Langsung ke konten utama

Dengan Sisa Keyakinanku


Aku memanggilmu ketika gelap menyergapku
Dan menutup pandanganku
Kuingat kamu tiba-tiba
:  Saat aku jatuh kau tak membangunkanku
   Tapi aku bangun dengan sisa dayaku

Aku ingat saat berdiri di tengah keramaian kala itu
Terasa kosong meski pandanganku tertuju padamu kala itu
Kau pun tahu aku akan pergi kala itu
Dan kau tak menahanku kala itu

(Kau seperti seonggok patung yang diam, seperti tembok kekal berdiri kokoh, seperti paku tertancap sempurna dan mereka-mereka itu yang menarikku dari kenyataan)

Tak ada sepatah kata yang kudengar dan yang ingin kudengar
Tak ada kata selamat tinggal dan tak kudengar kata selamat jalan yang ingin kudengar
Meskipun aku pergi lama dengan sisa keyakinanku
Meskipun aku takkan kembali dengan sisa keyakinanku

Kini kulihat sekelilingku, sekitarku dengan sisa keyakinanku
Kupanggil pun kau tak muncul, tak berpendar, kau lenyap, tak hadir, tak bersiul, absurd
Saat terpejam, dalam lelap, dalam diam tak kujumpai bayangmu dalam dimensi itu
Tetap tak kudapati parasmu dengan sisa keyakinanku
Dan tak kuingat nama aslimu dari sisa keyakinanku

Sempat kuyakinkan dengan sisa keyakinanku kau ada
Di belahan lain sedang tersenyum dengan sisa keyakinanku
Seperti sabit yang tertutup mendung
Dan seperti mendung yang kehilangan cahaya
Lagi-lagi gelap, suram seperti sisa keyakinanku

(Memang tak ada kata kenal sebelumnya dari sisa keyakinanku antara aku dan kamu, kamu dan aku)

Kita bagai dua kutub yang berdiri sendiri-sendiri, berlawanan arah
Kau di utara, aku di selatan
Kelak aku mendoa ke atas langit dengan sisa keyakinanku agar kutub itu menjadi kutub magnet
Bersatu dan tak tolak menolak seperti sisa keyakinanku
Tentangmu saat ini dan seterusnya
Esok dan seterusnya
Seterusnya dan seterusnya


Solo, 24 Maret 2011

Komentar