Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari Februari, 2011

Curhat Sebelum Gue Stress

Sobat, tahukah kau gumpalan batu di atas bukit jatuh menimpaku. Berat dan tak bisa untuk lagi kutopang ragaku. Dia, orang yang kau puja dan kau cintai dulu. Bahkan sempat menjadi bagian hidupmu meski sesaat. Ia datang padaku. Aku masih ingat bagaimana dulu kau bercerita banyak tentangnya. Sampai beberapa waktu yang lalu pun kau masih menyebut namanya. Ketika dulu engkau berebut dengan wanita lain hanya demi mendapatkannya, kaulah pemenangnya. Pemenang hatinya. Ia akhirnya menerimamu dan saat itu kita sama-sama memulai cerita cinta. Kau dengan dia dan aku dengan lainnya. Aku selalu kau ajak untuk menemuinya. Bahkan kadang terasa seperti pohon di tengah gurun. Kau bicara banyak dengannya dan aku bicara banyak dengan batu di tepi jalan atau dengan angin yang menderu. Sampai suatu ketika kau ingin mengakhiri hubunganmu dengannya dan menyeretku ke dalamnya. Akhirnya kita sepakat untuk mengakhiri cerita cinta kita bersama-sama. Saat itu aku merasa belum siap. Tapi demi janjiku pada persahaba…

Celoteh Kita

Buat Eka dan Fatma (sahabat masa kecilku)


Langkah kecil kita berlari menari Menyongsong hari yang tak pernah dibayangkan Decak kagum kita mengelayuti mentari Berceloteh tentang dia
Kita habiskan hari kita mengejar masa, mengejar mimpi Mengejarnya Jemari kita saling bersatu Seperti langkah kita yang tak pernah berseling
Sampailah hari itu celoteh kita terhenti Ketika angin membawaku pergi Jauh tak bertemu
Celoteh kecil rindu kita kawan Semoga waktu tak mempersulit kita Di masa seharusnya kita bersua

Solo, 23 Februari 2011

PENYUSUP HATI

Entah menyusup dari sudut mana kamu, Sudah kututup rapat pintu dan jendela saat senja menghempaskan senyumku Tapi kau diam-diam tetap bergulir di dalam dan aku tercenung merenung menggila
Hidupku mungkin tak seperti dulu mungkin pula dirimu Bak sebuah merpati kau lepas dan aku terkurung Mana mungkin kau masuk disela-selanya? Kita bagai dua sisi mata uang asal kau tahu
Sudah kuusir ribuan kali sampai aku jengah sendiri Tapi lagi-lagi kau berdalih aku mengantung pernyataanku Kau kembali dan merasuk secara sembunyi-sembunyi
Entah mengapa terus saja kukunci rapat-rapat pintu dan jendelaku Sementara kau masih saja bisa menerobos masuk ke dalam Apakah harus kuganti pintu dan jendelaku dengan baja Lalu kupanggil kau penyusup jika berhasil menerobos lagi

Solo, 19 Februari 2011

TUNGGU AKU CINTAKU

(First Love)



Berdiri tengadah pikirku masih menunggu Berteriak memanggilmu di lautan, iri pada ombak yang berkejaran Menghitung mahkota bunga yang layu semakin tampak seperti diriku Membelalak menunggu jarum jam terhenti, tak jua temukan kata pasti Sudah kubentangkan telinga tuk cari radarmu, mengangkap sinyalmu
Sampai ketika, Kutanyakan pada batu atas inginku.. Sekeras dirimukah aku? Tak berbalas Kutelusuri garis-garis di telapak tanganku.. Serumit itukah jalanku menemukanmu?
Sampai ketika, Berbelit-belit pikiran di otakku Tak terangkai harmonis seperti mauku Jangan-jangan kau sudah dimakan semut Bercampur tanah jadi satu
Ya sudahlah cintaku Tunggulah saja aku Kelak kita takkan terpisahkan lagi Seperti layaknya sepasang sepatu Sama-sama mati dan melengkapi Dibuang satu dibuang semua Direngkuh satu direngkuh semua Usang satu usang semua
Solo, 2009

Betapa Sulitnya Aku

Banyak waktu yang habis saat terbungkam Mencari celah menembus batas tapi tembok kertas pun tak berhasil kubobol Membatu menepis keadaan berubah kikuk sendiri Menundukkan kepala mengheningkan cipta Mencari lubang di sepanjang jalan Tersenyum lebar dan tertawa perih Kurasa seperti anak autis yang tertarik dengan dunianya Melupakan orang-orang di sisinya Dan tak mengerti sebelum disentuh Seolah menutup diri
Begitu sulit saat mata-mata berbisik Sedang tak tahu apa yang mereka bisikkan Begitu sulit menjabat mereka Sedang tak tahu makna jabatan itu apa Begitu sulit kuucap sapa Sedang aku tak belajar cara menyapa
Aku bukan mereka yang pandai bicara dan berbahasa Aku bukan mereka yang berani menatap mata saat lawan berbicara Kadang kupikirkan enak bermain dengan dunia maya Karena tak harus saling bertatap muka Kadang kupikir enak bermain dunia maya Karena tak butuh pandai bicara Tak harus susah payah berekspresi memilih mimik muka Karena mereka yang menerka-nerka Tak perlu takut mengungkapkansuka duka Karen…

Sesal Diucapkan

Kata sesal menjerat di ujung, tiap menukik tajam aku jadi geram lagi-lagi lelaki itu berkoar-koar  : aku tak butuh ketegasan
Gambar sama wajah semu bolak-balik bertanya  lagi-lagi tak ada alasan : mengapa dulu mabuk asmara
Topeng-topeng dialihkan berwujud senja tapi datangnya pagi ia bertanya : mengapa harus sesal yang kau rasakan

Solo, 16 Februari 2011

Malam-Malam Malang

Berhenti bertanya pada malam yang tak menjanjikan apa-apa
Hatimu takkan terbunuh dalam sepinya
Kau hanya butuh seteguk udara beraroma
Tuk cairkan kata-kata yang kau telan dalam pekatnya


Hidup tak berputar seperti rasa inginmu
Seperti aliran rasamu yang hidup bertengger ,
meski menyeruak jatuh terpental
Seperti kau bangkit dan berakhir dalam kepahitan


Solo, 13 Februari 2011


Puisi Soe Hok Gie

Sebuah Tanya
Akhirnya semua akan tiba pada pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui.
Apakah kau masih berbicara selembut dahulu
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku.
(Kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah Mandalawangi.
Kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)
Apakah kau masih membelaiku selembut dahulu
ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra,
lebih dekat.
(Lampu-lampu berkedipan di Jakarta yang sepi
kota kita berdua, yang tau dan terlena dalam mimpinya
kau dan aku berbicara tanpa kata, tanpa suara
ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)
Apakah kau masih akan berkata kudengar derap jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta
(Haripun menjadi malam kulihat semuanya menjadi muram
wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara
dalam bahasa yang tidak kita mengerti
seperti kabut pagi itu)
Manisku, aku akan j…

Hentikanlah

Sobat pejamkan saja matamu jika kau tak bisa menghadapi kenyataan. Goyahkan saja tiang keegoisan yang menjatuhkan rasa itu. Abaikan rasa sakitnya, hentikan atau kau akan tercekat dan tak bisa bernafas. Jangan siksa lagi dengan perasaan-perasaan yang muncul karena keadaan. Dia datang memang disaat yang tepat tapi tidakkah kau lihat isyaratnya. Dia tak melihatmu, dia tak tahu bagaimana caramu bangun. Lihatlah dengan seksama. Dia masih tak berubah sedang kau berubah. Dia masih menganggapmu sama tapi kau menganggapnya beda. Hempaskan saja rasamu. Jangan tinggikan lagi rasa egoismu. Terkadang kita dipaksa tuk menerima meski sebagian mengelak.
Jangan tinggikan lagi kemunafikan, jujurlah pada dunia. Kau sedang tak bermimpi, jangan paksa dirimu bermimpi. Berdirilah tegak dan jatuhkan kembali rasa itu. Jangan kau pungut lagi. Jangan sisakan sedikitpun, hentikan. Bangunlah tembokmu yang kokoh agar tak mudah dihancurkan. Jangan buang linangan itu dengan sia-sia. Melegakan hanya sesaat selanjutnya p…

Mencari Rindu

: bosan menyelimutiku membentangkan batas tak bertepi sebuah ujung yang seharusnya berujung suatu kata yang terlalu basi tuk ditelan ungkapan rasa yang terlantun tak berani membanjiri dan membuncah tak beraturan tersingkaplah bentuk keegoisan diantara ilalang yang bergoyang bergerak bebas diterpa angin sayup-sayup mendengar angin menderu merasa hilang merasa lenyap tapi terasa bising

Bawen, 09 Feb 2011