Langsung ke konten utama

Bujang dan Rahmi

Rahmi: "Sadarkan aku kalau ini bukan kegilaan. Sudah lama mulut ini berkoar tapi tak juga dia datang."
Bujang: "Kau sedang apa?"
Rahmi: "Aku sedang menunggu. Tidak-tidak-tidak aku sedang menanti."
Bujang: "Kau ini kenapa, Mi? Tak ada angin tak ada badai, tahu-tahu kau..."
Rahmi: "Diam. Aku sedang bicara pada angin. Sstttss.. Angin kenapa kau datang tanpa kabar darinya? Seharusnya kau tak pulang kemari dengan tangan hampa. Seharusnya kau bawa dia ke sini, tunjukkan padanya kalau aku di sini. Dalam bui yang tak bisa kusebut dengan bui karena sebenarnya tak terperangkap pula aku di sini. Aku cuma ingin dia kau bawa ke sini, paling tidak kau bawa kabar kalau dia baik-baik saja di sana."
Bujang: "Kau gila? Bicara pada angin yang tak punya daya untuk membalas celotehanmu."
Rahmi: "Aku memang sudah gila. Bahkan sudah dari kecil. Apa tak kau lihat tanda-tandanya? Aku ini gila. Gila karena cintaku tak tahu di mana."
Bujang: "Ah, cinta lagi. Tak usahlah kau terlalu mendramatisir keadaanmu. Kau bilang dia takkan kemana-mana dulu."
Rahmi: "Itu dulu, lain dengan sekarang. Aku dikejar usia, bujang sedang dia.. dia.. ah, tak tahulah. Aku merindukan dia."
Bujang: "Baru kepalamu beranjak dua kau sudah khawatir. Kenapa tak kau nikmati hidupmu dulu? Ayolah, takut tak laku kau?"
Rahmi: "Masalahnya aku takut dia diambil orang bujang. Bayangkan sudah dua belas tahun aku tak jumpa, tak ada kabar pula mana bisa aku santai."
Bujang: "Apa? Kau lucu sekali. Kau masih bertahan dengan lelaki yang kau puja sejak lama? Hahaha.. Kau tak tahu dua belas tahun itu sangat lama. Kau tak khawatir dia berubah tak seperti bayanganmu?"
Rahmi: "Benar juga kau bujang. Dalam satu tahun saja kulihat banyak gedung-gedung baru yang menjulang, dan kalau kuhitung-hitung dalam dua belas tahun ini sudah lebih dari 50 bangunan baru yang berdiri. Bagaimana dengan dia? Ah, tak mungkin dia berubah jauh seperti bangunan itu."
Bujang: "Macam mana kau ini, pastinya dia berubah. Tak mungkin dia anak-anak terus. Pastinya sekarang dia sepertimu dan satu hal yang kau tahu persamaan dulu dan sekarang, kau tetap tak bisa mengharapkan dia seperti dulu lagi. Ini lebih mengerikan daripada sebuah bangunan. Kalau bangunan yang berdiri bisa saja diratakan kembali, tapi kalau manusia tak bisa kembali lagi."
Rahmi: "Aku juga tahu itu, bujang. Sekarang yang kuresahkan, apa dia masih mengenalku kalau aku bertemu dengannya dan apa dia punya perasaan yang sama denganku. Aku takut bujang, kalau dia tak mengenalku. Aku takut kalau dia ternyata sudah diambil orang dan aku lebih takut lagi kalau ternyata dia sudah tak ada."
Bujang: "Kau tahu itu, tapi kenapa kau menantinya? Apalagi dia tak tahu keberadaanmu. Mungkin saja dia sudah lupa kau."
Rahmi: "Tapi tak mungkin dia lupa aku, bujang karena aku punya sahabat yang tepatnya sepupunya. Pasti saat aku pergi dulu, sahabatku itu memberitahunya. Ah, aku semakin tak sabar tuk menemukannya!"
Bujang: "Kau bilang tadi menanti? Kenapa berganti menjadi menemukannya? Kau bermaksud mencarinya?"
Rahmi: "Mungkin begitulah. Aku sudah geram menantinya. Dia tak datang-datang juga. Aku bosan, bujang. Aku akan mengumpulkan uang untuk mencarinya, sampai ke ujung dunia pun akan aku arungi, bujang. Coba aku punya banyak uang.."
Bujang: "Gadis seperti kau tak boleh pergi jauh-jauh. Sudah kau di sini saja!"
Rahmi: "Tak bisa, bujang. Kalau aku di sini terus, bagaimana aku bisa bertemu dengannya? Aku yakin aku dan dia bisa bertemu suatu saat nanti."
Bujang: "Apa kau tak sadar juga, Mi. Aku itu sudah lama mencintaimu. Apa kau tak bisa hapus dia dari ingatanmu?"
Hening...

Komentar