Langsung ke konten utama

Malaikat Cinta Sesaat


Di bawah pancaran rembulan dengan secangkir teh hangat aku terduduk lesu. Saat kuteguk masuklah ia ke kerongkongan dan mulai terasa kehangatan yang kucari. Badanku tak lagi mengigil. Gigiku berhenti bergemeletuk. Raka datang membawa selimut tebal yang dipinjamnya dari penduduk sekitar. Ia masih bisa tersenyum saat meletakkan selimut itu ke badanku.
“Masuklah ke dalam, kamu sudah terlihat pucat. Sepertinya kita akan pulang besok pagi. Ada beberapa penduduk yang mau mengantar kita sampai kota. Kamu istirahatlah! Kumpulkan tenagamu untuk besok pagi. Kita akan naik mobil bak terbuka yang membawa sayuran sebelum fajar,” ujar lelaki itu dengan sangat lembut.
Ia menuntunku masuk ke dalam sebuah rumah penduduk. Aku hanya bisa pasrah dengan keadaanku bahkan sampai kabar gembira itu kudengar aku tak bisa melonjak riang atau mungkin karena setelah ini berakhir aku tak akan bisa melihat Raka lagi.
Aku baru mengenalnya dua hari yang lalu di sebuah camp sebelum tersesat bersama di hutan dan terdampar di desa terpencil ini, tapi aku merasa sudah sangat mengenalnya.
“Tidurlah di sana, aku di kursi ini saja. Setidaknya dengan tidur kamu akan merasa baikan besok pagi,” serunya seraya membantuku berbaring di tempat tidur. Setelah itu ia berjalan mendekati kursi reyot dan berusaha tidur di sana.
Sementara aku, tak bisa sedetik pun memejamkan mataku meski Raka terlihat sangat lelap. Wajah-wajah letih bergelayut di wajahnya tapi ia masih tetap tersenyum dalam tidurnya. Kasihan dia sudah terlalu keras mencari jalan keluar dari hutan hingga akhirnya aku ada di tempat ini. Aku hanya merepotkannya. 
Semenit, dua menit aku merasa haus. Aku tak berani membangunkan Raka. Tapi jika tak kubangunkan aku akan mati kehausan.
“Raka, Raka bangun.” Aku mengoyangkan badannya. Tapi Raka tak juga bangun.
 Kupanggil sekali lagi, “Raka bangun! Aku haus Raka. Aku butuh segelas air.” Aku tarik legannya. Perlahan-lahan ia pun membuka matanya. Ia terperanjat melihatku berdiri di sampingnya yang memegang lengannya. Buru-buru kulepas.
“Maaf aku membangunkanmu. Aku haus,” aku berujar.
Raka menyuruhku duduk, sementara ia mencoba mengambil segelas air untukku. Entah apa jadinya jika orang itu bukan Raka. Kalau seandainya dia Edo, pasti aku sudah dimaki-maki dan disuruh mengambil sendiri. Untung dia bukan Edo, kekasihku yang kejam dan si penuntut. Apa-apa aku harus melakukannya sendiri bahkan untuk suatu yang kusebut kerjasama tim pun ia menuntutku untuk melakukannya sendiri. Mungkin Tuhan ingin menyadarkanku bahwa Edo bukan orang yang tepat untukku dengan menghadirkan Raka di kehidupanku.
“Ini air minumnya. Kurasa kamu butuh minum yang banyak agar panasmu bisa cepat turun.” Tak tanggung-tanggung ia membawa sebuah baskom berisi air.
“Itu juga air untuk minum?” tanyaku heran.
Ia mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya kemudian menyelupkan ke dalam baskom berisi air itu. “Kupikir kamu tidak bisa tidur jadi sepertinya kamu butuh ini untuk menurunkan demammu.” Raka meletakkan sapu tangan itu ke dahiku.
“Raka aku benar-benar merepotkanmu. Maaf,” keluhku seraya memegangi sapu tangan Raka yang hampir meluncur dari dahiku.
“Hei, bukankah ini wajar? Jika aku di posisimu dan kamu di posisiku tentu kamu akan melakukan hal yang sama. Sudahlah sekarang kamu harus istirahat! Aku ingin melihatmu kembali ceria besok pagi.”
“Tapi aku..”
“Tidurlah! Aku tak akan tidur sebelum kamu tidur,” potongnya membuatku berhenti berkata-kata.
***
Kudengar suara ayam berkokok dan terasa ada yang menguncang tubuhku. Aku membuka mataku. Raka menyambut pagiku dengan senyuman.
“Sudah sehat, Nona? Apakah tidurmu lelap semalam?” tanya Raka iseng.
“Raka, apa sih? See. Aku sudah sehat,” ujarku yang sudah merasa lebih enakan.
Are you ready? Ini masih sangat pagi, kuharap kamu tak tertidur di mobil bak sayuran atau kamu akan dikepung ulat-ulat sayuran,” ujarnya menyemangatiku. Aku hanya menganggukkan kepalaku.
“Kita akan berpetualang lagi. Kamu harus lebih semangat lagi. Mana semangat kamu? Coba lihat, aku ingin tahu seberapa semangat kamu pagi ini. Kita akan pulang, Non, pulang,” teriaknya begitu antusias. Ia menarik tanganku dan berpamitan dengan si Empunya rumah. Setelah itu aku dan dia berjalan 1 km menuju mobil bak terbuka yang sudah berisi sayuran. Udara dingin mulai terasa saat mobil bak terbuka itu melaju.
“Eh, Non, baru tiga hari kita meninggalkan rumah, rasanya seperti sudah setahun. Seharian kita terperangkap di hutan sampai akhirnya kita menemukan perkampungan penduduk. Tanpa hape dan uang ternyata kita masih bisa hidup ya? Aku tak menyangka, biasanya aku tak bisa jauh dari yang namanya hape. Baru sekali ini kurasakan hidup tanpa hape berasa jadi orang primitif,” ujarnya panjang lebar.
“Itu juga karena kamu menolongku waktu aku jatuh terpeleset. Coba aja kamu nggak menolongku mungkin aku sudah tak ada tapi hape kamu itu masih di genggamanmu karena tak jadi masuk ke jurang.” Raka hanya mengulas senyum.
“Huft… Aku benar-benar merepotkan kamu ya, pantas saja Edo selalu menuntutku untuk mandiri dan nggak menyusahkan orang lain.” Aku menundukkan kepalaku. Aku malu dengan diriku sendiri.
“Edo itu cowok kamu ya? Sudahlah jangan bersedih gitu. Kamu masih bisa hidup kan tanpa dia, itu tandanya kamu sudah bisa mandiri dari dia.” Raka menepuk bahuku dan yang kutahu ia sedang berusaha menenangkanku.
“Kau benar atau mungkin karena aku tak mencintainya lagi. Kurasa sejak dia tak henti-hentinya membuat tuntutan padaku, hatiku sudah membeku dan butuh api untuk membuatnya mencair.”
 “Benar kamu tak mencintainya lagi? Kudengar kamu memanggil-manggil namanya saat tidur. Bukankah berarti kamu masih mencintainya? Hanya saja kamu tak menyadarinya. Mungkin karena kamu bertemu denganku sehingga perasaan kamu padanya sedikit berhamburan. Maaf ya. Tanpa sengaja aku mendengar kamu sedang membandingkan aku dengannya, saat kamu menggerutu di tengah hutan.”
“Kamu dengar semua ya? Maaf kalau aku lancang mengikutsertakan namamu dalam daftar. Sungguh kuakui saat bersamamu aku merasa nyaman, aku seperti pernah mengenalmu sebelumnya.”
It’s okey! Tak masalah. Pasti dari kemarin si Edo kekasihmu itu bingung mencarimu. Ia sangat khawatir denganmu. Ia bahkan sampai tak bernafsu untuk makan, tidur pun tak nyenyak,” ujar Raka membuatku meragu.
“Kamu bercanda? Edo tak akan mungkin melakukan hal itu. Edo pasti akan memaki-makiku karena aku sudah bertindak bodoh sampai tersesat di hutan dan tak tahu jalan pulang. Ia pasti akan menyuruhku berhenti bercerita. Ia akan memotong pembicaraanku tentang bagaimana aku bisa tersesat sampai aku bisa kembali pulang.”
“Jangan lupa aku juga lelaki, Non. Aku yakin ia akan melakukan hal yang kubilang tadi. Sekejam-kejamnya lelaki tak akan bisa membiarkan pujaan hatinya kenapa-kenapa. Mungkin sekarang ia melaporkanmu ke kantor polisi karena kita sudah lebih dari dua puluh empat jam menghilang,” potong Raka.
“Kau benar. Mungkin kita akan dilaporkan sebagai orang hilang dan wajah kita akan dipampang di mana-mana,” gumamku tak bersemangat.
Aku menghentikan arah pembicaraan itu. Suasana menjadi hening. Sesekali terdengar angin yang berhembus, memecah suasana. Ufuk pagi mulai terlihat menyingsing. Mobil bak sayuran pun terus meluncur ke tengah kota. Sampailah kami di depan sebuah pasar.
“Sudah saatnya kita berpisah di sini. Kuharap kita bisa bertemu lagi suatu saat nanti dan memulai petualangan baru,” ujar Raka berpamitan.
Aku terdiam seolah tak ingin berpisah darinya. Tak sanggup kutatap matanya. Perlahan ia beranjak pergi dan aku menyesal hanya bisa melihat punggungnya. Di tempat itu kami berpisah. Aku mencari sepeser uang di dalam saku celanaku. Masih ada uang tiga ribu rupiah. Setidaknya itu akan cukup untuk mengabari orang rumah atau Edo.
Aku berjalan mencari wartel. Sesampainya di depan wartel aku lemas. Kulihat masih tertutup rapat. Mana ada yang buka pagi-pagi begini pikirku.
“Nona!” Sebuah suara terdengar memanggilku. Ku tolehkan wajahku ke sumber suara. Tampaklah sosok Edo yang sedang melepas helmnya. Ia berlari ke arahku.
“Nona, aku senang bisa bertemu denganmu lagi,” teriaknya girang.
“Kamu tahu aku di sini dari mana?” tanyaku heran.
“Aku dapat telepon dari kepala desa tempat kamu menginap tadi malam. Aku dengar kamu akan tiba di pasar ini. Jadi aku cepat-cepat kemari. Aku sudah tak sabar ingin melihatmu,” jelasnya dengan penuh semangat.
“Maaf aku merepotkanmu,” sahutku.
“Hei, aku sama sekali tak berpikir begitu. Aku dengar kau sakit demam. Apa sekarang sudah sembuh? Siapa lelaki yang bersamamu? Aku harus..”
“Aku bisa menjelaskannya,” potongku.
“…dengar, Nona. Aku hanya ingin berterima kasih padanya. Mungkin tanpa dia kamu nggak akan pernah sampai di sini. Kudengar sebelum kamu demam, kamu hampir jatuh ke jurang. Beruntung dia menyelamatkanmu. Bahkan kudengar saat kau shock dia mencoba menenangkanmu. Aku sungguh berhutang budi padanya,” lanjutnya.
“Kamu perlu tahu hal ini, dalam waktu tiga hari dia, maksudku Raka, berhasil mencuri hatiku. Dia menjadi malaikat penolongku. Jangan salahkan aku jika aku seperti ini, Do. Kurasa aku mulai goyah tapi itu…”
“Apakah itu artinya kau sudah...” potongnya. Aku diam. Lupa dengan kata-kataku selanjutnya. “Nona. Benar hatimu sudah berpaling padanya? Kau tak mencintaiku lagi? Baiklah kalau begitu.”
Aku mendengus. Aku menyerah, kurasakan lagi getaran-getaran yang dulu singgah di lubuk hatiku sebelum sempat karam. Perkataan Raka mulai kuserap dalam otak dan dia benar lagi.
“Aku kan tak bilang begitu, Do.
Jadi?
Do, setelah kupikirkan lagi ternyata Raka benar. Aku memang harus mendengarkan kata-katanya. Aku tak peduli kau akan mengatakanku plin plan atau apalah itu. Ternyata aku memang tak bisa mengelak kalau aku masih mencintaimu. Mungkin dia hadir di saat yang tepat, Do. Tapi kalau kamu, kamu selalu ada di setiap aku butuh meskipun cara dan perhatianmu berbeda dengannya.”
Edo menyunggingkan senyumnya lebih lama dari biasanya.
“Maaf, Do. Aku pernah sempat mencoba menghilangkan perasaanku padamu.”
***

Komentar