Langsung ke konten utama

Sekotak Kegagalan



Aku terlahir bukan menjadi seorang pengarang, bukan pula menjadi seorang penulis. Aku hanya terlahir menjadi diriku dan bisa berbuat sebatas kemampuanku. Wajar saja aku gagal lagi dan gagal lagi karena kata orang pasti ada pemenang dan ada yang kalah. Itu hukumnya agar terjadi keseimbangan dan anehnya kegagalan itu selalu menjadi kawan baikku. Apa memang benar aku tercipta menjadi seorang pecundang dengan sekotak kegagalan.
Mungkin aku juga yang salah mengapa dari kecil tak suka pelajaran menulis dan mengarang. Saat di SD setiap kali, setiap waktu setiap saat aku disuguhi kata lalu dipaksa membuat beberapa kalimat dengan satu atau dua kata yang telah disajikan. Kata yang selalu tak kuketahui maknanya dan mereka menyuruhku mengembangkannya. Kata yang selalu kucurigai dan asing saat kubaca. Tapi mereka memaksaku untuk membuatnya, merangkainya menjadi kalimat. Bahkan dipaksanya pula menjadi beberapa paragraf dan diminta unjuk gigi dengan lantang. Mereka memberiku tema sempit yang tak mudah kupahami. Lalu aku dipaksa lagi untuk menulis, menulis dan terus menulis sampai aku pada titik jengah dan benci untuk menulis. Bahkan sampai jenjang SMP aku masih dipaksa untuk menulis, menulis dan menulis, tapi berawal dari sana aku mulai terbiasa untuk menulis.
Ternyata hal yang kubenci menyimpan kesenangan tersendiri. Aku senang meletakkan penaku di atas kertas kosong dan membuatnya menari. Aku senang melihat kertas kosongku terisi penuh oleh tulisanku. Aku senang ketika menuliskan judul di atas, artinya aku telah membuat satu karya lagi. Aku senang melihat kertas kosongku terisi dan menumpuk tinggi meskipun isinya masih tak sempurna. Aku senang tapi lagi-lagi kegagalan membuntutiku. Sudah kuusir agar dia pergi, tapi apalah daya sekotak kegagalan kian lama kian menumpukkan kertas-kertas di jidatku “aku pecundang”.
Terbukti sudah aku pecundang, kini keberanianku sudah sirna. Mentalku benar-benar “mental” down. Apa yang dulu kuyakini menjadi tidak kuyakini. Sudah kubilang aku bukan terlahir menjadi seorang pengarang. Jiwaku memang sering berpetualang, mencari inspirasi dan dituang, tetapi keadaan kini benar-benar tak memungkinkan. Lihat tempelan kata pecundang sudah mengelilingi kepalaku. Sungguh ternyata kehilangan motivasi diri itu menutup semua pintu. Ambisi dan harapan perlahan hilang, meskipun orang berkata “semangat, tetaplah menulis, jangan menyerah” entah mengapa hatiku tak begitu mengiyakan.
Hei, bangun! Wake up! Lihat seberapa usahamu! Apa sudah sebegitu kerasnya kau berusaha? Berapa kali kau mencoba, bukankah belum ratusan kali? Dimana keteguhan hatimu, kau lupa kau punya mimpi? Kau punya harapan itu sudah baik. Jangan kau buang harapanmu itu, atau kau akan hidup tapi jiwamu tak hidup. Kau akan menjadi mayat lapuk yang setengah mati. Karena menghapus mimpi dan harapanmu. Kau akan hidup tapi seperti kehilangan separuh nyawamu.
Ini kesekian kalinya aku mencoba tuk bangkitkan mentalku lagi. Ini kesekian kalinya aku memacu semangatku lagi. Semoga selalu ada kesempatan untuk membangkitkannya dan tak terlalu terpuruk berlama-lama. Ini adalah cobaan. Ini adalah latihan terbaik untuk mendapatkan mental baja. Apapun itu memang harus kuterima. Allah tak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya.
Aku memang tak terlahir menjadi pengarang ataupun penulis, tetapi aku hanya punya mimpi dan berharap suatu saat Tuhan akan mendengar doaku. Amin.
Tak ada orang yang seumur hidupnya belum pernah menemui kegagalan, sekalipun mereka orang sukses pasti pernah mengalami kegagalan dalam hidupnya.
Akan kuganti kata sekotak kegagalan itu menjadi cambuk semangatku dan aku akan belajar untuk lebih maju.

SEMANGAT ^^

Komentar