Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari November, 2009

Tangan-Tangan di Balik Cermin

Di balik cermin itu kita berpapasan

Bertegur sapa dan bersalaman

Di dalam toko itu wajahmu bersinar

Bercahaya bak kembang api di tahun baru

Di baju biru itu tertulis nama dirimu di masa kini

Berjalan tegap, tangguh tak rapuh

Di kening itu tertempel ingatan

Kenangan masa silam yang tak pernah bisa terlupakan



Tapi di tangan itu telah melekat ujung jari-jari tangan

Tangan-tangan siapa itu?

Sepertinya tangan perempuanmu

Aku hanya tersenyum membalas senyummu

Membayangkan diriku yang berjalan di sisimu

Diriku yang melekatkan ujung jari-jariku ke tanganmu

Tapi kutahan mimpi itu

Karena takdir berkata tangan itu bukan milikku

Tak Berbalas Lambaian

Sepertinya aku ingat senyum itu

Senyum kecil yang membuat dunia terbangun dari tidurnya

Dan kau masih menunggu hadirnya di dermaga itu

Sedangkan hadirnya tak pernah pasti

Aku melambaikan tanganku

Berupaya senyummu melengkung ke arahku

Tapi senyum itu miliknya



Dia yang sedang kau tunggu



Saat senja hampir berbagi dengan malam

Kau masih berdiri di sana menunggunya

Sedang aku telah letih melambaikan tanganku

Tak berbalas lambaianku

Runtuhlah rasaku

Senyum tak dapat lambaian berperih rupanya

Wajahku atau Wajahmu

Wajah-wajah siapa itu?

Wajah yang terdiam dan menunggu

Wajahmukah atau wajahku

Wajah dalam lukisan itu

Wajah-wajah berduka

Wajahkukah atau wajahmu

Wajah tersiksa berpelukan dengan luka

Wajah-wajah siapa itu?

Wajah terdiam dan terpana

Melihat dunia berputar dengan asyiknya

Wajah-wajahkukah atau wajahmu

Wajah yang tak terjamah

Wajah yang kosong

Wajah yang tak berasa

Wajah yang tertunduk

Wajah yang saling bertatap

Seharusnya

Seharusnya rasa itu tak kubiarkan tumbuh berakar

Seharusnya rasa itu tak kubiarkan menjamah waktu

Seharusnya kubiarkan prinsip itu bertahan

Seharusnya tak kubiarkan rasa itu mengalir

Seharusnya rasa itu kubunuh lebih awal

Di saat semua terbalik

Saat wajah-wajah itu tak ada

Saat kata-kata itu tak berikrar

Ternyata rasa itu telah terpercik

Seolah-olah dia jadi tak ada
Seolah-olah dia jadi tak nampak

Seolah-olah dia sirna

Seolah-olah aku tak peduli

Seolah-olah aku tak ada di sana dan dia tak di sini

Sepertinya aku akan pergi jauh seperti sebelumnya

Saat aku belum mengenalnya

Saat rasa itu tak pernah ada

Saat semua tak pernah terjadi

Sepertinya langkahku terlalu jauh

Terlanjur

Ingin aku tarik kata-kataku

Tapi sepertinya aku menjilat lidahku sendiri

Sudahlah, kubilang sudah

Terlanjurlah terlanjur

Semua berjalan tanpa kemauanku

Semua terlanjur berbelit

Terlanjur tak pasti

Dan terlanjur penat

Inginnya kata-kata itu tak pernah terucap

Tapi terlanjur terucap


Tak ada yang disalahkan

Dan tak ada yang menyalahkan


Karena terlanjur terburu menyusul