Langsung ke konten utama

Cinta Sahabat


“Selanjutnya dari Tita buat Cinta ‘sobat aku minta maaf’ request lagunya Rebeca yang Maafkan Aku Mencintai Kekasihmu. Langsung deh aku puterin. Ya udah cekidot aja.”
Teman ada yang ingin kusampaikan namun ini tak pantas tuk kau dengar, ku ada di tempat yang salah karena dibutakan cinta. Yang kau lihat tak seperti yang kau lihat semua telah terjadi di luar kendaliku, jika bisa kuarahkan saja cinta ini ke lain cinta. Maafkan aku mencintai kekasihmu kekasihmu namun kutak ingin menjadi penyebab kehancuran antara kau dan dia dan aku.. Teman takkan kupaksa kau maafkan diriku yang terlanjur bersalah hanyalah maaf tulus dariku takkan pernah kubuat lagi..
Cinta mematikan radionya dengan lemas. Matanya membendung air. Badannya terkulai di lantai. Isak tangisnya pecah.
“Ya ampun, Cin. Kamu kenapa?” Lita berlari melihat keadaan Cinta. Dibangunkannya badan Cinta yang tak bertenaga. Isaknya semakin pecah dipelukan Lita.
“Nggak semua persoalan bisa diselesaikan dengan tangisan, Cin. Ada apa? Ceritakan padaku!”  desak Lita. Jari-jari Cinta mulai membasuh air matanya.
“Tita sama.. sama..,” kata Cinta terbata dan tak tuntas.
“Kalau kamu nggak bisa cerita sekarang ya udah jangan dipaksakan. Yang penting jangan dipendam sendiri. Ingat aku ada di sini. Lita yang akan selalu ada di samping kamu dan di pihakmu.”
“Tita jadian sama Dias, Lit,” kata Cinta seraya mencoba menghentikan isak tangisnya. 
“Ah, masak sih? Aku nggak percaya. Kamu dapat info itu dari mana? Jangan mudah berpikir negatif gitu ah, Cin. Nggak baik buat kamu sendiri.”
“Dari radio. Dia kirim salam dari radio, Lit.”
“Apa disebutin buat siapa, dimana?” 
“Siapanya sih iya, tapi dimananya nggak.”
“Ya, terus kenapa nangis? Yang punya nama Cinta nggak cuma kamu doang. Masih banyak nama Cinta di luar sana. Udah jangan nangis lagi. Lagian pasti kalau itu bener Tita akan ngomong sendiri.”
“Tapi kalau dia takut dan nggak berani cerita ke aku? Itu mungkin juga kan?”
“Sekarang coba pikir, Tita baru aja putus dari cowoknya. Mana mungkin dia begitu cepatnya buka hati buat Dias. Apalagi statusnya Dias itu masih cowok kamu.”
“Apa sih yang nggak mungkin di dunia ini? Sekarang semua orang juga udah tahu gimana dekatnya mereka.”
“Cin, dengerin aku! Dekat bukan berarti pacaran kan? Dekat bisa aja jadi sahabat, teman dekat atau…”
“Atau calon kekasih maksud kamu?”
“Cin, kalau kamu berpikir kayak gitu terus kamu yang akan jadi sakit sendiri. Sebagai sahabat kamu aku cuma mau bilang kalau itu masih belum terbukti dan kalaupun itu benar mungkin memang kamu harus berkorban buat mereka.”
“Maksud kamu apa? Aku yang harus mengalah? Kenapa harus aku? Apa salahku?”
“Nggak ada yang salah, Cin. Kalau kamu udah bermain-main dengan yang namanya cinta kamu nggak akan bisa lepas kecuali kamu yang melepasnya sendiri.”
“Lit, katanya tadi kamu di pihakku kenapa seolah kamu bukan di pihakku sekarang?”
“Dengar aku, Cin! Sekarang kamu pikir kalau ini benar terjadi siapa yang akan terluka? Kamu, pasti. Tita, pasti. Dias, juga pasti. Lalu apa lagi? Kalian sama-sama terluka. Tita sahabat kamu kan? Dias cowok kamu kan? Lalu kamu apa akan jadi seseorang yang merampas cinta mereka?”
“Bukannya Tita yang merampas cintaku? Ah, bicara denganmu semakin membuatku sakit hati, Lit! Kamu sama Tita sama aja.”
“Sebentar, Cin. Aku belum menyelesaikan kalimatku.”
“Sudahlah, Lit. Aku tak butuh ceramahmu. Sebaiknya kamu pulang.”
***
Pelajaran Matematika telah usai. Saatnya pulang. Cinta hanya menunduk sambil merapikan buku-bukunya. Lita di sampingnya tak mengajaknya bicara. Lita justru sedang berbicara dengan Tita yang duduk tepat di belakangnya.
“Tit, Tita. Kamu udah lihat toko aksesoris yang baru buka di depan sekolah? Katanya bagus-bagus tuh koleksinya.”
“Belum sempet, Lit. Habis ini aja kita bareng-bareng ke sana. Iya nggak, Cin?” tanya Tita.
Cinta menoleh dengan senyum simpul.
“Kamu kenapa, Cin? Sakit?” tanya Tita.
“Nggak kenapa-kenapa kok,” jawab Cinta seraya melirik Lita. Lita membuang pandangannya ke jendela.
“Wah, hujan! Aku nggak bawa payung,” Lita mengalihkan pembicaraan.
“Iya, nih. Aku juga nggak bawa. Apa nanti kita hujan-hujanan aja?” timpal Tita.
“Aku nggak ikut ya. Suasana hatiku lagi nggak enak. Aku cabut dulu,” ujar Cinta.
“Tunggu, Cin. Duduk dulu, ada yang mau aku bicarakan,” tahan Tita.
“Eh, aku keluar dulu ya. Aku lupa ada janji sama Bu Ingrid. Nanti kita langsung ketemu di toko aksesoris aja. Okey?” pamit Lita meninggalkan Tita dan Cinta.
“Ada apa, Tit?”
“Sebelumnya aku minta maaf. Kata Dias hubungan kalian menggantung sekarang. Apa itu benar?”
“Bisa dibilang begitu. Lalu?”
“Kamu masih cinta sama dia?”
“Iya masih. Kenapa?”
“Nggak pa-pa, Cin. Kamu..”
“Udah nggak usah pakai basa-basi lagi, Tit. Langsung aja.”
“Kata Dias dia nggak mau nyakitin kamu. Dia pengen ngajak putus.”
“Apa? Nggak mungkin itu, Tit.”
“Itu semua kemauan Dias.”
“Lalu hubungannya dengan kamu apa? Apa benar pesan di radio itu dari kamu? Kamu sama Dias jadian? Apa itu benar?”
“Maaf sebelumnya. Kamu boleh hukum aku dengan apa aja. Tapi..”
“Kamu.. kamu..”
“Cin, cinta itu bisa tumbuh di mana aja dan kapan aja. Aku nggak tahu kalau semua akan jadi kayak gini.”
“Kamu tega, Tit. Dias itu.. Ah, ternyata firasatku benar tentang kalian. Cukup ya, Tit. Mulai sekarang kita bukan sahabat lagi,” ujar Cinta ketus. Tubuhnya melesat cepat meninggalkan Tita.
“Cin, tunggu! Aku belum selesai ngomong.”
“Apalagi? Kalian berdua membuatku pahit.” Suara Cinta semakin lirih terdengar. Badannya sudah tak terlihat lagi.
“Cin, kumohon. Aku akan jelaskan.”
***
“Dari Cinta buat Tita dan Dias ‘akan aku ingat ini semua’ request lagunya Afgan Akhir Persahabatan. Wow, apa ini Tita yang kemarin titip salam buat Cinta dan sekarang Cinta yang kirim salam buat Tita. Ow, ow, ow. Apa pun masalah kalian semoga bisa dipecahkan dengan kepala dingin. Yee.. dimasukin ke dalam freezer. Ya udah cekidot lagu dari Afgan berikut ini..”
Ambillah kekasihku bila itu yang kau mau namun mulai saat ini aku tak ingin mengenalmu lagi. Segitu berartikah kekasihku di matamu hingga kau lupa siapa aku, aku sahabatmu yang selalu mempercayaimu. Aku terluka, sungguh terluka tak percaya teganya engkau merebut kekasihku aku terluka sungguh terluka tak percaya semudahkah akhir persahabatan kita. Inilah akhir persahabatan semoga kalian bahagia..
Isak tangis kembali pecah di kamar Cinta. Kali ini diiringi lirih lagu Afgan yang diputar di radio.
“Aku tahu kamu pasti bakalan begini. Cin, udah hadapi realita yang ada sekarang!” Suara Lita memasuki kamar Cinta.
“Kamu, ngapain di sini?”
“Aku kan udah bilang kemarin aku di pihak kamu dan akan selalu di samping kamu. Aku tahu saat ini kamu butuh aku. Jadi aku datang.”
“Aku nggak butuh kamu. Kalau kamu mau ceramah lagi bukan di sini. Kalau kamu mau mojokin aku dengan semua keinginan kamu itu bukan di sini tempatnya. Sebaiknya kamu pergi aja.”
“Cin, stop kekonyolan kamu ini! Seharusnya kamu ingat hubungan kamu sama Dias itu udah ada di langit-langit. Tinggal nunggu diberesin aja.”
“Maksud kamu apa? Aku masih cinta Dias, Lit.”
“Tapi Dias udah nggak kan? Apa kamu mau egois sekarang?”
Hening.
“Cin, denger baik-baik! Siapa yang bilang cinta membuat kita banyak belajar? Kamu kan? Kamu juga pernah bilang kalau mencintai berarti harus belajar merelakan. Kalau kamu mencintai kamu juga harus belajar berkorban. Sekarang di mana kata-kata yang pernah kamu lontarkan dulu?”
Hening.
“Cin, aku tahu perasaan kamu sekarang, tapi kamu nggak harus terlarut begini. Ini semua skenario bukan mereka yang buat. Kamu mau marah, mau jungkir balik, mau lampiasin ke mereka percuma, Cin. Nggak akan bisa kembali seperti dulu. Kamu justru merampas kebahagiaan mereka kalau kamu kayak gini.”
“Kamu selalu bilang aku egois. Sebenernya siapa yang egois aku atau dia? Dia kan yang merampas hatinya Dias.”
“Bukan, tapi karena Tuhan menunjukkan sebuah pelajaran buat kamu.”
“Lit, kamu itu kenapa sih? Perkataan kamu itu semua seolah nyuruh aku buat rela.”
“Rela dan ikhlas tepatnya. Itu yang sedang diuji buat kamu. Kalau kamu bisa melewatii ujian ini di masa datang kamu nggak akan diuji seperti ini lagi. Tapi jika kamu belum bisa melewati ujian ini, Tuhan akan menguji kamu sampai kamu bisa melewati ujian ini dengan bentuk dan cara yang lain.”
“Stop berceramah, Lit. Kamu nggak tahu gimana perasaanku, jangan sok mengguruiku.”
“Kamu tahu semua itu butuh proses. Saat ini kamu akan mengatakan aku menggurui atau apalah itu, tapi suatu saat kamu akan berterima kasih padaku. Ini semua baru permulaan, Cin. Kamu akan di hadapkan ujian yang lebih besar daripada pengakuan Tita.”
“Maksud kamu?”
“Setelah ini mereka akan tampak selalu bersama. Di mana-mana mereka akan bersama layaknya sepasang kekasih. Silahkan saja kalau kamu ingin menyiksa batin berlama-lama. Kamu ingin melihat mereka sama-sama tertekan denganmu? Kamu pikir mereka nggak merasa bersalah? Kamu pikir mereka sadar udah terbawa sama permainan cinta? Nggak, Cin. Sampai kapan kamu mau nangis di kamar seharian? Sampai kapan kamu ngeluarin kata-kata kasar ke radio? Harga dirimu di mana, Cin? Kamu bukanlah satu-satunya yang pernah merasakan semua ini. Di luar sana nggak terhitung jumlahnya.”
“Kamu tahu, Lit? Aku benci semua ini.”
“Cin, ini mungkin ada baiknya buat kamu. Kamu yang sabar dan cepatlah bangkitlah.”
“Lit, aku bodoh ya? Bener-bener bodoh. Seharusnya Dias sudah kulepas dari dulu. Sebelum semuanya terjadi.”
“Kamu salah. Justru inilah satu tamparan buat kamu agar sadar. Katanya kamu mencintai Dias, tapi perhatian dan kasih sayang yang kamu berikan kepadanya kurang. Lihat hubungan kalian bahkan bertahan sampai di langit-langit. Sedangkan Tita, dia dengan tulus menggantikan perhatian dan kasih sayang yang seharusnya kamu berikan kepadanya.”
“Sungguh, aku nggak bisa ngomong apapun sekarang.”
“Udah ya, kalau kamu masih ingin nangis, nangis aja. Nggak ada yang larang, asal jangan berlarut-larut. Satu lagi jangan hilangkan nafsu makan kamu. Kamu udah kering begini kalau nggak doyan makan nanti mau jadi apa?”
“Iya, makasih, Lit.”
***
“Hemm, dari Tita request lagunya Padi yang Sobat buat Cinta ‘aku tak bermaksud seperti itu’. Langsung aja diputer buat Cinta, cekidot deh kalau begitu..”
Sobat aku sungguh tak mengerti semua ini bisa terjadi setelah perkenalan itu aku terhanyut aku sebenar-benarnya tak kuasa, dambakannya, rindukannya.. Kutahu dia milikmu tercinta sebagai kembang yang kau pilih namun hatiku hatinya mengisyaratkan rasa, ingin memetik merangkai menjadikan ikatan abadi. Mendambakannya, merindukannya.. Oh, sobat maafkan aku mencintainya aku tak bermaksud membuatmu sunggguh tak berarti. Oh, sobat maafkan aku mencintainya aku tak bermaksud membuatmu sunggguh tak berarti. Coba menahan himpitan rasa itu merajam keruhnya jiwaku, ternyata hidupku dan dirinya terikat rasa tulus takkan menyusupkan peluhku dan rindunya..
Sayup-sayup lagu Padi menyusup masuk ke telinga Cinta yang mendekati daun pintu kamar Tita. Dilihatnya Tita telungkup di tempat tidur sambil memeluk bantalnya.
“Paling enak ya nangis sambil meluk bantal. Orang lain jadi nggak tahu kalau kamu sedang nangis.”
“Cinta!”
“Udah jangan nangis lagi. Aku tahu saat ini kamu terbebani. Aku datang untuk meringankannya.”
“Cinta, aku minta maaf.”
“Kamu nggak salah, udah jangan minta maaf lagi.”
“Aku janji, Cin, akan mencintainya sepenuh hatiku. Aku janji akan menjaganya sebisaku.”
“Cukup, Tit. Kalau kamu bicara begitu lagi aku benar-benar sakit hati. Kamu tahu perjuanganku  melupakan kejadian ini. Tolong mulai saat ini jangan diungkit lagi. Anggap tak pernah terjadi dan kita tetap jadi sahabat.”
“Tapi aku..”
“Dia bukan barang, Tit, tapi maaf harus kukatakan sekarang dia milikmu. Memang seharusnya begitu dari dulu.”
“Cin, apa yang harus kukatakan? Aku tak bisa berkata apa-apa.”
“Aku nggak akan nyuruh kamu bilang terima kasih. Kata-kata itu justru membuat aku semakin lemah. Jangan katakan itu ya, Tit. Kita tetap bersahabat dan kalau suatu saat nanti aku meminta Dias padamu tamparlah aku dan hinalah aku habis-habisan.”
“Kamu..”
“Aku sedang berusaha merelakan dan mengikhlaskan. Doakan aku biar bisa melewati ujian ini.”
“Maaf, Cinta. Aku bersalah padamu. Aku nggak bisa berhenti mengucapkan kata-kata ini. Aku akan putuskan Dias kalau kamu mau. Akan kuakhiri sekarang juga kalau kamu tersiksa.”
“Hentikan omong kosong itu, Tit. Kamu mencintainya, Dias juga mencintaimu. Cinta kalian bukan cinta sepihak. Jadi kalau kamu yang mengakhiri kamu akan melukai Dias. Cukup aku saja yang berkorban. Jangan kalian berdua. Kalau belajar mencintai harus belajar merelakan. Kalau belajar mencintai harus belajar mengikhlaskan. Sekarang kata-kata itu sedang aku buktikan. Tolong jangan buat aku semakin meragu.”
“Cinta, kamu memang teman yang baik. Aku bangga bisa memiliki teman sepertimu.”
“Nah begitu seharusnya kalian berdua,” ujar Lita dari daun pintu.
“Lita, sini kita berpelukan,” ajak Tita yang membasuh air matanya.
“Nggak mau, ah. Kalian kan sedang mendramatisasi keadaan.” Lita menjulurkan lidahnya.


Komentar