Langsung ke konten utama

Sepenggal Kisah Alia dan Idzul



ALIA
Selalu saja teringat kamu ketika hujan turun begini, Dzul. Itu karena hujan yang mendekatkan kita. Waktu itu sudah satu tahun kita sekelas dan kita tak pernah bicara sekalipun. Sampai suatu ketika selepas sebuah pementasan drama, aku dan kamu terjebak dalam waktu yang sama di depan gedung teater. Aku melirik matamu dan kamu melirik mataku. Kita saling berserobok pandangan beberapa saat. Saat itu aku langsung menundukkan kepalaku. Kulirik sesaat, ternyata kamu sedang mengulas senyummu.
Aku terperangah ketika kau mengajakku bicara. Awalnya kau bicara tentang hujan lalu beberapa detik kemudian kau berpindah bicara tentang puisi karya pujangga-pujangga di negeri kita dan kamu bilang, kamu sangat menyukai karya mereka.
Sebaliknya aku bercerita padamu tentang puisi yang selalu menyulitkanku di pelajaran Bahasa Indonesia. Selama bertahun-tahun aku buta soal puisi dan karena itu seumur hidupku aku tak pernah menyukainya. Setiap membacanya ada saja benturan-benturan di kepalaku yang menarik ujung-ujung syaraf dan otot-ototku, hanya karena bahasa mereka terlalu kias. KBBI pun sampai tak bisa menerjemahkannya padaku.
Seperti sebuah magic, kau menyulapku waktu itu hingga menjadikanku tahu tentang puisi meski hanya sedikit saja. Paling tidak beberapa nama sang pujangga. Entah mengapa saat kamu melantunkan beberapa bait puisi, aku jadi menyukainya.

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Kala itu aku ingin kita duduk sejenak menikmati hujan yang hampir reda dan bercanda tawa lebih lama. Tapi kamu terus saja berdiri dan menatap langit. Seolah sedang mencari sesuatu di atas sana.
Sedetik, dua detik saat menatapmu yang sedang menatap langit, aliran di dalam tubuhku bersenyawa. Perasaanku menjadi kalut. Ada getar-getar yang tumbuh dari sana. Perasaan yang ingin dekat, lebih dekat lagi dan tak sekedar jadi kawan. Aku ingin itu Idzul. Sayang saat itu hanya berlangsung sesaat karena hujan tak berpihak padaku.
*

Entah kamu menyadarinya atau tidak, sejak kita berceloteh seusai pementasan itu, aku mulai berani mencuri-curi pandang padamu. Maaf jika aku lancang hanya saja mataku tidak bisa berhenti menatapmu meskipun Pak Re, guru ter-killer kita, sempat memergokiku saat menatapmu. Sampai aku disuruh menghadap Pak Re di ruang guru seusai sekolah.
Kamu tahu, aku tak gentar sekalipun diberi gertakan oleh beliau karena aku tahu kamu juga dipanggil Pak Re. Bedanya kamu dimintai tolong untuk sesuatu hal yang tidak kuketahui.
Benar saja, saat pelajaran Bahasa Indonesia usai, Pak Re memberi isyarat agar kita segera mengikutinya. Tanpa sengaja aku dan kamu berpapasan di depan pintu. Aku menyunggingkan senyum termanisku tapi kamu sama sekali tak membalas. Aku kecewa padamu, Dzul. Buru-buru kuhapus senyuman itu dari bibirku dan akhirnya kita memutuskan untuk keluar bersama dari kelas, tapi sayang setelah itu aku tak berjalan sejajar denganmu karena perempuan itu, Lisya maksudku. Cewek tercantik di angkatan kita itu, sepertinya sedang berusaha menarik simpatimu. Aku memilih mundur dan menyuruhmu jalan duluan. Aku hanya melihat punggungmu dan punggung Lisya. Kulihat dari samping kamu menyunggingkan senyummu padanya meski sumir, tapi bagiku itu sangat bernilai untuk seorang wanita yang merindukan bulan dimalam hari.
Kamu tahu bagaimana perasaanku, Dzul? Rasanya ada sebuah goresan kecil tepat di hati. Apalagi ketika tangan Lisya meraih jemarimu dan menggandengmu sampai depan kantor, perasaanku semakin kacau. Tidak hanya goresan lagi,  tapi sayatan. Tak henti-hentinya aku mendoa semoga Lisya tak mengganggumu lagi dan kubatalkan ketika aku ingat senyum sumirmu padanya.
*

Ada sebuah perasaan yang meletup tak beraturan ketika Pak Re menyuruh kamu dan Lisya untuk ikut pertukaran pelajar di negeri Kanguru. Seketika itu juga, aku ingin berlari dari ruangan Pak Re. Andai saja aku tak sedang dihukum untuk membersihkan ruangan Pak Re, sudah pasti aku mencari tempat untuk melampiaskan rasa sakitku.
Aku ingin mencegahmu pergi kala itu, tapi yang kukerjakan sebaliknya. Aku mengucapkan selamat atas keberhasilanmu yang telah menjadi murid teladan selama ini yang sampai akhirnya dikirim ke Australia. Kulihat kamu begitu senang ketika tanganmu menjabat hangat tangan Pak Re. Jelas saja itu suatu kesempatan yang sangat langka, tak sembarang orang yang bisa mendapatkannya. Tapi entah mengapa hatiku tak rela ketika Lisya yang terpilih untuk mendampingimu pergi ke negeri sebrang.
Ketika aku mengajukan pertanyaan mengapa Pak Re memilih Lisya, kamu tahu sendiri kan bagaimana jawaban dari Pak Re. Pak Re bilang nilai Bahasa Indonesia dan English-ku buruk, sedangkan menurutnya Lisya adalah satu-satunya siswi yang sebanding denganmu. Hancur mercusuar yang kubangun di tepi pantai, hanya karena tersapu ombak kecil tapi ganas. Nyaliku untuk mengorek informasi hilang saat itu juga. Sakit rasanya, saat dibandingkan dengan Lisya yang punya segala-galanya. Cantik dan smart. Itu cukup membungkam mulutku. Lebih baik aku diam dan mengerjakan hukumanku.
*

Saat keluar dari ruangan Pak Re, hujan turun membentuk tirainya. Kulihat kamu sedang asyik bercengkrama dengan Lisya sedangkan aku sendiri menatap langit mencoba mencari apa yang kamu lihat waktu itu. Ternyata ada beberapa burung yang bermain-main dengan hujan. Mungkin saat di depan gedung teater waktu itu, kau ingin sepertinya menerobos hujan karena tak ingin berlama-lama denganku.
Tiba-tiba kamu menepuk bahuku membuat kagetan kecil. Kamu memberiku sebuah buku kumpulan puisi dan mengatakan itu untukku. Aku ingin melonjak girang, tapi kualihkan dengan ucapan terima kasih mengingat kamu akan pergi ke Australia seminggu lagi setelah memberiku buku itu.  Aku merasa kehilanganmu Dzul. Bermula saat Pak Re menyuruhmu take off ke negeri Kanguru.
*

IDZUL
Alia, aku mengingat namamu di hatiku. Sejak hujan turun selepas pementasan drama dan kita terjebak dalam satu waktu. Di depan gedung teater kita berserobok mata beberapa saat. Lalu kamu menundukkan kepalamu sedang aku tersenyum saat melihatmu tiba-tiba kikuk begitu.
Aku ingat bagaimana pertama kali kita berceloteh setelah satu tahun, satu kelas tapi tak pernah bicara. Aku yang memulainya lebih dulu karena kulihat kamu sangat gelisah mengharap hujan segera reda. Mula-mula kuceritakan tentang hujan yang datang membentuk tirainya dan beberapa detik kemudian berpindah ke puisi. Entah bagaimana bisa aku mengalir ke arah sana sampai kulantunkan puisi “AKU INGIN” milik Sapardi Djoko Damono. Padahal jelas-jelas kamu bercerita tentang bahasa kias puisi yang sulit kamu pahami. Tapi kulihat dari raut wajahmu, kamu menyukainya. Wajahmu memerah dan terlihat antusias mendengarnya.
Jika saja kamu tahu puisi itu sengaja kupilih untuk menyatakan perasaanku yang terpendam, apakah kamu akan menyukainya atau malah semakin membenci yang namanya puisi. Menurut ceritamu kamu tidak pernah menyukai puisi seumur hidupmu, entah mengapa aku jadi ingin membuatmu menyukainya.
Kamu tahu, kala itu aku ingin duduk di sampingmu tapi aku takut jika aku duduk kamu justru pergi ketika melihat hujan mulai reda. Lalu aku memilih berdiri saja, tengadah ke langit dan berdoa semoga saja hujan tak berhenti cepat. Tapi apa dayaku, Tuhan tak mendengar doaku. Hujan justru cepat reda dan kamu beranjak dari tempat dudukmu lalu pergi tanpa kata.
*

Esok harinya kulihat kamu berpindah tempat duduk tak seperti hari biasanya. Aku jadi bisa melirikmu diam-diam. Saat pelajaran Bahasa Indonesia alias pelajaran terakhir hari itu, Pak Re menegurmu dan menyuruhmu menghadap di ruang guru. Sampai saat ini aku tak tahu apa alasan Pak Re melakukan itu, yang aku tahu beberapa saat setelahnya Pak Re mengingatkanku untuk menemuinya sepulang sekolah. Firasatku jadi tak enak. Apalagi ketika bel berbunyi dan Pak re memberi isyarat pada kita.
 Tibalah saatnya aku dan kamu bergerak mengikuti Pak Re. Ada rasa yang meletup bak kembang api ketika bisa berjalan bersamaan denganmu sampai ujung pintu. Kamu tahu, aku sampai lupa membalas senyummu. Kulihat kamu kecewa karena itu dan tak mau berjalan di sampingku. Justru lebih memilih berjalan di belakangku. Aku terhenyak ketika ada seseorang muncul di sampingku, kupikir itu kamu sampai kuberi senyum termanisku. Ternyata itu Lisya dan akhirnya aku menghentikan senyumku padanya. Aku merasa tak nyaman ketika tangan Lisya memegang lenganku dan tak melepasnya sebelum sampai depan kantor. Berkali-kali aku menepisnya tapi cengkramannya terlalu kuat.
*

Jantungku berdebar-debar ketika kamu berdiri di sampingku, lalu hilang saat Pak Re terlihat ingin menyampaikan sesuatu. Bak petir yang menyambar siang hari, aku disuruh ikut pertukaran pelajar di negeri Kanguru bersama Lisya. Sesungguhnya aku tak bisa melakukannya karena aku ingin melewati masa akhir SMA-ku di sini bersamamu tapi tiba-tiba kamu memberi selamat padaku. Aku menjadi sangsi padamu, apa itu pertanda kamu membiarkanku pergi. Belum sempat kubertanya apa-apa padamu, kamu belingsat menyibukkan dirimu dengan membersihkan ruangan Pak Re.
Diam-diam ternyata kamu mendengarkan pembicaraan kami disela-sela kesibukkanmu. Beberapa saat kamu mengajukan pertanyaan ke Pak Re tentang Lisya yang terpilih untuk mendampingiku. Tapi kulihat perubahan ekspresimu drastis setelah Pak Re menjawab pertanyaanmu. Aku tahu hatimu pasti tertusuk oleh jawaban itu. Mungkin tepatnya seperti pisau tajam yang mengenai hatimu karena kamu dibandingkan dengan Lisya. Jujur aku ingin membelamu, tapi Pak Re terlanjur mengalihkan pembicaraan yang lain dan kamu pun mendadak diam tak berbicara sedikitpun. Maaf Alia aku tak bisa membantumu saat itu.
*

Kamu keluar lebih dulu dari ruangan Pak Re. Kulihat dari jendela kamu tak pulang-pulang juga. Aku segera berpamitan dengan Pak Re karena kupikir aku bisa berbicara denganmu seperti di depan gedung teater waktu itu, tapi situasi tak seperti yang kuharapkan. Lisya mengikutiku. Bahkan sampai keluar dari ruangan Pak Re. Ia terus saja mengajakku bicara sampai membuatku bosan. Aku baru sadar ternyata kamu tak pulang karena terjebak hujan.
Kulihat kamu menatap langit. Entah mencari apa atau kamu sedang berdoa semoga hujan tak cepat reda sama sepertiku waktu itu. Aku menghentikan celoteh Lisya yang tak ada ujungnya dan memilih untuk mendekatimu. Aku menepuk bahumu saat kulihat kamu seperti berniat ingin menerobos hujan. Tak kukira, aku mengagetkanmu. Kamu terperanjat dan mengelus dadamu.
Aku membuka tasku dan mengambil sebuah buku lalu kuserahkan padamu. Buku kumpulan puisi para pujangga yang kutulis tangan sendiri. Kulihat kamu hampir menyukainya tapi wajahmu berubah menjadi tak enak dipandang saat membukanya. Mungkin kamu masih tak menyukai puisi atau mungkin karena tulisanku jelek tapi bukan itu nilai yang ingin kutekankan padamu. Aku ingin mengatakan jaga baik-baik buku itu sampai aku pulang. Setiap kali kau buka buku itu semoga kau mengingatku, Idzul yang mencintaimu Alia. Aku hanya bisa memberikan buku kumpulan puisi itu padamu sebagai bahasa tubuhku. Semoga kamu bisa membacanya. Aku menyukaimu Alia. Sesungguhnya aku tak ingin berpisah darimu. Seandainya saja kau mau menahanku di ruangan Pak Re waktu itu, mungkin aku takkan pergi.
*

Komentar