Langsung ke konten utama

Lose Contact

“Tapi engkau terus pergi, tapi engkau terus berlari. Jadi biarkanlah aku di sini… Biarlah kurela melepasmu meninggalkan aku. Berikanlah aku kekuatan untuk lupakanmu. Kau jauh dariku kau tetap menjauh dari aku…”
Biarlah-Nidji

Via telepon, Bo menyanyikan lagu itu untukku. Ia menegaskan kembali  perasaannya setelah 2 tahun berlalu dan selama itu kami lose contact. Entah kesalahan atau tidak, ketika aku meminta nomer Bo pada Tata, sahabatku. Karena menurut kabar yang kudengar Tata satu sekolah dengan Bo dan secara kebetulan Tata bercerita banyak tentang Bo, terutama tentang julukannya sebagai playboy di sekolah. Mungkin karena aku tertarik dengan kata playboy itu maka kuputuskan untuk meminta nomer Bo.
Namun, sepertinya keputusan itu salah. Semakin aku rutin mengirim SMS padanya semakin aku memberi harapan-harapan kosong padanya. Terbukti ia selalu memujiku, ia merendahkan dirinya dihadapanku dan membandingkan dirinya dengan mantanku. Meski ia membuka kembali bekas luka lamaku, dia bisa menguburnya hingga sedikit rasa itu hampir muncul dibenakku. Sayang rasa itu pergi dengan cepat saat lagu itu ia nyanyikan.
Ia membuatku berpikir ulang tentang perasaanku padanya. Ia saja telah menyerah bagaimana bisa aku bertahan. Apalagi setelah lagu itu berakhir ia meminta maaf padaku karena lancang mencintaiku dan mengatakan ia rela putus dengan kekasihnya demi aku.
Mulut ini ingin rasanya aku sumbat, saat kukatakan, “Terima kasih karena kamu udah jujur dengan perasaanmu. Saat ini aku masih tak tahu dengan perasaanku sendiri. Beri aku waktu untuk meyakinkan diriku. Paling tidak sampai usiaku tujuh belas tahun…”
***
Waktu untuk memenuhi janjiku telah tiba, aku tak bisa mengambil kesimpulan apa-apa. Aku masih ragu dan tak berani mengatakan sesuatu. Aku takut dia terluka dan akan melampiaskan kekesalannya pada wanita-wanita yang ditemuinya. Aku pasrah dan hanya bisa berharap ia tak menagih janjiku.
Tiba-tiba sebuah ada new message dari Bo. Keringat dingin bercucuran. Semoga ia lupa, semoga ia lupa, itulah kata yang berulang kali kuucapkan.
“Sebenarnya aku mau bicara sesuatu sama kamu. Sepertinya mulai sekarang aku putuskan untuk menyerah dan nggak akan mengejar kamu lagi. Aku seperti ini karena aku sadar memang lebih baik kita berteman, menjadi dua orang yang saling mengerti, saling melindungi dan terikat dengan persahabatan. Lagipula banyak yang nggak setuju kalau aku tetap seperti ini ke kamu. Jadi maaf cuma sampai di sini. Sekali lagi maaf.”
Benar-benar seperti petir yang menyambar. Dia mengatakannya sebelum aku berani berkata apa-apa. Sebelum aku mengambil kesimpulan untuk hubungan ini. Mungkin saja telah habis kesabarannya menungguku bertahun-tahun tanpa jawaban pasti, atau mungkin dia ingin mengingatkanku pada kata-kataku, “….mungkin saat usiaku tujuh belas tahun nanti, aku bisa berpikir dengan logis. Tapi bukan berarti aku menolakmu dan bukan berarti aku akan menerimamu. Jika kau mau tahu jawabanku tunggulah saat usiaku tujuh belas tahun.”
Tak kusangka ia akan mengirim kata-kata seperti itu padaku. Benar-benar kado terdahsyat di hari ulang tahunku. Jujur aku merasa bersalah. Tak semestinya aku menahan keraguanku. Mengapa waktu itu tak kukatakan saja kalau aku tak bisa menerimanya karena usia kami terpaut satu tahun. Meskipun satu angkatan tapi aku merasa seperti kakak baginya dan dia adik bagiku.
Tata pernah memperingatkanku untuk hati-hati dengan ucapanku. Orang yang jatuh cinta lebih menggunakan perasaan daripada logikanya. Sungguh tak bisa kupercaya aku sudah terlanjur terjebak di dalam perasaannya.
***
Ketakutan dan rasa gelisahku berkecamuk dalam hati saat tiba-tiba Tata mengajakku bertemu di tempat kami biasa bertukar cerita. Ingin rasanya aku bercerita tentang apa yang terjadi antara aku dan Bo tapi firasatku mengatakan  jangan katakan itu.
“Tya, kemarin aku bertemu Bo. Dia tanya tentang keadaanmu. Memangnya apa yang terjadi sama kalian berdua?” Tata curiga.
“Lho, bukannya wajar ya, ketika beda sekolah jarang bertemu terus tanya kabar?” tukasku sambil menyeruput jus apel dilanjutkan menyendok makanan dan memasukannya ke mulutku.
“Hallo! Ini keadaan bukan kabar, Tya! Jangan macam-macam ya! Awas kalau sampai kalian berdua jadian!” ancam Tata.
Aku tersedak saat berusaha menelan makanan yang sudah terlanjur setengah masuk ke kerongkonganku. Apakah Tata sedang berusaha membaca pikiranku? tanyaku dalam hati sambil menenangkan diri.
“Apa? Jadi itu benar?” Tata menatapku dengan garang, mengerikan dan seperti ingin mencekikku.
“Benar apanya sih? Aku nggak ada apa-apa kok sama Bo,” jawabku dengan tenang.
“Itu tadi, soal jadian tadi. Kamu bener jadian sama Bo? Aku kan udah cerita panjang lebar, apa kamu masih belum paham juga? Ini, dengarkan baik-baik, aku ulangi sekali lagi, dia masih punya cewek, dia itu playboy kelas hiu nggak sepolos yang kamu pikir. Aku kan udah peringatin jangan ngasih harapan kosong ke dia! Kamu masih aja memberi harapan-harapan kosong itu,” gerutu Tata.
“Ta, pertama, aku nggak jadian sama Bo. Kedua, Bo bilang dia udah putus dari ceweknya demi mendapatkan hatiku. Ketiga,…..”, jelasku sebelum dipotong Tata.
“Ketiga apa? Kamu ketipu, Tya. Kamu percaya gitu aja sama kata-katanya? Aku lebih tahu dia, Tya. Aku satu sekolah ama dia. Okey, dia boleh aja sih bilang udah putus, tapi ceweknya bilang mereka masih pacaran. Apa kamu lebih percaya sama dia dibanding aku, sahabatmu?” desak Tata.
“Tapi, Ta, soal dia suka sama aku waktu SMP itu nggak bohong. Dia jujur soal itu. Dia nggak main-main sama perasaannya.”
“Ya-ya-ya. Pengecualian untuk itu aja. Lagipula itu udah basi, Tya. Itu dua tahun yang lalu, nggak bisa menjamin masa sekarang.”
“Tapi, Ta, aku merasa bersalah sama dia, mungkin dia playboy gara-gara aku.”
“Tya, singkirin pikiran picik kayak gitu, kalau udah wataknya kayak gitu ya udah, itu bukan salah kamu. Aku nggak mau kamu menyesal suatu saat nanti. Sebagai sahabat aku cuma bisa ngasih peringatan dan saran. Jauhin dia! Itu solusi terbaik untuk kalian berdua!”
Kata-kata itu membuatku tak bisa berkata-kata lagi. Ku urungkan niatku untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Bo. Mungkin inilah yang Bo maksud dengan “banyak orang yang tak setuju” dan salah satunya adalah Tata.
Aku marah pada diriku yang tak bisa tegas dengan perasaanku. Aku benci Bo karena dia telah mengatakan kebohongan yang membuatku memberinya kesempatan. Aku tak tahu apa Bo juga akan membenciku sama seperti aku membencinya dan kini aku tak peduli lagi. Mungkin kata-kata Tata ada benarnya juga, aku harus menjauhi Bo. Aku berjanji tak kan pernah menghubunginya lagi. Kubiarkan semua berjalan begitu saja. Mungkin dengan lose contact akan mengurangi kesakitan kami masing-masing. Tak ada lagi harapan-harapan kosong yang kuberi untuknya. Tak ada lagi rasa sakit dan kecewa karena sebuah kebohongan. Tak akan terdengar lagi kata menyerah yang dulu pernah diucapkannya. Tak kan ada.
Jika suatu saat kami bertemu lagi semua akan kembali seperti semula. Seperti dulu aku tak mengenalnya dan dia tak mengenalku.
Tiba-tiba sebuah pesan singkat muncul di layar hape-ku dari nomer baru.
Met malam, ini bener Tatya kan? Msh inget aku? Ini aku Bo : )
Dia muncul lagi. Glek.
***


Komentar