Langsung ke konten utama

PERJODOHAN TARA


Aku berlari melawan hujan menuju sebuah halte kecil usang yang jarang dipakai orang. Atap-atapnya sudah rombeng. Saat hujan tak bisa dipakai untuk berteduh. Air sering kali terjun dari atas langsung menimpa kepala. Air deras mengalir dari sisi-sisi tiang penyangga. Aku hanya bisa berdoa semoga bus cepat datang sebelum tubuhku basah kuyup. Sesaat bus itu tiba dan kakiku segera melangkah menuju arah bus. Tapi bus itu tak jua berhenti, justru berhenti di halte baru.
Aku menghelakan nafasku sebagai bukti kekecewaanku. Sudah basah kuyup tak dapat bus. Payah, sungguh payah. Mulut mulai komat-komit mengumpat sambil berjalan menuju halte baru. Tiba-tiba aku merasa hujan sudah reda. Tak ada air yang menetes di tubuhku. Ternyata ada seorang baik hati yang memayungiku.
“Kelihatannya kita sudah pernah ketemu ya mbak?” sapa pria jangkung dengan senyum menawannya.
Wajah itu memang pernah terlihat beberapa kali saat aku membeli roti untuk pengganjal perutku yang keroncongan. Pria itu seorang pelayan toko yang ramah dan selalu tahu apa yang sedang kucari.
“Kamu yang kerja di toko seberang kan?” Aku balas bertanya.
Kemudian air hujan menuntun kami sampai halte dalam hening seusai kata-kata tanya yang kulantunkan itu.
Sampailah aku di halte baru dengan cat merah yang masih terlihat cerah belum pudar warnanya. Atap yang masih sempurna dan berjejalanlah orang-orang di sana. Entah mencari kehangatan atau sekedar mencari tempat perlindungan. Aneh mengapa orang takut terhadap hujan padahal hujan hanya membuat basah. Ya itu juga patut kutanyakan pada diriku sendiri, mengapa aku lari saat hujan datang.
“Mau ke arah mana mbak? Kalau saya mau ke arah kota,” si jangkung itu mulai memancing kata-kata.
“Sama, aku juga ke arah kota. By the way, nama kamu siapa?” Aku berusaha memecah kekakuan yang terjadi. Tak akrab rasanya jika tidak menyebutkan nama.
“Panggil saja saya Paijo. Teman-teman biasanya memanggil Paijo, Mbak. Kalau mbak sendiri namanya siapa?”
Telingaku terasa aneh mendengar kata Paijo di era sekarang. Ternyata masih ada orang tua yang menamai anaknya seperti itu. Kupikir itu hanya ada di era dulu sebelum para artis mulai mengganti namanya satu per satu menjadi nama populer.
“Aneh ya, Mbak? Sampai melamun begitu. Ya, sebenarnya Paijo itu bukan nama asli saya, Mbak. Nama asliku sebenarnya Erlangga Praditya Alreza. Gara-gara seorang teman iseng memanggil saya Paijo teman-teman yang lain juga ikutan.”
Aku semakin tercengang. “Nama pemberian orang tuamu itu kan sudah bagus, kenapa kamu mau dipanggil dengan nama Paijo?”
“Mungkin karena saya ini orang yang suka menerima, Mbak. Ya, beginilah. Mau dikatakan apapun asal mereka senang, apa salahnya. Iya to?”
“Terus kalau kamu dikatakan lebih jelek dari itu kamu terima? Kamu itu kalau disuruh orang masuk ke dalam sumur apa juga mau? Kamu itu harus marah waktu mereka memanggilmu seperti itu. Nama adalah doa. Masa’ mau sih di doain jadi Paijo,” ujarku dengan ketus.
“Lho, lho, lho. Mbak ini kenapa to? Mbok ya yang sabar. Saya yang dikatakan sama mereka, kenapa mbak yang jadi marah-marah?” tanyanya dengan logat Jawa kental.
Aku nyengir masam. Aku tak mengerti mengapa tiba-tiba marah padanya.Pikiranku benar-benar kalut. Mungkin desakan untuk cepat-cepat sampai rumah dari ayah, bunda, kakak-kakakku serta keluarga besarku yang sedang menungguku dan pastinya aku tak ingin acara perjodohanku berakhir tragis seperti yang lalu-lalu.
Sesaat bus datang. Aku cepat naik tanpa menunggu si Paijo yang tengah berusaha melipat payungnya. Aku duduk di bangku depan dekat pak supir. Kulihat di kaca spion dia tak naik bus ini. Resmilah aku berpisah dengan si Paijo dan aku baru ingat belum berterima kasih padanya. Bahkan, aku juga lupa tak menyebutkan namaku saat ia bertanya.
***
Hujan mengguyur lagi setelah aku turun dari bus, tepatnya di pinggir jalan sebelum masuk ke gang rumah. Aku berteduh sesaat di teras sebuah toko kecil. Kupikir hujan akan cepat reda, tapi satu jam hampir berlalu, hujan tetap saja tak mau menghentikan tangisnya. Akhirnya demi acara perjodohan itu aku berlari menerobos hujan yang lumayan deras. Sekali terjun ke jalan, bajuku basah kuyup. Penampilanku sudah tak berbentuk lagi. Apalah nilai sebuah penampilan, jika dibandingkan dengan acara perjodohan ini.
Kejadian setahun telah lewat dan aku tak ingin kegagalan itu terulang. Setahun yang lalu sama seperti hari ini hujan turun dengan lebatnya sampai aku lupa dengan telepon bunda yang menyuruhku pulang cepat karena sibuk menunggu hujan reda. Aku baru ingat sewaktu bunda meneleponku lagi lalu berkata bahwa aku terlambat. Keluarga Pak Herman tak sabar menunggu kedatanganku akhirnya mereka membatalkan perjodohan itu dan pulang. Aku sangat menyesal, seharusnya setahun yang lalu itu, aku sudah mendapatkan seorang kekasih sama seperti teman-teman sekantorku. Bahkan, beberapa sudah memutuskan untuk beranjak ke pelaminan. Sedang aku masih sebatang kara, dengan rasa penyesalan yang amat dalam karena kebodohanku sendiri. Aku menyerah dengan kisah percintaanku. Satu-satunya caraku mendapatkan jodoh hanya lewat perjodohan. Apa pun itu, siapa pun itu, mau tak mau aku harus terima. Aku percaya mereka akan memilihkan seseorang yang tepat untuk anaknya dan kali ini aku akan nekat menerobos hujan demi lelaki yang mungkin adalah jodohku.
Di ujung jalan, kulihat bunda menyambutku dengan sebuah payung. Ia berlari kecil dan segera menyelamatkanku dari hujan.
“Tara, kamu kok hujan-hujanan? Bunda sudah kirim pesan supaya kamu berteduh dulu di toko depan. Sekarang kamu jadi basah kuyup begini kan,” ujar bunda terlihat kecewa.
“Bunda, Tara sudah besar. Jangan perlakukan Tara seperti anak kecil. Jadi Bunda tak usah khawatir, Tara nggak akan sakit kok. Percaya deh sama Tara.” Aku berusaha meyakinkan bunda.
Beberapa saat aku dan bunda masuk ke dalam rumah. Aku merasa tersihir. Ruang tamu berubah penuh hiasan. Meja kursi telah ditata dengan rapi. Semua telah dipersiapkan dengan baik. Aku hanya terbengong dan terkagum-kagum sekaligus penasaran. Sebenarnya siapa lelaki yang akan dijodohkan denganku? Kulihat perlakuan orang tuaku berbeda dari acara perjodohan sebelumnya yang gagal.
“Bunda, siapa yang mau dijodohkan denganku dizaman modern seperti ini? Apa ayah dan bunda yakin dia adalah orang baik-baik? Bagaimana parasnya? Cakep nggak? Putih? Tinggi?” tanyaku menyelidik.
“Nanti kamu akan tahu sendiri. Dia bilang kalian sering bertemu dan muncullah benih cinta di sana. Sudah panjang ceritanya, sekarang sebaiknya kamu mandi dan bersiap-siap karena acara akan dimulai dua jam lagi,” seru bunda sebelum aku membasahi semua ruangan dengan sisa air hujan yang diserap oleh bajuku.
Beberapa saat aku sudah berada di ruang tamu. Menunggu calon jodoh tiba. Sudah tak sabar ternyata hatiku. Sesekali ia berontak dan membuat pipiku seperti kepiting rebus. Kedua kakakku terus saja berusaha menenangkanku. Mereka mendesakku untuk menyukai lelaki ini. Aku percaya takdir. Ia tak kan berkata bohong. Jika memang sudah waktunya, aku akan menemukan jodohku dan jika memang dia jodohku mungkin aku tak bisa mengelak lagi.
“Ra, udah tahu belum nama cowok yang akan dijodohin sama kamu?” celetuk Kak Rena, kakak pertamaku dengan penuh antusias. Kubalas dengan gelengan kepala.
“Kudengar dia seorang pengusaha sukses yang merintis karirnya dari nol. Nggak kebayang betapa sukses usahanya itu setelah melalui perjuangan panjang. Ia membuka toko roti di sekitar tempat kerjamu. Kamu pernah dengar mini market Pai, ternyata itu miliknya. Ia sudah buka cabang sampai ke Jakarta,” jelas Kak Tami, kakak keduaku.
Aku hanya bisa senyum-senyum sendiri. Tapi saat tersenyum aku merasa otot-otot wajahku tertarik dan mengencang. Kepalaku terasa pening. Pandanganku mulai kabur. Wajah-wajah yang kutatap menjadi berlipat ganda. Bola mata orang-orang yang seharusnya hitam terlihat biru di mataku. Tubuhku terasa bergemetar. Awalnya kupikir ini hanya syndrome sebelum acara perjodohan dimulai, tapi semakin lama kepalaku semakin terasa berat. Tubuhku terasa dingin, tapi juga terasa panas. Aku mulai meriang.
Gawat pikirku dalam hati.
“Tara kamu sudah siap, kan?” Suara kakak pertamaku terdengar jelas.
“Sudah capek-capek semua ini dipersiapkan, pokoknya kali ini nggak boleh gagal lagi.” Suara kakak keduaku terdengar mulai tak jelas.
“Tara…” Kata yang terakhir kudengar sebelum aku jatuh pingsan. Entah siapa yang memanggilku.
***
Saat mataku terbuka, aku sudah ada di tempat tidur. Kepalaku masih sedikit pening. Aku mencoba keluar kamar dan mencari ayah, bunda, serta kakak-kakakku. Tak satupun yang kutemui. Kuperhatikan ruang tamu tak ramai oleh hiasan. Hanya ada secarik kertas yang mengatakan kalau acara perjodohan dibatalkan. Tubuhku mendadak lemas tak berdaya. Aku gagal lagi. Susah juga mencari jodoh, apa mungkin karena jumlah wanita di dunia ini lebih banyak daripada lelaki? tanyaku dalam hati.
Kulihat jam dinding menunjukkan jam tujuh pagi. Rupanya aku pingsan terlalu lama. Sampai tak sadar kalau aku harus bersiap-siap berangkat kerja. Aku menuju kamar mandi. Tertempel tulisan:
“Acara perjodohan nanti sepulang kerja, harap pulang cepat. Kak Rena
Aku mulai bingung. Secepat itukah acara dibatalkan dan dilanjutkan? Apa orangnya berbeda dari yang kemarin? Cepat sekali mereka mencari pengganti lelaki itu…
Teetttt.. Teetttt.. Teetttt..
Suara bel berdering. Aku mengurungkan niatku untuk mandi. Sepertinya bunyi itu sudah menyita perhatianku. Ketika kubuka pintu rumahku, kulihat sosok lelaki jangkung dengan senyum menawan sedang berdiri tepat di depanku. Pakaiannya rapi. Paras tampannya pernah kulihat sebelumnya di toko roti dan di halte kemarin.
“Paijo.” Aku coba menyapanya.
“Aku bukan Paijo. Namaku Erlangga Praditya Alreza,” tepisnya. Aku tercengang tak percaya. Wajah itu sama dengan penjual roti di dekat kantorku. Serupa dengan orang yang menyebut dirinya Paijo.
“Hei, jangan bercanda! Iya, Erlangga siapalah itu, memang nama kamu. Tapi nama panggilan kamu Paijo kan? Bukankah kemarin kita sempat berbicara sesaat?” Aku tak mau kalah.
“Maaf sebelumnya, tapi aku nggak pernah di panggil Paijo,” tepisnya sekali lagi dengan lemah lembut. Begitu terlihat kharismatik di mataku atau mataku yang tak beres. Jangan-jangan aku sedang dibodohi.
“Ah, kamu itu pura-pura lupa! Bukankah kemarin kamu yang mengantarku dengan payungmu sampai ke halte yang baru selesai dibangun itu?” ujarku masih bersikukuh meskipun sedikit janggal dengan dialeknya. Tak mungkin ia menghilangkan dialek Jawa kentalnya dengan mudah kecuali dia sedang beradu akting denganku.
“Aku ke sini hanya untuk menyerahkan undangan ini.” Aku menerima undangan itu dari tangannya. Saat coba kubuka ia menahan tanganku dan menggelengkan kepalanya.
“Aku pamit,” ujarnya sebelum beranjak pergi. Aku melihat kepergiannya sampai punggung itu semakin tak terlihat, tak terlihat dan lenyap.
Siapa yang mau menikah? Dia?
Ah, masa’ sih dia?
Sama siapa ya? Jadi penasaran.
Dia aneh banget. Tadi waktu kusinggung soal Paijo, kenapa nggak ngaku ya?
Apa dia orang yang lain lagi? Masa’ sih?
Tapi beneran nggak salah kok. Namanya kan mirip, Erlangga Praditya Alreza.
Aku yakin mataku masih beres. Dia itu Paijo.
Begitulah dialogku dalam hati saat aku menutup pintu. Akhirnya kubaca juga undangan itu. Mataku terbelalak. Namaku ada di sana persis di depan kata penghubung ‘dan’. Tara Vanissa dan Erlangga Praditya Alreza. Aku mendengut ludah, tak bisa berkata-kata lagi. Ada sebuah cincin terselip di sana. Ini sudah lebih dari yang kuinginkan. Bukan hanya sekedar perjodohan tapi sebuah pernikahan. Lelaki itu akan melamarku. Siapapun dia, Paijo atau bukan, aku sangat bersyukur akhirnya ada yang mau denganku. Kurasa kali ini aku tidak sedang bermimpi.
***

Komentar

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda di sini