Selasa, 29 Maret 2011

Anak Berkemampuan Mental Rendah

DEFINISI

Tunagrahita merupakan kata lain dari Retardasi Mental (mental retardation)
Tuna berarti merugi.
Grahita berarti pikiran.
Retardasi Mental (Mental Retardation/Mentally Retarded) berarti terbelakang mental.
Tunagrahita sering disepadankan dengan istilah-istilah, sebagai berikut:
1. Lemah fikiran ( feeble-minded);
2. Terbelakang mental (Mentally Retarded);
3. Bodoh atau dungu (Idiot);
4. Pandir (Imbecile);
5. Tolol (moron);
6. Oligofrenia (Oligophrenia);
7. Mampu Didik (Educable);
8. Mampu Latih (Trainable);
9. Ketergantungan penuh (Totally Dependent) atau Butuh Rawat;
10. Mental Subnormal;
11. Defisit Mental;
12. Defisit Kognitif;
13. Cacat Mental;
14. Defisiensi Mental;
15. Gangguan Intelektual

Menurut American on Mental Deficiency (AAMD)
  • American Association on Mental Deficiency (AAMD) dalam B3PTKSM, (p. 20) mendefinisikan retardasi mental/tunagrahita sebagai kelainan: yang meliputi fungsi intelektual umum di bawah rata-rata (sub-average), yaitu IQ 84 ke bawah berdasarkan tes individual; yang muncul sebelum usia 16 tahun; dan menunjukkan hambatan dalam perilaku adaptif.
  • Menurut AAMD, definisi tunagrahita, adalah : yang meliputi fungsi intelektual umum di bawah rata-rata (sub-average), yaitu IQ 84 ke bawah berdasarkan tes, yang muncul sebelum usia 16 tahun, dan yang menunjukkan hambatan dalam perilaku adaptif.
Menurut Japan League for Mentally Retarded
  • Japan League for Mentally Retarded (1992: p.22) dalam B3PTKSM (p. 20-22), mendefinisikan retardasi mental/tunagrahita ialah fungsi intelektualnya lamban, yaitu IQ 70 ke bawah berdasarkan tes intelegensi baku; kekurangan dalam perilaku adaptif; dan terjadi pada masa perkembangan, yaitu antara masa konsepsi hingga usia 18 tahun.
  • Menurut Menurut Japan League for Mentally Retarded, sebagai berikut : Fungsi intelektualnya lamban (IQ 70 ke bawah) berdasarkan tes intelegensi baku; Kekurangan dalam perilaku adaptif; dan Terjadi pada masa perkembangan (antara masa konsepsi hingga usia 18 tahun)
Menurut The New Zealand Society for the Intellectually Handicapped
  • The New Zealand Society for the Intellectually Handicapped menyatakan tentang tunagrahita adalah bahwa seseorang dikatakan tunagrahita apabila kecerdasannya jelas-jelas di bawah rata-rata dan berlangsung pada masa perkembangan serta terhambat dalam adaptasi tingkah laku terhadap lingkungan sosialnya.
Menurut American Association on Mental Retardation (AAMR)
  • Definisi tunagrahita yang dipublikasikan oleh American Association on Mental Retardation (AAMR). Di awal tahun 60-an, tunagrahita merujuk pada keterbatasan fungsi intelektual umum. Keterbatasan ini ditunjukkan dengan skor IQ dua Standar Deviasi di bawah rata-rata.
  • Definisi tunagrahita yang dipublikasikan tahun 1992 oleh AAMR merujuk pada keterbatasan fungsi intelektual umum dan keterbatasan pada keterampilan adaptif. Keterampilan adaptif mencakup area : komunikasi, merawat diri, home living, keterampilan sosial, bermasyarakat, mengontrol diri, functional academics, waktu luang, dan kerja. Menurut definisi ini, ketunagrahitaan muncul sebelum usia 18 tahun.
Menurut WHO, seseorang yang tunagrahita harus memiliki dua komponen esensial, yaitu :
  • fungsi intelektual secara nyata di bawah rata-rata
  • adanya ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri dengan norma dan tututan yang berlaku dalam masyarakat,


Anak tunagrahita kurang cakap dalam memikirkan hal-hal yang bersifat abstrak, yang sulit-sulit dan yang berbelit-belit. Mereka kurang atau terbelakang atau tidak berhasil bukan sehari dua hari atau sebulan dua bulan, tetapi untuk selama-lamanya dan bukan hanya dalam satu dua hal tetapi hampir segala-galanya. Lebih-lebih dalam pelajaran seperti : mengarang, menyimpulkan isi bacaan, menggunakan symbol-simbol berhitung, dan dalam semua pelajaran yang bersifat teoritis. Dan juga mereka kurang atau terhambat dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.


KARAKTERISTIK ANAK TUNAGRAHITA

Berdasarkan pengertian yang telah dipaparkan diatas, maka anak tunagrahita memiliki karakteristik tersendiri pada segi tingkah laku, emosi dan sosialnya, cara belajarnya dan kesehatan pada fisikya. Untuk karakteristik tersebut, setiap anak tunagrahita memiliki karakteristik yang berada sesuai dengan tingkat kekurangannya. Secara umum karakteristik tersebut dapat digeneralkan ke dalam :


1. Segi Intelektualnya


• anak tunagrahita mampu mengetahui atau menyadari situasi, benda-benda dan orang disekitarnya, namun mereka tidak mampu memahami keberadaan dirinya. Hal tersebut disebabkan oleh faktor bahasa yang manjaadi hambatan, dikarenakan mereka pada umunya sulit untuk mengatakan atau menyampaikan kata yang sesuai dengan keadaan yang diinginkannya.
• Mereka berkesulitan untuk memecahkan masalah-masalah yang ada, tidak mampu membuat suatu rencana bagi dirinya, dan anak tersebut pun sulit untuk memilih alternatif pilihan yang berbeda.
• Mereka sulit sekali untuk menuliskan simbol-angka, sehingga secara umum mereka memiliki ksulitan dalam bidang membaca, menulis dan berhitung.
• Kemampuan belajar anak tunagrahita terbatas. Mereka mengalami kesulitan yang berarti dalam pengetahuan yang bersifat konsep dan dalam menempatkan dirinya dengan keadaan situasi lingkungannya.




2. Segi Tingkah Laku (Perilaku Adaptif)


• Perkembangan anak tunagrahita lamban. sulit mempelajari sikap tertentu, bahkan sulit melakukan pekerjaan yang ditugaskan walaupun tugas tersebut bagi orang normal sangat sederhana.
• Faktor kognitif merupakan hal yang sulit bagi anak tersebut, khususnya yang berkenaan dengan perhatian dengan atau konsentrasi, ingatan, berbicara dengan bahasa yang benar, dan dalam kemampuan akademiknya.
• Anak tunagrahita seringkali merasakan ketidakmampuan dalam melakukan suatu pekerjaan atau tugas yang diberikan padanya, karena seringnya melakukan kesalahan-kesalahan pada saat melakukannya.
• Mereka pada umunya kurang percaya diri dan seringkali menggantungkan bimbingan atau bantuan orang lain, atau dengan kata lain rasa kemampuan dirinya kurang. Mereka juga seringkali sulit dalam memilih lingkungan pergaulan yang baik, sehingga mudah terjerumus pada hal-hal yang bersifat negatif.


Jadi dari karakteristik diatas, dapat disimpulkan bahwa anak tunagrahita itu memiliki kekurangan di dalam :


• Melakukan koordinasi gerak dan sensorinya,
• Rendahnya rasa toleransi,
• Kemampuan untuk memahami konsep-konsep yang bersifat akademik,
• Memusakan perhatian,
• Kesulitan dalam bahasa,
• Kemampuan untuk mendapatkan pekerjaan dan melakukan pekerjaan

PENYEBAB TUNAGRAHITA

Terdapat banyak faktor yang dapat menyebabkan seseorang menjadi tunagrahita. Para ahli dari berbagai ilmu telah berusaha membagi faktor-faktor penyebab ini diantaranya adalah sebagai berikut:


a. Faktor keturunan
Adanya kelainan kromosom baik autosom (mempunyai kromosom 3 ekor pada kromosom nomor 21 sehingga anak mengalami Langdon Down’s S yndrome dan pada trisomi kromosom nomor 15 anak akan menderita Patau’s Syndrome dengan cicri-ciri berkepala kecil, mata kecil, berkuping aneh, sumbing, dan kantung empedu yang besar . Adanya kegagalan meiosis sehingga menimbulkan duplikasi dan translokasi) maupun kelainan pada gonosom (gonosom yang seharusnya XY, karena kegagalan menjadi XXY atau XXXY. Ciri yang menonjol adalah nampak laki-laki dan tunagrahita. Setelah mencapai masa puber tubuhnya menjadi panjang, gayanya mirip wanita, berpayudara besar).


b. Gangguan metabolisme dan Gizi
Metabolisme dan gizi merupakan hal yang penting bagi perkembangan individu terutama perkembangan sel-sel otak. Beberapa kelainan yang disebabkan oleh kegagalan metabolisme dan kekurangan gizi diantaranya adalah sebagai berikut:


• Phenylketonuria
Salah satu akibat gangguan metabolisme asam amino juga kelainan gerakan enzym phenylalanine hydroxide. Gejala umum yang nampak adalah tunagrahita, kekurangan pigmen, microcephaly, serta kelainan tingkah laku.
• Cretinisme
Disebabkan oleh keadaan hypohyroidism kronik yang terjadi selama masa janin atau segera setelah melahirkan. Berat ringan kelainan tergantung pada tingkat kekurangan thyroxin. Gejala utama yang tampak adalah adanya ketidaknormalan fisik yang khas dan ketunagrahitaan dan awal gejalanya dengan kurangnya nafsu makan, anak menjadi sangat pendiam, jarang tersenyum dan tidur yang berlebihan.


c. Infeksi dan keracunan
Adanya infeksi dan keracunan terjangkitnya penyakit-penyakit selama janin masih berada dalam kandungan ibunya yang menyebabkan anak lahir menjadi tunagrahita.


• Rubella
Penyakit ini menjangkiti ibu pada dua belas minggu pertama kehamilan. Selain tunagrahita, ketidaknormalan yang disebabkan penyakit ini adalah kelainan pendengaran, penyakit jantung bawaan, berat badan yang sangat rendah pada waktu lahir dan lain-lain.
• Syphilis bawaan
Kondisi bayi yang terkena Syphilis adalah kesulitan pendengaran, hidungnya tampak seperti hidung kuda.
• Syndrome Gravidity Beracun
Ketunagrahitaan yang timbul dari Syndrome Gravidity Beracun terjadi pada sebagian bayi yang lahir prematur, kerusakan janin yang disebabkan oleh zat beracun, dan berkurangnya aliran darah pada rahim dan plasenta


d. Trauma dan zat radioaktif
Trauma otak yang terjadi dikepala dapat menimbulkan pendarahan intracranial terjadinya kecacatan pada otak. Ini biasanya disebabkan karena kelahiran yang sulit sehingga memerlukan alat bantu (tang). Selain itu penyinaran atau radiasi sinar X selama bayi dalam kandungan mengakibatkan cacat mental microcephaly.


e. Masalah pada kelahiran
Adanya kelahiran yang disertai hypoxia (kejang dan nafas pendek) dipastikan bahwa bayi yang akan dilahirkan menderita kerusakan otak.


f. Faktor lingkungan
Latar belakang pendidikan orang tua sering juga dihubngkan dengan masalah-masalah perkembangan. Kurangnya kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan dini serta kurangnya pengetahuan dalam memberikan rangsang-rangsang positif dalam masa perkembangan anak dapat menjadi salah satu penyebab timbulnya gangguan atau hambatan dalam perkembangan anak. Kurangnya kontak pribadi dangan anak, misalnya dengan tidak mengajaknya berbicara, tersenyum, bermain yang mengakibatkan timbulnya sikap tegang, dingin dan menutup diri. Kondisi demikian akan berpengaruh buruk terhadap perkembangan anak baik fisik maupun mental intelektualnya.


KLASIFIKASI ANAK TUNAGRAHITA

Anak Tunagrahita terdiri atas beberapa klasifikasi, yaitu :


1. Tunagrahita Ringan


Anak yang tergolong dalam Tunagrahita ringan memiliki banyak kelebihan dan kemampuan. Mereka mampu dididik dan dilatih. Misalnya, membaca, menulis, berhitung, menggambar, bahkan menjahit. Tunagrahita ringan lebih mudah diajak berkomunikasi, selain itu kondisi fisik mereka juga tidak terlihat begitu mencolok. Mereka mampu mengurus dirinya sendiri untuk berlindung dari bahaya apapun. Karena itu anak tunagrahita ringan tidak memerlukan pengawasan ekstra, mereka hanya perlu terus dilatih dan dididik.


2. Tunagrahita Sedang


Tidak jauh berbeda dengan anak tunagrahita ringan. Anak tunagrahita sedang pun mampu untuk diajak berkomunikasi. Namun, kelemahannya mereka tidak begitu mahir dalam menulis, membaca, dan berhitung. Tetapi, mereka paham untuk menjawab pertanyan dari orang lain, contohnya, ia tahu siapa namanya, alamat rumah, umur, nama orangtuanya, ,ereka akan mampu menjawab dengan jelas. Sedikit perhatian dan pengawasan dibutuhkan untuk perkembangan mental dan social anak tunagrahita sedang.


3. Tunagrahita Berat


Anak tunagrahita berat dapat disebut juga Idiot. Karena dalam kegiatan sehari- harinya membutuhkan pengawasan, perhatian, bahkan pelayananyang maksimal. Mereka tidak dapat mengurus dirinya sendiri. Asumsi anak tunagrahita sama dengan idiot tepat digunakan jika anak tunagrahita tergolong dalam tunagrahita berat.

USAHA PENCEGAHAN TUNAGRAHITA

Beberapa alternatif upaya pencegahan timbulnya ketunagrahitaan adalah sebagai berikut :


a. Diagnostik Prenatal
Diagnostik Prenatal yaitu usaha yang dilakukan untuk memeriksa kehamilan. Dengan ini diharapkan dapat ditemukan kemungkinan adanya kelainan pada janin, baik berupa kromosom maupun kelainan enzim yang diperlukan bagi perkembangan janin.


b. Imunisasi
Imunisasi dilakukan terhadap ibu hamil maupun balita. Sehingga dengan begitu dapat mencegah timbulnya penyakit yang mengganggu perkembangan bayi


c. Tes darah
Tes darah dilakukan untuk menghindari kemungkinan menurunkan benih-benih yang berkelainan.


d. Program Keluarga Berencana
Mengikuti keluarga berencana.


e. Penyuluhan Genetik
penyuluhan Genetik yaitu suatu usaha mengkomunikasikan berbagai informasi yang berkaitan dengan masalah genetika dan masalah yang ditimbulkannya lewat media tertentu.


f. Tindakan operasi
Tindakan operasi diperlukan terutama bagi kelahiran dengan resiko tinggi untuk mencegah kelainan yang ditimbulkan pada waktu kelahiran (masalah perinatal, misalnya trauma, kekurangan oksigen dan lainnya.)

SUMBER:

JENIS-JENIS ANAK AUTIS

1. Autisme Masa kanak ( Childhood Autism )

Autisme Masa Kanak adalah gangguan perkembangan pada anak yang gejalanya sudah tampak sebelum anak tersebut mencapai umur 3 tahun. Perkembangan yang terganggu adalah dalam bidang :
a. Komunikasi : kualitas komunikasinya yang tidak normal, seperti ditunjukkan dibawah ini :
  • Perkembangan bicaranya terlambat, atau samasekali tidak berkembang.
  • Tidak adanya usaha untuk berkomunikasi dengan gerak atau mimik muka untuk mengatasi kekurangan dalam kemampuan bicara.
  • Tidak mampu untuk memulai suatu pembicaraan atau memelihara suatu pembicaraan dua arah yang baik.
  • Bahasa yang tidak lazim yang diulang-ulang atau stereotipik.
  • Tidak mampu untuk bermain secara imajinatif, biasanya permainannya kurang variatif.
b. Interaksi sosial : adanya gangguan dalam kualitas interaksi social :  
  • Kegagalan untuk bertatap mata, menunjukkan ekspresi fasial, maupun postur dan gerak tubuh, untuk berinteraksi secara layak.
  • Kegagalan untuk membina hubungan sosial dengan teman sebaya, dimana mereka bisa berbagi emosi, aktivitas, dan  interes bersama.
  • Ketidak mampuan untuk berempati, untuk membaca emosi orang lain.
  • Ketidak mampuan untuk secara spontan mencari teman untuk berbagi kesenangan dan melakukan sesuatu bersama-sama.
c. Perilaku : aktivitas, perilaku dan interesnya sangat terbatas, diulang-ulang dan
    stereotipik seperti  dibawah ini : 
  • Adanya suatu preokupasi yang sangat terbatas pada suatu pola perilaku yang tidak normal, misalnya duduk dipojok sambil menghamburkan pasir seperti air hujan, yang bisa dilakukannya berjam-jam.
  • Adanya suatu kelekatan pada suatu rutin atau ritual yang tidak berguna, misalnya kalau mau tidur harus cuci kaki dulu, sikat gigi, pakai piyama, menggosokkan kaki dikeset, baru naik ketempat tidur. Bila ada satu diatas yang terlewat atau terbalik urutannya, maka ia akan sangat terganggu dan nangis teriak-teriak minta diulang.
  • Adanya gerakan-gerakan motorik aneh yang diulang-ulang, seperti misalnya mengepak-ngepak lengan, menggerak-gerakan jari dengan cara tertentu dan mengetok-ngetokkan sesuatu.
  • Adanya preokupasi dengan bagian benda/mainan tertentu yang tak berguna, seperti roda sepeda yang diputar-putar, benda dengan bentuk dan rabaan tertentu yang terus diraba-rabanya, suara-suara tertentu.
Anak-anak ini sering juga menunjukkan emosi yang tak wajar, temper tantrum (ngamuk tak terkendali), tertawa dan menangis tanpa sebab, ada juga rasa takut yang tak wajar.
Kecuali gangguan emosi sering pula anak-anak ini menunjukkan gangguan sensoris, seperti adanya kebutuhan untuk mencium-cium/menggigit-gigit benda, tak suka kalau dipeluk atau dielus.
Autisme Masa Kanak lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan dengan perbandingan 3 : 1.



2. Gangguan Perkembangan Pervasif YTT (PDD-NOS)

PDD-NOS juga mempunyai gejala gangguan perkembangan dalam bidang komunikasi, interaksi maupun perilaku, namun gejalanya tidak sebanyak seperti pada Autisme Masa kanak.
Kualitas dari gangguan tersebut lebih ringan, sehingga kadang-kadang anak-anak ini masih bisa bertatap mata, ekspresi fasial tidak terlalu datar, dan masih bisa diajak bergurau. 

3. Sindroma Rett
Sindroma Rett adalah gangguan perkembangan yang hanya dialami oleh anak wanita. Kehamilannya normal, kelahiran normal, perkembangan normal sampai sekitar umur 6 bulan. Lingkaran kepala normal pada saat lahir.

Mulai sekitar umur 6 bulan mereka mulai mengalami kemunduran perkembangan. Pertumbuhan kepala mulai berkurang antara umur 5 bulan sampai 4 tahun. Gerakan tangan menjadi tak terkendali, gerakan yang terarah hilang, disertai dengan gangguan komunikasi dan penarikan diri secara sosial. Gerakan-gerakan otot tampak makin tidak terkoordinasi.Seringkali memasukan tangan kemulut, menepukkan tangan dan membuat gerakan dengan dua tangannya seperti orang sedang mencuci baju.. Hal ini terjadi antara umur 6-30 bulan.

Terjadi gangguan berbahasa, perseptif maupun ekspresif disertai kemunduran psikomotor yang hebat.
Yang sangat khas adalah timbulnya gerakan-gerakan tangan yang terus menerus seperti orang yang sedang mencuci baju yang hanya berhenti bila anak tidur.

Gejala-gejala lain yang sering menyertai adalah gangguan pernafasan, otot-otot yang makin kaku , timbul kejang, scoliosis tulang punggung, pertumbuhan terhambat dan kaki makin mengecil (hypotrophik). Pemeriksaan EEG biasanya menunjukkan kelainan.

4. Sindrom Asperger
Seperti pada Autisme Masa Kanak, Sindrom Asperger (SA) juga lebih banyak terdapat pada anak laki-laki daripada wanita.
Anak SA juga mempunyai gangguan dalam bidang komunikasi, interaksi sosial maupun perilaku, namun tidak separah seperti pada Autisme.
Pada kebanyakan dari anak-anak ini perkembangan bicara tidak terganggu. Bicaranya tepat waktu dan cukup lancar, meskipun ada juga yang bicaranya agak terlambat. Namun meskipun mereka pandai bicara, mereka kurang bisa komunikasi secara timbal balik. Komunikasi biasanya jalannya searah, dimana anak banyak bicara mengenai apa yang saat itu menjadi obsesinya, tanpa bisa merasakan apakah lawan bicaranya merasa tertarik atau tidak. Seringkali mereka mempunyai cara bicara dengan tata bahasa yang baku dan dalam berkomunikasi kurang menggunakan bahasa tubuh. Ekspresi muka pun kurang hidup bila dibanding anak-anak lain seumurnya.

Mereka biasanya terobsesi dengan kuat pada suatu benda/subjek tertentu, seperti mobil, pesawat terbang, atau hal-hal ilmiah lain. Mereka mengetahui dengan sangat detil mengenai hal yang menjadi obsesinya. Obsesi inipun biasanya berganti-ganti.Kebanyakan anak SA cerdas, mempunyai daya ingat yang kuat dan tidak mempunyai kesulitan dalam pelajaran disekolah.

Mereka mempunyai sifat yang kaku, misalnya bila mereka telah mempelajari sesuatu aturan, maka mereka akan menerapkannya secara kaku, dan akan merasa sangat marah bila orang lain melanggar peraturan tersebut. Misalnya : harus berhenti bila lampu lalu lintas kuning, membuang sampah dijalan secara sembarangan.

Dalam interaksi sosial juga mereka mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan teman sebaya. Mereka lebih tertarik pada buku atau komputer daripada teman. Mereka sulit berempati dan tidak bisa melihat/menginterpretasikan ekspresi wajah orang lain.

Perilakunya kadang-kadang tidak mengikuti norma sosial, memotong pembicaraan orang seenaknya, mengatakan sesuatu tentang seseorang didepan orang tersebut tanpa merasa bersalah (mis. “Ibu, lihat, bapak itu kepalanya botak dan hidungnya besar ”). Kalau diberi tahu bahwa tidak boleh mengatakan begitu, ia akan menjawab : “Tapi itu kan benar Bu.”
Anak SA jarang yang menunjukkan gerakan-gerakan motorik yang aneh seperti mengepak-ngepak atau melompat-lompat atau stimulasi diri.

CI-BI (Anak Berbakat)

(Alasan Perlunya Pendidikan Luar Biasa Bagi  Anak Berbakat
  1. KONSEP KESAMAAN KESEMPATAN MEMPEROLEH PENDIDIKAN MENUNJUKKAN KESEMPATAN UNTUK MENGEMBANGKAN POTENSI INDIVIDUAL SEOPTIMAL MUNGKIN
  2. ANAK BERBAKAT SERING GAGAL MENCAPAI PRESTASI YANG SESUAI DENGAN POTENSI MEREKA TANPA DUKUNGAN TAMBAHAN
  3. KEBERBAKATAN DIPEROLEH DARI PELAYANAN KHUSUS
  4. KEGAGALAN MEMPERTEMUKAN KEBUTUHAN ANAK BERBAKAT, DAPAT MENIMBULKAN KERUGIAN YANG LUAR BIASA HEBAT, BUKAN HANYA BAGI ANAK BERBAKAT SENDIRI TETAPI JUGA BAGI MASYARAKAT SECARA KESELURUHAN

DEFINISI KEBERBAKATAN
KEBUDAYAAN YUNANI KUNO, orang yang memiliki kecakapan Luar Biasa hebat (di Roma: Insinyur atau prajurit, di Amerika: test IQ Stanford Binet à memiliki skor IQ 130 atau 140)
SEKARANG INI, anak berbakat ialah yang memperlihatkan secara konsisten penampilan luar biasa hebat dalam suatu bidang yang berfaedah
KELEMAHAN DEFINISI AWAL KEBERBAKATAN, (1) anak harus memperlihatkan melalui penampilan, sehingga berakibat menghambat kemungkinan melakukan identifikasi; (2) apa yang dimaksud dengan suatu bidang yang berfaedah tersebut

Macam keberbakatan
1.       ANALITIK, meliputi kemampuan memilah masalah dan memahami bagian dari masalah tersebut, orang ini mampu melaksanakan test intelegensi konvensional yang memerlukan penalaran analitis
2.       SINTETIK, tampak pada orang yang memiliki kemampuan memahami, intuitif, kreatif dan cakap mengatasi situasi yang relatif baru
3.       PRAKTIS, meliputi penerapan kemampuan analitik maupun sintetik dalam situasi pragmatig

Karakteristik ANak Berbakat
§  SEBAGAI MAHLUK SOSIAL, anak berbakat mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat dipengaruhi oleh sifat-sifat, pemikiran, sikap dan aktivitas anggota masyarakat yang lain. Dalam pergaulan inilah emosi mereka merasa sedih atau bahagia
§  DITINJAU DARI BUDAYA, anak berbakat mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang dipengaruhi tingkat kebudayaan di mana mereka memperoleh pengalaman budaya. Selain itu faktor agama akan memberikan dasar dan norma pribadi anak berbakat

ASPEK UNTUK MENGENALI KARAKTERISTIK ANAK-ANAK BERBAKAT
  1. POTENSI
a.      BERKEMBANG LEBIH CEPAT ATAU BAHKAN SANGAT CEPAT BILA DIBANDINGKAN DENGAN UKURAN PERKEMBANGAN YANG NORMALà memiliki superioritas intelektual; mampu dengan cepat melakukan analisis; irama kemajuan yang mantap; pola berpikir sering meloncat dari urutan berpikir yang normal
b.      SELAIN POTENSI INTELEGENSI JUGA MEMILIKI KEUNGGULAN PADA ASPEK PSIKOLOGIS YANG LAIN, YAITU EMOSI
c.       KARAKTERISTIK SOSIAL YANG DIMILIKI IALAH CAKAP MENGEVALUASI KETERBATASAN DAN KELEBIHAN YANG DIMILIKI DIRINYA DAN  ORANG LAINà tampil bijaksana
  1. CARA MENGHADAPI MASALAH
a.      KETERLIBATAN SELURUH ASPEK PSIKOLOGIS DAN BIOLOGIS SETIAP ANAK BERBAKAT PADA SAAT MEREKA BERHADAPAN DENGAN MASALAH TERSEBUT
b.      PEMILIHAN METODE PENDEKATAN DAN ALAT YANG STRATEGIS, SEHINGGA DIPEROLEH PEMECAHAN MASALAH YANG EFISIEN DAN EFEKTIF
  1. KEMAMPUAN (PRESTASI) YANG DAPAT DICAPAI
a.      MAMPU MELIHAT HUBUNGAN PERMASALAHAN SECARA KOMPREHENSIF, DAN MENGAPLIKASIKAN KONSEP YANG KOMPLEKS DALAM SITUASI YANG KONGKRIT
b.      TERPUSAT PADA PENCAPAIAN TUJUAN YANG DITETAPKAN (Gearheart, 1980)
c.       SUKA BEKERJA INDEPENDENT DAN MEMBUTUHKAN KEBEBASAN DALAM BERGERAK DAN BERTINDAK
d.      MENYUKAI CARA-CARA BARU DALAM MENGERJAKAN SESUATU DAN MEMPUNYAI INTENS UNTUK BERKREASI (Meyen, 1978)

PRESTASI ANAK BERBAKAT
1.       DITINJAU DARI SEGI FISIK, PSIKOLOGIS, AKADEMIK DAN SOSIAL: mereka memiliki daya tahan tubuh yang prima serta koordinasi gerak fisik yang harmonis
2.       MAMPU BERJALAN DAN BERBICARA LEBIH AWAL DIBANDINGKAN DENGAN MASA BERJALAN DAN BERBICARA ANAK NORMAL (Swanson, 1979)
3.       SECARA PSIKOLOGIS, mereka memiliki kemampuan emosi yang unggul dan secara sosial pada umumnya mereka adalah anak-anak yang populer serta lebih mudah diterima (Gearheat, Heward, 1980)
4.       BERDASARKAN PRESTASI AKADEMIK, mereka memiliki sistem syaraf pusat (otak dan spinal cord) yang prima

KOGNITIF TINGKAT TINGGI MELIPUTI:
  1. BERPIKIR APLIKASI
  2. ANALISIS
  3. SINTESIS
  4. EVALUASI
KOGNITIF TINGKAT RENDAH TERDIRI DARI BERPIKIR MENGETAHUI DAN KOMPREHENSIF

Prinsip-Prinsip Pendidikan dan Pengajaran Anak Autis

Pendidikan dan pengajaran anak autistik pada umumnya dilaksanakan berdasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut:
a.    Terstruktur
Pendidikan dan pengajaran bagi anak autistik diterapkan prinsip terstruktur, artinya dalam pendidikan atau pemberian materi pengajaran dimulai dari bahan ajar/materi yang paling mudah dan dapat dilakukan oleh anak. Setelah kemampuan tersebut dikuasai, ditingkatkan lagi ke bahan ajar yang setingkat diatasnya namun merupakan rangkaian yang tidak terpisah dari materi sebelumnya.
Sebagai contoh, untuk mengajarkan anak mengerti dan memahami makna dari instruksi "Ambil bola merah". Maka materi pertama yang harus dikenalkan kepada anak adalah konsep pengertian kata "ambil", "bola" dan "merah". Setelah anak mengenal dan menguasai arti kata tersebut langkah selanjutnya adalah mengaktualisasikan instruksi "Ambil bola merah" kedalam perbuatan kongkrit. Struktur pendidikan dan pengajaran bagi anak autistik meliputi :
- Struktur waktu
- Struktur ruang, dan
- Struktur kegiatan

b.    Terpola
Kegiatan anak autistik biasanya terbentuk dari rutinitas yang terpola dan terjadwal, baik di sekolah maupun di rumah (lingkungannya), mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Oleh karena itu dalam pendidikannya harus dikondisikan atau dibiasakan dengan pola yang teratur.
Namun, bagi anak dengan kemampuan kognitif yang telah berkembang,
dapat dilatih dengan memakai jadwal yang disesuaikan dengan situasi dan
kondisi lingkungannya, supaya anak dapat menerima perubahan dari rutinitas
yang berlaku (menjadi lebih fleksibel). Diharapkan pada akhirnya anak lebih
mudah menerima perubahan, mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan
(adaptif) dan dapat berperilaku secara wajar (sesuai dengan tujuan behavior
therapi).

c.    Terprogram
Prinsip dasar terprogram berguna untuk memberi arahan dari tujuan yang
ingin dicapai dan memudahkan dalam melakukan evaluasi. Prinsip ini berkaitan erat dengan prinsip dasar sebelumnya. Sebab dalam program materi pendidikan harus dilakukan secara bertahap dan berdasarkan pada kemampuan anak, sehingga apabila target program pertama tersebut menjadi dasar target program yang kedua, demikian pula selanjutnya.

d.   Konsisten
Dalam pelaksanaan pendidikan dan terapi perilaku bagi anak autistik,
prinsip konsistensi mutlak diperlukan. Artinya : apabila anak berperilaku positif memberi respon positif terhadap susatu stimulan (rangsangan), maka guru pembimbing harus cepat memberikan respon positif (reward/penguatan), begitu pula apabila anak berperilaku negatif (reinforcement). Hal tersebut juga dilakukan dalam ruang dan waktu lain yang berbeda (maintenance) secara tetap dan tepat, dalam arti respon yang diberikan harus sesuai dengan perilaku sebelumnya.
Konsisten memiliki arti "Tetap", bila diartikan secara bebas konsisten mencakup tetap dalam berbagai hal, ruang, dan waktu. Konsisten bagi guru pembimbing berarti; tetap dalam bersikap, merespon dan memperlakukan anak sesuai dengan karakter dan kemampuan yang dimiliki masing-masing individu anak autistik. Sedangkan arti konsisten bagi anak adalah tetap dalam mempertahankan dan menguasai kemampuan sesuai dengan stimulan yang muncul dalam ruang dan waktu yang berbeda. Orang tua pun dituntut konsisten dalam pendidikan bagi anaknya, yakni dengan bersikap dan memberikan perlakukan terhadap anak sesuai dengan program pendidikan yang telah disusun bersama antara pembimbing dan orang tua sebagai wujud dari generalisasi pembelajaran di sekolah dan dirumah.

e.    Kontinyu
Pendidikan dan pengajaran bagi anak autistik sebenarnya tidak jauh berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Maka prinsip pendidikan dan pengajaran yang berkesinambungan juga mutlak diperlukan bagi anak autistik. Kontinyu disini meliputi kesinambungan antara prinsip dasar pengajaran, program pendidikan dan pelaksanaannya. Kontinyuitas dalam pelaksanaan pendidikan tidak hanya di sekolah, tetapi juga harus ditindaklanjuti untuk kegiatan dirumah dan lingkungan sekitar anak. Kesimpulannya, therapi perilaku dan pendidikan bagi anak autistik harus dilaksanakan secara berkesinambungan, simultan dan integral (menyeluruh dan terpadu).

Bagaimana kita mengenali Anak dengan Autis?

Tanda-tanda awal Autisme anak usia 0-5 tahun (Harris, 1989)
Bayi lahir usia 6 bulan
          Anak terlalu tenang
          Sensitif, mudah menangis terutama pada malam hari, susah ditenangkan
          Jarang menyodorkan kedua lengannya ketika minta diangkat
          Jarang mengoceh
          Jarang senyum
          Jarang menunjukkan kontak mata
          Perkembangan gerakan kasar tampak normal 
Usia 6 bulan – 2 tahun
          Tidak mau dipeluk atau tegang ketika diangkat
          Cuek ketika menghadapi orang tuanya
          Tidak mau bermain permainan sederhana, CILUKBAAA…!
          Tidak berusaha menggunakan kata-kata
          Tidak tertarik pada mainan
          Bisa sangat terarik pada kedua tangannya sendiri
          Mungkin menolak makanan keras atau tidak mengunyah
Usia 2 tahun – 3 tahun
          Tidak tertarik pada benda/orang atau menunjukkan perhatian khusus
          Menganggap orang lain sebagai benda
          Kontak mata terbatas
          Mungkin mencium atau menjilat-jilat benda
          Menolak dipeluk, menjadi tegang atau lemah
          Cuek terhadap orang tua
Usia 4-5 tahun
          Bila anak akhirnya berbicara, sering mengulang-ngulang apa yang diucapkan (echolalia)
          Menunjukkan nada suara yang tinggi dan monoton
          Merasa terganggu bila terjadi perubahan rutin pada aktivitas kesehariannya
          Kontak mata terbatas, bisa perbaikan
          Tantrum dan gresif, dapat berkurang secara bertahap
          Melukai diri sendiri/merangsang dirinya sendiri

Senin, 28 Maret 2011

Dengan Sisa Keyakinanku


Aku memanggilmu ketika gelap menyergapku
Dan menutup pandanganku
Kuingat kamu tiba-tiba
:  Saat aku jatuh kau tak membangunkanku
   Tapi aku bangun dengan sisa dayaku

Aku ingat saat berdiri di tengah keramaian kala itu
Terasa kosong meski pandanganku tertuju padamu kala itu
Kau pun tahu aku akan pergi kala itu
Dan kau tak menahanku kala itu

(Kau seperti seonggok patung yang diam, seperti tembok kekal berdiri kokoh, seperti paku tertancap sempurna dan mereka-mereka itu yang menarikku dari kenyataan)

Tak ada sepatah kata yang kudengar dan yang ingin kudengar
Tak ada kata selamat tinggal dan tak kudengar kata selamat jalan yang ingin kudengar
Meskipun aku pergi lama dengan sisa keyakinanku
Meskipun aku takkan kembali dengan sisa keyakinanku

Kini kulihat sekelilingku, sekitarku dengan sisa keyakinanku
Kupanggil pun kau tak muncul, tak berpendar, kau lenyap, tak hadir, tak bersiul, absurd
Saat terpejam, dalam lelap, dalam diam tak kujumpai bayangmu dalam dimensi itu
Tetap tak kudapati parasmu dengan sisa keyakinanku
Dan tak kuingat nama aslimu dari sisa keyakinanku

Sempat kuyakinkan dengan sisa keyakinanku kau ada
Di belahan lain sedang tersenyum dengan sisa keyakinanku
Seperti sabit yang tertutup mendung
Dan seperti mendung yang kehilangan cahaya
Lagi-lagi gelap, suram seperti sisa keyakinanku

(Memang tak ada kata kenal sebelumnya dari sisa keyakinanku antara aku dan kamu, kamu dan aku)

Kita bagai dua kutub yang berdiri sendiri-sendiri, berlawanan arah
Kau di utara, aku di selatan
Kelak aku mendoa ke atas langit dengan sisa keyakinanku agar kutub itu menjadi kutub magnet
Bersatu dan tak tolak menolak seperti sisa keyakinanku
Tentangmu saat ini dan seterusnya
Esok dan seterusnya
Seterusnya dan seterusnya


Solo, 24 Maret 2011

Kegagalan Mengajariku Arti Kebahagiaan

Aku mendarat di depan rumah berpagar abu-abu. Aku turun dari mobil dan menatap rumah itu. Tanganku ditarik dan dia melangkah lebih du...