Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2010

Deaf (Tuna Rungu)

Ayo tebak mana aja yang tunarungu?
Pasti kalian tidak bisa membedakan. Itu karena mereka sebenarnya sama dengan orang normal pada umumnya secara fisik.

Kata siapa mereka tak bisa mendengar,,
Anak Deaf masih bisa menggunakan sisa pendengaran mereka, dan itulah sebabnya harus diasah.

Mereka masih bisa berkomunikasi dengan kita, meskipun penguasaan kosa katanya terhitung sedikit jika dibandingkan dengan kita.
Tapi mereka masih mau berkomunikasi kok, bahkan mereka ingin berteman dengan kita-kita. Menambah kosa kata mereka.

Jangan lecehkan mereka! Jangan jadikan mereka bahan ejekan! Jangan sebut mereka "tuli" karena itu terdengar kasar. Jika kalian di posisi mereka pasti kalian juga tak mau kan?

Jangan Berhenti Bermimpi Kawan

"Mimpi itu yang memotivasi kita dalam hidup untuk berusaha sekuat tenaga agar bisa menggapainya. Jangan pernah berhenti bermimpi," kata almarhum M.Agung Putra Prasetyo, temannya temenku.
Setiap orang punya mimpi. Tapi orang sering melupakan mimpi. Aku pun sama, pernah melupakan apa mimpiku. Saat aku tak bisa menggapainya, aku akan berusaha meninggalkan mimpi itu. Bahkan saat aku telah berusaha sampai detik terlelah pun aku tinggalkan.
Aku sempat tak percaya lagi pada mimpi-mimpi itu. Bagiku tampak sama dengan fatamorgana di gurun pasir. Tampak seperti nyata tapi sesungguhnya sangat jauh dari kenyataan. Tapi setelah waktu berputar cukup lama, ternyata aku kehilangan semangatku. Aku tak tahu harus berbuat apa lagi. Aku baru sadar ternyata dulu aku bersemangat karena ingin menggapai citaku. Ketika cita-cita itu kutinggalkan nyaris aku tak merasakan kehidupan. Terasa datar. Tak bersinergi dengan alam.
Kau jangan seperti aku kawan yang mundur sebelum berperang. Hanya karena cita-c…

Semua Telah Berlalu

Langitku tak lagi mendung saat mengenalnya
Mentariku selalu bersinar terang
Angin selalu berhembus semilir membelaiku

Tak ada lagi badai yang harus kulawan
Tak harus takut lagi dengan kegelapan
Tak harus lagi menunggu angin berhembus di penjuru sana

Dia telah mengubah semuanya
Bahkan sesuatu yang dulu tak kumengerti
Kini menjadi mengerti

Ternyata harus ada pintu yang terbuka
Ketika pintu itu kita tutup
Angin takkan bisa sampai
Mentari sinarnya terpantul
Langit selamanya kan mendung

Kini semua berubah
Karena dia aku berubah NB: Karyaku di bulan Mei 2010 di blog lamaku Tak posting lagi...

KEMOKU ABEKU

Senja telah menutup matanya dan biarkan langit kelam menguasainya, karena bagaimanapun mengelak, malam akan melarutnya tanpa berbasa-basi. Lalu hari esok mentari menyapa, bersinar menghangatkanmu, pagi membangunkanmu dan kau kehilangan bunga tidurmu. Kau tak bisa mengulangi ataupun memanggilnya lagi karena dimensi terlalu jauh berbeda. Sepertinya aku tak ingin terbangun dari tidur malamku tapi kenyataannya aku harus terbangun dan menerima ini semua. Dokter memvonis hidupku. Harapan hidupku lenyap ketika ia berkata, “Anda sepertinya butuh kemoterapi, dan jika Anda tidak menyukai alternatif ini kemungkinan terburuk bisa terjadi dalam waktu dekat.” Penyakitan ya, aku penyakitan. Harapanku seperti embun yang menghilang saat matahari bersinar sepenggalah. Impianku sepertinya hanya tinggal angan-angan dalam lelapku. Seperti senja aku pun tak bisa mengelak, sedikit demi sedikit aku harus bisa menerima karena mau tak mau ia mengerogotiku secara perlahan tapi pasti. Apalagi aku tahu dan begitu…

Cinta di Persimpangan Penantian

Ini adalah tahun kesembilan penantianku. Aku mulai merasa bosan dan letih. Bahkan aku mulai berpikir ini bukanlah penantian. Semua yang kuciptakan dalam ilusiku ini adalah ambisi. Aku telah mulai mencintai lawan jenis sejak aku masih di bangku taman kanak-kanak. Sejak laki-laki itu menolongku ketika temanku mendorongku hingga terjatuh dan kakiku berdarah. Ia menyuruhku berhenti menangis lalu pergi meninggalkanku sendiri dengan lukaku. Tapi aku membalasnya saat aku duduk di bangku sekolah dasar, tepatnya kelas 3 aku yang meninggalkannya. Aku harus pindah mengikuti kedua orang tuaku. Saat itu usiaku delapan tahun dan aku sudah merasakan patah hati. Terlalu dini untuk merasakan semua itu tapi cinta ingusan itu menjadikanku bertahan selama ini, di kota ini untuk hidup sendiri tanpa cinta. Papa, Mama selalu sibuk dengan urusan mereka sendiri. Kalau ada waktu luang mereka menggunakannya untuk menceramahiku agar jangan pacaran dulu. Lalu kakakku kuliah di luar kota dan pulang seminggu sekali …