Langsung ke konten utama

MATA BENINGKU


Mata bening yang suka berbohong hanya milik Anggoro. Mata bening yang pertama kali kulihat. Mata bening yang pengertian, mencairkan suasana, tak pernah mengadu dan menuruti semua keinginanku. Bahkan ketika aku meminta mengakhiri hubungan dengannya, ia rela dan kali ini, aku menemukan mata bening pada sosok lain, Angga namanya. Mata bening ini sedikit berbeda dari mata bening milik Anggoro. Mata bening milik Angga lebih bersinar cerah, lebih berkharismatik, lebih jujur, lebih tegas dan anehnya Tuhan mempertemukan dua pasang mata bening itu di hadapanku.
“Angga?” Aku terhenyak, tak percaya sosok mereka bertemu secara bersamaan. Ice cream yang baru saja kubeli meluncur ke lantai seolah mengajak berdansa di tengah hiruk pikuk ketegangan sarafku.
“Alia, kamu kenal dia?” tanya Angga seraya memincingkan mata beningnya dengan curiga. Aku tak bisa ambil suara sedikitpun. Suaraku tercekat dan takut akan menorehkan satu kesalahan jika mengaku.
“Dia tak mengenalku, tapi aku mengenalnya,” sahut Anggoro. Suaranya begitu renyah, terdengar seperti sedang membelaku dan aku tak berani menatap mata beningnya.
“Benar itu, Al?” tanya Angga penuh selidik membuatku tak berkutik. Napasku kembang kempis, terdengar berat seolah ditikam tanya. Mata bening Angga lebih baik dari mata bening milik Anggoro dan seharusnya ia lebih bisa menentramkan hatiku saat menatap, tetapi sama sekali tak kurasakan. Mata bening itu berubah menjadi garang.
“Alia, bisa kau jelaskan padaku?” Angga terus mengejar jawabanku sampai tangannya mengoncang-goncang tubuhku.
“Alia, jawab!” serunya terdengar memaksa.
Aku tak tahan, air mataku terdesak keluar. Akhirnya aku berlari dari mereka dan tiba-tiba terjatuh. Mendadak tubuhku sudah mendarat di lantai dan terasa sakit, tetapi aku masih pura-pura terpejam agar Angga tak bertanya macam-macam lagi.
***
“Al, bangun Al!” seru sebuah suara yang terdengar seperti milik Anggoro sedangkan suara Angga tak kutangkap sama sekali. Kurasa sudah aman, Angga mungkin sudah pergi.
“Al, bangun Al!” Tubuhku terasa diguncang. Aku merasa tubuhku tergeletak di kasur empuk, sangat nyaman sekali dapat menindih tumpukan kapas dan melayang-layang sejenak di negeri awan.
“Al, bangun kamu sudah dua jam tertidur!” Ada suara yang terdengar berbeda memanggilku. Perlahan kubuka kedua mataku, samar-samar kulihat sosok Anggoro berdiri dengan seragam OSIS dan Ella di sampingnya.
“Alia, kamu sukses bikin kami khawatir,” suara Ella menghenyakkan lamunanku. Ella mencubit pipiku dengan keras.
“Auw,” pekikku kesakitan.
“Alia, akhirnya kamu bangun. Sudah satu jam aku cari cara untuk membangunkanmu. Untung ada Anggoro,” celoteh Ella panjang lebar. 
“Aku di mana?” tanyaku seraya menyorot mata bening milik Anggoro.
“Kamu di UKS sekarang. Kata Ella kamu sakit, jadi aku ke sini,” ungkap Anggoro dengan senyum khasnya.
“Al, lain kali kalau mau tidur bilang-bilang. Aku pikir kamu kenapa-kenapa tadi,” ujar Ella menimpali.
“Seperti mimpi tiba-tiba aku di sini,” desisku tertunduk. Seperti pergi dengan mesin waktu, tiba-tiba aku kembali ke sekolah.
“Apa? Kamu masih pusing ya, Al?” tanya Anggoro dengan suara renyahnya terdengar khawatir.
Aku menggeleng. “Aku mau kembali ke kelas sekarang.”
***
Kelasku terlihat kosong saat aku masuk bersama Anggoro dan Ella. Papan tulis bersih, tapi tas teman-temanku masih bertebaran di meja dan di kursi. Jam istirahat pun sudah berakhir, tetapi mereka semua lenyap begitu saja.
“Mungkin ke lab,” kata Ella terdengar ragu saat mulutku hampir bertanya kemana orang-orang itu pergi.
“Mungkin?” balasku tak yakin.
“Mereka ke gedung serba guna, katanya ada acara penyambutan murid baru,” dengan sigap Anggoro memberi argumen.
“Murid baru, Al,” sahut Ella dengan lonjakan cerianya. “Murid tukar pelajar, dari negeri Kanguru.” Sorot mata Ella berbinar. Tampak jelas, bunga-bunga sedang bertaburan di sekelilingnya. Lonjakan hatinya menyaingi lonjakan hatiku yang bisa terlepas dari rentetan pertanyaan Angga.
“Ganteng?” tanyaku pada Ella yang hampir meleleh. Ia hanya mengangguk.
“Ah, biasa!” tukas Anggoro tak mau kalah saing.
“Anggoro sudah pasti lewat, Al. Matanya itu Al, bening banget,” ujar Ella memberi penekanan dan membuat Anggoro mengalihkan pandangan tak percaya.
“Kalau begitu kenapa kita masih di sini, La? Cabut, yuk!” seruku dengan penuh semangat sebelum kulihat Anggoro terdiam dan tak beranjak dari tempat.
“Angg, kamu..,” kataku belum selesai, tetapi sudah dipotong Anggoro.
“Nanti aku menyusul,” ujarnya.
Terbesit dalam pikiranku saat itu juga. Ikrar kami sudah berakhir, tetapi mata beningnya itu tak bisa berbohong, ia masih menyukaiku. Sorot mata beningnya membuat lukisan di udara, jangan pergi. Sorot mata beningnya membuat coretan di udara lagi, jangan ke sana. Lalu aku pura-pura tak mengerti agar tak menyusun kepingan lampau di hatiku.
Kutegaskan dalam hatiku, mata bening Anggoro biarlah jadi milik Anggoro dan mataku biarlah menjadi milikku seorang. Mataku memang tak sebening matanya, mataku tak sejujur pandangannya. Jadi, wajar saja kalau mataku jelalatan dan aku yakin Anggoro memakluminya karena mata bening Anggoro adalah mata bening yang pengertian.
***
“La, apa dari tadi aku terlelap tidur?” tanyaku penasaran seraya berjalan ke gedung serba guna.
Ella mengangguk.
“Syukurlah,” ujarku lega.
“Memang kenapa?” Ella balik bertanya.
“Bukan apa-apa, La. Hanya mimpi di siang bolong,” kataku.
“Oh,” ujar Ella singkat lalu tangannya meraihku dan menarikku, agar cepat sampai katanya. Aku menyamakan langkahku dengan langkahnya sampai ke depan pintu masuk gedung serba guna.
“La, aku tidak ikut masuk. Aku di sini saja,” kataku menahan tangan Ella yang menarikku masuk tepat di depan pintu. 
“Ayolah, temani aku melihat anak baru itu! Please!” Ella memohon.
“Aku mau, tapi aku menunggu Anggoro,” ujarku bersyarat.
“Kenapa harus ditunggu, Al?” Ella bertanya padaku.
“Karena dia bilang mau menyusul,” ungkapku.
“Ayo masuk, Al! Aku sudah tak sabar melihat pangeran dari negeri seberang itu,” rengek Ella.
Aku diam dan tak beranjak sedikitpun. Ella pun terlihat menungguku sampai berkata iya. Tiba-tiba ada sebuah tangan yang mendorongku masuk ke dalam gedung. Tubuhku mengikuti irama derap langkah si pendorong. Aku menoleh ke belakang, bukan Ella dan bukan Anggoro.
“Maaf, kamu menghalangi jalanku,” ujar laki-laki yang memiliki mata bening membuatku terbelalak.
Ella berdiri di sampingku kemudian. Menguncang-guncangkan tubuhku. “Al, itu dia pangerannya. Ganteng banget,” jerit Ella histeris menyaingi suara histeris anak-anak lain di dalam ruangan.
Pemilik mata bening itu bernama William, murid baru dari Australia, tetapi parasnya mirip dengan Angga. Mata beningnya pun sama dengan mata bening Angga, bersinar cerah, berkharismatik, dan menentramkan hatiku.
“Al, Willy ganteng banget. Aku meleleh, Al. Help me!” Dalam sekejap murid baru itu mempunyai nama panggilan istimewa dari Ella, Willy.
***
Suhu udara makin siang, makin panas. Jam istirahat kedua menjadi tak bersahabat untukku. Kantin sesak dipenuhi murid perempuan yang berebut untuk memandang William. Berjingkat pun tak bisa membuatku sampai ke ibu kantin dan memesan makanan.
“Butuh bantuan?” sahut Anggoro dari belakang, bersedia menawarkan bantuan.
“Nasi goreng dua, es jeruk dua, krupuk dua, gorengan empat sekalian dikasih sambal,” celoteh Ella tak tanggung-tanggung. 
“Aku cuma butuh air minum,” ujarku menimpali pernyataan Ella.
Anggoro tersenyum manis. Mata beningnya semakin berkilau. Mata bening mana yang bisa menandinginya selain mata bening milik Angga.
“Hai, Alia!” sapa William sukses membuatku berpikir kalau dia adalah Angga.
“Kamu masih ingat? Aku Angga,” tambah William dengan menyorot mata beningnya ke bola mataku. Antara percaya dan tidak percaya. Angga tak mungkin ada di tempat ini dan menjadi William. Angga bukan sebaya denganku, karena kami selisih dua tahun.
“Al, kamu kenal Willy?” Ella bertanya dengan penuh curiga. Kulihat sungut bersarang di kepalanya.
Aku mendengut ludahku ke kerongkongan dengan sangat lambat. Tanganku mendadak dingin. Mataku panas. Aku butuh mata bening Anggoro untuk mencairkan suasana.
“Al, apa dia orang ketiga diantara kamu dan Anggoro?” tebak Ella.
“Bukan,” sahut Anggoro dari belakang William yang mengaku sebagai Angga.
“Kalau bukan mengapa kalian putus? Bukankah kalian berdua sangat serasi?” tanya Ella.
Lagi-lagi aku memilih diam. Kubiarkan Anggoro yang bersuara.
“Kami berpisah, karena kami sudah tidak sejalan,” ujar Anggoro menjelaskan. Ia tak mengadukan kelakuanku ke Ella. Mata beningnya membelaku lagi.
Aku memejamkan mataku. Berharap magic memindahkan aku ke suatu tempat. Aku tak sanggup terus berdiri di tempat kedua pasang mata beningku bertatapan. Ini sangat tak adil untuk mereka. Seharusnya aku lebih tegas untuk memilih.
***
“Al, bangun,” suara Angga dominan terdengar daripada suara gerimis.
“Hoamm. Di luar gerimis? Aku suka gerimis,” gumamku seraya merentangkan kedua tanganku dan melongok arah jendela.
“Alia, akhirnya kamu bangun juga,” kata Ella mengalihkan pandanganku.   
“Aku di mana?” tanyaku panik, tetapi tak sepanik sebelumnya karena Angga tak memakai seragam OSIS dan tak mengaku bernama William.
“Kamu di UKS,” jelas Angga seraya memberiku segelas air minum dari tangannya.
“Di UKS lagi. Huff,” desisku menunduk lalu meneguk air minum yang diberi Angga.
“Kamu masih pusing?” Angga bertanya.
Aku menggeleng. “Aku baik-baik saja, Ngga.”
“Al, kamu kenal, Anggoro?” tanya Angga membuatku tersedak angin.
“Siapa? Anggoro?” Aku menggeleng. “Kalau Anggora aku kenal. Itu kucing tetanggaku,” tukasku dengan sigap.
“Dia bohong, Ngga. Anggoro itu…,” kata Ella sebelum kupotong.
“Sebenarnya Anggoro itu nama kakekku, Ngga.”
Hampir saja hatiku mencelos akibat ulah Ella. Hanya tinggal beberapa detik saja, aku habis oleh pertanyaan Angga.
“Oh, begitu.” Angga berhenti bertanya. Aku langsung berdoa pada Tuhan semoga Angga tak pernah tahu tentang Anggoro.
“Ngga, boleh aku tidur lagi? Sepertinya gerimis membuatku mengantuk,” ujarku dengan ringan.
“Al, ini sudah sore kau tak mau pulang?” kata Ella.
“Bisakah aku tidur lima menit saja? Lalu bangunkan aku setelahnya!” seruku meminta.
Mata bening Angga menatapku. Ia pun mengangguk.
***
“Al! Bangun! Alia! Jangan pergi.”
Samar-samar kulihat wajah-wajah yang berlari. Suara gemericik hujan lebih terdengar jelas dibandingkan suara nyaring yang memanggilku.
“Alia, tahan ya Al,” terdengar seperti suara Ella membisik di telingaku. Entah mengapa, kali ini kurasakan sakit di sekujur tubuhku berbeda dari caraku bangun sebelumnya. Paru-paruku masih bekerja, tetapi nafasku seolah tercekat sesuatu. Sesak mulai mendominasi. Ini yang disebutnya dengan menahan.
“Auw,” rontaku kesakitan saat tersadar. Air mataku jatuh membelah pipi.
“Dokter, tolong Alia! Sembuhkan dia, Dok!” pinta sebuah suara nyaring, tetapi mataku tak mampu melihatnya. Ada beban tertindih di kelopak mataku hingga terasa berat dan pipi yang terkena air mata mulai terasa begitu perih.
“Dok, tolong!” teriakan suara itu lagi.
“Maaf, silahkan Anda tunggu di luar,” suara lembut mengiringiku ke dalam suara hening.
Silih berganti kudengar gumam tak jelas. Tanganku ditarik dan aku meronta, tetapi sebuah tusukan di tangan membuatku luluh. Aku lemas perlahan. Pandanganku gelap dan bertambah gelap. Padahal sesaat lalu kulihat cahaya yang amat terang sempat menerobos bola mataku.
***
Sinar merah terlihat saat kubuka mataku. Kulihat bayang-bayang gelap beterbangan di mana-mana. Sementara sinar merah melayang dan membentuk imajinasi yang kumau, tetapi tak kutemukan satu pun orang di depanku. Suara kipas angin dan hembusannya dapat kurasakan, tetapi gelap. Tak dapat kutemukan apa-apa, selain sinar merah dan bayang-bayang gelap melayang-layang.
“Alia.” Suara Ella terdengar jelas memanggilku.
“Ella? Kamu di mana? Tolong aku,” teriakku ketakutan. Bayang-bayang gelap tak mau menghilang dari pandanganku. Kucari sosok Ella di tengah kegelapan, tetapi tak kudapati sosoknya.
“Iya, aku Ella, Al. Kamu tenang ya,” serunya membuatku sedikit lega. Gelang gemerincingnya membuatku yakin ia begitu sangat dekat. Kurasakan pelukan hangat Ella di tubuhku perlahan.
Sementara itu suara langkah kaki kudengar semakin dekat dan mendekat. “Syukurlah kamu sudah bangun, Al. Aku takut kamu pergi.”
Aku diam tak paham. Banyak orang di sekelilingku, tetapi tak kulihat satupun sosoknya. Bahkan sentuhan kulit pun harusnya menandakan ada orang yang sangat dekat denganku, tetapi lagi-lagi aku tak melihatnya.
“Al,” desis Ella terdengar di telingaku, “Tuhan tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya.” Kudengar ia terisak dipundakku. Ada air yang mulai terasa meresap ke pori-pori kulitku.
Entah mengapa tiba-tiba ada desakan yang ingin pecah dan mengalir dari bendungan, turut serta mengiringi isakan Ella.   
“Alia, maaf, Anggoro pergi.” Isaknya bertambah keras. Ia pun menepuk-nepuk bahuku dengan lumayan keras. Dapat kurasakan hal itu, tetapi aku tak bisa melihatnya.
“Aku di mana, La?” tanyaku.
“Kamu di rumah sakit, Al,” ujar Ella dengan diiringi isak tangisnya yang belum berhenti.
“Al, ini aku Angga.” Angga mengerutkan keningnya. “Aku sudah tahu antara kamu dan Anggoro.”
Kali ini butiran itu benar-benar jatuh. Mendengar nama Anggoro sekali lagi sama halnya membuka coretan hitam di atas kertas. Aku terkunci dalam bisu. Aku sudah kehilangan mata beningku lalu melukai mata beningku yang lain. Pasti Angga sangat terluka saat tahu aku berselingkuh dengan Anggoro. Tak ada yang membelaku kini, mata bening yang kubutuhkan sudah pergi dan aku hanya bisa terisak dengan sesal.
***

Komentar