Kamis, 30 Desember 2010

Pengertian Asesmen Menurut Ahli

Ada beberapa pengertian tentang asesmen menurut para ahli :
Menurut Robert M Smith (2002)
“Suatu penilaian yang komprehensif dan melibatkan anggota tim untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan yang mana hsil keputusannya dapat digunakan untuk layanan pendidikan yang dibutuhkan anak sebagai dasar untuk menyusun suatu rancangan pembelajaran.
Menurut James A. Mc. Lounghlin & Rena B Lewis
“Proses sistematika dalam mengumpulkan data seseorang anak yang berfungsi untuk melihat kemampuan dan kesulitan yang dihadapi seseorang saat itu, sebagai bahan untuk menentukan apa yang sesungguhnya dibutuhkan. Berdasarkan informasi tersebut guru akan dapat menyusun program pembelajaran yang bersifat realitas sesuai dengan kenyataan objektif.
Menurut Bomstein dan Kazdin (1985)
  • Mengidentifikasi masalah dan menyeleksi target intervensi
  • Memilih dan mendesain program treatmen
  • Mengukur dampak treatmen yang diberikan secara terus menerus.
  • Mengevaluasi hasil-hasil umum dan ketepatan dari terapi.
Menurut Lidz 2003
Proses pengumpulan informasi untuk mendapatkan profil psikologis anak yang meliputi gejala dan intensitasnya, kendala-kendala yang dialami kelebihan dan kelemahannya, serta peran penting yang dibutuhkan anak.  Hasil Kajian dari Pengertian diatas adalah sebagai berikut :
Tujuan asesmen adalah untuk melihat kondisi anak saat itu. Dalam rangka menyusun suatu program pembelajaran yang tepat sehingga dapat melakukan layanan pembelajaran secara tepat.
Tujuan Asesmen
Menurut Robb
  • Untuk menyaring dan mengidentifikasi anak
  • Untuk membuat keputusan tentang penempatan anak
  • Untuk merancang individualisasi pendidikan
  • Untuk memonitor kemajuan anak secara individu
  • Untuk mengevaluasi kefektifan program.
Menurut Sumardi & Sunaryo (2006)
  • Memperoleh data yang relevan, objektif, akurat dan komprehensif tentang kondisi anak saat ini
  • Mengetahui profil anak secara utuh terutama permasalahan dan hambatan belajar yang dihadapi, potensi yang dimiliki, kebutuhan-kebutuhan khususnya, serta daya dukung lingkungan yang dibutuhkan anak
  • Menentukan layanan yang dibutuhkan dalam rangka memenuhi kebutuhan-kebutuhan khususnya dan memonitor kemampuannya.
Menurut Salvia dan Yesseldyke seperti dikutif Lerner (1988: 54)
Asesmen dilakukan untuk lima keperluan yaitu :
  • Penyaringan (screening)
  • Pengalihtanganan (referal)
  • Klasifikasi (classification)
  • Perencanaan Pembelajaran (instructional planning)
  • Pemantauan kemjuan belajar anak (monitoring pupil progress)
Berdasarkan hasil kajian dari teori-teori diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa :
“Asesmen dilakukan untuk mengetahui keadaan anak pada saat tertentu (Waktu dilakukan asesmen) baik potensi-potensinya maupun kelemahan-kelemahan yang dimiliki anak sebagai bahan untuk menyusun suatu program pembelajaran sehingga dapat melakukan layanan / intervensi secara tepat.
  • Ruang Lingkup
  • Motorik
  • Kognitif
  • Emosi
  • Perilaku adaptif
  • Bahasa
Masalah-masalah Akademik
Perbedaan antara asesmen pendidikan, asesmen medis, asesmen sosiokultural dan asesmen psikologis bisa dilihat dari aspek-aspek sebagai berikut :
  • Tujuannya
  • Ruang lingkup
  • Asesornya.
Untuk mengadakan asesmen bagi ABK tidak bisa hanya satu asesmen, tetapi harus lengkap agar informasi yang diperoleh tentang anak ABK dapat diketahui dengan lengkap, baik informasi pendidikan, informasi medis, informasi sosiokultural ataupun informasi psikologis anak tersebut dan selanjutnya dapat memudahkan dalam membuat program pembelajaran bagi anak tersebut

Perkembangan gerak/motorik bayi lambat ?

Dari milis ayahbunda / booklet bonus ayah bunda
Sebenarnya anda dapat mendeteksi keterlambatan motorik kasar anak.
Gejala-gejala tersebut antara lain :
Bayi terlalu kaku atau terlalu lemah
Perhatikanlah apabila si kecil terus berbaring tanpa melakukan gerakan apapun serta kepalanya tidak dapat diangkat saat digendong. Ini menunjukkan motorik aksar si kecil terlalu lemah.
Gerak anak kurang aktif
Perhatikan bila gerak anak kurang aktif jika dibandingkan dengan anak sebayanya. Misalnya pada usia 6 bulan belum dapat tengkurap.
Kapan Kita Perlu Waspada ?
Ukuran kepala abnormal
Anak yang kepalanya terlalu besar atau terlalu kecil dibandingkan dengan anak sebayanya. Misalnya kasus Hidrosefalus (cairan menimbun dalam otak) atau mikrosefalus (kepala kecil akrena otak tidak tumbuh dengan maksimal)
Proses persalinan tidak mulus
Proses kelahiran sulit misalnya persalinan macet (bayi tidak dapat keluar sehingga bayi tidak langsung menangis) ini juga dapat mengganggu perkembangan motor kasar si kecil.
Penyebab keterlambatan motor kasar.
Penyebab ketelambatan motor kasar, menunjukkan adanya kerusakan pada susunan saraf pusat seperti Celebral Palsy (gangguan sistem motorik yang disebabkan oleh kerusakan bagian otak yang mengatur otot-otot tubuh), perdarahan otak, benturan (trauma) kepala yang berat, adanya kelainan sumsum tulang belakang, penyakit saraf tepi, atau Poliomielitis yang menyebabkan kelumpuhan, dan terakhir Distrofia Muskulorum atau penyakit otot.
Faktor pengahambat lainnya.
Selain berbagi penyebab keterlambatan motorik kasar anak, ada juga faktor-faktor yang dapat mengahambat motorik kasar anak, yaitu :
Trauma di kepala, misalnya akibat kelahiran yang sulit. Anak yang memiliki intelegensia rendah.
Kelahiran prematur.
Anak kekurangan gizi sehingga otot-otot tubuhnya tidak berkembang dengan baik dan ia tidak memiliki tenaga yang cukup untuk melakukan aktivitas.
Anak yang sangat berhati-hati ketika belajar berjalan.
Anak takut jatuh atau cedera, padahal ia sudah dapat berjalan sambil dipegang tangannya.
Tetapi kalau pegangannya lepas si kecil akan mogok berjalan dan langsung duduk.
Orangtua yang terlalu protekftif (melindungi) sehingga menghambat anak untuk melatih ketrampilan motorik kasarnya.
Cara Mengatasi Keterlambatan
Jika memang ditemukan adanya keterlambatan dalam perkembangan motor kasar si kecil, harus segera ditelusuri penyebabnya sebelum menentukan apa yang harus dilakukan. Bila penyebabnya karena masalah perbedaan pola asuh (terhadap jenis kelamina anak) atau orangtua yang terlalu protekftif, maka pertama-tama yang harus diubah adalah sikpa orang tua. Orang tua harus membiarkan anak bergerak bebas sebatas tidak membahayakan si kecil. Dengan upaya ini si kecil semakin terpicu untuk melatih semua tahap perkembangan motor kasarnya.
Tetapi kalau penyebab keterlambatan tersebut karena kelainan tubuh tertentu maka harus dikonsultasikan dengan dokter anak. Berbagai kelainan tersebut misalnya otot yang tidak berkembang secara optimal atau
karena adanya gangguan saraf tepi, kelainan sumsum tulang belakang, kurangnya tenaga untuk beraktivitas, ukuran kepala bayi yang abnormal serta kerusakan susunan saraf pusat. Melalui berbagai pemeriksaan dokter
dapt mendiagnosa penyebabnya dan mengatasi gangguannya.
Selain kedua hal di atas masalah keterlambatan perkembangan motor kasar si kecil dapat pula disebabkan kurangnya ia bergerak atau kurangnya rangsangan. Kalau hal ini yang terjadi tata laksana yang dapat dilakukan
adalah dengan rehabilitasi medik antara lain melalui fisioterapi.
Fisioterapi dapat menajdi salah satu alternatif jalan keluar yaitu dengan melatih otot-otot tubuh si kecil sehingga kemampuan motor kasarnya diharapkan berkembang optimal.
Untuk menjadi manusia yang sempurna sejak dalam kandungan bayi mengalami proses tumbu kembang yang kompleks. Dan hal ini berlangsung tahp demi tahap seiring dengan bertambahnya usia seorang anak. Bisa saja tahapan perkembangan motor anak tidak sesuai dengan perkembangan normal. Karena pertumbuhan dan perkembangan setiap anak memang tidak sama, tetapi seperti diketahui, keterlambatan ini ada yang tergolong normal, sebaliknya ada yang tidak. Bila masih tergolong normal dengan lingkungan yang mendukung
atau rangsangan yang tepat maka keterlambatan ini bisa dikejar. Tapi bila keterlambatannya karena suatu kelainan maka anak harus mendapat penanganan yang tepat.
Oleh karena itu disinilah peran penting orang tua untuk memantau dan memperhatikan perkembangan anak tahap demi tahap. Dengan demikian bila ada kelainan dapat segera diketahui dan ditangani secara cepat dan
tepat

Selasa, 28 Desember 2010

Layang-Layang yang Terputus


Aku adalah cewek yang begitu lemah empat tahun yang lalu. Namun seseorang merubahku. Dia menjadikanku lebih kuat setelah apa yang dia lakukan terhadapku. Akhirnya sekarang aku bisa menjalani hariku sendiri. Aku bisa menghadapi masalahku tanpa bantuan orang lain dan aku sangat membenci apa yang mereka sebut cinta.  
Itu semua berawal dari bulan Mei, satu bulan sebelum acara kelulusan. Tiap hari aku dan dia berlatih bersama untuk mengisi pertunjukan di acara kelulusan nanti. Aku berlatih dance dan dia band. Aku Ata dan dia Atar. Nama kami hampir sama hanya berbeda pada huruf “R” yang mengakhiri nama Atar. Kesamaan itu membuat orang-orang menyebut kami pasangan serasi.
“Say, aku latihan sama temen-temen, nanti kalau udah mau pulang sms aku.” Begitulah kiranya Atar memberikan perhatian padaku sebelum ia bergabung dengan teman-temannya. Ia memanggilku Say untuk menekankan hubungan kami, begitu pula aku. Aku menganggukkan kepalaku dan ia mengerti isyarat itu.
Saat itu aku masih pendiam. Aku begitu mengirit kata-kataku. Seolah-olah satu kata begitu bernilai mahal untukku. Sampai-sampai menjawab sesuatu jarang dengan perkataan.
“Ata, sini! Latihan udah mau dimulai nih!” Sebuah aba-aba dari Laras, sahabatku, memanggilku untuk segera berjalan ke arahnya.
“Ta, aku heran kenapa Atar bisa suka sama kamu, secara kamu itu kayak patung. Kalau jawab iya pakai anggukan, kalau nggak pakai gelengan. Haduh, makin heran lagi kenapa juga aku bisa betah sama kamu ya!” Aku hanya tersenyum mendengar celotehan dari mulut Laras. Kubayangankan dia seorang dukun yang sedang komat-kamit baca mantra.
Sambil menggerakkan tubuhnya mengikuti musik pengiring yang diputar, Laras masih sempat menceramahiku, “Ta, kamu nggak cemburu sama tuh si Violent, vokalis cewek di bandnya Atar? Liat tuh mereka pakai tatap-tatapan segala, berasa dunia milik mereka berdua. Padahal kan kamu dari sini bisa lihat mereka. Nggak punya hati banget sih mereka.”
Aku menoleh ke arah Atar sesaat dan yang kuterjemahkan itu hanya tatapan biasa antara vokalis dan gitarisnya.
“Ta, Ta, liat itu tangannya Atar dipegang. Gila ya, mau manas-manasin kamu tuh! Wah, ada yang nggak beres tuh! Tuh jarinya Atar diapain?”
Aku sama sekali tak ingin mendengarkan kata-kata dari Laras, tapi tetap saja kata-kata itu masuk di telingaku. Tak lama kemudian Laras ditegur oleh ketua kelompok karena ia sibuk mengurusi masalah orang lain.
***
Ketika latihan telah usai Atar menemuiku. Kulihat jari kanannya terluka dan  aku pun akhirnya angkat bicara, “Say, jari kamu kenapa?”
“Oh, tadi waktu latihan senarnya putus. Kena deh jariku, tapi nggak pa-pa kok, Say.” Aku tahu ia sedang menenangkanku. Ia berusaha menutupi semua dariku agar aku tak panik.
“Bener nggak pa-pa? Sini aku pegang! Aku mau liat,” seruku.
“Nggak usah, Say! Udah nggak sakit kok. Bener deh! Suer!” Ia mencoba melihatkan ketangguhannya sebagai seorang laki-laki.
“Ya udah. Lain kali aku yang obati yah!” sindirku secara halus.
“Kok kamu bilang gitu sih? Kamu tadi liat aku diobati Violent?” selidiknya.
“Udahlah nggak usah dibahas! Aku mau pulang.”
Kata-kata itu terucap spontan. Ada sebuah perasaan yang mendesak untuk bertanya panjang lebar padanya. Namun ada perasaan lain yang mencoba menahan pertanyaan-pertanyaan itu.
Di tengah perjalanan pulang Atar mengucapkan kata-kata yang membuatku sedikit tersinggung, “Say, kenapa kamu diem lagi? Padahal tadi kamu udah lumayan lho bicaranya.” Terdengar sebuah candaan baginya tapi tidak untukku.
“Jadi, kamu pengennya aku bicara terus?” Nadaku meninggi.
“Nggak, gitu juga sih! Yah, setidaknya kamu bicara sesuatu, biar nggak hening, jelasnya jujur.
“Oh, gitu!” sahutku ketus.
“Kamu marah, Say?” Ia menatapku, menggantungkan pertanyaannya ke arahku.
“Nggak,” jawabku ketus.
“Maafin aku yah, kalau kata-kata aku tadi menyinggung perasaan kamu. Aku bakal terima kamu apa adanya kok.”
Baru satu bulan kata maaf dan menerima apa adanya keluar dari mulutnya lebih dari tiga puluh kali. Aku makin memikirkan kata-kata Laras. Mungkin ada benarnya kata-kata Laras.
“Say, kenapa kamu pilih aku?” Muncul begitu saja pertanyaan itu dari mulutku.
“Kenapa baru sekarang kamu tanya itu? Ya jelas donk, karena kamu itu pendiem, smart, rajin, nggak aneh-aneh, simple dan cantik pastinya.”
Kata-kata yang berhasil kucerna adalah kebalikan dari itu. Kata-kata itu justru membuatku tak yakin dengannya. Kalau saja kata-kata itu memang jujur dari hatinya.
***
Mei sudah dipenghujung, bulan Juni sudah menapaki jejaknya. Saat mendebarkan tiba. Hasil kelulusan dibacakan. Aku dan Atar dinyatakan lulus. Kami bersorak gembira menyambutnya. Acara kelulusan pun dimulai. Laras menarik tanganku menjauh dari Atar.
“Ta, kau lihat pakaian Atar mirip dengan yang dipakai Violent,” bisik Laras di tengah keramaian.
“Itu. Wajarlah Ras, mereka kan bakal ikut tampil costum juga harus disesuaikan dong! Kamu pikir pakaian kita nggak sama?” tukasku.
“Serius, Ta. Ini itu seperti couple. Kau tak cemburu? Violent cantik dan Atar keren. Kau benar tak keberatan jika Atar tampil dengan Violent? Kenapa dulu vokalisnya bukan kamu aja sih?” Laras bertanya panjang lebar seperti memojokkanku.
“Ya, memang mereka terlihat seperti couple. Tapi aku merasa mereka tak cocok. Soal kenapa vokalisnya bukan aku ya karena aku udah ikut dance. Padahal Atar pernah menawariku.”
“Kenapa kamu tolak? Seharusnya kamu ikuti ajakan Atar,” gumam Laras seperti sebuah seruan.
“Kamu kenapa sih, Ras? Sepertinya kamu tak suka sama mereka,” tanyaku bingung.
“Bukan begitu, Ta. Aku kasihan sama kamu. Atar diam-diam jadian sama Violent. Apa kamu sadar perubahan Atar akhir-akhir ini? Aku yang bukan siapa-siapanya bisa menebak kalau mereka berdua ada sesuatu,” jelas Laras begitu meyakinkan.
“Ya, mungkin perubahan dia karena sibuk dengan persiapan hari ini.”
“Hello!! Ta, kamu polos banget. Atar tak seperti yang kamu pikir. Kamu tahu saat dia menembakmu dia masih pacaran dengan temanku. Sekarang wajar kalau dia dengan Violent.”
“Ras, udahlah! Biarkan aku yang mengatasi ini sendiri. Kalaupun Atar memang seperti itu mungkin aku bisa mengambil keputusan dengannya.” Sepertinya Laras tak suka hubunganku dengan Atar. Sikapnya baru ditunjukkan dua bulan terakhir. Entah apa yang merasukinya hingga ia menjadi seperti itu. Suka mencampuri urusan orang lain.
“Baiklah. Aku tak mau ikut campur. Aku hanya memperingatkan agar kau waspada sewaktu-waktu Violent bisa merebutnya dari tanganmu.”
Aku geram dengan Laras akhirnya kutinggalkan ia sendiri sementara kakiku melangkah mencari Atar. Kulihat Atar sedang berada di atas panggung. Aku berdiri melihatnya dari jarak jauh. Lagi-lagi senar gitar Atar putus, jarinya terluka lagi.
Saat aku berusaha mendekatinya bermaksud ingin mengobati, Violent lebih dulu mencuri start. Ia mengeluarkan sesuatu tuk mengobati jari Atar. Kepalaku penuh dengan pikiran buruk. Kata-kata Laras mulai merasukiku, menjalar ke sekujur tubuhku. Kini aku mulai merasakan cemburu.
Atar turun dari panggung. Posisinya digantikan dengan orang lain. Ia terlihat seperti mencariku tapi aku sembunyi darinya. Kulihat dari jauh Atar bertanya pada Laras, “Ras, Ata mana? Aku butuh dia nih.”
“Kamu cari Ata? Dia udah pulang. Kamu terlalu asyik dengan Violent. Kamu tahu dia melihatmu tadi di atas panggung? Aku sebagai sahabatnya hanya ingin memperingatkanmu agar berhati-hati dengan Ata. Sekali kau melukainya aku takkan membiarkanmu tenang.”
Aku terisak di balik tembok. Jari kugigit agar tak bersuara tapi sosok laki-laki tegap itu membuatku menyeka air mataku.
“Kamu menangis, Ta?” tanyanya menyelidik.
“Nggak, cuma terharu aja denger lagu yang kalian bawakan,” ujarku tak jujur.
“Tapi mata kamu sampai merah tuh. Beneran kamu nggak pa-pa?” tanyanya lagi.
“Bar, aku nggak pa-pa kok,” ujarku meyakinkannya. Kupaksakan senyum dari bibirku meskipun ia tahu senyumku palsu.
“Sudahlah, aku tahu bagaimana perasaanmu. Tak kau katakan pun aku tahu. Kau sudah dihasut oleh Laras kan? Soal Atar dengan Violent itu tak benar. Kau tahu siapa sebenarnya Violent itu? Dia adik sepupu Atar. Jadi kau tenang saja,” ujar Bara menjelaskan.
Ia berhasil membuatku lega dan tersenyum meskipun aku harus menerima kenyataan bahwa Laras sudah terbukti tak menyukai hubunganku dengan Atar.
“Sekarang temuilah Atar, dia mencarimu sedari tadi. Sejak Laras menculikmu darinya,” desis Bara membuatku bergidik.
“Okei, aku akan menemuinya. Thank’s, Bar. Aku bangga punya teman sepertimu.”  Aku segera beranjak mencari Atar meski tak kutemukan ia di dalam ruangan itu. Akhirnya aku pun mencarinya di luar.
Entah mana yang harus kupercayai kini. Ketika aku beranjak mencarinya kutemukan Atar berduaan dengan Violent dan terlihat seperti sepasang kekasih. Tangan Atar memegang tangan Violent begitu eratnya. Sesekali diciumnya jemari itu. Hati mana yang tak geram. Sepupu dari mana itu, tak mungkin seorang sepupu diperlakukan lebih dari kekasihnya.
Aku tak bisa menangis lagi. Air mataku sudah terlanjur kering. Aku memberanikan diriku menghampirinya. Matanya membelalak saat tahu aku di depannya. Tanpa sela kata aku meminta putus dengannya. Ia sama sekali tak menolak. Semakin kuat keyakinan itu. Ternyata berakhir masa-masa sekolahku bersamaan dengan berakhirnya hari-hari indahku bersamanya. Ibarat ia layang-layang yang terputus sampai kapan pun aku tak akan mengejarnya lagi. Dia adalah masa lalu.
Kini aku tak pernah percaya lagi pada cinta. Cinta sangat tak logis untukku. Hanya kata-kata manis yang tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Hanyalah omong kosong belaka. Tapi aku suka melihat orang-orang yang sedang jatuh cinta karena tingkah mereka begitu lucu.
***

Memori Kilat

Amboi,
Siapa lelaki itu, berhenti tepat di hadapku?
Cerah berbinar tampak menyilaukan mata
Tersudut aku memandangnya
Ingin ku kait dengan kailku
Umpan sapa senyum berbunga

Tuhan maaf jika mata ini jelalatan
Bukan maksud hati bilang suka
Tapi jujur aku terpesona
Makhluk ciptaanmu itu begitu sempurna
Bola matanya, kulitnya, parasnya
Membuat mataku melekat di dirinya

Memori terindah sepanjang hariku ini
Seperti tempat itu ia mengisi energiku
Saat dunia menyajikan kepenatan cinta
Saat hati tak bisa berpindah ke lain tempat

Satu detik dua detik aku lunglai
Kupandang gadis itu di luar gerbang merah putih
Melambai-lambai membuyarkan pesonanya
Duh, teganya
Dia sudah ada yang punya
Usailah pesona kilat itu
Berganti mesin yang melaju
:  Meninggalkannya
   Selamat tinggal
 
Solo, 20 Desember 2010
di POM BENSIN

Selasa, 21 Desember 2010

Elegi Esok Pagi


Tengah malam aku masih aku masih berkutat pada tugas untuk pagi ini. Pikiranku terbagi-bagi antara mengumpulkan tugas yang deadline-nya jatuh pagi ini, ujian dan presentasi dua mata kuliah sekaligus. Aku membolak-balikkan tiap halaman buku bersampul orange yang seharusnya bisa membuatku bersemangat tetapi ternyata tidak berefek apa-apa.
Mataku terkantuk, badanku lemas, pikiranku melayang entah kemana dan aku masih di istanaku belum beranjak sama sekali ke tempat merantau. Sedangkan kuliah pagi ini akan dimulai pukul 08.30 WIB. Parahnya aku harus naik bus pagi-pagi. Perjalananku ke sana bisa menempuh waktu tiga jam dengan bus yang biasa aku naiki. Aku tak bisa berharap banyak, sampai tepat waktu aku sudah bersyukur.
“Lin, kakakmu tak bisa menjemputmu ke sini. Ia hanya bisa menjemput di terminal sana. Jadi mau tak mau nanti kamu naik bus. Papa hanya akan mengantarmu di halte depan sampai kamu dapat bus,” ujar Papa. Kata-kata itulah yang membuatku lemas.
 “Katanya kakak kemarin mau ke sini jemput Alin. Gimana sih?” ujarku kesal.
“Tadi kakakmu sudah berangkat. Tapi berhubung bannya bocor  dia mengurungkan niatnya,” ujar Papa menjelaskan tapi aku terlanjur kesal.
Pukul 02.00 WIB. Hati bergejolak. Aku harus merelakan waktu tidurku demi pagi ini, sampai kampus tepat waktu.
***
Akhirnya dua jam berlalu. Waktu tidurku habis. Jam empat pagi aku memaksa mataku tuk terbuka. Kusingkirkan rasa dingin saat air yang nyaris membeku menyentuh kulitku saat mandi. Gigiku gemeletuk nyaring, udara dingin menerobos kulit meski jaket tebal telah menyelimuti tubuhku.
Langit masih terlihat kelam. Bintang masih berpendar riang, kerlap-kerlip menggoda dan bulan masih menampakkan senyumnya dalam sabit. Lampu-lampu kota masih menyala. Kulihat jalanan lengah. Sesekali truk bermuatan berat berlalu lalang, sepeda motor dan bus masih dapat dihitung.
Jam lima kurang aku menunggu bus jurusan Solo. Entah aku yang tak pernah keluar pagi atau memang hari ini berbeda dari biasanya, ternyata aku tak sendiri orang komuter alias penglaju banyak bertebaran. Dari jauh terlihat seperti lampu bus, berwarna biru mencolok. Tertempel tulisan yang terkena sorot lampu. Kubaca “Ke SOLO-SURABAYA”. Ya aku harus naik bus ini atau aku akan terlambat jika menunggu bus selanjutnya.
Aku sedikit lega saat kondektur membukakan pintu dan kakiku masuk ke dalam. Tapi tiba-tiba aku terpana, inikah kehidupan diwaktu pagi. Bus ini penuh penat. Kursi barisan depan sampai belakang terisi semua. Nasibku seperti sepuluh penumpang yang lainnya, berdiri berbekal pegangan ke sana ke sini untuk berjaga-jaga kalau busnya berhenti mendadak. Beberapa menit kurasakan goncangan dahsyat. Badanku mengikuti irama laju bus ini. Mulutku komat-kamit mengujar doa agar selamat sampai tujuan karena bus ini terkenal melaju cepat.
Beberapa saat bus ini menaikkan penumpang lagi, membuat posisiku semakin terjepit. Di samping kanan kiriku berdiri lelaki tengah baya berperawakan tinggi besar. Di belakangku seorang pemuda yang duduk sedang menikmati tidur nyenyaknya. Sesekali tubuhnya terguncang mengikuti irama tikungan membuat badannya sesekali menyandar ke arahku. Beda lagi dengan bapak-bapak di depanku, ia terlelap begitu nyenyaknya dan tak banyak bergerak. Nikmatnya membuatku iri mengapa ia tak memberikan posisi tempat duduknya padaku, seorang gadis yang baru tidur dua jam.
Ingin rasanya aku berteriak membangunkan orang-orang yang terlelap dengan nyamannya. Namun urat syaraf maluku  belum putus. Jadi, kuurungkan niat itu dan kembali merenungi nasibku. Inikah rasanya menjadi kaum komuter? Ia harus bangun pagi-pagi karena harus menempuh perjalanan panjang untuk sampai tempat tujuan. Disaat orang-orang di sana nyaman terlelap di rumah, nasib mereka justru kebalikannya. Mereka berada di dalam bus dengan posisi tidur yang tidak nyaman jika mereka memutuskan untuk tidur. Tapi bagi mereka yang tak pernah mendapatkan tempat duduk sepertiku hari ini mungkin tak pernah bisa merasakan nikmatnya tidur tiap pagi.
***
Teman-teman menatapku lekat yang masuk ke kelas dengan tergopoh-gopoh. Bu dosen memincingkan matanya ke arahku begitu tajam seperti ingin mencabik-cabikku yang datang terlambat lebih dari satu setengah jam. Seharusnya satu setengah jam itu kupakai untuk persentasi dan ujian. Tapi aku melewatkan itu semua.
Lima orang temanku tampak garang. Mereka mendekatiku dengan sangat-sangat dekat aku pun mundur beberapa langkah. Namun tak sampai di situ saja, mereka mengelilingiku dan satu per satu angkat bicara sampai mengumpat. Saat kutolehkan wajahku ternyata Ibu dosen telah menghilang membuat mereka semakin mengerikan.
“Gara-gara kamu terlambat kita nggak dapat nilai tahu!!!” semprot seorang anggota kelompokku.
“Kau tahu kesalahanmu? Aku sudah bilang kau yang membawa semua file, itu artinya kau harus datang lebih pagi,” tambah seseorang yang lain.
“Maaf. Aku udah berusaha tapi inilah hasil akhirnya, aku terlambat,” ujarku dengan penuh rasa bersalah.
“Maaf? Apa hanya kata itu yang bisa kau ucapkan? Setelah semua ini terjadi? Apa kau bisa mengembalikan semua ini ke posisi awal? Hah? Tak bisa kan? Kita semua nggak dapat nilai karenamu. Kau yang harus bertanggung jawab.” Seseorang yang lain lagi menimpali.
“Pokoknya aku tak rela kalau aku nggak dapat nilai. Seharusnya hanya kamu yang nggak dapat nilai tapi kami semua juga kena. Sepenuhnya ini semua karena kesalahanmu. Kesalahanmu,” bentak seseorang lagi mencaciku.
Perfect. Empat orang telah memakiku, menginjak-injak harga diriku. “Mimpi apa aku semalam? Padahal hanya dua jam tak mungkin aku mimpi macam-macam,” pikirku dalam hati.
Tersisa satu orang lagi, Dinda, sahabatku tapi ia tak memakiku.  
“Din, kau tak membelaku?”
Dinda mengacuhkanku. Ia sama sekali tak menjawab kata-kataku. Ia justru keluar dari ruang kelas. Aku berusaha mengikutinya namun tiba-tiba sebuah benda keras menghantam kepalaku.
***
Tiba-tiba aku dalam bus lagi. Kepalaku terasa sakit. Orang-orang memperhatikanku dengan wajah-wajah kepiting rebus karena menahan tawa.
“Oalah, Nak. Sempet-sempetnya tidur dalam keadaan seperti ini,” komentar bapak-bapak di sampingku. Aku hanya bisa nyengir. Aku berterima kasih karena tasnya telah membangunkanku dari mimpi buruk.
Rupanya sepanjang perjalanan aku tertidur. Beruntung kepalaku hanya terbentur tas bapak-bapak di samping kiriku yang mungkin isi tasnya adalah besi. Tapi setidaknya rasa sakit itu hanya sesaat.
Aku senang ternyata semua itu terjadi di alam mimpi (kecuali benturan tas itu). Persentasi dan ujian itu belum kulewatkan dan aku tak akan disemprot kata-kata kasar itu. Namun sepertinya ada satu yang tetap tak bisa ku lewatkan pula, aku harus tetap tersenyum atau nyengir sepanjang perjalanan karena mereka masih terus mengamatiku. Mungkin melihat benjol di kepalaku atau melihat tingkah konyol seorang mahasiswa tertidur di bus ekonomi dengan keadaan berdiri. Ya mungkin sayalah pemecah rekornya.
Terima kasih, terima kasih. Tidak usah salut. Saya memang memalukan.

Sabtu, 18 Desember 2010

No Name

 
 
semacam petir rindu ini menghantar
tak bisa melakukan apa-apa
tiba-tiba seperti kau
dia berubah seperti kau
ketika semua tak bisa bersenyawa
haruskah kau ada

tak kulakukan dan seharusnya tak kulakukan
aku tak perlu mencintai yang lain tak perlu
tapi saat kau tak ada mengapa semuanya ikut berubah
hidupku, mimpiku, harapanku, cita-citaku
dan rasa yang lain pun menjadi ada ketika aku ragu dimanakah air itu akan bermuara

aku takut jika kau takkan ada lagi
di saat perasaanku telah lebur dalam kesia-siaan dan berganti...

air seperti apa yang coba aku kiaskan
jika air sungai bercampur aduk
air laut pun hanya bisa menguap ke langit
air hujan pun bisa saja terhenti

jika aku melihat bintang kuingin kau melihatnya dan menunjukkan satu bintang padaku
jika aku merindukanmu aku tak perlu mencarimu
karena bintang itu akan temani malamku
tapi kau, kau
tetap saja kau, melihatmu saja aku tak bisa
mendengar suaramu pun tak sanggup
mengharap hadirmu pun tak kan bisa


harus berapa lama aku mencarimu,,

hanya tangisku yang mengudara
hanya senyum palsuku yang mengembang di langit-langit
merenung, menyendiri, menghampiri sunyi
itulah yang kulakukan saat aku tak berhasil menemukanmu
dan ketika aku menahan rinduku
 
18 Februari 2010

Pilihan Hati


Tak habis kata saat kau menyulut bara api dalam hati
Mengebu-gebu tak mendesis perlahan
Tak bisa padam
Tapi tak pernah kuingat lagi sejak itu

Keangkuhanmu membuat hatiku luluh
Seiring waktu yang berjalan

Hatiku jatuh pada sebuah pilihan
     :   Kamu
Tapi kita tak ada di waktu yang sama
Aku menghilang saat embun terhapus matahari
Sementara kau mungkin masih bertengger di atas sana
mungkin pula terbang

Tak sulit saat pilihan kuletakkan padamu
Hanya saja kau tersembunyi di balik waktu
Aku tak pernah bisa menemukanmu sampai hari ini

Jumat, 17 Desember 2010

Kosong

....................................
:                                   :
:                                   :
:                                   :
.....................................
.
Tak bisa lagi kata-kata itu diterjemahkan
Ketika pena tak lagi menari di atas kertas
Tak guna lagi
        Tak bisa lagi
               Tak mampu lagi

Penggalan kata hanya dapat diingat
Karena ini semua sebenarnya tak berisi

Solo, 17 Desember 2010

Lose Contact

“Tapi engkau terus pergi, tapi engkau terus berlari. Jadi biarkanlah aku di sini… Biarlah kurela melepasmu meninggalkan aku. Berikanlah aku kekuatan untuk lupakanmu. Kau jauh dariku kau tetap menjauh dari aku…”
Biarlah-Nidji

Via telepon, Bo menyanyikan lagu itu untukku. Ia menegaskan kembali  perasaannya setelah 2 tahun berlalu dan selama itu kami lose contact. Entah kesalahan atau tidak, ketika aku meminta nomer Bo pada Tata, sahabatku. Karena menurut kabar yang kudengar Tata satu sekolah dengan Bo dan secara kebetulan Tata bercerita banyak tentang Bo, terutama tentang julukannya sebagai playboy di sekolah. Mungkin karena aku tertarik dengan kata playboy itu maka kuputuskan untuk meminta nomer Bo.
Namun, sepertinya keputusan itu salah. Semakin aku rutin mengirim SMS padanya semakin aku memberi harapan-harapan kosong padanya. Terbukti ia selalu memujiku, ia merendahkan dirinya dihadapanku dan membandingkan dirinya dengan mantanku. Meski ia membuka kembali bekas luka lamaku, dia bisa menguburnya hingga sedikit rasa itu hampir muncul dibenakku. Sayang rasa itu pergi dengan cepat saat lagu itu ia nyanyikan.
Ia membuatku berpikir ulang tentang perasaanku padanya. Ia saja telah menyerah bagaimana bisa aku bertahan. Apalagi setelah lagu itu berakhir ia meminta maaf padaku karena lancang mencintaiku dan mengatakan ia rela putus dengan kekasihnya demi aku.
Mulut ini ingin rasanya aku sumbat, saat kukatakan, “Terima kasih karena kamu udah jujur dengan perasaanmu. Saat ini aku masih tak tahu dengan perasaanku sendiri. Beri aku waktu untuk meyakinkan diriku. Paling tidak sampai usiaku tujuh belas tahun…”
***
Waktu untuk memenuhi janjiku telah tiba, aku tak bisa mengambil kesimpulan apa-apa. Aku masih ragu dan tak berani mengatakan sesuatu. Aku takut dia terluka dan akan melampiaskan kekesalannya pada wanita-wanita yang ditemuinya. Aku pasrah dan hanya bisa berharap ia tak menagih janjiku.
Tiba-tiba sebuah ada new message dari Bo. Keringat dingin bercucuran. Semoga ia lupa, semoga ia lupa, itulah kata yang berulang kali kuucapkan.
“Sebenarnya aku mau bicara sesuatu sama kamu. Sepertinya mulai sekarang aku putuskan untuk menyerah dan nggak akan mengejar kamu lagi. Aku seperti ini karena aku sadar memang lebih baik kita berteman, menjadi dua orang yang saling mengerti, saling melindungi dan terikat dengan persahabatan. Lagipula banyak yang nggak setuju kalau aku tetap seperti ini ke kamu. Jadi maaf cuma sampai di sini. Sekali lagi maaf.”
Benar-benar seperti petir yang menyambar. Dia mengatakannya sebelum aku berani berkata apa-apa. Sebelum aku mengambil kesimpulan untuk hubungan ini. Mungkin saja telah habis kesabarannya menungguku bertahun-tahun tanpa jawaban pasti, atau mungkin dia ingin mengingatkanku pada kata-kataku, “….mungkin saat usiaku tujuh belas tahun nanti, aku bisa berpikir dengan logis. Tapi bukan berarti aku menolakmu dan bukan berarti aku akan menerimamu. Jika kau mau tahu jawabanku tunggulah saat usiaku tujuh belas tahun.”
Tak kusangka ia akan mengirim kata-kata seperti itu padaku. Benar-benar kado terdahsyat di hari ulang tahunku. Jujur aku merasa bersalah. Tak semestinya aku menahan keraguanku. Mengapa waktu itu tak kukatakan saja kalau aku tak bisa menerimanya karena usia kami terpaut satu tahun. Meskipun satu angkatan tapi aku merasa seperti kakak baginya dan dia adik bagiku.
Tata pernah memperingatkanku untuk hati-hati dengan ucapanku. Orang yang jatuh cinta lebih menggunakan perasaan daripada logikanya. Sungguh tak bisa kupercaya aku sudah terlanjur terjebak di dalam perasaannya.
***
Ketakutan dan rasa gelisahku berkecamuk dalam hati saat tiba-tiba Tata mengajakku bertemu di tempat kami biasa bertukar cerita. Ingin rasanya aku bercerita tentang apa yang terjadi antara aku dan Bo tapi firasatku mengatakan  jangan katakan itu.
“Tya, kemarin aku bertemu Bo. Dia tanya tentang keadaanmu. Memangnya apa yang terjadi sama kalian berdua?” Tata curiga.
“Lho, bukannya wajar ya, ketika beda sekolah jarang bertemu terus tanya kabar?” tukasku sambil menyeruput jus apel dilanjutkan menyendok makanan dan memasukannya ke mulutku.
“Hallo! Ini keadaan bukan kabar, Tya! Jangan macam-macam ya! Awas kalau sampai kalian berdua jadian!” ancam Tata.
Aku tersedak saat berusaha menelan makanan yang sudah terlanjur setengah masuk ke kerongkonganku. Apakah Tata sedang berusaha membaca pikiranku? tanyaku dalam hati sambil menenangkan diri.
“Apa? Jadi itu benar?” Tata menatapku dengan garang, mengerikan dan seperti ingin mencekikku.
“Benar apanya sih? Aku nggak ada apa-apa kok sama Bo,” jawabku dengan tenang.
“Itu tadi, soal jadian tadi. Kamu bener jadian sama Bo? Aku kan udah cerita panjang lebar, apa kamu masih belum paham juga? Ini, dengarkan baik-baik, aku ulangi sekali lagi, dia masih punya cewek, dia itu playboy kelas hiu nggak sepolos yang kamu pikir. Aku kan udah peringatin jangan ngasih harapan kosong ke dia! Kamu masih aja memberi harapan-harapan kosong itu,” gerutu Tata.
“Ta, pertama, aku nggak jadian sama Bo. Kedua, Bo bilang dia udah putus dari ceweknya demi mendapatkan hatiku. Ketiga,…..”, jelasku sebelum dipotong Tata.
“Ketiga apa? Kamu ketipu, Tya. Kamu percaya gitu aja sama kata-katanya? Aku lebih tahu dia, Tya. Aku satu sekolah ama dia. Okey, dia boleh aja sih bilang udah putus, tapi ceweknya bilang mereka masih pacaran. Apa kamu lebih percaya sama dia dibanding aku, sahabatmu?” desak Tata.
“Tapi, Ta, soal dia suka sama aku waktu SMP itu nggak bohong. Dia jujur soal itu. Dia nggak main-main sama perasaannya.”
“Ya-ya-ya. Pengecualian untuk itu aja. Lagipula itu udah basi, Tya. Itu dua tahun yang lalu, nggak bisa menjamin masa sekarang.”
“Tapi, Ta, aku merasa bersalah sama dia, mungkin dia playboy gara-gara aku.”
“Tya, singkirin pikiran picik kayak gitu, kalau udah wataknya kayak gitu ya udah, itu bukan salah kamu. Aku nggak mau kamu menyesal suatu saat nanti. Sebagai sahabat aku cuma bisa ngasih peringatan dan saran. Jauhin dia! Itu solusi terbaik untuk kalian berdua!”
Kata-kata itu membuatku tak bisa berkata-kata lagi. Ku urungkan niatku untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Bo. Mungkin inilah yang Bo maksud dengan “banyak orang yang tak setuju” dan salah satunya adalah Tata.
Aku marah pada diriku yang tak bisa tegas dengan perasaanku. Aku benci Bo karena dia telah mengatakan kebohongan yang membuatku memberinya kesempatan. Aku tak tahu apa Bo juga akan membenciku sama seperti aku membencinya dan kini aku tak peduli lagi. Mungkin kata-kata Tata ada benarnya juga, aku harus menjauhi Bo. Aku berjanji tak kan pernah menghubunginya lagi. Kubiarkan semua berjalan begitu saja. Mungkin dengan lose contact akan mengurangi kesakitan kami masing-masing. Tak ada lagi harapan-harapan kosong yang kuberi untuknya. Tak ada lagi rasa sakit dan kecewa karena sebuah kebohongan. Tak akan terdengar lagi kata menyerah yang dulu pernah diucapkannya. Tak kan ada.
Jika suatu saat kami bertemu lagi semua akan kembali seperti semula. Seperti dulu aku tak mengenalnya dan dia tak mengenalku.
Tiba-tiba sebuah pesan singkat muncul di layar hape-ku dari nomer baru.
Met malam, ini bener Tatya kan? Msh inget aku? Ini aku Bo : )
Dia muncul lagi. Glek.
***


Kumpulan Puisi Sutardji Calzoum Bachri

ANA BUNGA
Terjemahan bebas (Adaptasi) dari puisi Kurt Schwittters, Anne Blumme
Oleh :
Sutardji Calzoum Bachri

Oh kau Sayangku duapuluh tujuh indera
Kucinta kau
Aku ke kau ke kau aku
Akulah kauku kaulah ku ke kau
Kita ?
Biarlah antara kita saja
Siapa kau, perempuan tak terbilang
Kau
Kau ? - orang bilang kau - biarkan orang bilang
Orang tak tahu menara gereja menjulang
Kaki, kau pakaikan topi, engkau jalan
dengan kedua
tanganmu
Amboi! Rok birumu putih gratis melipat-lipat
Ana merah bunga aku cinta kau, dalam merahmu aku
cinta kau
Merahcintaku Ana Bunga, merahcintaku pada kau
Kau yang pada kau yang milikkau aku yang padaku
kau yang padaku
Kita?
Dalam dingin api mari kita bicara
Ana Bunga, Ana Merah Bunga, mereka bilang apa?
Sayembara :
                Ana Bunga buahku
                Merah Ana Bunga
                Warna apa aku?
Biru warna rambut kuningmu
Merah warna dalam buah hijaumu
Engkau gadis sederhana dalam pakaian sehari-hari
Kau hewan hijau manis, aku cinta kau
Kau padakau  yang milikau yang kau aku
yang milikkau
kau yang ku
Kita ?
Biarkan antara kita saja
pada api perdiangan
Ana Bunga, Ana, A-n-a, akun teteskan namamu
Namamu menetes bagai lembut lilin
Apa kau tahu Ana Bunga, apa sudah kau tahu?
Orang dapat membaca kau dari belakang
Dan kau yang paling agung dari segala
Kau yang dari belakang, yang dari depan
A-N-A
Tetes lilin mengusapusap punggungku
Ana Bunga
Oh hewan meleleh
Aku cinta yang padakau!
1999
Catatan: Terjemahan Anna Blume dikerjakan untuk panitia peringatan Kurt Schwitters, Niedersachen, Jerman.
OASE: Sajak-sajak Sutardji Calzoum Bachri
Republikaedisi : 28 November 1999


AYO
Oleh :
Sutardji Calzoum Bachri

Adakah yang lebih tobat
dibanding air mata
adakah yang lebih mengucap
dibanding airmata
adakah yang lebih nyata
adakah yang lebih hakekat
dibanding airmata
adakah yang lebih lembut
adakah yang lebih dahsyat
dibanding airmata
para pemuda yang
melimpah di jalan jalan
itulah airmata
samudera puluhan tahun derita
yang dierami ayahbunda mereka
dan diemban ratusan juta
mulut luka yang terpaksa
mengatup diam
kini airmata
lantang menderam
meski muka kalian
takkan dapat selamat
di hadapan arwah sejarah
ayo
masih ada sedikit saat
untuk membasuh
pada dalam dan luas
airmata ini
ayo
jangan bandel
jangan nekat pada hakekat
jangan kalian simbahkan
gas airmata pada lautan airmata
                          malah tambah merebak
jangan letupkan peluru
logam akan menangis
dan tenggelam
             dikedalaman airmata
jangan gunakan pentungan
mana ada hikmah
mampat
karena pentungan
para muda yang raib nyawa
karena tembakan
yang pecah kepala
sebab pentungan
memang tak lagi mungkin
jadi sarjana atau apa saia
namun
mereka telah
nyempurnakan
bakat gemilang
sebagai airmata
yang kini dan kelak
selalu dibilang
bagi perjalanan bangsa
OASE: Sajak-sajak Sutardji Calzoum Bachri
Republika edisi : 28 November 1999


BATU
Oleh :
Sutardji Calzoum Bachri

        batu mawar
        batu langit
        batu duka
        batu rindu
        batu janun
        batu bisu
        kaukah itu
                        teka
                                teki
        yang
        tak menepati janji ?
    Dengan seribu gunung langit tak runtuh dengan seribu perawan
    hati takjatuh dengan seribu sibuk sepi tak mati dengan
    seribu beringin ingin tak teduh.  Dengan siapa aku mengeluh?
    Mengapa jam harus berdenyut sedang darah tak sampa mengapa gunung harus meletus sedang langit tak sampai mengapa peluk
    diketatkan sedang hati tak sampai mengapa tangan melambai
    sedang lambai tak sampai.  Kau tahu
        batu risau
        batu pukau
        batu Kau-ku
        batu sepi
        batu ngilu
        batu bisu
        kaukah itu
                                teka
                        teki
                        yang
        tak menepati
                        janji ?
        Memahami Puisi, 1995
        Mursal Esten


BAYANGKAN
untuk Salim Said
Oleh :
Sutardji Calzoum Bachri

direguknya
         wiski
            direguk
               direguknya
bayangkan kalau tak ada wiski di bumi
sungai tak mengalir dalam aortaku katanya
di luar wiski
           di halaman
                 anak-anak bermain
bayangkan kalau tak ada anak-anak di bumi
aku kan lupa bagaimana menangis katanya
direguk
   direguk
       direguknya wiski
            sambil mereguk tangis
lalu diambilnya pistol dari laci
bayangkan kalau aku tak mati mati katanya
dan ditembaknya kepala sendiri
bayangkan
1977


GAJAH DAN SEMUT Oleh :
Sutardji Calzoum Bachri

tujuh gajah
cemas
meniti jembut
serambut
tujuh semut
turun gunung
terkekeh
kekeh
perjalanan
kalbu
1976-1979

JEMBATAN
Oleh  :
Sutardji Calzoum Bachri

    Sedalam-dalam sajak takkan mampu menampung airmata
    bangsa. Kata-kata telah lama terperangkap dalam basa-basi
    dalam teduh pekewuh dalam isyarat dan kisah tanpa makna.
    Maka aku pun pergi menatap pada wajah berjuta. Wajah orang
    jalanan yangberdiri satu kaki dalam penuh sesak bis kota.
    Wajah orang tergusur. Wajah yang ditilang malang. Wajah legam
    para pemulung yang memungut remah-remah pembangunan.
    Wajah yang hanya mampu menjadi sekedar penonton etalase
    indah di berbagai palaza. Wajah yang diam-diam menjerit
    mengucap
    tanah air kita satu
    bangsa kita satu
    bahasa kita satu
    bendera kita satu !
    Tapi wahai saudara satu bendera kenapa sementara jalan jalan
    mekar di mana-mana menghubungkan kota-kota, jembatan-jembatan
    tumbuh kokoh merentangi semua sungai dan lembah
    yang ada, tapi siapakah yang akan mampu menjembatani jurang
    di antara kita ?
    Di lembah-lembah kusam pada puncak tilang kersang dan otot
    linu mengerang mereka pancangkan koyak-miyak bendera hati
    dipijak ketidakpedulian pada saudara. Gerimis tak ammpu
    mengucapkan kibarnnya.
    Lalu tanpa tangis mereka menyanyi padamu negeri airmata kami.
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air

KUCING
Oleh :
Sutardji Calzoum Bachri

            ngiau!  Kucing dalam  darah dia menderas
            lewat  dia  mengalir  ngilu  ngiau  dia  ber
            gegas  lewat dalam aortaku dalam rimba
            darahku dia  besar dia bukan harimau bu
            kan singa bukan  hiena  bukan leopar  dia
            macam kucing bukan kucing  tapi   kucing
            ngiau dia lapar dia  merambah  rimba  af
            rikaku dengan cakarnya dengan amuknya
            dia meraung  dia mengerang jangan beri
            daging dia tak  mau daging Jesus jangan
            beri  roti  dia  tak   mau   roti   ngiau   ku
            cing   meronta  dalam  darahku  meraung
            merambah  barah  darahku  dia lapar 0 a
            langkah  lapar   ngiau   berapa  juta  hari
            dia  tak  makan  berapa  ribu  waktu  dia
            tak  kenyang  berapa juta lapar lapar ku
            cingku  berapa  abad  dia mencari menca
            kar  menunggu  tuhan mencipta kucingku
            tanpa mauku dan sekarang  dia  meraung
            mencariMu  dia   lapar   jangan   beri  da
            ging   jangan   beri  nasi  tuhan  mencipta
            nya  tanpa  setahuku  dan  kini  dia  minta
            tuhan  sejemput  saja  untuk tenang seha
            ri  untuk  kenyang  sewaktu untuk tenang
        Memahami Puisi, 1995
        Mursal Esten


LA NOCHE DE LAS PALABRAS
(EL DIARIO DE MEDELLIN)
Oleh :
Sutardji Calzoum Bachri

Di cafe jalanan Noventa Y Sieta, Medellin, Columbia
kami mengepung bulan
dan mereka yang mendengarkan puisi kami
mencoba menaklukkan bulan dengan cara mereka
berkomplot dengan anggur daun cerbeza
bersekongkol dengan gadisgadis
memancing bulan dengan keluasan dada
Musim panas
Menjulang di Medelin
menampilkan sutera
di keharibaan malam cuaca
ratusan para lilin
menyandar di pundak malam
mengucap
menyebutnyebut cahaya
sambil mencoba
memahami takdir di wajah-wajah usia
kami para penyair
meneruskan zikir kami
-palabras palabras palabras palabras
-
--kata kata kata kata --
semakin kental mengucap
cahaya pun memadat
sampai kami bisa buat
sesuka kami atas padat cahaya
lantas bulan kesurupan
kesadaran kami meninggi
bulan turun pada kami
dan kami mengatasi bulan
sampailah kami pada kerajaan kata-kata
jika kami membilang ayah
ia juga ayah kata-kata
jika kami menyebut hari
juga harinya kata-kata
jika kami mengucap diri
pastilah juga diri kata kata
Di cafe jalanan Medellin
purnama jatuh
kata-kata menjadi kami
kami menjadi kata kata
Medellin, Colombia 1997
OASE: Sajak-sajak Sutardji Calzoum Bachri
Republikaedisi : 28 November 1999


LUKA

Oleh :
Sutardji Calzoum Bachri

ha ha

MANTERA
Oleh :
Sutardji Calzoum Bachri

                    lima percik mawar
                    tujuh sayap merpati
                    sesayat langit perih
                    dicabik puncak gunung
                    sebelas duri sepi
                    dalam dupa rupa
                    tiga menyan luka
                    mengasapi duka
                    puah!
                    kau jadi Kau!
                    Kasihku
        Memahami Puisi, 1995
        Mursal Esten

NGIAU Oleh :
Sutardji Calzoum Bachri

Suatu gang panjang menuju lumpur dan terang tubuhku mengapa
panjang. Seekor kucing menjinjit tikus yang menggelepar
tengkuknya. Seorang perempuan dan seorang lelaki bergigitan.
Yang mana kucing yang mana tikusnya? Ngiau! Ah gang
yang panjang. Cobalah tentukan! Aku kenal Afrika aku kenal
Eropa aku tahu Benua aku kenal jam aku tagu jentara
aku kenal terbang. Tapi bila dua manusia saling gigitan
menanamkan gigi-gigi sepi mereka akan ragu menetapkan yang
mana suka yang mana luka yang mana hampa yang mana
makna yang mana orang yang mana kera yang mana dosa yang
mana surga.


O
Oleh :
Sutardji Calzoum Bachri

dukaku dukakau dukarisau dukakalian dukangiau
resahku resahkau resahrisau resahbalau resahkalian
raguku ragukau raguguru ragutahu ragukalian
mauku maukau mautahu mausampai maukalian maukenal maugapai
siasiaku siasiakau siasia siabalau siarisau siakalian siasia
waswasku waswaskau waswaskalian waswaswaswaswaswaswaswaswaswas
duhaiku duhaikau duhairindu duhaingilu duhaikalian duhaisangsai
oku okau okosong orindu okalian obolong o risau o Kau O...

PARA PEMINUM
Oleh :
Sutardji Calzoum Bachri

di lereng lereng
para peminum
mendaki gunung mabuk
kadang mereka terpeleset
jatuh
dan mendaki lagi
memetik bulan
di puncak
mereka oleng
tapi mereka bilang
--kami takkan karam
dalam lautan bulan--
mereka nyanyi nyai
jatuh
dan mendaki lagi
di puncak gunung mabuk
mereke berhasil memetik bulan
mereka mneyimpan bulan
dan bulan menyimpan mereka
di puncak
semuanya diam dan tersimpan

SEPISAUPI
Oleh :
Sutardji Calzoum Bachri

sepisau luka sepisau duri
sepikul dosa sepukau sepi
sepisau duka serisau diri
sepisau sepi sepisau nyanyi
sepisaupa sepisaupi
sepisapanya sepikau sepi
sepisaupa sepisaupoi
sepikul diri keranjang duri
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sepisaupa sepisaupi
sampai pisauNya ke dalam nyanyi
1973

TANAH AIR MATA
Oleh :
Sutardji Calzoum Bachri

                Tanah airmata tanah tumpah dukaku
                mata air airmata kami
                airmata tanah air kami
                di sinilah kami berdiri
                menyanyikan airmata kami
                di balik gembur subur tanahmu
                kami simpan perih kami
                di balik etalase megah gedung-gedungmu
                kami coba sembunyikan derita kami
                kami coba simpan nestapa
                kami coba kuburkan duka lara
                tapi perih tak bisa sembunyi
                ia merebak kemana-mana
                bumi memang tak sebatas pandang
                dan udara luas menunggu
                namun kalian takkan bisa menyingkir
                ke manapun melangkah
                kalian pijak airmata kami
                ke manapun terbang
                kalian kan hinggap di air mata kami
                ke manapun berlayar
                kalian arungi airmata kami
                kalian sudah terkepung
                takkan bisa mengelak
                takkan bisa ke mana pergi
                menyerahlah pada kedalaman air mata
                (1991)
                Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air

TAPI
Oleh :
Sutardji Calzoum Bachri

        aku bawakan bunga padamu
                                                        tapi kau bilang masih
        aku bawakan resahku padamu
                                                        tapi kau bilang hanya
        aku bawakan darahku padamu
                                                        tapi kau bilang cuma
        aku bawakan mimpiku padamu
                                                        tapi kau bilang meski
        aku bawakan dukaku padamu
                                                        tapi kau bilang tapi
        aku bawakan mayatku padamu
                                                        tapi kau bilang hampir
        aku bawakan arwahku padamu
                                                        tapi kau bilang kalau
        tanpa apa aku datang padamu
                                                        wah !
     
  Memahami Puisi, 1995
        Mursal Esten


  TRAGEDI WINKA & SIHKA
Oleh :
Sutardji Calzoum Bachri

             kawin
                     kawin
                              kawin
                                      kawin
                                                    kawin
                                              ka
                                          win
                                       ka
                                  win
                              ka
                          win
                      ka
                win
            ka
                winka
                        winka
                                winka
                                        sihka
                                                sihka
                                                        sihka
                                                                sih
                                                            ka
                                                        sih
                                                    ka
                                                sih
                                            ka
                                        sih
                                    ka
                                sih
                            ka
                                sih
                                    sih
                                        sih
                                            sih
                                                sih
                                                    sih
                                                        ka
                                                            Ku
 
       Memahami Puisi, 1995
        Mursal Esten


WALAU
Oleh :
Sutardji Calzoum Bachri

        Walau penyair besar
        takkan sampai sebatas allah
        dulu pernah kuminta tuhan
        dalam diri
        sekarang tak
        kalau mati
        mungkin matiku bagai batu tamat bagai pasir tamat
        tujuh puncak membilang-bilang
        nyeri hari mengucap-ucap
        di butir pasir kutulis rindu rindu
        walau huruf habislah sudah
        alif bataku belum sebatas allah
        Memahami Puisi, 1995
        Mursal Esten 



Kegagalan Mengajariku Arti Kebahagiaan

Aku mendarat di depan rumah berpagar abu-abu. Aku turun dari mobil dan menatap rumah itu. Tanganku ditarik dan dia melangkah lebih du...