Langsung ke konten utama

Duniaku, Dunianya



Prakkkk… Pot bunga mama pecah. Tanah dan puing-puing pecahan berserakan di lantai.
“Ssstttsss, jangan bilang mama, Bill!” seru Billy berbisik pada Billa. Kulihat Billa menganggukkan kepalanya. Diam-diam aku mengamati mereka. Jika kedua adik kembarku bermain berdua pasti akan terjadi sesuatu yang mengejutkan. Mereka masih 5 tahun, kompak dan usil tapi aku sangat menyayangi mereka.
Aku mendekati mereka. Selesai sudah kompromi mereka berdua saat aku berdiri terheran-heran melihat pot bunga itu nyaris tak berbentuk lagi.
“Kak Tara, kucingnya tetangga sebelah nakal. Potnya mama dipecahin sama dua kucing yang kejar-kejaran di halaman rumah kita. Tadi kucingnya udah aku usir sama Billa, iya kan, Bill?” ujar Billy sambil sesekali menarik ujung bajuku.
“Iya, Kak. Tadi aku sama Billy udah usir tuh kucing. Sekarang kucingnya udah lari jauh banget. Jadi bukan kami ya yang mecahin pot itu,” timpal Billa menambahi.
Aku menyembunyikan tawaku diantara keluguan adik-adikku. Kecil-kecil sudah pandai mencari alasan. Kucing katanya. Kalau bisa terbahak pasti aku terbahak karena mereka menyamakan diri mereka kucing. Jelas kulihat sendiri pot itu pecah karena Billy tak sengaja menjatuhkannya.
“Kak Tara, nanti kalau mama pulang, kakak ya yang jelasin. Kak Tara kan baik, mau ya kak?” Billy berusaha merayuku. Ia memberi isyarat pada Billa agar mengikuti caranya dengan menarik ujung bajuku berulang kali sampai aku memenuhi permintaan mereka. Alhasil dua ujung bajuku kanan dan kiri di tarik-tarik. Dasar anak kecil pikirku.
“Tara!!” Sebuah suara terdengar memanggilku dari depan pagar. Ares menyelamatkanku dari dua bocah lugu yang sedang berusaha membujukku.
“Kak Tara pergi dulu ya. Nanti minta bantuan Kak Dony. Pasti kalian dibantuin,” ujarku membuat Billy dan Billa kecewa.
Tiba-tiba Billa melepas tarikan bajuku. “Kak Tara nggak asyik!!! Kakak cuma sayang sama Kak Ares,” ujar Billa terlihat kesal dan berlari masuk ke dalam rumah.
***
“Wajahmu murung. Nggak suka jalan sama aku hari ini?” Ares membaca mimikku.
“Billa kelihatan aneh, Res.” Aku mengingat kembali beberapa hari yang lalu Billa selalu bertanya-tanya tentang Ares dari bangun tidur sampai ia terlelap. Namun hari ini dia sama sekali belum bertanya padaku.
“Aneh apanya? Kulihat adikmu Billa itu baik-baik saja.”
“Dia belum bertanya tentangmu hari ini. Itu sangat aneh,” tukasku sambil memainkan sedotan di dalam gelas minumanku.
“Mungkin dia lupa atau sedang bosan. Sudahlah, dia itu masih kecil. Siapa tahu kalau dia bertanya tentangku hanya ingin menarik perhatianmu.” Ares mengalihkan perhatianku pada foto yang diam-diam ia ambil lewat handphone. “Ini fotonya siapa ya ?” godanya sambil senyum-senyum tak jelas.
Aku membelalak. Pose yang buruk. Itu adalah aku saat tertidur di kelas. “Ih, jelek banget! Hapus nggak?” Aku berusaha merebut handphone-nya tapi tak berhasil. Ares menyembunyikan handphone-nya dan mengantarku pulang setelahnya.
***
 Billy menyambutku dengan senyum saat aku kembali. “Kakak, aku tadi nggak jadi dimarahin mama. Soalnya tadi aku jujur. Aku dikasih cokelat sama mama,” ujarnya dengan polos sambil memamerkan cokelat pemberian mama. Cokelat Billy sangat menggoda.
“Kakak minta donk?”
“Nggak boleh. Billa aja nggak minta, kok kakak minta?” Billy menyembunyikan cokelatnya.
Aku celingukan mencari Billa. “Nah, Billa sekarang dimana? Kalian lagi marahan?”
“Billa dari tadi tidur, Kak. Dia nggak mau aku ajak main mobil-mobilan. Billa nggak asyik,” ujar Billy kecewa dengan sikap Billa yang membiarkannya sendiri. “Kalau gitu kakak temenin Billy, nanti aku kasih cokelat.”
“Billy, kakak lagi capek nanti aja ya,” tepisku dengan nada lembut.
“Kak Tara sama kayak Billa, nggak asyik,” teriaknya sambil berlari membawa cokelatnya. Aku hanya tersenyum seraya berjalan menuju kamarku yang pintunya setengah terbuka.
Kulihat badan kecilnya terkulai di tempat tidurku. Ia terlelap sambil memegangi fotoku yang sedang bersama dengan Ares. Aku semakin bertanya-tanya dalam hati ada apa dengan adik kecilku ini. Tak biasanya Billa tidur di kamarku.
Aku mencoba mengambil fotoku perlahan tak sengaja membuatnya terbangun. Billa membuka matanya perlahan seraya bangkit dan duduk.
“Kak Ares mana, Kak? Billa kangen Kak Ares,” gumamnya tiba-tiba membuatku lega karena pertanyaan yang kutunggu sudah ia lontarkan.
“Kak Ares-nya sudah pulang. Tadi Billa dicari sama Kak Ares tapi Billa kan tidur,” jelasku sambil mencubit pipinya yang mungil.
“Kak Tara sayang banget ya sama Kak Ares? Billa juga sayang Kak Ares,” ujarnya polos. Aku tersenyum dan menggendong adik kecilku itu ke pangkuanku.
“Oh ya? Seperti sayangnya Billa ke mama, papa, Billy, kak Tara dan kak Dony ?” tanyaku menggodanya.
Ia menggelengkan kepalanya. “Aku sayang Kak Ares seperti Kak Tara sayang sama Kak Ares.” 
Aku terperangah. Sekilas memang hanya omongan anak kecil. Anak lima tahun itu menyukai Ares. Pernyataannya sukses membuatku bungkam.
“Billa mandi yuk!!” Terdengar suara mama dari depan pintu kamarku, memanggil Billa. Kali ini giliran mama yang menyelamatkanku.
Pikiranku melayang ke atas langit-langit. Kubaringkan tubuhku saat Billa berlari ke arah mama dan berlalu dari hadapku. Kini terbayang wajah adikku yang berubah menjadi sosok dewasa. Padahal jarak usia kami sangat jauh, terpaut dua belas tahun. Tak bisa kubayangkan jika adikku itu seumuranku.
“Mbul,” panggil Kak Dony di depan pintu kamarku. Ia biasa memanggilku dengan sebutan itu. “Kamu disuruh mandiin Billa. Dia pengen kamu yang mandiin,” lanjutnya.
“Kenapa harus aku, kenapa nggak sama kakak aja?” tukasku sambil bangkit.
“Kan aku tadi udah mandiin Billy. Sekarang giliran kamu yang mandiin Billa,” serunya sambil berlalu. Billa, Ares, Billa, Ares. Pikiranku penuh dengan nama Billa dan Ares. Sosok Ares mampu mengambil hatiku tapi mengapa juga hati adikku. Sikapnya saat bersama adik-adikku sangat menyenangkan tak heran jika Billa juga menyukainya. Seharusnya aku senang dengan keadaan itu tapi mengapa terasa sebaliknya.
***
Seusai mandi Billa menyuruhku untuk menemaninya bermain boneka karena tak mungkin ia mengajak Billy. Sudah pasti ia tak mau, ujungnya justru Billa yang diajak bermain mobil-mobilan kalau tidak tembak-tembakan.
“Kakak, aku ingin diajak jalan-jalan Kak Ares tapi kakak nggak boleh ikut,” ujarnya begitu lugu tapi membuatku was-was.
“Iya, nanti kakak bilang ke Kak Ares. Billa ingin jalan-jalan kan, pasti Kak Ares mengajak Billa ke kebun binatang, tempat bermain, toko boneka, toko permen, toko es krim,” sahutku mengiyakan.
“Billa sukanya makan di pantai pakai lilin cuma sama kak Ares biar romantis, Kak.” Gaya bicara Billa sudah seperti tahu dunia orang dewasa. Sepertinya dia mengimitasi apa yang dilihatnya di televisi.
Aku jadi melamun tak mendengarkan kata-kata Billa selanjutnya sampai ia bertanya padaku, “Kapan kakak menikah sama Kak Ares? Aku juga mau Kak.” Aku terperanjat tak percaya sejauh ini ia bertanya. Jangan-jangan Billa memiliki kelainan. Kecil-kecil tapi sudah berpikir seperti orang dewasa.
“Kok tanyanya gitu sama kakak? Billa dapat pertanyaan itu dari mana? Billa kan masih kecil,” tanyaku mengintrogasinya sambil membelai rambut ikalnya.  
“Aku udah besar kok, Kak. Ini bajuku yang dulu kebesaran sekarang udah muat. Terus sekarang aku sama Billy tinggian aku. Aku juga udah bisa baca sama menulis. Aku udah besar kan, Kak?” cerocosnya panjang lebar. Kurasakan makna setiap kata dari anak ini. Ternyata ia menganggap dirinya telah tumbuh seperti layaknya orang dewasa. Hal kecil ia anggap sebagai hal yang besar.
Aku menertawakan diriku sendiri. Aku terlalu menyerap mentah-mentah perkataan anak kecil ini. Ia berbicara lugu tanpa tahu maknanya dan aku ikut terhanyut dalam dunianya. Hampir saja aku cemburu pada adikku yang masih lima tahun.
“Besok-besok kakak dulu yang nikah sama Kak Ares. Sesudah itu aku yang nikah sama Kak Ares ya? Aku kan ingin seperti kakak. Aku juga ingin punya Kak Ares, Kak.”
Kata-kata itu membuatku terbahak. Ia pikir sebuah pernikahan itu hanya mainan bukan suatu hal yang sakral. Aku saja belum memikirkan sampai ke arah itu tapi adikku dengan lugunya mampu mengatakan hal itu. Aku mulai berpikir, kini Billa tak mengimitasi Billy lagi. Tapi ia beralih mengimitasiku. Apapun yang kumiliki harus ia miliki seperti halnya Ares. Pantas saja ia tak tertarik pada cokelat pemberian mama karena perhatiannya tertuju pada Ares. 
***

Komentar