Langsung ke konten utama

Surat Cinta Kaleng


“Lin, kunci buat buka mading mana?” tanya Damar yang tiba-tiba datang mengusik obrolanku dengan Dira, teman sebangkuku. Padahal kami tengah asyik membicarakan Jolie, si cewek centil dan seksi. Begitulah julukan dari  anak-anak cowok di sekolah. Okey, kuakui dia memang berkuasa sebagai ketua mading di sekolahku sedangkan aku hanya penjaga kunci dan penempel ulung tapi bukan begitu caranya untuk meminta sesuatu.
Aku balik bertanya, “Kunci mading? Buat apa, Dam? Bukannya udah aku tempelin semua ya yang kamu perintahin kemarin?” Aku merasa sudah menjalankan tugasku dengan baik tapi sepertinya berbeda dengan pikiran si Damar.
“Kalau gitu lo ikut gue!” ajak Damar. Ia berjalan duluan di depan sementara aku dengan setengah berlari mengikutinya dari belakang tanpa Dira.
Mendadak ia berhenti setelah sampai di depan mading. “Ini siapa yang nempelin? Kamu? Aku dapat teguran dari Pak Kepsek gara-gara surat kaleng ini. Kamu satu-satunya orang yang memegang kunci mading kita kan? Seharusnya ini tanggung jawab kamu untuk meneliti isi mading sebelum dikunci lagi,” ujar Damar dengan penekanan pada kata meneliti dan saat bertanya kamu dengan intonasi menuduh.
“Bentar deh, kayaknya ada salah paham nih! Perasaan kemarin ini surat nggak ada. Aku memang yang nempelin semua ini, kecuali surat kaleng itu.” Aku mulai merasa ini tak adil. Tanpa bukti apa-apa sudah dituduh mentah seperti ini.
Jolie datang cengar-cengir dengan permen lolipopnya. Ia berhasil menghipnotis mata Damar dengan rok seksinya. “Woi, kalian berdua serius banget nih. Aku nggak ganggu kan?”
Aku mendadak mendapat ide untuk melimpahkan tuduhan itu ke Jolie. “Kalau kamu nggak percaya tanya aja ke Jolie! Dia kemarin juga ikut bantu nempelin,” seruku dengan sewot terasa seperti tersangka yang diinterogasi hanya karena surat cinta kaleng tak bermutu itu.
“Aku? Ada apa denganku?” tanya Jolie dengan wajah berbinar tak berdosa.
“Begini, Jol, di mading kita ada surat kaleng. Apa kemarin waktu kalian nempel memang nggak ada?” tanya Damar dengan begitu lembutnya berbeda dengan perlakuannya kepadaku. Mungkin saja karena penampilan Jolie lebih OK daripada aku. Aku yang tak berani memakai rok di atas lutut karena melanggar tata tertib, tapi Jolie dengan gamangnya berani menunjukkan lututnya tanpa rasa khawatir.
“Oh, itu surat, memang sudah ada kok,” jawab Jolie sambil melepas permen lolipopnya dari mulut. Jawabannya sukses membuatku tercengang. Sementara Damar melotot ke arahku seakan berkata apa itu yang kamu katakan belum tertempel??
“Serius kamu, Jol?” tanyaku ragu karena seingatku surat itu memang tak pernah tertempel.
“Berarti dari kemarin tuh surat memang sudah terpampang dan dibaca satu sekolah bahkan sampe Pak Kepsek?” tanya Damar dengan penuh penekanan dan sesekali melotot ke arahku.
“Beneran. Itu surat kan aku yang nempelin dan kemungkinan sih udah dibaca satu sekolah,” jawab Jolie membuatku lega sekaligus naik pitam. Gara-gara dia aku dituduh mentah-mentah oleh Damar tanpa saksi mata ataupun barang bukti.
“Apa aku bilang, bukan aku yang nempelin, Dam. Terbuktikan semuanya. Lain kali kumpulin bukti yang nyata dulu, jangan lantas menjadikanku tersangka utama!” gumamku tak dihiraukan karena ia sibuk menasehati Jolie.
 “Jol, lain kali jangan pasang surat-surat kaleng seperti ini lagi ya! Aku ditegur Pak Kepsek karena isinya tak sesuai. Ini sekolah Jol, harus bisa dipisahkan sama masalah pribadi.”
Aku mengerutkan keningku. Dasar laki-laki kalau ada yang lebih cantik sedikit, pasti bersikap lembut dan tak memperdulikan orang yang sedang berbicara dengannya, pikirku kesal.
“Itu surat kan buat kamu, Damar. Tapi aku bingung, mau dikasihin langsung ke kamu atau gimana. Terus waktu aku lihat Alin, aku terinspirasi untuk nempelin itu ke mading. Kan lebih seru dan asyik. Satu sekolah kan bisa jadi tahu. Kamu suka isinya kan?” Jolie semakin terlihat centil di depan Damar lebih centil daripada hari-hari biasanya. Membuatku muak.
“Iya tapi lain kali jangan seperti itu lagi ya! Aku lebih suka kalau itu surat langsung kamu kasihin ke aku,” gumamnya sambil malu-malu sukses membuatku ilfeel.
Apa ada yang punya korek? Rasanya aku seperti obat nyamuk yang tinggal dibakar. Oh, pitty I’m! Aku menjadi saksi cinta mereka berdua. Padahal aku ikut klub mading sekolah hanya untuk Damar.
***


Komentar