Selasa, 30 November 2010

Gadis Penanti

Gadis ini tertatih letih ketika jalan itu bertambah panjang
:  Terlalu luas tuk dijangkau dengan kaki
   Tak bisa lagi dilangkahkan lebih jauh

Mungkin bukan takdir gadis ini
:  Menanti balasan senyum
   Menanti wajah bangganya
   Menanti yang tak pernah bicara
   Terisak di bawah tirai menunggu
   Tertunduk lemas menghapus mimpi
   Sempat hatinya berhenti mengingat
   Kala sendiri di sudut ini
   Namun hujan menjanjikan lain
   Ia menyuruh gadis ini tuk tetap menunggu yang tak terjamah
   Satu butiran hujan itu menghapus rindunya

Hari berlalu seperti lalu
:  Gadis ini merasa penat isak terurai lagi
   Teringat kembali bentangan jarak yang terlampau jauh
   Disekanya linangan di pipinya
   Keinginan untuknya kembali terbuka lagi
   Namun kaki kecilnya tak mampu berlari
   Wajah siapa itu dia tak ingat
   Suara apa itu dia tak tahu
   Tak ada bayangan siapa dia
   Arah pun tak pasti

Gadis ini terkulai
:  Tak ada anggan, mimpi dan harapan
   Jerit hatinya tak bisa didengar
   Suara hatinya bergema tak jelas
   Gadis ini menyerah
 

Permasalahan-Permasalahan Anak-Anak Berkebutuhan Khusus


  1. Proses Pengolahan Ilmu di otak Anak-Anak Berkebutuhan Khusus itu relatif kurang. Pada awal kehidupan Sel-Sel Otak mulanya sedikit, ketika usia 6 tahun, Sel-Sel Otak mulai bertahmbah, hingga akhirnya pada usia 14 tahun dapat berkembang lebih pesat. Anak-Anak Berkebutuhan Khusus hanya tertuju pada 1 pusat perhatian (topik menarik) dalam proses otak.
  2. Yang berinteligensi tinggi akan menghadapi kesulitan dalam pembelajaran normal, suka merasa bosan dan cenderung main-main sendiri. Sedangkan yang inteligensinya rendah akan kesulitan dalam memahami materi pembelajaran dan kerap membutuhkan banyak pengulangan dalam membahas suatu pembelajaran.
  3. Dalam perihal Interaksi Sosial Anak-Anak Berkebutuhan Khusus kurang kontak mata, represif, sulit berinteraksi baik dengan teman-teman maupun para guru, tak bisa berempati, memahami maksud orang lain, interaksi, kesulitan menyampaikan keinginan, takut dan cenderung menghindari orang lain dan sulit memahami isyarat verbal-nonverbal.
  4. Anak-Anak Berkebutuhan Khusus kerap kali kurang tangkas dan keseimbangan dalam perihal Gerak Motorik Kasar (Gross), sedangkan dalam Gerak Motorik Halus (Fine) Anak-Anak Berkebutuhan Khusus kerap kurang terampil dan terkordinir dalam melaksanakan salah satu tugas.
  5. Dalam Gerakan Sensorik, Anak-Anak Berkebutuhan Khusus cenderung Hiporeaktif (cuek) dan Hiperaktif (enggan belajar), fokus hanya pada detail tertentu/sempit/tak menyeluruh, dan mempunyai perhatian yang obsesif. Anak-Anak Berkebutuhan Khusus juga mempunyai minat terbatas, tak patuh, monoton, tantrum, mengganggu, agresif, impulsif, stimulasi diri, takut-cemas, kerap menangis.
  6. Ketika belajar, Anak-Anak Berkebutuhan Khusus kerap melakukan kesalahan sensory memory karena memori mereka hanya pendek sekali jaraknya, mudah lupa, fakta tersimpan tetapi tidak dalam 1 kerangka konteks yang terjadi. Anak-Anak Berkebutuhan Khusus sebenarnya bisa memberi respon terhadap sesuatu dalam pembelajaran, tetapi mereka sulit menghadapi situasi baru.
  7. Sulit meniru aksi orang lain, namun bisa meniru kata-kata tetapi tidak memahami.
  8. Anak-Anak Berkebutuhan Khusus mempunyai keterbatasan kemampuan komunikasi, gangguan bahasa verbal-nonverbal, kesulitan menyampaikan keinginan, dan penggunaan bahasa repetitif (pengulangan).
  9. Anak-Anak Berkebutuhan Khusus mempunyai kelemahan dalam sequencing seperti kesulitan dalam menguruskan aktivitas, bisa mengurutkan tetapi sulit mengembangkan sehingga kurang kreatif, jika urutan aktivitas dirubah Anak-Anak Berkebutuhan Khusus dapat mengalami stress.
  10. Gangguan Executive Function juga terdapat pada Anak-Anak Berkebutuhan Khusus seperti kesulitan mempertahankan atensi, mudah terdistraksi, tidak bisa menyelesaikan tugas, dan kurang kontrol diri serta sulit bergaul.  
SUMBER: http://lppariau.weebly.com/tentang-anak-anak-berkebutuhan-khusus.html

Sabtu, 27 November 2010

Pengembangan Konsep Bagi Tunanetra

Orang tunanetra mengalami tiga keterbatasan (Lowenfeld, 1948). Keterbatasan pertama, kontrol lingkungan dan diri dalam hubungannya dengan lingkungan, dimana hal ini dapat berpengaruh terhadap penerimaan informasi dalam interaksi sosial. Seorang tunanetra mungkin tidak mampu menentukan kapan orang lain keluar atau masuk ruangan atau berjalan menjauhi atau mendekati kelompoknya. Seorang tunanetra mungkin tidak tahu apakah orang lain berbicara atau mendengarkan pada dirinya karena dia tidak dapat melihat bagaimana ekspresi wajah dan gerakan tangan orang lain, atau mempergunakan kontak mata.
Keterbatasan kedua adalah mobilitas. Apabila keterbatasan ini tidak ditangani dengan memberikan pelatihan kepada orang tunanetra, maka orang tunanetra akan menghadapi kesulitan dalam melakukan interaksi dengan lingkungan. Kemungkinan dia akan kesulitan mempelajari lingkungan yang baru tanpa adanya bantuan dari orang lain, atau dia akan berkesulitan menemukan landmark khusus yang hanya dijelaskan dalam bentuk pengenalan verbal. Dengan tidak adanya penglihatan, orang tunanetra tidak dapat mengendarai kendaraan yang merupakan alat penting untuk melakukan mobilitas dalam berbagai lingkungan.
Keterbatasan ketiga adalah dalam tingkat dan keanekaragaman konsep. Orang tunanetra yang ketunanetraannya diperoleh sejak lahir akan menghadapi kesulitan ketika memperoleh konsep-konsep yang baru, seperti perkembangan teknologi, pakaian, dan perubahan dalam lingkungan. Keterbatasan ini merupakan masalah utama yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan orang tunanetra yang diperoleh sejak lahir karena pengembangan konsep merupakan dasar dari belajar akademik, social, dan psikomotor. Orang awas mempelajari dan mengembangkan konsep dilakukan secara informal, sedangkan orang tunanetra harus melakukannya secara terstruktur untuk membantu mengembangkan konsepnya dengan baik.
Bepergian tanpa adanya penglihatan memerlukan penguasaan beberapa konsep dasar. Konsep dasar penting yang berhubungan dengan mobilitas adalah kesadaran tubuh, termasuk di dalamnya gambaran tubuh, konsep tubuh, dan citra tubuh. Beberapa konsep lainnya seperti konsep posisi dan hubungan merupakan konsep-konsep yang tidak kalah pentingnya dari konsep bentuk, ukuran, dan gerak dalam mobilitas. Seorang tunanetra juga harus memiliki konsep yang tepat tentang lingkungan, topografi, tekstur, dan temperatur.
Seorang ahli mobilitas harus tahu berbagai macam konsep penting dan memahami bagaimana konsep tersebut dikembangkan oleh individu yang awas. Kemudian dia juga harus memahami bagaimana pengaruhnya pengembangan konsep tersebut dipelajari oleh orang tunanetra, dan bagaimana masalah muncul ketika mempelajari konsep tersebut. Seorang ahli mobilitas harus melakukan asesmen untuk mengetahui tingkat perkembangan konsep seorang tunanetra, Hal ini dilakukan untuk memberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan orang tunanetra tersebut.
Pengembangan konsep adalah proses penggunaan informasi sensori untuk membentuk ide-ide ruang dan lingkungan. Piaget dan Inhelder dalam Scholl (1986) mengemukakan bahwa kemampuan kognitif berkembang ketika anak berinteraksi dengan lingkungannya dan mengembangkan konsep-konsep ruang dimana aktivitas visual memegang peranan yang sangat penting. Anak-anak yang menjadi tunanetra sejak lahir sering terbatas dalam tingkat dan keanekaragaman pengalaman yang dibutuhkan untuk mengembangkan konsep-konsep tersebut. Hapeman seperti yang dikutip oleh Scholl (1986) mengemukakan bahwa anak-anak yang tunanetra sejak lahir memiliki kekurangan dalam pengetahuan kongkrit tentang lingkungannya dan konsep dasar yang penting seperti jarak, arah, dan perubahan lingkungan.

1. Penglihatan dan Perkembangan Konsep
Penglihatan merupakan suatu sistem persepsi penting dalam pengembangan kesadaran tentang benda-benda dan tubuh seseorang, termasuk bagian-bagian tubuh, hubungan bagian-bagian tersebut, gerakan dari bagian-bagian tubuh, serta fungsi dari bagian-bagian tubuh tersebut. Penglihatan juga merupakan suatu sistem yang efisien untuk mengembangkan konsep tentang bagaimana orang lain terlihat membentuk hubungan antara obyek yang satu dengan obyek yang lainnya. Anak tunanetra harus mengembangkan konsep-konsep tersebut melalui indera perabaan. Melalui penglihatan seseorang dapat melihat keseluruhan dari benda dan mengembangkan hubungannya secara cepat, dimana indera perabaan tidak dapat melakukannya secara efisien terutama ketika memeriksa bagian-bagian dari benda yang relatif besar.

2. Klasifikasi Konsep
Ada berbagai macam konsep penting yang perlu dimiliki orang tunanetra dalam hubungannya dengan orientasi dan mobilitas. Hill dan Blasch (1980) mengklasifikasikan konsep ke dalam tiga kelompok besar, yaitu: konsep tubuh, konsep ruang, dan konsep lingkungan.

Konsep Tubuh
Pengembangan konsep ruang dan benda di dalam ruang akan sangat tergantung pada hubungan antara benda tersebut dengan observer. Individu selalu menjadi pusat ketika dia melakukan orientasi dan menemukan benda-benda yang berhubungan dengan dirinya. Dari pandangan egosentris ini dia mempergunakan istilah-istilah seperti di atas, di bawah, di depan, atau di samping kiri. Persepsi benda dalam hubungannya dengan diri ini, yang mungkin dipertimbangkan sebagai kemampuan pengembangan orientasi pertama, akan sangat tergantung sekali pada pengembangan kesadaran tubuh. Persepsi hubungan antara diri dengan benda atau benda-benda ini dikembangkan melalui penglihatan atau eksplorasi perabaan, propioseptik, dan pendengaran. Dalam mendefinisikan kesadaran tubuh ini, Frostig dan Horne (1964) mendiskusikan tiga elemen, yaitu: citra tubuh, konsep tubuh, dan skema tubuh, dan apabila diantara elemen tersebut ada gangguan, maka persepsi anak tentang hubungan ruang juga akan terganggu.
Frostig mendiskusikan citra tubuh dalam hubungannya dengan pengalaman subyektifitas individu tentang dirinya. Kesan subyektifitas tersebut melibattkan perasaan tentang dirinya seperti atraktif, terlalu pendek, terlalu gemuk, berotot, dan sebagainya. Citra tubuh ini akan sangat tergantung pada faktor emosional, interaksi sosial dengan teman sebaya, aspirasi sosial, serta berbagai nilai budaya. Citra diri yang dirasakan seseorang mungkin berbeda dengan citra yang sebenarnya. Contoh, seorang pria dewasa yang mungkin hanya mempunyai sedikit cacat di wajahnya, tetapi dia merasa semua orang memandang wajahnya lucu karena penuh dengan cacat yang dimilikinya.
Konsep tubuh adalah pengetahuan yang dimiliki seseorang tentang dirinya, yang diperoleh melalui proses belajar secara terus menerus. Informasi yang diperoleh anak dalam pengembangan konsep tubuh meliputi kemampuan mengidentifikasi bagian-bagian tubuh, kaki, tangan, lutut, hidung, telinga, rambut dan sebagainya, dan mengetahui lokasi serta fungsi dari berbagai bagian tubuh tersebut.
Frostig dan Horne (1964) membedakan skema tubuh dari citra tubuh dan konsep tubuh. Skema tubuh itu tidak disadari dan berubah dari waktu ke waktu. Skema tubuh diperoleh melalui stimulasi yang dihasilkan dari dalam tubuh, dikenal dengan sebutan sensasi proprioseptif. Informasi ini dipergunakan untuk menentukan tubuh – posisi berbagai otot dan bagian-bagian tubuh - dalam hubungannya dengan bagian-bagian tubuh yang lain dan hubungannya dengan daya tarik bumi. Keseimbangan seseorang akan tergantung pada skema tubuhnya. Apabila skema tubuh seseorang terganggu, maka dia akan berkesulitan dalam melakukan koordinasi gerakan seperti berjalan, dan sebagainya.
Pengetahuan seseorang tentang skema tubuh dan konsep tubuh akan menjadikan dasar dalam penguasaan konsep ruang dan arah. Pengetahuan yang cukup tentang skema tubuh dan konsep tubuh dipandang sebagai inti dari pengembangan konsep dan proses mengorientasikan diri terhadap lingkungannya serta ketika dia bergerak.
Istilah citra tubuh yang dipergunakan oleh Cratty dan Sams sama artinya dengan istilah konsep tubuh yang dipergunakan oleh Frostig dan Horne. Dalam tes citra tubuh orang tunanetra, Cratty dan Sams (1968) mengevaluasi lima komponen.
Komponen pertama bidang tubuh, termasuk di dalamnya kemampuan mengidentifikasi bagian-bagian depan, belakang, samping, atas, dan bawah tubuh. Evaluasi yang dilakukan juga termasuk di dalamnya bagaimana individu menghubungkan bidang-bidang tubuhnya dengan benda-benda, atau menghubungkan benda-benda lain dengan bidang-bidang tubuhnya. Komponen kedua mengidentifikasi bagian-bagian tubuh. Komponen ketiga gerakan tubuh, termasuk gerakan kasar dalam hubungannya dengan bidang tubuh dan gerakan anggota badan lainnya. Komponen keempat lateral, menentukan tidak hanya apakah anak tunanetra mampu mengidentifikasi secara tepat bagian kiri dan kanan tubuhnya, tetapi juga bagaimana dia dapat bergerak sehingga samping kiri atau kanan atau tangannya dapat mendekati benda-benda, dan secara berlawanan bagaimana dia mampu menempatkan benda-benda ke bagian kiri dan kanan dirinya ketika dia berada di suatu tempat. Sedangkan komponen kelima dari citra tubuh ini adalah arah, yaitu menentukan seberapa baik anak dapat mengidentifikasi samping kiri dan kanan benda dan orang lain.
Untuk mengembangkan konsep tubuh secara baik maka anak tunanetra perlu mengetahui peristilahan yang berhubungan dengan tubuh. Berikut adalah daftar konsep yang berhubungan dengan tubuh:

KEPALA
Rambut
Kening
Wajah
Mata
Hidung
Mulut
Gigi
Dsb.

TUBUH
Pundak
Punggung
Dada
Perut
Pinggang
Pinggul
Paha
Dsb.

ANGGOTA BADAN
Lengan
Sikut
Pergelangan tangan
Tangan
Telapak tangan
Jari-jari
Kuku jari
Dsb.

Apabila anak tunanetra sudah mampu mengidentifikasi bagian-bagian tubuh penting juga mereka dapat menggambarkan fungsi dari bagian-bagian tubuh tersebut. Contoh fungsi bagian tubuh sebagai berikut: telinga – membuat seseorang mampu mendengar suara, bicara; tangan – dipergunakan untuk memegang, mengepal, dan meraba; kaki – menopang badan ketika berdiri dan ketika berjalan serta berlari; gigi – dipergunakan untuk mengigit dan mengunyah makanan; hidung – membuat orang dapat bernafas dan membaui.
Konsep tubuh lainnya yang penting untuk diketahui adalah permukaan tubuh sebagai berikut: muka atau depan, samping, atas, bawah atau pendek.
Beberapa contoh hubungan antara bagian tubuh dengan pengetahuan fungsional dari bagian tubuh tersebut sebagai berikut: rambut berada di bagian atas kepala, lutut berada di atas tungkai, hidung berada di bagian tengah wajah, lengan bawah berada diantara sikut dan pergelangan tangan, dan dagu berada di bawah mulut.
Aspek lain yang tak kalah pentingnya adalah gerakan dari bagian-bagian atau permukaan tubuh: bengkokkan tanganmu pada sikut, angkat tumitmu, bungkukkan badanmu ke depan pelan-pelan, berjalan mundur, sentuhkan tangan ke bibirmu.

Konsep ruang
Individu dalam mengembangkan konsep tubuhnya tidak hanya mengumpulkan informasi tentang tubuhnya, membentuk konsep yang tepat tentang tubuhnya, tetapi juga mengumpulkan informasi tentang konsep posisi dan hubungan. Bagi anak tunanetra penting secara khusus mempelajari bagaimana bagian-bagian tubuh diposisikan dan bagaimana bagian-bagian tersebut berhubungan antara yang satu dengan lainnya sehingga konsep posisi dan hubungan dapat ditransfer ke lingkungan di luar dirinya.
Daftar berikut di bawah ini menggambarkan rentangan konsep ruangan posisi/hubungan sebagai berikut:
Anterior : depan, di depan, wajah, menghadap, ke depan, maju
Posterior : punggung, belakang, mundur, sebelum
Superio : atas, di atas, mengangkat, tinggi, ke atas.
Inferior : bawah, di bawah, dasar, ke bawah, rendah,
Lateral : dekat, berdekatan, di samping, kanan, kiri, pinggir
Proximics : dekat, berdekatan, di sini, di sana,
Internal : ke dalam, dalam, di dalam, masuk
Eksternal : luar, keluar, di luar, luaran
Lain-lain : putaran jarum jam, hitungan jarum jam, ber- lawanan, bersebrangan, sejajar, tegak lurus, melingkar, menuju, naik turun, tengah, di antara, barat daya, barat laut, timur laut, tenggara, melintang.
Selain konsep-konsep di atas yang termasuk ke dalam konsep ruang adalah bentuk. Konsep bentuk sangat penting ketika seorang tunanetra mulai mengidentifikasi benda-benda dan bekerja dengan konsep-konsep mobilitas seperti jaringan jalan, pola menjelajah, susunan bangunan, dan sebagainya.
Berikut ini adalah daftar konsep bentuk yang penting untuk diketahui:
Utama: bulat, segi tiga, lingkaran, segi empat, oval, putaran, dsb.
Pendukung: oktagon, heksagon, pentagon, silinder, elips, kerucut, piramid, trapesium, parabola, paralelogram, dsb.
Bentuk benda tertentu: bentuk belimbing, bentuk hati, bentuk melingkar, bentuk kotak, dsb.
Penggunaan huruf untuk menggambarkan bentuk: persimpangan T, H, L, O, S, T, V, U, X, Y.
Konsep ukuran juga sangat penting dalam kehidupan sehari-hari dan untuk orientasi dan mobilitas. Banyak dari konsep ruang berikut ini tidak secara khusus untuk mobilitas tetapi juga penting dalam berbagai fase kehidupan orang:

JARAK
Inci
Meter
Milimeter
Sentimeter
Kilometer
Blok

JUMLAH
Keseluruhan
Setengah
Seperempat
Penuh
Kosong
Kurang
Sedikit
Semua
Tidak ada
Beberapa

WAKTU
Detik
Menit
Jam
Hari
Minggu
Bulan
Tahun
Hari ini
Besok
Kemarin
Setengah jam

BERAT DAN ISI
Ons
Liter
Seperempat
Mililiter
Sentileter
Desileter

LEBAR, PANJANG, DAN UKURAN
Lebar
Sempit
Tipis
Kurus
Tinggi
Pendek
Panjang
Besar
Banyak
Sedikit
Kecil

Kategori penting lainnya adalah konsep gerak. Dalam mobilitas penting sekali untuk memahami berbagai macam peristilahan yang berhubungan dengan gerak. Konsep-konsep ini meliputi berbagai macam jenisnya termasuk di dalamnya konsep yang memberikan petunjuk arah, menggambarkan berbagai gerak, dan menjaga orientasi. Berikut ini adalah beberapa peristilahan konsep ruang yang berhubungan dengan gerak:
Belok: berbelok 45 derajat, berbelok 1/4, berbelok 90 derajat, menghadap kearah kanan, berputar 180 derajat, berbalik arah, berputar 360 derajat, berputar penuh, berbelok U.
Gerak: bergerak, loncat, merangkak, membungkuk, terlentang, duduk, berdiri, berjalan, lari, lompat, memanjat, bergerak maju, bergerak mundur, bergerak ke samping, bergerak ke bawah, bergerak ke atas, simpan, tempatkan, kepal, durung, tarik, ayun.
Bergerak di dalam lingkungan memerlukan tidak hanya pemahaman tentang konsep tubuh dan ruang, tetapi juga kesadaran akan benda apa yang ada di lingkungan serta bagaimana benda-benda tersebut dapat dipergunakan untuk mendapatkan gambaran menyeluruh tentang lingkungan tersebut.

Konsep lingkungan
Apabila membuat daftar konsep lingkungan akan sangat panjang dan tidak akan ada ujungnya. Meskipun demikian, bagian ini akan menekankan pada konsep lingkungan yang secara langsung berhubungan dengan mobilitas. Berikut ini adalah suatu daftar yang secara komprehensif berhubungan dengan benda-benda dalam konsep lingkungan yang ada singgungannya dengan mobilitas sebagai berikut:
Benua lampu stopan
Negara lampu merah
Propinsi jalan macet
Kota daerah perkotaan taman
Jalan bebas hambatan rumah
Perempatan tempat bermain
Persimpangan T tangga
Persimpangan Y dinding
Trotoar ruangan
Pagar atap
Tiang telepon eskalator
Kotak pos elevator
Konsep topografi dapat juga dipergunakan bukan hanya untuk pemahaman tentang lingkungan, tetapi juga dapat dipergunakan sebagai landmark. Contoh, ketika seseorang menemukan jalan yang mendaki di suatu blok, maka bentuk jalan seperti itu dapat dijadikan landmark di lokasi tersebut. Berikut adalah beberapa konsep lingkungan yang berhubungan dengan topografi:

Pinggir datar
Batas lurus
Ujung garis
Sudut lengkung
Menyudut perempatan
Mendaki titik
Menurun terbuka
Menanjak tertutup
Lengkung busur
Konsep lingkungan tentang tekstur juga sangat penting. Konsep tekstur banyak dipergunakan di sekolah, dalam kegiatan kehidupan sehari-hari, di tempat bekerja, dan di berbagai situasi termasuk ketika melakukan aktifitas mobilitas. Berbagai macam konsep tekstur akan sangat penting dan besar pengaruhnya ketika orang tunanetra berjalan dengan mempergunakan tongkat. Getaran, suara, keseringan tongkat menyangkut, dan modifikasi dari teknik sentuhan akan sangat tergantung pada permukaan tekstur. Berikut adalah beberapa konsep tekstur yang sering ditemukan:
Semen licin
Aspal berair
Batu tajam
Pasir tumpul
Paving blok kasar
Bata halus
Kaca berumput
Plastik lengket
Keras berpasir
Lembut bergelombang
Basah kering
Membicarakan konsep lingkungan tidak lengkap apabila tanpa menyebutkan konsep temperatur, khususnya yang berhubungan dengan mobilitas. Berdasarkan informasi tentang temperatur orang tunanetra dapat merencanakan pakaian yang sesuai tetapi hendaknya juga menyadari tentang dampak temperatur terhadap tekstur. Apabila cuaca terlalu panas, aspal mungkin akan menjadi lunak dan lengket. Jika cuaca dingin dan hujan, pejalan kaki mungkin akan menghindari permukaan yang mendaki karena licin dan membahayakan.
Berikut adalah beberapa konsep temperatur yang penting:
Panas terik
Dingin lembab
Hangat kering
Sejuk sedang
Daftar tersebut di atas mewakili berbagai konsep yang berhubungan dengan lingkungan. Dalam beberapa hal terdapat lebih dari satu istilah yang dipergunakan untuk satu arti yang sama. Oleh karena itu instruktur atau ahli orientasi dan mobilitas harus membuat sederet daftar konsep yang diperlukan sebelum mengajarkannya kepada anak tunanetra.

3. Asesmen Pengembangan Konsep
Ketika instruktur atau ahli orientasi dan mobilitas mulai mengajar mobilitas kepada anak tunanetra, yang pertama kali perlu dilakukan adalah mengetahui kemampuan dan kekurangan siswa agar dapat membuat perencanaan yang sesuai ketika mengulang pembelajaran konsep dan/atau pembelajaran mobilitas. Proses pembelajaran yang dilakukan tanpa melakukan asesmen sering menyebabkan masalah dalam mengajar atau belajar karena jeleknya pengembangan konsep.
Para ahli mobilitas juga harus mampu membedakan antara konsep yang dikuasai secara verbal dengan pemahaman konsep secara kongkrit. Verbalisme mungkin disebabkan karena ketidak tepatan dan/atau ketidak jelasan konsep sebagai akibat dari tidak cukupnya pengalaman sensoris. Ketika diminta untuk menjelaskan konsep, siswa dapat menjelaskan sesuai dengan definisi konsep (verbal) seperti yang telah diingatnya, tetapi dia belum bisa mempergunakan konsep secara fungsional. Seorang siswa yang belum memahami tentang konsep blok di perkotaan mungkin tidak dapat berjalan mengelilingi blok tersebut karena dia tidak tahu yang sebenarnya tentang blok - bahwa ada empat belokan yang harus dilalui, dan tidak perlu menyebrang jalan. Oleh karena itu sangat penting bagi ahli mobilitas untuk melakukan asesmen, tidak hanya tentang pemahaman konsep secara verbal tetapi juga berupa respon perilaku untuk validitas konsep.

4. Mengajarkan Konsep
Setelah selesai melakukan asesmen, strategi untuk mengajarkan konsep mungkin dapat dilakukan dengan mempergunakan satu atau kombinasi dari beberapa pendekatan, tergantung pada usia anak dan situasi di mana pengajaran itu berlangsung.
Ketika mengajar kepada anak-anak, konsep harus sesuai dengan tingkat usia perkembangannya dan sesuai dengan norma-norma perkembangan anak pada umumnya. Para ahli mobilitas hendaknya menyadari betul tingkat mobilitas anak pada usia tertentu. Hal ini juga berhubungan dengan analisis tugas dari berbagai konsep lingkungan yang dipergunakan pada tingkatan tersebut. Mereka hendaknya tidak membuat asumsi berdasarkan tingkat pengetahuan konsep anak atau tidak juga hanya menerima deskripsi konsep secara verbal. Seorang ahli mobilitas hendaknya memperoleh informasi melalui demonstrasi fisik yang menunjukkan pemahaman konsep dari anak.
Pendekatan yang kedua adalah melalui kegiatan belajar konsep dalam konteks pelajaran orientasi dan mobilitas sesuai dengan kebutuhan atau keperluan. Dalam pendekatan seperti ini diperlukan berbagai penggunaan jenis konsep. Penting juga dilakukan diskusi dengan siswa sebagai upaya untuk melakukan asesmen tentang pemahaman siswa. Kesulitan dalam pendekatan ini mungkin berhubungan dengan teknik tongkat, orientasi, atau masalah dengan konsep. Apabila ada konsep-konsep yang tidak dikuasai oleh anak, maka permasalahan akan terus berlanjut.
Metode lainnya yang dipergunakan dalam mengajarkan konsep adalah kelas yang secara khusus terfokus pada konsep. Hal ini berbeda dengan metode yang pertama di mana pembelajaran lebih difokuskan pada anak-anak dan pengembangan konsep misalnya kesadaran tubuh. Dalam metode kelas konsep ini siswa dari berbagai usia dapat berpartisipasi. Jenis-jenis konsep yang dapat didiskusikan misalnya: belok kanan jalan terus ketika lampu merah menyala, tempat pemberhentian bus dan berbagai jenis bus, jaringan jalan tertentu, dan tata ruang super market atau pusat perbelanjaan.
Metode yang terakhir untuk mengajarkan konsep ini adalah memadukan kegiatan belajar konsep dengan kegiatan lainnya yang melibatkan guru, staf, dan keluarga sehingga memungkinkan adanya penguatan-penguatan konsep oleh orang-orang lain daripada oleh ahli orientasi dan mobilitas sendiri. Dengan memberikan penjelasan tentang pentingnya penguasaan konsep-konsep baru, siswa akan lebih terdorong untuk mempelajari lebih banyak dan lebih bervariasi tentang berbagai macam konsep. Hal ini juga dapat meningkatkan sensitifitas anggota keluarga, guru, dan staf lainnya akan pentingnya berbagai macam konsep untuk mobilitas dan membuat mereka memahami tentang berbagai strategi untuk menjelaskan konsep-konsep tertentu. Orang tua sekarang akan terdorong untuk lebih melibatkan anaknya yang tunanetra berpartisipasi dalam aktifitas fisik, mengeksplorasi lingkungan, bermain bola, jalan-jalan, dan sebagainya. Meskipun demikian hanya terlibat dalam aktifitas saja tidak cukup, anak tunanetra harus didorong untuk mempergunakan berbagai macam stimulasi. Apabila memungkinkan konsep verbal hendaknya diverifikasi dengan aktifitas kongkrit.
Dari ke empat metoda mengajar konsep tersebut di atas, ahli orientasi dan mobilitas dapat mempergunakannya baik satu maupun gabungan dari metoda tersebut. Situasi yang ideal adalah dengan menggabungkan berbagai metoda yang sesuai dengan program mobilitas siswa. Lebih lanjut, ketika mengajarkan mobilitas kepada anak berbagai variabel yang perlu diperhatikan adalah usia anak, latar belakang anak, dan sikap terhadap ketunanetraannya.

5. Peran Guru dalam Pengembangan Konsep
Kurangnya konsep ruang dan lingkungan pada orang tunanetra tidak hanya mengganggu kemajuan orientasi dan mobilitasnya saja, tetapi juga dapat menyebabkan masalah dalam tugas-tugas belajar mereka. Kegiatan di sekolah, seperti dimana posisi guru berada, bergerak di dalam kelas dan sekolah, dan menyelesaikan berbagai tugas semuanya itu memerlukan pemahaman tentang konsep ruang. Pengembangan konsep tidak secara khusus tanggung jawab seorang ahli orientasi dan mobilitas, para guru hendaknya berbagi tugas dalam mengajarkan berbagai konsep. Dalam hal tertentu guru mungkin mempunyai posisi yang paling baik untuk mengajarkan konsep karena mereka mempunyai banyak waktu untuk melakukan kontak dengan sejumlah besar siswa.
Seorang ahli orientasi dan mobilitas secara umum mengajarkan konsep dengan dua cara. Cara pertama adalah mengajarkan konsep berbasis individu dalam konteks pelajaran orientasi dan mobilitas. Pelajaran ini umumnya diberikan selama setengah jam sampai satu jam dalam 2 sampai 3 hari per minggunya. Di masa yang lalu, pendekatan ini mendapatkan reaksi karena anak tidak mampu untuk memperoleh kemajuan secara normal seperti yang semestinya dipelajari dalam orientasi dan mobilitas. Dewasa ini, pembelajaran orientasi dan mobilitas telah dimulai sejak usia dini dengan penekanan utama pada pengembangan konsep. Cara lain ahli orientasi dan mobilitas mengajar konsep, khususnya dalam setting sekolah umum, adalah dalam kelompok kecil anak-anak. Pembelajaran konsep di ”kelas konsep” ini biasanya lebih ditekankan pada program pengajaran konsep tubuh, ruang, dan lingkungan dengan mempergunakan pendekatan multisensori.
Pendekatan lain yang bisa dilakukan dalam mengajarkan konsep adalah melalui bidang studi, misalnya: IPA, matematika, IPS, olah raga, dan sebagainya. Strategi integratif seperti ini dapat dipergunakan dalam berbagai model layanan pendidikan bagi anak tunanetra. Apabila siswa tunanetra berada di sekolah umum, dalam pengajaran konsep tersebut akan melibatkan guru kelas dan guru lainnya serta orang tua dengan guru bagi orang tunanetra dan ahli orientasi dan mobilitas yang memimpin dan mengkoordinasikan pembelajaran tersebut.
Ketika para guru sekolah umum mengajarkan konsep, mungkin mereka tidak menyadari tentang pentingnya konsep tubuh, ruang, dan lingkungan bagi anak-anak tunanetra. Hal ini terjadi karena guru umum harus mengajar banyak hal dan juga harus mempertimbangkan tentang siswa-siswa lainnya yang awas di dalam kelas tersebut. Di situlah pentingnya guru bagi orang tunanetra mengembangkan dan mengkoordinasikan strategi pendekatan ini. Prosedur berikut adalah contoh tentang bagaimana guru bagi orang tunanetra dapat mengembangkan, mengkoordinasikan, dan mengimplementasikan strategi pengembangan konsep integratif:
a. Pergunakan instrumen formal dan informal, norma-norma perkembangan, observasi, catatan sekolah, dan umpan balik dari guru serta orang tua untuk mengases anak dalam bidang pengembangan konsep.
b. Kembangkan daftar konsep-konsep penting yang perlu dipelajari.
c. Komunikasikan temuan-temuan asesmen kepada guru-guru kelas, personal kunci di sekolah, serta orang tua.
d. Bantulah guru kelas dalam tugas menganalisis bidang studi untuk mencakup konsep-konsep yang akan dipelajari, diperkuat, dan/atau ditekankan. Beberapa mata pelajaran, misalnya matematika, berisi banyak konsep ruang, seperti: bentuk-bentuk geometri dasar, sejajar serta tegak lurus, dan sebagainya. Intinya adalah bagaimana membantu guru umum untuk mengetahui konsep-konsep yang ada dalam berbagai bidang studi sehingga mereka dapat memberikan penekanan kepada anak.
e. Berilah masukan kepada guru kelas dengan saran-saran dan kegiatan-kegiatan yang dapat memperkenalkan dan menguatkan beberapa konsep dalam konteks bidang studi. Misalnya kegiatan seperti menata kembali tempat duduk di ruang kelas dari lingkaran, segi empat, dan berbagai bentuk lainnya dengan kursi ketika mengajarkan bentuk dasar dalam kelas matematika.
f. Bantulah guru kelas untuk mengidentifikasi berbagai kemungkinan mengajarkan dan memperkuat konsep-konsep dalam kelas yang tidak secara langsung berhubungan dengan bidang studi. Sebagai contoh: (a) Waktu berlangsung sesi tanya jawab, beritahu anak-anak bahwa ketika mereka mau bertanya ”Angkat tangan kanan kamu,” ”Peganglah dengan tangan bagian atas kepalamu,” ”Sentuhlah bahu kirimu,” dan sebagainya. (b) Tulis di tempat yang berbeda-beda ketika anak menuliskan namanya pada hasil pekerjaannya. Misalnya, suruh siswa menuliskan namanya di sudut kanan bagian bawah, bagian tengah atas, dan sebagainya. (c) Tekankan penggunaan konsep ruang ketika memberikan instruksi kepada anak. Misalnya: ”Coba simpan dengan tangan kananmu buku ini di rak buku yang besar,” ”Jalanlah ke ruang kepala sekolah yang berada bersebelahan dengan ruang tunggu,” ”Belok kiri, kemudian jalan lurus ke depan,” dan sebagainya. Selalu informasikan kemajuan yang dicapai oleh siswa kepada guru, tenaga ahli, dan orang tua serta berikan berbagai saran kepada mereka untuk memperkuat kegiatan yang dilakukannya. Misalnya, jika guru kelas menekankan konsep kiri kanan, maka guru orientasi dan mobilitas memberikan pelajaran tentang belok kiri dan kanan kepada siswanya, demikian juga orang tua hendaknya menguatkan konsep kiri kanan ini ketika menjelaskan posisi makanan yang ada di atas meja. Penekanan utama dalam hal ini adalah adanya koordinasi team dalam upaya menanamkan konsep secara sistematis kepada siswa dalam dimensi yang berbeda.


A. SUMBER BACAAN

Barraga, N.C. (1976): Visual Handicaps and Learning, A Developmental Approach. Belmont, California: Wadsworth Publishing Company, Inc.

Cullata, R.A., Tompkins, J.R., and Werts, M.G. (2003): Fundamentals of Special Education, What Every Teacher Needs to Know. New Jersey, Columbus, Ohio: Upper Saddle River.

Hill, E., and Ponder, P. (1976): Orientation and Mobility Techniques, A Guide for the Practitioner. New York: American Foundation for the Blind.

Irham, H., dan Djadja, R. ed. (1997): Kumpulan Hasil Perkuliahan Orientasi dan Mobilitas. Bandung: Puslatnas O&M IKIP Bandung.

Rogow, S. (1988): Helping the Visually Impaired Child with Developmental Problems. New York and London: Teachers College, Columbia University.

Scholl, G.T. ed. (1986): Foundations of Education for Blind and Visually Handicapped Children and Youth, Theory and Practice. New York: American Foundation for the Blind.

Welsh, R.L., and Blasch, B.B. (1980): Foundation of Orientation and Mobility. New York: American Foundation for the Blind.
Dikutip dari http://dj-rahardja.blogspot.com

Jumat, 26 November 2010

Jadikan Ini Motivasi Kita "HARAPAN ITU MASIH ADA"

Saat aku membaca sebuah blog. Aku baru tahu ada buku sebagus ini tentang kisah seorang penderita Meningitis yang bertahan hidup sampai bisa sembuh. Sayangnya aku belum pernah baca. Hehehe. Ini hanya sebuah resensi cerita dari blog yang aku copy.


Perjalanan hidup yang semula menyenangkan buat Titiana Adinda, biasa dipanggil Dinda, tiba-tiba buyar saat dia terkena penyakit Meningitis. Penyakit itu datang tak terduga. Hari itu dia sedang bersiap untuk menonton bioskop bersama kekasihnya. Tiba-tiba ia terserang sakit kepala dan demam yang sangat hebat. Dinda mencoba meredakannya dengan meminum obat, tapi tidak berpengaruh.

Dinda tak kuasa menahan rasa sakit itu, dia merebahkan diri di kasur, sampai akhirnya dia tak sadarkan diri. Kekasihnya merasa curiga saat dia beberapa kali menelepon tidak diangkat. Dia bergegas menuju tempat tinggal Dinda. Dia dapati Dinda sudah tak sadarkan diri, segera dia bawa Dinda ke rumah sakit. Dari hasil pemeriksaan, diketahui ternyata Dinda mengidap penyakit Meningitis TB.

Meningitis yang diderita Dinda adalah Meningitis yang diakibatkan oleh bekteri TBC. Bakteri tersebut menyerang selaput otak. Bakteri TBC ternyata tidak hanya menyerang paru-paru, tetapi juga organ tubuh vital lain seperti otak, usus, tulang dan ginjal. Pada kasus penyakit Dinda ini, tenyata bakterinya tidak hanya menyerang selaput otak, tapi sudah menyerang jaringan otak. Dinda bukan lagi terkena penyakit Meningitis tetapi Meningoensefalitis.

Titiana Adinda atau lebih sering dipanggil Dinda adalah seorang akitivis yang memperjuangkan hak-hak perempuan. Dia bekerja di Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan). Di lembaga itu, dia menjabat sabagai Asisten Koordinator Divisi Pengembangan Sistem Pemulihan bagi Korban.

Hidup Dinda cukup dinamis. Banyak hobinya, dari membaca, menonton, hiking, sampai mendaki gunung. Dua kali Gunung Gede dia taklukkan. Dalam hal pekerjaan dia orang yang sangat menikmati profesinya. Bahkan tidak hanya menempatkannya sebagai profesi, lebih dari itu, sebagai panggilan jiwa.

Dalam rangka tugas, Dinda sering pergi ke berbagai daerah untuk mengadvokasi berbagai peraturan daerah agar berpihak terhadap perempuan korban kekerasan. Banyak daerah di Indonesia yang telah dia kunjungi, dari mulai Papua hingga Aceh. Bukan hanya dalam negeri, beberapa Negara lain pernah dia kunjungi, seperti Singapura dan Thailand. Tidak heran kalau kemudian Dinda pun memunyai banyak teman, yang jadi kebahagiaan tersendiri.


Gangguan Bicara, Amnesia, dll.
Setelah Dinda didiagnosa mengidap penyakit meningitis, dia dirawat di rumah sakit selama sebulan, 13 hari di antaranya dalam keadaan koma. Tapi, pengobatan itu tidak bisa membuatnya sembuh total. Bahkan secara bertahap Dinda mengalami dampak lanjutan dari penyakit tersebut. Dimulai dengan terganggunya kemampuan bicara Dinda. Ucapan Dinda menjadi tidak jelas.

Dengan kondisi itu Dinda mulai minder. Dia sedih sekali menerima kenyataan itu. Dinda menangis, padahal menangis sangat jarang dia lakukan. Dinda mulai sangsi dengan ketabahan menerima derita tersebut. “Ya, Tuhan, kalau begini terus, aku tidak tahan menerima cobaan ini,” keluhnya. Walaupun begitu, Dinda tidak menyerah. Dinda melakukan terapi bicara di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP). Memulai belajar lagi mengucapkan huruf a, i, u, e, o seperti masa kecilnya dulu.

Derita Dinda tidak berhenti di situ, Dinda juga terkena amnesia, kehilangan memori ingatan. Tidak ada satu peristiwa pun dalam beberapa bulan terakhir dia ingat. Keluarganya melakukan terapi dengan menunjukkan foto-foto dirinya. Tetapi Dinda masih bersyukur amnesia yang dia derita bukan amnesia total. Dia hanya tidak ingat peristiwa-peristiwa dikisaran waktu tiga tahun lalu, sesudah dan sebelumnya Dinda masih mengingatnya.

Penyakit Meningoensefalitis ternyata juga mengakibatkan terganggunya penglihatan Dinda. Setiap benda yang Dinda lihat akan tampak menjadi dua. Tapi, kalau mata kirinya ditutup benda yang dia lihat ternyata hanya satu. Tidak hanya itu, tidak lama setelah Dinda menyadari penglihatannya bermasalah, mata kiri Dinda semakin mengecil dan bola matanya tertarik ke kiri. Dinda memeriksakannya ke rumah sakit mata. Menurut dokter yang memeriksanya, matanya bisa sembuh dengan melakukan operasi sebanyak tiga kali dengan biaya 25 juta sekali operasi. Dinda menyerah, karena tidak mempunyai uang sebanyak itu. Akibatnya Dinda sering merasa pusing akibat pandangan dobel tersebut.

Usaikan cobaan untuk Dinda? Tenyata tidak. Dinda mengalami kelumpuhan tubuh bagian kanan. Kelumpuhan itu dimulai dengan serangan sakit kepala terhadap Dinda. Dinda merasakan pusing yang hebat selama tiga hari berturut-turut. Obat vertigo yang dia minum tidak membantunya. Sampai suatu pagi dia menyadari bagian kanan tubuhnya tidak bisa digerakkan. Dinda menjerit sekeras-kerasnya meratapi deritanya.

Selain mengalami gangguan bicara, gangguan penglihatan, amnesia dan kelumpuhan, Dinda sempat khawatir dengan kondisi badannya yang tidak pernah berkeringat dan menstruasi. Tapi kembali normal setelah selama enam bulan. Dinda merasa lega.


Di-PHK Dari Komnas Perempuan
Setelah setahun lebih dalam perawatan, pada Maret 2005 Dinda memberanikan diri untuk kembali bekerja, walaupun dengan menggunakan kursi roda. Dinda senang dengan sambutan teman-teman kerjanya, mereka memberikan dorongan semangat untuk kesembuhan Dinda. Karena kondisi tubuhnya yang belum pulih Dinda tidak bisa menempati meja kerjanya di lantai dua. Tapi Dinda merasakan ada yang aneh saat menyadari dirinya tidak diberikan fasilitas komputer untuk bekerja. Padahal ada dua komputer yang tidak dipakai di ruangan tempat dia memulai berkantor.

Hari kedua bekerja, Dinda mendapat kabar yang membuatnya shock, dia di PHK dari Komnas Perempuan. Kabar itu dia terima dari Seketaris Jendral (Sekjen) Komnas. Dinda kecewa di PHK sepihak, walaupun menurut Sekjen Komnas dia masih diperbolehkan bekerja, dengan tugas meresensi buku yang diterbitkan Komnas Perempuan. Dengan status bukan lagi sebagai karyawan, tapi sukarelawan.

Dinda menganggap telah diperlakukan tidak adil oleh Komnas Perempuan. Dengan bantuan enam pengacara Dinda mengajukan gugatan atas PHK sepihak oleh Komnas Perempuan. Mendapat gugatan dari Dinda, Komnas Perempuan mencoba mendekati Dinda agar membatalkan gugatannya dan membuat surat pengunduran diri, demi menjaga hubungan baik mereka.

Dinda bergeming, tekadnya melawan ketidakadilan perlakuan Komnas Perempuan tetap dilanjutkan. Menurutnya tawaran yang diajukan oleh Komnas Perempuan tidak menyelesai hak dan keadilan yang dia tuntut. Yang diinginkan Dinda, silahkan dia di PHK dan berikan pesangon, kalau tidak, proses gugatan hukum tetap akan dia lakukan. Lobi kembali dilakukan.

Tujuh bulan kemudian, tim pengacara Dinda mendapat komitmen lisan dari Komnas Perempuan, bahwa mereka akan bersedia membuat surat PHK Dinda dan akan memberikan pesangon. Tapi, baru delapan bulan kemudian janji itu direalisasikan oleh Komnas Perempuan. Dinda menandatangani PHK dan mendapatkan pesangon. Perlakuan yang tidak mencerminkan sebuah lembaga pejuang hak asasi. ”Tapi aku sudah memaafkan mereka, dengan teman-teman karyawan dan mantan karyawan di Komnas Perempuan aku masih berhubungan baik.”

Keputusasaan dan Ketabahan
Kehidupan penuh misteri. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Begitupun yang terjadi dengan Dinda. Dia tidak menyangka akan mendapat ujian hidup yang sangat berat. Kehidupan yang semula begitu menyengkan, tiba-tiba menjadi suram, direnggut oleh penyakit, yang dia tidak kenal, bahkan tidak pernah mendengarnya. Dia sangat terpukul dengan penderitaannya.

Apalagi saat secara bertahap fungsi-fungsi organ vitalnya mulai terganggu, dari mulai penglihatan, bicara, ingatan bahkan kelumpuhan sebagain tubuhnya. Adakalanya karena beratnya penderitaan yang dia derita, muncul keputusasaan, keluh kesah bahkan keinginan agar Tuhan mencabut nyawanya. “Tuhan, tolong ambil nyawaku….aku tak tahan lagi…..Kenapa Engkau berikan ujian seberat ini padaku?”

Pernah juga Dinda menggugat keadilan Tuhan. Dia marah kepada Tuhan: “Tuhan kenapa memilihku untuk mengalami cobaan seperti ini? Kenapa harus aku? Kenapa bukan orang lain yang selama ini sudah cukup kenyang mendapat keberuntungan dalam hidupnya?Aku merasa Tuhan tidak adil padaku.” (Titiana Adinda, Harapan Itu Masih Ada, halaman 29)

Beruntung, Dinda memiliki keluarga yang mendukung dan mendorongnya untuk sembuh. Karena itu Dinda tidak mau menyerah. ”Aku selalu ingat mama, aku sayang dia, aku tidak mau mati mendahului dia, aku ingin selalu bersamanya.”

Selain itu Dinda mempunyai kekasih yang selalu memerhatikan dan memberinya semangat, dan teman-teman yang selalu menemani dan menghiburnya. Harapan itu perlahan mulai tumbuh dan bersemi. Apalagi saat ia mulai merasakan perkembangan positif atas kesembuhan dari penyakitnya.

Dinda bersyukur kepada Tuhan atas kesempatan hidup dan kekuatan yang diberikan sehingga dia kuat menghadapi serangan penyakit otak yang sangat kompleks. Dinda tidak pernah lelah berdoa untuk kesembuhannya. Dia tidak pernah lupa menjalankan sholat lima waktu dan beberapa sholat sunnah. Itu semakin menguatkannya. Dinda pun sangat yakin akan janji Tuhan dalam firman-Nya dalam surat Al Insyirah: “…karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan………Dan hanya kepada Tuhanmulah, engkau berharap.”

Mulai Bangkit
Setelah Dinda menjalani beberapa terapi, dari mulai terapi bicara, terapi tangan dan terapi berjalan, fungsi-fungsi organnya mulai bisa digunakan, walaupun tidak normal seperti semula. Tapi itu cukup membangkitkan kembali gairahnya untuk kembali berkarya. Dia mulai banyak menulis baik untuk blog maupun untuk di kirm ke media massa. Tulisan Dinda ada yang berupa artikel, ada juga yang berupa puisi ataupun cerpen.

Aktivitas lain yang dilakukan Dinda, dia bersama teman-temannya menggagas dibentuknya Indonesia Media Watch. Sebuah lembaga yang bertujuan untuk memantau media massa agar sajiannya, baik berita maupun hiburannya berpihak kepada Hak Asasi Manusia khususnya hak perempuan, kelompok minoritas dan lingkungan. Untuk membiayai aktivitas Inonesia Media Watch, Dinda swadaya bersama pengursus lainnya.

Tidak berhenti di situ, Dinda pun menggagas beladiri Self Defense for Women (SDFW). Ini bermula saat Dinda mengirim e-mail ke Forum Pembaca Kompas, artikel Dinda yang berjudul “Kekerasan Terhadap Perempuan Sebagai Masalah Kesehatan Masyarakat.” Tulisan tersebut direspon oleh pelatih karate di Amerika Serikat yang bernama Sensei Deddy Mansyur, seorang warga Negara Indonesia yang tinggal di Texas. Deddy Mansyur yang memberikan ide agar Dinda menggagas beladiri Self Defense for Women di Jakarta. Bersama Sensei Fahmy Syarif yang merupakan Sensei Deddy Mansyur gagasan itu diwujudkan.

Dari aktivitas itu, Dinda bersama Sensei Fahmy Syarif menerbitkan buku panduan Self Defense for Women. Setelah itu buku-buku Dinda yang lain diterbitkan. Hal itu menegaskan bahwa Dinda tidak menyerah oleh serangan penyakit yang membuat kebanyakan penderitanya meninggal dunia.

Dalam waktu kurang lebih setahun, empat buku telah tulis oleh Titiana Adinda. Buku-buku itu berjudul Self Defense for Women, Harapan itu Masih Ada, Kekerasan Itu Berulang Padaku, dan buku terakhirnya, Biarkan Aku Memilih. Hal itu menunjukkan produktivitas yang patut diacungi jempol.

Benar, memang, setelah kesusahan ada kemudahan. Sesudah penderitaan, ada produktivitas. Dinda seakan membuktikan, penyakit, semaut apa pun, tak harus membuat seseorang selamanya merasa sakit, dan berhenti hidup.
***

Disadur dari Buku Harapan Itu Masih Ada, Penulis Titiana Adinda

Rabu, 24 November 2010

Diary Geblek





"KUBILANG JANGAN MENYERAH, YA JANGAN MENYERAH!!!"

Hah, kalah telak aku sebelum bertanding. Aku geram dan mendengus kesal. Kututup semua jendela aplikasi yang telah kubuka. Aku kecewa berat bukannya mendapatkan durian runtuh tapi hanya kulitnya. Hanya kurang satu click pada tulisan "kirim" itu semua mimpiku akan menjadi nyata.

Sia-sia kubayangkan karyaku akan dibaca orang lain. Paling tidak seharusnya namaku pernah terpampang di sana, kurasa itu bisa mengurangi rasa kecewaku. Lagi-lagi seandainya saja. Aku terlalu banyak berandai-andai. Sampai aku tak bisa menelaah kata-kata yang mirip dengan tinta ungu pada cumi-cumi -- melumpuhkan mangsa. Sayang seribu sayang, aku lupa pada usiaku sendiri. Aku baru sadar ternyata aku sudah tua sebentar lagi kepala dua.

Seandainya saja syarat-syarat itu tak pernah kubaca ulang, rasa kecewaku takkan setinggi pohon kelapa. Semua syarat telah berusaha kupenuhi dari A-F. Namun ternyata aku tertipu pada pernyataan  di "E. Usia tidak boleh lebih dari 19" kata-kata itu yang membuatku kurang jeli, kurang cermat dan kurang teliti atau mungkin karena terlalu menggebu-gebu dan ingin segera menunjukkan pada dunia bahwa aku mampu menggapai mimpi terpendamku.

Kacauuuu, Kartu Identitasku nyaris lantap gara-gara aku bela-belain nyecan dan lupa tak kuminta. Mungkin anganku terlalu tinggi tuk digapai. Terlalu tinggi membuatku hanya bisa bermimpi. Mungkin juga aku yang udik dan tak pantas berpendar bersama bintang.

Aku semakin bertambah sadar, ternyata energi, pikiran dan waktu perlu dipertaruhkan di sini. Ini bukan untuk yang pertama kali, tapi ini adalah yang kesekian kali sepanjang sejarah hidupku. Kalau aku menyerah sampai di sini aku berarti pengecut.

"HEI, INI BELUM BERAKHIR. MASIH ADA BANYAK KESEMPATAN. MUNGKIN BELUM WAKTUNYA KAU TERJUN. LANGKAHI SEMUA LEVEL KEKECEWAAN ITU DAN BANGKITLAH!!!"

Kelam, mendung, tapi tak hujan.
Tenggelam, tersapu, melayang.
Suasana hening dan mencekam.
Ingin berteriak melepas kelelahan.
Dan kata sabar itu pun berusaha kulontarkan.
Ternyata bukan aku seorang yang merasakannya.
Aku masih mempunyai teman, ya masih.
Mereka juga mengalami kekecewaan itu, karena dibatasi dengan usia.

(Senin, 22 November 2010)

Minggu, 21 November 2010

Saat Ku Jauh

: Jika aku tak bisa menemanimu 
  bayangkan aku di dekatmu
  Ketika hujan berjatuhan
  anggaplah butiran air itu aku
  Ketika mentari menyengat kulitmu
  anggaplah aku bayangan peneduhmu
  Ketika malam pekatnya melarutkanmu
  anggaplah aku bintang yang
  menggelilingimu
  Meski aku aku tak terlihat 
  percayalah aku sedang memikirkanmu



Sabtu, 20 November 2010

Biarkan Aku Bercerita

Biarkan aku bercerita kawan,
tentang mereka yang kehilangan nyali,
datang dengan muka pedih,
menunduk menelungkupkan wajah,
seakan pedih sedang mengelayuti wajah-wajah mereka

Biarkan aku bercerita kawan,
tentang mereka yang berapi-api,
ingin menusukkan pedang mereka di langit yang tertinggi,
meraung-raung bangga,
seolah telah menang dilaga pertempuran

Biarkan aku bercerita kawan,
tentang pengantar wajah bahagia dan muram,
mereka datang dengan wajah bahagia meskipun sedang muram,
tapi mereka juga muram ketika bahagia datang menghampirinya

Biarkan aku bercerita lagi kawan,
tentang pengantar wajah abstrak,
datang dengan tenang tak menampakkan mimiknya,
wajah siapakah itu?
tak ada yang dapat menebaknya,
ia begitu terlarut dalam wajah datarnya,

Indah Tapi Tak Indah

Aku termangu menengadah ke langit malam
Berbisik pada angin
Antarkan aku ke negerinya dulu
Negeri seribu batu
Tempatku tak saling bertegur
Menyunggingkan senyum pun segan
Menatap pun terhalang

Kini
Wajah itu yang kurindu tapi ku lupa rupa
Suara yang kurindu tapi ku tak dengar
Senyum yang menawan tapi ku tak lihat
Bayang yang ku nanti tapi tak hadir
Begitu indah tapi tak indah
: Jika saja waktu dapat menjamahnya lagi
 dan mengembalikanku ke negerinya dulu
 Kan kutunjukkan bintang biru yang pemalu

Cara Memakai Riglet

Tunanetra tidak menggunakan indra penglihatannya untuk membaca tapi ia menggunakan indra perabanya. Mereka tak bisa membaca dengan tulisan alfabet seperti kita yang orang awas atau normal kecuali anak low vision karena masih mempunyai sisa-sisa penglihatan.
Mereka yang buta total, menggunakan huruf Braille untuk membaca maupun menulis yaitu berupa titik-titik kecil yang timbul. Untuk bisa meraba tulisan Braille itu sendiri perlu latihan yang lumayan lama. Tak hanya sehari atau seminggu, bisa jadi butuh waktu berbulan-bulan untuk mengasah kepekaan permukaan tangan.

Latihan bisa dimulai dengan membedakan tekstur dari yang halus dan kasar. Misalnya dengan amplas dari no. 1 sampai no. 10. Pertama si anak disuruh meraba amplas no 1 dan 10, setelah itu no. 1 dan 9, begitu seterusnya sampai no. 1 dan 2 yang sangat tipis perbedaannya. Itu pun dilakukan sampai anak bisa menguasai misalnya  dua minggu. Bisa juga membedakan tekstur halus dan kasar dengan kain, dari kain yang kasar seperti jeans sampai kain sutra.  

Bagi kita yang bermata awas atau normal tak ada salahnya mengenal huruf Braille. Untuk menulisnya kita butuh riglet. Tak di sembarang tempat orang menjualnya. Harganya pun tidak semurah ketika kita membeli penggaris, pensil atau penghapus.

Kalian pengen belajar pakai riglet? Begini caranya:
1. Konsep dasarnya kalian harus tahu dulu. Menulis huruf Braille dimulai dari kanan ke kiri, seperti saat membaca ayat-ayat suci di Al-Qur'an. Huruf Braille terbagi menjadi 2 yaitu huruf baca dan huruf tulis. Pastikan kalian menggunakan huruf tulis karena kita mau menulis.  
2. Kalau sudah tahu konsep dasarnya kita akan mulai memakai alatnya. Siapkan kertas dan riglet. Buka rigletnya dan jepit kertas. Pastikan lurus dan tidak miring.
    
             
3. Peganglah alat yang akan digunakan untuk menusuk seperti gambar berikut:


 4. Kemudian mulailah dari kotak sebelah pojok kanan atas. 

 

5. Jika sudah habis, buka riglet kembali dan letakkan seperti awal tadi. Agar tidak bertumpuk perhatikan bekas titik besar dari riglet di kertas ada empat buah di setiap sudutnya. Pastikan 2 bekas titik besar yang bawah dari riglet itu tepat masuk di riglet lagi.


Begitulah cara memakainya. 
Kalau untuk membacanya, kita harus membalik kertas tadi sehingga huruf itu timbul. 

 -Selamat Mencoba-


Jumat, 19 November 2010

Autism

A = Always
U = Unique
T = Totally
I  = Interesting
S = Sometimes
M = Mysterious




Autisme adalah gangguan perkembangan kompleks yang gejalanya harus sudah muncul sebelum anak berusia 3 tahun. Gangguan neurologi pervasif ini terjadi pada aspek neurobiologis otak dan mempengaruhi proses perkembangan anak. Akibat gangguan ini   sang anak tidak dapat secara otomatis belajar untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya, sehingga ia seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri.

Kata autis berasal dari bahasa Yunani “auto” berarti sendiri yang ditujukan pada seseorang yang menunjukkan gejala  “hidup dalam dunianya sendiri”. Pada umumnya penderita autisma mengacuhkan suara, penglihatan ataupun kejadian yang melibatkan mereka. Jika ada reaksi biasanya reaksi ini tidak sesuai dengan situasi atau malahan tidak ada reaksi sama sekali. Mereka menghindari atau tidak berespon terhadap kontak sosial (pandangan mata, sentuhan kasih sayang, bermain dengan anak lain dan sebagainya).
Pemakaian istilah autis kepada penderita diperkenalkan pertama kali oleh Leo Kanner, seorang psikiater dari Harvard  (Kanner, Austistic Disturbance of Affective Contact) pada tahun 1943 berdasarkan pengamatan terhadap 11  penderita yang menunjukkan gejala kesulitan berhubungan dengan orang lain, mengisolasi diri, perilaku yang tidak biasa dan cara berkomunikasi yang aneh.

Jumlah anak yang terkena autis semakin meningkat pesat di berbagai belahan dunia. Di Kanada dan Jepang pertambahan ini mencapai 40 persen sejak 1980. Di California sendiri pada tahun 2002 di-simpulkan terdapat 9 kasus autis per-harinya. Di Amerika Serikat disebutkan autis terjadi pada 60.000 – 15.000 anak dibawah 15 tahun. Kepustakaan lain menyebutkan prevalens autis 10-20 kasus dalam 10.000 orang, bahkan ada yang mengatakan 1 diantara 1000 anak. Di Inggris pada awal tahun 2002 bahkan dilaporkan angka kejadian autis meningkat sangat pesat, dicurigai 1 diantara 10 anak  menderita autisma. Di Indonesia yang berpenduduk 200 juta, hingga saat ini belum diketahui berapa persisnya jumlah penderita namun diperkirakanjumlah anak autis dapat mencapai 150 -–200 ribu orang. Perbandingan antara laki dan perempuan adalah 2,6 – 4 : 1, namun anak perempuan yang terkena akan menunjukkan gejala yang lebih berat.
Penyebab autis belum diketahui secara pasti. Beberapa ahli menyebutkan autis disebabkan karena multifaktorial. Beberapa peneliti mengungkapkan terdapat gangguan biokimia, ahli lain berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh gangguan psikiatri/jiwa. Ahli lainnya berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh karena kombinasi makanan yang salah atau lingkungan yang terkontaminasi zat-zat beracun yang mengakibatkan kerusakan pada usus besar yang mengakibatkan masalah dalam tingkah laku dan fisik termasuk autis.

Beberapa indikator perilaku autistik pada anak dengan autis antara lain:
Minim Komunikasi : Anak autis umumnya memiliki kemampuan komunikasi yang sangat minim, anak dengan autis biasanya juga sangat jarang memulai komunikasi dalam lingkungan sosialnya. Komunikasi yang saya gambarkan di sini lebih kepada komunikasi yang bersifat verbal.
Sedikit Bicara : Jarang memulai komunikasi sudah tentu dapat mempengaruhi aspek anak autis secara verbal, sehingga saat berkomunikasi atau menjawab pertanyaan biasanya anak autis hanya memberikan respon singkat atau bahkan tidak ada sama sekali, jawaban yang diberikan biasanya sebatas satu atau dua kata.
Tidak Menggunakan Bahasa Tubuh / Isyarat : Selain minim komunikasi secara verbal, anak autis juga jarang atau bahkan nyaris tidak pernah sama sekali menggunakan bahasa tubuh atau bahasa isyarat seperti yang sering kita lihat pada gejala anak tunawicara (maaf : bisu) sebab anak autis lebih bersifat kepada minimnya minat secara psikologis / psikis anak autis tersebut jadi bukan kepada masalah atau keterbatasan yang bersifat fisik.
Tidak Mau atau Tidak Mampu Menirukan Suara : Ini biasanya dapat kita praktekkan dalam aktifitas sehari-hari dengan mengajarkan beberapa kata sederhana pada anak dengan indikasi autis. Anak dengan autis biasanya menunjukkan indikator perilaku yang terkesan enggan atau bahkan tidak mau sama sekali menirukan kata-kata sederhana yang kita contohkan. Realisasi pada bagian ini dapat kita praktekkan dengan memegang bagian tenggorokan anak untuk mengetahui getaran suara yang dihasilkan.
Kejanggalan Penekanan Suara : Indikator ini dapat terlihat pada perilaku anak autis yang cukup bertolak belakang dengan beberapa contoh perilaku autistik yang saya sebutkan sebelumnya. Pada indikator kemampuan bahasa atau komunikasi anak autis bagian ini, anak autis umumnya mampu dan mau menirukan beberapa kata sederhana namun masih terdapat perbedaan yang jelas pada bagian penekanan suara atau intonasi maupun kesempurnaan nada suara yang dihasilkan, misalnya penekanan penggalan kata yag tidak lazim atau tidak sama dengan yang dicontohkan.
Tidak Berekspresi : Saat melakukan komunikasi dengan orang lain termasuk orangtua, anak autis seringkali terlihat menunjukkan ekspresi yang datar, meskipun menunjukkan sedikit minatnya kepada orang lain. Ekspresi anak autis biasanya dapat terlihat dengan jelas saat kita mengajaknya berkomunikasi langsung dengan upaya tatap muka (meskipun nyaris tidak ada)
Sering Mengulang Kata atau Kalimat : Pada tahapan ini mungkin sebagian orangtua seringkali menganggapnya sebagai perilaku yang normal dan wajar. Memang pada bagian penilaian indikasi perilaku autistik ini, kita harus jeli membedakan termasuk menyesuaikan dengan indikator perilaku anak autis lainnya. Namun biasanya pengulangan kata atau kalimat pada anak autis ini terdapat perbedaan yang sangat mencolok dibanding perilaku normal khususnya dari segi intensitas pengulangan kata.
Mengucapkan Tapi Tidak Mengerti : Kemampuan komunikasi anak autis memang cukup unik karena tidak jarang ada anak autis yang mampu mengucapkan kata atau kalimat dengan sempurna namun sebenarnya tidak mengerti sama sekali tentang arti kata yang baru saja diucapkan bahkan untuk kata-kata sederhana seperti makan, tidur, menulis, belajar dan bermain.

Orang tua dapat melakukan deteksi dini gejala autis pada anak dengan memperhatikan gejala-gejala berikut dan perlu diwaspadai:
§  Anak usia 30 bulan belum dapat berbicara atau melakukan komunikasi verbal
§  Tidak peduli kepada orangtua maupun lingkungan
§  Hiperaktif
§  Tidak bisa bermain dengan teman sebaya
§  Menutup diri terhadap pergaulan sosial
§  Sering mengulang beberapa perilaku yang sama dengan intensitas yang tinggi

Dibawah ini ada 10 jenis terapi yang benar-benar diakui oleh para professional dan memang bagus untuk autisme.
1) Applied Behavioral Analysis (ABA)
ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai , telah dilakukan penelitian dan didisain khusus untuk anak dengan autisme. Sistem yang dipakai adalah memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive reinforcement (hadiah/pujian). Jenis terapi ini bias diukur kemajuannya. Saat ini terapi inilah yang paling banyak dipakai di Indonesia.
2) Terapi Wicara
Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa. Biasanya hal inilah yang paling menonjol, banyak pula individu autistic yang non-verbal atau kemampuan bicaranya sangat kurang. Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang, namun mereka tidak mampu untuk memakai bicaranya untuk berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain. Dalam hal ini terapi wicara dan berbahasa akan sangat menolong.
3) Terapi Okupasi
Hampir semua anak autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Gerak-geriknya kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk memegang pinsil dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan menyuap makanan kemulutnya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini terapi okupasi sangat penting untuk melatih mempergunakan otot -otot halusnya dengan benar.
4) Terapi Fisik
Autisme adalah suatu gangguan perkembangan pervasif. Banyak diantara individu autistik mempunyai gangguan perkembangan dalam motorik kasarnya. Kadang-kadang tonus ototnya lembek sehingga jalannya kurang kuat. Keseimbangan tubuhnya kurang bagus. Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris akan sangat banyak menolong untuk menguatkan otot-ototnya dan memperbaiki keseimbangan tubuhnya.
5) Terapi Sosial
Kekurangan yang paling mendasar bagi individu autisme adalah dalam bidang komunikasi dan interaksi . Banyak anak-anak ini membutuhkan pertolongan dalam ketrampilan berkomunikasi 2 arah, membuat teman dan main bersama ditempat bermain. Seorang terqapis sosial membantu dengan memberikan fasilitas pada mereka untuk bergaul dengan teman-teman sebaya dan mengajari cara-caranya.
6) Terapi Bermain
Meskipun terdengarnya aneh, seorang anak autistik membutuhkan pertolongan dalam belajar bermain. Bermain dengan teman sebaya berguna untuk belajar bicara, komunikasi dan interaksi social. Seorang terapis bermain bisa membantu anak dalam hal ini dengan teknik-teknik tertentu.
7) Terapi Perilaku.
Anak autistik seringkali merasa frustrasi. Teman-temannya seringkali tidak memahami mereka, mereka merasa sulit mengekspresikan kebutuhannya, Mereka banyak yang hipersensitif terhadap suara, cahaya dan sentuhan. Tak heran bila mereka sering mengamuk. Seorang terapis perilaku terlatih untuk mencari latar belakang dari perilaku negatif tersebut dan mencari solusinya dengan merekomendasikan perubahan lingkungan dan rutin anak tersebut untuk memperbaiki perilakunya,
8) Terapi Perkembangan
Floortime, Son-rise dan RDI (Relationship Developmental Intervention) dianggap sebagai terapi perkembangan. Artinya anak dipelajari minatnya, kekuatannya dan tingkat perkembangannya, kemudian ditingkatkan kemampuan sosial, emosional dan Intelektualnya. Terapi perkembangan berbeda dengan terapi perilaku seperti ABA yang lebih mengajarkan ketrampilan yang lebih spesifik.
9) Terapi Visual
Individu autistik lebih mudah belajar dengan melihat (visual learners/visual thinkers). Hal inilah yang kemudian dipakai untuk mengembangkan metode belajar komunikasi melalui gambar-gambar, misalnya dengan metode …………. Dan PECS ( Picture Exchange Communication System). Beberapa video games bisa juga dipakai untuk mengembangkan ketrampilan komunikasi.
10) Terapi Biomedik
Terapi biomedik dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam DAN! (Defeat Autism Now). Banyak dari para perintisnya mempunyai anak autistik. Mereka sangat gigih melakukan riset dan menemukan bahwa gejala-gejala anak ini diperparah oleh adanya gangguan metabolisme yang akan berdampak pada gangguan fungsi otak. Oleh karena itu anak-anak ini diperiksa secara intensif, pemeriksaan, darah, urin, feses, dan rambut. Semua hal abnormal yang ditemukan dibereskan, sehingga otak menjadi bersih dari gangguan. Terrnyata lebih banyak anak mengalami kemajuan bila mendapatkan terapi yang komprehensif, yaitu terapi dari luar dan dari dalam tubuh sendiri (biomedis).

Siapa yang berwenang menegakkan diagnosis bahwa seseorang itu autistik?
Apakah seseorang dapat dinyatakan sebagai individu autistik atau tidak, ditentukan melalui tahapan wawancara mendalam dengan orang-orang yang mengasuh anak dan paham akan perkembangan anak di tiga tahun pertama kehidupannya, observasi serta interaksi dengan anak tersebut.
Dokter dan psikolog biasanya adalah profesi-profesi yang dijadikan ujung tombak penanganan individu autistik. Profesi lain seperti guru, terapis, maupun pihak saudara, serta orangtuanya sendiri dan anggota masyarakat umum memegang peranan penting dalam memberikan data mengenai kondisi anak sehari-hari secara detil.

Adakah kemungkinan bagi individu autistik untuk “sembuh”?
Karena autisme merupakan gangguan perkembangan dan bukan suatu penyakit, penggunaan istilah “sembuh“ menjadi kurang tepat. Yang lebih tepat adalah bahwa individu autistik dapat ditatalaksana agar bisa berbaur dengan individu lain di masyarakat luas semaksimal mungkin, dan pada akhirnya dapat beradaptasi dengan berbagai situasi yang juga dihadapi orang lain pada umumnya.
Sumber:
http://autism.blogsome.com/
http://autisme.or.id/istilah-istilah/autisme-masa-kanak/
http://autisme-autis.blogspot.com/
http://tips1.wordpress.com/2010/02/04/10-jenis-terapi-autisme/

Kegagalan Mengajariku Arti Kebahagiaan

Aku mendarat di depan rumah berpagar abu-abu. Aku turun dari mobil dan menatap rumah itu. Tanganku ditarik dan dia melangkah lebih du...