Langsung ke konten utama

Diary Geblek





"KUBILANG JANGAN MENYERAH, YA JANGAN MENYERAH!!!"

Hah, kalah telak aku sebelum bertanding. Aku geram dan mendengus kesal. Kututup semua jendela aplikasi yang telah kubuka. Aku kecewa berat bukannya mendapatkan durian runtuh tapi hanya kulitnya. Hanya kurang satu click pada tulisan "kirim" itu semua mimpiku akan menjadi nyata.

Sia-sia kubayangkan karyaku akan dibaca orang lain. Paling tidak seharusnya namaku pernah terpampang di sana, kurasa itu bisa mengurangi rasa kecewaku. Lagi-lagi seandainya saja. Aku terlalu banyak berandai-andai. Sampai aku tak bisa menelaah kata-kata yang mirip dengan tinta ungu pada cumi-cumi -- melumpuhkan mangsa. Sayang seribu sayang, aku lupa pada usiaku sendiri. Aku baru sadar ternyata aku sudah tua sebentar lagi kepala dua.

Seandainya saja syarat-syarat itu tak pernah kubaca ulang, rasa kecewaku takkan setinggi pohon kelapa. Semua syarat telah berusaha kupenuhi dari A-F. Namun ternyata aku tertipu pada pernyataan  di "E. Usia tidak boleh lebih dari 19" kata-kata itu yang membuatku kurang jeli, kurang cermat dan kurang teliti atau mungkin karena terlalu menggebu-gebu dan ingin segera menunjukkan pada dunia bahwa aku mampu menggapai mimpi terpendamku.

Kacauuuu, Kartu Identitasku nyaris lantap gara-gara aku bela-belain nyecan dan lupa tak kuminta. Mungkin anganku terlalu tinggi tuk digapai. Terlalu tinggi membuatku hanya bisa bermimpi. Mungkin juga aku yang udik dan tak pantas berpendar bersama bintang.

Aku semakin bertambah sadar, ternyata energi, pikiran dan waktu perlu dipertaruhkan di sini. Ini bukan untuk yang pertama kali, tapi ini adalah yang kesekian kali sepanjang sejarah hidupku. Kalau aku menyerah sampai di sini aku berarti pengecut.

"HEI, INI BELUM BERAKHIR. MASIH ADA BANYAK KESEMPATAN. MUNGKIN BELUM WAKTUNYA KAU TERJUN. LANGKAHI SEMUA LEVEL KEKECEWAAN ITU DAN BANGKITLAH!!!"

Kelam, mendung, tapi tak hujan.
Tenggelam, tersapu, melayang.
Suasana hening dan mencekam.
Ingin berteriak melepas kelelahan.
Dan kata sabar itu pun berusaha kulontarkan.
Ternyata bukan aku seorang yang merasakannya.
Aku masih mempunyai teman, ya masih.
Mereka juga mengalami kekecewaan itu, karena dibatasi dengan usia.

(Senin, 22 November 2010)

Komentar