Langsung ke konten utama

Cinta di Persimpangan Penantian



Ini adalah tahun kesembilan penantianku. Aku mulai merasa bosan dan letih. Bahkan aku mulai berpikir ini bukanlah penantian. Semua yang kuciptakan dalam ilusiku ini adalah ambisi. Aku telah mulai mencintai lawan jenis sejak aku masih di bangku taman kanak-kanak. Sejak laki-laki itu menolongku ketika temanku mendorongku hingga terjatuh dan kakiku berdarah. Ia menyuruhku berhenti menangis lalu pergi meninggalkanku sendiri dengan lukaku. Tapi aku membalasnya saat aku duduk di bangku sekolah dasar, tepatnya kelas 3 aku yang meninggalkannya. Aku harus pindah mengikuti kedua orang tuaku. Saat itu usiaku delapan tahun dan aku sudah merasakan patah hati. Terlalu dini untuk merasakan semua itu tapi cinta ingusan itu menjadikanku bertahan selama ini, di kota ini untuk hidup sendiri tanpa cinta.
Papa, Mama selalu sibuk dengan urusan mereka sendiri. Kalau ada waktu luang mereka menggunakannya untuk menceramahiku agar jangan pacaran dulu. Lalu kakakku kuliah di luar kota dan pulang seminggu sekali tapi jika sibuk bisa tiga minggu sekali. Kalau dia pulang ke rumah, selalu saja pergi berkumpul dengan teman lamanya.
Aku anak terakhir, harapan terakhir yang selalu dijaga dan diatur. Meskipun begitu mereka tak bisa mengatur aku untuk tidak jatuh cinta. Karena cinta itu sudah tumbuh sejak aku merasakan kesepian. Bagai hidup sendiri di tengah orang yang berlalu lalang.
Aku Sasharifa Clara. Kini sedang mengisi kekosongan-kekosongan hidup yang tak pernah lepas dari kesendirian. Di sela-sela penantian yang omong kosong itu aku jatuh cinta lagi pada seorang laki-laki yang bernama Idzul. Dia adalah orang yang membuatku merasakan kembali cinta pertamaku. Pendiam, pandai, tinggi itulah yang membuatku terhanyut. Namun, ada perbedaan diantara cinta pertamaku dengan dia, dia lebih murah senyum dan menunjukkan lesung pipinya.
Sudah satu setengah tahun aku diam-diam mengaguminya. Aku tak mengenalnya secara langsung, tapi aku tahu namanya dari bibir-bibir teman-teman yang sering memanggil namanya. Tentu saja dia tak mengenalku dan dia takkan pernah tahu perasaanku.
Dari sekian fase cinta, inilah bagian yang kusuka, menjadi pengagum rahasia yang bebas mengamatinya kapan saja tanpa rasa curiga.
Aku berada di dalam bus F dan di bus B. Meski jauh tapi aku yakin perjalanan itu akan lebih terasa menyenangkan. Bus ini akan membawaku ke Bali bersama kisah yang kuharapkan. Semoga saja Tuhan memberiku kesempatan untuk bicara dengannya meski sekali itu saja.
♥♥♥

30 Maret 2008. Aku telah menyeberangi lautan dari Ketapang ke Gilimanuk dan sampailah di Pulau Bali. Deburan ombak menyambutku dan aku siap memulai kisahku.
“Sasha, tuh pangeran Katak lo!” Dinda mengusik lamunanku dengan memperlihatkan sosok Idzul yang berdiri di samping bus B.
“Wah, lo emang sobat gue yang paling baik. Ngerti banget kalo dari tadi aku nyariin dia. Soalnya radarku udah menangkap keberadaan dia dari tadi tapi belum sempet nemuin dia. Malah lo yang duluan nemuin dia.”
“Eh, eh, tuh dia udah masuk bus, tapi ngomong-ngomong rombongan bus kita mana ya? Kok dari tadi nggak ada. Jangan-jangan kita berdua tersesat. Coba deh gue SMS Raras.” Dinda bertanya-tanya dan menduga kami terpisah dari rombongan.
“Emang kamu punya nomernya? Aku aja deh yang sms dia!”
Lima belas menit smsnya masih pending. Aku coba telepon tut tut kayak suara kereta api. 
“Halah, sini biar gue aja. Kok, tut tut tut terus sih. Oh, iya Sha, kenapa nggak telepon Tyas aja dia kan tadi kita tinggal di toilet?” Dinda meminta handphone-ku.
Oh, no! Gue sampai nggak inget. Pasti dia marah banget deh.”
Beberapa saat telepon tersambung. Langsung saja Dinda bertanya, “Halo, Tyas. Lo di mana?”
“Wah, kalian berdua tega ya! Masak sih gue ditinggal sendiri di sini sama rombongan kita. Gue kan nggak terlalu kenal sama mereka,” semprot Tyas.
“Iya maaf deh, sekarang lo di mana?” tanya Dinda lagi.
“Masih di dalam kapal donk, Non. Kalian di sebelah mana? Kok dari tadi gue nggak liat kalian sih? Gue udah muter-muter dua kali nih. Apa kalian di toilet? Gue ke sana ya!”
“Omiemie! Baiknya lo nggak usah cari kita. Soalnya kita nggak ada di sana.”
“Lho, kalian masih ketinggalan di Ketapang tadi? Kalian masih nungguin gue di sana? Ini kapal barusan aja jalan. Gimana donk?”
“Hey, hey! Kita justru udah nyampe di Gilimanuk, Bali, dari dua puluh menit yang lalu. Kita pikir kita udah ketinggalan. Ternyata kita malah mendahului rombongan.”
“Kok, bisa sih?”
“Ini gara-gara radarnya Sasha menangkap sinyal keberadaan pangeran kodoknya. Kita jadi berjalan sendiri tanpa peduli orang-orang sekitar. Tahu-tahu kita udah sampai ke tepi tapi kehilangan rombongan.” Dinda mencoba menjelaskan.
“Untung ya, kalian mendaratnya di Bali. Kalau kalian mendarat di Kalimantan atau Sulawesi gimana? Nggak bisa pulang kan? Hahaha.. Makanya jangan ninggalin temen sembarangan! Tuh, kena karmanya kan,” ejek Tyas sambil ketawa-ketiwi.
“Wah, dirimu bukannya prihatin malah ngejek. Seneng lihat temennya sengsara?”
“Seharusnya kalian bersyukur donk udah sampai duluan di sana. Kapalnya jalannya lambat banget nih. Rasanya perut mual, mau muntah.”
“Ye, namanya naik kapal, ya kayak gitu. Lo mabuk laut ya? Kenapa nggak bilang sih? Tas lo kan di bawa Sasha, jangan-jangan obat anti mabuk lo ada di dalam tas ya?”
“Kalian nggak pernah tanya sih. Udah nggak pa-pa. Gue udah dikasih obat sama kenalan gue. Namanya Alta, nih sekarang di sebelah gue. Thanks, ya kalian udah ninggalin gue, sekarang gue justru dapet pengganti kalian.”  
“Wah, ternyata di sana malah enak-enakan. Yaudahlah, kita udah nggak dibutuhin lagi. Met berduaan ya!! Hahaa… Bye!”
Thanks, kita ketemuan di sana ya. Bye!”
Kulihat dinda menutup teleponnya.
“Gimana, Din? Sekarang Tyas di mana?”
“Masih di dalam kapal. Eh, muter-muter daerah sini dulu, yuk! Bakal nunggu lama kita. Kapalnya aja baru berangkat. Nah, ini keuntungan kita bisa sampai duluan. Nggak cuma Tyas yang bisa senang-senang, kita juga bisa donk.”
Hampir satu jam kapal datang silih berganti. Tetapi tak ada tanda rombongan bus F. Mondar-mandir ke sana kemari, sampai udah foto-foto juga masih belum datang. Tapi waktu mau pergi ke toilet, eh, ada perempuan berambut panjang lari-lari menghampiri kami.
“Woi, kalian pada tega ya!” teriak Tyas dari jauh.
“Tyas!! Ehm, ehm. Alta mana? Cie-cie nyoba kayak di kapal Titanic nggak? Kan mumpung ada kapal, suasana juga mendukung. Secara kita berdua nggak disana.” Aku menggodanya.
“Iya, kalau kalian di sana pasti nggak romantis. Soalnya pada ngerjain gue.”
“Tahu aja. Eh, habis ini langsung ke hotel dulu kan? Uh, bau badan lo, asli udah kagak nahan tuh!” Dinda mengejek Tyas.
“Emangnya lo nggak ngerasa, badan lo juga bau,” balas Tyas.
♥♥♥

Aku telah berdiri di depan hotel tempat aku menginap untuk dua hari ke depan. Terpampang jelas “Made” nama hotel itu di mataku. Aku sedang duduk di sebuah rumah-rumahan menjadi penjaga tas sementara Dinda dan Tyas mengambil kunci kamar. Tiba-tiba saja sosok lelaki yang membuatku meleleh, berdiri di sampingku terlihat sedang mencari sesuatu.
Sumpah, jantungku dipompa semakin cepat. Aku pikir ini kesempatanku mengatakan sepatah kata padanya karena di situ hanya ada aku dan dia. Mulailah aku berlagak sok kenal.
“Hey, kamu lagi cari apa? Bisa aku bantu?”
“Eh, tadi aku jatuhin kunci kamar aku di sekitar sini.”
Dengan segera indra penglihatanku berubah menjadi sangat tajam. Kulihat benda kecil dan menyilaukan mata karena pantulan sinar matahari di bawah kakiku.
“Apa ini yang kamu cari?” Aku menggerak-gerakkan gantungan kuncinya.
“Yups, makasih ya.” Berlalulah dia dari hadapanku setelah kunci itu dipegangnya. Tak apalah yang penting aku sudah berani berbicara dengannya suatu kemajuan yang pesat. Tuhan mengabulkan doaku untuk dapat berbicara dengannya.
Dinda dan Tyas kembali dengan membawa kunci. Kamar kami nomer 15 dan setahuku kamar Idzul kamar nomer 24, kupikir jauh, ternyata kami sama-sama di lantai 2. Lebih hebatnya lagi aku bisa melihatnya dari jauh ketika dia berada di luar kamar bersama teman-temannya. Sungguh perasaan senang, riang, gembira seakan berpihak padaku aku menjadi melupakan masa laluku terutama penantianku. Ternyata Tuhan mengabulkan doaku untuk menjauhkan aku dari ingatan masa lalu.
“Ngapain senyam-senyum sendiri di situ? Aha, pasti mengkhayal pangeran kodok lo itu ya! Mentang-mentang kamarnya deket, tapi bukan berarti lo berdiam diri di sini terus, nunggu dia keluar kamar. Ikut gue, yuk ke bawah! Nemuin tante gue, katanya sih dia mau ngirim makanan.” Dinda mengajakku menemui tantenya yang tinggal di Bali.
“Wah, boleh tuh! Berarti kita nggak kekurangan makanan donk,” sahutku yang bersemangat.
“Kalau makanan aja nomer satu. Yaudah, nggak usah banyak omong! Tyas, jangan lupa kamarnya dikunci!”
Ketika aku menuruni tangga, sinyalku semakin bertambah kuat menangkap keberadaan Idzul. Suatu keuntungan sudah dapet duren, sekarang dapet emas. Dia tersenyum melihatku. Omiemie! Aku makin meleleh. Apalagi dia sedang memetik gitar sambil menyanyi. Oh, so sweet! Kado teristimewa untukku. Hahaha.. Padahal dia bernyanyi bukan untukku.
♥♥♥

Pagi hari, aku masih membayangkan wajahnya. Bahkan, semalam hampir tak bisa tidur gara-gara suaranya terdengar dari luar yang sedang bercanda dengan teman-temannya.
“Hey, masih tidur, Non? Habisin tuh, makanan!” Tyas menegurku.
“Iya, iya. Ngganggu orang yang lagi bermimpi aja.”
“Sssttss, lihat tuh di pojok sana yang lagi makan siapa tuh?” Dinda menggodaku.
Begitu aku menolehkan wajahku. Wow, dia sedang makan seperti diriku. Aku semakin bersemangat menghabiskan makananku dan segera pindah tempat duduk supaya bisa melihat Idzul tanpa harus menoleh ke belakang.
“Nih, anak kenapa sih? Maen pindah-pindah aja, mana minta geser lagi. Ganggu orang yang asyik makan aja,” semprot Dinda.
“Santai, santai aku sedang lihat cara makan dia tahu. Uh, ternyata seperti itu cara dia makan.”
“Aduh, syndrome cinta emang bisa buat orang jadi gila ya. Perasaan dia makan kayak yang lain, biasa aja gitu nggak ada spesial-spesialnya,” sindir Tyas.
“Eits, buat lo itu biasa. Nah, buat gue itu luar biasa. Jarang kan gue lihat dia makan kayak gitu.” Aku mengajukan pembelaan. Hehe, kayak di pengadilan aja.
Seusai mengamati cara Idzul makan, aku harus masuk ke dalam bus F untuk memulai perjalanan ke GWK. Saat aku sampai di halaman parkir, aku melihatnya lagi. Aku memaksa Dinda dan Tyas untuk membuntutinya dan saat ada kesempatan aku menyuruh mereka memotretnya. Di bawah patung garuda yang besar aku dapat foto saat dia sedang tersenyum. Benar-benar suatu keberuntungan yang kumulai sejak menapakkan kaki di Bali.
“Sha, capek nih. Sekarang kita istirahat ya. Masak sih dari tadi buntutin dia terus. Kapan giliran gue buntutin Angga?” Dinda mulai ngomel.
“Iya nih, kapan donk gue berduaan sama Alta.” Tyas ikut-ikutan ngomel.
“Hah, Tyas kalian berdua udah jadian?” Dinda mencoba memastikan.
“Belum sih, masih tahap pedekate.”
“Yaudah, sekarang kalian boleh deh ninggalin aku sendiri di sini. Kalian cari pasangan kalian sendiri-sendiri!” seruku.
“Serius nih, uwa lo emang temen yang baik. Bye!” Dinda mencubit pipiku.
Saat mereka berdua meninggalkanku, entah mengapa perasaan kesepian itu menyelimutiku lagi. Meskipun ada Idzul di depan mataku sekalipun tak mengubah keadaan. Toh, Idzul nggak kenal aku. Buru-buru aku memutuskan untuk gabung dengan teman-teman yang lain agar perasaan itu lenyap seketika. Tapi ternyata masih terasa, bahkan semakin menjadi-jadi. Justru mengingatkanku pada masa laluku.
♥♥♥

Malam hari, di kamar hotel aku sendiri. Dinda ke kolam renang dengan Angga dan Tyas asyik berduaan di dekat tangga sama Alta. Aku mendapat telepon dari Mama.
“Sha, kamu nggak kenapa-kenapa kan di sana?”
“Tenang aja di sini ada Dinda sama Tyas kok yang jagain aku.”
“Udah makan malam?”
“Belum, nih gi mau turun cari makanan.”
“Yaudah, hati-hati ingat jangan terlambat makan. Nanti magh kamu kambuh!”
Ternyata begini caranya agar mama memperhatikanku. Tapi bukan ini yang aku mau. Aku benci semua ini. Sunyi, sepi dan sendiri. Kubanting makanan ringan yang ada di dekatku. Lalu kukumpulkan lagi saat makanan ringan itu berceceran ke lantai.
Dinda yang sudah kembali melihatku dari pintu dan merasa simpati ketika aku menatapnya tajam. Ia merasa bersalah, “Sha, maafin gue. Gue nggak bermaksud ninggalin lo sendiri kayak gini. Lo pasti ngerasa kesepian kan. Maafin gue. Gue janji nggak akan ninggalin lo lagi.”
“Din, ini bukan salah lo kok. Gue sebel aja ma nyokap gue. Masak waktu anaknya ditinggal di rumah sendirian nggak ditanya-tanyain udah makan belum, nggak kenapa-kenapa kan, kalau jauh aja ditanya tuh dari ujung ampe balik ke ujung.”
“Sha, itu tandanya nyokap lo perhatian sama lo. Kalau lo di rumah berarti lo bakal baik-baik aja. Makanan ada, hiburan banyak, mau ngapa-ngapain juga nggak pa-pa itu kan rumah lo sendiri. Nah, kalau di sini kan beda. Wajar donk kalau mereka khawatir.” Dinda membela Mama.
“Yah, tapi seharusnya nggak gitu juga donk. Gimana sih? Lo kok jadi belain nyokap gue. Lo tuh temennya siapa sih? Nyokap atau gue?”
“Ye elalalala, marah nih ceritanya. Halah gitu aja ngambek! Senyum donk! Eh, eh, denger tuh suaranya siapa?” Dinda berusaha mengalihkan pembicaraan. Aku pikir bercanda ternyata memang benar suara Idzul. Kemarahanku mereda. Berganti oleh senyuman-senyuman ala cinta.
♥♥♥

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat aku harus mengemasi barang-barang. Siang hari aku dan rombongan meninggalkan pulau Bali. Setelah puas menikmati Tanah Lot, GWK, Joger, Kuta, Sanur, Sukawati, Kintamani, Sangeh, Bedugul dan Kebun Eka Raya akhirnya aku harus kembali meninggalkan semua keindahan itu. Setidaknya ada kenangan yang terukir di sana. Bali tempat pertama kalinya aku berbicara dengan Idzul. Aku harap dia juga mengingatnya meskipun itu tak berarti baginya.
“Huh, naik kapal lagi. Semoga kita nggak naik duluan lagi.”
“Ye, kalian aja kalee. Gue sih, selalu menaati tata tertib,” sindir Tyas.
Bersama kenangan itu aku menyeberangi lautan. Melihat sunset dari kapal. Andai saja cinta itu bisa terwujud dalam hal yang lebih nyata mungkin aku berada di ujung kapal bersama Idzul seperti yang ada di film Titanic. Membawa kenangan manis itu saja aku sudah sangat senang. Karena capek aku terlelap dengan nyenyak. Dalam mimpi aku berharap esok pagi akan lebih indah.
Dua hari setelah hari itu aku masuk sekolah. Ketika aku sedang terhanyut dalam khayalanku, Dinda dan Tyas membawa kabar buruk padaku.
“Eh, dua hari ke mana aja, Non?”
“Gue kan kecapekan jadi istirahat di rumah donk,” jelasku.
“Udah denger kabar belum kalau Idzul kecelakaan?”
“Hah, masak sih? Kan dia pulang dengan selamat.”
“Iya, pulang selamat sih dua hari yang lalu. Tapi kemarin habis kecelakaan. Nabrak delman di pinggir jalan.”
“Halah, kalian bercanda ya? Masak ada delman di pinggir jalan se-gedhe itu dia nggak lihat. Mana di tabrak lagi.”
“Heh, ini tuh serius. Katanya dia itu amnesia, tapi tenang cuma amnesia ringan aja kok.” Tyas menjelaskan lebih detail.
“Apa?? Amnesia ringan lo bilang aja? Parah lo, Tyas.”
“Habisnya lo nggak percaya sih. Denger-denger ingatan yang hilang tuh, tentang study tour ke Bali kemarin. Soalnya dia masih kenal sama temen-temennya tapi dia lupa kalau beberapa hari yang lalu, dia udah pergi ke Bali.”
“OMG. Padahal gue udah beraniin diri buat bicara sama dia. Eh, sekarang dia udah lupain gitu aja?” Aku kecewa dan masih nggak percaya.
Kan nggak sengaja. Jangan nyalahin dia donk! Kan kasihan mana dia nggak bisa jalan lagi.”
“Apa?? Andai aja gue bisa nolongin dia. Tapi gue nggak bisa nglakuin apa-apa. Toh, dia juga nggak kenal gue.”
Tiap hari aku berdoa agar dia cepat sembuh dan masuk sekolah lagi. Tepat satu bulan Idzul mulai berangkat sekolah lagi, meski kakinya belum sembuh. Aku bersyukur Tuhan mengabulkan doaku lagi meski belum seutuhnya. Sayang sekarang dia tak tersenyum lagi karena harus menahan sakit tiap kali berjalan. Dan aku baru tahu kalau dia sudah mempunyai kekasih, tepatnya adik kelasku. Hilang harapanku, sirnalah impianku. Ada sebuah perasaan kecewa di diriku. Aku telah berusaha untuk mencintai orang lain tapi mengapa selalu saja seperti ini. Sebelumnya aku juga melakukan hal yang sama. Mencoba mencintai orang bernama Adam, tapi belum apa-apa aku sudah disakiti dengan kebohongan di mulut berbisanya. Lalu Dandi, aku sempat jadian dengannya tapi dia meninggalkanku begitu saja. Ia lebih memilih sahabatku dibandingkan dengan aku. Setelah ia tahu aku sedang menanti seseorang, dia tak memaafkanku. Aku sangat menyesal tapi nasi telah menjadi bubur dan bubur itu sudah tak bisa diubah menjadi bubur ayam.
Aku merasakan patah hati lagi. Mungkin ini karma untukku karena merasakan cinta di persimpangan penantianku. Tuhan menegurku lagi tuk kesekian kalinya.
Seharusnya aku bisa bertahan, menanti pertemuan dengan cinta pertamaku. Meskipun aku hanya berambisi, kuharap aku bisa bertemu dengannya sekali saja. Agar aku bisa melepasnya dengan tenang tidak seperti sembilan tahun lalu. Jika aku bertemu dengannya kelak, aku akan berpamitan dengan cara yang lebih baik.
Aku masih tak tahu apa ini yang namanya penantian. Hanya satu pihak yang menanti, tapi pihak yang lain tak mengetahuinya. Kini yang aku tahu cinta di persimpangan penantian itu hanya bumbu penyedap yang melengkapi hidupku. Idzul terima kasih telah menjadi bagian hidupku.
Aku masih harus melanjutkan penantianku. Sepahit apapun tetap harus kuterima. Ketika malam semakin melarutkanku dalam hanyut pekat kalut, aku masih menunggu jawaban dari semua pertanyaanku. Mengapa semua di dunia ini harus menunggu? Petani menunggu hujan di kemarau panjang. Ibu hamil menunggu melahirkan bayinya. Para pekerja, bekerja untuk menunggu upah yang akan diterima. Penggembala menunggu ternaknya makan dan aku menunggu waktu untuk dapat bertemu dengannya. Tapi aku menunggu untuk bertemu denganmu cinta di masa laluku.
♥♥♥


Komentar