Langsung ke konten utama

BINA GERAK

A. BATASAN DAN TUJUAN BINA GERAK
Yang dimaksud bina gerak adalah segala usaha yang bertujuan untuk mengubah, memperbaiki dan membentuk pola gerak yang mendekati pola gerak wajar. Bina gerak merupakan perpaduan dari beberapa macam terapi yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Ada terapi fisik, terapi okupasi, terapi bermain, terapi musik, terapi psikhis dll. yang satu dengan yang lainnya saling mendukung dan melengkapi.
Latihan bina gerak dalam pelaksanaannya membutuhkan suasana, sikap, lingkungan dan program yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak. Suasana latihan yang dibutuhkan adalah suasana yang tenang, hening, segar, ceria dan jauh dari kebisingan. Sementara itu sikap yang dibutuhkan dalam latihan adalah sikap pelatih/guru yang dapat menerima kondisi kecacatan anak, sikap kasih sayang, menghargai kemampuan anak, mengendalikan kegelisahan anak, dsb. Sedang program yang dibutuhkan dalam bina gerak adalah program yang jelas dan bervariasi yang disesuaikan dengan kemampuan anak.
Tujuan bina gerak adalah untuk membentuk, merubah dan memperbaiki kemampuan gerak anak. Atau untuk memberikan bekal dan kemampuan gerak yang dapat mengantarkan anak mampu bergerak untuk berpartisipasi, berkomunikasi dan bersosialisasi dengan lingkungannya secara lebih wajar.

B. MATERI BINA GERAK DALAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH
1. Penguatan Otot yang lemah
Manusia dapat bergerak karena ada sendi, otot dan syaraf. Otot sebagai salah satu komponen alat gerak apabila tidak berfungsi maka akan berpengaruh terhadap fungsi organ gerak yang lainnya (sendi dan syaraf) yaitu dalam bentuk gerak yang tidak normal. Kekuatan otot sangat besar pengaruhnya terhadap kemampuan gerak anak. Salah satu problem besar yang dialami anak gangguan motorik adalah adanya otot yang kurang/tidak kuat (lemah, fleksid, hipotonus), sehingga organ geraknya tidak berfungsi. Seperti yang dialami oleh anak poliomyelitis, MDP, monoplegia, triplegia, quadriplegia, paraplegia, hemiplegia, dsb. Bagi anak tertentu, otot yang lemah dapat karena factor hipotonus (gangguan terletak di traktus pyramidal). Dimana kekuatan dan ketegangan otot mengalami penurunan selama otot berkontraksi ataupun ketika disuruh melakukan gerak aktif. Kelumpuhan otot dapat terjadi pada organ gerak atas maupun organ gerak bawah. Kelumpuhan juga dapat terjadi hanya pada satu organ gerak atau lebih dari satu organ gerak.
Tujuan penguatan otot umumnya untuk menguatkan, menjaga, menyegarkan kerja otot baik dengan ataupun tanpa alat bantu. Alat Bantu yang dibutuhkan bermacam-macam, seperti alat penonggak (kruk), walking paralel bar, stair case, walker, kursiroda, stand in table, wall bar, pulley weight, alat-alat berbentuk silinder, kursi duduk, crawler, tripot, belt, leg skate, bicycle exerciser, dll. Materi bina gerak untuk penguatan otot disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing anak. Program untuk penguatan otot dapat dilakukan terpadu dengan mata pelajaran yang ada di sekolah dan dapat juga diberikan secara mandiri dalam pelajaran bina gerak. Di sekolah-sekolah luar biasa, umumnya pelaksanaan bina gerak ini menjadi bagian dari materi fisio terapi, terapi okupasi, olahraga dan kesehatan atau dapat pula diberikan secara mandiri dalam pelajaran bina gerak..
2. Pelemasan otot yang spastik
Gerak tidak normal karena factor kelainan otot juga dapat dalam bentuk otot yang terlalu tegang (spastic=menegang). Biasanya ini karena hipertonus sebagai akibat dari kelainan yang ada di traktus pyramidal di cerebrum. Bila tonus otot bertambah berlebihan (hipertonus) akan menyebabkan kekuatan gerak sendi bertambah. Kejadian ini juga tidak menguntungkan anak karena gerak sendinya tidak normal. Cirinya: gerakan sendi melipat secara cepat dan pada waktu diluruskan secara cepat juga ada tahanan. Bahkan apabila seluruh otot di sekitar sendi mengalami hipertonus maka sendi tidak dapat digerakkan sama sekali, baik gerak aktif maupun gerak pasif.
Otot-otot yang spastik perlu dilatih untuk menurunkan spastisitasnya, dilemaskan kekakuannya kemudian dikembangkan kekuatannya, daya tahan dan koordinasi geraknya. Dengan spastisitas yang menurun dimungkinkan dapat mengontrol pengaturan pola gerak tubuh dan dapat mengurangi masalah deformitas sendi.
3. Mempertahankan kekuatan otot dan mencegah atropi otot
Atropi otot atau lisutnya atau kemunduran otot sehingga kekuatannya menjadi menurun atau hilang dikarenakan adanya fungsi syaraf yang hilang. Misalnya otot sekitar paha atropi maka lutut susah diangkat, otot di bawah lutut atropi maka telapak kaki susah digerakkan. Demikian juga bila atropi otot terjadi di sekitar perut maka timbul skoliosis, otot di sekitar sendi atropi maka sendi susah diangkat, dsb
Anak-anak dengan gangguan motorik harus senantiasa dilatih untuk bergerak. Terutama gerakan untuk mempertahankan kekuatan otot agar tidak atropi. Di samping itu dengan mempertahankan kekuatan otot juga dapat untuk menjaga stabilitas sendi, mencegah deformitas serta dapat untuk mempertahankan postur tubuh dan keseimbangan tubuh secara keseluruhan.
4. Memperbaiki gerak pada persendian, mencegah pemendekan urat di sekitar sendi
dan mencegah deformitas sendi
Gerakan seseorang sangat dipengaruhi oleh berfungsi tidaknya persendian tertentu yang terkait dengan organ gerak. Akibat penyakit, banyak sendi anak gangguan motorik yang mengalami kekakuan atau kontraktur sendi. Seperti sendi paha yang melipat ke depan, sendi lutut yang melipat ke belakang, sendi pergelangan dan telapak kaki yang menjadi jinjit (kaki eqinus) atau pergelangan kaki yang melipat ke atas (kaki calcanius). Pendek kata akibat adanya kontraktur sendi menyebabkan terjadinya deformitas sendi.
Anak-anak gangguan motorik memerlukan latihan gerak guna mengatasi permasalahan di sekitar sendi. Anak gangguan motorik biasanya yang mengalami permasalahan/gangguan adalah persendian pada sendi bahu, sendi siku, sendi pergelangan tangan, sendi jari tangan, sendi pinggul, sendi lutut, sendi pergelangan kaki, dan sendi jari kaki.
Anak yang memperoleh layanan bina gerak khusus untuk memperbaiki gerak pada persendian sudah tentu disesuaikan dengan kondisi gangguan yang ada pada masing-masing anak. Bagi anak yang mengalami gangguan pada sendi bahu, ia akan memperoleh bimbingan gerak pada persendian sendi bahu. Anak yang mengalami gangguan pada sendi siku, ia akan memperoleh bimbingan gerak pada sendi siku, dan seterusnya.
Beberapa kemungkinan kemampuan gerak sendi adalah:
(a) fleksi (pengetulan sendi/penekukan/membengkok/melengkung, memperkecil sudut),
(b) ekstensi (pengedangan/gerakan meluruskan),
(c) abduksi (menjauhi sumbu panjang),
(d) adduksi (gerakan mendekati sumbu memanjang),
(e) rotasi (putaran),
(f) sirkumduksi (gerakan yang memutar),
(g) pronasi (gerakan memutar tangan bawah ke dalam/panco),
(h) supinasi (pemutaran lengan bawah ke luar),
(i) apotemen (mendekat).
Gangguan gerak persendian pada anak dapat tunggal dapat pula ganda. Sebelum melakukan bimbingan gerak terlebih dahulu dilakukan asesmen. Cara melakukan asesmen dapat dilakukan dengan cara tes dan observasi. Persendian mana yang mengalami gangguan maka sebelumnya harus dilakukan asesmen/observasi pada persendian yang bersangkutan. Caranya dengan meminta anak untuk melakukan gerakan pesendian tertentu sesuai dengan kemungkinan gerak sendi pada persendian yang bersangkutan. Misalnya sendi bahu, sendi ini (bila normal) memiliki kemungkinan empat macam gerakan, yaitu gerak abduksi-adduksi, fleksi-ekstensi, rotasi, sirkumduksi. Apabila saat dilakukan asesmen anak tidak mampu melakukan, maka diasumsikan ia mengalami gangguan pada salah satu bentuk gerakan yang tidak mampu melakukannya tersebut.
5. Menanamkan keterampilan lokomotor
Keterampilan lokomotor merupakan keterampilan gerak dari satu tempat ke tempat lain. Keterampilan dasar lokomotor menjadi sangat penting bagi anak dengan gangguan motorik karena di samping sebagai fondasi untuk mobilitas juga sebagai dasar untuk koordinasi gerak kasar dan gerakan-gerakan otot besar. Keterampilan lokomotor ini menjadi dasar untuk melakukan keterampilan berjalan, melompat, lari, dsb.
6. Menanamkan keterampilan non-lokomotor
Keterampilan non-lokomotor merupakan keterampilan untuk dapat melakukan gerakan tertentu tanpa harus bergerak pindah tempat. Artinya gerakan terjadi tanpa memindahkan tubuh dari satu tempat satu ke tempat lain seperti: bending (belok), stretching (jangkauan/uluran), pushing (dorong) & pulling (tarik), twisting (pelintir) & turning (belok), balancing (keseimbangan) & rolling (gulung).
7. Memperbaiki koordinasi gerak tubuh (Keterampilan manipulatif)
Biasanya gerak seseorang akan dikendalikan oleh syaraf perintah yang berpusat di otak. Apabila media perantara antara otak dengan organ gerak tidak berfungsi maka tidak ada keseimbangan antara maksud/perintah dengan gerakan yang dilakukan. Kondisi demikian banyak dialami anak cerebral palsy.
Agar gerakan anak dapat tepat menuju sasaran dan sesuai dengan isi perintah, maka mereka perlu latihan kegiatan-kegiatan yang berfungsi untuk melemaskan otot dan sendi serta koordinasi gerak.
Materi latihan untuk memperbaiki koordinasi gerak meliputi:
a. Koordinasi gerak antara mata dengan tangan
b. Koordinasi gerak antara mata dengan kaki
c. Koordinasi gerak antara tangan dengan kaki
d. Koordinasi gerak antara mata, tangan dan kaki
e. Koordinasi gerak antara tangan dan kaki dengan indera lainnya (pendengaran, perabaan, penciuman, pencecapan).
8. Keterampilan menggunakan ortotis
Banyak anak dengan gangguan motorik yang dalam melakukan mobilitas membutuhkan alat bantu seperti, brace (LLB, SLB), splint, kruk, kursi roda, dll.
Macam ortotis yang perlu dilatihkan pada anak meliputi ortotis anggota gerak bawah, ortotis anggota gerak atas, ortotis tulang belakang.
Materi pelatihan mencakup pengenalan alat bantu, cara penggunaan, perawatan dan penyimpanannya agar keberadaan alat-alat tersebut benar-benar tepat sasaran.
9. Keterampilan menggunakan protese
Sebagian anak dengan gangguan motorik ada yang anggota gerak tubuhnya hilang. Baik seluruhnya (amelia), hilang sebagian (meromelia) ataupun masih ada jari-jari yang nempel di bahu ataupun di pinggul (phocomelia).
Materi pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak. Macam protese ada protese anggota gerak atas, dan protese anggota gerak bawah. Mereka membutuhkan latihan penggunaan alat-alat pengganti organ tubuhnya yang hilang (Protese). Termasuk dalam hal merawat dan menyimpannya, agar protese yang dimiliki anak dapat bermanfaat.
10. Latihan ADL (Activity of Daily Living)
Salah satu hambatan anak tunadaksa adalah dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup keseharian (ADL). Hal ini oleh karena telah terjadinya kegagalan anak dalam mengoreksi posisi gerak tubuh yang benar. Mereka bermasalah dalam ke kamar mandi, makan dan minum, ke WC, ke sekolah, dsb.
Anak-anak tunadaksa membutuhkan latihan dan bimbingan dalam ADL ini.
C. METODE BINA GERAK
Banyak teknik yang dapat digunakan untuk melatih kemampuan gerak anak-anak dengan gangguan motorik. Diantaranya:
1. Aktivitas gerak persepsual (perceptual motor activities)
2. Pendekatan keterampilan (Skills approach)
3. Pendekatan tematik (Thematic approach)
4. Pendekatan permainan (Games approach)
5. Pendidikan olahraga (Sport Education)
1. Aktivitas gerak persepsual (perceptual motor activities)
Aktivitas gerak persepsual merupakan kemampuan dasar anak dalam menerima, menginterpretasi dan merespon secara baik pada informasi sensori. Baik melalui penglihatan, pendengaran, perabaan, pencecapan. Keterampilan ini penting sebagai preventif untuk keterampilan gerak secara keseluruhan.
Sebagaimana diketahui bahwa persepsi adalah bagaimana mengetahui informasi dan motor yang merefer output dan gerak yang responsive.
Contoh aktivitas untuk mengembangkan kemampuan gerak perceptual adalah:
a. Gross motor activities (locomotor) (berjalan, melompat, berlari, dsb)
b. Vestibular activities (meniti, papan keseimbangan, melompat, terowong silinder, dsb)
c. Visual motor activities (Manipulative) (menata puzzle, menggambar, berjalan di kotak warna, dsb)
d. Auditory motor activities (bernyanyi sambil bergerak)
e. Tactile activities (sentuh, raba, pijat, dsb)
f. Lateralisation activities (kesadaran sisi badan, arah gerakan, dll)
g. Body awareness (kesadaran bagian badan)
h. Spatial awareness (kesadaran posisi ruangan, dsb) (Nawangsari Takarini, 2005)
2. Pendekatan keterampilan (Skills approach)
Latihan keterampilan tertentu dapat digunakan sebagai wahana menanamkan kemampuan gerak anak-anak yang mengalami gangguan motorik. Misalnya keterampilan memegang, menjepit, menangkap, melempar, keterampilan dalam kegiatan hidup sehari-hari (ADL), bina diri, keterampilan menulis, menggambar, dll.
3. Pendekatan tematik (Thematic approach)
Pendekatan tematik menggunakan tema tertentu sebagai sentral/focus perhatian yang digunakan untuk membina kemampuan gerak anak-anak yang mengalami gangguan motorik.Misalnya tema tentang kebersihan sekolah. Seorang guru dapat memanfaatkan tema kebersihan sekolah tersebut untuk melatihan penguatan otot, pelemasan otot, memperbaiki gerak persendian, melatih kemampuan koordinasi, dsb.
4. Pendekatan permainan (Games approach)
Bermain merupakan kegiatan untuk menyalurkan emosi (seperti rasa senang, rasa setuju, rasa kesal) melalui permainan. Banyak jenis permainan yang dapat membantu membina kemampuan gerak anak gangguan motorik , misalnya:
a. Permainan gerak atau fungsi
Permainan ini mengutamakan ger ak yang berisi kegembiraan, misalnya tari gerak dan lagu tentang ”menanam jagung”, ”naik kereta api”, ”ular naga”, ”memetik bunga”, ”naik becak”, ”naik kereta kuda”, ”aku tukang pos”, ”tari topeng”, ”tari kuda kepang”, ”tari boneka”, ”tari lilin”, dsb. Anak-anak diminta memeragakan gerakan-gerakan sesuai dengan lagu/musik yang didengarnya, dengan penuh perasaan dan kegembiraan.Tujuan permainan dengan gerakan ini memang adalah agar anak gembira, bahagia, senang melalui permainan fantasi ini.
b. Permainan distruktif
Permainan istruktif adalah permainan untuk melampiaskan kekesalan hati, dendam, benci, dll agar menjadi puas dan senang. Di dalam permainan ini anak diminta merusak alat-alat permainannya karena seakan-akan ada rahasia di dalam permainan itu. Tujuan permainan ini agar anak menemukan kesenangan dan kepuasan. Oleh karena itu permainan iani tidak boleh berlangsung lama, dan jangan menggunakan alat permainan yang berharga. Setelah itu anak segera dialihkan kegiatan anak dengan permainan yang lain.
c. Permainan konstruktif
Permainan yang membangun ini misalnya dengan cara anak diminta menyusun balok-balok, batu-batu, kayu, dan papan. Tujuannya adalah menghasilkan sesuatu bentuk bangunan yang sesuai dengan fantasinya. Mereka akan bergembira dengan hasil karyanya.
d. Permainan peranan
Permainan peranan, misalnya anak berperan sebagai orang penting. Anak perempuan bermain dengan boneka, masak-masakan, mencuci, menyeterika, dsb. Anak laki-laki berperan sebagai bapak, guru, masinis, sopir, pilot, dokter, pemain senetron, dsb. Permainan peranan ini bertujuan anak menjadi senang dan dapat menimbulkan kepercayaan pada dirinya karena ia dapat berbuat dan meniru segala kegiatan orang-orang penting dalam kehidupan sehari-hari.
e. Permainan prestasi
Di dalam permainan anak berlomba menunjukkan kelebihannya, dalam kelebihan dalam kekuatan, keterampilan maupun dalam kecerdasannya. Permainan ini di samping untuk penyaluran emosi juga untuk melatih kebersamaan, persatuan, persaudaraan, keberanian, gotong royong, dsb. Model permainannya dapat diciptakan atas kreasi anak sendiri ataupun atas kreasi guru.
5. Pendidikan olahraga (Sport Education)
Pendidikan olahraga merupakan salah satu pendekatan yang dapat untuk mengembangkan kemampuan gerak individu. Baik gerak lokomotor, non-lokomotor, koordinasi gerak, penguatan otot, pelemasan otot, mempertahankan kekuatan otot, melatih gerak sendi, dsb.
Para guru dituntut kreativitasnya dalam memilih aktivitas olahraga yang memiliki makna bina gerak, sehingga aktivitas olahraga yang dilakukan dapat memperbaiki kemampuan gerak anak.
6. Bina Gerak melalui Terapi Fisik (physio therapy)
Terapi fisik atau physio therapy merupakan seni dan ilmu pengobatan dengan menggunakan tenaga dan daya alam, seperti air (panas, dingin, kandungan kimia), listrik, sinar, pemijatan, gerakan/gosokan, dsb.
Para guru dapat melatih kemampuan gerak anak dengan mengajak mereka melakukan kegiatan-kegiatan yang bermakna terapeutik yang terkandung dalam cakupan terapi fisik. Misalnya:
a. Mendorong gerobak yang dapat dimuati berbagai macam pemberat. Muatan dapat ditambah dan dikurangi sesuai kebutuhan dan kemampuan kekuatan otot anak.
b. Menarik tambang atau katrol yang diberi berbagai pemberat. Latihan dilakukan dalam bentuk kompetisi untuk menambah semangat
c. Melempar atau menangkap bola dari berbagai ukuran, dari yang kecil sampai yang besar
d. Memegang pipa dengan berbagai ukuran dari yang kecil sampai yang besar
e. Mengangkat benda-benda bermain dari yang ringan sampai yang berat
f. Memutar kincir atau gilingan yang memakai bunyi-bunyian
g. Memukul pasak-pasak
h. Memukul-mukul air di kolam renang
i. Menahan semprotan air
j. Berenang, dsb.
7. Bina Gerak melalui Terapi Okupasi
Sesuai dengan problema yang dialami anak dengan gangguan fisik ada pada aspek
motorik, sensorik, kognitif, intrapersonal, interpersonal, perawatan diri, produktivitas serta leisure. Maka kegiatan terapi okupasi diarahkan untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut.
Bina gerak melalui terapi okupasi yang dimaksud untuk mengembangkan kemampuan motorik, misalnya gerakan dalam :
a. Berjalan di atas balok titian
b. Menarik beban,
c. Membuat sulak
d. Memasukkan manik-manik ke dalam botol, dsb.
Bina gerak melalui terapi okupasi yang dimaksudkan untuk pengembangan aspek sensoris, misalnya gerakan untuk :
a. Meniup kapas
b. Membedakan suhu: panas, dingin, hangat
c. Mendengarkan bunyi-bunyian
d. Melatih mengecapan,
e. Melatih indera penciuman
f. Melatih indera penglihatan
Bina gerak melalui terapi okupasi yang dimaksudkan untuk pengembangan aspek kognitif, misalnya gerakan untuk :
a. Menggambar,
b. Bermain puzzle
Bina gerak melalui terapi okupasi yang dimaksudkan untuk pengembangan aspek intrapersonal, misalnya gerakan untuk :
a. Bernyanyi
b. Bermain drama
Bina gerak melalui terapi okupasi yang dimaksudkan untuk pengembangan aspek interpersonal, misalnya gerakan untuk :
a. Senam irama
b. Berpelanja
Bina gerak melalui terapi okupasi yang dimaksudkan untuk pengembangan aspekperawatan diri, misalnya gerakan untuk :
a. Makan dan minum,
b. Memakai baju,
c. Mencuci
d. Mandi
Bina gerak melalui terapi okupasi yang dimaksudkan untuk pengembangan aspek produktivitas, misalnya gerakan dalam :
a. Berkebun,
b. Membuat asbak
c. Membuat sulak
Bina gerak melalui terapi okupasi yang dimaksudkan untuk pengembangan aspek leisure (pengisian waktu luang), misalnya kegiatan rekreasi.
D. PENILAIAN
Penilaian dalam kegiatan bina gerak dilakukan pada awal, proses dan akhir kegiatan. Metode yang digunakan untuk mengadakan penilaian dapat menggunakan gabungan dari metode observasi, pemberian tugas, tes dan pemijatan atau palpasi.
Cara mengetahui tingkat pencapaian tujuan dengan cara membandingkan kemampuan gerak pada sebelum dengan sesudah pelaksanaan program bina gerak. Misalnya kemampuan gerak fleksi sendi siku semula hanya 90 derajat. Setelah pelatihan bina gerak selama frekuensi yang diprogramkan selesai kemudian di lihat kemampuan fleksinya misalnya menjadi 45 derajat. Ini berarti ada kemajuan kemampuan gerak sendi siku yang bersangkut.

BUKU RUJUKAN
Abdul Salim Ch. 2006. Pediatri Sosial dalam Pendidikan Luar Biasa. Jakarta: Direktorat P2TK dan KPT. Dikti. Depdiknas.
Abdul Salim Ch. 2006. Makalah: Hambatan dan Kebutuhan Anak Gangguan motorik . Jakarta: Direktorat P2TK dan KPT. Dikti. Depdiknas.
Abdul Salim Ch. 1996. Pendidikan Bagi Anak Cerebral palsy. Jakarta: Ditjen Dikti Depdikbud.
Abdul Salim Ch. 1995. Fisio Terapi dan Bina Gerak. Surakarta: UNS Press.
Abdul Salim Ch. 1990. Bina diri dan layanan Terapeutik Anak Gangguan motorik . Surakarta: UNS Press.
David Werner. 2002. Anak-Anak Desa yang Menyandang Cacat. Malang: Yayasan Bakti Luhur.
Depdikbud. T.th. Pedoman Guru dalam Bina Gerak Anak Gangguan motorik . Jakarta
Departemen Pendidikan Nasional. 2004. Standar Kompetensi Guru Sekolah Dasar Luar Biasa SLB Tingkat Dasar. Ditjen Dikdasmen.
Ellah Siti Chalidah. 2005. Terapi Permainan bagi Anak yang memerlukan Layanan Pendidikan Khusus. Jakarta: Direktorat P2TK dan KPT. Dikti. Depdiknas.
Mulyono Abdurachman dan Sudjadi S. 1994. Pendidikan Luar Biasa Umum, Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Ditjen Dikti.
Munzayanah. 1990. Bina diri dan layanan Terapeutik Anak Tunagrahita. Surakarta: UNS Press.
Nawangsari Takarini. 2005. Makalah: Assessment Dan Treatment Pada Anak Dengan Kebutuhan Khusus (Gangguan Motorik). Surakarta: PKh FKIP UNS
PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
Sujarwanto. 2005. Terapi Okupasi Untuk Anak Berkebutuhan Khusus. Jakarta: Direktorat P2TK dan KPT. Dikti. Depdiknas.
UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen



Komentar

  1. sukamtini nurhandoyo5/09/2012 9:41 PM

    Trimaksh pak,Saya sdg membutuhkan materi ini.Matursuwn

    BalasHapus

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda di sini