencintai. Suatu saat nanti aku akan menikah tanpa cinta. Percuma kamu menyuruhku mencintai orang lain.” 
Boy : “Kenapa kamu begitu menyebalkan seperti ini? Kamu menyerah untuk mencintai?” 
Girl  : “Buat apa aku mencintai, kalau cinta itu sendiri membuat lemah. Cinta itu membuat orang tangguh menjadi tak terkendali, membuat orang pandai menjadi bodoh, membuat orang berubah dan membuat semuanya berantakan.” 
Boy : “Apa yang sedang kamu bicarakan? Apa ini semua tentang dia?”
Girl  : “Bukan. Tapi tentang mereka yang menggunakan cinta sebagai permainan. Mereka yang menggunakan cinta hanya sebagai pelampiasan rasa sakit mereka. Mereka yang menggunakan cinta sebagai status saja. Mereka yang menggunakan cinta untuk memanfaatkan orang lain. Mereka yang…” 
Boy : “Itu kan mereka. Masih banyak juga mereka yang tulus memberikan cintanya. Masih banyak mereka di luar sana yang tak percaya cinta sepertimu ya karena mereka sama sepertimu. Apakah mereka juga kau anggap sama? Lalu kamu sendiri apa?” 
Girl  : “Mereka sama sepertiku? Ya, berarti mereka semua korban cinta. Kamu tahu aku benci cinta karena awalnya aku percaya, tapi kepercayaan itu dihancurkan begitu saja. Awalnya aku percaya jika cinta itu ada maka dia akan menghampiri dan aku harus menjemputnya. Kamu tahu apa yang terjadi? Cinta yang kumaksud tak pernah datang, dan begitu datang cinta yang kupaksakan.” 
Boy : “Itu salahmu karena kamu tak pernah bisa membuka hatimu untuk orang lain. Kamu hanya berambisi untuk memilikinya tapi tak belajar caranya mempertahankan.” 
Girl  : “Kamu bilang salahku? Lalu ketika kuhadapi cinta yang kupaksakan itu mengapa semua hal menjadi bodoh. Mengapa justru aku merasa tak hidup. Aku justru merasa tak ada orang yang mencintai dengan tulus. Selalu ada prioritas, selalu ada keinginan dan mempertahankan keegoisan. Apa setelah itu aku harus membukanya lagi? Apakah aku harus belajar mempertahankan apa yang tidak bisa kupertahankan?” 
Boy : “Kamu salah. Kamu hanya belum menemukan cinta yang kumaksud. Cinta memang sering kali seperti itu. Anggaplah dengan itu kamu belajar memahami cinta baru kamu bisa belajar membuka dan mempertahankannya.”
Girl  : “Sudah kubilang aku tak percaya cinta. Tak ada cinta di dunia ini sekarang. Lihat sekarang banyak mereka yang dihianati, lihat mereka yang menangis karena tak sanggup menolak cinta itu, lihat mereka yang sudah dibutakan cinta, lihat mereka. Apakah dalam sehari mereka bisa tersenyum, apakah dalam sehari mereka bisa berhenti menangis? Nggak.” 

Hening. 

Girl  : “Mereka mengadu padaku. Mereka menangis di hadapanku. Mereka tertawa di pelupuk mataku. Aku lelah dipermainkan cinta.”
Boy : “Itu karena kamu..”
Girl  : “Apa? Aku menolak kehadiran cinta itu? Nggak juga. Aku ikut merasakan kebahagiaan mereka. Aku ikut merasakan tangisan mereka. Itu artinya aku tak menolak kehadirannya kan? Aku juga belajar untuk membukanya. Tapi apa? Aku sekarang tak bisa mempercayainya karena cinta itu sulit untuk digenggam. Jika digenggam terlalu erat menyakitkan, jika digenggam setengah ringan ia akan lari dengan perlahan.”  
Boy : “Tapi kalau kamu begini terus bagaimana kamu bisa mendapatkan kebahagiaan dari yang namanya cinta?” 
Girl  : “Mungkin ini semua lebih baik dan kelak kebahagiaan akan datang dengan sendirinya.” 
Boy : “Belajarlah mencintai secara perlahan, membuka hati dan mempertahankan. Itu yang seharusnya kau lakukan. Kalau begitu aku yang akan mengawalinya untukmu.” 
Girl  : “Maksud kamu?” 
Boy : “Biarkan aku yang memulainya dulu. Aku akan menunggumu sampai kamu bisa mencintaiku. Aku akan membantumu membuka hati dan belajar mempertahankannya. Aku ingin kamu tak membenci cinta karena aku tak bisa mengatakan apa-apa selain kata cinta. Jika kamu tak mempercayainya bagaimana kamu bisa mempercayaiku kalau aku mencintaimu.”

Komentar