Langsung ke konten utama

Layang-Layang yang Terputus


Aku adalah cewek yang begitu lemah empat tahun yang lalu. Namun seseorang merubahku. Dia menjadikanku lebih kuat setelah apa yang dia lakukan terhadapku. Akhirnya sekarang aku bisa menjalani hariku sendiri. Aku bisa menghadapi masalahku tanpa bantuan orang lain dan aku sangat membenci apa yang mereka sebut cinta.  
Itu semua berawal dari bulan Mei, satu bulan sebelum acara kelulusan. Tiap hari aku dan dia berlatih bersama untuk mengisi pertunjukan di acara kelulusan nanti. Aku berlatih dance dan dia band. Aku Ata dan dia Atar. Nama kami hampir sama hanya berbeda pada huruf “R” yang mengakhiri nama Atar. Kesamaan itu membuat orang-orang menyebut kami pasangan serasi.
“Say, aku latihan sama temen-temen, nanti kalau udah mau pulang sms aku.” Begitulah kiranya Atar memberikan perhatian padaku sebelum ia bergabung dengan teman-temannya. Ia memanggilku Say untuk menekankan hubungan kami, begitu pula aku. Aku menganggukkan kepalaku dan ia mengerti isyarat itu.
Saat itu aku masih pendiam. Aku begitu mengirit kata-kataku. Seolah-olah satu kata begitu bernilai mahal untukku. Sampai-sampai menjawab sesuatu jarang dengan perkataan.
“Ata, sini! Latihan udah mau dimulai nih!” Sebuah aba-aba dari Laras, sahabatku, memanggilku untuk segera berjalan ke arahnya.
“Ta, aku heran kenapa Atar bisa suka sama kamu, secara kamu itu kayak patung. Kalau jawab iya pakai anggukan, kalau nggak pakai gelengan. Haduh, makin heran lagi kenapa juga aku bisa betah sama kamu ya!” Aku hanya tersenyum mendengar celotehan dari mulut Laras. Kubayangankan dia seorang dukun yang sedang komat-kamit baca mantra.
Sambil menggerakkan tubuhnya mengikuti musik pengiring yang diputar, Laras masih sempat menceramahiku, “Ta, kamu nggak cemburu sama tuh si Violent, vokalis cewek di bandnya Atar? Liat tuh mereka pakai tatap-tatapan segala, berasa dunia milik mereka berdua. Padahal kan kamu dari sini bisa lihat mereka. Nggak punya hati banget sih mereka.”
Aku menoleh ke arah Atar sesaat dan yang kuterjemahkan itu hanya tatapan biasa antara vokalis dan gitarisnya.
“Ta, Ta, liat itu tangannya Atar dipegang. Gila ya, mau manas-manasin kamu tuh! Wah, ada yang nggak beres tuh! Tuh jarinya Atar diapain?”
Aku sama sekali tak ingin mendengarkan kata-kata dari Laras, tapi tetap saja kata-kata itu masuk di telingaku. Tak lama kemudian Laras ditegur oleh ketua kelompok karena ia sibuk mengurusi masalah orang lain.
***
Ketika latihan telah usai Atar menemuiku. Kulihat jari kanannya terluka dan  aku pun akhirnya angkat bicara, “Say, jari kamu kenapa?”
“Oh, tadi waktu latihan senarnya putus. Kena deh jariku, tapi nggak pa-pa kok, Say.” Aku tahu ia sedang menenangkanku. Ia berusaha menutupi semua dariku agar aku tak panik.
“Bener nggak pa-pa? Sini aku pegang! Aku mau liat,” seruku.
“Nggak usah, Say! Udah nggak sakit kok. Bener deh! Suer!” Ia mencoba melihatkan ketangguhannya sebagai seorang laki-laki.
“Ya udah. Lain kali aku yang obati yah!” sindirku secara halus.
“Kok kamu bilang gitu sih? Kamu tadi liat aku diobati Violent?” selidiknya.
“Udahlah nggak usah dibahas! Aku mau pulang.”
Kata-kata itu terucap spontan. Ada sebuah perasaan yang mendesak untuk bertanya panjang lebar padanya. Namun ada perasaan lain yang mencoba menahan pertanyaan-pertanyaan itu.
Di tengah perjalanan pulang Atar mengucapkan kata-kata yang membuatku sedikit tersinggung, “Say, kenapa kamu diem lagi? Padahal tadi kamu udah lumayan lho bicaranya.” Terdengar sebuah candaan baginya tapi tidak untukku.
“Jadi, kamu pengennya aku bicara terus?” Nadaku meninggi.
“Nggak, gitu juga sih! Yah, setidaknya kamu bicara sesuatu, biar nggak hening, jelasnya jujur.
“Oh, gitu!” sahutku ketus.
“Kamu marah, Say?” Ia menatapku, menggantungkan pertanyaannya ke arahku.
“Nggak,” jawabku ketus.
“Maafin aku yah, kalau kata-kata aku tadi menyinggung perasaan kamu. Aku bakal terima kamu apa adanya kok.”
Baru satu bulan kata maaf dan menerima apa adanya keluar dari mulutnya lebih dari tiga puluh kali. Aku makin memikirkan kata-kata Laras. Mungkin ada benarnya kata-kata Laras.
“Say, kenapa kamu pilih aku?” Muncul begitu saja pertanyaan itu dari mulutku.
“Kenapa baru sekarang kamu tanya itu? Ya jelas donk, karena kamu itu pendiem, smart, rajin, nggak aneh-aneh, simple dan cantik pastinya.”
Kata-kata yang berhasil kucerna adalah kebalikan dari itu. Kata-kata itu justru membuatku tak yakin dengannya. Kalau saja kata-kata itu memang jujur dari hatinya.
***
Mei sudah dipenghujung, bulan Juni sudah menapaki jejaknya. Saat mendebarkan tiba. Hasil kelulusan dibacakan. Aku dan Atar dinyatakan lulus. Kami bersorak gembira menyambutnya. Acara kelulusan pun dimulai. Laras menarik tanganku menjauh dari Atar.
“Ta, kau lihat pakaian Atar mirip dengan yang dipakai Violent,” bisik Laras di tengah keramaian.
“Itu. Wajarlah Ras, mereka kan bakal ikut tampil costum juga harus disesuaikan dong! Kamu pikir pakaian kita nggak sama?” tukasku.
“Serius, Ta. Ini itu seperti couple. Kau tak cemburu? Violent cantik dan Atar keren. Kau benar tak keberatan jika Atar tampil dengan Violent? Kenapa dulu vokalisnya bukan kamu aja sih?” Laras bertanya panjang lebar seperti memojokkanku.
“Ya, memang mereka terlihat seperti couple. Tapi aku merasa mereka tak cocok. Soal kenapa vokalisnya bukan aku ya karena aku udah ikut dance. Padahal Atar pernah menawariku.”
“Kenapa kamu tolak? Seharusnya kamu ikuti ajakan Atar,” gumam Laras seperti sebuah seruan.
“Kamu kenapa sih, Ras? Sepertinya kamu tak suka sama mereka,” tanyaku bingung.
“Bukan begitu, Ta. Aku kasihan sama kamu. Atar diam-diam jadian sama Violent. Apa kamu sadar perubahan Atar akhir-akhir ini? Aku yang bukan siapa-siapanya bisa menebak kalau mereka berdua ada sesuatu,” jelas Laras begitu meyakinkan.
“Ya, mungkin perubahan dia karena sibuk dengan persiapan hari ini.”
“Hello!! Ta, kamu polos banget. Atar tak seperti yang kamu pikir. Kamu tahu saat dia menembakmu dia masih pacaran dengan temanku. Sekarang wajar kalau dia dengan Violent.”
“Ras, udahlah! Biarkan aku yang mengatasi ini sendiri. Kalaupun Atar memang seperti itu mungkin aku bisa mengambil keputusan dengannya.” Sepertinya Laras tak suka hubunganku dengan Atar. Sikapnya baru ditunjukkan dua bulan terakhir. Entah apa yang merasukinya hingga ia menjadi seperti itu. Suka mencampuri urusan orang lain.
“Baiklah. Aku tak mau ikut campur. Aku hanya memperingatkan agar kau waspada sewaktu-waktu Violent bisa merebutnya dari tanganmu.”
Aku geram dengan Laras akhirnya kutinggalkan ia sendiri sementara kakiku melangkah mencari Atar. Kulihat Atar sedang berada di atas panggung. Aku berdiri melihatnya dari jarak jauh. Lagi-lagi senar gitar Atar putus, jarinya terluka lagi.
Saat aku berusaha mendekatinya bermaksud ingin mengobati, Violent lebih dulu mencuri start. Ia mengeluarkan sesuatu tuk mengobati jari Atar. Kepalaku penuh dengan pikiran buruk. Kata-kata Laras mulai merasukiku, menjalar ke sekujur tubuhku. Kini aku mulai merasakan cemburu.
Atar turun dari panggung. Posisinya digantikan dengan orang lain. Ia terlihat seperti mencariku tapi aku sembunyi darinya. Kulihat dari jauh Atar bertanya pada Laras, “Ras, Ata mana? Aku butuh dia nih.”
“Kamu cari Ata? Dia udah pulang. Kamu terlalu asyik dengan Violent. Kamu tahu dia melihatmu tadi di atas panggung? Aku sebagai sahabatnya hanya ingin memperingatkanmu agar berhati-hati dengan Ata. Sekali kau melukainya aku takkan membiarkanmu tenang.”
Aku terisak di balik tembok. Jari kugigit agar tak bersuara tapi sosok laki-laki tegap itu membuatku menyeka air mataku.
“Kamu menangis, Ta?” tanyanya menyelidik.
“Nggak, cuma terharu aja denger lagu yang kalian bawakan,” ujarku tak jujur.
“Tapi mata kamu sampai merah tuh. Beneran kamu nggak pa-pa?” tanyanya lagi.
“Bar, aku nggak pa-pa kok,” ujarku meyakinkannya. Kupaksakan senyum dari bibirku meskipun ia tahu senyumku palsu.
“Sudahlah, aku tahu bagaimana perasaanmu. Tak kau katakan pun aku tahu. Kau sudah dihasut oleh Laras kan? Soal Atar dengan Violent itu tak benar. Kau tahu siapa sebenarnya Violent itu? Dia adik sepupu Atar. Jadi kau tenang saja,” ujar Bara menjelaskan.
Ia berhasil membuatku lega dan tersenyum meskipun aku harus menerima kenyataan bahwa Laras sudah terbukti tak menyukai hubunganku dengan Atar.
“Sekarang temuilah Atar, dia mencarimu sedari tadi. Sejak Laras menculikmu darinya,” desis Bara membuatku bergidik.
“Okei, aku akan menemuinya. Thank’s, Bar. Aku bangga punya teman sepertimu.”  Aku segera beranjak mencari Atar meski tak kutemukan ia di dalam ruangan itu. Akhirnya aku pun mencarinya di luar.
Entah mana yang harus kupercayai kini. Ketika aku beranjak mencarinya kutemukan Atar berduaan dengan Violent dan terlihat seperti sepasang kekasih. Tangan Atar memegang tangan Violent begitu eratnya. Sesekali diciumnya jemari itu. Hati mana yang tak geram. Sepupu dari mana itu, tak mungkin seorang sepupu diperlakukan lebih dari kekasihnya.
Aku tak bisa menangis lagi. Air mataku sudah terlanjur kering. Aku memberanikan diriku menghampirinya. Matanya membelalak saat tahu aku di depannya. Tanpa sela kata aku meminta putus dengannya. Ia sama sekali tak menolak. Semakin kuat keyakinan itu. Ternyata berakhir masa-masa sekolahku bersamaan dengan berakhirnya hari-hari indahku bersamanya. Ibarat ia layang-layang yang terputus sampai kapan pun aku tak akan mengejarnya lagi. Dia adalah masa lalu.
Kini aku tak pernah percaya lagi pada cinta. Cinta sangat tak logis untukku. Hanya kata-kata manis yang tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Hanyalah omong kosong belaka. Tapi aku suka melihat orang-orang yang sedang jatuh cinta karena tingkah mereka begitu lucu.
***

Komentar