Langsung ke konten utama

Elegi Esok Pagi


Tengah malam aku masih aku masih berkutat pada tugas untuk pagi ini. Pikiranku terbagi-bagi antara mengumpulkan tugas yang deadline-nya jatuh pagi ini, ujian dan presentasi dua mata kuliah sekaligus. Aku membolak-balikkan tiap halaman buku bersampul orange yang seharusnya bisa membuatku bersemangat tetapi ternyata tidak berefek apa-apa.
Mataku terkantuk, badanku lemas, pikiranku melayang entah kemana dan aku masih di istanaku belum beranjak sama sekali ke tempat merantau. Sedangkan kuliah pagi ini akan dimulai pukul 08.30 WIB. Parahnya aku harus naik bus pagi-pagi. Perjalananku ke sana bisa menempuh waktu tiga jam dengan bus yang biasa aku naiki. Aku tak bisa berharap banyak, sampai tepat waktu aku sudah bersyukur.
“Lin, kakakmu tak bisa menjemputmu ke sini. Ia hanya bisa menjemput di terminal sana. Jadi mau tak mau nanti kamu naik bus. Papa hanya akan mengantarmu di halte depan sampai kamu dapat bus,” ujar Papa. Kata-kata itulah yang membuatku lemas.
 “Katanya kakak kemarin mau ke sini jemput Alin. Gimana sih?” ujarku kesal.
“Tadi kakakmu sudah berangkat. Tapi berhubung bannya bocor  dia mengurungkan niatnya,” ujar Papa menjelaskan tapi aku terlanjur kesal.
Pukul 02.00 WIB. Hati bergejolak. Aku harus merelakan waktu tidurku demi pagi ini, sampai kampus tepat waktu.
***
Akhirnya dua jam berlalu. Waktu tidurku habis. Jam empat pagi aku memaksa mataku tuk terbuka. Kusingkirkan rasa dingin saat air yang nyaris membeku menyentuh kulitku saat mandi. Gigiku gemeletuk nyaring, udara dingin menerobos kulit meski jaket tebal telah menyelimuti tubuhku.
Langit masih terlihat kelam. Bintang masih berpendar riang, kerlap-kerlip menggoda dan bulan masih menampakkan senyumnya dalam sabit. Lampu-lampu kota masih menyala. Kulihat jalanan lengah. Sesekali truk bermuatan berat berlalu lalang, sepeda motor dan bus masih dapat dihitung.
Jam lima kurang aku menunggu bus jurusan Solo. Entah aku yang tak pernah keluar pagi atau memang hari ini berbeda dari biasanya, ternyata aku tak sendiri orang komuter alias penglaju banyak bertebaran. Dari jauh terlihat seperti lampu bus, berwarna biru mencolok. Tertempel tulisan yang terkena sorot lampu. Kubaca “Ke SOLO-SURABAYA”. Ya aku harus naik bus ini atau aku akan terlambat jika menunggu bus selanjutnya.
Aku sedikit lega saat kondektur membukakan pintu dan kakiku masuk ke dalam. Tapi tiba-tiba aku terpana, inikah kehidupan diwaktu pagi. Bus ini penuh penat. Kursi barisan depan sampai belakang terisi semua. Nasibku seperti sepuluh penumpang yang lainnya, berdiri berbekal pegangan ke sana ke sini untuk berjaga-jaga kalau busnya berhenti mendadak. Beberapa menit kurasakan goncangan dahsyat. Badanku mengikuti irama laju bus ini. Mulutku komat-kamit mengujar doa agar selamat sampai tujuan karena bus ini terkenal melaju cepat.
Beberapa saat bus ini menaikkan penumpang lagi, membuat posisiku semakin terjepit. Di samping kanan kiriku berdiri lelaki tengah baya berperawakan tinggi besar. Di belakangku seorang pemuda yang duduk sedang menikmati tidur nyenyaknya. Sesekali tubuhnya terguncang mengikuti irama tikungan membuat badannya sesekali menyandar ke arahku. Beda lagi dengan bapak-bapak di depanku, ia terlelap begitu nyenyaknya dan tak banyak bergerak. Nikmatnya membuatku iri mengapa ia tak memberikan posisi tempat duduknya padaku, seorang gadis yang baru tidur dua jam.
Ingin rasanya aku berteriak membangunkan orang-orang yang terlelap dengan nyamannya. Namun urat syaraf maluku  belum putus. Jadi, kuurungkan niat itu dan kembali merenungi nasibku. Inikah rasanya menjadi kaum komuter? Ia harus bangun pagi-pagi karena harus menempuh perjalanan panjang untuk sampai tempat tujuan. Disaat orang-orang di sana nyaman terlelap di rumah, nasib mereka justru kebalikannya. Mereka berada di dalam bus dengan posisi tidur yang tidak nyaman jika mereka memutuskan untuk tidur. Tapi bagi mereka yang tak pernah mendapatkan tempat duduk sepertiku hari ini mungkin tak pernah bisa merasakan nikmatnya tidur tiap pagi.
***
Teman-teman menatapku lekat yang masuk ke kelas dengan tergopoh-gopoh. Bu dosen memincingkan matanya ke arahku begitu tajam seperti ingin mencabik-cabikku yang datang terlambat lebih dari satu setengah jam. Seharusnya satu setengah jam itu kupakai untuk persentasi dan ujian. Tapi aku melewatkan itu semua.
Lima orang temanku tampak garang. Mereka mendekatiku dengan sangat-sangat dekat aku pun mundur beberapa langkah. Namun tak sampai di situ saja, mereka mengelilingiku dan satu per satu angkat bicara sampai mengumpat. Saat kutolehkan wajahku ternyata Ibu dosen telah menghilang membuat mereka semakin mengerikan.
“Gara-gara kamu terlambat kita nggak dapat nilai tahu!!!” semprot seorang anggota kelompokku.
“Kau tahu kesalahanmu? Aku sudah bilang kau yang membawa semua file, itu artinya kau harus datang lebih pagi,” tambah seseorang yang lain.
“Maaf. Aku udah berusaha tapi inilah hasil akhirnya, aku terlambat,” ujarku dengan penuh rasa bersalah.
“Maaf? Apa hanya kata itu yang bisa kau ucapkan? Setelah semua ini terjadi? Apa kau bisa mengembalikan semua ini ke posisi awal? Hah? Tak bisa kan? Kita semua nggak dapat nilai karenamu. Kau yang harus bertanggung jawab.” Seseorang yang lain lagi menimpali.
“Pokoknya aku tak rela kalau aku nggak dapat nilai. Seharusnya hanya kamu yang nggak dapat nilai tapi kami semua juga kena. Sepenuhnya ini semua karena kesalahanmu. Kesalahanmu,” bentak seseorang lagi mencaciku.
Perfect. Empat orang telah memakiku, menginjak-injak harga diriku. “Mimpi apa aku semalam? Padahal hanya dua jam tak mungkin aku mimpi macam-macam,” pikirku dalam hati.
Tersisa satu orang lagi, Dinda, sahabatku tapi ia tak memakiku.  
“Din, kau tak membelaku?”
Dinda mengacuhkanku. Ia sama sekali tak menjawab kata-kataku. Ia justru keluar dari ruang kelas. Aku berusaha mengikutinya namun tiba-tiba sebuah benda keras menghantam kepalaku.
***
Tiba-tiba aku dalam bus lagi. Kepalaku terasa sakit. Orang-orang memperhatikanku dengan wajah-wajah kepiting rebus karena menahan tawa.
“Oalah, Nak. Sempet-sempetnya tidur dalam keadaan seperti ini,” komentar bapak-bapak di sampingku. Aku hanya bisa nyengir. Aku berterima kasih karena tasnya telah membangunkanku dari mimpi buruk.
Rupanya sepanjang perjalanan aku tertidur. Beruntung kepalaku hanya terbentur tas bapak-bapak di samping kiriku yang mungkin isi tasnya adalah besi. Tapi setidaknya rasa sakit itu hanya sesaat.
Aku senang ternyata semua itu terjadi di alam mimpi (kecuali benturan tas itu). Persentasi dan ujian itu belum kulewatkan dan aku tak akan disemprot kata-kata kasar itu. Namun sepertinya ada satu yang tetap tak bisa ku lewatkan pula, aku harus tetap tersenyum atau nyengir sepanjang perjalanan karena mereka masih terus mengamatiku. Mungkin melihat benjol di kepalaku atau melihat tingkah konyol seorang mahasiswa tertidur di bus ekonomi dengan keadaan berdiri. Ya mungkin sayalah pemecah rekornya.
Terima kasih, terima kasih. Tidak usah salut. Saya memang memalukan.

Komentar

  1. hehehe...nikmat ya mba tidur di bus, inyong ikut tersenyum bacanya

    BalasHapus

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar Anda di sini