Langsung ke konten utama

KAMU DAN LAGI




Aku tak menyangka kau memilih universitas yang sama denganku dulu selepas SMA. Aku sungguh tak percaya kita bertemu di dalam perpustakaan pusat saat orientasi mahasiswa. Ternyata kita ada di universitas yang sama hanya berbeda fakultas dan gedung pastinya. Aku pikir setelah selepas SMA aku tak kan bisa bertemu denganmu lagi dan melepasmu jauh saat acara wasana warsa. Tapi hari ini aku bertemu denganmu lagi setelah satu tahun tak bertemu. Aku masih ingat pertemuan kita di perpustakaan pusat itu adalah yang terakhir kali sebelum hri ini. Dulu kulihat kau  masih memakai baju seperti lainnya dengan kacamata yang membuatmu tampak seperti kaum intelek, haus akan membaca. Kini yang kulihat lain, kau memakai jas putih menekankan padaku sebagai seorang mahasiswa kedokteran. Sedang aku dengan wajah kusamku menunggu seorang teman di sebuah restoran.
Kau duduk dengan kawan-kawanmu di bagian tengah sedang aku di pojok dekat jendela seolah terpojok sendiri, butuh teman untuk bicara. Tapi kau tetap terus bercengkrama, bersendau gurau dengan kawan-kawanmu, serempak melepas jas putih dan memasukkannya ke dalam tas setelah pesananmu datang.
Aku harusnya tak kecewa, karena aku tahu kau tak kan mengenaliku. Sama seperti dulu saat SMA, karena memang kita tak pernah saling berkenalan, apalagi sebut nama. Lagi dan lagi aku merasa kecewa. Seharusnya kau ingat orang yang membuntutimu sampai harus menunggu kapal selanjutnya karena rombonganku masih di belakang saat di Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk. Seharusnya kau mengingatku orang yang dulu menunjukkan arah yang salah padamu saat kau sedang mencari kopermu yang hilang di Bali. Seharusnya kau ingat orang yang dulu selalu berada di balkon hotel mencuri-curi pandang lewat cermin kecil saat di Bali. Seharusnya kau ingat orang yang diam-diam melihatmu memainkan gitar dan menyanyi sebuah lagu entah untuk siapa di malam hari saat aku lewat di depanmu. Seharusnya kau ingat kita pernah bicara satu kali meskipun tak pernah sebut nama.
Aku harusnya tak kecewa karena kita memang tak pernah dekat. Sama seperti SMA dulu, karena kau hanya  menyunggingkan senyummu tiap berpapasan. Seharusnya kau menyapaku, orang yang berdetak jantungnya saat berjalan sejajar denganmu dengan selisih jarak 50 cm. Seharusnya kau menyapaku, orang yang hampir berteriak histeris saat berpapasan denganmu meskipun berlawanan arah. Seharusnya kau menyapaku, orang yang bergeming saat kau lewat di depanku. Seharusnya kau menyapaku, orang yang hampir melonjak-lonjak di atas tanah saat melihat senyummu.
Aku harusnya tak kecewa saat tahu kau sudah ada yang memiliki. Sama seperti SMA dulu, karena kau berpacaran dengan adik kelas kita. Seharusnya kau tahu perasaanku, orang yang tiba-tiba jatuh di nilai ujian akhir, setelah beberapa kali melihatmu dengannya. Seharusnya kau tahu perasaanku, orang yang menolak kata-kata atas nama cinta untukku meski tahu kau sudah ada yang memiliki. Seharusnya kau tahu perasaanku, saat melihatmu memakai kruk satu bulan seusai kecelakaan dan berharap menjadi orang yang dapat mengajarimu berjalan perlahan sampai bisa berjalan tanpa memakai kruk. Seharusnya kau tahu waktu di perpustakaan SMA dulu aku bermaksud membantumu tapi kau berteriak keras ke arah kawanmu menegaskan kata kau tak mau dibantu.
Aku tak gugup, tak panik, tak resah tapi aku harus katakan kalau aku kecewa. Mengapa kita bertemu saat kau milik yang lain. Entah rasa kecewa itu kembali singgah, lagi dan lagi, saat kulihat kau bersama teman wanitamu. Sampai aku mengabaikan kawan-kawan di sekelilingmu. Aku mengamatimu. Lagi-lagi dan lagi tidak secara langsung. Hanya lewat cermin kecil yang memantulkan dirimu dan dirinya.
Aku masih ingat bagaimana dulu aku ingin mendekatimu dan menyatakan perasaanku. Aku menge-add akun Facebookmu. Lalu kutunggu beberapa hari sampai kau meng-confirm-ku dan kulihat bagaimana responmu padaku. Tak ada ucapan terima kasih, salam persahabatan, salam pertemanan, ucapan selamat datang atau sejenisnya-sejenisnya. Sama sekali tak ada. Tanpa hitung pikir dan akal aku men-delete akunmu. Mungkin kau akan berpikir aku wanita yang terlalu agresif jika tetap melakukan hal itu. Mungkin kau akan berpikir aku wanita yang tak tahu diri karena aku mengucapkan kata yang seharusnya diucapkan pria pada wanita. Aku sudah tak peduli lagi. Tak peduli saat itu. Tapi mendadak aku peduli lagi padamu lagi dan lagi.
Aku tak peduli kau akan mengataiku plin plan. Aku tak peduli kau akan mengataiku wanita yang tak tahu malu karena sudah tahu kau ada yang memiliki tapi masih saja kukuh untuk memendamnya. Aku tak peduli kau akan berdiri di depanku dan menyiram air ke wajahku, sungguh aku tak peduli lagi. Aku tak berharap banyak. Aku hanya ingin kita berkenalan lalu berbicara seperti dulu saat kau belum hilang ingatan tentangku. Tentangku si penguntit cinta, lagi dan lagi.
***

Komentar