Langsung ke konten utama

TENTANG SEBUAH PERASAAN







Wajahku tampak berbinar ketik sosok Angga yang tinggi tegap berdiri menatapku dengan mengulas senyumnya. Ia sampai tak berkedip.
Sudah tiga tahun aku tak bertemu dengannya. Rasa rinduku sudah tak tertahankan selama itu. Goda rayunyalah yang terkadang membuatku tak berkutik. Makhluk penghipnotis itu sudah mencuri hatiku sejak lama. Ia sering mengacak-acak rambutku, ketika aku berhenti berkedip. Seolah ia tahu aku sedang memikirkannya.
Kini ia tak mengacak-acak rambutku lagi. Ia hanya berani menatapku.
“Ngga, aku ingin bercerita banyak tentang perasaanku. Tentang semua hal yang dulu tak pernah kamu ketahui. Agar kamu tak diam lagi. Dengarkan baik-baik ya!”
Angga, pertama kali aku mengenalmu dulu, saat aku mulai duduk dibangku kelas dua SMA atau tepatnya kini kelas sebelas. Kamu selalu datang mengusir sepi saat aku merasa terjatuh dan butuh penyemangat hidup.
Kecintaanmu pada olahraga sering kali membuatku merasa jauh. Saat berlari kamu selalu di posisi pertama. Aku selalu tertinggal 4 menit. Ya, 4 menit dalam stopwatch bukanlah waktu yang sedikit. Ada sepersekian detik dan sepersekian menit. Kamu benar-benar terlalu kuat untuk dikejar.
Di lapangan basket pun kamu jagonya. Jago merebut bola apalagi dariku. Saat latihan sebelum penilaian pelajaran olahraga kamu cs menantang aku dan kawan-kawanku. Yah, meskipun aku merasa tak seimbang tetap saja aku setujui. Secara kamu cs semuanya laki-laki dan aku cs semuanya perempuan tapi demi bisa dekat denganmu, kalah, menang, malu atau apapun itu aku tak peduli.
Kamu tahu aku seperti boneka kayu saat sosokmu itu merebut bola yang kubawa dengan tersenyum manis. Kamu selalu sukses membuatku melayang apalagi saat diam-diam kamu memperhatikanku berlatih melempar bola seusai pertandingan kita.
“Soya, kalau menembak jangan begitu! Kemungkinan masuknya kecil,” tegurmu membuatku kikuk. “Seharusnya kau mengarahkan bola itu ke papan pantul seperti ini.” Kau memperlihatkan kepiawaianmu dan aku hanya meringis, kau sukses memasukkan bola tepat ke ring dengan mulus.
“Sekarang coba kamu! Aku ingin lihat,” serumu sambil melempar bola yang kamu pegang ke arahku. Bola itu terasa menghantam dadaku. Lemparanmu begitu kuat, Ngga, sedangkan aku dalam keadaan tak siap menerima bola. Tetapi aku suka, Ngga. Kamu membawaku terbang tinggi sampai lupa dengan daratan. Serasa dilatih privat oleh seorang idola perempuan di sekolah. Itu adalah hari yang sangat menyenangkan sampai aku hampir melupakan janjiku dengan Eny.
“Soya!” Eny memanggilku. Tatkala aku bersiap melempar bola ke ring dan tanganmu menahanku, menghentikanku. Aku terbengong dalam wujud ini. Janjiku pada Eny untuk menemani mencari suasana baru, hampir terlupakan karena asyik berdua denganmu.
“Ngga, sepertinya lain kali aja ya. Hehe… Aku lupa ada janji dengan Eny,” ujarku agak canggung tapi sebenarnya itu karena aku tak ingin kebersamaan kita berjalan begitu singkat.
“Ya sudah, sana-sana!” Kamu mengusirku tapi aku tahu kamu bercanda karena sekilas senyummu mengambang di udara.
“Beneran nih?” tanyaku membalas candaanmu.
“Iya, tapi jangan merindukanku.” Kamu semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar menanggapinya dengan serius sampai aku mematung. Kamu pun mengacak-acak rambutku kemudian membalikkan badanku dan mendorongku ke arah Eny. Pesonamu itu yang memikat hatiku, Ngga. Andai semua laki-laki sepertimu mungkin aku akan bingung memilih, tapi Tuhan sangat adil. Ia menghadirkan dirimu di hidupku.
“Eny, jaga Soya baik-baik ya! Kalau dia macam-macam cubit pipinya aja!” serumu ke Eny semakin membuatku bahagia kala itu.
Kamu tahu, Ngga bagaimana rasanya saat aku menemani Eny mencari suasana baru? Ada sesuatu hal yang mulai tak kumengerti ketika Eny bercerita banyak tentangmu, lebih banyak daripada aku bercerita tentangmu. Aku mulai berpikir kalau Eny menyukaimu. Apalagi kulihat dari hari ke hari kamu makin dekat dengannya. Aku ingin marah, Ngga tapi aku siapamu? Aku bukanlah siapa-siapamu. Aku hanya teman, itupun kalau kau anggap aku teman. Aku cemburu saat itu, Ngga sangat cemburu.
Lagi-lagi apalah dayaku. Aku bukan apa-apa. Kamu memang pantas untuk Eny. Mungkin sosokmu itu yang bisa membuat Eny tersenyum kembali. Demi sahabat dan demi kebahagianmu, kala itu aku tak bisa berbuat apa-apa.
Beberapa bulan setelah itu, kabar jadianmu tersebar seantero sekolah. Bahkan sampai ke tukang somay depan sekolah, tukang lutis, tukang batagor, sampai ke penjaga kebun. Aku merasa lemas seketika itu. Tapi sahabatmu, Ngga, sahabatmu Atar menggantikan posisimu. Ia yang hadir kala aku terjatuh. Ia memberiku sebongkah hari indah yang baru. Bahkan aku dan Atar menyusulmu, menyusul kamu dan Eny.
Kami berdua bahagia, sungguh bahagia sebelum kamu mengatakan kamu mencintaiku. Saat itu aku menjadi gusar, pikiranku kalut. Kamu masih milik Eny dan aku milik Atar. Aku pikir kamu sudah kehilangan kewarasanmu. Kamu gila, Ngga. Kamu butuh psikiater.
“Aku dan Eny tak ada apa-apa, Soy,” jelasmu seolah Eny tak berarti untuk hidupmu. Lalu apa maksudnya selama ini? Bagaimana hubunganmu dengan Eny, sahabatku?
“Eny itu mantan aku, Soy. Aku pikir aku bisa mencintainya lagi setelah memaafkan kesalahannya. Ternyata aku salah, Soy. Aku itu suka kamu.” Kamu tak tahu saat itu hatiku miris. Luka tersayat dibagian itu. Eny adalah sahabatku, aku mengenal Eny jauh sebelum kamu. Mana mungkin dia tak menceritakan tentangmu sebelumnya padaku.
“Kamu tak percaya padaku? Kamu lebih percaya pada Eny? Eny itu hanya menjadikanku bahan taruhan. Dia tak sepenuhnya mencintaiku dan Atar kekasihmu itu ternyata ada di balik semua ini. Dia yang menjadi dalangnya.” Kamu menjelaskan panjang lebar saat itu, Ngga. Semakin membuatku ingin berlabuh dengan air mata. Kamu bukan Angga yang kubanggakan. Kamu tak lebih dari seorang pecundang yang hanya bisa menyalahkan orang lain. Kamu justru membuatku semakin membencimu hingga aku menyuruhmu pergi menjauh dari hidupku. Saat itu mungkin karena kesal menyelimutiku. Aku bimbang, mana yang harus kupercaya?
Sehari setelah aku meminta kau pergi kau datang dengan baju serba putih memberiku fotomu seorang diri yang sedang tersenyum menghadap ke depan. Sorot matamu di foto itu begitu tajam seolah-olah kau sedang melihatku. Ternyata tak hanya itu, kamu memberiku seikat Edelweis.
“Ngga, bukankah itu Edelweis yang susah payah kamu dapatkan saat melakukan pendakian tahun lalu?” tanyaku agak ragu, kamu yang menyukai bunga itu tiba-tiba menyerahkannya padaku.
“Iya memang benar. Ini buat kamu. Aku akan mencarinya lagi. Besok aku ikut mendaki di puncak Semeru. Siapa tahu aku bisa menemukan yang lebih banyak di sana,” ujarmu kala itu begitu yakin akan menemukan Edelweis di sana.
“Ngga, kamu kan belum pernah ke sana. Apa kamu yakin bisa menemukan Edelweis di sana? Lagian untuk apa kamu mencari Edelweis lagi, kalau kamu masih punya Edelweis ini? Kalau perlu kita bagi saja bunga ini.” Serentetan pertanyaan kusodorkan padamu dan kamu saat itu terlihat begitu antusias bercerita ingin mendaki lagi sampai membuatku lupa kalau aku sedang membencimu.
Seminggu berlalu tak jua kudapat kabarmu. Kupikir kamu sudah berangkat ke sana ke puncak Semeru dan pulang bersama anak-anak pecinta alam. Namun saat semua kelompok pecinta alam itu kembali, kamu tak ada. Aku mencari-carimu, Ngga. Aku sampai bertanya pada salah seorang anggota pecinta alam itu, tapi katanya kamu tak ikut mendaki ke Semeru. Aku merasa kehilanganmu, Ngga. Tiap malam aku berdoa semoga aku bisa bertemu denganmu lagi.
Aku sangat menyesal tak percaya padamu tentang Eny dan Atar waktu itu. Ternyata mereka memang menjadikanmu objek taruhan. Rasa sesalku semakin bertambah dalam, saat aku sadar telah kehilanganmu. Kamu benar-benar lenyap. Aku hanya bisa melihat sosokmu di dalam foto yang kini sedang berdiri menatapku sembari tersenyum. Sebenarnya kemana kamu pergi, Ngga? Kepergianmu menjadi misteri di sekolah kita.
Baju serba putih yang terakhir kamu kenakan saat menemuiku tergantung di halaman sekolah dan tukang kebun yang menemukannya. Aku tak ingin kamu kenapa-kenapa, Ngga. Aku masih ingin mendengarmu mengatakan cinta.
Bunga Edelweis yang kamu berikan masih kusimpan sebagai kenanganku bersamamu dan kamu dalam foto ini tetap akan menjadi misteri untukku.
“Sudah tiga tahun, Ngga. Tiga tahun. Aku masih setia menunggumu di sini. Aku yakin suatu saat nanti kamu kembali dan aku tak perlu lagi bicara pada foto pemberianmu ini. Cepatlah kembali, Ngga. Jangan biarkan aku seperti bunga Edelweis yang kamu berikan padaku. Kering tak berwarna, seperti tak hidup tapi tak layu.”
***

Komentar