Rabu, 13 Juli 2011

Bujang dan Rahmi

Rahmi: "Sadarkan aku kalau ini bukan kegilaan. Sudah lama mulut ini berkoar tapi tak juga dia datang."
Bujang: "Kau sedang apa?"
Rahmi: "Aku sedang menunggu. Tidak-tidak-tidak aku sedang menanti."
Bujang: "Kau ini kenapa, Mi? Tak ada angin tak ada badai, tahu-tahu kau..."
Rahmi: "Diam. Aku sedang bicara pada angin. Sstttss.. Angin kenapa kau datang tanpa kabar darinya? Seharusnya kau tak pulang kemari dengan tangan hampa. Seharusnya kau bawa dia ke sini, tunjukkan padanya kalau aku di sini. Dalam bui yang tak bisa kusebut dengan bui karena sebenarnya tak terperangkap pula aku di sini. Aku cuma ingin dia kau bawa ke sini, paling tidak kau bawa kabar kalau dia baik-baik saja di sana."
Bujang: "Kau gila? Bicara pada angin yang tak punya daya untuk membalas celotehanmu."
Rahmi: "Aku memang sudah gila. Bahkan sudah dari kecil. Apa tak kau lihat tanda-tandanya? Aku ini gila. Gila karena cintaku tak tahu di mana."
Bujang: "Ah, cinta lagi. Tak usahlah kau terlalu mendramatisir keadaanmu. Kau bilang dia takkan kemana-mana dulu."
Rahmi: "Itu dulu, lain dengan sekarang. Aku dikejar usia, bujang sedang dia.. dia.. ah, tak tahulah. Aku merindukan dia."
Bujang: "Baru kepalamu beranjak dua kau sudah khawatir. Kenapa tak kau nikmati hidupmu dulu? Ayolah, takut tak laku kau?"
Rahmi: "Masalahnya aku takut dia diambil orang bujang. Bayangkan sudah dua belas tahun aku tak jumpa, tak ada kabar pula mana bisa aku santai."
Bujang: "Apa? Kau lucu sekali. Kau masih bertahan dengan lelaki yang kau puja sejak lama? Hahaha.. Kau tak tahu dua belas tahun itu sangat lama. Kau tak khawatir dia berubah tak seperti bayanganmu?"
Rahmi: "Benar juga kau bujang. Dalam satu tahun saja kulihat banyak gedung-gedung baru yang menjulang, dan kalau kuhitung-hitung dalam dua belas tahun ini sudah lebih dari 50 bangunan baru yang berdiri. Bagaimana dengan dia? Ah, tak mungkin dia berubah jauh seperti bangunan itu."
Bujang: "Macam mana kau ini, pastinya dia berubah. Tak mungkin dia anak-anak terus. Pastinya sekarang dia sepertimu dan satu hal yang kau tahu persamaan dulu dan sekarang, kau tetap tak bisa mengharapkan dia seperti dulu lagi. Ini lebih mengerikan daripada sebuah bangunan. Kalau bangunan yang berdiri bisa saja diratakan kembali, tapi kalau manusia tak bisa kembali lagi."
Rahmi: "Aku juga tahu itu, bujang. Sekarang yang kuresahkan, apa dia masih mengenalku kalau aku bertemu dengannya dan apa dia punya perasaan yang sama denganku. Aku takut bujang, kalau dia tak mengenalku. Aku takut kalau dia ternyata sudah diambil orang dan aku lebih takut lagi kalau ternyata dia sudah tak ada."
Bujang: "Kau tahu itu, tapi kenapa kau menantinya? Apalagi dia tak tahu keberadaanmu. Mungkin saja dia sudah lupa kau."
Rahmi: "Tapi tak mungkin dia lupa aku, bujang karena aku punya sahabat yang tepatnya sepupunya. Pasti saat aku pergi dulu, sahabatku itu memberitahunya. Ah, aku semakin tak sabar tuk menemukannya!"
Bujang: "Kau bilang tadi menanti? Kenapa berganti menjadi menemukannya? Kau bermaksud mencarinya?"
Rahmi: "Mungkin begitulah. Aku sudah geram menantinya. Dia tak datang-datang juga. Aku bosan, bujang. Aku akan mengumpulkan uang untuk mencarinya, sampai ke ujung dunia pun akan aku arungi, bujang. Coba aku punya banyak uang.."
Bujang: "Gadis seperti kau tak boleh pergi jauh-jauh. Sudah kau di sini saja!"
Rahmi: "Tak bisa, bujang. Kalau aku di sini terus, bagaimana aku bisa bertemu dengannya? Aku yakin aku dan dia bisa bertemu suatu saat nanti."
Bujang: "Apa kau tak sadar juga, Mi. Aku itu sudah lama mencintaimu. Apa kau tak bisa hapus dia dari ingatanmu?"
Hening...

Cinta Sahabat


“Selanjutnya dari Tita buat Cinta ‘sobat aku minta maaf’ request lagunya Rebeca yang Maafkan Aku Mencintai Kekasihmu. Langsung deh aku puterin. Ya udah cekidot aja.”
Teman ada yang ingin kusampaikan namun ini tak pantas tuk kau dengar, ku ada di tempat yang salah karena dibutakan cinta. Yang kau lihat tak seperti yang kau lihat semua telah terjadi di luar kendaliku, jika bisa kuarahkan saja cinta ini ke lain cinta. Maafkan aku mencintai kekasihmu kekasihmu namun kutak ingin menjadi penyebab kehancuran antara kau dan dia dan aku.. Teman takkan kupaksa kau maafkan diriku yang terlanjur bersalah hanyalah maaf tulus dariku takkan pernah kubuat lagi..
Cinta mematikan radionya dengan lemas. Matanya membendung air. Badannya terkulai di lantai. Isak tangisnya pecah.
“Ya ampun, Cin. Kamu kenapa?” Lita berlari melihat keadaan Cinta. Dibangunkannya badan Cinta yang tak bertenaga. Isaknya semakin pecah dipelukan Lita.
“Nggak semua persoalan bisa diselesaikan dengan tangisan, Cin. Ada apa? Ceritakan padaku!”  desak Lita. Jari-jari Cinta mulai membasuh air matanya.
“Tita sama.. sama..,” kata Cinta terbata dan tak tuntas.
“Kalau kamu nggak bisa cerita sekarang ya udah jangan dipaksakan. Yang penting jangan dipendam sendiri. Ingat aku ada di sini. Lita yang akan selalu ada di samping kamu dan di pihakmu.”
“Tita jadian sama Dias, Lit,” kata Cinta seraya mencoba menghentikan isak tangisnya. 
“Ah, masak sih? Aku nggak percaya. Kamu dapat info itu dari mana? Jangan mudah berpikir negatif gitu ah, Cin. Nggak baik buat kamu sendiri.”
“Dari radio. Dia kirim salam dari radio, Lit.”
“Apa disebutin buat siapa, dimana?” 
“Siapanya sih iya, tapi dimananya nggak.”
“Ya, terus kenapa nangis? Yang punya nama Cinta nggak cuma kamu doang. Masih banyak nama Cinta di luar sana. Udah jangan nangis lagi. Lagian pasti kalau itu bener Tita akan ngomong sendiri.”
“Tapi kalau dia takut dan nggak berani cerita ke aku? Itu mungkin juga kan?”
“Sekarang coba pikir, Tita baru aja putus dari cowoknya. Mana mungkin dia begitu cepatnya buka hati buat Dias. Apalagi statusnya Dias itu masih cowok kamu.”
“Apa sih yang nggak mungkin di dunia ini? Sekarang semua orang juga udah tahu gimana dekatnya mereka.”
“Cin, dengerin aku! Dekat bukan berarti pacaran kan? Dekat bisa aja jadi sahabat, teman dekat atau…”
“Atau calon kekasih maksud kamu?”
“Cin, kalau kamu berpikir kayak gitu terus kamu yang akan jadi sakit sendiri. Sebagai sahabat kamu aku cuma mau bilang kalau itu masih belum terbukti dan kalaupun itu benar mungkin memang kamu harus berkorban buat mereka.”
“Maksud kamu apa? Aku yang harus mengalah? Kenapa harus aku? Apa salahku?”
“Nggak ada yang salah, Cin. Kalau kamu udah bermain-main dengan yang namanya cinta kamu nggak akan bisa lepas kecuali kamu yang melepasnya sendiri.”
“Lit, katanya tadi kamu di pihakku kenapa seolah kamu bukan di pihakku sekarang?”
“Dengar aku, Cin! Sekarang kamu pikir kalau ini benar terjadi siapa yang akan terluka? Kamu, pasti. Tita, pasti. Dias, juga pasti. Lalu apa lagi? Kalian sama-sama terluka. Tita sahabat kamu kan? Dias cowok kamu kan? Lalu kamu apa akan jadi seseorang yang merampas cinta mereka?”
“Bukannya Tita yang merampas cintaku? Ah, bicara denganmu semakin membuatku sakit hati, Lit! Kamu sama Tita sama aja.”
“Sebentar, Cin. Aku belum menyelesaikan kalimatku.”
“Sudahlah, Lit. Aku tak butuh ceramahmu. Sebaiknya kamu pulang.”
***
Pelajaran Matematika telah usai. Saatnya pulang. Cinta hanya menunduk sambil merapikan buku-bukunya. Lita di sampingnya tak mengajaknya bicara. Lita justru sedang berbicara dengan Tita yang duduk tepat di belakangnya.
“Tit, Tita. Kamu udah lihat toko aksesoris yang baru buka di depan sekolah? Katanya bagus-bagus tuh koleksinya.”
“Belum sempet, Lit. Habis ini aja kita bareng-bareng ke sana. Iya nggak, Cin?” tanya Tita.
Cinta menoleh dengan senyum simpul.
“Kamu kenapa, Cin? Sakit?” tanya Tita.
“Nggak kenapa-kenapa kok,” jawab Cinta seraya melirik Lita. Lita membuang pandangannya ke jendela.
“Wah, hujan! Aku nggak bawa payung,” Lita mengalihkan pembicaraan.
“Iya, nih. Aku juga nggak bawa. Apa nanti kita hujan-hujanan aja?” timpal Tita.
“Aku nggak ikut ya. Suasana hatiku lagi nggak enak. Aku cabut dulu,” ujar Cinta.
“Tunggu, Cin. Duduk dulu, ada yang mau aku bicarakan,” tahan Tita.
“Eh, aku keluar dulu ya. Aku lupa ada janji sama Bu Ingrid. Nanti kita langsung ketemu di toko aksesoris aja. Okey?” pamit Lita meninggalkan Tita dan Cinta.
“Ada apa, Tit?”
“Sebelumnya aku minta maaf. Kata Dias hubungan kalian menggantung sekarang. Apa itu benar?”
“Bisa dibilang begitu. Lalu?”
“Kamu masih cinta sama dia?”
“Iya masih. Kenapa?”
“Nggak pa-pa, Cin. Kamu..”
“Udah nggak usah pakai basa-basi lagi, Tit. Langsung aja.”
“Kata Dias dia nggak mau nyakitin kamu. Dia pengen ngajak putus.”
“Apa? Nggak mungkin itu, Tit.”
“Itu semua kemauan Dias.”
“Lalu hubungannya dengan kamu apa? Apa benar pesan di radio itu dari kamu? Kamu sama Dias jadian? Apa itu benar?”
“Maaf sebelumnya. Kamu boleh hukum aku dengan apa aja. Tapi..”
“Kamu.. kamu..”
“Cin, cinta itu bisa tumbuh di mana aja dan kapan aja. Aku nggak tahu kalau semua akan jadi kayak gini.”
“Kamu tega, Tit. Dias itu.. Ah, ternyata firasatku benar tentang kalian. Cukup ya, Tit. Mulai sekarang kita bukan sahabat lagi,” ujar Cinta ketus. Tubuhnya melesat cepat meninggalkan Tita.
“Cin, tunggu! Aku belum selesai ngomong.”
“Apalagi? Kalian berdua membuatku pahit.” Suara Cinta semakin lirih terdengar. Badannya sudah tak terlihat lagi.
“Cin, kumohon. Aku akan jelaskan.”
***
“Dari Cinta buat Tita dan Dias ‘akan aku ingat ini semua’ request lagunya Afgan Akhir Persahabatan. Wow, apa ini Tita yang kemarin titip salam buat Cinta dan sekarang Cinta yang kirim salam buat Tita. Ow, ow, ow. Apa pun masalah kalian semoga bisa dipecahkan dengan kepala dingin. Yee.. dimasukin ke dalam freezer. Ya udah cekidot lagu dari Afgan berikut ini..”
Ambillah kekasihku bila itu yang kau mau namun mulai saat ini aku tak ingin mengenalmu lagi. Segitu berartikah kekasihku di matamu hingga kau lupa siapa aku, aku sahabatmu yang selalu mempercayaimu. Aku terluka, sungguh terluka tak percaya teganya engkau merebut kekasihku aku terluka sungguh terluka tak percaya semudahkah akhir persahabatan kita. Inilah akhir persahabatan semoga kalian bahagia..
Isak tangis kembali pecah di kamar Cinta. Kali ini diiringi lirih lagu Afgan yang diputar di radio.
“Aku tahu kamu pasti bakalan begini. Cin, udah hadapi realita yang ada sekarang!” Suara Lita memasuki kamar Cinta.
“Kamu, ngapain di sini?”
“Aku kan udah bilang kemarin aku di pihak kamu dan akan selalu di samping kamu. Aku tahu saat ini kamu butuh aku. Jadi aku datang.”
“Aku nggak butuh kamu. Kalau kamu mau ceramah lagi bukan di sini. Kalau kamu mau mojokin aku dengan semua keinginan kamu itu bukan di sini tempatnya. Sebaiknya kamu pergi aja.”
“Cin, stop kekonyolan kamu ini! Seharusnya kamu ingat hubungan kamu sama Dias itu udah ada di langit-langit. Tinggal nunggu diberesin aja.”
“Maksud kamu apa? Aku masih cinta Dias, Lit.”
“Tapi Dias udah nggak kan? Apa kamu mau egois sekarang?”
Hening.
“Cin, denger baik-baik! Siapa yang bilang cinta membuat kita banyak belajar? Kamu kan? Kamu juga pernah bilang kalau mencintai berarti harus belajar merelakan. Kalau kamu mencintai kamu juga harus belajar berkorban. Sekarang di mana kata-kata yang pernah kamu lontarkan dulu?”
Hening.
“Cin, aku tahu perasaan kamu sekarang, tapi kamu nggak harus terlarut begini. Ini semua skenario bukan mereka yang buat. Kamu mau marah, mau jungkir balik, mau lampiasin ke mereka percuma, Cin. Nggak akan bisa kembali seperti dulu. Kamu justru merampas kebahagiaan mereka kalau kamu kayak gini.”
“Kamu selalu bilang aku egois. Sebenernya siapa yang egois aku atau dia? Dia kan yang merampas hatinya Dias.”
“Bukan, tapi karena Tuhan menunjukkan sebuah pelajaran buat kamu.”
“Lit, kamu itu kenapa sih? Perkataan kamu itu semua seolah nyuruh aku buat rela.”
“Rela dan ikhlas tepatnya. Itu yang sedang diuji buat kamu. Kalau kamu bisa melewatii ujian ini di masa datang kamu nggak akan diuji seperti ini lagi. Tapi jika kamu belum bisa melewati ujian ini, Tuhan akan menguji kamu sampai kamu bisa melewati ujian ini dengan bentuk dan cara yang lain.”
“Stop berceramah, Lit. Kamu nggak tahu gimana perasaanku, jangan sok mengguruiku.”
“Kamu tahu semua itu butuh proses. Saat ini kamu akan mengatakan aku menggurui atau apalah itu, tapi suatu saat kamu akan berterima kasih padaku. Ini semua baru permulaan, Cin. Kamu akan di hadapkan ujian yang lebih besar daripada pengakuan Tita.”
“Maksud kamu?”
“Setelah ini mereka akan tampak selalu bersama. Di mana-mana mereka akan bersama layaknya sepasang kekasih. Silahkan saja kalau kamu ingin menyiksa batin berlama-lama. Kamu ingin melihat mereka sama-sama tertekan denganmu? Kamu pikir mereka nggak merasa bersalah? Kamu pikir mereka sadar udah terbawa sama permainan cinta? Nggak, Cin. Sampai kapan kamu mau nangis di kamar seharian? Sampai kapan kamu ngeluarin kata-kata kasar ke radio? Harga dirimu di mana, Cin? Kamu bukanlah satu-satunya yang pernah merasakan semua ini. Di luar sana nggak terhitung jumlahnya.”
“Kamu tahu, Lit? Aku benci semua ini.”
“Cin, ini mungkin ada baiknya buat kamu. Kamu yang sabar dan cepatlah bangkitlah.”
“Lit, aku bodoh ya? Bener-bener bodoh. Seharusnya Dias sudah kulepas dari dulu. Sebelum semuanya terjadi.”
“Kamu salah. Justru inilah satu tamparan buat kamu agar sadar. Katanya kamu mencintai Dias, tapi perhatian dan kasih sayang yang kamu berikan kepadanya kurang. Lihat hubungan kalian bahkan bertahan sampai di langit-langit. Sedangkan Tita, dia dengan tulus menggantikan perhatian dan kasih sayang yang seharusnya kamu berikan kepadanya.”
“Sungguh, aku nggak bisa ngomong apapun sekarang.”
“Udah ya, kalau kamu masih ingin nangis, nangis aja. Nggak ada yang larang, asal jangan berlarut-larut. Satu lagi jangan hilangkan nafsu makan kamu. Kamu udah kering begini kalau nggak doyan makan nanti mau jadi apa?”
“Iya, makasih, Lit.”
***
“Hemm, dari Tita request lagunya Padi yang Sobat buat Cinta ‘aku tak bermaksud seperti itu’. Langsung aja diputer buat Cinta, cekidot deh kalau begitu..”
Sobat aku sungguh tak mengerti semua ini bisa terjadi setelah perkenalan itu aku terhanyut aku sebenar-benarnya tak kuasa, dambakannya, rindukannya.. Kutahu dia milikmu tercinta sebagai kembang yang kau pilih namun hatiku hatinya mengisyaratkan rasa, ingin memetik merangkai menjadikan ikatan abadi. Mendambakannya, merindukannya.. Oh, sobat maafkan aku mencintainya aku tak bermaksud membuatmu sunggguh tak berarti. Oh, sobat maafkan aku mencintainya aku tak bermaksud membuatmu sunggguh tak berarti. Coba menahan himpitan rasa itu merajam keruhnya jiwaku, ternyata hidupku dan dirinya terikat rasa tulus takkan menyusupkan peluhku dan rindunya..
Sayup-sayup lagu Padi menyusup masuk ke telinga Cinta yang mendekati daun pintu kamar Tita. Dilihatnya Tita telungkup di tempat tidur sambil memeluk bantalnya.
“Paling enak ya nangis sambil meluk bantal. Orang lain jadi nggak tahu kalau kamu sedang nangis.”
“Cinta!”
“Udah jangan nangis lagi. Aku tahu saat ini kamu terbebani. Aku datang untuk meringankannya.”
“Cinta, aku minta maaf.”
“Kamu nggak salah, udah jangan minta maaf lagi.”
“Aku janji, Cin, akan mencintainya sepenuh hatiku. Aku janji akan menjaganya sebisaku.”
“Cukup, Tit. Kalau kamu bicara begitu lagi aku benar-benar sakit hati. Kamu tahu perjuanganku  melupakan kejadian ini. Tolong mulai saat ini jangan diungkit lagi. Anggap tak pernah terjadi dan kita tetap jadi sahabat.”
“Tapi aku..”
“Dia bukan barang, Tit, tapi maaf harus kukatakan sekarang dia milikmu. Memang seharusnya begitu dari dulu.”
“Cin, apa yang harus kukatakan? Aku tak bisa berkata apa-apa.”
“Aku nggak akan nyuruh kamu bilang terima kasih. Kata-kata itu justru membuat aku semakin lemah. Jangan katakan itu ya, Tit. Kita tetap bersahabat dan kalau suatu saat nanti aku meminta Dias padamu tamparlah aku dan hinalah aku habis-habisan.”
“Kamu..”
“Aku sedang berusaha merelakan dan mengikhlaskan. Doakan aku biar bisa melewati ujian ini.”
“Maaf, Cinta. Aku bersalah padamu. Aku nggak bisa berhenti mengucapkan kata-kata ini. Aku akan putuskan Dias kalau kamu mau. Akan kuakhiri sekarang juga kalau kamu tersiksa.”
“Hentikan omong kosong itu, Tit. Kamu mencintainya, Dias juga mencintaimu. Cinta kalian bukan cinta sepihak. Jadi kalau kamu yang mengakhiri kamu akan melukai Dias. Cukup aku saja yang berkorban. Jangan kalian berdua. Kalau belajar mencintai harus belajar merelakan. Kalau belajar mencintai harus belajar mengikhlaskan. Sekarang kata-kata itu sedang aku buktikan. Tolong jangan buat aku semakin meragu.”
“Cinta, kamu memang teman yang baik. Aku bangga bisa memiliki teman sepertimu.”
“Nah begitu seharusnya kalian berdua,” ujar Lita dari daun pintu.
“Lita, sini kita berpelukan,” ajak Tita yang membasuh air matanya.
“Nggak mau, ah. Kalian kan sedang mendramatisasi keadaan.” Lita menjulurkan lidahnya.


Minggu, 03 Juli 2011

BAGAIMANA KALAU ANAK TUNARUNGU BERKOMUNIKASI?

"Pakai bahasa isyarat, membaca gerak bibir atau bicara verbal?” Belajar bahasa isyarat apakah enak? Iya jelas. Ketika sama-sama tahu bisa bicara rahasia sehingga orang-orang lain tidak tahu apa yang dibicarakan. Lho ngelantur?

Belajar bahasa isyarat ya tujuannya untuk bisa berkomunikasi dengan anak tunarungu. Tetapi pada kenyataannya harus bersabar.
Dulu saya pikir bahasa isyarat itu tiap daerah satu dengan yang lain sama, tiap Negara satu dengan yang lain sama, tapi ternyata sekolah satu dengan sekolah lain saja sudah berbeda. Meskipun di Indonesia ada SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia), pada prakteknya terlalu sulit mungkin hanya sebatas huruf abjad yang biasanya dipakai untuk memperkenalkan nama serta beberapa gerakan yang ringan dan mudah dihafal. Untuk selebihnya biasanya menggunakan gerakan sehari-hari yang telah disepakati bersama dalam kelas. Orang biasa akan sangat kesulitan menangkap pembicaraan anak tunarungu. Apa yang dikatakan tidak akan langsung mudah ditangkap begitu saja meskipun sudah menggunakan bahasa isyarat sekalipun karena kosa kata mereka sering terbalik-balik. Ini kesalahan fatal yang membuat pesan tak tersampaikan.

Berikut gambar abjad jari di KAMUS SIBI kalau ingin tahu:


Ternyata saat membuka halaman demi halaman Kamus SIBI sudah terhambat dulu. Di bagian kiri hanya ada gambar mati sedang kanan penjelasan verbal. Kalau tidak bisa mencerna dengan baik gerakan pun akan berbeda. Enak kalau lihat video, langsung bisa praktek.

Kalau di film-film biasanya untuk menciptakan karakter anak tunarungu sering menggunakan bahasa isyarat kalau tidak anak tunarungu menenteng kertas dan alat tulis untuk memudahkan orang normal memahami pesan yang ingin disampaikan, tetapi saya menemukan hal lain. Handphone. Ya, setahu saya anak-anak tunarungu sekarang memanfaatkan handphone-nya untuk berkomunikasi. Apa dengan telepon? Tentu tidak.

Saya pernah mencoba berbicara dengan mereka menggunakan bahasa isyarat ala kadarnya sebatas kemampuan saya dicampur dengan bahasa bibir dan mereka paham dengan apa yang saya tanyakan. Namun sayangnya  saya tidak paham dengan apa yang mereka bicarakan. Hanya satu kata yang keluar dari mulut saya “Ha?” dan satu ekspresi “kebingungan”. Saat itu tak ada kertas ataupun alat tulis, tiba-tiba ia mengeluarkan handphone dari sakunya lalu mengetikkan sesuatu di sana. Sebuah penjelasan yang acak kadut penyusunan katanya.

Ternyata dengan bahasa isyarat, tulis menulis atau handphone sekalipun terkadang tetap tak bisa memahami apa yang diinginkan si anak. Tak heran jika sering anak tunarungu mengeluh karena orang normal salah tangkap informasi.

Hei, ternyata tak berhenti di situ saja. Sekarang banyak anak tunarungu yang bermain akun internet seperti facebook. Cari saja di search biasanya ada tulisan Deaf entah di depan, di belakang atau di tengah. Dengan kemajuan teknologi, komunikasi dengan tunarungu menjadi tak terbatas. Saat ini dapat ditemukan di dunia maya jika ingin belajar berkomunikasi dengan mereka.

Ternyata sekarang tidak perlu susah-susah untuk berkomunikasi dengan anak tunarungu. Tidak perlu susah-susah menggunakan bahasa isyarat selama kosa kata mereka cukup, tidak perlu susah-susah berbicara dengan gerak bibir yang jelas ataupun bicara verbal dengan jelas yang mengharuskan bertatap muka. Sekarang mau dari mana saja bisa, handphone dengan sms, internet dengan chatting atau akun-akun yang sudah menjamur. 
 Ingin coba? ^ ^

Sabtu, 02 Juli 2011

Surat Cinta Kaleng


“Lin, kunci buat buka mading mana?” tanya Damar yang tiba-tiba datang mengusik obrolanku dengan Dira, teman sebangkuku. Padahal kami tengah asyik membicarakan Jolie, si cewek centil dan seksi. Begitulah julukan dari  anak-anak cowok di sekolah. Okey, kuakui dia memang berkuasa sebagai ketua mading di sekolahku sedangkan aku hanya penjaga kunci dan penempel ulung tapi bukan begitu caranya untuk meminta sesuatu.
Aku balik bertanya, “Kunci mading? Buat apa, Dam? Bukannya udah aku tempelin semua ya yang kamu perintahin kemarin?” Aku merasa sudah menjalankan tugasku dengan baik tapi sepertinya berbeda dengan pikiran si Damar.
“Kalau gitu lo ikut gue!” ajak Damar. Ia berjalan duluan di depan sementara aku dengan setengah berlari mengikutinya dari belakang tanpa Dira.
Mendadak ia berhenti setelah sampai di depan mading. “Ini siapa yang nempelin? Kamu? Aku dapat teguran dari Pak Kepsek gara-gara surat kaleng ini. Kamu satu-satunya orang yang memegang kunci mading kita kan? Seharusnya ini tanggung jawab kamu untuk meneliti isi mading sebelum dikunci lagi,” ujar Damar dengan penekanan pada kata meneliti dan saat bertanya kamu dengan intonasi menuduh.
“Bentar deh, kayaknya ada salah paham nih! Perasaan kemarin ini surat nggak ada. Aku memang yang nempelin semua ini, kecuali surat kaleng itu.” Aku mulai merasa ini tak adil. Tanpa bukti apa-apa sudah dituduh mentah seperti ini.
Jolie datang cengar-cengir dengan permen lolipopnya. Ia berhasil menghipnotis mata Damar dengan rok seksinya. “Woi, kalian berdua serius banget nih. Aku nggak ganggu kan?”
Aku mendadak mendapat ide untuk melimpahkan tuduhan itu ke Jolie. “Kalau kamu nggak percaya tanya aja ke Jolie! Dia kemarin juga ikut bantu nempelin,” seruku dengan sewot terasa seperti tersangka yang diinterogasi hanya karena surat cinta kaleng tak bermutu itu.
“Aku? Ada apa denganku?” tanya Jolie dengan wajah berbinar tak berdosa.
“Begini, Jol, di mading kita ada surat kaleng. Apa kemarin waktu kalian nempel memang nggak ada?” tanya Damar dengan begitu lembutnya berbeda dengan perlakuannya kepadaku. Mungkin saja karena penampilan Jolie lebih OK daripada aku. Aku yang tak berani memakai rok di atas lutut karena melanggar tata tertib, tapi Jolie dengan gamangnya berani menunjukkan lututnya tanpa rasa khawatir.
“Oh, itu surat, memang sudah ada kok,” jawab Jolie sambil melepas permen lolipopnya dari mulut. Jawabannya sukses membuatku tercengang. Sementara Damar melotot ke arahku seakan berkata apa itu yang kamu katakan belum tertempel??
“Serius kamu, Jol?” tanyaku ragu karena seingatku surat itu memang tak pernah tertempel.
“Berarti dari kemarin tuh surat memang sudah terpampang dan dibaca satu sekolah bahkan sampe Pak Kepsek?” tanya Damar dengan penuh penekanan dan sesekali melotot ke arahku.
“Beneran. Itu surat kan aku yang nempelin dan kemungkinan sih udah dibaca satu sekolah,” jawab Jolie membuatku lega sekaligus naik pitam. Gara-gara dia aku dituduh mentah-mentah oleh Damar tanpa saksi mata ataupun barang bukti.
“Apa aku bilang, bukan aku yang nempelin, Dam. Terbuktikan semuanya. Lain kali kumpulin bukti yang nyata dulu, jangan lantas menjadikanku tersangka utama!” gumamku tak dihiraukan karena ia sibuk menasehati Jolie.
 “Jol, lain kali jangan pasang surat-surat kaleng seperti ini lagi ya! Aku ditegur Pak Kepsek karena isinya tak sesuai. Ini sekolah Jol, harus bisa dipisahkan sama masalah pribadi.”
Aku mengerutkan keningku. Dasar laki-laki kalau ada yang lebih cantik sedikit, pasti bersikap lembut dan tak memperdulikan orang yang sedang berbicara dengannya, pikirku kesal.
“Itu surat kan buat kamu, Damar. Tapi aku bingung, mau dikasihin langsung ke kamu atau gimana. Terus waktu aku lihat Alin, aku terinspirasi untuk nempelin itu ke mading. Kan lebih seru dan asyik. Satu sekolah kan bisa jadi tahu. Kamu suka isinya kan?” Jolie semakin terlihat centil di depan Damar lebih centil daripada hari-hari biasanya. Membuatku muak.
“Iya tapi lain kali jangan seperti itu lagi ya! Aku lebih suka kalau itu surat langsung kamu kasihin ke aku,” gumamnya sambil malu-malu sukses membuatku ilfeel.
Apa ada yang punya korek? Rasanya aku seperti obat nyamuk yang tinggal dibakar. Oh, pitty I’m! Aku menjadi saksi cinta mereka berdua. Padahal aku ikut klub mading sekolah hanya untuk Damar.
***


Kegagalan Mengajariku Arti Kebahagiaan

Aku mendarat di depan rumah berpagar abu-abu. Aku turun dari mobil dan menatap rumah itu. Tanganku ditarik dan dia melangkah lebih du...