Minggu, 24 Oktober 2010

Deaf (Tuna Rungu)

Ayo tebak mana aja yang tunarungu?
Pasti kalian tidak bisa membedakan. Itu karena mereka sebenarnya sama dengan orang normal pada umumnya secara fisik.

Kata siapa mereka tak bisa mendengar,,
Anak Deaf masih bisa menggunakan sisa pendengaran mereka, dan itulah sebabnya harus diasah.

Mereka masih bisa berkomunikasi dengan kita, meskipun penguasaan kosa katanya terhitung sedikit jika dibandingkan dengan kita.
Tapi mereka masih mau berkomunikasi kok, bahkan mereka ingin berteman dengan kita-kita. Menambah kosa kata mereka.

Jangan lecehkan mereka! Jangan jadikan mereka bahan ejekan! Jangan sebut mereka "tuli" karena itu terdengar kasar. Jika kalian di posisi mereka pasti kalian juga tak mau kan?

Minggu, 17 Oktober 2010

Jangan Berhenti Bermimpi Kawan

"Mimpi itu yang memotivasi kita dalam hidup untuk berusaha sekuat tenaga agar bisa menggapainya. Jangan pernah berhenti bermimpi," kata almarhum M.Agung Putra Prasetyo, temannya temenku.

Setiap orang punya mimpi. Tapi orang sering melupakan mimpi. Aku pun sama, pernah melupakan apa mimpiku. Saat aku tak bisa menggapainya, aku akan berusaha meninggalkan mimpi itu. Bahkan saat aku telah berusaha sampai detik terlelah pun aku tinggalkan.

Aku sempat tak percaya lagi pada mimpi-mimpi itu. Bagiku tampak sama dengan fatamorgana di gurun pasir. Tampak seperti nyata tapi sesungguhnya sangat jauh dari kenyataan. Tapi setelah waktu berputar cukup lama, ternyata aku kehilangan semangatku. Aku tak tahu harus berbuat apa lagi. Aku baru sadar ternyata dulu aku bersemangat karena ingin menggapai citaku.
Ketika cita-cita itu kutinggalkan nyaris aku tak merasakan kehidupan. Terasa datar. Tak bersinergi dengan alam.

Kau jangan seperti aku kawan yang mundur sebelum berperang. Hanya karena cita-cita awalku ditentang tak berarti harus mundur. Justru kau harus buktikan kalau kau mampu dan kau bisa. Aku sedang membangkitkan lagi. Tepatnya berusaha membangun puing-puing sisa-sisa mimpi yang pernah kutinggalkan.

Jadikanlah mimpimu itu sebagai tolak ukur keberhasilanmu. Setidaknya itu yang dapat kau lakukan meskipun mimpi itu takkan pernah terwujud. Meskipun kini kau telah mempunyai mimpi-mimpi yang lain.

Semua Telah Berlalu

Langitku tak lagi mendung saat mengenalnya
Mentariku selalu bersinar terang
Angin selalu berhembus semilir membelaiku

Tak ada lagi badai yang harus kulawan
Tak harus takut lagi dengan kegelapan
Tak harus lagi menunggu angin berhembus di penjuru sana

Dia telah mengubah semuanya
Bahkan sesuatu yang dulu tak kumengerti
Kini menjadi mengerti

Ternyata harus ada pintu yang terbuka
Ketika pintu itu kita tutup
Angin takkan bisa sampai
Mentari sinarnya terpantul
Langit selamanya kan mendung

Kini semua berubah
Karena dia aku berubah
NB:
Karyaku di bulan Mei 2010 di blog lamaku
Tak posting lagi...

KEMOKU ABEKU

Senja telah menutup matanya dan biarkan langit kelam menguasainya, karena bagaimanapun mengelak, malam akan melarutnya tanpa berbasa-basi. Lalu hari esok mentari menyapa, bersinar menghangatkanmu, pagi membangunkanmu dan kau kehilangan bunga tidurmu. Kau tak bisa mengulangi ataupun memanggilnya lagi karena dimensi terlalu jauh berbeda. Sepertinya aku tak ingin terbangun dari tidur malamku tapi kenyataannya aku harus terbangun dan menerima ini semua.
Dokter memvonis hidupku. Harapan hidupku lenyap ketika ia berkata, “Anda sepertinya butuh kemoterapi, dan jika Anda tidak menyukai alternatif ini kemungkinan terburuk bisa terjadi dalam waktu dekat.”
Penyakitan ya, aku penyakitan. Harapanku seperti embun yang menghilang saat matahari bersinar sepenggalah. Impianku sepertinya hanya tinggal angan-angan dalam lelapku. Seperti senja aku pun tak bisa mengelak, sedikit demi sedikit aku harus bisa menerima karena mau tak mau ia mengerogotiku secara perlahan tapi pasti. Apalagi aku tahu dan begitu sadar sewaktu-waktu penyakit ini bisa melenyapkanku.
Aku sangat gelisah ketika mendengar kata kemoterapi. Kubayangkan di depan cermin seandainya rambutku sehelai demi sehelai menghilang. Kubayangkan saat kusisir rambutku dan kudapati gumpalan berwarna hitam tersangkut di jari-jari sisir itu. Sungguh mengenaskannya hidupku. Aku sangat berharap aku masih punya rambut di kepalaku. Aku sangat berharap tak ada sehelai pun rambut yang tersangkut di sisir itu.
Aku sangat takut, terlebih-lebih jika tiba-tiba dokter mengatakan bahwa kemoterapi yang akan kujalani tak berfungsi lagi untukku, itu berarti semua yang kulakukan akan sia-sia.
 Namun, muncul sesosok lelaki dengan paras yang tak terlalu mempesona, tidak terlalu tinggi dan sangat jauh dari bayanganku, datang memberiku semangat. Ia berkata padaku, “Lihatlah kunang-kunang, umurnya memang tak panjang tapi ia masih sempat terbang dan sanggup menerangi kegelapan malam meski hanya dengan setitik cahaya.” Sayang dia milik sahabatku, Sheryl.
***
Bosan aku memandang tembok putih, lantai putih, dokter dan perawat dengan baju putih, semua jadi serba putih. Sudah hampir seminggu aku terkurung di bangunan serba putih dan bau obat yang khas mencekik. Jeritan orang-orang yang kesakitan. Wajah-wajah murung, linangan air mata, gerangan orang terisak-isak, dan beberapa yang terlihat tegar. Seperti sosok sahabatku ini, Sheryl. Dia rela menemaniku jalan-jalan, melihat hujan dan mendorong kursi rodaku melewati koridor.
“Hujan. Aku ingin bermain dengan hujan, Sheryl,” gumamku. Aku mencoba mengenggam tetesan air yang jatuh dari genting. Aku teringat pada musim penghujan, kami sering hujan-hujanan saat pulang sekolah.
“Mmm, kalau kamu sembuh nanti kita main hujan sama-sama lagi ya. Tapi janji, pokoknya kamu harus sembuh. Nggak boleh nggak,” paksanya.
Aku tak sanggup berjanji padanya. Tiap kulihat wajahnya, aku tahu ia menyimpan harapan besar untuk kesembuhanku. Namun baru seminggu di rumah sakit saja badanku sudah lemas. Untuk berjalan saja kepalaku terasa pening.
“Sheryl, bagaimana hubungan kamu dengan Abe? Masihkah kalian bertahan sampai sekarang?” tanyaku.
“Baik, sangat baik,” ujarnya dengan penekanan. “Bahkan lebih baik dari yang lalu. Sekarang Abe lebih mengerti aku dan aku semakin mengerti Abe,” lanjutnya dengan sangat meyakinkan.
Sekelumit perasaan meledak di hatiku mendengar pernyataan Sheryl tentang hubungannya dengan Abe. Seperti tertancap paku hatiku, tersayat-sayat, tapi masih terdapat sisa kebahagiaan untuk sahabatku. Betapa egoisnya aku jika aku benar-benar menyukai Abe. Jelas-jelas di depan mata kepalaku sendiri dulu Sheryl menerima Abe. Jelas-jelas aku tahu Abe lebih menyukai Sheryl dan jelas-jelas Abe lebih memilih Sheryl daripada aku yang penyakitan dan cepat putus asa ini.
“Kenapa kamu tanya hal itu, Jess? Apa karena aku udah jarang cerita sama kamu?” tanyanya penuh selidik. “Emm, tapi memang beberapa minggu ini aku jarang ketemu sama dia. Yah, biasalah dia sibuk sendiri. Padahal dua hari yang lalu aku ngajak dia ke sini, tapi tau sendirilah bagaimana Abe,” ujar Sheryl.
Aku tercegang. Ada sesuatu yang salah di sini, dua hari yang lalu Abe datang menjengukku sendirian dengan seikat bunga mawar putih. Ketika aku bertanya tentang Sheryl ia menjawab, “Sheryl sibuk dia tak bisa mengengukmu.”
“Jess, sebenernya ada hal yang pengen banget aku ceritakan, tapi aku belum siap. Mungkin lusa baru bisa kuceritakan,” ujarnya agak ditahan.
“Sheryl, kamu baik-baik aja?” Aku tak berani bertanya lebih lanjut. Kulihat dari tatapan matanya, dia sedang menghadapi suatu masalah tapi apa karena aku penyakitan dia mengurungkan niatnya.
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang bergerak di kepalaku. Rasanya nyeri itu kembali terasa lagi. Aku bermaksud menahan rasa sakitku, tapi ekspresi kesakitanku tak bisa diajak kompromi.
“Jess, apa perlu aku panggilin dokter? Aku panggilin ya? Biar kamu dikasih obat penenang,” usul Sheryl dengan paniknya.
Di tengah kesakitanku terlihat sosok Abe dari jauh. Ia menghampiriku lalu memegang jemariku dan berusaha ikut menghilangkan rasa sakitku. Tapi kulihat Sheryl mundur tiga langkah menjauhiku. Ia membiarkan aku bersama dengan Abe. Kulihat matanya berkaca-kaca. Ia terlihat sedang menahan air yang akan jatuh di pipinya.
Satu sisi aku bahagia karena Abe ada di dekatku meski hanya sesaat, tapi di sisi lain sahabatku tersiksa oleh kebahagiaanku. “Jessy bodoh! Apa yang kau lakukan?  Lihatlah Sheryl berdiri di depanmu! Menyaksikanmu dengan kekasihnya. Apa yang sedang kau lakukan? Maafkan aku, Sheryl,” gumamku dalam hati. Hanya penyesalan dan sebuah kata maaf yang bisa kuucapkan dalam hatiku.
***
Beberapa jam kemudian aku tersadar berada di dalam ruangan putih dan terbaring di atas tempat tidur. Kulihat dua sosok yang saling berjauhan. Sheryl terlihat tenang sedangkan Abe mondar-mandir tak jelas. Aku pun memutuskan untuk tetap pura-pura tidur dan sesekali membuka mataku sedikit untuk memastikan keberadaan mereka. Terdengar pembicaraan mereka yang terdengar samar-samar.
“Kamu yang bilang ini jalan terbaik kan? Lalu mengapa sekarang kamu merasa ini seperti sebuah permainan?” Sebuah pertanyaan dengan nada tinggi dari Abe. 
Terdengar suara lembut Sheryl, “Aku tak merasa begitu, aku hanya ingin bilang jangan melakukan itu lagi! Kamu masih ingatkan kalau aku belum mengatakan padanya tentang hal ini?”
“Ingat? Ya aku ingat. Aku bisa melakukan apa yang aku inginkan. Semua terserah aku,” sentak Abe, suaranya terdengar meninggi. Aku pun pura-pura terbangun karena suara itu. Ekspresi mereka berubah menjadi ramah, lembut dan penuh perhatian padaku.
“Ah, jangan pura-pura di depanku seperti itu! Aku tahu kalian sedang bermasalah. Selesaikanlah baik-baik, aku tak mau ikut campur dengan masalah kalian. Aku yakin kalian bisa menyelesaikan secara dewasa,” ujarku sok menasihati.
Tiba-tiba seorang perawat masuk memastikan aku di dalam lalu menyuruh Abe dan Sheryl keluar. Setelah itu masuklah dokter yang siap mengeksekusiku.
“Selamat sore menjelang malam, Jessy!” Dokter itu menyapaku dengan nada bercanda. “Bagaimana, sudah siap menerima dampak terburuk dari proses kemoterapi yang kamu jalani?” Dokter itu bertanya padaku sambil menyiapkan cairan dan sebuah jarum suntik.
“Entahlah, aku sudah pasrah, Dok! Apapun yang dokter lakukan pasti demi kesembuhanku,” ujarku tanpa semangat sedikit pun.
“Kamu tau beberapa orang bisa sembuh total dari penyakit ini? Sudah cukup banyak. Itu karena mereka punya harapan untuk hidup. Memangnya kamu nggak mau seperti mereka?” Dokter itu menceramahiku dengan nada sok tahu. Padahal nasibku tak berada di tangannya. “Kok diam?” tanyanya.
“Apa masih ada yang mau denganku, Dok. Jika setelah ini sehelai rambut pun aku tak punya? Mungkin saja tubuhku menjadi kerempeng dan menyusut,” tukasku.
“Mmm, masih, masih ada,” gumamnya tanpa sedikitpun keraguan. Membuatku kesal. Sebenarnya siapa dokter ini beraninya mencampuri urusanku.
“Apa kau tak melihat laki-laki yang baru saja keluar bersama teman perempuanmu tadi? Sepertinya ia tulus menyayangimu. Ia rajin datang kemari dan membawa mawar putih. Tapi sayang, tiap dia datang pasti kamu tertidur pulas dan dia hanya berani menatapmu dari balik pintu,” lanjut dokter itu.
“Mmm.. Mungkin karena dia kekasih sahabatku. Jadi, ia memperlakukan aku seperti itu? Karena aku selalu bersama kekasihnya, mungkin ia menginginkanku cepat sembuh agar aku bisa menemani kekasihnya setiap saat. Yah, maklum dia itu orang sibuk, bisa dibilang mirip seperti dokter,” tukasku sekali lagi pada dokter yang sibuk sekali – sibuk mencampuri urusan orang lain.
Dokter itu menyuntikan cairan itu ke dalam infusku. Sedetik dua detik efeknya masih belum terasa dan dokter itu tersenyum melihatku gelisah akan efek terburuk setelah cairan itu masuk ke dalam tubuhku untuk pertama kalinya. “Sudahlah, nggak usah diliatin terus. Setelah ini mungkin akan terasa pusing dan mual. Bersiap-siaplah!” Dokter itu  menakut-nakutiku. Padahal efek kemoterapi yang dialami orang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya.
 “Oh, ya Sheryl! Satu nasehat untukmu. Mengingat masih banyak orang di sekelilingmu yang mengharapkan kamu tetap hidup, jangan sia-siakan harapan mereka dengan kata menyerah yang keluar dari bibirmu!” Aku tercenung. Apa benar yang dikatakan dokter itu. Kalau begitu aku berdoa semoga Abe termasuk salah seorang yang mengharapkan aku hidup.
Aku cengar-cengir saat terngiang kata dokter itu. Kini aku punya satu alasan lagi untuk tetap hidup. Ternyata tak ada salahnya dokter itu ikut campur urusanku. Hihihi..
***
“Jessy!” Seseorang membuka pintu dan masuk ketika aku masih terkulai lemas.
“Hai, Abe! Lho Sheryl mana? Aku baru saja ingin membicarakan sesuatu dengannya,” sapaku sambil menahan rasa sakit efek dari kemoterapi beberapa saat lalu.
“Ia memutuskan pulang dan membiarkanku bersamamu,” jelas Abe secara singkat. Aku memincingkan mata penuh curiga.
“Apa masalah kalian belum selesai juga? Apa aku benar-benar harus campur tangan dengan masalah kalian?” Aku menawarkan diri untuk ikut campur dalam masalah mereka.
“Ya, itu sangat perlu sekali. Karena jawaban kamu akan membuat semuanya jelas dan masalah pun akan selesai,” ujarnya sambil menggaruk rambutnya yang hitam pekat.
“Maksud kamu? Aku kunci dari permasalahan kalian? Apakah begitu penting jawaban dariku sampai-sampai masalah itu selesai jika aku angkat bicara?” Ia mendengarkan pertanyaanku dengan saksama. Kulihat ia sempat mengangkat alisnya dan membentuk kerutan di wajahnya.
“Penting sekali, sangat penting, karena aku menyukaimu dan rasa ini tumbuh saat aku tau siapa Sheryl dan siapa dirimu.” Ia mengguman tak jelas. Mataku membelalak.
“Abe, kamu tau kan, Sheryl itu sahabatku. Bahkan kami berdua sudah seperti saudara, kamu tega merusak persahabatan kami dengan kata-katamu barusan?” rasanya aku ingin mencekiknya. Tapi dia terlalu mempesona untuk kucekik. Wake up, Jessy!
“Kata apa? Apa salah kalau aku mengungkapkannya? Asal kamu tau, aku dan Sheryl udah putus dari sebulan yang lalu. Sebelum kamu divonis dokter tak akan…..” ujarnya terdengar ragu untuk melanjutkan, “ To the point aja ya, aku tak mau kehilangan kamu.”
“Hentikan, Abe! Aku semakin mual mendengar kata-katamu. Lebih mual dari mendengar kata kemoterapi dan seribu kali lebih pusing daripada mengingat aku penyakitan. Aku rasa, ini bukan jalan keluar untuk semua masalah kalian,” bentakku dengan sisa-sisa energiku.
“Kenapa bukan? Sheryl udah tau kok tentang perasaan ini, dia yang memutuskanku dan menyuruhku untuk bersamamu. Sebenarnya dia ingin mengatakan ini, tapi ia begitu takut dengan reaksimu. Ia takut kamu kecewa karena tak bisa menjagaku dengan baik.” Aku tertegun. Sepertinya aku ingin meledak mendengarnya. Andai saja dia kacang panjang sudah aku potong-potong dan kujadikan tumisan.
“Apa-apaan ini? Kenapa seolah-olah aku jadi orang ketiga diantara kalian?” sahutku agak nyolot.
“Bukan begitu, Jess. Aku bisa jelaskan. Sebenarnya dia sadar, kamu sangat ekspresif mendengar namaku disebut dan kamu selalu memberi solusi demi kebaikanku bukan demi kebaikan Sheryl. Aku pun perlahan mulai menyadari itu hingga aku tak tau dari mana harus kujelaskan tentang kapan perasaan ini muncul.”
“Okey, tapi itu semua memang terjadi sebelum aku penyakitan. See! Sekarang aku penyakitan, umurku tak panjang, dan mustahil aku bisa membahagiakan orang lain. Itu intinya aku nggak berani jatuh cinta.”
Aku terdiam cukup lama sampai akhirnya Abe mencaciku, “Kenapa nggak berani? Pengecut, kamu mau menghindar dari yang namanya cinta? Kamu lupa dengan kisah tentang kunang-kunang? Aku rasa kamu masih ingat dan akan selalu ingat, hanya saja kamu tak mau mengingatnya sekarang. Kamu pengecut, Jess! Mana Jessy yang pemberani?”
“Lupakanlah Jessy yang itu, dia udah tenggelam di lautan kepedihan! Aku tak bisa menerimamu, Abe! Aku tau gimana perasaan Sheryl saat ini, karena aku pernah mengalaminya empat tahun yang lalu. Bahkan aku belum bisa menyembuhkan sakit hatiku meski tahun itu telah berjalan cukup jauh, apalagi Sheryl? Please, cabut kata-kata kamu itu! Aku tak mau kehilangan Sheryl. Kehilangan seorang sahabat itu menyakitkan, me-nya-kit-kan,” jelasku panjang lebar dengan tekanan di akhir kalimat.
“Oh, aku tau, karena dulu kamu pernah kehilangan aku kan dan sekarang kamu nggak mau kehilangan Sheryl juga. Mmm, atau kamu ingin merasakan kehilangan dua-duanya? Alasan yang cukup masuk akal, tapi apa pernah kamu membahagiakan dirimu sendiri? Aku lihat kamu selalu mengalah dan terus mengalah, kamu lebih mementingkan kebahagiaan orang lain sedangkan kebahagiaan untuk dirimu sendiri apa pernah kamu pikirkan? Terlebih saat ini kamu merasa dirimu penyakitan, apa itu membuat kamu bahagia? Padahal aku sangat berharap kamu cepat sembuh, tapi kamu sendiri menyerah sebelum sembuh,” sentaknya terlihat mengerikan. Sesaat ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Terdengar suara cekikikan dari balik tirai. Setelah kutengok ke arah sumber suara kulihat sepatu berwarna pink. Siapa lagi kalo bukan sepatu Sheryl.
“Apa-apaan Sheryl di situ? Apakah aku sedang dipermainkan di sini? Hah, dasar! Mereka berdua sekongkol,” pikirku dalam hati. Aku pura-pura diam tak tahu apa-apa.
“Kenapa diam? Nggak bisa jawab?” desak Abe.
Aku mengembungkan pipiku. Mencuatkan ujung bibirku ke depan. Meniup ujung rambutku di dahi. Aku kini yang terlihat mempermainkan mereka.
“Hei, hei, hei! Aku serius Jess!” serunya mengusik ketenanganku. Aku mengubah posisiku kali ini membelakangi Abe. Dalam hatiku cekikikan. Sebenarnya wajahku merona-rona, merah padam. Sejak Abe bilang kalau dia mencintaiku dan Sheryl pun sudah menyetujuinya. Aku ingin melayang-layang sesaat di langit-langit. Setidaknya jika terjatuh tak terlalu sakit.
“Jess? Jadi kamu mau?” tanyanya penuh selidik.
Aku mengubah posisiku lagi sebelum mengujar, “Mau? Mau apa? Bukannya tadi kamu habis bentak-bentak aku? Sekarang nggak merasa bersalah? Bagus ya, ini yang mau mencalonkan diri untuk jadi kekasihku?”
“Maksud kamu, Jess? Kamu mau…. Bener kamu mau…,” selidiknya penuh kegirangan.
“Kapan aku bilang mau? Bukannya minta maaf justru mengalihkan pembicaraan,” tukasku. Aku tak tahan lagi untuk menahan tawaku akhirnya aku meminta Sheryl keluar dari persembunyian, “Sheryl, keluarlah! Aku tau kamu bersembunyi dibalik tirai itu!”
Sheryl pun keluar dengan malu-malu. Jelas-jelas ia ketahuan, karena memilih tempat persembunyian yang sangat mudah ditebak. Ia meringis cukup lama. Menunjukkan salah tingkahnya dengan merapikan pakaian dan rambutnya.
“Kalian berdua udah puas? Tau teman sakit juga!” semburku.
“Jess, ini semua yang sebenarnya ingin aku katakana dari awal, tapi aku nggak berani. Sebenarnya aku marah pada Abe karena dia memperlihatkan perhatiannya terlalu berlebihan ke kamu. Padahal aku belum beritahu kamu, kalau kita berdua udah putus. Aku takut kamu khawatir denganku. Jadi sewaktu kamu masih tidur dan sebelum dokter itu masuk, aku marahin dia. Hehe, maaf ya! Si Abe aku marahin… Niatku kan baik, supaya Abe cepat berterus terang tentang perasaannya ke kamu.”
Aku tersenyum. Semakin kuat harapanku untuk hidup. Demi orang yang menyayangiku. Aku akan jalani kemoterapi itu hingga aku sembuh. Kemoterapi tak begitu masalah lagi, karena Abe akan selalu mengirimkan mawar putih untuk menemaniku saat ia tak bisa menjagaku.
“Jadi intinya kita jadian?” Abe memotong pembicaraan kami.
“Siapa bilang kita jadian?”
“Tapi kamu tadi bilang aku calon kekasih kamu,” jelasnya.
“Oh, ya?” tanyaku menggoda.
“Dan aku udah nembak kamu kan?” tambahnya.
“So?” ujarku dengan minim kata. Wajahnya berubah masam. Cemberut. Beda dengan Sheryl yang cekikikan tanpa henti melihat mantan kekasihnya tak bisa berbuat apa-apa.
***

Sabtu, 16 Oktober 2010

Cinta di Persimpangan Penantian



Ini adalah tahun kesembilan penantianku. Aku mulai merasa bosan dan letih. Bahkan aku mulai berpikir ini bukanlah penantian. Semua yang kuciptakan dalam ilusiku ini adalah ambisi. Aku telah mulai mencintai lawan jenis sejak aku masih di bangku taman kanak-kanak. Sejak laki-laki itu menolongku ketika temanku mendorongku hingga terjatuh dan kakiku berdarah. Ia menyuruhku berhenti menangis lalu pergi meninggalkanku sendiri dengan lukaku. Tapi aku membalasnya saat aku duduk di bangku sekolah dasar, tepatnya kelas 3 aku yang meninggalkannya. Aku harus pindah mengikuti kedua orang tuaku. Saat itu usiaku delapan tahun dan aku sudah merasakan patah hati. Terlalu dini untuk merasakan semua itu tapi cinta ingusan itu menjadikanku bertahan selama ini, di kota ini untuk hidup sendiri tanpa cinta.
Papa, Mama selalu sibuk dengan urusan mereka sendiri. Kalau ada waktu luang mereka menggunakannya untuk menceramahiku agar jangan pacaran dulu. Lalu kakakku kuliah di luar kota dan pulang seminggu sekali tapi jika sibuk bisa tiga minggu sekali. Kalau dia pulang ke rumah, selalu saja pergi berkumpul dengan teman lamanya.
Aku anak terakhir, harapan terakhir yang selalu dijaga dan diatur. Meskipun begitu mereka tak bisa mengatur aku untuk tidak jatuh cinta. Karena cinta itu sudah tumbuh sejak aku merasakan kesepian. Bagai hidup sendiri di tengah orang yang berlalu lalang.
Aku Sasharifa Clara. Kini sedang mengisi kekosongan-kekosongan hidup yang tak pernah lepas dari kesendirian. Di sela-sela penantian yang omong kosong itu aku jatuh cinta lagi pada seorang laki-laki yang bernama Idzul. Dia adalah orang yang membuatku merasakan kembali cinta pertamaku. Pendiam, pandai, tinggi itulah yang membuatku terhanyut. Namun, ada perbedaan diantara cinta pertamaku dengan dia, dia lebih murah senyum dan menunjukkan lesung pipinya.
Sudah satu setengah tahun aku diam-diam mengaguminya. Aku tak mengenalnya secara langsung, tapi aku tahu namanya dari bibir-bibir teman-teman yang sering memanggil namanya. Tentu saja dia tak mengenalku dan dia takkan pernah tahu perasaanku.
Dari sekian fase cinta, inilah bagian yang kusuka, menjadi pengagum rahasia yang bebas mengamatinya kapan saja tanpa rasa curiga.
Aku berada di dalam bus F dan di bus B. Meski jauh tapi aku yakin perjalanan itu akan lebih terasa menyenangkan. Bus ini akan membawaku ke Bali bersama kisah yang kuharapkan. Semoga saja Tuhan memberiku kesempatan untuk bicara dengannya meski sekali itu saja.
♥♥♥

30 Maret 2008. Aku telah menyeberangi lautan dari Ketapang ke Gilimanuk dan sampailah di Pulau Bali. Deburan ombak menyambutku dan aku siap memulai kisahku.
“Sasha, tuh pangeran Katak lo!” Dinda mengusik lamunanku dengan memperlihatkan sosok Idzul yang berdiri di samping bus B.
“Wah, lo emang sobat gue yang paling baik. Ngerti banget kalo dari tadi aku nyariin dia. Soalnya radarku udah menangkap keberadaan dia dari tadi tapi belum sempet nemuin dia. Malah lo yang duluan nemuin dia.”
“Eh, eh, tuh dia udah masuk bus, tapi ngomong-ngomong rombongan bus kita mana ya? Kok dari tadi nggak ada. Jangan-jangan kita berdua tersesat. Coba deh gue SMS Raras.” Dinda bertanya-tanya dan menduga kami terpisah dari rombongan.
“Emang kamu punya nomernya? Aku aja deh yang sms dia!”
Lima belas menit smsnya masih pending. Aku coba telepon tut tut kayak suara kereta api. 
“Halah, sini biar gue aja. Kok, tut tut tut terus sih. Oh, iya Sha, kenapa nggak telepon Tyas aja dia kan tadi kita tinggal di toilet?” Dinda meminta handphone-ku.
Oh, no! Gue sampai nggak inget. Pasti dia marah banget deh.”
Beberapa saat telepon tersambung. Langsung saja Dinda bertanya, “Halo, Tyas. Lo di mana?”
“Wah, kalian berdua tega ya! Masak sih gue ditinggal sendiri di sini sama rombongan kita. Gue kan nggak terlalu kenal sama mereka,” semprot Tyas.
“Iya maaf deh, sekarang lo di mana?” tanya Dinda lagi.
“Masih di dalam kapal donk, Non. Kalian di sebelah mana? Kok dari tadi gue nggak liat kalian sih? Gue udah muter-muter dua kali nih. Apa kalian di toilet? Gue ke sana ya!”
“Omiemie! Baiknya lo nggak usah cari kita. Soalnya kita nggak ada di sana.”
“Lho, kalian masih ketinggalan di Ketapang tadi? Kalian masih nungguin gue di sana? Ini kapal barusan aja jalan. Gimana donk?”
“Hey, hey! Kita justru udah nyampe di Gilimanuk, Bali, dari dua puluh menit yang lalu. Kita pikir kita udah ketinggalan. Ternyata kita malah mendahului rombongan.”
“Kok, bisa sih?”
“Ini gara-gara radarnya Sasha menangkap sinyal keberadaan pangeran kodoknya. Kita jadi berjalan sendiri tanpa peduli orang-orang sekitar. Tahu-tahu kita udah sampai ke tepi tapi kehilangan rombongan.” Dinda mencoba menjelaskan.
“Untung ya, kalian mendaratnya di Bali. Kalau kalian mendarat di Kalimantan atau Sulawesi gimana? Nggak bisa pulang kan? Hahaha.. Makanya jangan ninggalin temen sembarangan! Tuh, kena karmanya kan,” ejek Tyas sambil ketawa-ketiwi.
“Wah, dirimu bukannya prihatin malah ngejek. Seneng lihat temennya sengsara?”
“Seharusnya kalian bersyukur donk udah sampai duluan di sana. Kapalnya jalannya lambat banget nih. Rasanya perut mual, mau muntah.”
“Ye, namanya naik kapal, ya kayak gitu. Lo mabuk laut ya? Kenapa nggak bilang sih? Tas lo kan di bawa Sasha, jangan-jangan obat anti mabuk lo ada di dalam tas ya?”
“Kalian nggak pernah tanya sih. Udah nggak pa-pa. Gue udah dikasih obat sama kenalan gue. Namanya Alta, nih sekarang di sebelah gue. Thanks, ya kalian udah ninggalin gue, sekarang gue justru dapet pengganti kalian.”  
“Wah, ternyata di sana malah enak-enakan. Yaudahlah, kita udah nggak dibutuhin lagi. Met berduaan ya!! Hahaa… Bye!”
Thanks, kita ketemuan di sana ya. Bye!”
Kulihat dinda menutup teleponnya.
“Gimana, Din? Sekarang Tyas di mana?”
“Masih di dalam kapal. Eh, muter-muter daerah sini dulu, yuk! Bakal nunggu lama kita. Kapalnya aja baru berangkat. Nah, ini keuntungan kita bisa sampai duluan. Nggak cuma Tyas yang bisa senang-senang, kita juga bisa donk.”
Hampir satu jam kapal datang silih berganti. Tetapi tak ada tanda rombongan bus F. Mondar-mandir ke sana kemari, sampai udah foto-foto juga masih belum datang. Tapi waktu mau pergi ke toilet, eh, ada perempuan berambut panjang lari-lari menghampiri kami.
“Woi, kalian pada tega ya!” teriak Tyas dari jauh.
“Tyas!! Ehm, ehm. Alta mana? Cie-cie nyoba kayak di kapal Titanic nggak? Kan mumpung ada kapal, suasana juga mendukung. Secara kita berdua nggak disana.” Aku menggodanya.
“Iya, kalau kalian di sana pasti nggak romantis. Soalnya pada ngerjain gue.”
“Tahu aja. Eh, habis ini langsung ke hotel dulu kan? Uh, bau badan lo, asli udah kagak nahan tuh!” Dinda mengejek Tyas.
“Emangnya lo nggak ngerasa, badan lo juga bau,” balas Tyas.
♥♥♥

Aku telah berdiri di depan hotel tempat aku menginap untuk dua hari ke depan. Terpampang jelas “Made” nama hotel itu di mataku. Aku sedang duduk di sebuah rumah-rumahan menjadi penjaga tas sementara Dinda dan Tyas mengambil kunci kamar. Tiba-tiba saja sosok lelaki yang membuatku meleleh, berdiri di sampingku terlihat sedang mencari sesuatu.
Sumpah, jantungku dipompa semakin cepat. Aku pikir ini kesempatanku mengatakan sepatah kata padanya karena di situ hanya ada aku dan dia. Mulailah aku berlagak sok kenal.
“Hey, kamu lagi cari apa? Bisa aku bantu?”
“Eh, tadi aku jatuhin kunci kamar aku di sekitar sini.”
Dengan segera indra penglihatanku berubah menjadi sangat tajam. Kulihat benda kecil dan menyilaukan mata karena pantulan sinar matahari di bawah kakiku.
“Apa ini yang kamu cari?” Aku menggerak-gerakkan gantungan kuncinya.
“Yups, makasih ya.” Berlalulah dia dari hadapanku setelah kunci itu dipegangnya. Tak apalah yang penting aku sudah berani berbicara dengannya suatu kemajuan yang pesat. Tuhan mengabulkan doaku untuk dapat berbicara dengannya.
Dinda dan Tyas kembali dengan membawa kunci. Kamar kami nomer 15 dan setahuku kamar Idzul kamar nomer 24, kupikir jauh, ternyata kami sama-sama di lantai 2. Lebih hebatnya lagi aku bisa melihatnya dari jauh ketika dia berada di luar kamar bersama teman-temannya. Sungguh perasaan senang, riang, gembira seakan berpihak padaku aku menjadi melupakan masa laluku terutama penantianku. Ternyata Tuhan mengabulkan doaku untuk menjauhkan aku dari ingatan masa lalu.
“Ngapain senyam-senyum sendiri di situ? Aha, pasti mengkhayal pangeran kodok lo itu ya! Mentang-mentang kamarnya deket, tapi bukan berarti lo berdiam diri di sini terus, nunggu dia keluar kamar. Ikut gue, yuk ke bawah! Nemuin tante gue, katanya sih dia mau ngirim makanan.” Dinda mengajakku menemui tantenya yang tinggal di Bali.
“Wah, boleh tuh! Berarti kita nggak kekurangan makanan donk,” sahutku yang bersemangat.
“Kalau makanan aja nomer satu. Yaudah, nggak usah banyak omong! Tyas, jangan lupa kamarnya dikunci!”
Ketika aku menuruni tangga, sinyalku semakin bertambah kuat menangkap keberadaan Idzul. Suatu keuntungan sudah dapet duren, sekarang dapet emas. Dia tersenyum melihatku. Omiemie! Aku makin meleleh. Apalagi dia sedang memetik gitar sambil menyanyi. Oh, so sweet! Kado teristimewa untukku. Hahaha.. Padahal dia bernyanyi bukan untukku.
♥♥♥

Pagi hari, aku masih membayangkan wajahnya. Bahkan, semalam hampir tak bisa tidur gara-gara suaranya terdengar dari luar yang sedang bercanda dengan teman-temannya.
“Hey, masih tidur, Non? Habisin tuh, makanan!” Tyas menegurku.
“Iya, iya. Ngganggu orang yang lagi bermimpi aja.”
“Sssttss, lihat tuh di pojok sana yang lagi makan siapa tuh?” Dinda menggodaku.
Begitu aku menolehkan wajahku. Wow, dia sedang makan seperti diriku. Aku semakin bersemangat menghabiskan makananku dan segera pindah tempat duduk supaya bisa melihat Idzul tanpa harus menoleh ke belakang.
“Nih, anak kenapa sih? Maen pindah-pindah aja, mana minta geser lagi. Ganggu orang yang asyik makan aja,” semprot Dinda.
“Santai, santai aku sedang lihat cara makan dia tahu. Uh, ternyata seperti itu cara dia makan.”
“Aduh, syndrome cinta emang bisa buat orang jadi gila ya. Perasaan dia makan kayak yang lain, biasa aja gitu nggak ada spesial-spesialnya,” sindir Tyas.
“Eits, buat lo itu biasa. Nah, buat gue itu luar biasa. Jarang kan gue lihat dia makan kayak gitu.” Aku mengajukan pembelaan. Hehe, kayak di pengadilan aja.
Seusai mengamati cara Idzul makan, aku harus masuk ke dalam bus F untuk memulai perjalanan ke GWK. Saat aku sampai di halaman parkir, aku melihatnya lagi. Aku memaksa Dinda dan Tyas untuk membuntutinya dan saat ada kesempatan aku menyuruh mereka memotretnya. Di bawah patung garuda yang besar aku dapat foto saat dia sedang tersenyum. Benar-benar suatu keberuntungan yang kumulai sejak menapakkan kaki di Bali.
“Sha, capek nih. Sekarang kita istirahat ya. Masak sih dari tadi buntutin dia terus. Kapan giliran gue buntutin Angga?” Dinda mulai ngomel.
“Iya nih, kapan donk gue berduaan sama Alta.” Tyas ikut-ikutan ngomel.
“Hah, Tyas kalian berdua udah jadian?” Dinda mencoba memastikan.
“Belum sih, masih tahap pedekate.”
“Yaudah, sekarang kalian boleh deh ninggalin aku sendiri di sini. Kalian cari pasangan kalian sendiri-sendiri!” seruku.
“Serius nih, uwa lo emang temen yang baik. Bye!” Dinda mencubit pipiku.
Saat mereka berdua meninggalkanku, entah mengapa perasaan kesepian itu menyelimutiku lagi. Meskipun ada Idzul di depan mataku sekalipun tak mengubah keadaan. Toh, Idzul nggak kenal aku. Buru-buru aku memutuskan untuk gabung dengan teman-teman yang lain agar perasaan itu lenyap seketika. Tapi ternyata masih terasa, bahkan semakin menjadi-jadi. Justru mengingatkanku pada masa laluku.
♥♥♥

Malam hari, di kamar hotel aku sendiri. Dinda ke kolam renang dengan Angga dan Tyas asyik berduaan di dekat tangga sama Alta. Aku mendapat telepon dari Mama.
“Sha, kamu nggak kenapa-kenapa kan di sana?”
“Tenang aja di sini ada Dinda sama Tyas kok yang jagain aku.”
“Udah makan malam?”
“Belum, nih gi mau turun cari makanan.”
“Yaudah, hati-hati ingat jangan terlambat makan. Nanti magh kamu kambuh!”
Ternyata begini caranya agar mama memperhatikanku. Tapi bukan ini yang aku mau. Aku benci semua ini. Sunyi, sepi dan sendiri. Kubanting makanan ringan yang ada di dekatku. Lalu kukumpulkan lagi saat makanan ringan itu berceceran ke lantai.
Dinda yang sudah kembali melihatku dari pintu dan merasa simpati ketika aku menatapnya tajam. Ia merasa bersalah, “Sha, maafin gue. Gue nggak bermaksud ninggalin lo sendiri kayak gini. Lo pasti ngerasa kesepian kan. Maafin gue. Gue janji nggak akan ninggalin lo lagi.”
“Din, ini bukan salah lo kok. Gue sebel aja ma nyokap gue. Masak waktu anaknya ditinggal di rumah sendirian nggak ditanya-tanyain udah makan belum, nggak kenapa-kenapa kan, kalau jauh aja ditanya tuh dari ujung ampe balik ke ujung.”
“Sha, itu tandanya nyokap lo perhatian sama lo. Kalau lo di rumah berarti lo bakal baik-baik aja. Makanan ada, hiburan banyak, mau ngapa-ngapain juga nggak pa-pa itu kan rumah lo sendiri. Nah, kalau di sini kan beda. Wajar donk kalau mereka khawatir.” Dinda membela Mama.
“Yah, tapi seharusnya nggak gitu juga donk. Gimana sih? Lo kok jadi belain nyokap gue. Lo tuh temennya siapa sih? Nyokap atau gue?”
“Ye elalalala, marah nih ceritanya. Halah gitu aja ngambek! Senyum donk! Eh, eh, denger tuh suaranya siapa?” Dinda berusaha mengalihkan pembicaraan. Aku pikir bercanda ternyata memang benar suara Idzul. Kemarahanku mereda. Berganti oleh senyuman-senyuman ala cinta.
♥♥♥

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat aku harus mengemasi barang-barang. Siang hari aku dan rombongan meninggalkan pulau Bali. Setelah puas menikmati Tanah Lot, GWK, Joger, Kuta, Sanur, Sukawati, Kintamani, Sangeh, Bedugul dan Kebun Eka Raya akhirnya aku harus kembali meninggalkan semua keindahan itu. Setidaknya ada kenangan yang terukir di sana. Bali tempat pertama kalinya aku berbicara dengan Idzul. Aku harap dia juga mengingatnya meskipun itu tak berarti baginya.
“Huh, naik kapal lagi. Semoga kita nggak naik duluan lagi.”
“Ye, kalian aja kalee. Gue sih, selalu menaati tata tertib,” sindir Tyas.
Bersama kenangan itu aku menyeberangi lautan. Melihat sunset dari kapal. Andai saja cinta itu bisa terwujud dalam hal yang lebih nyata mungkin aku berada di ujung kapal bersama Idzul seperti yang ada di film Titanic. Membawa kenangan manis itu saja aku sudah sangat senang. Karena capek aku terlelap dengan nyenyak. Dalam mimpi aku berharap esok pagi akan lebih indah.
Dua hari setelah hari itu aku masuk sekolah. Ketika aku sedang terhanyut dalam khayalanku, Dinda dan Tyas membawa kabar buruk padaku.
“Eh, dua hari ke mana aja, Non?”
“Gue kan kecapekan jadi istirahat di rumah donk,” jelasku.
“Udah denger kabar belum kalau Idzul kecelakaan?”
“Hah, masak sih? Kan dia pulang dengan selamat.”
“Iya, pulang selamat sih dua hari yang lalu. Tapi kemarin habis kecelakaan. Nabrak delman di pinggir jalan.”
“Halah, kalian bercanda ya? Masak ada delman di pinggir jalan se-gedhe itu dia nggak lihat. Mana di tabrak lagi.”
“Heh, ini tuh serius. Katanya dia itu amnesia, tapi tenang cuma amnesia ringan aja kok.” Tyas menjelaskan lebih detail.
“Apa?? Amnesia ringan lo bilang aja? Parah lo, Tyas.”
“Habisnya lo nggak percaya sih. Denger-denger ingatan yang hilang tuh, tentang study tour ke Bali kemarin. Soalnya dia masih kenal sama temen-temennya tapi dia lupa kalau beberapa hari yang lalu, dia udah pergi ke Bali.”
“OMG. Padahal gue udah beraniin diri buat bicara sama dia. Eh, sekarang dia udah lupain gitu aja?” Aku kecewa dan masih nggak percaya.
Kan nggak sengaja. Jangan nyalahin dia donk! Kan kasihan mana dia nggak bisa jalan lagi.”
“Apa?? Andai aja gue bisa nolongin dia. Tapi gue nggak bisa nglakuin apa-apa. Toh, dia juga nggak kenal gue.”
Tiap hari aku berdoa agar dia cepat sembuh dan masuk sekolah lagi. Tepat satu bulan Idzul mulai berangkat sekolah lagi, meski kakinya belum sembuh. Aku bersyukur Tuhan mengabulkan doaku lagi meski belum seutuhnya. Sayang sekarang dia tak tersenyum lagi karena harus menahan sakit tiap kali berjalan. Dan aku baru tahu kalau dia sudah mempunyai kekasih, tepatnya adik kelasku. Hilang harapanku, sirnalah impianku. Ada sebuah perasaan kecewa di diriku. Aku telah berusaha untuk mencintai orang lain tapi mengapa selalu saja seperti ini. Sebelumnya aku juga melakukan hal yang sama. Mencoba mencintai orang bernama Adam, tapi belum apa-apa aku sudah disakiti dengan kebohongan di mulut berbisanya. Lalu Dandi, aku sempat jadian dengannya tapi dia meninggalkanku begitu saja. Ia lebih memilih sahabatku dibandingkan dengan aku. Setelah ia tahu aku sedang menanti seseorang, dia tak memaafkanku. Aku sangat menyesal tapi nasi telah menjadi bubur dan bubur itu sudah tak bisa diubah menjadi bubur ayam.
Aku merasakan patah hati lagi. Mungkin ini karma untukku karena merasakan cinta di persimpangan penantianku. Tuhan menegurku lagi tuk kesekian kalinya.
Seharusnya aku bisa bertahan, menanti pertemuan dengan cinta pertamaku. Meskipun aku hanya berambisi, kuharap aku bisa bertemu dengannya sekali saja. Agar aku bisa melepasnya dengan tenang tidak seperti sembilan tahun lalu. Jika aku bertemu dengannya kelak, aku akan berpamitan dengan cara yang lebih baik.
Aku masih tak tahu apa ini yang namanya penantian. Hanya satu pihak yang menanti, tapi pihak yang lain tak mengetahuinya. Kini yang aku tahu cinta di persimpangan penantian itu hanya bumbu penyedap yang melengkapi hidupku. Idzul terima kasih telah menjadi bagian hidupku.
Aku masih harus melanjutkan penantianku. Sepahit apapun tetap harus kuterima. Ketika malam semakin melarutkanku dalam hanyut pekat kalut, aku masih menunggu jawaban dari semua pertanyaanku. Mengapa semua di dunia ini harus menunggu? Petani menunggu hujan di kemarau panjang. Ibu hamil menunggu melahirkan bayinya. Para pekerja, bekerja untuk menunggu upah yang akan diterima. Penggembala menunggu ternaknya makan dan aku menunggu waktu untuk dapat bertemu dengannya. Tapi aku menunggu untuk bertemu denganmu cinta di masa laluku.
♥♥♥


Kegagalan Mengajariku Arti Kebahagiaan

Aku mendarat di depan rumah berpagar abu-abu. Aku turun dari mobil dan menatap rumah itu. Tanganku ditarik dan dia melangkah lebih du...