Langsung ke konten utama

Curhat Sebelum Gue Stress


Sobat, tahukah kau gumpalan batu di atas bukit jatuh menimpaku. Berat dan tak bisa untuk lagi kutopang ragaku. Dia, orang yang kau puja dan kau cintai dulu. Bahkan sempat menjadi bagian hidupmu meski sesaat. Ia datang padaku.
 Aku masih ingat bagaimana dulu kau bercerita banyak tentangnya. Sampai beberapa waktu yang lalu pun kau masih menyebut namanya. Ketika dulu engkau berebut dengan wanita lain hanya demi mendapatkannya, kaulah pemenangnya. Pemenang hatinya. Ia akhirnya menerimamu dan saat itu kita sama-sama memulai cerita cinta. Kau dengan dia dan aku dengan lainnya.
Aku selalu kau ajak untuk menemuinya. Bahkan kadang terasa seperti pohon di tengah gurun. Kau bicara banyak dengannya dan aku bicara banyak dengan batu di tepi jalan atau dengan angin yang menderu.
Sampai suatu ketika kau ingin mengakhiri hubunganmu dengannya dan menyeretku ke dalamnya. Akhirnya kita sepakat untuk mengakhiri cerita cinta kita bersama-sama. Saat itu aku merasa belum siap. Tapi demi janjiku pada persahabatan kita aku rela melepasnya. Mungkin perasaanmu juga sama tak ingin melepasnya. Kadang aku berpikir bodohkah kita? Mengikuti permainan yang kita buat sendiri dan menjadi orang munafik setelahnya.
Tapi sobat bukan itu masalahnya. Itu semua telah terjadi dulu, sangat dulu. Kini kita akan bicara saat ini dan masa depan.
Aku seperti tercekik jika mengatakannya. Tapi memang harus kukatakan meski ini hanya sebuah pesan yang belum tentu kau baca.
Dia bilang dia mencintaiku. Dia ingin masuk ke dalam kehidupanku.
Kau tahu air mataku jatuh membelah pipi. Ini yang tak pernah kusuka dari yang namanya cinta. Siapa yang jatuh cinta tak pernah menggunakan akal sehatnya. Bukankah dia tahu kita adalah teman, lebih dari seorang teman tapi kita sahabat. Bisa-bisanya ia ingin merusak persahabatan kita.
Atau ia ingin membalas dendam padamu? Tapi kurasa kau tak pernah punya masalah yang hebat saat bersamanya.. Atau jangan-jangan ia kasihan padaku karena dulu aku pernah melepas seseorang untuk sahabatku juga? Atau karena dulu kau sering mengajakku menemuinya?
Sobat, mengapa terasa sakit? Apa ini yang dirasakan sahabatku yang lain? Aku berharap ini hanyalah mimpi. Semoga kata-kata itu hanya sebuah omong kosong.
Sobat mengapa terasa semakin perih saat ia bertanya “bolehkah aku ke rumahmu?” Sepertinya dia tak main-main dengan perkataannya. Sudah kuduga sejak awal. Ini pasti akan jadi begini. Sama seperti orang-orang dari masalaluku yang tiba-tiba muncul. Terutama laki-laki mereka pasti begitu.
Apa karena aku phobia dengan cinta? Tidak-tidak kurasa bukan karena itu. Karena mereka semua bukanlah seseorang yang kumau. Tapi sobat, bisakah kau bantu aku agar dia tak mengusikku. Aku tak butuh cintanya. Aku masih bisa berdiri sendiri, menopang hidup yang terus bergulir ini.
Sobat aku tak ingin menangis lagi karena cinta. Cinta itu hanya bualan saja. Cinta yang hakiki hanya kepada Tuhan. Sobat apakah aku harus mengabaikannya? Sobat, aku tahu rasanya dikhianati tapi aku berjanji aku tak akan menghianatimu.
Meski mencari sahabat sama sulitnya dengan mencari pasangan hidup. Tapi percayalah aku tak akan mencuri sesuatu dari bagian masa lalumu. Karena masa lalumu tak mungkin menjadi bagianku, aku masih punya masa laluku sendiri dan tentunya masa depan yang hanya aku dan Tuhan yang tahu.

Komentar