Langsung ke konten utama

SISTEM PEMBERIAN PELAYANAN PENDIDIKAN BAGI ABB

Sistem Pemberian Pelayanan Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar

A.    Berbagai Pilihan Penempatan
Faktor yang harus dipertimbangkan
1.      Tingkat kesulitan
2.      Kebutuhan anak untuk memperoleh pelayanan yang sesuai
3.      Keterampilan sosial dan akademi anak
Sistem penempatan
1.      Kelas khusus (special class)
Ada 2 macam kelas khusus:
a.       Kelas khusus sepanjang hari
1)      Diajar oleh guru khusus
2)      ABB berinteraksi dengan yang bukan ABB hanya saat   istirahat
3)      Pelayanan ini membatasi pergaulan ABB dengan anak yang tidak berkesulitan belajar dalam sistem pendidikan integratif
b.      Kelas khusus untuk bidang studi tertentu
1)      Anak belajar bidang studi yang tidak dapat mereka ikuti di kelas reguler.
2)      Seperti olahraga, musik, kerajinan tangan, dan lain-lain yang dapat dilakukan bersama anak yang tidak berkesulitan belajar, mereka melakukan bersama.
3)      Sebagian besar waktunya umumnya untuk pelajaran membaca, menulis, berhitung, kadang ketrampilan sosial atau aspek khusus dari bahasa.

Keuntungan dengan sistem pembelajaran ini:
a.       Pembelajaran lebih efisien karena pengelompokan homogen
b.      ABB lebih banyak memperoleh pelayanan yang bersifat individual dari guru

Kekurangan dengan system pembelajaran ini:
a.       ABB sering memperoleh cap negatif yang dapat mengganggu kepercayaan diri, penolakan dari teman, perolehan pekerjaan di masa depan, sikap negatif dari keluarga, dan harapan untuk berhasil yang rendah dari guru.
b.      ABB cenderung hanya dapat berimitasi dengan sesama mereka.

2.      Ruang sumber (resource room)
Terdapat guru remidial dan berbagai media belajar. Berkonsentrasi untuk memperbaiki ketrampilan dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung. Guru sumber/remidial dituntut menguasai bidang keahlian yang berkenaan dengan pendidikan bagi ABB dan diharap dapat mengganti guru kelas serta menjadi guru konsultan bagi guru reguler. Guru menangani 15-20 anak tiap hari.

Keuntungan:
a.       Anak yang memerlukan bantuan khusus di bidang akademik atau sosial memperoleh bantuan daari guru yang terlatih.
b.      ABB tetap berada dalam kelas reguler sehingga mereka dapat bergaul dengan anak yang tidak tergolong berkesulitan belajar.

Kekurangan:
a.       Meningkatkan jumlah waktu terbuang untuk pindah dari kelas reguler ke ruang sumber.
b.      Mengurangi kemampuan guru kelas atau guru reguler untuk menangani anak secara individual.
c.       Meningkatkan kemungkinan adanya inkonsistensi pendekatan pembelajaran.
d.      Meningkatkan jumlah spesialis yang bekerja untuk anak yang dapat menimbulkan pelayanan yang terpecah-pecah.
e.       Dapat meningkatkan konflik antara kebutuhan kelompok dan kebutuhan individual.

3.      Kelas reguler (regular class)
Dimaksudkan untuk mengubah citra tentang adanya 2 tipe: ABB dan anak yang tidak berkesulitan belajar. Dirancang untuk menciptakan suasana kooperatif  sehingga semua anak dapat menjalin kerjasama untuk mencapai tujuan belajar. Program pelayanan pendidikan individual diberikan kepada semua anak. Berbagai metode digunakan bersama untuk kedua jenis anak.

Keuntungan:
a.       ABB akan menggunakan anak yang tidak berkesulitan belajar sebagai model perilaku mereka.
b.      Mengelola ABB di kelas reguler lebih murah daripada menyediakan mereka pelayanan dan situasi khusus.
c.       Anak yang tidak berkesulitan belajar menjadi lebih memahami adanya perbedaan antar individu.
d.      Guru reguler dimungkinkan untuk menjadi lebih dapat menyesuaikan pembelajaran mereka dengan karakteristik individual semua anak.

Kekurangan:
a.       Kurang memperoleh pelayanan individual.
b.      Masih mungkin memperoleh cap negatif dari anak yang tidak berkesulitan belajar.
c.       Mungkin akan sering gagal karena sulitnya bahan dan tugas.
d.      Akan dirugikan karena tidak memperoleh pelayanan PLB yang sistematis dan latihan ketrampilan dasar yang cukup.
e.       Semangat juang guru kelas atau guru reguler mungkin akan terpengaruh secara negatif karena banyak di antara mereka yang tidak dipersiapkan untuk menangani ABB.
                

B.     Peranan Guru Khusus untuk Anak Berkesulitan Belajar
Menurut Lerner, ada sembilan peranan guru khusus bagi ABB di sekolah yaitu:
1.      Menyusun rancangan program identifikasi, asesmen, dan pembelajaran ABB.
2.      Berpartisipasi dalam penjaringan, asesmen, dan evaluasi ABB.
3.      Berkonsultasi dengan para ahli yang terkait dan menginterpretasikan laporan mereka.
4.      Melaksanakan tes, baik dengan tees formal maupun informal.
5.      Berpartisipasi dalam penyusunan program pendidikan yang diindividualkan.
6.      Mengimplementasikan program pendidikan yang diindividualkan.
7.      Menyelenggarakan pertemuan dan wawancara dengan orang tua.
8.      Bekerjasama dengan guru regular atau guru kelas untuk memahami anak dan menyediakan pembelajaran yang efektif.
9.      Membantu anak dalam mengembangkan pemahaman diri dan memperoleh  harapan untuk berhasil serta keyakinan kesanggupan mengatasi kesulitan belajar.

Ada 2 kompetensi yang perlu dikuasai oleh guru bagi ABB yaitu:
1.      Kompetensi teknis (technical competencies)    
Kompetensi teknis mencakup:
a.       Memahami berbagai teori tentang kesulitan belajar.
b.      Memahami berbagai tes yang terkait dengan kesulitan belajar.
c.       Terampil dalam melaksanakan asesmen dan evaluasi.
d.      Terampil dalam mengajarkan bahasa lisan, bahasa tulis, membaca, matematika, mengelola perilaku, terampil dalam memberikan prevokasional dan vokasional.
2.      Kompetensi konsultasi kolaboratif (collaborative consultation competencies)
Kompetensi konsultasi kolaboratif mencakup kemampuan untuk menjalin hubungan kerjasama dengan semua orang yang terkait dengan upaya memberikan bantuan kepada ABB.
Ada beberapa prinsip konsultasi kolaboratif yang perlu diperhatikan yaitu:
a.       Tujuan umum
b.      Komunikasi terbuka dan jelas
c.       Kejelasan tanggung jawab
d.      Menanggulangi konflik
e.       Waktu dan fasilitas yang cukup
Ada berbagai aktivitas yang diharapkan dapat meningkatkan kerjasama atau kolaborasi antara lain:
a.       Pendidikan service
b.      Demonstrasi
c.       Metode studi kasus
d.      Pengalaman klinis
e.       Pembicara tamu dan menghadiri seminar
f.       Laporan berkala

C.     Hubungan Orang Tua dan Guru
Ada 3 macam reaksi
1.      Menolak atau tidak dapat menerima kenyataan
2.      Kompensasi yang berlebihan
3.      Menerima anak sebagaimana adanya

Tahapan penyesuaian orang tua dalam menghadapi ABB
1.      Menyadari adanya masalah
2.      Mengenal masalah
3.      Mencari penyebab
4.      Mencari penyembuhan
5.      Menerima anak apa adanya

Aktivitas yang dapat dilakukan orang tua di rumah untuk membantu anak:
1.      Melakukan observasi perilaku anak
2.      Memperbaiki perilaku anak
3.      Mengajar anak


D.    Program Bimbingan dan Latihan bagi Orang Tua
1.      Program Bimbingan bagi orang tua
Macam strategi pemberian bantuan bagi ABB
a.       Hanya intervensi pendidikan          
b.      Hanya terapi individual
c.       Bimbingan kelompok orang tua
d.      Terapi individual dan tutorial
e.       Terapi bersamaan anak dan orang tua dengan pemberi terapi yang berbeda
f.       Terapi bersamaan anak dan orang tua pemberi terapi yang sama
g.      Terapi keluarga yang terdiri dari anak, orang tua dan saudara-saudara kandung


2.      Program Latihan bagi orang tua
Ada dua pendekatan dalam program latihan bagi orang tua yaitu:
a.       Pendekatan komunikasi
Menekankan pada penyelenggaraan komunikasi langsung antara orang tua dengan anak.
b.Pendekatan keterlibatan
Menekankan pada upaya pemecahan masalah praktis melalui kerjasama kelompok.

Komentar