Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari Mei, 2009

Nasjibur (Nasi Jadi Bubur)

Nasjibur untukku

Malang tak dapat kutendang

Cinta tak dapat kubuang

Janji kuingkari

Rasa kukhianati

Nasjibur untukku

Cinta masih tersisa

Seperti nasi yang telah basi

Sudah tahu dia dengan yang lain

Masih saja menyimpan rasa

Nasjibur untukku

Sahabatku, sahabatku ingat

Dia milik sahabatku

Tapi dulunya dia milikku

Nasjibur nasjibur

Bintang tak bisa kupegang

Langit biru tak bisa kupandang

Tak bersinar bintangnya

Kelamlah langitnya

Nasjibur nasjibur

Bagaimana cara kubuang dirinya

Nasjibur tolong aku!!

Terlalu Lama

Kusisihkan rasa itu untuknya

Buih itu memerangkapku terlalu lama

Bahkan ketika sepuluh itu hampir berlalu

Rasa itu masih tersisa

Tapi badanku letih tuk terus bertahan

Tak ada

Masih belum ada

Mereka semua masih menyuruhku bertahan

Aku tak sanggup terdiam dalam buih

Terlalu lama aku berharap

Terlalu lama aku sia-siakan hidup

Terlalu lama waktu membuatku bertanya

Haruskah semua ini terus berjalan?

Aku ingin pergi

Aku ingin menghilang darinya

Aku ingin membuat semua yang lama menjadi makin lama

Aku bosan selama sepuluh tahun ini

Tak ada yang membuatku hambar

Kecuali dia

Masih berdirikah dia?

Aku hanya takut jika dia sudah tumbang

Disaat aku belum menemukannya

Di langit dia menulisnya

Hamburan awan yang berara itu

Apa Kau Bicara

Kau datang diterpa dalam mata sayu

Katamu kau sedang terluka

Kau bilang berkunang-kunang

Tapi tak ada cahaya di atasmu

Kau bilang aku salah

Membiarkanmu terperangkap dari hujan di musim kemarau

Kau salahkan diriku yang tak kau anggap teman

Kau benar-benar membuatku membisu dan meragu

Tahu aku bukan teman terbaikmu

Tapi mengapa kau datang padaku

Disaat luka kau datang membaginya

Disaat bahagia apa kau ingat membaginya?

Jika aku bertemu alien aku tak takut

Aku justru seribu kali lipat takut padamu

Takut terhadap sifatmu

Yang berubah arah ketika semua juga berubah

Katanya aku jahat

Katanya aku iri

Katanya aku tak pantas bicara

Tapi makin kau banyak berkata

Makin aku tak tahu kalau kau sedang bicara

Apa kau sungguh sedang bicara?

Lelaki yang Kubenci (1)

Kusibak hidup baruku

Menunggu rasa cinta yang baru

Tahu-tahu kau muncul di hadapku

Lelaki yang kubenci dulu



Kau malu-malu menyapaku

Kau berlari menjauhiku tiap bertemu

Namun sulit bagiku

Menerjemahkan kelakuanmu



Ada apa denganmu?

Aku masih tak begitu tahu?

Tanda tanya di kepalaku

Siapakah lelaki itu?

Lelaki yang Kubenci (2)

Ketika mata akan terpejam

Sekilas dirimu datang dengan bayang

Melambai-lambai

Tersenyum riang di balik tiang

Makin geli ku membayangkanmu

Lelaki periode berapa kamu?

Lihatlah taktik kunomu tuk berdamai denganku

Masih saja aku membencimu

Tak hilang satu jengkal pun rasa benciku

Parodi Surat Balasan

Kutunggu balasan surat biru

Tapi terlampau lama kutunggu

Kukirimkan lagi surat yang lain

Tapi angin menerbangkan kembali padaku

Kutulis surat yang lain dan kuberi pesan agar jangan kembali kepadaku

Tapi surat itu benar-benar tak kembali beserta balasannya

Kutulis lagi surat yang lain dan kuberi pesan balas

Tapi surat kembali berisi kata balas saja

Usai aku menulis surat aku menulis surat lagi

Satu untuk kukirim Satu untuk balasan

Ketika surat itu sementara kukirimkan

Aku tak perlu menunggu balasannya

Karena aku sudah mempunyai surat balasan sendiri

Lelaki yang Kubenci (3)

Ketika awal kau pergi aku tak peduli

Mau ke ujung Deli Atau singgah ke Toli Toli

Kalau bisa jangan kembali

Tuk kesekian kali kau kembali

Mencairkan suasana hati

Tak sampai hati kumelihatmu

Karena kau berubah dari yang dulu

Tumbuhlah awal sebuah rasa

Meleburkan kebencianku

Aku terus mengintaimu

Tak peduli kau melihatku

Dan kan kuingat

Lelaki yang kubenci tamat

Di Atas Kecewaku

Kuingat ketika kupergi

Kau diam tak berbahasa

Tak menahan tak mengelak

Pasrahnya dirimu dapat kubaca

Dulu kaulah yang menahanku

Menegurku membisikkan kata lembut

Di telingaku “Jika kau pergi dengan siapa aku di sini?”

Tapi mengapa saat aku akan beranjak

Katamu nyaris tak kudengar

Kau melepas lepas sesuka air mengalir

Sebelum aku kehilanganmu

Ternyata aku telah kehilangan nyalimu

Di mana tubuh yang tegar dan selalu bertahan itu

Tertelan tanahkah?

Kecewa, kukecewa

Di atas kecewa melepasmu

Ternyata masih ada yang lebih kecewa

Kau, kau kehilangan jati dirimu

Disaat aku sedang bertarung dengan kekecewaanku

Aku Ingin Bertanya (AIB)

Aku hanya ingin bertanya

Mengapa cinta tak bisa bicara?

Aku hanya ingin bertanya

Mengapa cinta selalu tak bernyali?

Aku hanya ingin bertanya

Mengapa cinta selalu datang tanpa diundang?

Aku hanya ingin bertanya

Mengapa cinta itu pergi diwaktu yang tak bisa dipastikan?

Aku hanya ingin bertanya

Mengapa cinta kadang tak tepat waktu?

Aku hanya ingin bertanya

Mengapa ada cinta yang tak harus memiliki?

Aku hanya ingin bertanya

Mengapa aku banyak bertanya?

Kurasa aku tidak “hanya ingin”

Tapi aku “ingin” bertanya

Ada apa dengan semua pertanyaanku?

Rasanya aku tak tahu apa-apa tentang cinta

Terbang

Ingin aku terbang bebas

Tanpa mengikuti arah angin

Walau matahari panas

Walau kutub dingin

Tak peduli

Seandainya aku terbang

Ku akan mencarimu

Sampai ke ujung dunia kan kusinggahi

Akan kulewati satu per satu

Sukmaku pernah terbang

Bahkan menemukanmu

Tapi ragaku masih slalu tetap di sini

Menjagaku agar jauh darimu

Ini Jalanku

Pernah kujalani sebelumnya

Berjalan bersama cinta

Tapi ketika semua sirna

Aku kembali ke asalku

Berjalan sendiri lewati badai

Berpijak di bawah langit dan di atas bumi

Sendiri tersesat saat kembali

Menjalani hari-hari sepi

Berliku-liku

Menanjak tinggi

Menikung ke kanan dan ke kiri

Sampailah aku diturunan

Dan akhirnya kuterjatuh

Berat tuk berdiri lagi

Tapi niat masih ada di diri

Dan aku ingin kembali

Menjadi diriku sendiri lagi

Mereka

Kini aku tlah menepati semua

Janjiku tuk mencari temanmu

Tapi apa kau bisa mencari temanku

Mereka tak terjamah olehku

Mereka tak teridentifikasi oleh waktu

Mereka tak terlihat oleh kabarku

Mereka tak ada menjemputku

Mereka bilang setelah aku pergi

Mereka akan menyusulku

Jika aku ke Amrik mereka ikut ke Amrik

Jika aku rindu, mereka juga akan rindu

Tapi mengapa mereka masih tak nampak di ujung kelopak?

Mengapa mereka tak datang menemui tiraiku

Bertahun-tahun kusembunyi di balik tirai

Hanya untuk menunggu mereka datang

Tapi mengapa mereka belum juga datang?

Itukah teman?

Tak menepati janjinya

Mereka, di mana mereka?

Adakah yang tahu di mana mereka?

Sisa Diriku

Yang tersisa dariku hanya sepotong ingatan tentangnya

Seberkas cahaya yang berkedap-kedip

Tak seperti kilauan permata

Yang tersisa dariku hanya sebuah nama

Terukir maya di angkasa sana

Karena nama itu seperti miliknya

Yang tersisa dariku hanya sebuah makna

Makna hidup yang kasat mata

Arti pencarian yang tak terlaksana

Itulah yang tersisa dariku

Dari masa laluku

Untukmu yang tertunda

Kelak kita kan bersua

Yang tersisa dari sgalanya

Adalah waktu yang bicara

Kutunggu jawabnya

Pelenyapan

Bukannya ingin kuhancurkan

Sebatas ingin melenyapkan

Seruling sepi yang ditiup sang padang

Alunan gitar tak bersenar menghantar

Suara gelombang lirih tak tertuang

Ikut mengantar suasana pelenyapan

Kertas dibakar api

Api membakar kertas

Kobaran disulut korek

Sisa sisa menyisakan abu

Dan kubuang untuk mengakhirinya

Pertanda telah lenyap semua

Aku Bisa Petak Umpet

Aku bisa menjadi penyair
Jika kau mau
Aku bisa menjadi pengarang
Jika kau ingin
Aku bisa menjadi pelukis
Jika kau harap

Aku akan menjadi apa yang kau minta
Jika kau berhasil menemukanku lebih dulu
Asalkan kau tidak menyuruhku membabi buta
Karena Tuhan menyuruh kita petak umpet
Dan aku bisa petak umpet
Asal kau berjanji untuk hidup lebih lama
Sampai kita bisa bertatap muka lagi

Tak Pantas Tahu

Malam menusukku dari belakang
Diam diam dalam geram menyayat luka lalu
Jika lalu aku dibuat layu
Malam makin membuatku meragu
Akankah datang hari itu
Sepuluh tahun yang aku tunggu

Bunga tak bermekaran di hadapanku
Selalu sembunyi dalam keheningan tanpa aku
Bintang tak berpendar ketika kutunggu
Sama halnya dia yang membisu di sepenggalah waktu

Masih pantaskah sepatu kaca untuk cinderella
Jika sudah retak nyaris pecah terbelah
Gurun di padang pasir masih saja mengering
Tak pernah menjadi lautan air
Kapan hari itu tiba sedang luka tergores slalu

Oase mana yang kucari
Tahu letak pun tidak sama sekali
Puing-puing sisa serpihan itu masih samar sekali
Tak pernah jelas di mataku
Haruskah masih kutunggu hari itu
Hari akhir letih lelah penat
Haruskah kuteruskan pengembaraanku
Mencari jarum ditumpukan jerami
Agustus, selalu muncul setiap tahun
Mengapa bukan kau saja yang muncul
Merubah hari ini menjadi lebih bercahaya