Langsung ke konten utama

Tentang Hujan


Masih sama seperti lima tahun yang lalu, hujan tak pernah bersahabat denganku. Ia mencuri bagian terindah dalam jenjang waktu yang terbentang.
Masih seperti sebelas tahun silam, hujan tak pernah bicara padaku, meski kutunggu di balik tirai jendela. Memohon, menunggu ia reda dan mengembalikan awan putih di mega. Ia tak mau menjawab tanyaku. Ia hanya menunjukkan padaku bagaimana caranya membentuk tirai yang selama ini kupakai untuk bersembunyi.
Hujan tak pernah mau menungguku saat berlari dan mengejarnya. Hujan tak mau tahu. Bagaimana berjalan di keramaian tapi kosong. Hanya butir air yang terlihat di mata.
Meski kutengadahkan kepalaku ke langit, kubenturkan kepalaku ke udara, kuhancurkan titik-titik air yang jatuh. Semua sia-sia. Ia tak mendengarku, ia tak melihatku dan ia tetap tenang di sana. Jatuh lalu reda.
Hujan masih tak mau menungguku. Hujan masih membungkam kisahnya. Hanya ilusi yang membuatnya terasa ada saat kemarau mulai menampakkan batang hidungnya.
Hujan tak pernah datang lagi hingga musim berikutnya kembali.


Solo, 18 Maret 2011

Komentar