Langsung ke konten utama

Sebuah Skenario Kecil: ENTAH..

Sampai saat ini aku belum mendapat jawaban mengapa aku harus menunggu…

Part #1
                Pagi itu Tita berjalan terseok-seok  karena hak sepatu tua yang ia pakai patah. Wajar saja, sepatu itu milik mamanya yang telah usang dimakan zaman. Apalagi baru saja ia pakai untuk mengejar laki-laki angkuh, belagu dan tak tahu diri. Orang menyebutnya Bryan, si baik hati. Pengecualian untuk Tita, lelaki seperti Bryan tak pantas dikatakan baik.

Tita:

(Sepanjang jalan menggerutu. Wajah sudah tak berbentuk dan kakinya tak sanggup untuk berjalan lagi)
“Cowok belagu, angkuh dan sombong!! Awas kamu, aku akan membalasmu. Lihat saja nanti aku tak segan-segan menjatuhkan harga dirimu itu di hadapan banyak orang. Huff, capek!!!” (Duduk di tengah jalan berharap ada orang yang menawari tumpangan)


Lima menit berlalu tak ada satupun mobil yang lewat dan tiba-tiba saja suara klakson menggetarkan gendang telinganya. Ciiiiiiiiiiiittttttt!!!!! Mobil sedan putih nyaris memakan nyawanya. Tita menoleh ke belakang.

Bryan:
“Dasar cewek udik! Masih bertahan di sini aja? Cepat masuk ke mobil! Ibumu sudah menanyakan boneka kesayangannya. Seandainya ibumu tak bertanya padaku, sudah pasti kamu tak akan pernah sampai rumahmu.” (memancing kemarahan Tita)
Tita:
“Kamu? Apa kamu bilang tadi?” (menghela nafas)
“Tak sudi aku masuk ke mobilmu. Kamu hampir menghilangkan nyawaku dan sekarang aku harus semobil denganmu? Daripada aku masuk ke mobilmu lebih baik aku berjalan sampai rumahku.” (ketus)
Bryan:
“Hah, sudah kuduga kamu tak butuh bantuanku. Lalu kenapa dengan bodohnya aku ke sini berniat menjemputmu?”
Tita:
“Menjemputku? Bukankah kamu yang membuatku terdampar di sini? Memang sudah seharusnya kamu lakukan itu. Tapi tanpa mengurangi rasa hormat saudara Bryan yang belagu, aku menolak tawaranmu.”
Bryan:  
“Okey, kalau itu maumu. Tanggung resikomu sendiri.” (beranjak pergi)
(membalikkan badan) “Kamu tahu tempat apa ini? Ini tempat yang menyeramkan. Kalau malam banyak binatang buas yang berkeliaran mencari mangsa, tak terkecuali cewek udik sepertimu. Kamu lihat sendiri kan, kanan kirimu tak ada rumah, tak ada satupun mobil yang lewat. Apa kamu masih mau kutinggal sendiri di sini?”


                 Sejujurnya bulu kuduk Tita sudah berdiri semenjak melintasi jalan ini sendirian. Tapi demi harga diri yang dijunjung tinggi, ia memberanikan diri, membusungkan dada, menepis rasa takut.

Tita:
“Kamu menakut-nakutiku? Aku sama sekali tak takut. Tak akan ada hewan buas yang mau memakanku. Dagingku terlalu enak untuk mereka. Mungkin kamu yang akan dimakan mereka kalau kamu tak segera pergi dari sini.”
Bryan:  
“Cewek udik dengan harga diri selangit, coba buktikan saja cuap-cuapmu! Berapa lama kamu akan bertahan? Besok aku akan melihat di harian pagi, seorang cewek udik yang mengenaskan disantap hewan buas.”
Tita:
“Hah, I don’t care! Pergilah! Katakan pada ibuku aku tak kan sudi berada di dalam barang rongsokkanmu ini.” (Bryan membuka pintu mobilnya)
“Tunggu dulu! Sepertinya kamu harus mendengarkan nasehatku. Berhati-hatilah karena jalanan terlalu licin untuk cowok belagu sepertimu.” (mobil Bryan melaju)

               
Ia benar-benar pergi meninggalkan Tita di tempat sepi itu. Kanan kiri hutan belantara yang sepertinya tak pernah diinjak oleh manusia. Semak-semak belukar lebih dominan.

Tita:
(melanjutkan langkahnya) “Aku akan menyesali ini dalam hidupku. Dengan mudahnya aku percaya ajakan Nila, sahabatku hanya untuk menghadiri pesta ulang tahunnya di pantai yang jauh dari pemukiman. Sialnya lagi aku harus bersama dengan Bryan. Hah, kupikir aku sudah gila! Aku tak akan mau lagi.” (berhenti sejenak, membanting tasnya ke jalan)
“Cowok macam apa sih dia itu? Benar-benar tak tahu malu. Meninggalkan seorang gadis di tengah jalan. Dasar tak punya sopan santun. Ngakunya aja orang berkepribadian baik ke orang-orang. Tapi kenyataannya hanya omong kosong. Hih, nyebelin!!!” (menggerutu)


Sebuah klakson mobil mengagetkanku dari belakang. Tita dibuat geram.

Tita:
“Dasar cowok sinting!!!” (berteriak kencang)


Tak ada respon apapun. Biasanya Bryan selalu menjawab setiap kata-kata yang dikeluarkan dari mulut Tita. Saat badannya berputar ke arah belakang, ia malu. Seorang laki-laki sedang tersipu-sipu melihat tingkahnya.

Tita:
“Lingga? Kok kamu bisa ada di sini? Bukannya tadi kamu udah pulang sama Nila?” (heran)
Lingga: 
(menutup pintu mobil) “Ya, kupikir aku juga sudah pulang setelah mengantar Nila tadi. Emm, tapi karena aku tak yakin Bryan akan mengantarmu pulang, sekarang aku ada di sini dan memastikan kamu akan baik-baik saja. Ternyata benar akan ada sesuatu yang terjadi di sini. Kulihat sedari awal hubunganmu dengan Bryan tak pernah baik. Kalian selalu saja seperti air dan   minyak, tak pernah bersatu. Masih untung kalau hanya seperti Tom and Jerry. Kadang kala mereka saling berdamai dan bekerja sama, tapi kalian sungguh membuatku heran. Sebenarnya apa sih masalah kalian?”
Tita:
“Sebenarnya aku tak bermasalah dengan dia. Tapi dia yang selalu cari perkara denganku, mengusik ketenanganku. Sungguh tak punya etika. Kamu lihat sendiri, apa yang telah dia lakukan kepadaku? Lihat, cowok macam apa dia? Aku benar-benar tak tahan melihat sikapnya. Parahnya lagi dia tetangga depan rumahku, kedua orang tuanya kenal dengan keluargaku. Awas saja kalau sampai dia meracuni kedua orang tuaku.” (berjalan memutari Lingga)
Lingga:
(tertawa) “Kamu lucu, Ta. Segitunya ya penilaianmu ke Bryan. Cewek-cewek di luar sana sangat   memuji Bryan, sedangkan kamu justru kebalikannya. Hebat, pantas saja Bryan tak pernah berhenti mengusikmu.”
Tita:
“Maksud kamu? Tunggu dulu, aku bukan menilai sosok cowok belagu itu, aku bicara kenyataan yang harus diterima meski pahit.”
Lingga:
(mengambil tas Tita) “Sepertinya kamu butuh menenangkan diri. Aku akan mengantarmu pulang sampai rumah. Sampai rumah istirahatlah. Aku tak mau melihatmu kacau seperti ini besok pagi. Kamu pasti akan selalu diganggu dia.” (menyerahkan ke Tita)
Tita:      
(menerima tasnya) “Maksudnya apa, Ngga? Aku masih tak mengerti yang kamu bicarakan.”
Lingga: 
“Sesungguhnya kalau kamu selalu membalas setiap perkataan maupun perbuatan Bryan, dia semakin tak gentar melancarkan serangannya kepadamu. Tapi ketika kamu diam, mengabaikannya ia akan luluh dengan sendirinya. Maksudku luluh di sini, dia tak akan mengganggumu lagi.” (membukakkan pintu untuk Tita)
Tita:
“Apa? Aku yang harus mengalah? Tak akan, Ngga. Cowok seperti Bryan perlu dikasih pelajaran. Lihat saja besok aku akan mengalahkannya. Dia akan bertekuk lutut meminta maaf kepadaku. Lihat saja!” (masuk mobil)
Lingga: 
“Baiklah kalau memang itu kemauanmu. Aku hanya memberi saran. Bisa kamu terima tapi bisa juga kamu abaikan. Yang penting sekarang aku harus mengantarmu pulang. Hari sudah mulai gelap. Secepatnya kita harus beranjak dari sini. Kalau malam aku takut lupa jalan.” (menutup pintu)

               
***

Part #2
                Mobil Lingga mulai melaju. Tita duduk di belakang menenangkan diri.

Tita:
(bisiknya dalam hati) “Benar kata Lingga kalau aku tampak kacau. Ini semua karena ulah cowok  belagu itu. Aku harus menyusun rencana besar untuk menggalahkannya.”


Beberapa saat hujan turun begitu lebatnya. AC mobil Lingga ternyata mati. Ia meminta Tita untuk duduk di depan dan mengelap kaca depan mobilnya agar tidak berembun. Terlihat rumah berjajar-jajar di sepanjang jalan.

Tita:      
“Untung saja aku tak terjebak dalam bualan cowok angkuh dan belagu itu.”


Saat mengelap kaca samping kiri Tita terlihat beberapa penduduk mencoba menarik sebuah mobil yang tergelincir masuk ke sungai kecil. Tita berusaha melihat tajam ke belakang namun hasilnya nihil karena kaca belakang mobil juga mengembun.

Lingga:
“Ada apa, Ta?”
Tita:
“Sepertinya ada kecelakaan, Ngga di sana. Kasihan ya. Pasti karena jalannya licin. Kamu harus berhati-hati karena kamu sedang membawa nyawa orang. Awas saja kalau aku sampai kenapa-kenapa!”
Lingga: 
 “Tenanglah, Ta! Aku sudah punya SIM. Kau boleh mempercayaiku kalau kau mau.”


***

Part #3
                Sepanjang perjalanan Tita tertidur. Lingga membangunkannya dengan sangat hati-hati. Tak seperti Bryan yang kasar.

Tita:
“Thank’s ya, Ngga. Entah jadi apa aku di sana, kalau kau tak menjemputku. Pasti sampai sekarang aku belum sampai rumah.” (melepas sabuk pengaman)
Lingga:
“Tak apa, Ta. Sesama teman harus tolong-menolong. Aku senang bisa membantumu.”
Tita:
“Nila sangat beruntung bisa mempunyai kekasih sepertimu.”
Lingga:
“Sudahlah tak usah memuji.”
Tita:
“Aku serius, Ngga. Kamu itu lebih baik daripada cowok belagu itu.”
Lingga:
“Sudahlah, tenangkan dirimu sejenak. Masuklah! Sepertinya mamamu sudah menantimu di depan pintu.”
Tita:
“Sepertinya aku siap diintrogasi.” (melambaikan tangan ke arah mama) “Sekali lagi terima kasih.” (keluar dari mobil)


***

Part #4

Tita:  
“Ma, maaf Tita baru pulang.” (mencium tangan)
Mama: 
“Iya, tak apa sayang. Lho Bryan mana? Bukannya tadi kalian berangkat bersama? Kok pulangnya diantar…. Kalian bertengkar lagi?”
Tita:      
“Lagu lama, Mama. Sejak kapan sih Tita berdamai sama dia. Huff, lelaki macam dia itu perlu dikasih pelajaran. Lagian kenapa sih mama nyuruh Bryan buat jemput aku?”
Mama: 
“Lho, memang seharusnya Bryan mengantar kamu pulang sayang. Tunggu sebentar kamu bilang mama nyuruh Bryan?? Mama sama sekali tak menyuruh Bryan.”
Tita:      
“Bukannya tadi siang mama ketemu Bryan terus nyuruh dia buat jemput Tita?”
Mama:
“Mama belum lihat Bryan sejak tadi pagi sampai sekarang. Kalau dia pulang pasti mobilnya ada di luar dan kelihatan dari sini.” (membuka tirai jendela)
“Kau juga lihat kan mobil putihnya tidak ada? Itu artinya Bryan belum pulang.”
Tita:      
“Sebenernya mana yang benar? Aduh, aduh, lama-lama aku jadi gila kalau begini caranya. Tita ke kamar dulu Ma. Tita capek. Oh, iya maaf sepatu high heels mama patah. Hehehe.” (menaiki  tangga dan membalikkan badan) “Soal lelaki tadi yang mengantarku pulang, itu Lingga, Ma. Dia kekasih Nila. Jadi mama tak perlu khawatir.”


***

Part #5
                Waktu cepat berputar. Tita tertidur dengan gaun birunya. Matahari menerobos celah tirai kamarnya.  Pagi itu, ia tak melihat mobil putih milik Bryan bertengger di depan rumah. Biasanya sebelum berangkat ke sekolah mobil itu selalu menampakkan diri beserta pemiliknya yang belagu dan angkuh itu. Seharusnya Tita bersyukur karena tak bertemu dengannya pagi-pagi. Tapi hatinya tak enak sewaktu melihat di ujung jalan ada bendera merah.
Di sekolah..

Nila:
“Ta, kamu lihat Bryan nggak?”
Tita:
“Nila, kalau kamu bertanya sama aku, kamu itu salah. Urusan banget sama dia. Jangan-jangan kamu naksir dia? OMG, Nila, kamu itu udah punya Lingga. Apa kata dunia kalau Nila mendua? Bisa hancur popularitasmu di sekolah.”
Nila:
“Gitu ya? Tapi-tapi Ta, aneh nggak sih, jam segini Bryan belum datang?”
Tita:      
“Please, ya La! Aku nggak peduli dia mau datang atau nggak. Syukur deh kalau  dia nggak datang setidaknya tak ada seorang pun yang mengusikku pagi ini.”
Nila:
“Kamu seneng ya kalau dia nggak datang? Bagaimanapun juga dia itu teman kita. Sampai kapan sih kalian seperti ini Ta? Kenapa kamu nggak memaafkan Bryan aja? Dia itu sebenarnya baik, ya cuma kamunya aja yang keras kepala dan menjunjung tinggi harga diri.”
Tita:
“Hallooo… Baik? Baik dari mana? Dia itu angkuh, belagu dan aku sama sekali merasa dia bukan orang baik. Jangan katakan itu lagi, atau aku akan muntah di depanmu!”
Nila:
“Okey, sepertinya memang seharusnya aku tak campur tangan dengan urusan kalian. Mungkin itu masalah kalian dan kalian sendiri telah memilih jalan keluar masing-masing. Yah, meski terlihat seperti ini akhirnya..” (hening)
“Kemarin Bryan telepon katanya mau nganterin kamu pulang sampai rumah. Tapi kamu menolak kebaikan dia. Dia protes panjang lebar, sebagai sahabatmu aku cuma bisa minta maaf ke dia untukmu.”
Tita:
“Apa, La? Kamu minta maaf? Helloo… Nila yang baik hati, orang seperti dia nggak pantas untuk    diperlakukan seperti itu.. Aku sangat kecewa, sangat amat.. Asal kau tahu, dia kemarin meninggalkanku di jalan. Bayangkan saja, bayangkan.. Aku sama sekali tak tahu daerah itu, tiba-tiba aku disuruh turun dan berjalan kaki jauh untuk mencari bantuan. Sampai sepatu high heels mama patah, itu karena dia.”
Nila:
“Kurasa kau terlalu melebih-lebihkan bagian itu, Ta. Makanya, kau tak tahu kebaikan Bryan. Kau ingat, Ta. Dia sempat kembali untuk menjemputmu kan? Dia melakukan itu karena dia memang tak ingin kau kenapa-kenapa.”
Tita:
“Dia kembali karena perintah mama.”
Nila:
“Kau yakin? Itu semua karena mamamu? Sementara, ia belum sempat kembali ke rumahnya?”
Kau tak tahu kan ia tak pulang? Kau bahkan tak tahu setelah ia berusaha menjemputmu ia kemana? Apa kau pernah peduli itu, Ta?”
Tita:
“Untuk apa aku peduli dengannya? Dia sendiri tak peduli denganku. Untuk apa memikirkan orang lain, sementara ia tak memikirkan kita.”
Nila:
“Kau bilang dia angkuh, sombong, belagu atau apalah itu.. tapi kau tak melihat itu semua di dirimu. Kau sebenarnya lebih parah daripada dia. Kau itu tak mau mengalah, harga dirimu terlalu tinggi sampai kau tak melihat apa yang telah diberikan Bryan dibalik sikapnya itu.”
Tita:
“Tunggu dulu… Kenapa hari ini kau begitu antusias membahas Bryan? Sejak kapan kau jadi seperti ini? Kau sedang kerasukan apa, La? Atau kau memang suka dengan Bryan? Lalu Lingga kau kemanakan?”
Nila:      
“Ini tak ada urusannya dengan itu, Ta. Sudahlah kau tak akan mengerti. Percuma kalau kujelaskan kau pasti mengira aku sedang berfantasi menuangkan ide-ide gilaku di hidupmu. Pasti itu yang akan kau katakan.”
Tita:
“Kurasa kau sudah tahu apa yang akan aku katakan. Baguslah, aku tak perlu menjelaskannya lagi. Kau memang sahabat yang baik dan penuh pengertian.”
Nila:
“Tunggu saja saat-saat itu.. Kau akan merasakan kehilangan sesuatu…”

               
Entah aku sadar atau tidak sepertinya aku mulai paham kata-kata Nila. Dua bulan berlalu Bryan tak pernah muncul. Acara pengumuman kelulusan pun telah berakhir. Aku tak berhasil menemukannya.Tak ada yang memberitahuku dimana dia berada.

***
Part #6
Prom Night..

Nila:      
“Kau diam, Ta? Tak biasanya kau diam di acara yang kau tunggu-tunggu sepanjang hidupmu.”
Tita:
“Aku rindu dia, La. Ternyata kau benar, sekarang aku mulai merasa kehilangan dia.”
Nila:
“Aku tak bisa berkata banyak. Aku hanya menyarankan nikmatilah acara ini.”
Tita:
“La, apa benar kau menyukai Bryan? Tolong jawablah dengan jujur! Karena aku.. aku.. aku juga akan mengatakan sebuah rahasia padamu.”
Nila:
“Kau saja dulu.. Katakanlah, akan kudengarkan! Mungkin dengan begitu akan membuatmu merasa lega.”
Tita:
“Ini soal.. soal.. soal Lingga, La.” (memainkan kedua jemari telunjuknya). “Kau jangan marah ya. Berjanjilah kau tak akan marah.
Nila:
(menganggukkan kepala)
Tita:
Setelah Bryan memintaku untuk pulang bersamanya dan aku menolak tawarannya itu.. aku.. aku.. maksudku Lingga.. Lingga mengantarku pulang. Ini bukan seperti yang kau pikirkan. Ini hanya antara teman dengan teman. Kau jangan berpikir yang macam-macam ya! Setelah itu Lingga memberiku sebuah sepatu. Jujur, aku berpikir ini suatu kebetulan, ia tahu high heels-ku patah. Yang jelas aku sangat berterima kasih…”
Nila:
“Itu…” (memotong)
Tita:
“Aku belum selesai bicara, La. Bukan maksudku aku ada perasaan dengan dia. Jujur aku tak ada perasaan apa-apa dengannya. Aku bilang ini hanya kebetulan…  kebetulan. Jadi kau tak usah khawatir.”
Nila:
“Aku sudah tahu itu, Ta. Kupikir bukan Lingga yang kau cintai, tapi Bryan, Ta. Bryan…”
Tita:
“Apa? Aku? Bukankah kau yang selama ini menyukainya? Lalu apa artinya kau selalu bertanya tentang dia padaku?”
Nila:
“Hmm… Aku hanya ingin memperjelas perasaanmu. Sekarang sudah terbukti kau menyukainya. Kau tak  usah mungkir lagi.”
Tita:
“Tidak, La. Kalau aku boleh jujur.. aku.. aku.. menyukai Lingga.”
Nila:
“Apa? Lingga? Kau tahu dia itu siapa? Lalu kau anggap siapa aku, Ta?”
Tita:
“Jangan salahkan aku, La. Salahkan saja Lingga, kenapa dia baik padaku? Memberiku sebuah sepatu di saat yang tepat. Kupikir kami berdua cocok, kami berdua mempunyai banyak kesamaan, kami berdua…”
Nila:
“Hentikan, cerita menjijikanmu itu, Ta! Seharusnya sudah kukatakan ini sejak dulu agar semua tak serunyam ini.”
Tita:
“Apa? Coba aku dengar? Skenario yang telah kau buat akhir-akhir ini.”
Nila:
“Bryan yang sebenarnya memberikan sepatu itu untukmu, bukan Lingga. Dia meninggalkanmu di jalan karena membelikan sepatu itu untukmu. Ia ingin memberimu kejutan, tapi ia tak tahu bagaimana caranya. Saat dia ingin melakukannya kau merusak suasana dengan marah-marah tak jelas seperti itu. Coba kau ingat lagi, Ta. Apakah dia pernah kembali semenjak saat itu?”
Tita:
“Katakan kau sedang bercanda, La! Katakan ini konspirasi kalian berdua! Katakan ini hanya bagian dari skenariomu!”
Nila:
“Aku serius, Ta. Bryan udah meninggal karena kecelakaan di hari itu.”


Tita:
Sampai saat ini aku belum mendapat jawaban mengapa aku harus menunggu… Menunggu Bryan kembali meskipun itu tak mungkin. Aku juga belum mendapat jawaban mengapa Bryan tak mengatakannya sejak awal… Aku menyesal, sangat amat menyesal… Mengatakan sumpah serapah yang menyebabkannya pergi untuk selamanya… Mobil yang jatuh ke sungai itu miliknya.. Miliknya yang tak akan kembali..
***

Komentar