Langsung ke konten utama

KEMOKU ABEKU

Senja telah menutup matanya dan biarkan langit kelam menguasainya, karena bagaimanapun mengelak, malam akan melarutnya tanpa berbasa-basi. Lalu hari esok mentari menyapa, bersinar menghangatkanmu, pagi membangunkanmu dan kau kehilangan bunga tidurmu. Kau tak bisa mengulangi ataupun memanggilnya lagi karena dimensi terlalu jauh berbeda. Sepertinya aku tak ingin terbangun dari tidur malamku tapi kenyataannya aku harus terbangun dan menerima ini semua.
Dokter memvonis hidupku. Harapan hidupku lenyap ketika ia berkata, “Anda sepertinya butuh kemoterapi, dan jika Anda tidak menyukai alternatif ini kemungkinan terburuk bisa terjadi dalam waktu dekat.”
Penyakitan ya, aku penyakitan. Harapanku seperti embun yang menghilang saat matahari bersinar sepenggalah. Impianku sepertinya hanya tinggal angan-angan dalam lelapku. Seperti senja aku pun tak bisa mengelak, sedikit demi sedikit aku harus bisa menerima karena mau tak mau ia mengerogotiku secara perlahan tapi pasti. Apalagi aku tahu dan begitu sadar sewaktu-waktu penyakit ini bisa melenyapkanku.
Aku sangat gelisah ketika mendengar kata kemoterapi. Kubayangkan di depan cermin seandainya rambutku sehelai demi sehelai menghilang. Kubayangkan saat kusisir rambutku dan kudapati gumpalan berwarna hitam tersangkut di jari-jari sisir itu. Sungguh mengenaskannya hidupku. Aku sangat berharap aku masih punya rambut di kepalaku. Aku sangat berharap tak ada sehelai pun rambut yang tersangkut di sisir itu.
Aku sangat takut, terlebih-lebih jika tiba-tiba dokter mengatakan bahwa kemoterapi yang akan kujalani tak berfungsi lagi untukku, itu berarti semua yang kulakukan akan sia-sia.
 Namun, muncul sesosok lelaki dengan paras yang tak terlalu mempesona, tidak terlalu tinggi dan sangat jauh dari bayanganku, datang memberiku semangat. Ia berkata padaku, “Lihatlah kunang-kunang, umurnya memang tak panjang tapi ia masih sempat terbang dan sanggup menerangi kegelapan malam meski hanya dengan setitik cahaya.” Sayang dia milik sahabatku, Sheryl.
***
Bosan aku memandang tembok putih, lantai putih, dokter dan perawat dengan baju putih, semua jadi serba putih. Sudah hampir seminggu aku terkurung di bangunan serba putih dan bau obat yang khas mencekik. Jeritan orang-orang yang kesakitan. Wajah-wajah murung, linangan air mata, gerangan orang terisak-isak, dan beberapa yang terlihat tegar. Seperti sosok sahabatku ini, Sheryl. Dia rela menemaniku jalan-jalan, melihat hujan dan mendorong kursi rodaku melewati koridor.
“Hujan. Aku ingin bermain dengan hujan, Sheryl,” gumamku. Aku mencoba mengenggam tetesan air yang jatuh dari genting. Aku teringat pada musim penghujan, kami sering hujan-hujanan saat pulang sekolah.
“Mmm, kalau kamu sembuh nanti kita main hujan sama-sama lagi ya. Tapi janji, pokoknya kamu harus sembuh. Nggak boleh nggak,” paksanya.
Aku tak sanggup berjanji padanya. Tiap kulihat wajahnya, aku tahu ia menyimpan harapan besar untuk kesembuhanku. Namun baru seminggu di rumah sakit saja badanku sudah lemas. Untuk berjalan saja kepalaku terasa pening.
“Sheryl, bagaimana hubungan kamu dengan Abe? Masihkah kalian bertahan sampai sekarang?” tanyaku.
“Baik, sangat baik,” ujarnya dengan penekanan. “Bahkan lebih baik dari yang lalu. Sekarang Abe lebih mengerti aku dan aku semakin mengerti Abe,” lanjutnya dengan sangat meyakinkan.
Sekelumit perasaan meledak di hatiku mendengar pernyataan Sheryl tentang hubungannya dengan Abe. Seperti tertancap paku hatiku, tersayat-sayat, tapi masih terdapat sisa kebahagiaan untuk sahabatku. Betapa egoisnya aku jika aku benar-benar menyukai Abe. Jelas-jelas di depan mata kepalaku sendiri dulu Sheryl menerima Abe. Jelas-jelas aku tahu Abe lebih menyukai Sheryl dan jelas-jelas Abe lebih memilih Sheryl daripada aku yang penyakitan dan cepat putus asa ini.
“Kenapa kamu tanya hal itu, Jess? Apa karena aku udah jarang cerita sama kamu?” tanyanya penuh selidik. “Emm, tapi memang beberapa minggu ini aku jarang ketemu sama dia. Yah, biasalah dia sibuk sendiri. Padahal dua hari yang lalu aku ngajak dia ke sini, tapi tau sendirilah bagaimana Abe,” ujar Sheryl.
Aku tercegang. Ada sesuatu yang salah di sini, dua hari yang lalu Abe datang menjengukku sendirian dengan seikat bunga mawar putih. Ketika aku bertanya tentang Sheryl ia menjawab, “Sheryl sibuk dia tak bisa mengengukmu.”
“Jess, sebenernya ada hal yang pengen banget aku ceritakan, tapi aku belum siap. Mungkin lusa baru bisa kuceritakan,” ujarnya agak ditahan.
“Sheryl, kamu baik-baik aja?” Aku tak berani bertanya lebih lanjut. Kulihat dari tatapan matanya, dia sedang menghadapi suatu masalah tapi apa karena aku penyakitan dia mengurungkan niatnya.
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang bergerak di kepalaku. Rasanya nyeri itu kembali terasa lagi. Aku bermaksud menahan rasa sakitku, tapi ekspresi kesakitanku tak bisa diajak kompromi.
“Jess, apa perlu aku panggilin dokter? Aku panggilin ya? Biar kamu dikasih obat penenang,” usul Sheryl dengan paniknya.
Di tengah kesakitanku terlihat sosok Abe dari jauh. Ia menghampiriku lalu memegang jemariku dan berusaha ikut menghilangkan rasa sakitku. Tapi kulihat Sheryl mundur tiga langkah menjauhiku. Ia membiarkan aku bersama dengan Abe. Kulihat matanya berkaca-kaca. Ia terlihat sedang menahan air yang akan jatuh di pipinya.
Satu sisi aku bahagia karena Abe ada di dekatku meski hanya sesaat, tapi di sisi lain sahabatku tersiksa oleh kebahagiaanku. “Jessy bodoh! Apa yang kau lakukan?  Lihatlah Sheryl berdiri di depanmu! Menyaksikanmu dengan kekasihnya. Apa yang sedang kau lakukan? Maafkan aku, Sheryl,” gumamku dalam hati. Hanya penyesalan dan sebuah kata maaf yang bisa kuucapkan dalam hatiku.
***
Beberapa jam kemudian aku tersadar berada di dalam ruangan putih dan terbaring di atas tempat tidur. Kulihat dua sosok yang saling berjauhan. Sheryl terlihat tenang sedangkan Abe mondar-mandir tak jelas. Aku pun memutuskan untuk tetap pura-pura tidur dan sesekali membuka mataku sedikit untuk memastikan keberadaan mereka. Terdengar pembicaraan mereka yang terdengar samar-samar.
“Kamu yang bilang ini jalan terbaik kan? Lalu mengapa sekarang kamu merasa ini seperti sebuah permainan?” Sebuah pertanyaan dengan nada tinggi dari Abe. 
Terdengar suara lembut Sheryl, “Aku tak merasa begitu, aku hanya ingin bilang jangan melakukan itu lagi! Kamu masih ingatkan kalau aku belum mengatakan padanya tentang hal ini?”
“Ingat? Ya aku ingat. Aku bisa melakukan apa yang aku inginkan. Semua terserah aku,” sentak Abe, suaranya terdengar meninggi. Aku pun pura-pura terbangun karena suara itu. Ekspresi mereka berubah menjadi ramah, lembut dan penuh perhatian padaku.
“Ah, jangan pura-pura di depanku seperti itu! Aku tahu kalian sedang bermasalah. Selesaikanlah baik-baik, aku tak mau ikut campur dengan masalah kalian. Aku yakin kalian bisa menyelesaikan secara dewasa,” ujarku sok menasihati.
Tiba-tiba seorang perawat masuk memastikan aku di dalam lalu menyuruh Abe dan Sheryl keluar. Setelah itu masuklah dokter yang siap mengeksekusiku.
“Selamat sore menjelang malam, Jessy!” Dokter itu menyapaku dengan nada bercanda. “Bagaimana, sudah siap menerima dampak terburuk dari proses kemoterapi yang kamu jalani?” Dokter itu bertanya padaku sambil menyiapkan cairan dan sebuah jarum suntik.
“Entahlah, aku sudah pasrah, Dok! Apapun yang dokter lakukan pasti demi kesembuhanku,” ujarku tanpa semangat sedikit pun.
“Kamu tau beberapa orang bisa sembuh total dari penyakit ini? Sudah cukup banyak. Itu karena mereka punya harapan untuk hidup. Memangnya kamu nggak mau seperti mereka?” Dokter itu menceramahiku dengan nada sok tahu. Padahal nasibku tak berada di tangannya. “Kok diam?” tanyanya.
“Apa masih ada yang mau denganku, Dok. Jika setelah ini sehelai rambut pun aku tak punya? Mungkin saja tubuhku menjadi kerempeng dan menyusut,” tukasku.
“Mmm, masih, masih ada,” gumamnya tanpa sedikitpun keraguan. Membuatku kesal. Sebenarnya siapa dokter ini beraninya mencampuri urusanku.
“Apa kau tak melihat laki-laki yang baru saja keluar bersama teman perempuanmu tadi? Sepertinya ia tulus menyayangimu. Ia rajin datang kemari dan membawa mawar putih. Tapi sayang, tiap dia datang pasti kamu tertidur pulas dan dia hanya berani menatapmu dari balik pintu,” lanjut dokter itu.
“Mmm.. Mungkin karena dia kekasih sahabatku. Jadi, ia memperlakukan aku seperti itu? Karena aku selalu bersama kekasihnya, mungkin ia menginginkanku cepat sembuh agar aku bisa menemani kekasihnya setiap saat. Yah, maklum dia itu orang sibuk, bisa dibilang mirip seperti dokter,” tukasku sekali lagi pada dokter yang sibuk sekali – sibuk mencampuri urusan orang lain.
Dokter itu menyuntikan cairan itu ke dalam infusku. Sedetik dua detik efeknya masih belum terasa dan dokter itu tersenyum melihatku gelisah akan efek terburuk setelah cairan itu masuk ke dalam tubuhku untuk pertama kalinya. “Sudahlah, nggak usah diliatin terus. Setelah ini mungkin akan terasa pusing dan mual. Bersiap-siaplah!” Dokter itu  menakut-nakutiku. Padahal efek kemoterapi yang dialami orang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya.
 “Oh, ya Sheryl! Satu nasehat untukmu. Mengingat masih banyak orang di sekelilingmu yang mengharapkan kamu tetap hidup, jangan sia-siakan harapan mereka dengan kata menyerah yang keluar dari bibirmu!” Aku tercenung. Apa benar yang dikatakan dokter itu. Kalau begitu aku berdoa semoga Abe termasuk salah seorang yang mengharapkan aku hidup.
Aku cengar-cengir saat terngiang kata dokter itu. Kini aku punya satu alasan lagi untuk tetap hidup. Ternyata tak ada salahnya dokter itu ikut campur urusanku. Hihihi..
***
“Jessy!” Seseorang membuka pintu dan masuk ketika aku masih terkulai lemas.
“Hai, Abe! Lho Sheryl mana? Aku baru saja ingin membicarakan sesuatu dengannya,” sapaku sambil menahan rasa sakit efek dari kemoterapi beberapa saat lalu.
“Ia memutuskan pulang dan membiarkanku bersamamu,” jelas Abe secara singkat. Aku memincingkan mata penuh curiga.
“Apa masalah kalian belum selesai juga? Apa aku benar-benar harus campur tangan dengan masalah kalian?” Aku menawarkan diri untuk ikut campur dalam masalah mereka.
“Ya, itu sangat perlu sekali. Karena jawaban kamu akan membuat semuanya jelas dan masalah pun akan selesai,” ujarnya sambil menggaruk rambutnya yang hitam pekat.
“Maksud kamu? Aku kunci dari permasalahan kalian? Apakah begitu penting jawaban dariku sampai-sampai masalah itu selesai jika aku angkat bicara?” Ia mendengarkan pertanyaanku dengan saksama. Kulihat ia sempat mengangkat alisnya dan membentuk kerutan di wajahnya.
“Penting sekali, sangat penting, karena aku menyukaimu dan rasa ini tumbuh saat aku tau siapa Sheryl dan siapa dirimu.” Ia mengguman tak jelas. Mataku membelalak.
“Abe, kamu tau kan, Sheryl itu sahabatku. Bahkan kami berdua sudah seperti saudara, kamu tega merusak persahabatan kami dengan kata-katamu barusan?” rasanya aku ingin mencekiknya. Tapi dia terlalu mempesona untuk kucekik. Wake up, Jessy!
“Kata apa? Apa salah kalau aku mengungkapkannya? Asal kamu tau, aku dan Sheryl udah putus dari sebulan yang lalu. Sebelum kamu divonis dokter tak akan…..” ujarnya terdengar ragu untuk melanjutkan, “ To the point aja ya, aku tak mau kehilangan kamu.”
“Hentikan, Abe! Aku semakin mual mendengar kata-katamu. Lebih mual dari mendengar kata kemoterapi dan seribu kali lebih pusing daripada mengingat aku penyakitan. Aku rasa, ini bukan jalan keluar untuk semua masalah kalian,” bentakku dengan sisa-sisa energiku.
“Kenapa bukan? Sheryl udah tau kok tentang perasaan ini, dia yang memutuskanku dan menyuruhku untuk bersamamu. Sebenarnya dia ingin mengatakan ini, tapi ia begitu takut dengan reaksimu. Ia takut kamu kecewa karena tak bisa menjagaku dengan baik.” Aku tertegun. Sepertinya aku ingin meledak mendengarnya. Andai saja dia kacang panjang sudah aku potong-potong dan kujadikan tumisan.
“Apa-apaan ini? Kenapa seolah-olah aku jadi orang ketiga diantara kalian?” sahutku agak nyolot.
“Bukan begitu, Jess. Aku bisa jelaskan. Sebenarnya dia sadar, kamu sangat ekspresif mendengar namaku disebut dan kamu selalu memberi solusi demi kebaikanku bukan demi kebaikan Sheryl. Aku pun perlahan mulai menyadari itu hingga aku tak tau dari mana harus kujelaskan tentang kapan perasaan ini muncul.”
“Okey, tapi itu semua memang terjadi sebelum aku penyakitan. See! Sekarang aku penyakitan, umurku tak panjang, dan mustahil aku bisa membahagiakan orang lain. Itu intinya aku nggak berani jatuh cinta.”
Aku terdiam cukup lama sampai akhirnya Abe mencaciku, “Kenapa nggak berani? Pengecut, kamu mau menghindar dari yang namanya cinta? Kamu lupa dengan kisah tentang kunang-kunang? Aku rasa kamu masih ingat dan akan selalu ingat, hanya saja kamu tak mau mengingatnya sekarang. Kamu pengecut, Jess! Mana Jessy yang pemberani?”
“Lupakanlah Jessy yang itu, dia udah tenggelam di lautan kepedihan! Aku tak bisa menerimamu, Abe! Aku tau gimana perasaan Sheryl saat ini, karena aku pernah mengalaminya empat tahun yang lalu. Bahkan aku belum bisa menyembuhkan sakit hatiku meski tahun itu telah berjalan cukup jauh, apalagi Sheryl? Please, cabut kata-kata kamu itu! Aku tak mau kehilangan Sheryl. Kehilangan seorang sahabat itu menyakitkan, me-nya-kit-kan,” jelasku panjang lebar dengan tekanan di akhir kalimat.
“Oh, aku tau, karena dulu kamu pernah kehilangan aku kan dan sekarang kamu nggak mau kehilangan Sheryl juga. Mmm, atau kamu ingin merasakan kehilangan dua-duanya? Alasan yang cukup masuk akal, tapi apa pernah kamu membahagiakan dirimu sendiri? Aku lihat kamu selalu mengalah dan terus mengalah, kamu lebih mementingkan kebahagiaan orang lain sedangkan kebahagiaan untuk dirimu sendiri apa pernah kamu pikirkan? Terlebih saat ini kamu merasa dirimu penyakitan, apa itu membuat kamu bahagia? Padahal aku sangat berharap kamu cepat sembuh, tapi kamu sendiri menyerah sebelum sembuh,” sentaknya terlihat mengerikan. Sesaat ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Terdengar suara cekikikan dari balik tirai. Setelah kutengok ke arah sumber suara kulihat sepatu berwarna pink. Siapa lagi kalo bukan sepatu Sheryl.
“Apa-apaan Sheryl di situ? Apakah aku sedang dipermainkan di sini? Hah, dasar! Mereka berdua sekongkol,” pikirku dalam hati. Aku pura-pura diam tak tahu apa-apa.
“Kenapa diam? Nggak bisa jawab?” desak Abe.
Aku mengembungkan pipiku. Mencuatkan ujung bibirku ke depan. Meniup ujung rambutku di dahi. Aku kini yang terlihat mempermainkan mereka.
“Hei, hei, hei! Aku serius Jess!” serunya mengusik ketenanganku. Aku mengubah posisiku kali ini membelakangi Abe. Dalam hatiku cekikikan. Sebenarnya wajahku merona-rona, merah padam. Sejak Abe bilang kalau dia mencintaiku dan Sheryl pun sudah menyetujuinya. Aku ingin melayang-layang sesaat di langit-langit. Setidaknya jika terjatuh tak terlalu sakit.
“Jess? Jadi kamu mau?” tanyanya penuh selidik.
Aku mengubah posisiku lagi sebelum mengujar, “Mau? Mau apa? Bukannya tadi kamu habis bentak-bentak aku? Sekarang nggak merasa bersalah? Bagus ya, ini yang mau mencalonkan diri untuk jadi kekasihku?”
“Maksud kamu, Jess? Kamu mau…. Bener kamu mau…,” selidiknya penuh kegirangan.
“Kapan aku bilang mau? Bukannya minta maaf justru mengalihkan pembicaraan,” tukasku. Aku tak tahan lagi untuk menahan tawaku akhirnya aku meminta Sheryl keluar dari persembunyian, “Sheryl, keluarlah! Aku tau kamu bersembunyi dibalik tirai itu!”
Sheryl pun keluar dengan malu-malu. Jelas-jelas ia ketahuan, karena memilih tempat persembunyian yang sangat mudah ditebak. Ia meringis cukup lama. Menunjukkan salah tingkahnya dengan merapikan pakaian dan rambutnya.
“Kalian berdua udah puas? Tau teman sakit juga!” semburku.
“Jess, ini semua yang sebenarnya ingin aku katakana dari awal, tapi aku nggak berani. Sebenarnya aku marah pada Abe karena dia memperlihatkan perhatiannya terlalu berlebihan ke kamu. Padahal aku belum beritahu kamu, kalau kita berdua udah putus. Aku takut kamu khawatir denganku. Jadi sewaktu kamu masih tidur dan sebelum dokter itu masuk, aku marahin dia. Hehe, maaf ya! Si Abe aku marahin… Niatku kan baik, supaya Abe cepat berterus terang tentang perasaannya ke kamu.”
Aku tersenyum. Semakin kuat harapanku untuk hidup. Demi orang yang menyayangiku. Aku akan jalani kemoterapi itu hingga aku sembuh. Kemoterapi tak begitu masalah lagi, karena Abe akan selalu mengirimkan mawar putih untuk menemaniku saat ia tak bisa menjagaku.
“Jadi intinya kita jadian?” Abe memotong pembicaraan kami.
“Siapa bilang kita jadian?”
“Tapi kamu tadi bilang aku calon kekasih kamu,” jelasnya.
“Oh, ya?” tanyaku menggoda.
“Dan aku udah nembak kamu kan?” tambahnya.
“So?” ujarku dengan minim kata. Wajahnya berubah masam. Cemberut. Beda dengan Sheryl yang cekikikan tanpa henti melihat mantan kekasihnya tak bisa berbuat apa-apa.
***

Komentar