Langsung ke konten utama

GLADIOLA


Gladiola begitulah namaku versi mama, diadopsi dari sebuah bunga simbol kekuatan karakter dan ketulusan. Kalau versi papa, Ola Satyawan. Namun di akte kelahiranku tertulis Gladiola Satyawan. Semenjak mereka bercerai versi papa yang digunakan karena papa yang memenangkan perebutan hak asuhku. Di balik namaku tersirat masalah yang menjadi pokok penyebab perceraian mereka. Aku tak terlalu ambil pusing karena mereka sudah dewasa. Orang dewasa memang membingungkan mungkin akibat banyak makan garam sampai terasa kadar asinnya di kehidupan nyata.
Sebulan ini aku tinggal rumah baru, dengan sekolah baru, tetangga baru, teman baru hampir semuanya serba baru. Hidupku berubah drastis, apalagi saat papa mengenalkanku pada Arizal, tetangga sebelah yang ternyata satu sekolah denganku.
Dia membuatku merasakan bagaimana tak enaknya dimusuhi. Aku didiamkan Arizal seharian hanya karena aku memecahkan miniatur piano kaca miliknya. Tak sedikitpun aku diajak bicara, sungguh menyebalkan. Baginya kata maaf tak cukup untuk melupakan kejadian itu. Padahal hari ini aku ingin bercerita tentang Raymond.
“Zal, besok aku berangkat sama kamu,” teriakku di depan rumah Arizal dimalam hari. Hal rutin yang biasanya kulakukan jika papa tak mengantarkanku ke sekolah. 
Keesokan hari Arizal meninggalkanku. Kata mamanya dia berangkat pagi-pagi sekali. Akhirnya aku berangkat jalan kaki sendiri dengan perut keroncongan dan pandangan berkunang-kunang.  
“La!” Raymond menepuk bahuku dari belakang saat aku duduk sendiri menatap lapangan basket sambil melamun. “Pagi-pagi wajah udah ditekuk. Tumben Arizal sendiri, kamu sendiri. Kalian lagi musuhan?”
Aku menggelengkan kepala mencoba berbohong tapi tak berhasil karena aku berubah pikiran. “Hanya sedikit masalah, tapi Arizal terlihat begitu marah. Aku memecahkan miniatur piano kaca miliknya. Padahal hari ini miniatur itu sudah di tangan Dila, kekasihnya. Aku menyesal, Ray. Seandainya aku tak ceroboh saat meletakkannya, pasti tak akan jadi begini.”
“Tak usah dipikirkan, La! Laki-laki itu biasanya sudah lupa masalah sepele seperti ini. Kalaupun Arizal terlihat marah menurutku karena ada sebab lain,” gumam Raymond terdengar menggampangkan masalah dengan memasang tampang tak berselera aku menatapnya sesekali.
Tiba-tiba padangan kulempar pada sosok Arizal yang baru saja masuk ke lapangan basket. Ia masih mengenakan seragam OSIS, berebut bola dengan yang lain. Tak bisa kubayangkan apa yang terjadi saat ia masuk ke kelas. Bau keringat bercucuran pasti membius seisi kelas. Namun bukan itu inti sebenarnya karena yang ada dipikiranku Arizal bisa tersenyum, tertawa seperti tak punya beban sama sekali. Aku merasa kehilangannya.
“La, kau lihat apa?” tanya Raymond menyadarkanku. Arizal terlalu jauh dariku.
“Itu lapangan basket,” jawabku spontan. “Kenapa lapangannya jadi dua ya?” lanjutku.
“Bukannya dari dulu lapangan basket di sini hanya satu itu. Kau sakit, La?” ujar Raymond seraya memegang keningku. “Panas, La! Sebaiknya kau pulang dan beristirahat. Aku tak mau kau kenapa-kenapa,” lanjutnya penuh perhatian. Namun tak ada sengatan listrik, terpesona, deg-degan atau apalah itu saat mendengarnya.
“Mungkin karena kecapekan, Ray. Tadi pagi aku jalan kaki dan belum makan sama sekali. Memang sebaiknya aku pulang daripada bertambah parah,” ujarku melebih-lebihkan sambil beranjak dari dudukku. Pandanganku sudah bertambah kabur. Tubuhku semakin terasa hangat. Langkahku menjadi tak seimbang. Aku demam.
***
Seikat bunga tergeletak di depan pintu sesaat setelah terdengar bunyi bel. Sambil terhuyung-huyung kuambil dengan tangan kananku sementara tangan kiriku memegang kompresan es untuk menurunkan demamku. Glek. Arizal yang mengirim bunga itu. Kubaca dari tulisan yang tertempel di salah satu sisi tangkai bunga itu. Apa dia telah memaafkanku? pikirku dalam hati.
Sesaat mobil papa berhenti. Melihatku memegang kompresan es papa menghampiriku. “Ola, kamu sakit? Papa antar ke dokter ya?” ujar papa penuh perhatian sebelum pandangan papa berganti pada bunga yang kupegang.
“Ini dari Arizal, Pa. Bagus ya bunganya?” tanyaku dengan lugu.
“Itu yang namanya bunga Gladiola. Kenapa Arizal memberimu bunga ini, Ola? Kau tahu apa artinya kalau seseorang memberimu bunga ini?” Papa balik bertanya. Aku menggelengkan kepalaku. “Kamu bikin aku patah hati,” lanjut papa. 
Aku terdiam. Pikiranku berkeliling ke mana-mana. Jangan-jangan ini alasan papa tak suka dengan namaku, Gladiola.
“Kalau tak mau ke dokter sebaiknya kamu istirahat di kamar, La! Biar cepat sembuh,” seru papa sambil mengajakku masuk ke dalam rumah.
***
Saat kubuka kedua mataku, kulihat sosok Arizal yang tengah membaca buku dan mendengarkan MP3 yang diputar via handphone, duduk membelakangiku. Aku hanya bisa melihat punggungnya.
“Zal, Zal, Arizal!!” Aku lupa kalau kedua telinganya tertutup headset, pantas saja saat kupanggil ia tak menyahut. Aku mencoba meraih bunga Gladiola di meja.
“Zal, maksud bunga ini apa?” tanyaku sambil melempar bunga itu ke arahnya.
“Hei, sakit tahu!” teriak Arizal sambil melepas headset-nya.
“Itu karena kau kupanggil dari tadi tak menoleh. Maksud bunga itu apa? Kata papa artinya aku bikin kamu patah hati. Apa itu benar? Aku kan sudah minta maaf dari kemarin. Kamu saja yang tak mau memaafkanku. Jadi, kalau kamu patah hati jangan menuntut kepadaku,” ujarku dengan sedikit ketus.
“Ternyata benar kata papamu kau sakit. Bicaramu sudah seperti orang yang tak mau dituntut oleh si korban,” gumam Arizal tak jelas.
“Aku tak mengerti maksud kalimatmu? Bisa kau ulangi sekali lagi?” Aku mencoba konsentrasi ke arahnya, menatap ke dua matanya tapi justru tanganku bergemetar.
“Kalau sakit ya sakit saja. Istirahat sana! Aku mau melanjutkan membaca buku ini. Lebih seru daripada mendengar kicauanmu,” ujar Arizal kejam.
“Zal, aku minta maaf soal kemarin. Serius, aku tak sengaja memecahkan miniatur piano kacamu. Kamu betah marah padaku? Kamu tahu tadi pagi aku berangkat jalan kaki, sendirian. Itu karena kamu meninggalkanku. Aku sakit itu juga karena kamu. Sekarang kamu harus tanggung jawab. Paling tidak kamu harus memaafkanku.”
“Kau minta maaf hanya karena kau memecahkan miniatur piano kaca itu? Bukan karena kau tak memberitahuku kalau kau sudah jadian sama Raymond?” Wajah Arizal terlihat lucu. Aku terbahak puas di hadapannya. Ternyata benar kata Raymond, laki-laki biasa melupakan hal yang sepele.
“Zal, jadi ini sebabnya kau marah? Parah kamu, Zal. Lain kali klarifikasi dulu sebelum mengambil kesimpulan,” ujarku sok menasehati.
“Jadi, Raymond membohongiku. Awas, Ray! Dia bilang kalau kemarin dia menyatakan perasaannya padamu dan dia sangat yakin kau akan menerimanya mengingat kalian terlihat akrab.”
“Kamu pikir aku dan kamu tak akrab. Kalau kamu melakukan hal seperti yang Raymond lakukan pun belum tentu aku terima,” ujarku bercanda.
 “Siapa juga yang suka sama kamu? Cewek cantik di luar sana itu lebih banyak,” ujar Arizal dengan pipi memerahnya.
“Oh, ya? Lalu makna bunga tadi apa? Jarang-jarang ada seorang laki-laki yang memberi bunga untuk seorang gadis kecuali dia menaruh perasaan pada si gadis.”
“Anggap saja itu bunga sebagai doa semoga kau cepat sembuh,” ujarnya asal-asalan.
“Zal, kau pasti bercanda?” tanyaku penasaran.
“Sudah, tidurlah. Mimpi yang indah. Kulihat kau sudah sembuh, sebaiknya aku pulang. Papamu sebentar lagi pasti pulang.”
***
“Arizal!!” teriakku di depan rumahnya. Arizal keluar.
“Kau sudah sembuh, La?” Arizal menyapaku dengan pertanyaan. “Kau sakit apa ya, La? Setelah bertemu denganku kau langsung sembuh. Apa aku berbakat menjadi seorang dokter untuk pasien bernama Ola?”
Ih, ge-er! Siapa bilang aku sembuh karenamu? Aku sembuh karena bunga Gladiolamu,” tukasku sambil menunggu Arizal memanasi motornya.
“Mau bagaimana juga tetap saja ada hubungannya denganku. Terimalah takdirmu, kau tak bisa jauh dariku. Kau merasa kehilangan aku kan kemarin?” ujar Arizal penuh percaya diri.
Aku tersipu malu. Jantungku berdegup cepat. Tiba-tiba aku bisa mendengar angin yang menderu, suara kicau burung di pagi hari, suara gemericik air dari kolam Arizal. Sepertinya aku merasakan kedamaian.
“Kau tetap mau di situ terus? Kau tak takut terlambat ke sekolah?” teriak Arizal yang ternyata sudah bersiap untuk tancap gas. Aku berlari kecil ‘tuk menghampirinya.
***
“Kau sudah baikan dengan Arizal? Lalu jawaban pertanyaanku bagaimana?” Raymond menghentikan langkahku sesampainya di gerbang sekolah.
“Pertanyaan apa, Ray? Sepertinya kau tak bertanya apa-apa,” tukasku sambil mencoba menghindar dari Raymond.
“Tentang perasaanmu, La. Kau lupa?” desak Raymond masih menghalang-halangi langkahku.
Aku berhenti mencari jalan. Bergerak pun  percuma karena badan Raymond cukup besar untuk memblokir langkahku. Akhirnya kujawab, “Aku dan kamu sama seperti yang lain. Kita hanya sebatas teman dan tak lebih, Ray.”
 “Lalu kau dengan Arizal bagaimana? Kalian tak pacaran kan? Berarti aku masih punya kesempatan?” Raymond terus-terusan bertanya. Aku dibuat geram. Ia tak bisa membaca kerut di keningku, kaki yang dari tadi kuhentakkan, tangan yang kusilakan di depan dada.
Arizal terlihat menertawakanku dari jauh. Aku memberi isyarat padanya untuk menolong melepaskanku dari jeratan Raymond. Aku sedikit lega saat ia berjalan mendekatiku dan menarik tanganku.
“Aku dan Ola kemarin jadian. Sorry, Bro, Ola jadi milikku.” Kata-kata Arizal terdengar tak wajar di telingaku. Arizal tak segera melepaskan tanganku.
“Zal, tanganku!” ujarku memberi isyarat agar ia melepaskan tanganku. “Maksudmu tadi apa?” Aku menghentikannya yang berjalan cepat di depanku.
“Tadi apa? Oh, soal kata-kataku tadi. Itu tadi yang terlintas di pikiranku. Kau tak usah khawatir. Aku hanya ingin membuat jarak antara kau dan Raymond,” jelas Arizal.
“Jarak? Aku tak paham dengan jalan pikiranmu, Zal. Aku tak butuh jarak dengan Raymond. Aku hanya butuh cara untuk menghindar dari Raymond. Itu saja, Zal, tak lebih. Kau tadi keterlaluan padanya,” protesku tak setuju dengan Arizal yang mengambil keputusan sendiri.
“Tapi bagiku itu wajar, karena aku memang menyukaimu, Gladiola Satyawan,” ujar Arizal membuatku mematung. Mataku membelalak tak percaya dan Arizal pun berhasil mengambil celah dari jalan yang kuhalangi. Ia cepat berlalu dari pandanganku. Sebelum menghilang ia sempat membalikkan badannya ke arahku dan tersenyum. 
***

Komentar