Langsung ke konten utama

BAGAIMANA KALAU ANAK TUNARUNGU BERKOMUNIKASI?

"Pakai bahasa isyarat, membaca gerak bibir atau bicara verbal?” Belajar bahasa isyarat apakah enak? Iya jelas. Ketika sama-sama tahu bisa bicara rahasia sehingga orang-orang lain tidak tahu apa yang dibicarakan. Lho ngelantur?

Belajar bahasa isyarat ya tujuannya untuk bisa berkomunikasi dengan anak tunarungu. Tetapi pada kenyataannya harus bersabar.
Dulu saya pikir bahasa isyarat itu tiap daerah satu dengan yang lain sama, tiap Negara satu dengan yang lain sama, tapi ternyata sekolah satu dengan sekolah lain saja sudah berbeda. Meskipun di Indonesia ada SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia), pada prakteknya terlalu sulit mungkin hanya sebatas huruf abjad yang biasanya dipakai untuk memperkenalkan nama serta beberapa gerakan yang ringan dan mudah dihafal. Untuk selebihnya biasanya menggunakan gerakan sehari-hari yang telah disepakati bersama dalam kelas. Orang biasa akan sangat kesulitan menangkap pembicaraan anak tunarungu. Apa yang dikatakan tidak akan langsung mudah ditangkap begitu saja meskipun sudah menggunakan bahasa isyarat sekalipun karena kosa kata mereka sering terbalik-balik. Ini kesalahan fatal yang membuat pesan tak tersampaikan.

Berikut gambar abjad jari di KAMUS SIBI kalau ingin tahu:


Ternyata saat membuka halaman demi halaman Kamus SIBI sudah terhambat dulu. Di bagian kiri hanya ada gambar mati sedang kanan penjelasan verbal. Kalau tidak bisa mencerna dengan baik gerakan pun akan berbeda. Enak kalau lihat video, langsung bisa praktek.

Kalau di film-film biasanya untuk menciptakan karakter anak tunarungu sering menggunakan bahasa isyarat kalau tidak anak tunarungu menenteng kertas dan alat tulis untuk memudahkan orang normal memahami pesan yang ingin disampaikan, tetapi saya menemukan hal lain. Handphone. Ya, setahu saya anak-anak tunarungu sekarang memanfaatkan handphone-nya untuk berkomunikasi. Apa dengan telepon? Tentu tidak.

Saya pernah mencoba berbicara dengan mereka menggunakan bahasa isyarat ala kadarnya sebatas kemampuan saya dicampur dengan bahasa bibir dan mereka paham dengan apa yang saya tanyakan. Namun sayangnya  saya tidak paham dengan apa yang mereka bicarakan. Hanya satu kata yang keluar dari mulut saya “Ha?” dan satu ekspresi “kebingungan”. Saat itu tak ada kertas ataupun alat tulis, tiba-tiba ia mengeluarkan handphone dari sakunya lalu mengetikkan sesuatu di sana. Sebuah penjelasan yang acak kadut penyusunan katanya.

Ternyata dengan bahasa isyarat, tulis menulis atau handphone sekalipun terkadang tetap tak bisa memahami apa yang diinginkan si anak. Tak heran jika sering anak tunarungu mengeluh karena orang normal salah tangkap informasi.

Hei, ternyata tak berhenti di situ saja. Sekarang banyak anak tunarungu yang bermain akun internet seperti facebook. Cari saja di search biasanya ada tulisan Deaf entah di depan, di belakang atau di tengah. Dengan kemajuan teknologi, komunikasi dengan tunarungu menjadi tak terbatas. Saat ini dapat ditemukan di dunia maya jika ingin belajar berkomunikasi dengan mereka.

Ternyata sekarang tidak perlu susah-susah untuk berkomunikasi dengan anak tunarungu. Tidak perlu susah-susah menggunakan bahasa isyarat selama kosa kata mereka cukup, tidak perlu susah-susah berbicara dengan gerak bibir yang jelas ataupun bicara verbal dengan jelas yang mengharuskan bertatap muka. Sekarang mau dari mana saja bisa, handphone dengan sms, internet dengan chatting atau akun-akun yang sudah menjamur. 
 Ingin coba? ^ ^

Komentar

  1. menarik juga, akunsetuju dg tulisan di atas, kebanyakan deaf masih minim dalam kemampuan berbahasa, bahkan berdasarkan penelitian lembaga internasional, sekitar 96% deaf di dunia memiliki low literacy skill...

    salam kenal, aku juga seorang deaf,,,
    mampir aja ke https://www.facebook.com/mukhanif.yasinyusuf?ref=tn_tnmn

    BalasHapus

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda di sini