Langsung ke konten utama

Salah Sasaran




 
Selamat pagi Bintang Biru-ners. Jumpa lagi di acara Pilamu, Pilihan lagumu  bareng DJ Jeje selama satu jam ke depan. Di sini kalian bisa request lagu favorit kalian dari yang jadul-jadul sampe yang baru-baru. Sebagai pembukaan DJ Jeje akan memutar lagu jadul buat Bintang Biru-ners. Tetep stay on Bintang Biru and  don’t go anywhere! Karena DJ Jeje akan balik lagi dan memutarkan  request lagu-lagu kamu.
Tembang lagu “Begitu Indah” milik Padi diputar apik membuat Dila larut ke dalamnya sampai menirukannya, “Terang saja aku menantinya aku mendambanya terang saja aku merindunya karena dia begitu indah.”
 Gaiya yang di sampingnya bingung, sebenarnya apa yang sedang Dila dengarkan di handphone-nya. Setahunya setiap pagi Dila selalu menyumbat telinga kanan kirinya dengan headset.
“Dil, Dilla.” Suara panggilan Gaiya mengusiknya. Dila melepas headset sebelah kanannya.
“Kenapa, Gai? Pak Guntur udah datang ya?” tanyanya gelagapan.
“Belum kok, Dil. Kamu dengerin apa sih? Nggak bagi-bagi. Aku kan juga pengen dengerin,” ujar Gaiya sambil  merebut headset yang dilepas Dila tadi.
Dila tersenyum manis.
“Oh, lagunya Padi. Udah jadul nih, tapi tetep oke,” komentar Gaiya setelah ikut mendengarkan.
Dila tertawa. “Bukan itu yang kudengarkan, Gai tapi suara DJ Jeje.”
“Siapa itu, Dil? Oh, ini tuh radio ya? Kupikir ini MP3,” ujarnya sambil manggut-manggut mengikuti alunan musik.
“Mau tahu aja. Nanti kalau kamu jadi suka, aku yang repot,” gumam Dila menggoda sambil tersenyum sumir.
“Nggak seru ah, Dil! Aku janji deh nggak akan suka tapi kamu cerita siapa itu DJ Jeje. Ya, Dil ya?” desak Gaiya ingin tahu.
“Dia bakal jadi calon kekasihku. Suaranya itu Gai yang membuatku tergila-gila sama dia. Enak didenger, dihayati dan dipahami,” ujar Dila dengan beberapa gerakan lebay membuat Gaiya terbahak.
“Kok malah tertawa? Katanya pengen diceritain. Nggak jadi aja deh kalau gitu,” ujar Dila terdengar ngambek.
 “Yah, gitu aja ngambek. Maaf deh, Dil.  Ayo lanjutin ceritanya, Dil!” seru Gaiya memohon. “Eh, pak Guntur udah masuk. Kita lanjutin nanti lagi,” bisiknya saat melihat pak Guntur masuk ke dalam kelas sambil melepas headset di telinganya dan memberikannya pada Dila.
Dila buru-buru melepas headset di telinganya dan memasukkan di saku bajunya. Ia mengerutu kesal dalam hati karena tak bisa mendengarkan suara DJ Jeje lagi, sedangkan acara itu hanya berlangsung satu jam ke depan.
***
Sore hari Dila memutar-mutar radio mencari gelombang radio Bintang Biru. Ketemu, tapi  ia kecewa ternyata acara yang dibawakan DJ Jeje belum mulai mungkin karena ada acara seleksi DJ baru. Jadi acara diundur.
“Dil, teman kamu datang!!” teriakan itu mengagetkan Dila. Secepat kilat ia mengambil headset di saku seragamnya dan berlari keluar menemui orang yang disebut-sebut teman oleh mamanya. Berharap Gaiya yang datang karena Dila ingin pamer suara DJ Jeje ke Gaiya.
Ternyata Arga tetangga sebelah rumahnya.  Seorang cowok nyentrik, rambut jabrik memakai kaos yang dibalut dengan hem dan bercelana jeans terlihat rapi duduk di kursi teras rumahnya.
“Arga, ngapain kamu ke sini?” tanya Dila tak berselera.
“Mau ngajakin jalan,” jawabnya sambil mengacak-acak rambut jabriknya.
“Sore-sore gini. Ogah ah! Jalan aja sendiri,” ujar Dila sambil menyumbat headset di kedua telinganya.
“Lho dulu kan kamu mau, kenapa sekarang nggak mau?” tanya si jabrik itu bingung.
“Dulu ya dulu, sekarang ya sekarang. Kenapa nggak ngajak Indah aja sih? Dia kan cewek kamu,” gerutu Dila kesal karena telah mengganggu jadwal acaranya sore ini. Ia memencet tombol di handphone-nya dengan kesal karena stasiun radio Bintang Biru sinyalnya tak sejernih jika menggunakan radio di dalam rumah.
“Aku baru aja putus, Dil. Indah diam-diam selingkuh di belakangku,” ungkap Arga tak membuat Dila simpatik meskipun ia menunjukkan wajah kecewanya.
“Dan karena itu kamu ngajak aku jalan? Nggak, Ga. Aku semakin menolak ajakanmu. Kamu pikir aku gadis macam apa? Gadis yang suka melirik cowok yang baru aja putus?” Dila geram dengan tetangganya ini.
“Ayolah, Dil! Sama temen aja gitu, gimana kamu bisa dapat pacar?” bujuk Arga terdengar sindiran di telinga Dila.
 “Eits, jangan bawa-bawa soal pacar di sini! Aku nggak suka, Ga. Kamu kan yang bikin aku nggak bisa dapat pacar. Tiap kali temen cowokku ke sini, kamu selalu sok akrab banget sama aku. Mereka jadi ilfeel. Kamu turut andil bagian beberapa persen di sini,” ketus Dila kesal.
Sorry deh, Dil. Habis kamu diajak jalan nggak mau,” ujarnya enteng.
“Ah, masa bodoh! Kamu balik aja deh. Nih acaranya udah mau mulai. Aku nggak mau melewatkan suara DJ Jeje. Udah sana pulang-pulang!!” usir Dila sambil menarik Arga dan mendorongnya menjauh dari rumahnya.
***
Setelah satu jam menunggu akhirnya DJ Jeje menampakkan suaranya. “Bareng lagi sama DJ Jeje di acara Sore Bintang Biru. Kamu bisa request lagu-lagu terbaru di sini atau buat yang titip salam boleh nggak dilarang. Buat yang mau nembak cewek atau cowok lewat acara ini, bisa. Selama dua jam ke depan DJ Jeje akan menemani Bintang Biru-ners semua. Hahaha. Sekarang saatnya bacain request-request kalian. Ini ada Mely di rumah aja. Kirim salam buat  papa, mama, kakak dan adikku tersayang. Lagunya Akulah Dianya Drive. Okey, Mely langsung diputer tanpa lama-lama. Apa sih yang nggak buat Bintang Biru-ners? Wah, lebay, lebay nih DJ Jeje. Don’t worry! Yang penting kalian tetep stay on Bintang Biru and don’t go anywhere! Mely ini buat kamu, Drive dengan Akulah Dia.
 “Uwa, DJ Jeje!!” teriak Dila histeris. Tiba-tiba muncul sesosok perempuan mengagetkannya.
“Woi! Teriak-teriak sendiri,” sahut Rose, kakak Dila satu-satunya yang baru balik dari seleksi DJ di radio Bintang Biru.
“Kak, gimana keterima nggak?” tanya Dila girang.
 “Apanya?” Kak Rose balik bertanya membuat bibir Dila mengerucut.
“Seleksinya, Kak? Lolos nggak?” tanya Dila sekali lagi.
“Oh, itu! Lolos dong siapa dulu, Rose. Seperti mawar yang merekah. Hahaha,” jawab Rose dengan bangga.
“Kak, ketemu sama DJ Jeje nggak?” selidiknya.
“Emm, ketemu. Emang kenapa?” tanya Rose balik.
“Ganteng nggak? Masih muda? Terus udah punya pacar belum?” Serentetan pertanyaan dilontarkan oleh Dila.
“Kamu tuh masih kecil, sekolah aja dulu,” ujar Rose menasehati.
“Kak, Dila kan penasaran pengen tahu. Daripada Dila pengen tahunya hal-hal yang nggak bener, iya kan?” tukas Dila tak mau menyerah.
“Kakak nggak bisa jelasin tentang DJ Jeje. Kalau kamu pengen tahu ya udah datang aja sendiri ke sana. Terus tanya deh ke orang-orang siapa itu DJ Jeje. Kalau kamu tanyanya ke kakak jelas aja jawabannya nggak tahu. Emang kakak siapanya DJ Jeje? Ketemu aja barusan,” jelas Rose memberi Dila satu gambaran. Di hatinya kini tertanam keinginan kuat untuk bertemu dengan DJ favoritnya. Ia mendekati kakaknya dan memberi satu ciuman di pipi.
“Ini buat kak Rose yang baik hati, udah mau ngasih jalan keluar,” ujar Dila sambil cengar-cengir. 
***
“Gai, aku ajak yuk ke radio Bintang Biru. Penting banget,” bujuk Dila.
“Mau ngapain ke sana? Jauh nggak,” tanya Gaiya.
“Nggak jauh kok, deket banget. Mau ya, Gai? Aku cuma pengen lihat DJ Jeje,” ujar Dila berharap Gaiya ikut.
“Oh, mau cari calon kekasihmu,” sahut Gaiya sambil terbahak.
“Begitulah, Gai. Berarti kamu mau nih Gai? Kamu emang temenku yang paling baik.” Hatinya melonjak gembira seakan mendapat durian runtuh.
Seusai membujuk Gaiya, Dila mengambil motornya di parkiran. Ia bertemu dengan Arga, tetangganya.
“Mau balik, Dil? Nggak bareng aku aja nih?” tawar Arga.
“Nggak ah, Ga. Aku kan bawa motor sendiri. Lagian aku nggak langsung pulang ke rumah,” ujar Dila dengan riang melupakan kejadian kemarin sore.
“Mau ke mana? Ikut dong!” sahut Arga.
“Mau tahu aja, udah ah Ga, keburu tutup nih. Bye!”
Bergegas Dila tancap gas. Beberapa saat sampailah dia di sebuah bangunan dengan papan besar di atasnya bertuliskan “Bintang Biru FM”. Seperti ada tiang tower yang menjulang tinggi di samping gedung. Mungkin pemancar gelombang radio ini. Tanpa ragu mereka berdua masuk ke dalam.
“Mbak, mau tanya, yang namanya DJ Jeje mana ya?” tanya Dila penasaran pada seorang wanita yang bolak balik keluar masuk ruang siaran.
“Cari Jerry? Jerry-nya belum datang, tunggu aja dulu. Sebentar lagi dia juga datang,” jelas wanita itu dengan ramah.
Dila baru tahu ternyata nama aslinya Jerry. “Hihihi. Apanya Tom and Jerry ya?” batinnya melonjak gembira. Gaiya mengucapkan terima kasih pada wanita itu karena Dila terlihat sedang melamun. Ia menarik Dila ke arah kursi.
“Dil, jangan gila dulu dong! Belum ketemu aja udah kayak gini apalagi kalau udah ketemu,” cibir Gaiya.
“Asli Gai, aku seneng banget. Nggak bisa bayangin wajahnya si Jerry.” Bayangannya DJ Jeje alias Jerry paling tidak usianya terpaut dua atau tiga tahun, berparas tampan, ramah, jomblo dan semua yang baik-baik untuknya.
“Dil, aku kasih masukan ya. Jangan terlalu girang dulu, ntar malah menyesal kalau udah  ketemu! Hati-hati suara menipu!” ujar Gaiya menasehati.
“Ah, kamu Gai menakut-nakutiku! Aku yakin kalau DJ Jeje alias Jerry itu ganteng seperti suaranya yang merdu, tukas Dila.
“Ya udah, Dil. Semoga kamu nggak menyesal.” Gaiya menepuk bahu Dila.
Beberapa saat muncul lelaki setengah baya. Mengenakan kaca mata hitam dan sedang melepas jaket kulitnya. Ia menghampiri wanita yang sempat ditanya oleh Dila. Seperti sebuah isyarat buruk Dila ingin buru-buru cabut.
“Gai, cabut yuk! Kayaknya aku salah nih suka sama orang,” ajak Dila semangat untuk cepat meninggalkan tempat itu. Gaiya justru terkekeh.
“Gai, ayo cabut! Ternyata Jerry yang dimaksud mbak itu udah bapak-bapak. Waduh, Gai mau jadi apa aku ini kalau sampai suka sama bapak-bapak gitu. Kalau pas jalan aku kayak anaknya. Hihihi. Nggak mau aku Gai,” bisik Dila. 
“Aku kan tadi udah bilang kalau suara itu bisa menipu. Tampang aja yang jelas-jelas bisa dilihat menipu, apalagi suara yang abstrak. Hihihi,” bisik Gaiya balik.
Seakan tahu mereka berdua berbisik-bisik si Jerry mendekati. Ia duduk di kursi membuat Dila dan Gaiya tak bisa ke mana-mana.
“Katanya kalian berdua mencariku?”
“E, e, e iya, Om,” jawab Dila tergagap.
“Ada apa ya? Apa kalian mau mendaftar jadi DJ di sini? Sayang sekali pendaftaran sudah ditutup dan kemarin juga sudah diadakan seleksi,” ujar Jerry. Tanpa sadar kata-kata itu membantu Dila untuk mencari alasan.
 “Wah, sayang sekali ya, Om. Padahal kami berdua memiliki potensi untuk jadi DJ. Ya sudahlah, Om daripada kami makin kecewa mengingat-ingat itu, kami berdua pamit,” ujar Dila.
 “Lho kok cepat sekali? Nggak mau lihat dan gabung ke dalam lihat siaran radio langsung?” tawar Jerry.
“Ini, Om. Kita kan masih pakai seragam, tadi belum pamit sama ortu. Takutnya kalau dicariin, Om.” Gaiya ikut angkat bicara.
“Oh, begitu. Jangan kapok ya main ke sini lagi. Mungkin kalian bisa mendaftar jadi DJ tahun depan.” Dila dan Gaiya hanya menyunggingkan senyum. Seusai pamit mereka langsung keluar dari tempat itu.
“Gai, kapok aku ke sini. Nggak mau lagi. Aku salah sasaran, Gai. Kalau gini caranya aku pilih Arga aja yang udah jelas di depan mata daripada om-om tadi. Ngeri aku lihatnya,” gumam Dila kecewa.
“Hahaha. Suruh siapa kamu suka sama om-om. Cowok sepantaran kita aja masih banyak. Kalau aku mending dapat brondong daripada om-om,” ujar Gaiya mencibir.
Sesaat pandangan dua gadis ini tertuju pada seorang cowok yang nyentrik baru turun dari motor dan melepas helm. Rambutnya jabrik. Badannya tinggi. Wajah-wajah itu pernah mereka kenal. Ternyata Arga.
“Hei, kalian berdua ngapain di sini,” sapa Arga.
“Harusnya kami yang tanya ngapain kamu di sini? Kamu membuntuti kami ya?”  ketus Dila tajam.
“Hei, aku kan DJ di sini. Wajar dong kalau aku di sini. Kalau kalian ngapain hayo?” tukas Arga.
Senyum tersungging sumir dari wajah Dila. Seakan kehabisan kata-kata ia berkata jujur, “Nyari DJ Jeje, Ga. Tapi ternyata dapatnya om-om.” Arga terkekeh.
“Kenapa kamu, Ga? Kesambet setan pohon mangga ya?” cibir Gaiya.
“Emm, nggak pa-pa. Aku seneng aja ternyata tetangga sebelah rumahku suka sama aku. Pakai jauh-jauh datang ke sini cuma pengen ketemu aku. Aku sangat tersanjung, Dil,” ungkap Arga.
Gaiya terbelalak tak percaya lebih-lebih Dila. Mulutnya menganga dan refleks menampar pipi kiri dan kanannya ingin membuktikan bahwa ia tak sedang bermimpi di sore bolong.
“Ga, jangan bercanda deh! Namamu nggak ada unsur huruf J kan?” selidik Gaiya.
“Emank nggak ada tapi kan ada unsur huruf G-nya. Berhubung kalau Gege terdengar nggak bagus, diplesetin aja jadi Jeje. Buktinya temen kamu sampai kesengsem kan sama aku. Padahal kemarin dia mau aku ajak ke sini buat nemenin siaran tapi dianya nggak mau.” Arga terkekeh.

Komentar